Pages

Friday, December 30, 2011

DESTINY

 Mulanya semuanya seperti normal-normal saja. Bagi para perempuan sedikit nyeri pada payudara ketika menjelang haid, dianggap sebuah pertanda siklus bulanan itu sudah dekat. Tapi kali ini aku merasa sedikit terganggu dengan rasa nyeri ini. Lebih dari seminggu payudara kanan terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk. Diam-diam aku mengikuti petunjuk buku mengenai bagaimana mengenali kanker payudara secara dini. Sedikit lega rasanya, aku tidak merasakan ada yang ganjil pada payudara, dan juga tidak ada benjolan yang mencurigakan. Apa yang tertera di buku, tidak satupun yang mendekati kondisi fisik payudaraku. Saya pun bersyukur dan merasa tenang.

Aku memang sok sibuk dan sok rajin, masalah yang terasa ditubuh tidak terlalu dipedulikan. Aku pusatkan perhatian pada kuliah. Aku punya cita-cita agar kuliahku tamat tepat waktu. Jika tidak tamat sesuai kontrak, aku merasakan sendiri, bagaimana sulitnya mencari uang dijaman ini. Aku selalu berusaha tidak bolos kuliah, pusing-pusing diit, hujan lebat, angin ribut campur halilintar pun tak mengurangi semangatku untuk tatap hadir di perkuliahan. Saking aku rajinnya, sampai dosen yang merasa iba hati ketika melihat aku basah kuyup dan menggigil demi hadir di kuliahnya. Beliau  beriba hati melihatku, tapi aku keukeuh untuk hadir. Rasanya menjadi mubazir kedatangan saya jauh-jauh dari kota kecil, ngekos demi kuliah. Sekarang saat kuliah tiba, dan baju basah tidak harus menghentikan niat kuliah. Saya senyam senyum saja pas saat kuliah, mengurangi seringai kedinginan dan jaga imej juga sih. Masa ketua kelas harus pulang dengan alasan takut masuk angin, ah kurang seru.

Setiap hari, aku belajar. Bagi beberapa orang, kebiasaan belajarku sedikit membuat mereka heran. Hidupku hanya ada di dua tempat. Rumah dan kampus saja. Di kampus aku belajar. Di kosan pun, ya belajar lagi. Anak-anak kos lain menganggap aku sedikit ‘aneh’. Karena aku hanya tidur, makan, menghabiskan hari, dan bahkan mungkin  mimpi pun hanya dengan buku. Sebenarnya bukannya aku rajin baca. Aku banyak baca, karena aku merasa bodoh, serba tidak tahu. Jadi aku usahakan meninggalkan ketertinggalanku pada pengetahuan dengan baca. Akupun memilih jajan kertas = beli buku ketimbang jajan yang lain. Aku tidak seperti temanku yang koleksi barang-barang antik, boneka-boneka lucu, atau benda-benda langka. Selain uangku tak cukup, karena memang aku sangat memaksakan kuliah padahal secara ekonomi, aku morat marit. Mungkin keberadaanku di kampus ini anugrah terbesar bagiku yang terus terang selama ini merasa gak mungkin bisa jadi anak kuliahan.

Aku mensyukuri anugrah Allah yang memberikan kesempatan kuliah. Di kampungku mungkin hanya aku yang bisa kuliah. Itu jadi satu kebanggan tersendiri. Maklumlah aku kan orang kampung. Bisa kuliah merupakan satu cara yang nantinya bisa meningkatkan derajat dan prestise tersendiri. Aku tidak mengincar itu tentu saja. Aku kuliah karena aku memang merasa bodoh saja. Ketika aku tahu dari teman bahwa aku diterima di Perguruan Tinggi Negeri, aku merasa tidak percaya jika aku diberi kesempatan untuk merasakan atmosfir kuliah di abad 21. Mengenal ruang kuliah dengan dilengkapi hot spot, akses kampus on line, dengan penggunaan one multifunction card, LCD on all the time, dan segala macam peralatan perkuliahan zaman dunia maya. Makan di kantin dengan menu youghurt, mie pasta, kwe tiaw goreng, dan sedikit sekali pilihan makanan dengan menu pokok nasi. Maka aku tidak terlalu peduli juga ketika aku merasakan jempol kanan bagian bawah terasa gatal-gatal. Aku anggap mungkin karena aku pakai sepatu dari bahan katun, dan berjalan di air comberan karena musim hujan, maka gatal-gatal di jempol kaki, lumrah sebagai reaksi normal kulit terhadap kuman-kuman unidentified yang dibawa air comberan (air comberan sekarang punya nama baru yakni Cileuncang, yang sedikit diartikan sebagai sungai dadakan).

Aku menjalani masa perkuliahan dengan riang. Ada bahagia yang tidak dapat dijelaskan sekaitan dengan keberadaanku di kampus. Aku menyinggung masalah bahagia, karena sesungguuhnya aku sedikit merasa bingung, mau apa setelah kuliah ini kelar? Melanjutkan kuliah lagi ke jenjang yang lebih tinggi? Tidak mungkin rasanya. Terlalu berat untukku. Berat dari segi finansial, juga berat dari sisi mental.  Perkuliahanku saat ini terasa sangat berat, menyita segala yang kumiliki. Aku habis-habisan belajar, tetapi tetap terasa bodoh. Tugas datang silih berganti, aku seperti tak sempat punya libur. Ada hari kosong dari kuliah, harus sigap digunakan untuk penelitian. Mencari data, mencari participant, mencari ide, dan mencari hal-hal lain yang membuat aku bisa bertahan kuliah.

Payudaraku tidak terlalu sakit. Aku mensyukurinya sekaligus pertanda aku sehat. Hdupku berjalan normal (paling tidak dari sudut pandangku sendiri). Aku menghabiskan hari-hariku di kampus, di rumah, di depan laptop, hidup berjalan mengikuti kalender. Pada saat awal bulan aku punya sedikit uang, jadi bisa sedikit memanjakan mulut dengan jajan makanan yang beda dengan sehari-hari (=kwe tiaw goreng, bihun goreng, nasi goreng). Bulan ini aku bisa sedikit boros. Aku bisa beli jagung bakar! (ukuran boros yang terlalu rendah untuk ukuran sebagian temanku yang hidup di zaman sekarang, aku menemukan temanku menghabiskan 300ribu hanya untuk memuaskan mata dengan membeli dompet plastik, dan dompetnya tidak pernah dipakai dengan alasan gak matching sama baju)

Aku menikmati udara sore dengan kelembaban tinggi sedikit chill sangat cocok jika makan jagung bakar. Maka terpilihlah satu kios penjual jagung bakar diantara jejeran kios lainnya. Kupilih kios itu karena terlihat bersih, ada bangku panjang dan meja panjang. Mengingatkanku pada masa kecil dulu. Ketika SD aku diberi tempat duduk memakai bangku panjang seperti bangkunya tukang bubur: panjang, tanpa sandaran, hanya papan datar dengan disangga dua kaki, sangat sederhana, tapi efektif untuk memuat banyak orang.  Aku belum duduk ketika aku diberi kesempatan untuk memilih sendiri jagung yang hendak dibakar. Sedikit sulit bagi orang yang tidak ahli dengan kontur (contour) jagung untuk dapat membedakan mana jagung penuh biji dan  mana jagung yang hanya besar bongkolnya saja. Aku memilih jagung yang tampak bersih, gurat-gurat bungkusnya menandakan gambaran isinya yang padat, kupilih itu. Gembira sekali aku mecoba membuka setiap lembaran daun pembungkus jagung. Seperti mengikuti sebuah teka-teki, aku bertanya-tanya apakah tebakanku akan isi di dalam bungkus daun jagung seperti yang saya perkirakan. Lembaran akhir telah terbuka dan jagungnya ternyata sangat bagus, kuning, keindahannya mewakili deratan gigi iklan pepsodent. Tangkai jagung terasa terlalu panjang untuk bisa dibakar. Sekuat tenaga aku potong. Aku pegang bagian ujung tongkol jagung dengan tangan kanan, tepat di depan dada. Tangan kiri memegang bulir-bulir jagung, kukerahkan semua tenaga yang kumiliki untuk memisahkan jagung dari tongkolnya. … krek! Tongkol jagung patah, menekan payudara kananku, dan … sangat nyeri. Nyeri yang hampir tidak tertahankan. Aku minta ijin kepada pembakar jagung barangkali dia punya toilet. Aku tergesa-gesa masuk toilet. Dan kuperiksa payudara kananku. Dan…. Allah  ada darah. Darah kental, terlalu kental untuk ukuran hemoglobin normal. Terasa panas mengalir disemua bagian payudara. Kulap dengan tisu, darahnya keluar lagi. Aku tidak tahu apakah harus panik, diam, atau menunggu darahnya kering. Kulihat payudaraku sedikit memerah. Kutekan bagian yagn merahnya, tanpa kuduga, darah semakin kuat mengucur. Tuhan kenapa ini?

