Friday, August 29, 2025

Induksi Penilaian Kinerja dan Verifikasi Data Siswa

Kedua kegiatan di atas dilaksanakan di kantor cabang Dinas Pendidikan wilayah 6.

Sebelum saya menceritakan mengenai kedua hal pokok yang saya kerjakan hari ini, gambar di bawah ini menggoda saya untuk bercerita, kedua gambar orang di atas adalah teman kuliah di S3 saya yaitu dosen dari Stikes dan kepala sekolah dari sebuah Kabupaten. mereka telah lulus menyelesaikan kedokterannya di sebulan yang lalu.
 Dan kemungkinan kehadiran mereka di tempat wa itu karena sedang menghadiri sidang promotor untuk kepala sekolah yang fotonya digambar di bawah ini. Saya sebut kemungkinan saja karena saya sendiri pun tidak tahu persis informasinya Seperti apa, Saya hanya membaca sekilas, dan informasi itu tidak ditujukan kepada saya, tapi muncul di grup yang siapapun bisa membaca terutama mereka yang mungkin tertarik untuk melihatnya.
lni sebelum yang kedua.sebelum saya menceritakan kegiatan yang di atas, saya melihat dan memperhatikan baju yang saya gunakan. baju ini saya pakai sejak seminggu ini. di berbagai kegiatan Saya memakai baju yang sama, tetapi kegiatannya berbeda-beda, Kenapa saya melakukan hal tersebut karena saya enggan sekali untuk mencari-cari baju yang lain dan itu repot. Tapi dengan menggunakan baju yang sama saya tinggal mencucinya kemudian memakainya kembali. jadi terpikirkan bahwa manusia itu tidak terlalu harus banyak pakaian, cukup beberapa saja sehingga dapat digunakan untuk di beberapa kegiatan. Tapi pikiran seperti itu mungkin tidak bisa berlaku untuk konteks pegawai di Indonesia. Karena setiap hari ada jadwalnya Bagaimana bajunya yang harus kita pakai titik biasanya Senin harus pakai baju itu Selasa harus pakai baju apa Rabu pakai baju yang mana lagi sampai hari Jumat itu semuanya berbeda-beda.

Alasan dilaksanakannya di kantor karena sudah menjadi keharusan bagi sekolah itu untuk mengirimkan Dokumen SPTJM ke kantor kcd. Jadi dengan sendirinya saya menunjuk kantor kcd sebagai tempat untuk bertemu melakukan verifikasi dan saya menuju ke kcd juga dengan alasan bahwa para pengawas itu akan bertemu di kcd dengan sekolah-sekolah binaannya. Jadi untuk memberikan pendampingan bagi para pengawas baru saya memilih di kcd dengan alasan kepraktisan.  yaitu praktis mereka sambil datang ke sekolah dampingannya untuk menandatangan sptjm-nya yang dijanjikan ketemunya juga di kcd, maka saya juga menentukan tawaran ketemunya di kcd. Walaupun tawaran ketemu di kcd itu juga menjadi sedikit agak alot, karena ada salah satu dari pengawas itu yang meminta bertemunya di tempat dia berjanji bertemu dengan sekolah-sekolah, di salah satu sekolah yang lokasinya kurang lebih 5 km dari kcd.

