Pages

Thursday, June 26, 2014

Sedikit Mengenai Wiltja

 Wiltja adalah sekolah (singgah) yang memberikan peluang kepada para Aborigin muda untuk bisa masuk ke sekolah menengah di Australia Selatan yang dipimpin oleh seorang kepala sekolah. Menariknya, Wiltja itu sendiri berada di bawah Woodville High School dengan kepala sekolahnya Meredith Edwards dan bertanggung jawab kepada Pitjantjatjara Yankunytjatjara Educational Committee (PYEC). Para siswa Aborigin yang bersekolah di Wiltja berkesempatan untuk mendapatkan sertifikat SACE (South Australian Certificate of Education). Selain itu para siswa mendapatkan materi pelajaran Literacy, yang hanya ada di Woodville High School.

Untuk menjadi siswa Wiltja di Wooville High School, para siswa Aborigin meninggalkan tempat asalnya dan tinggal di asrama (boarding). Alasannya agar mereka dekat ke tempat sekolah dan dengan mudah kontak dengan budaya baru non-lokal. Tujuan didirikannya Wiltja tidak hanya untuk memberikan para siswa kesuksesan akademis namun hal-hal lain yang membuat mereka bisa meningkatkan taraf hidupnya sebagai manusia terdidik (educated person). Mereka tetap diberikan kesempatan belajar bahasa daerah Pitjantjatjara serta pembelajaran yang berkaitan dengan bagaimana mengoptimalkan penggunaan lahan leluhur mereka misalnya melalui pendidikan kejuruan Wisata (Vocational education)

Tahun lalu, sekitar 80 orang siswa Wiltja lulus dari kelas 12 dan mendapatkan sertificat SACE. Menurut salah seorang siswa Wiltja, yang terberat adalah terpisah dari keluarga dan memulai kehidupan baru sebaga warga Adelaide. Mereka menambahkan bahwa sekarang lebih banyak para orang tua yang tidak berkeberatan anak-anaknya bersekolah dan mengejar pendidikan tinggi.

Hal menarik dari Wiltja adalah adanya Hari Maaf (Sorry Day) pada tanggal 25 Mei lalu. Poster untuk merayakan Sorry Day dipasang pada hampir setiap dinding sekolah. Hari Maaf merupakan ekspresi penyesalan kepada para Aborigin yang mengalami masa “Generasi yang hilang” (Stolen generation).

Monday, June 23, 2014

Hail

 “Tomorrow is going to hail” (besok akan hujan es), itu kata seorang penjaga toko ketika saya masuk ke tokonya dengan tubuh menggigil. Cuaca di luar toko terasa sangat ekstrim bagi kulit Indonesia yang hanya mengenal musim hujan dan panas.Kalimat yang diucapkan pemilik toko sepatu UGG terdengar seperti “Tomorrow is going to hell”.

Segera setelah saya membeli beberap suvenir, saya meninggalkan toko, kembali bergabung dengan rombongan. Di dalam bis, tidak terasa terlalu dingin. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Saya turun dari bis, berhenti di King William Street dan berjalan mencari Grenfell Street pemberhentian bis T2 atau U2 agar saya bisa pulang ke rumah induk semang. Sore terasa menakutkan. Angin berhembus sangat kencang, kering, merobek kulit wajah. Saya bersembunyi dibalik tembok bangunan diseberang Rundall Place. saya melihat ada empat orang menunnggu pada bus stop yang sama. hampir 15 menit, bis nomor H32 belum juga datang. Saya akan menuju Hanley Beach Road.

Hampir putus asa menunggu, akhirnya bis datang juga. Jam 5.30, terlihat seperti pukul 7.30 malam di Indonesia, gelap, tidak banyak terlihat orang lalu lalang. Toko-toko telah tutup sejak jam 5 sore. Bis tiba di bus stop no 15 Henley Beach Road, saya turun dan terasa angin lebih kuat menusuk-nusuk pori-pori.