Aku  bayar, jagungnya dibungkus. Niat menikmati chill afternoon , senja dingin dengan bakar jagung batal. Segera aku masuk kamar dan berkaca di cermin meneliti setiap bagian payudara. Merahnya berdiameter antara 5-8 senti. Kutekan-tekan, kembali darah keluar. Aku tahu bisul. Bisul biasanya setelah matang (masa inkubasi habis) akan mengeluarkan nanah. Aku menduga bahwa inipun berdarah kental bisul. Tapi jika bisul, mana mata bisulnya? Terus, kenapa aku tidak merasakan gejala bisulan? Secara naluriah, kubuang darah yang masih terus mengalir, lama-lama habis juga rupanya darah kentalnya. Kututup lukaku dengan tisu. Dua  hari setelahnya aku demam berat, dan tidak diobati, dan tidak ada yang tahu, dan aku juga tidak peduli.

Hidupku berjalan lagi mengikuti tanggalan kalender. Kuliahku berjalan sesuai kalender. Semester satu penuh shock, karena serba tidak tahu dengan harus apa dan bagaimana dengan kuliah. Juga harus memulai penyesuaian hidup sebagai anak kuliahan. Semester 2, sedikit turun ketegangan kuliahnya, bukan karena tekah menjadi sedikit cerdas, tapi karena sedikit tahu, bahwa setelah semester 2 akan ada semester 3, itu menenangkan, artinya siklus kuliah tidak lebih dari melewati semester ke semester dan di dalamnya dipenuhi tugas dan membaca. Selama kuat dan tahan dengan segala macam tugas, kuat baca, selesai. Kuliah bisa berjalan sedikit tegak. Tapi jika berharap nilai tinggi, gayanya harus sedikit diubah. Kuat baca, tahan dengan tugas, ditambah cerdik dalam memfarafrase dan mensintesa kemudian mampu menuangkannya secara akademik, maka boleh berharap nilainya bagus.

Seiring kehidupan kampus, tanpa kusadari, tubuhkupun berkembang dan merespon sesuai kondisi. Sekarang, aku sudah bisa mengiris kulit jempol kaki dengan cutter ketika jempolnya sudah terasa membuat sempit sepatu dan sakit ketika berjalan, tergencat jari yang lain. Sehabis mandi aku iris kulit jempol yang menonjol karena dia tumbuh! Menebal, membesar, mengganggu, dan sakit. Pertumbuhan sel kulit jempolku tidak termasuk normal. Tapi aku memperlakukannya senormal mungkin. Tindakan yang kulakukan menurutku sangat rasional dan dewasa. Jika aku heboh dengan segala perubahan yang terjadi pada diriku, mungkin orang-orang yang peduli akan hidupku akan sedikit over acting dan mengambil keputusan bahwa aku sakit. Keadaan ini akan merugikanku, aku harus ini itu sesuai kepedualian orang lain. Hidup yang melelahkan sepertinya.

Jempol kaki kananku tidak bisa diam rupanya. Dia menulari jari terdekatnya. Ada tiga benjolan kecil tumbuh. Aku menyikapinya dengan tenang. Biarkanlah dulu. Toh kalo tumbuhnya terlalu cepat, bisa aku babat dengan tajamnya pisau cutter. Sedikit ngilu dan perih, tapi paling tidak aku bisa berjalan tanpa terlalu sakit. Aku demam lagi. Aku menganggap demam bukan penyakit. Suhu tubuhku lebih panas dari orang kebanyakan. Badanku selalu terasa panas, tapi aku merasa aku sehat-sehat saja.

Demamku kini sedikit lama, dan aku dibawa ke dokter. Dokter menunjukkan wajah datar-datar saja, sedikit tidak simpati bagiku. Akupun diam saja. Sikap apapun yang saya tunjukkan saat itu, mungkin tidak akan mengubah keadaan sesudahnya. Kata dokter ada penyebaran tumor pada tubuhku, sumbernya di payudara. Aku dingin saja menanggapinya, ah dokter bisa saja salah. Agar dia dapat uang operasi, maka dia memutuskan agar  aku segera dioprasi. Operasi untuk apa? Untuk jempol dan payudara. Banyak amat. Apa ga bisa satu-satu, atau sabar sedikit. Biarkan aku menikmati sakitnya dulu, dan menyadari dulu kalau aku sakit, baru ada operasi, jangan mendadak divonis sakit dan harus operasi. Tidak adil, kenapa dokter bisa menguasai seseorang?

Aku kehilangan satu payudaraku, dan setengah jempol kakiku, ditambah seperempat jempol jari telunjuknya. Dokter dengan sumringah berkata, “saat ini penyebaran tumornya telah terkontrol, tenang saja, jika terjadi sesuatu, sistem kimoterafi menjadi jawabannya.” Aku menjadi lahan bisnis dokter. Ya sudahlah, ini nasib (kata orang ingris mah ‘destiny). Aku pun masih sempat beryukur karena aku masih punya satu payudara, satu mata, dan setengah jempol.

Thursday, December 15, 2011

Emancipatory Pedagogy

 Behaviorist believes that children are regarded as blank slates and ready to be taught anything by more knowledgeable adults (Paul, 2003:3). In other words, learners are considered to be empty cups and ready to be filled up with various kind of knowledge given by teachers. However, new perspective into teaching must take into consideration as learners come to the class with not empty handed. They bring their prior knowledge, experiences, and hopes altogether into the classroom. Their mind is neither blank nor empty. Therefore, curriculum shifting is substantial to do. The jargon of transmitting knowledge is shifted to constructing meaning is likely more appropriate now.

It seems to me that Behaviorist’s perspective influences the process of giving Literature learning experience to students so far. Refer to Paul (2003) at least there are three reasons for this. First, in teaching Literature the teacher is clearly control both the children’s behavior and learning process. The children respond to the teacher’s direction and stimuli and tend to passively follow the teacher. Second, students are considered successful when they are free from mistakes. Third, learning follows a clear lesson plan. The effect of this paradigm causes learning Literature come in the form of memorizing names, years, and things related to the literary works as a uniformity understanding. New ideas that come from differences or derive from having different perspectives are not allowed. Students are likely prevented from questioning and processing the new knowledge that may cause them to think in the different path with the teacher.

It can be said that teaching literature means transferring knowledge about literature by introducing the periodic table of literary work seems need to be leaved out in no time. Remembering names and their titles of master piece of work lead the students nowhere but memorization. In contrast, teaching literature means involving and giving experience with the literature itself should become new paradigm. When students are introduced with the world of literature, at the same time teacher also introduces what literary is, and how to learn it.

For most of novice learners and a little bit allergic with literature like me, learning literature sounds like something to be hindrance. Despite this, I felt being challenged when various kind of poem offered. Then I could make a clear difference between the nature of literature and things which are not, and I could see how to learn it. Being given adequate examples or modeling through various products of literature drive me as student to aware that literature can be learned and it (in its way) gives enjoyment too. The role of teacher in this stage is pivotal. The way teacher introduces what literature is and what he believes on it influences the students indirectly. When teacher believes that every student can digest any kind of literary work, he will apply certain approach to meet this. Inviting students to read, enjoy, or listen to a work of art enable the student to have a very subjective experience to share. This means that the teacher does not transfer the experience and make it as knowledge. Nevertheless empower learning process to gain literature experience and enable students to succeed as much as possible until they ‘feel’ what literature is.

The sequences of building understanding on the nature of literature is also another teaching approach that teacher must take into account. Starting teaching by giving examples is a right move. After the students get familiar with the kinds and texture of literature, teacher asks students to imitate so that they can feel and know what it is like to be a writer or reader. Later on, the students are given another task that suitable with their level of understanding.

Teacher’s role as knowledgeable adult is shown through his role as adaptor, communicator, collaborator and also risk taker.  Adaptor means digging student’s experience through questions and treat the answers in humane way help students understand the nature of literature appropriately. Whereas, risk taker refers to teacher is not afraid of having unwelcomed answers from the learners. Otherwise, he takes the different point of view of the students as power to dig deeper on students’ understanding on the matter being discussed.

Musthafa (1994: pp.54-55) mentioned three challenges for classroom teacher to enable students construct meaning. The challenge demands teacher to consider the structure of the teaching itself so that the learners can do as planned and stated in terms of goal of teaching. Teaching structure rests in three major parts.

  1. Approach

Through Approach teacher introduces the nature of Literature and states how to learn literature. By giving these in advanced, the students are hoped to understand the content and context of literature. Teacher’s approach relates to what teacher’s belief. When teacher considers that doing literature means experiencing literature, he will employ inquiry and group based approaches. For example, the learners question what poem is. The teacher brings the poem to the class and let the students see what piece of works can be classified as poem. Apart from that, teacher also invites students juxtapose point of view to come to new ideas. The question given at school such as “what moral lesson can you take from this drama?’ seems to prevent students to have different ideas. To avoid this, changing question will create active learning and comprehend demanding. Take these questions to arouse students’ interest and curiosity on a drama of Antigone by Sophocles. 1) Who is Antigone? 2) Is she a true hero or traitor? 3) How can you prove your statement? 4) Who is Kreon?