Saya berangkat pagi-pagi sekali dengan perhitungan akan mampir membeli makan pagi terlebih dahulu, mungkin nasi kuning, bisa juga bubur ayam.  Diantar  XL, saya melaju menyambut pagi dengan badan menggigil, memakai motor menuju Haurwangi.
Mampir sebentar di tempat nasi kuning kemudian menikmati santapan nasi kuning panas, dimakan dengan telur rebus. Tangan saya secara otomatis mengambil kerupuk untuk menemani makan nasi kuning. Ketika kerupuknya habis saya mau mengambil lagi kerupuk yang kedua kalinya. Tetapi kemudian niat itu diurungkan. saya teringat perkataan Bante pada sebuah kegiatan untuk para umatnya mengatakan Kasihan sekali ya orang-orang yang makan di bagian akhir, mereka tidak kebagian apa-apa selain dari piringnya saja. Kemudian jahat sekali orang-orang yang makan di kelompok awal karena mereka mengambil makanan sangat banyak sehingga tidak menyisakan untuk mereka yang berada di kloter akhir. Walaupun ini tempat jualan, tetapi kerupuknya mungkin sudah dihitung oleh si pedagang itu akan cukup untuk sampai pembeli yang terakhir sesuai dengan jumlah nasi yang akan dia jual. Kalau saya mengambil nambah misalnya dua atau tiga kerupuk lagi mungkin itu menjadi berkurang untuk pembeli yang selanjutnya. Dengan pikiran itu, maka saya mengurungkan mengambil kerupuk karena khawatir menjadi orang yang merugikan bagi pembeli yang datang akhir. Selesai makan, laju motor laju melanjutkan satu perjalanan. 
Tiba di kantor pukul 07.00 lebih 5 menit saya merasa kesiangan, jangan-jangan para pengawas pemula yang berjanji akan bertemu untuk membahas modul 9 sudah datang lebih pagi dari saya. Perasaan di perut yang mendesak-desak memaksa meminta haknya, Saya abaikan terlebih dahulu, karena khawatir para pengawas pemula Itu sudah menunggu saya. Kemudian saya masuk ke ruangan disambut oleh ibu analis. Beliau mengabarkan berita gembira bahwa dirinya akan menghadapi uji kompetensi untuk diterima menjadi dosen di UIN Bandung. Segala kebutuhan untuk pendaftaran telah dipenuhi, menurutnya ada 22 macam jenis yang harus dipenuhinya. Tapi semuanya sudah terpenuhi tinggal menunggu uji kompetensi. Beliau menyampaikan bahwa saya lebih baik mengikuti jejaknya karena menurut beliau Saya memiliki potensi untuk bisa menjadi dosen. Saya hanya menjawab dengan senyum nasi kuning karena semuanya berwarna kuning atau pusing bagi saya untuk bisa menyelesaikan sekolah saya Karena secara keuangan sedang difokuskan untuk pendidikan anak. Beliau menjelaskan bahwa untuk menjadi dosen di UIN sebelumnya beliau sudah juga terafiliasi ke Sekolah Tinggi Ilmu agama yang lainnya sejak tahun yang lalu, bahkan beliau menunjukkan foto-fotonya sedang melakukan dampingan sidang. bahkan beliau menunjukkan informasi sekaligus foto mengenai bergabungnya bapak Doktor Dera yang bekerja di divisi pendidikan di al-bayan ke lingkup Sekolah Tinggi Agama Islam yang juga beliau berafiliasi di sana.
Mengobrol ke sana ke sini dengan ibu analis ternyata tidak bisa mengalihkan desakan yang datang di dalam perut saya sejak tadi. Informasi-informasi menggembirakan seperti menjadi dosen, bertemu Prof, menjadi pemimpin sidang, dan lain-lain tidak membuat perut saya bisa menjadi tenang. Lagi-lagi beliau mengingatkan agar saya menjadi dosen karena menurut beliau saya sangat pantas menjadi dosen dengan dasar bahwa secara intelektual sudah lebih dari cukup menurut beliau untuk jadi dosen. Laki-laki saya senyum nasi kuning, karena walaupun memang saya merasa mampu untuk menjadi dosen, tetapi secara finansial tidak tidak mampu untuk mengangkat diri saya sendiri agar menjadi dosen di tempat manapun. Kondisi sekarang tidak memungkinkan bagi saya untuk bisa menggunakan kemampuan intelektual saya untuk membimbing orang lain untuk menjadi internet baru karena Tuhan belum memberikan jalan melalui saya dimudahkan membayar uang kuliah semester 5 di UPI yang sekarang lagi cuti. Satu hal yang menarik yang disampaikan oleh Beliau kepada saya yaitu tentang jejaring. Beliau berkata sangat penting sekali untuk memiliki jejaring. Beliau mengatakan berkat Dia memiliki banyak jejaring menurutnya ketika masuk UIN yang katanya sudah lekat dengan kata sulit untuk bisa masuk ke UIN, tetapi karena beliau punya jejaring, maka dia bisa masuk ke lingkup UIN tersebut. Kemudian ketika dia waktu dites dia menyebutkan bahwa temannya Kyai dari sebuah wilayah timur, disebutkan sebagai orang yang memberinya referensi, dan ketika pihak Universitas mengecek kebenarannya, Kyai tersebut mengiyakan, maka dengan sendirinya dia mendapatkan manfaat dari pengakuan tersebut. Nah itulah manfaat dari jejaring yang membuatnya bisa mendapatkan kursi sebagai dosen dengan jabatan lektor.

