Pages

Sunday, April 30, 2017

Aku Wanita

 

Berani mengaku diri sebagai wanita untuk diriku sendiri, bukanlah perkara sederhana. Pengakuan secara genital mempengaruhi bagaimana kubersikap kepada diriku sendiri dan bagaimana memperlakukan diriku di depan orang diuar diriku.

Pengakuan diri sebagai wanita, bagiku, melalui proses yang tidak sebentar. Semula aku selalu menganggap bahwa aku, salah satu anak dari ibu kandungku, sama saja dengan saudaraku.

Ibuku memperlakukanku tiada beda diantara kami berempat. Masih kuingat ketika aku menerima baju tidur yang sama dengan saudaraku. Ketika hendak tidur kami memakai baju dengan warna dan model yang sama. Rasanya sangat menyenangkan  pada saat kami bisa bercengkrama dalam keluarga tanpa memperhitungkan jenis kelamin. Aku menyukai diriku yang menjadi bagian dari empat bersaudara dalam keluarga kecilku.

Aku mempersoalkan keluarga, bukan jenis kelamin. Aku memiliki keluarga kecil dan keluarga besar. Keluarga kecil adalah aku, ibuku, dan saudara-saudara seibuku. Keluarga besar adalah keluarga kecilku ditambah ayah, dua ibu tiri, dan empat orang saudara perempuan tiri, serta tiga orang saudara lelaki tiri.

Aku, menjadi bukan siapa-siapa bagi ayahku yang memiliki empat orang anak wanita, dan memiliki tiga wanita pendamping hidup. Aku, bukan anak wanita yang diharapkan ayahku, aku tidak pernah ditegur atau disapa ayahku. Aku tidak menyukai diriku dilihat dari sisi ayahku. Aku tidak mengetahui jika aku wanita. Aku hanya tahu bahwa ayahku tidak menyukai diriku. Itu saja.

Ketika aku masuk sekolah dasar, barulah aku mengetahui bahwa aku digolongkan ke barisan anak wanita. Aku diminta berganti baju. Berganti baju artinya berganti pula permainan yang harus aku ikuti. Bagiku, yang anak kampong, bermain tanah merah dan membuatnya menjadi mobil-mobilan bersama teman-temanku sambil memperhatikan domba-domba yang kami jaga, adalah kesenangan tersendiri.  Aku selalu sangat pandai membuat mobil ‘Bayawak’. Sebutan untuk miniatur mobil Chevrolet yang aku tumpangi ketika ke kota.

Sejak aku masuk sekolah dasar, dan berganti baju. Perlahan-lahan aku kehilangan teman sepermainanku. Mereka tidak bersedia menerimaku mandi di Rawa Hideung bersama kerbau-kerbau merah mereka. Mereka menyuruhku agar bermain bersama jenisku. Membuat boneka dari kelopak bunga pisang dan menghiasinya dengan bunga Harendong, bukan keahlianku. Aku merasa sepi karena aku berganti baju.

Menjadi wanita, tidak terlalu aku sukai. Bukan karena wanitanya, tapi karena efek sebutannya. Ketika aku diketahui menstruasi pertama, ayahku dengan serta merta menghentikan sekolahku. Beliau dengan tegas berkata bahwa tugasnya sebagai ayah untuk memberi nama, membesarkan, dan mendidik telah khatam. Kini tugas selanjutnya adalah menikahkanku, dan ayah serius dengan hal itu.

Aku tak paham menikah. Aku tak paham kenapa harus mengikuti semua kata ayah. Kata ibuku, ayah harus selalu diutamakan. Pada saat makan, ayah makan terlebih dahulu, ibuku makan sisa ayah. Ibu berkata, ‘ pada sisa makanan ayah ada berkah.’

Aku tak paham berkah. Menikah dengan guru sekolah dasarku sendiri yang telah duda, itu berkah kata ibuku. Berkah dari ayahku. Untuk aku, anak wanita.

Wednesday, April 26, 2017

Literasi dalam Pembelajaran

 Hal menarik dari kegiatan mendampingi guru adalah para nara sumber yang memberikan wawasan tambahan kepada para guru. Nara sumber adalah para pemikir yang sangat peduli pendidikan Indonesia. Ambil contoh, Ibu Pangesti Wiedarti. Beliau penggagas literasi yang mengharapkan peserta didik di Indonesia tanpa kecuali menjadi warga negara dan warga dunia yang literat. Beliau menawarkan cara literasi melalui pembiasaan terlebih dahulu. Secara teratur, peserta didik dan pendidik menghabiskan waktu 15 menit setiap hari untuk membangun kebiasaan membaca. Selanjutnya setelah terbangun kebiasaan. Selanjutnya masuk tahap literasi dalam pembelajaran.