In short, it can be said that learner centered literature learning where it is built on what teacher bring and belief to the class affects the success on giving learning experience to learners.

  1. Design

Literature teacher is someone who is not only ready to be the model of the learning process but also able to integrate pedagogy with students. Involving students’ personal life experiences, feeling and also previous literary experience can be a way to integrate learning gain with the learners. Further, giving learners learning experience may come into existence by demonstrating or modeling the material will be given. Adequate exposure enables learners to get rich examples on the area being learned. Showing the work of the teacher himself can be an ultimate example. He shows the product and shares it to the class. After that, he can advocate students to see the process of how this product comes into being. This activity is substantial. This gives learners meaningful learning experience. As learners can learn how a writer write or find out what causes a writer write.

  1. Procedure

Literature teacher must bring learning and teaching purposes into the class. To gain this learning and teaching purpose, he arranges some procedures that involve himself as teacher and students as learners. Learners can get learning experience if teacher gives the students chance to do so. Innovative method such as giving time for students to experience individual reading, free-stressed discussion and interpretation is part of friendly procedures that can be applied in the classroom.

Learning literature in person is probably new experience for some students. For me, it really affects how I see and feel on literature. As a language teacher, I feel being invited to imitate the steps I got in my learning experience in the classroom into my own class. Even tough, literature is not stated in the secondary school curriculum to be given; morally I am responsible to introduce my students a literature course to make them more humane. I believe that my decision to introduce literature to the class in a small step toward innovative teacher. To sum up, shifting my learning experiences to teaching later is form of responsible emancipatory pedagogy.

 

Reference

David Paul. 2003. Teaching English to Children in Asia.  Longman Asia ELT, Pearson Education North Asia Limited

Musthafa, Bachrudin. 1994. Literary Response: A Way of Integrating Reading-Writing Activities. Vol.31. Pp. 52-58.

Tuesday, December 13, 2011

GURUKU (1)

 David adalah salah satu guru bahasa Inggris saya waktu SMA dulu. Bagi saya, beliau termasuk guru jempolan. Paling ada LIMA hal yang bisa diajukan sebagai alasan atas kejempolannya. Pertama, sebagai guru, dia satu-satunya guru yang tidak setuju dengan sebutan ‘guru’. Suatu saat beliau meminta saya agar buka kamus Oxford atau Cambridge, atau apalah yang penting kamus English-English, karena beliau termasuk orang yang tidak bersetuju jika siswa belajar bahasa Inggris dengan menggunakan kamus Indonesia-Inggris atau sebaliknya. Alasannya kamus model begituan TIDAK MENCERDASKAN.  Sebagai murid, saya harus bersetuju dengan fatwanya. Padahal tanpa sepengetahuan beliau, saya memiliki kamus Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia. Bukannya saya berkhianat kepada guru, tetapi saya tidak bisa menolak keberadaan kamus dua versi bahasa ini. Keduanya datang pada saya sebagai hadiah atas pengakuan orang lain terhadap kemampuan berpidato saya dalam Bahasa Inggris, yang katanya cukup baguslah untuk ukuran anak kampung yang belum pernah ke Inggris bisa niru-niru ngomong orang Inggris, dan sedikit meyakinkan juri (yang saya yakin mereka pun sama seperti saya, yakni belum pernah ke Inggris, makanya mereka menilai ngomong saya bagus ðŸ˜‰ ). Kedua kamus itu tidak pernah saya keluarkan, juga tidak pernah saya pakai, bahkan tidak saya pajang untuk sekedar pamer kalau saya punya kamus John Echols. Selain saya takut dianggap murtad karena telah melanggar perintah guru, saya juga khawatir terkena kutuk. Walaupun guru saya tidak tahu kalau saya buka-buka kamus hadiah itu, tapi hati kan saya ngaku kalau saya telah melanggar amanat guru. Eh… tapi kalau tidak salah, saya pernah buka kamus itu satu kali, waktu itu saya mencari apa bahasa Inggrisnya ‘lempeng’. Ah ternyata, guru saya memang benar, saya pusing sendiri, karena terjemah lempeng itu memusingkan. Ketika dicoba dipakai pada kalimat, dan diterjemah balik ke dalam Bahasa Indonesia, terjemahnya jauuh dari yang saya maksudkan. (Kasus ‘pusing’ karena salah kamus pernah menimpa teman saya. Alkisah dia harus menerjemahkan kalimat “dia jago main gitar”. Dia nyari setengah mati kata jago pada kamus Indonesia-Inggris. Dia menemukan terjemah ‘jago’ adalah ‘cock’. Dengan bangganya dia menulis “he cock play guitar” hahahaha…. cock = ‘ayam jago”) Sejak saat itu saya punya keyakinan bahwa guru harus digugu dan ditiru, karena petuah mereka walaupun awalnya terdengar nyeleneh, tapi terbukti benar (walaupun perlu 10 tahun untuk ketahuan benernya hehehe).

Kembali ke masalah guru bahasa Inggris saya yang berkeberatan disebut ‘guru’. Beliau menjelaskan dengan yakinnya begini, ‘coba kamu telusuri “kata pinjaman” dalam bahasa Indonesia (kalau kata ahli translation penganut Vinay and Dalbernet mah disebutnya Calque, in contrast to ‘borrowing’), kata engineer jadi insinyur, doctor jadi dokter, governor jadi gubernur, kenapa teacher jadi…guru.  GURU? Wow..how come, do you know what guru is?” (kamu tau ga apa arti kata guru? Terjemah pribadi). Saya cengangas cengenges saja, karena bagi saya mau guru mau teacher (ticer), ah tidak ada bedanya. Kalau saya manggil guru… teacher (ticer), malah jadi awkward (aneh). Ticer  bahasa sunda, ticer matematika, ticer mulok…bapak ticer dan ibu ticer…… .

Saya buka kamus Cambridge (karena kebetulan saya belum mampu beli kamus Oxford yang harganya 400 ribu dan tidak bisa ditawar dengan alasan ‘worth paying as it is an original edition’). Nah pada kamus Cambridge guru memiliki dua makna (1) a religious teaacher in the Hindu or Sikh religion, dan (2) a person skilled in something who gives advice. Walhasil kata guru adalah pemberi pencerahan keagamaan bagi penganut Hindu atau seseorang yang luas pengetahuannya sehingga mampu menerangi orang yang dalam kegelapan, atau seseorang yang mumpuni dalam keilmuannya. Sedangkan guru, yang kita hadapi tiap hari, tidak memiliki atribut dan tanda-tanda dari yang dua tadi. Jadi kita salah sebut, mereka bukan guru tapi ticer.  Saya mulai mengernyitkan dahi (tandanya saya mikir). Guru saya ini ada benarnya juga. Kata guru mengandung unsur sakral. Kesakralannya diabadikan pada kisah-kisah Mahabarata dan Ramayana. Para Nalendra (raja) mereka berguru kepada gunung, kepada pohon, kepada sungai, kepada alam sebelum mereka menjadi orang nomor satu dalam pemerintahan. Alam takambang adalah guru.

Kita mungkin pernah mendengar bagaimana para Pandawa berguru kepada alam selama empat tahun ketika mereka dibuang oleh Kaum Kurawa karena kalah bertaruh. Setelah empat tahun berguru kepada alam (empat tahun berguru kepada alam, waktu yang dihasibiskannya setara dengan kuliah S1) Pandawa menjadi insan kamil atau manusia paripurna. Sedangkan,pada jaman kekinian kita masih mendengar, agar mendapatkan sebuah kemanjuran dari suatu ilmu maka mandi di tujuh mata air yang berbeda adalah saratnya. Artinya, orang yang belajar ilmu tadi harus berguru pada mata air. Makna tersembunyi dari mata air adalah ‘kesucian dan sikap qonaah’. Sumber air mencerminkan bersih, saya tak perlu mengulasnya, qona’ah? Maksudnya sikap nrimo, mengikuti takdir tanpa banyak demo-demo atau protes-protes. Lihat bagaimana air menelusuri kodratnya. Dari sumber manapun dia berasal dia akan mengalir ke arah yang lebih rendah, dan itu takdirnya air. Maknanya, kata GURU untuk digunakan sebagai atribut untuk ticer (pengajar) belum tepat.