Saya meminta izin kepada Ibu analis agar saya bisa ke toilet terlebih dahulu untuk menyelesaikan urusan alami. Dan Setelah beberapa lama saya menyadari bahwa salah satu kenikmatan di dalam kehidupan ini adalah ketika bisa membuang apa yang harusnya dibuang. rasa lega di dalam perut rasanya seperti mungkin leganya orang yang baru selesai ujian sidang promosi untuk menjadi seorang dokter yang disertasinya mendadak sulit dihafal, dan mendadak lupa isinya karena selama proses pembuatan disertasinya tidak terlalu konsen, atau ketika saat membuat disertasinya dia tidak terlalu banyak memberikan kontribusi selain dari mendampingi dan mengawasi bagaimana data-data itu dengan sendirinya datang berjalan mengantri dan langsung masuk ke lembar-lembar kertas dengan hanya tatap hanya tatap dan dengan perintah-perintah tanpa harus berpikir dan menganalisis. Cukup dengan perintah dan tatapan yang sesekali diselingi dengkuran. 
Kemudian saya membaca wa, sambil ditemani Ibu analis untuk menyiapkan ruangan di atas. di atas di ruang sebelah Ibu Kepala kcd itu ada ruangan dengan meja kotak yang biasanya dapat digunakan untuk rapat-rapat dengan jumlah peserta yang sedikit. Saya mencoba menghidupkan televisi yang bisa dikoneksikan dengan laptop, namanya adalah ITP namun saya tidak tahu karena remotenya tidak ada. dengan dibantu oleh pegawai kerja akhirnya diklik remotenya kemudian bisa terkoneksi dengan laptop saya. Tetapi itu menjadi janggal karena peserta yang hadir hanya baru Ibu M saja. Yang lainnya memberitahukan permintaan maaf katanya a terlambat karena ada yang bilang baru naik bis, ada yang bilang maaf lagi bawa berkas performa Maaf ABCDE, saya 
 bisa apa-apa selain kembali mengeluarkan senyum nasi kuning. 
Kadang saya merasa bahwa hal-hal yang menurut saya penting diperhitungkan seperti waktu sehingga saya datang terburu-buru pukul 07.00 karena saya memperhatikan mungkin mereka juga sama seperti saya menghitung waktu itu amat sangat penting tetapi ternyata jauh berbeda mereka datang ya sedatangnya mereka berangkat ya seberangkatnya, tidak perlu memperhitungkan atau memikirkan orang lain. Setelah saya duduk sekitar 2 atau 3 menit datanglah ibu yang lainnya kemudian dia berkata Aduh maaf ya kesiangan. Dan dia langsung berkomentar ibu selalu datangnya on time Yah. Seolah-olah itu hanyalah sebuah gurauan yang terasa sangat segar di pagi hari bagi seseorang yang sudah menunggu hampir 2 jam, padahal yang membutuhkan kehadiran saya di sana itu mereka. Dan saya datang ke sana itu karena mereka yang memintanya, bukan karena saya yang membutuhkannya, tetapi kemudian menjadi sesuatu yang sangat menarik, karena saya datang tepat waktu itu dianggap sebuah guyonan pagi yang segar yang sangat indah untuk dikomentari ibu datang tepat waktu ya seperti itu.
Karena mereka memandang yang lainnya mungkin akan sangat terlambat sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 lebih, maka paparan saya mulai titik saya paparkan dengan menyebutkan bahwa paparan ini sebelumnya pernah digunakan untuk memaparkan bagi para kepala sekolah yang saya dampingi titik kemudian saya jelaskan satu persatu bahwa untuk penilaian kinerja kepala sekolah itu dimulai dengan adanya kontrak perubahan kinerja dengan kepala sekolah. perubahan pada kinerja, perubahan dalam perkembangan diri, dan perubahan dalam perilaku kerja. Belum lagi saya selesai berbicara, saya lihat peserta dengan peserta saling mengobrol kemudian saya juga tidak tahu kenapa mereka harus mengobrol, Padahal kalau ada hal yang tidak jelas Ya silakan aja ditanyakan, Saya tidak keberatan untuk menjawab. Tetapi Rupanya dia lebih senang berbisik-bisik dengan teman yang di sebelahnya. Tentu itu membuat saya sebagai pembicara merasa tidak ada gunanya Saya berbicara, karena pesertanya sedang mengobrol dengan temannya. Maka saya diam. Ketidaknyamanan ini semakin berlipat, semula ketidaknyamanan menunggu, kedua ketidaknyamanan merasa tidak diperhatikan, ketiga informasi yang diberikan itu malah tidak didengarkan, tentu ini membuat komplikasi-komplikasi