Literasi dalam pembelajaran tentu memiliki strategi. Terdapat dua strategi pokok yakni: 1) strategi pemahaman wacana/teks dan 2) kompetensi representasi multimoda. Mencapai kedua hal tersebut tentulah memerlukan kerja keras semua warga sekolah, terutama dari pendidik. Pada saat mengajar, pendidik menguraikan literasi kedalam tiga bagian penting yakni: 1) sebelum membaca, 2) ketika membaca dan 3) setelah membaca (Wiedarti, 2017).

Pada pengajaran berbahasa strategi pemahaman teks dibagi kedalam sebelum, selama, dan setelah membaca. Misalnya, pada tahap sebelum membaca, peserta didik diajak untuk menebak apa topik bacaan yang akan dibahas. Atau misalnya dengan meminta peserta didik menyebutkan tujuan membaca sebuah teks.

Selanjutnya, pada tahapan saat membaca, penting bagi peserta didik untuk dapat menunjukkan pemahaman terhadap bacaan/teks dengan cara menjelaskan informasi rinci/tersurat/tersirat dari teka yang sedang dibacanya. Cara lain adalah dengan memvisualisasikan isi bacaan. Penggunaan mind map dan concept map sebagai representasi pemahaman isi  bacaan dapat digunakan sebagai alternative visualisasi pemahaman. Menggali apakah peserta didik memahami membaca dapat pula diuji dengan meminta mereka menunjukkan inferensi bacaan atau menunjukkan keterkaitan isi bacaan (lihat teori Rheme-Theme yang diajukan Halliday).

Pada tahap setelah membaca, pendidik dapat mengetahui sejauh mana peserta didik memahami bacaan dengan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk membuat ringkasan, mengevaluasi teks dan mengkonfirmasi, merevisi, atau menolak prediksi.

Pertanyaannya, apakah mungkin guru melakukan semua hal di atas?

Jika ditanya mungkin, jawabannya sangat mungkin. Pengajar bahasa asing (juga bahasa Ibu, dan Bahasa Nasional) sesungguhnya telah melakukan hal yang disebutkan di atas. Mengapa seolah terasa membingungkan? Masalahnya, istilah. Pemberian nama pada sebuah aktivitas, bagi sebagian guru bisa saja menimbulkan kebingungan. Kita lihat secara lebih dekat mengapa para guru pengajar bahasa telah menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran.

Ketika seorang guru bahasa Inggris misalnya akan memberikan pengalaman belajar menyusun teks biografi orang terkenal. Dia memulainya dengan memberi foto-foto orang terkenal secara nasional dan internasional pada berbagai bidang. Dia menanyakan siapa mereka, apa keberhasilan mereka, pada bidang apa mereka berkiprah. Peserta didik menjawab bahwa mereka mengenal sebagian dari tokoh-tokoh nasional dan internasional yang ditanyakan. Setelah itu guru menanyakan kira-kira apa pelajaran hari ini yang akan dibahas, peserta  didik tanpa ragu menjawab orang terkenal, orang hebat, atau jawaban sejenis.

Ketika peserta didik menjawab orang keren, penyanyi idolaku, atau inspirasiku, mereka telah melakukan prediksi. Mereka memperkirakan bahwa yang akan mereka pelajari berdasarkan stimulus berupa foto yang mereka lihat.

Bagimana pada saat membaca?

Apakah ketiga cara ini bisa diterima? Ahli literasi lain, menyatakan tidak setuju. Bahasan ketidaksetujuannya ditulis pada entri blog selanjutnya.

(to be continued) silahkan beri komentar dan pertanyaan (jika perlu) agar tulisan ini berfungsi

Tuesday, April 11, 2017

Lathan daily note

Latihan Hrgrr. Rkdjbd. Jdjdbvd Bdjdjhd. Jdjdbbrv3 rnrkidhe r nroj r dkkbd dndkrb djdutxvuxh gid8dvv djdidv dhididjbbr. Jdoodjbbf. Kododb. Nkobb f. Hiishsvs. JiidbsHijshs. .

Sunday, April 2, 2017

Nyi Cicah Milu Reuni Alumni Adelaide

Ti saprak salakina loba di nu ngora, sagala kagiatan jeung kabutuhan leuwih loba di tekel ku sorangan. Manehna teu bisa kumaha da geus pilihan manehna yen rek hirup rumah tangga jeung lalaki pilihanna.