Guru saya (ticer saya) meminta saya melongok sejarah, dari mana kata guru munculnya. Saya tentu saja  give up (menyerah), lha wong saya bukan ahli sejarah, mana saya tahu kapan kata guru muncul. Saya hanya menebak-nebak saja mungkin kata guru muncul pada jaman penjajahan Belanda dulu. Jika kita kaji dari sejarah, katanya Belanda itu mencoba menciptakan jurang yang beda antar sesama manusia (diskriminasi). Misalnya saja, harus beda antara rakyat (cacah) dan  pejabat (menak). Panggilan Raden, Aden, atau diselewengkan jadi Adeng adalah salah satu cara yang digunakan agar derajat manusia menjadi tidak sama . Dari tulisan Ahmad Bakri (penulis buku Dukun Lepus terbitan Kiblat) saya bisa membayangkan kesenjangan kasta pada jaman Belanda. Ahmad Bakri menggambarkan bagaimana sikap cacah ketika seorang menak lewat. Cacah harus duduk ditanah basah kotor bercampur tahi kerbau dan menundukkan kepala ketika menak lewat. Sangat tidak beradab sekali karena si menak lewatnya dengan menunggangi kuda, you can imagine bagaimana air kotor yang terinjak kuda muncrat ke wajah para cacah. Nah, kata guru mungkin diperkenalkan oleh Belanda untuk memberikan imej kalau guru adalah orang yang berbeda, bukan manusia biasa, something atau yang kaya begitulah, sesuatu. Guru dipekerjakan Belanda untuk mengajar anak-anak pribumi golongan menak. Guru mengajarkan baca-tulis agar lulusannya bisa bekerja sebagai pekerja kelas rendahan. Pada saat itu selain guru ada pula orang yang mengajarkan baca-tulis Arab (Al-qur’an) tidak disebut guru, tapi Kyai. Dan lulusan pesantren bisa menulis huruf Arab, bukan huruf Latin seperti yang diajarkan guru. Perbedaan sebutan ini tentu ada maksudnya. Selain mengakibatkan cara pandang yang berbeda terhadap pekerjaan, memisahkan pula cara tata titi dan beretika ketika berhadapan dengan dua genre pengajar ini. Belanda menciptakan guru adalah pengajar ilmu dunia, dan kyai pengajar ilmu akhirat. Mereka tidak bisa berdiri sama tinggi duduk sama rendah padahal tugas mereka (kurang lebih) sama. Atau saya salah, Belanda malah menerapkan kata guru untuk menyindir, mengejek, atau mengironikan. Kita, bangsa Indonesia memiliki pengaruh kuat keHinduan dalam kehidupan keseharian. Otomatis kata guru, telah punya definisi tersendiri dalam kosakata budaya bangsa kita. Belanda menggunakan kata guru untuk mengejek kesakralan bawaan dari kata guru. Entahlah. Saya sampai saat ini masih menyebut guru bahasa Inggris SMA saya itu guru. Tidak sempat saya memanggilnya ticer, saya merasa kagok (canggung) untuk memanggilnya ticer seperti permintaannya.

Alasan KEDUA, kita bertemu di Guruku (2)

Wednesday, November 30, 2011

Memperkenalkan Membaca kepada Pembaca Pemula

 Hasil studi UNESCO menunjukkan dari 39 negara, minat baca anak Indonesia menduduki posisi ke-38 diantara Negara-negara ASEAN. Jika dihitung, buku di Indonesia hanya dibaca 27 halaman per tahun, yang berarti 1 halaman dibaca dalam 2 minggu (Pikiran Rakyat, 3 Nov 2011).  Penggalan paragraf ini sangat memprihatinkan karena tidak saja menggambarkan rendahnya minat baca di Indonesia, tetapi juga mengindikasikan pembelajaran membaca seolah setaraf dengan pemberantasan buta huruf. Pembaca pemula berhenti membaca setelah mereka melek huruf karena menganggap telah bisa membaca.

Pendidik pada tingkat pendidikan dasar memperkenalkan huruf, terlepas dengan mengunakan strategi whole language (memperkenalkan kata sebagai bagian dari kalimat), atau dengan phonic (huruf per huruf menjadi kata). Keduanya mengantarkan pemelajar tingkat dasar mengenal bahwa huruf dapat dirangkai menjadi kata dan memiliki makna. Sayangnya, segera setelah pemelajar ini mengenal huruf dan kata, serta dapat membacanya; sebagian pendidik berasumsi bahwa tugas mengajari membaca telah khatam. Inilah awal stagnasi dan tidak munculnya keinginan membaca secara otonomi pada kalangan anak-anak.

Faktor penghambat lainnya adalah, sebagian pendidik seolah memperkenalkan membaca adalah pintu untuk bisa menjawab soal pada bagian akhir bacaan. Gaya ini tentu saja bukan merupakan perkenalan yang baik dengan dunia membaca bagi anak-anak. Karena, membaca untuk mendapatkan kesenangan (pleasure)  sangat berbeda dengan membaca untuk mendapatkan informasi. Ketika anak-anak dihantarkan bahwa membaca adalah untuk memperoleh informasi saja, maka kenikmatan membaca pupus. Mereka bisa salah simpul bahwa kegiatan membaca adalah kegiatan yang serius, yang melibatkan hafalan dan pemahaman sekaligus. Jika kedua elemen ini tidak muncul, diakhir kegiatan membaca mereka tidak dapat mengkomunikasikan hasil bacaan dalam bentuk kemampuan menjawab soal. Jika kegiatan membaca seperti ini terjadi, bukan tidak mungkin  anak-anak mengeluhkan keengganan membaca dengan alasan membaca membuat mereka merasa capek, pusing, terbebani, dan tertekan. Mereka merasa lelah karena harus mencerna dan mengingat-ngingat apa saja yang telah dibaca. Membaca seperti ini sangat jauh dari kondisi membaca tanpa beban atau reading for pleasure.

Sebaliknya, membaca untuk kesenangan tidak meminta pembacanya untuk berkerut dahi dan bersiap-siap mengakhiri kegiatan membaca dengan menjawab pertanyaan. Tetapi, membaca dengan tujuan ingin berkomunikasi dengan penulis. Apapun yang ditawarkan penulis, dicernanya, tanpa ada rasa khawatir interpretasi terhadap bacaan tidak sesuai dengan keinginan pendidik atau patokan pemahaman melalui soal.

Sama halnya seperti penguasaan keterampilan berbahasa dalam bentuk berbicara, menulis dan menyimak, keterampilan membaca tidak muncul dengan sendirinya tetapi harus diajarkan. Untuk pembaca pemula, mendengarkan cerita yang dibacakan oleh guru merupakan awal yang baik untuk menunjukkan kepada mereka bahwa membaca menyenangkan. Seorang peneliti pendidikan anak-anak D. Hill (2001) menemukan bahwa cerita atau dongeng menyumbangkan aspek fundamental sekaligus unsur kesenangan bagi pembaca pemula. Sementara, buku-buku pelajaran tidak cukup banyak memuat cerita atau dongeng di dalamnya. Para pendidik disarankan untuk membacakan cerita atau dongeng bagi para siswanya, dan mengajak para orangtua agar mereka bersedia membacakan cerita bagi anaknya sebelum tidur. Sehingga anak-anak mendapatkan layanan dobel ke dalam dunia membaca. Sehingga anak-anak akan secara tidak langsung menyadari bahwa membaca dapat mendatangkan rasa senang, penasaran, ingin tahu, dan pada akhirnya timbul keinginan untuk membaca sendiri.

Selain itu, beberapa strategi dapat diterapkan di kelas agar anak senang membaca. Memperkenalkan konteks merupakan salah satu cara agar siswa dapat menemukan pemahaman terhadap isi bacaan. Bagi pembaca pemula kegiatan membaca dapat disajikan dengan membuat siswa merasa bahwa mereka tidak sedang diminta memahami teks. Guru misalnya membacakan sebuah teks, sedangkan para siswa diminta menebak benda yang disembunyikan dibawah taplak meja gurunya.  Atau, mengajak siswa memahami tanda baca dengan menunjukkan bagaimana guru berhenti sesaat untuk memperkenalkan koma dan beberapa saat untuk mengenalkan titik. Tanda baca penting dikenalkan karena menjadi bagian dari unsur untuk memahami teks.

Strategi lainnya adalah dengan kartu KWL, peta semantik, dan diagram Ven. Untuk KWL, mintalah siswa membaca, setelah itu buatlah tiga kolom. Kolom pertama K digunakan untuk menuliskan apa yang saya ketahui, kolom ke-2 W disediakan untuk menuliskan apa yang ingin saya ketahui, dan kolom ke-3 L dibuat untuk menyampaikan apa yang telah saya pelajari. Selanjutnya, peta semantik; sama dengan KWL mulailah dengan meminta anak untuk membaca sebuah teks. Segera setelah mereka selesai membaca, buatlah bulatan-bulatan yang nantinya diisi oleh informasi sesuai dengan isi bacaan.  Dan Diagram Ven adalah cara mengecek pemahaman bagi siswa yang membaca teks berisi sesuatu yang dapat dibandingkan atau dikontraskan. Misalnya siswa membaca cerita yang didalamnya melibatkan berbagai macam jenis binatang. Diakhir kegiatan siswa diajak membuat persamaan dan perbedaan diantara setiap binatang yang dilibatkan di dalam cerita.