di dalam diri saya. Tetapi kemudian saya ingat perkataan bante, langkah orang yang kalau mau menuju Jana, Jangan hiraukan. Seperti ibaratnya kita sedang bermeditasi, perhatikan napas kemudian ketika ada orang berbicara perhatikan dia perhatikan bahwa dia berbicara, tapi pusatkan perhatiannya pada napas. Saya pun mungkin harus melakukan hal yang sama saya tetap memberikan perhatian pada nafas saya yaitu pada materi saya yang sedang saya paparkan, tetapi ketika mereka berbicara saya biarkan saja saya anggap itu seperti ada suara yang datang tidak diduga. Pikiran saya manarawang jauh, akan seperti Apa pekerjaan mereka ke depan, kalau sedang diberikan petunjuk mereka tidak mendengarkan tapi sibuk dengan dirinya sendiri, bukan memperhatikannya terlebih dahulu pahamkan dahulu, baru setelah itu bertanya atau diskusikan Jika ada yang tidak dipahami. Karena saya merasa terpancing cuma saya tanya sedang bicara apa. Dia katakan Oh Bagaimana kalau ada perubahan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah itu tidak banyak cuman sedikit saja Walaupun dia sudah melakukan seluruh prosedur yang dilakukan. Saya ingin sekali tertawa dengan pertanyaan tersebut. Tidakkah dia terpikirkan bahwa perubahan itu tidak harus banyak tanda tanya Tidakkah dia tahu bahwa perubahan itu dimulai dari yang sedikit? Dia tidak tahu bahwa perubahan dalam pendidikan misalnya untuk meningkatkan skor literasi nomor resi yang angkanya 0,1 saja itu dananya sebanyak 173 triliun titik ini apalagi pendampingan yang diberikan kepada kepala sekolah dalam waktu 1 tahun dengan tanpa ada biaya khusus untuk pendampingan peningkatan kinerja kepala sekolah, Berharap ada perubahan yang melesat, melampaui ekspektasi, Tentu saja itu tidak mungkin. Hanya ada perubahan dalam angka 0,1 itu sudah dianggap sebuah keberhasilan. ataupun kalau pun tidak berubah itu tandanya minimal bisa mempertahankan prestasi yang sudah baik. Tidak menurun atau bahkan semakin merosot Itu sudah merupakan upaya juga yang baik. Saya sebetulnya tidak ingin menjawab seperti itu tetapi kemudian saya sampaikan bahwa selama dia sudah menempuh prosedur, sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan kemudian sudah melakukan apa yang seperti ditetapkan pada Peraturan, kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, itu bukan urusan pengawas. Seperti ibaratnya sebuah usaha usaha saja yang sangat keras usaha saja yang optimal, urusan hasilnya serahkan kepada Tuhan dan serahkan kepada proses.
Belum lagi pikiran saya kembali tenang, tiba-tiba dari bawah ada siswa SMK yang sedang praktek datang, memberitahukan bahwa sekolah sudah hadir untuk minta diverifikasi. saya cegah dia saya katakan sudah para pengawas sudah dulu perhatikan dulu apa yang sudah dijanjikan kan sudah Diberitahukan kepada sekolah itu nanti dimulai diperiksanya pukul 09.00 beritahukan aja titip pesan kepada para penjaga di sana bahwa kalau mau bertemu dengan pengawas tunggu dulu. Entah kenapa saya menjadi emosi ketika melihat itu. seharusnya tidak perlu emosi karena untuk apa emosi. Mungkin saya emosi karena melihat ibu analis bisa menjadi dosen Padahal saya tahu bagaimana dia kinerjanya, Dan kalau dia menjadi seorang penguji sidang dan dia sendiri pun tidak pernah membuat jurnal, dan dia sendiri pun tidak tahu bagaimana cara mengutip, dan dia pun tidak tahu bagaimana cara menggunakan mendeley, tetapi menjadi penguji sidang untuk skripsi atau tesis misalnya sungguh akan terjadi kemerosotan dalam hal kualitas akademik yang dia bimbing. Sama halnya dengan para penguasa para pengawas yang sedang saya dampingi ini, ketika dia tidak mau memperhatikan pada saatnya memperhatikan, akan kebayang Seperti apa kemerosotan yang akan dihadapi pada dunia pendidikan di masa yang akan datang. belum lagi para pengawas baru yang tidak mendapatkan informasi sama sekali mengenai bagaimana pengelolaan kinerja kepala sekolah yang normatifnya ketika dijelaskan pun mereka seolah Aduh maaf tidak mengerti, Aduh maaf ini sepertinya riweh Aduh maaf ini sepertinya berat.