Saya berjalan sekuat dan secepat yang saya mampu. Udara di sini terlalu berat bagi tubuh saya. Saya berusaha menguji kekuatan tubuh, namun tidak mampu. Tubuh dengan tiga lapis baju, tidak mampu membuat tangan dan kaki lepas dari kaku.
jam 8, saya berusaha tidur. Kamar dengan tanpa penghangat ruangan terasa seperti berselimut es. Dingin. Tiba-tiba angin bergemuruh dengan kencangnya. Saya membayangkan pastilah itu hujan. Namun untuk ukuran hujan, terlalu berisik. Hujan ini terlalu riuh rendah menepuk-nepuk jendela seperti melemparkan kerikil-kerikil kecil. Rupanya itulah hail.

Esok harinya ketika saya lewat jalan hendak menuju sekolah, terlihat batang-batang pohon berserakan di sepanjang jalan. Angin dan hail semalam telah membuat dahan-dahan dan ranting-ranting kecil rontok. Air menggenang di pinggir jalan. Pagi terassa dingin dan saya hampir tak kuat menahan dingin. Syal saya tutupkan pada mulut dan sebagian wajah. NAmun angin dingin musim winter Adelaide ini sangat hebat dalam membuat saya berjalan limbung.
Saya coba melindungi diri dengan payung. Rupanya payung pun tidak bayak menolong. Anginnya terlalu kuat, payung hampir terbang, saya beradu tenaga dengan angin. saya putuskan payung yang harus kalah.

Ada sesuatu yang menarik dari winter tanpa salju ini. Untuk melindungi kepala, ada seorang nenek-nenek mengenakan penutup kepala, dilapisi dengan penutup kepala terbuat dari plastik. Sebuah ide kreatif untuk melindungi kepala dari hujan.
Hujan pada winter pun menarik. di Indonesia hujan turun bisa berjam-jam seperti gadis nangis dan merajuk. Di sini hujan datang bersama angin, terlihat butiran-butiran air beterbangan. Kemana arah air itu melaju, terlihat jelas. Hujannya sebentar, anginnya tiada henti.

Bagi mereka yang belum tahu hail. Menikmati hail akan tidak jauh dari hell.

Saturday, June 14, 2014

Dear Miracle (1)

 Dear Miraacle,

Hari ini Mama berangkat menyerahkan map berisi lembaran-lembaran kertas yang menunjukkan bahwa Mama siap mengikuti seleksi Guru Magang ke Austrlia kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur. Dalam map ini Mira akan melihat surat Izin suami, surat izin dari Kepala Sekolah, sertifikat TOEFL dan Esay yang menjelaskan mengapa Mama ingin pergi ke Australia. Mira mungkin merasa bingung mengapa harus ada surat izin suami. Well, untuk yang bersuami, izin pergi menjadi penting karena Mama akan pergi dalam waktu yang agak lama, katanya sekitar 21 hari. Maknanya Mama off berperan sebagai istri selama tiga minggu. Selanjutnya, izin dari kepala sekolah juga penting, karena Mama bekerja sebagai pegawai negeri dan orang yang ditunjuk pemerintah sebagai manajer sekolah adalah principal (kepala sekolah), dengan demikian izin darinya menjadi pernyataan yang menjelaskan kenapa Mama tidak bekerja sebagai pendidik selama 21 hari. Sedangkan TOFL dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa Mama melek Bahasa Inggris. Australia merupakan negara native untuk bahasa Inggris maka peserta magang harus mengusai keterampilan berbahasa Inggris agar dapat berkomunikasi sekaligus mengkomunikasikan semua ide-ide pendidikan yang menjadi tugas Mama.

Mama mendengar bahwa tidak ada seleksi di tingkat Kabupaten dan ini tentu saja menguntungkan karena peluang Mama menjadi besar. Walaupun tidak ada seleksi, Mama tetap merasa khawatir. Kekhawatiran ini didasarkan pada kenyataan bahwa Mama tidak dapat memenuhi persyaratan pertama sebagai calon peserta seleksi, yakni pada 1 Desember 2013 berusia tidak lebih dari 45 tahun. Mira tahu usia Mama kan? Expired. Namun Mama akan mencoba ikut saja, siapa tahu keberuntungan ada di pihak Mama.

Map Mama telah diterima oleh orang disdik, Mama harus menunggu sampai ada pemberitahuan dari disdik provinsi apakah Mama lolos atau tidak.
Wish me luck,
Lots love
Mommy