Sebagai tambahan, strategi yang dapat digunakan adalah dengan memberikan siswa mini-reading lesson yang ditujukan untuk membantu siswa menciptakan konteks sehingga menemukan makna bacaan. Misalnya siswa diperkenalkan pada bacaan berjudul “Perpustakaan” dan pada teksnya terdapat gambar. Dianjurkan agar gambar digunakan sebagai pengantar untuk memahami isi teks. Guru dapat mengajak siswa untuk mencermati gambar, ajak mereka menggali sebanyak-banyaknya informasi dari gambar, sehingga membantu ketika mereka membaca secara individual.

Koran atau majalah pun dapat digunakan untuk membuat siswa tertarik membaca. Pilihlah artikel pendek yang sesuai. Siswa dapat melihat langsung bagaimana teks informasional pendek tersaji secara otentik. Melalui teks yang diambil dari koran atau majalah, guru dapat mengenalkan keterampilan berwacana.

Penggunaan berbagai  strategi untuk menunjukkan kepada pembaca pemula bagaimana membaca merupakan kegiatan yang menarik dan menyenangkan, selain membantu lahirnya pembaca-pembaca baru, diharapkan juga akan mensejajarkan anak-anak Indonesia dengan anak-anak Asia lainnya dalam taraf literacy dan kuantitas bacaannya sehingga mendongkrak posisi minat baca anak Indonesia. Para pendidik disarankan untuk tidak terlalu kaku dalam menggali pemahaman hasil bacaan. Memberikan serentetan pertanyaan yang harus dijawab pada setiap akhir kegiatan membaca, bukan satu-satunya cara bagi siswa untuk mengkomunikasikan pemahaman terhadap isi bacaan

RECONSTRUCTING THE MAJOR CHARACTERS OF ANTIGONE PLAY

 Antigone, as it is named as the title of the drama from Sophocles (c.496-406 B.C), is a kind of drama tragedy where it ends the story with tragic and followed by mourn. The drama tells about the daughters of Oedipus who must face the death of their brothers –Etocles and Polyneices- with different treatment of burial. The first son is considered a hero meanwhile the last is supposed to be a traitor and serve no decent burial. Antigone finds this as injustice, since all the dead has right to be buried.

I find out it is not easy to decide who Antigone is. Antigone’s character is in questioned whether she represents a heroine or on contradictory she is a traitor. If we put our attention on the bravery of her to refuse the decree of his uncle- Kreon- who is considered to be the God himself, we can call her a heroine. In the name of power, as a matter of fact Kreon has absolute power as a king. He believed that whatever he said it has wisdom behind it. His will to let Polyneices lie on the plain should be accepted as final and anyone who does not support this will end in death. As sibling, Antigone condemns his uncle’s decision. She promises to burry his brother whatever it takes. Her courage may not be found in layman. Regarding she is a descendant of royal blood family so that she has such a bravery to challenge the King. Even her sister, Ismene, points her as unwise and she convinced that it is impossible to burry their brother. They are only women, and women cannot fight with men. Yielding to the authority of men is the safest way for both of them. Yet not prevented by the warning of Ismene, Antigone did not give in herself to the law and she buried her brother.

Facing the denial from Ismene, her only hope to carry the burial, she turns herself into a traitor in the eyes of law where all citizens are demanded never question the law. She said angrily that she will dare to transgress the law of heaven. She refused to obey the decree. With all her heart she buried her brother and caused Kreon felt tested to stick on the rule or put pity on his niece.

On the other side, Kreon as a King he believes that he is the source of law and justice at once. Any decrees he made seems to be impossible to change. He tries hard to be a good ruler and a good part of the family at the same time. Unluckily, he fails in both. I think that Kreon’s effort to be a good and responsible ruler is a normal attitude and represents humane side of Kreon. Also, it is normal for a King like Kreon to deny his son’s advice not to send Antigone to death as it will bring another deaths. He makes certain that Haimon is inexperience individual and cannot think more logical than adult like himself. This point of view causes Kreon said, “You consider it right for a man on my years and experience to go to school to a boy?” The way he thinks represent that he is a human. I believe that he never plans to use his power to hurt his nieces, but he thinks that a good king must never retreat his decree in order to be accepted as a new king that replace Oedipus position by his nieces. We can understand if he firmly decided that sending Antigone to a vault as punishment. He emphasized that a responsible king must be brave in taking consequence of his decision even though it sacrifice his own kin’s blood. He does not want to become the example of person who breaks law.

Collecting evidences to show that Kreon is a good king will be opposed by the facts that Kreon does not have all qualities to be grouped as a good king so that his actions satisfy us. Take one example when Kreon invites the Chorus to agree if his nieces are not sensible persons, and he said, “Gentlemen, I beg you to observe these girls: one has just now lost her mind; the other it seems, has never had a mind at all”. In my opinion, even though he is very angry, he can not utter such a statement as he is a king not a layman. In addition, as a king, he must also be able to control his emotion. It mentioned in page 1083 how his rage mounting steadily. He cannot control his emotion and even become furious and unable to limit his action not say that others as ‘doddery wrecks’. His harsh words decrease his quality as a good king. Another example is when he meets Teiresias. How he without any doubt judge Teiresias as a person that he can buy. He at least must believe that all human changes following his experiences, knowledge, and value that person achieve. I can say that Teiresias may conduct mistakes in the past but it does not mean that Teiresias is the same person when he reminds Kreon by saying ‘give in to the dead man, then: do not fight with a corpse- what glory is it to kill a man who is dead?’ this sentence shows that the value behind this is very high. He talks about glory, and no glory comes from the dead. This is a truth. Kreon ignores this, even worse he does not show any respect and consider Teiresias is low in reputation by challenging him saying: ”You have certain skill; but you have sold out. Whatever you say, you will not change my will” p.1101. Kreon’s stubbornness initiates Teiresias to foretell what Kreon is going to have in the future as: “and your house will be full of men and women weeping, and curses will be hurled at you from far cities grieving for sons unburied, left to not before the walls of Thebes”. As a tragic drama, what Teiresias ‘see’ send Kreon to never ending mourn. I presume that Sophocles wanted to show a lesson through this tragic drama. He informed us that bad destiny comes not because of the fate but because of the man himself. He plants the seed of hatred, anger, and pain to fulfill the demand of being perfect but later on it becomes the source of endless regret.

To perfect the story, the third character is introduced. She is Ismene who has an opposite character to her sister-Antigone. As a citizen, she is a loyal and obedient civilian. She disagrees with extreme decision of Antigone in reacting to a decree of the ruler. Ismene is sure that what a ruler assigned it for the good of the people. Besides that, Ismene is a kindhearted person. She shows up as a sister who is ready to share the bitter punishment of her sister’s crime. For this, Kreon metaphorically called her as snake: “Snake in my ordered house, sucking my blood … these two sisters were aiming at my throne! (p.1089, line 129) The accusation of Kreon is not true of course, as Ismene completely obey Kreon. She sees the law is strong, and this law takes shape as human, it is Kreon. Refer to this believe, Ismene cannot be categorized as ‘snake’.

Overall, reconstructing major characters from Antigone Play put me into a new insight that a good writer is not only able to create multi-interpreted text but also causes its reader to be smarter in reading for understanding from a text. For me, the discussion on finding out who Antigone, Kreon, and Ismene really are contributes to my realization that human to be made of many characters. Further, engaging with the major characters of Antigone Play, I have a clearer picture of consequences from every choice someone’s made. I can conclude that Antigone Play gives personal effect to my life. Firstly, it changes my point of view on understanding what other take as decision, secondly, it gives new experience in digesting a work of art, and the last pushes me myself to see things at least from two points of view.

Friday, November 25, 2011

MENDAPATKAN PENGALAMAN BELAJAR DARI JAWABAN SISWA YANG SALAH

 Setiap pertanyaan yang diberikan pada kita akan dijawab berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kita. Begitu pula pertanyaan tertulis yang disodorkan kita akan dijawab sesuai dengan pengetahuan yang kita miliki. Excel, siswa SD kelas 1 semester 1, diberi pertanyaan tertulis untuk menggali pemahamannya dalam bidang Ilmu Pengetahuan Sosial yang berkaitan dengan anggapan dan pandangan terhadap suatu kejadian.

                Pada bagian awal, Excel disodori sepuluh soal pilihan Ganda dengan butir pilihan sebanyak tiga buah. Pada bagian kedua, terdapat sepuluh buah soal esay yang dapat diisi sesuai pegetahuannya. Untuk soal pilihan ganda, jawaban telah disediakan dan Excel hanya memilih jawaban yang paling tepat dengan cara menyilang huruf a atau b atau c. Sepertinya untuk memilih a, b, atau c, Excel tidak mengalami kesulitan. Sedangkan untuk soal esay, Excel menemui masalah. Masalahnya sangat prinsipil.