Thursday, August 28, 2025

Tugas Pengawas Sekolah yang Disangka Tiduran

 Pagi diawali dengan memberikan pengumuman mengenai teknis pengumpulan dokumen SPTJM.

Bismilah,

Yth Bapak dan Ibu wakil KS dan operator sekolah yang namanya terlampir pada verifikasi data siswa, mohon membantu ketersediaan dokumen untuk dikumpulkan besok di KCD mulai Pukul 09.00. Dokumen yang dikumpulkan:

I. SPTJM

1. Print instrumen 3 rangkap, A4, dilengkapi dengan foto bangunan sekolah bagian depan, bagian belakang, dan dalam kelas.

2. Print Berita acara, 3 rangkap, A4, dicap, tanda tangan KS, tanda tangan yayasan.

3. Tanggal sinkronisasi Selasa, 26 Agustus 2025.

4. Print absen setiap kelas yang memuat kehadiran siswa pada hari Selasa, 25 Agustus 2025. (1 rangkap)

5. Print daftar nama siswa dari Dapodik (1 rangkap)


II. KSP (jika sudah selesai)

Untuk reviu KSP sebelum diprint, kumpulkan pada link yang tertera pada PPT Pembinaan Agustus.

III. Print Satgas Pancawaluya dan Program (Jika sudah selesai)

Tetapi kemudian muncul pertanyaan dari anggota grup: 1) apa saja yang harus dibawa besok?, 2) saya mendapatkan WA ini, apakah sekolah negeri juga mengirimkan? 3) Ini langsung dikirim ke KCD ya?
So, imagine what words you will utter to response those questions. Yang muncul malah pertanyaan dari saya sendiri: apakah membaca teks di atas sangat sulit?

Belum lagi selesai memikirkan apakah perlu dijawab, saya sudah harus mengikuti webinar tentang HAM, mungkin saya perwakilan dari KCD 6, karena saya lihat tidak semua pengawas hadir. Saya menyimak sambil sesekali ke dapur, menyiapkan makan pagi, dan sesekali ke belakang, mencuci baju.

Webinar ternyata lama, sampai lebih dari duhur. Saya membuka-buka PPT lama tentang kinerja KS. Materi tersebut dibutuhkan untuk besok Jumat memberikan paparan materi kepada pengawas induksi mengenai pengelolaan PKKS mulai dari merancang RHK. Saya  mengira para pengawas itu sudah paham. Anggapan itu muncul karena para pengawas induksi selalu sangat rajin belajar dan kreatif sehingga sepertinya kegaitan induksi tidak mereka perlukan. 

Cek sana sini di Canva akun dinas, ketemu dua file yang isinya mengenai Kinerja KS. File pertama untuk semester 1, dan file kedua untuk semester 2. Saya putuskan memberikan yang semester 2, karena itu yang terbaru dan kontennya lebih update serta lebih lengkap. 

Sambil buka PPT saya juga buka WA. KS SMA Insan Mandiri meminta PPT IHT kemarin, jadi saya buka file dulu, dan PPT diberikan padanya. Banyak aktivitas yang tidak kelihatan sibuknya, padahal dari menit ke menit, ada yang harus dikerjakan.

Di WA saya melihat ada teks untuk saya menanyakan apa saya sudah sehat atau belum. Saya tersenyum dalam hati, Saya menduga bahwa jika saya sehat saya harus berbakti pada negeri ini dengan cara mengerjakan hal yang menjadi ambisi pemegang kerajaan SUnda ini.

Di WA juga ada wakil KS yang menanyakan Satgas Pancawaluya dan Job descritionnya seperti apa. Alasannya mentok tidak bisa mikir. Saya jawab dengan teks. ah susah. saya minta dia telepon. Saya kurang sabar, saya buatkan uraian tugasnya. Saya bertanya-tanya, kenapa ketika dibicarakan banyak ide, tapi ketika ditulisakan dia mengatakan tidak bisa. 

Belum lagi bisa menikmati makan siang dengan tenang, ada undangan ikut webinar dari Bu Neneng, SLB CGP. Saya join saja. pematerinya Ibu KS SD Ibu Jenab 1, ibu Ihat, terus Kepala SMP, dan pembicara ketiga guru SLB. Sambil mendengarkan, saya tertidur beberapa menit. 

Selanjutnya saya merekap data siswa yang terasa beda-beda. 

Sampai pukul 08.30 dari pagi, seperti seorang yang tidak bekerja karena tidak menggunakan baju kantor dan tidak keluar dari rumah, kegiatan baru selesai dan kegiatan seperti itu bukan hanya hari ini saja, tetapi hampir setiap hari seperti itu. Ketika tidak bekerja keluar dalam arti tidak meninggalkan rumah, Di rumah pun bekerja lebih banyak dan melayani banyak hal, bukan hanya tiduran.