Sababaraha waktu kaliwat manehna meunang ondangan kudu ngumpul cenah di Dinas Provinsi anu baheula ngabiayaan manehna waktu aya kagiatan mekarkeun profesi di luar negri. Najan teu pati purun indit, da puguh poe pere, jeung karunya ka anakna nu ngan sorangan bae di imah bari ukur ditinggalan duit 15 rewu keur meuli deungeun sangu. Manehna maksakeun indit, era ku pamarentah nu geus mere biaya jeung kasempetan pikeun manehna nincak nagara Ustrali.
Padahal manehna teu boga duit. Aya duit, di irit-irit pisan pikeun nyukupkeun manehna dahar katut ngabiayaan anakna. Ngaluarkeun duit pangaji 150 rebu pikeun milu acara alumni karasa beuratna. Duit sakitu, mahi keur dahat tilu poe keur manehna mah.

Rebun-rebun manehna geus ngajengjen sisi jalan, nungguan beus. Lur lar liwat mobil pribadi, manehna ukur bisa ngagerentes dina jero hatena susuganan aya nu haat ngajak. Tapi pimanaeun jaman ayeuna aya jalma nu balabah daek tuwur tawar ngajak milu kana mobil pribadi. Manehna ngagebes lamunanna sorangan. Ras inget ka babaturanna nu ceuk manehna mah geus loba dibere kahadean ku manehna, malah aya kajadian anu manehna nandonkeun konditeu manehna demi ngabelaan eta babaturanna. Hanjakal pisan, kahadean manehna teu kaambeu. Tungtungna basa manehna balaka rek milu kana mobil babaturanna, eta babaturanna nolak kalawan eces nyebutkeun moal bisa mawa tumpangan alatan cenah inditna rek jeung kulawargana.
Ras deui bae manehna kana omongan babaturanna nu lain. Babaturanna boga mobil anyar, nulis dina Facebook yen gara-gara aya nu numpang, acara jadi teu asik cenah. Nyi Cicah sadar, kudu ngusap dada, narima kana bagja awak, naek beus bae bari teu ngarasula najan hatena mah gudawang. Nalangsa ku nasibna, bet kacida suena.

Ampir satengah jam leuwih karak beus MGI anu biasa manehna naek liwat. Clak, langsung diuk. Beus MGI cocok jeung manehna lantaran beusna ngalarang penumpangna ngaroko. Diuk di baris kaopat, gigireunna geus aya lalaki tengah tuwuh sare ngageubra. Beus terus laju. Pikiranna oge laju ngabayangkeun kumaha mun pas balik hujan gede. Renced pisan karasana make beus, ditambah naek turun angkot. Manehna ukur bisa ngadu'a bisa kabeuli mobil ngarah teu kudu kahujanan , kapanasan, kaanginan ari iinditan. Manehna sok ngabandingkeun sakapeung mah jeung babaturanna anu sapagawéan. Babaturanna kabeuli mobil padahal lamun ningali beban gawena, jauh leuwih enteng ti manehna. Contona bae, balik gawe jam opat sore, manehna ukur cicing sakeudeung , terus gawe deui nepika jam10 atawa jam 12 peuting. Tapi buruhna, anger we ngan mahi keur dahar jeung ngabiayaan anakna.

Teu karasa, beus ngadudud maju nganteurkeun lamunan Nyi Cicah boga duit jeung mampuh meuli mobil. Teu kuat ngalawan kaleuseuh bangbaluh hirup, clak clak cimatana rag-rag. Manehna reuwas, geus lila manehna teu bisa ceurik. Lir ibarat sumur, geus garing, manehna geus teu bisa ngucurkeun cipanon. Manehna tilem kana pikiranna sorangan, tungtungna sare. Hudang-hudang basa karasa puhu leungeunna nyeri kacida. AC beus gede pisan, manehna teu kuat ku hawa tiis nu ekstrim. Leungeunna sababaraha poe ieu karasa nyeri, sigana tina loba teuing angkat jungjung, jeung ngored buruan imahna nu geus ngajembrung. Manehna ngaluarkeun botol wadah nginum, terus nginum ngubaran tikorona nu karasa nyeri geus garing. Manehna sadar, nu karasa dina tikorona akibat manehna kurang sare.

Di terminal manehna turun terus naek deui kana Elp. Nungguan lila, karak Elpna berangkat. Nepi kanu dituju, geus telat dua jam. Tapi manehna asup bae. Terus lungak longok neangan korsi kosong. Teu katempo aya babaturanna nu manehn wawuh. Manehna diuk we di hareup nu kosong keneh.