                Untuk sebuah soal, guru sudah memiliki jawaban yang “benar”. Ketika sebuah soal esay diberikan, guru telah memiliki jawaban yang “benar” menurut sudut pandangnya, yakni jawaban yang sesuai dengan harapannya. Ketika siswa menjawab tidak sesuai dengan yang diharapkannya, maka otomatis jawaban akan dianggap salah. Padahal sebaiknya guru mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada siswa mengapa jawaban yang diberikannya seperti yang dituliskannya. Mengingat jawaban esay bersifat bebas, siswa dapat menuliskan apapun sesuai dengan alaman dan pengetahuan yang dimilikinya.

                Mari kita lihat kasus Excel. Salah satu soal esaynya berbunyi “Ketika libur saya akan pergi ke rumah nenek. Pergi ke rumah nenek merupakan pengalaman yang …” . Tanpa ragu Excel menulis jawaban “menyakitkan”. Dan otomatis pula guru mencoret merah jawaban itu, karena jawaban yang diharapkan gurunya adalah “menyenangkan”. Kontradiktif jawaban ini menempatkan Excel pada posisi yang dirugikan. Saya tanya kenapa Excel menulis “menyakitkan”. Excel menjelaskan begini, “ya, buat Excel menyakitkan, karena kalau Excel pergi ke Selatan (tempat dimana dulu neneknya tinggal)             untuk berkunjung, kan neneknya sudah meninggal. Excel tidak bisa bertemu nenek, malah Excel tidak mau ke Selatan, sedih.”

                Jawaban “tidak tertulis” Excel melatarbelakangi jawaban tertulisnya. Guru mungkin tidak sempat menggali jawaban tidak tertulis yang sebetulnya merupakan pengalaman asli siswa. contoh kedua, soal berbunyi ,”Seorang Ibu melahirkan bayi perempuan. Melahirkan merupakan pengalaman … .” Excel menjawab “merepotkan”. Dalam pandangan Excel dengan usia tujuh tahun, melahirkan merupakan hal yang merepotkan atas alasan waktu Ibunya sendiri melahirkan, semua orang menjadi repot. Dia melihat semua orang sibuk, dan banyak yang diurusi sehingga dimaknai ‘repot’ olehnya.

                Apa yang sebaiknya guru lakukan ketika kontradiktif jawaban terjadi? Apa sesungguhnya tujuan diadakannya ulangan bagi peserta didik. Ada beberapa alasan untuk ini, diantaranya untuk melihat perkembangan sejauh mana peserta didik menguasai materi yang telah diajarkan. Tetapi, seperti banyak diketahui para guru, kegiatan memeriksa hasil ulangan atau pekerjaan siswa merupakan kegiatan yang banyak menyita waktu. Sehingga tidak sedikit guru yang mengajukan alasan mereka memeriksa hasil ulangan karena itu harus, titik. Untuk mengurangi tarik menarik antara kepentingan penilaian bagi guru dan kebermanfaatan bagi siswa, beberapa hal di bawah ini barangkali ada manfaatnya:

  1. Sebelum guru memutuskan jawaban siswa A benar atau salah, sebaiknya berikan siswa kesempatan untuk melihat apa jawaban yang diberikan oleh temannya. Misalnya, pada saat ulangan selesai, minta seorang siswa untuk menyebutkan jawaban untuk nomor 1 dan tanya alasannya kenapa. Biarkan siswa lain mendengar jawaban dan alasan yang diberikan temannya. Selanjutnya, tanya pula siswa yang lain, dengan demikian siswa bisa melihat bagaimana siswa lain memberikan respon terhadap sebuah soal. Guru pun dapat melihat bagaimana reaksi anak terhadap soal yang diberikannya. Karena bukan tidak mungkin sebuah soal “dibaca” berbeda oleh setiap anak. Sebagai contoh “Sebutkan bunyi Pancasila yang ketiga?”. Seorang anak, sangat kebingungan dengan soal ini. Maka dia menjawab “Tidak berbunyi”. Bagi dia “Sebutkan bunyi”, dia memproses kata bunyi dihubungkan dengan Pancasila, dia menyimpulkan bahwa Pancasila tidak memiliki bunyi.
  2. Sesekali ajak atau minta siswa yang memeriksa jawaban. Tentu saja sebelumnya guru harus memberitahukan terlebih dahulu jawaban yang diharapkannya, sehingga siswanya bisa membuat parameter sendiri jika kebetulan soalnnya berbentuk esay.
  3. Ketika memberikan soal, jangan diberikan secara berurutan dari 1,2,3 dan seterusnya, sesekali loncat dari 1 ke 4, maju ke nomor 2. Dengan cara seperti ini siswa terus ‘alert/waspada’ dan tidak menebak-nebak soal selanjutnya apa.
  4. Berikan kesempatan siswa untuk menentukan soal mana yang ingin dijawabnya. Diumpakan disediakan soal esay sebanyak 15 buah, tetapi siswa diperbolehkan hanya menjawab 10 soal saja. Ini membantu siswa kelompok lambat untuk merasa yakin bisa menjawab soal sesuai dengan kemampuannya.
  5. Jika soal berbentuk pilihan ganda. Tuliskan jawaban di papan tulis sebanyak lima-lima, tetapi tidak diberi nomor, dan acak. Umpamanya jawaban no 10 A, 11 C, 12 D, 13B, 14A, 15A. Tulis jawaban A,C,D,B,A,A. Jika pas siswa memeriksa nomor 10 mereka menemukan jawaban nomor 10 A, maka nomor 11 pastilah C, dan seterusnya.

Jawaban yang dianggap salah oleh guru, tentulah memiliki makna. Mengusahakan agar siswa bisa belajar dari kesalahan itu menjadi bagian dari proses mendapatkan pengalaman belajar.

Thursday, October 27, 2011

Experiencing Literary Work with DR. BM

 Perjamuan is my first acquaintance with poem. It was a shocked-experience to me. I questioned myself how a writer could use a language in such an effective and unpredictable way in terms of offering meaning of content. The lexicons the writer employed tends to be ordinary words, but the meaning behind those words brings me to a world where I almost never imagine before. The poet succeeds in delivering his theme to the audience in such a beautiful way and leaves a deep impression on the audience mind like me.

In my point of view, choice of words is not the only power of a poem to astonish its reader but also its capability to be interpreted in various ways.The experience offered was interpreting Perjamuan classically. Quietly, I struggled to interpret what Perjamuan is when it was being read by DR. BM. My interpretation went wrong. Interpreting word-by-word sent me to a denotative meaning whereas the poem itself employed metaphors. In interpreting a poem, there is what so called personal point of view interpretation and communal interpretation. Personal interpretation derives from individual understanding on a poem. This kind of interpretation may vary from one person to another. One’s past literary experiences or prior knowledge influence the understanding and response. As an example, I kept my mouth shut and a little scared when Perjamuan was read. I have my own frame and certain expectation on poem. In other words, I had a firm belief that poem is not my world and enjoy a poem is a kind of impossible mission to me. Interpreting Perjamuan corners me to the fact that a poem speaks more than its words. I realized that “close reading” is a start to understand a poem, besides knowing the rule of significance, character of the writing, and coherence of metaphor. In metaphor, Perjamuan means something else, not a kind of serving food but somewhat like screaming of dissatisfaction soul. Meanwhile, communal interpretation means that a poem has a cultural bound. The implication of this can mean that teach literature can not be given one on one. Sharing is the right model. Each of the individual offers their interpretation based on their personal life experiences as a part of a community. Through sharing, the greatness of a poet in his thought can be felt. His ability to make virtual reality or imaginer reality sounds real can be traced by listening what others said and what joy they had on the poem.

For a novice and almost poem-allergic person like me, being given a task to experience on how to select poem would look like was a new big leap for my understanding on poems. Jump from one poem to another in a binding book and a digital book had confused me. Questions arouse on my head, what these poems are trying to say and why the writer made them. Select one poem from hundreds of poems was a mourning task to me. I decided to choose Indonesian poem, even though it contradict with my own first intention. I chose Sundanese poem. I thought it would work for me since it uses my mother tongue then I can understand it easier. But alas, Sundanese poem looked and structured too weird for me and I could not even see them as a great work of art. On my desperate, I picked an Indonesian poem Jejak di Tangga. I can say that this poem seem to relate to my emotion. After I re-type, re-read, and read it aloud. This poem represents my loneliness feeling, my choice to enjoy my solitude, and my isolation. When the poet wrote: Sudah berapa lamakah musim ini memenjarakanu, wahai rumah yang selalu menutup pintu? This stanza is like directly ask my hidden or cloak feeling. This stanza represents a good poem since the message is framed perfectly. It applies grammatically acceptable and correct sentence as its syntactic reference. As I can digest the message then the aesthetic experience can be gained. From this point, it can be said that a good poet can advantage from a simplest thing and he lifts it into a beautiful thing. Question is our everyday clause. But a good writer turn everyday question into ‘another sound’ as he takes a great linguistic and put his imagination in it. Besides, the nouns rumah, pintu (house, door) used as metaphor suggesting that the writer emphasizes the closeness. Rumah represents the familiarity and emotional bound between the occupant and the building itself. Further, I considered that Jejak di tangga uses simple-understandable sentences.