Berhubung batuk belum bisa kompromi dan sakit kepala belum memberikan kesempatan untuk berpikir yang lebih jernih, mata juga menunjukkan protes sehingga kegiatan harus dihentikan.

Untuk besok acara induksi, salah satu pengawas induksi menawarkan tepatnya di SLB cahaya gemilang Pertiwi. Untuk tempat saya tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah saya menawarkan waktu mau dilakukan induksi pagi atau siang, jawabannya adalah mengikuti jadwal. Berarti pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Seharusnya kalau disuruh memilih yang memilih satu bukan hanya lagi. 

Pada masa literasi yang begitu membumbung tinggi dan di Gelora kan Hampir pada setiap mulut, Tetapi pada kenyataannya membaca teks tidak bisa, dibuktikan dengan tiga pertanyaan yang mengikutinya yang menurut saya terasa sangat janggal. Kedua menjawab pertanyaan lisan juga tidak bisa, ditandai dengan disuruh memilih Jawabannya malah seperti itu. Ini saya yang salah atau mereka yang bingung?


Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan

 Pembukaan oleh Pak Maman

Sambutan

Bapak dan Ibu PS silakan mengikuti webinar dengan saksama.

Paparan Materi:

Dihimbau agar bapak dan ibu guru tidak takut untuk melakukan pembinaan pada siswa.
Hak asasi manusia sifatnya non diskriminasi, transparansi, tanggungjawab negara, tidak dapat dibagi, kesetaraan, martabat manusia, keberkaitan dan kebergantungan, universal.  Sifat hak asasi manusia tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun, termasuk dalam keadaan darurat, ha ini bersifat absolut. 
Implementasi tanggung jawab negara berupa: 1) makan bergizi, sekolah rakyat

Bagaimana mendidik tanpa melanggar HAM?
KOndisi saat ini banyak sekali murid yang mengalami kesulitan menyesuaikan diri dan sering melanggar aturan sekolah seperti membolos, berkelahi, tawuran, pergaulan, atau masalah emosional dan keluarga. Konini ini  penting diperhatikan karena dapat mengancam hak anak untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman.

Teknis penerapan HAM dalam pendidikan misalnya:
Keadilan restoratif dengan cara memberikan kesempatan pada murid untuk memperbaiki kesalahan, fokus pada pemulihan dengan melibatkan korban-pelaku-keluarga, dan masyarakat untuk berdialog, agar pelaku menyadari dampak perbuatannya. 

Tanya Jawab

Pa Maman, agar ada sosialisasi sehingga sekolah tidak merasa khawatir dengan implementasi HAM di sekolah, ada kerjasama dengan pihak penegak hukum yang menjamin guru.


Pa Abdul Syukur: Bagaimana sekolah menerapkan tata tertib sekolah, kesepakatan kelas menjadi berubah, misalnya murid yang terlambat masuk kelas, harus membersihkan kelas. Selanjutnya, jika da guru yang dilaporkan kepada pihak berwajib, bagaimana caranya agar guru tersebut mendapatkan perlindungan dari negara, harus pergi ke mana? 
Jawaban dari pa Kabid Penguatan HAM: Izin mencoba menjawab pak, terkait tentang penanganan konflik antara guru dengan siswa terkait penerapan SE gubernur disiplin siswa, kami terus melakukan monitoring kepada biro hukum dan HAM Prov Jawa Barat untuk membuat aturan turunan terkait SE Gubernur tersebut, sehingga sekolah dapat menjalankan aturan disiplin tanpa khawatir berhadapan dengan hukum

Apakah sekolah dapat mengeluarkan peserta didik?
Apakah boleh ada yang tidak naik kelas?


Materi 2 
Pemateri Ibu Hessy



 Masalah yang dalam pendidikan dikelompokkan kedalam 8 Standar Nasional Pendidikan. Untuk guru masih perlu peningkatan pada kompetensi penilaian. 


Sekolah direkomendasikan meningkatkan capaian Standar Isi dan Standar Penilaian.

Moderator: Mohon Bapak IBu pengawas lebih konsentrasi untuk memahami materi.

Materi 3  oleh Ibu Sungengsih




Tahap 1  Identifikasi untuk memilih dan menerapkan masalah



Tanya Jawab 

1. IIs Suryani

2. Abdul Syukur

Kalau berdasarkan rapor pendidikan 2025, setiap sekolah sudah dianalisis dan sudah jadi RKAS. apakah ini jadi rancarangan tahun ini, atau bekal tahun depan? Apakah muncul LK seperti yang lbu tunjukkan? 

A: kalau secara nyata sudah tidak bisa mengajukan apa-apa, ini bisa dijadikan dasar pendampingan ke sekolah. Sejauh yang saya pahami, untuk yang 2025 menjadi dasar untuk 2026. APakah LK include, ini tidak. ini sebagai LK yang terpisah untuk memetakan masalah yang ada di rapor pendidikan. dengan template ini step by step nya lebih terarah. 

3. Dede Rahayu


Q: 1) Menganalisis internal dan eksternal melalui rapor pendidikan yang menjadi bagian integral. SIklus apa yang perlu dilakukan yang bisa tepat sesuai kebutuhan analisis dari dalam, karena sekolah merasa kesulitan memahami rapor pendidikan? 2) Pemetaan analisis masalah yang ada di SPMI ada kesenjangan dalam memetakan dengan baik, langkah untuk melakukan analisis masalah yang dikaitkan dengan identifikasi standar mutu, SPMI itu polanya nanti akan seperti apa ketika diterapkan di satuan pendidikan, berkaitan dengan perencanaan RKT dan ARKAS. 3) apa yang harus dilakukan oleh pengawas  terkait dengan plan-do-check?

A: 1) Sesuai pengalaman di BBPMP, bagaimana melakukan analisis dari rapor pendidikan, kemarin baru diajarkan sebatas analisis rapor pendidikan.  Secara keseluruhan, kami diajarkan cara mengunduh, melihat sistem SIPD di pemerintah, sehingga memiliki gambaran seperti apa intervensi yang dilakukan daerah. Di sini menurut pelatihan yang saya peroleh, formatnya IRBB, tapi mula dari pemetaan, perencanaan, evaluasi, secara siklus tidak terlalu berbeda dengan SPMI. 


Jadi menurut saya (Sunengsih) tidak ada perbedaan antara IRBB dengan SPMI yang dikeluarkan BBPMP. Alurnya sama, bedanya itu saja dan adanya file itu. 

(Sesaat mandek, narasumber ibu Hessy ada masalah dengan audio, suaranya ga terdengar. Ibu Sunengsih dengan ramah ingin membantu menjawab, tapi katanya  DIA LUPA apa yang ditanyakan Pak Dede, saya mencatat pertanyaan Pa Dede, tapi untuk apa saya mengirimkan pertanyaan ke IBu SUnengsih. APA ... ANDA, ingat omongan AH yang menteror saya ketika memberikan penjelasan mengenai struktur KSP kepada para WK Kurikulum. Alasan saya untuk memberikan jawaban yang serempak karena lelah saya menjawab japri, TIDAK diterima. Keukeuh APA ... Anda? itu jadi peristiwa yang mengerikan bagi saya) 

Materi lengkap ada di link ini

Muncul yang menjawab, Ibu IIS SURYANI, membantu menjawab Ibu Sunengsih dan Ibu Hessy: 1) alhamdulillah sekolah saya naik rapornya, tetapi direkomendasi belum muncul, angkanya 0. 2) kalau berbicara rapor diserahkan ke sekolah, silakan mau menggunakan yang mana, prioritas atau keseluruhan, tapi mana dari komponen yang paling perlu ditingkatkan. 

Tuesday, August 26, 2025

Penyuntingan Naskah

1. Keterbacaan
2. Konsistensi 
3. Ketepatan Bahasa
4  Keutuhan Makna
Tingkat penyuntingan
1. Substansi
Struktur isi: pembuka,  isi, penutup
Alur logika
Fakta budaya terverifikasi
2. Bahasa
Ejaan PUEBI
Pilihan kata tepat
Hindari bertele-tele pleonasme
3. Teknis
Tata letak, judul, subjudul, konsisten
Teknik menyunting
1. Baca keseluruhan naskah, pahami isi dulu
2. Identifikasi masalah: alur, bahasa, logika
3. Perbaiki bertahap: isi  bahasa  teknis
4. Gunakan simbol/proofreading mark
Jejak digital track changes
5. Diskusi dengan penulis, jangan mengubah makna asli