I guess simplicity works for me. A layperson like me who does not have a detailed knowledge on poem, consider a complicated skill demanding poem needs time to enjoy it. Even though all the writers use the same raw material for their writing, which is language. But the style of them to create poem is not the same. It depends on when, where, and how he lives. These differences causes the poems have their own strength. They are called good poems if they at least have three characteristics. First, a good poem makes good prose or makes good essay. Second, its explication can return to the source text, and the last, good interpretation is coherence or lack of contradiction. Another experience provided was theorizing a literary work from inside out. The writer of “The One” is DR. BM. He is a man who has blood and flesh, and ID card, so that he is called the biological creature. Meanwhile, the images creatures created by the writer or I poetical is another thing. In “The One”, there are He, me and you. When ‘He’ is interpreted as God, it causes a question arise whether it is a responsible interpretation. ‘He’ is marked by the capital letter. Can this mean that the writer has a God. To theorize this, we can try by make a prose from a poem. Good poem make good essay. ‘The One’ can make good essay or good prose, so it is a good poem. And by using I poetical, “The One” offered new understanding on the difference between the writer and the image created by the writer. The last, the unforgettable and unexplainable mixture of feeling and experience was when I was being challenged to translate “The One” into Bahasa Indonesia. In my point of view, to convey meaning or meanings of “The One”-as a given linguistic-discourse- into Bahasa demands high understanding on study of meaning or semantics. The shift from dictionary meaning to contextual meaning causes meaning-gain and meaning-loss. I found out it is very difficult to obtain equivalent meaning especially when the culture of English and Bahasa Indonesia are different. Even though I could catch the conceptual meaning and the logical meaning of a given word, but that type of meaning does not come as it was in the translation. I can say meaning-loss occurred. An effort to find lexical equivalent was easy as dictionary provides its denotative meaning, but became worthless and did not help in translating The One into Bahasa Indonesia.

 I can conclude that experiencing literary work with DR. BM is a great experience and cause me to take me a bundle of joy. Even though feeling afraid is still around me as literary work is new to me but I believe DR. BM can bring a different atmosphere and condense a new insight on literary work for me. Thank you DR. BM.

Tuesday, October 11, 2011

Puisi: pintu mengenal sastra

 Saya lempeng-lempeng aja dalam urusan menggunakan  bahasa. Ketika orang bicara tentang Sastra, saya tidak merasa tertarik. Saya pikir hasil karya sastra dalam bentuk Puisi, hanyalah wadah dan pelarian bagi pendukung-pendukung cengengisme dan penikmat sentimental. Maka tak heran, selama 45 tahun saya membawa kepala ini, tak pernah seharipun saya berikan kesempatan kepada kepala saya untuk meikmati puisi. Selain bahasanya susah dimengerti, keindahannya pun tidak dapat dengan mudah dapat diraih. Dengan kata lain saya ingin mengatakan bahwa puisi bukan bagian dari hidup saya.

                Keindahan berbahasa tidak sempat saya raih mungkin karena saya dibesarkan pada lingkungan maskulin, dominan laki-laki yang katanya lebih banyak mengutamakan logika ketimbang perasaan (feeling). Berangkat dari keluarga yang tidak Nyastra, membuat saya sangat takut ketika saya ditawari ‘menikmati puisi’. Puisi dengan berbagai hidden meaning, awkward lexicon, manalah saya mampu menikmati sesuatu yang tidak saya kenal.

                Selain hal di atas, hal yang menjauhkan saya dari puisi adalah sistem pengajaran puisi itu sendiri. Pada saat puisi atau karya sastra diperkenalkan lewat bangku formal, saya harus mengingat-ngingat nama, tahun, jenis dan ketegorisasi-kategorisasi yang saya tak paham. Keindahan puisi dan karya sastranya itu sendiri hampir tidak pernah hadir di ruang kelas.

                Tetapi, kondisi berbeda menimpa saya saat pertama disuguhi “Perjamuan” karya Agus S. Sarjono (2002) yang dibacakan oleh Doktor BM. Puisi dan ‘puisi yang dibacakan’ membuat saya terkesima dan terkaget-kaget. Kok bisa bahasa sehari-hari (ordinary sentence) membuat saya ternganga. Sekompleks itukah makna yang bisa dibawa Puisi tiga babak ini? Coba kita mulai dengan penggalan Puisi #1

Dan kumulai semuanya dengan hatiku

Kupetik padi dan sayuran terbaik

dari kebun jiwaku. Kupasak sepenuh rindu

sepenuh mesra hingga mengepul segala salam

dalam darahbatinku.

….

                Saya tidak bisa memaknai secara wor-per-word. Padi dan sayuran yang berbeda tentunya, jika mereka bisa dipetik dari kebun jiwa. Dan dimasak dengan rindu, dengan mesra dengan salam. Hasilnya pastilah bukan makanan biasa. Maka pemaknaan puisi pun tidak bisa dengan cara ‘biasa-biasa’ saja.

                Berangkat dari kejahiliahan saya pada Puisi, maka sayapun dengan marah membeli buku-buku puisi berbahasa Indonesia dan mencoba membacanya. Hasilnya, masih tetap confussion/ kebingungan. Saya punya anggapan jika saya membaca puisi-puisi berbahasa Sunda kebingungan akan berakhir. Maka dibelilah buku-buku puisi berbahasa Sunda. Hasilnya? Lebih meyedihkan. Saya semakin tidak mengerti apa yang disampaikan oleh si penulis. Sayapun menjadi sangat frustasi. Dalam kefrustasian, saya ajak anak saya untuk sekedar mendengarkan saya membacakan puisi-puisi yang ditulis Amir Hamzah. Entah mengerti atau tidak, anak saya tertarik dengan puisi berjudul “Batu Belah” dan dia akan meminta saya untuk membacakannya puisi sebelum dia tidur. Mungkin rima Rang…rang..kup yang ditulis berulang-ulang membuat dia tertarik dengan permainan kesamaan bunyi.

                Saya merasakan kerisauan yang sangat ketika membaca puisi. Otak saya berputar dan mencoba berpikir keras harus kaya apa bacanya agar saya bisa mendapatkan content/isi puisinya. Saya tahu persis huruf-huruf yang dipakai pada setiap lariknya, tetapi saya tidak tergolong orang eksperimental atau oponturir untuk mencoba terus membaca tanpa harus sambil mikir. Padahal jika saya baca saja terus, sekalipun tidak paham, bukan berarti saya harus menghindari dan  berhenti membaca. Rasa kagok secara estetik yang saya rasakan atau aestetic anonimy yang membuat ssya gamang merupakan cognitive disequilibrium yang normal. Ketidakseimbangan atau guncangan secara kognitif yang dialami saya sebetulnya sangat normal karena saya tidak tahu credo pengarangnya. Seperti Sutarji Calsoem Bachri (SCB) misalnya, dia mengajukan credo bahwa ‘kata’ harus terbebas dari beban gramatika dan moralitas. Sehingga kata dapat menciptakan dirinya sendiri. Bagi SCB  kata pertama adalah Mantra. Maka tak heran jika puisinya memiliki daya magis yang kental.

                Untuk menikmati puisi, sesungguhnya kita tidak harus tahu setiap kata dan kalimat yang digunakan pada puisi itu. Untuk ‘happy’ dengan puisi kita tidak harus tahu kenapa puisi itu bikin hepi. Bayangkan betapa repotnya jika kita harus punya alasan untuk setiap hal. Bahasa puisi, sekalipun aneh, tetap saja punya daya tarik dan keindahan tersendiri. Sekalipun ada yang beranggapan bahwa keindahan adalah kompleksitas baik bentuk atau maknanya. Makanya ada anggapan bahwa harus ada pergerseran dari bahasa sehari-hari menjadi bahasa extraordinary ketika dia sedang menjadi puisi. Sebagai tambahan ketika dibaca puisi sederhanapun dapat menghasilkan multi interpretasi. Plurality of meaning or interpretation creates the beauty itself. Tidak usahlah kita memikirkan kenapa dia menjadi indah. Membaca sebuah puisi tidak harus tahu maknanya. Nikmati saja, toh setiap kali dibaca, puisi itu akan melahirkan Ghost text-nya sendiri.