Monday, August 25, 2025

Rapat Dinas Tim Pengembang Kurikulum Pancawaluya

1. Simple check in
Peserta duduk melingkar dan memperkenalkan diri satu persatu bergantian dengan pola:
Nama, jabatan,  asal instansi, daerah, perasaan pagi ini, 
Badriah, pengawas SMA,  KCD 6, Cianjur, perasaan muriang
2.Sharing vison
Pa  X: baru kali ini ada pertemuan yang  mempertemukan ps ka guru sejabar
Pa Jaja: mulih ka jati dirina
Bu Lina: bagaimana penerapan Pancawaluya di sekolah 
Respons
Karakter dapat ditemukan di sekolah. Kesadaran spiritual, sosial,dan lingkungan 
Uang bukan segala-galanya kemudian kebijakan juga bukan segala galanya.
Walaupun saya, Gubernur mengeluarkan kebijakan apapun ...
Dari lingkungan pendidikan yang ada di Jawa Barat bahwa transformasi ini akan sangat tergantung keberhasilannya pada niatan ibu pada kemauan Bapak Ibu
Membuat apa yang kita rasa kan itu menjadi sebuah rumusan kebijakan bersama 
Zoom
Endapkan di kelas
Solusi bersama
Penentu adalah kontribusi dari guru KS PS


Kang Jaka
Kita sebagai pendidik dan pembahasan kita untuk program ini 
Kita membutuhkan setiap orang memberikan yang terbaik dari diri kita, interpersonal antar personal dan mau terus membaca pesan-pesan dan menjadi sebuah lingkaran sistem yang tidak terputus.


-----
Tadi malam susah tidur. Tidak tahu kenapa. Mungkin karena khawatir pada anak yang sedang sakit. Jadi terus menerus mengecek anak. 
Sekitar pukul 22 ada pesan dari nomor tak dikenal meminta gabung di grup. Saya tidak meresponnya dengan alasan: nomor tidak dikenal siapa tahu penipu, grup apa yang harus digabungi tidak disebutkan. Mencurigakan.
Mungkin karena saya tidak merespon, dia mengirimkan pesan lagi: grup kepenulisan Arpusda. 
-----
Rencana berangkat pukul 5.00 pagi. Bangun kesiangan, 4.30. Jadi tidak mungkin bisa mengejar travel pukul 5.00. Minta digeser ke pukul 6.00. Jadinya berangkat dari rumah pukul 5.15an. Eh rezeki, bisa ikut ke kloter pukul 5.30. Bayar 65K. Bismillah menuju Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat di Jl Radjiman.

Saya sudah yakin tiba lebih dari waktu yang diminta 7.15. Pukul 7.24 baru keluar tol. Macet.



Sunday, August 24, 2025

Penyegaran GBA

Bahwa dengan adanya pengecekan kesiapan belajar siswa, janganlah melabeli siswa jadi: low achiever, average, high achiever. Bayangkan jika siswa  berpikir  ah da saya mah low achiever,  ya begini saja. Nanti di kegiatan pun saya mah kan low achiever ga akan bisa seperti yang di atas saya. Setelah jadi anggota masyarakat ngomong gini juga ah da saya mah low achiever,  ga bakalan bisa kerja, jadi bisa begini juga sudah untung.

Peer Teaching UPI

 Peer teaching untuk pembelajaran bahasa Inggris yang mengintegtrasikan AI dimulai oleh Pa Ganjar. Materi membaca teks deskripsi dengan menggunakan aplikasi Diffit.ai.
Pada bagian awal murid diminta merespon jawaban, jawaban murid menjadi alat utnuk mengelompokkan murid ke dalam kelompok low achiever, average, dan high achiever. 

Masukkan dari Prof Emi Emilia. Hati-hati dengan pengelompokkan murid kedalam tiga kelompok. Jangan sampai siswa yang berada di kelompok low achiever melabeli dirinya sendiri sebagai low achiever dan dia merasa tidak apa-apa hasil  kerjanya tidak bagus karena low achiever. Lebih berbahaya lagi  jika kelak sampai ke kehidupan di dunia luar kelas, saat dia menjadi anggota masyarakat misalnya, dia tidak bisa bekerja, dan dia merasa tidak menjadi beban karena dia low achiever. 
Mengenal kesiapan belajar murid, pada akhir pembelajaran tidak ada low-mid-high, semuanya memiliki keterampilan yang relatif sama.
Murid kelompok low harus dibantu sehingga bisa mencapai keterampilan yang diharapkan. Itulah gunanya dari eksplisit teaching. Tentu saja untuk siswa low perlu extra effort. Misalnya untuk siswa mid, agar bisa menguasai menulis dia memerlukan 3 kali revisi, tapi untuk low, perlu 7 kali revisi.

Bu Neni penggunaan Gemini untuk memberikan Join Construction of text terlaksana. Dengan cara Gemini menjadi teman yang memberikan masukkan untuk menulis.