                Jika saya harus mengatakan apa yang sesungguhnya yang terjadi setelah bersinggungan dengan karya sastra selama enam minggu. Pertama, secara sikap/attitude saya memiliki pergeseran sikap terhadap puisi dan sastra pada umumnya. Sebelumnya saya sangat pesimis dan tidak berminat sedikitpun untuk mengkaji dan membaca puisi. Saya berkeyakinan, sekalipun saya menyediakan waktu untuk baca puisi, maka hanya akan berakhir frustasi. Karena saya telah sangat tahu bahwa saya memang tidak tahu bagaimana cara membaca puisi. Saking tidak tahunya cara membaca puisi, saya sempat terlongo ketika ada seorang anak SMA membaca puisi seperti orang kehilangan rohnya. Dengan suara melengking, kaki dihentakkan, mata melolot, dia memegang kertas print berisi puisi tangannya bergetar mungkin dia merasa sangat berat menahan bobot selembar kertas A4. Kenapa harus seperti itu? Apa baca puisi harus seheboh itu? Saya jadi merasa takut untuk belajar membaca puisi, karena saya tidak bisa berteriak ketika hendak menyampaikan message sebuah puisi.

                Sekarang saya mulai melihat puisi sebagai piece of art, dan itu tulus. Puisi-puisi hebat karya orang-orang hebat seperti Rendra, Asep Zam-Zam Noor, SCB, dan sederet nama besar lainnya yang diperkenalkan Doktor BM melalui karya-karyanya membuat saya tercerabut dari keyakinan awal mengenai puisi. Puisi dapat saya rasakan, nikmati, dalami, bedah, interpretasi, sehingga meyakinkan saya bahwa puisi bukan ekslusifisme. Mungkin ada yang mengatakan ahwa puisi itu personal, dalam arti hanya beberapa orang saja yang dapat menikmatinya. Sama seperti karya lukisan. Misalnya untuk lukisan abstrak, hanya orang yang tahu nikmatnya lukisan abstrak saja yang mampu menggembar gemborkan bahwa lukisan itu bagus dan indah. Sementara bagi layman/ orang awam, lukisan itu terlalu mahal untuk dihargai 200 juta. Saya pun termasuk layman, tapi untuk puisi, saya sedikit bisa mengintip keindahannya dari sudut pandang keawaman saya tentunya. Literature makes us more human, bolehlah saya berkomentar seperti itu.

                Masih secara sikap, sebagai pembaca puisi, kadang saya bersikap pasrah terhadap apapun yang ditawarkan oleh puisi itu. Saya membiarkan emosi, pikiran, perasaan, bahkan keyakinan saya tercabik-cabik.  Saya menjadi makhluk mati kreatif dan menerima apapun yang puisi sodorkan. Tetapi, pada kondisi tertentu, saya memberontak pada puisi yang saya baca. Sikap resistence saya karena puisi itu sendiri menggiring saya untuk berpikir dan memberikan ruang bagi saya untuk menafsirkannya secara personal. Apalagi jika puisinya seolah directly speak to me. Ada beberapa puisi yang sepertinya berbicara langsung pada saya dan mengundang saya untuk bereaksi.

                Selain secara sikap, hal kedua yang saya rasakan adalah secara pengetahuan/ knowledge, saya pun beringsut. Saya mulai bisa mengerti bagaimana cara sebuah puisi dibacakan membuat puisi menjadi lebih indah dari hanya sekedar tulisan hitam di atas putih. Secara akademis, beberapa teori mulai menyesuaikan pada file-file yang telah ada dalam kepala saya.  

                Seharusnya saya bisa menjelaskan bagaimana skill dan habit of mind juga ikut berubah setelah enam minggu menggauli puisi. Tapi untuk saat ini, saya hanya bisa menyebutkan sebagaian saja.

Istilah-istilah dalam Pernikahan

 Seorang anak SD kelas 3 setibanya pulang dari sekolah, tergesa-gesa sekali menemui ibunya. Terengah-engah dia berkata,”Mah, aku tadi ulangan IPS, tapi ibu gurunya marah-marah’.

“Emang kenapa?” tanya ibunya.

“Mah, tadi tuh soal ulangannya tentang Pernikahan kaya gitu deh, aku bisa jawab, tapi ga taulah.”

“Terus?” tanya ibunya yang ingin tahu apa soal-soal yang dihadapi anaknya disekolah.

“Pertanyaan pertama: Kalau laki-laki punya istri lebih dari satu disebut apa? Jawabnya POLIGAMI, bener kan Mah?” tanya anaknya.

“Bener, kamu memang pinter” puji ibunya.

“Pertanyaan kedua: Kalau perempuan punya suami lebih dari satu disebut apa? jawabnya POLIANDRI, ya kan Mah?”

“Iya, kamu bener lagi”

“Pertanyaan terakhir: Kalau suami yang istrinya satu atau istri yang suaminya satu, disebut apa?”

“Kamu jawab apa Nak?” ibunya merasa penasaran.

“Aku jawab: MONOTON”

“Kenapa kamu jawab gitu Nak?” ibunya heran campur bingung.

“Itu kan kata si Papa, istri satu mah monoton!”.

Monday, October 3, 2011

SEPATU PERTAMAKU

 Kalau saja pernah tahu gimana rasanya memungut durian runtuh, maka saya dapat mengatakan bahwa rasanya seperti mendapat durian runtuh ketika Tuhan dengan kehendakNya memberikan saya mimpi bertemu teman semasa SD.

Dia, Harir. Teman berpostur paling tinggi diantara teman sekelas. Dia juga ornag paling pemalu (untuk ukuran laki-laki) ketika saya isengin. Dia juga pemilik rumah yang paling jauh, dan dia berangkat dari rumahnya jam 5.30 pagi untuk bisa tiba di sekolah jam 6.45. Berjalan kaki selama 1 jam 05 menit,  sama maknanya dengan menempuh perjalanan 15 kilometer dengan jalan kaki. Pada saat itu usia saya 8 atau 9 tahun, saya telah mampu menempuh jarak 5 kilometer dengan jalan kaki selama 20 menitan.

Untuk berangkat sekolah, biasanya saling jemput. Saya (juga teman-teman semuanya) bertelanjang kaki manapaki jalan tanah menuju sekolah. Pada saat itu tidak ada satu orang pun yang bersepatu ke sekolah. Kaki bersendal jepitpun, rasanya sangat keren. Saya masih ingat, satu-satunya anak sekolah yang bersepatu adalah anaknya Ceu Maskoyah yang baru pindah dari Sukabumi. Dia memakai sepatu kulit warna hitam. Dengan sedikit rasa heran, saya menatapi sepatu yang dilengkapi dengan kaus kaki putih. Dalam benak saya berkata ‘kenapa dia pake yang begituan’. Mungkin cetusan pikiran kanak-kanak saya  sangat enak untuk ditertawakan. Tapi ya begitulah, saya tidak tahu kalau kaki anak orang kota bersepatu jika ke sekolah.

Dalam mimpi, saya seperti dibawa ke masa kanak-kanak. Saya berjalan dipinggir selokan, menapaki bibir-bibir jurang untuk ke rumah Harir. Cileutak nama kampung tempat dia tinggal, sangatlah jauh. Jika saya tempuh sekarang, saya tidak akan mampu lagi. Saya yakin itu, karena sekarang, untuk ke warung saja, yang jaraknya kurang dari 600 meter, saya pake motor. Tak heran maka saya tidak sehat. Kaki saya terlalu dimanjakan.

Di dalam mimpi, sepertinya Harir sulit untuk saya temui. Ternyata, dia sakit cacar. Saya berbicara dengannya, entahlah apa yang saya katakan padanya, tak jelas dan tak ingat. Yang saya ingat ketika saya akan meninggalkannya, saya jambak rambutnya. Saya tidak melihat kemarahan di mukanya. Mungkin jambakan saya membuat dia tahu jika sebetulnya saya teman kecil yang baik. Iseng saya tujuannya membuat agar dia tahu jika saya manusia biasa yang bisa diajak bercanda. Mungkin…

Kembali ke sepatu. Ketika saya melihat ada anak pake sepatu, pikiran saya menerawang jauh, bagaimana rasanya jika bersepatu. Saya punya sandal jepit dari karet pada saat itu. Dengan bersendal ria saja ke sekolah pada jaman itu, secara ekonomi, sudah mampu memisahkan saya dengan teman-teman lain. Apakah keluarga saya miskin? Tidak. Ayah orang terpandang, semua orang kenal ayah saya. Katanya ketenaran ayah karena terwariskan dari Kakek. Masih katanya lagi, kakek orang yang berpengaruh. Cara dia berhadapan dengan Belanda dan pemerintah membuatnya dianggap sebagai ‘tetua’.  Kondisi ini membuat ayah ikut menikmati ‘kharisma warisan’. Atau mungkin saya salah, ayah saya memang memiliki kharisma dan pengaruh bagi wilayah tempat saya tinggal karena memang dia selalu punya ide-ide cemerlang dan punya solusi bersifat win-win solution.

Selain bersendal jepit, untuk membawa buku, saya memakai kantong keresek. Ketika itu, di sekolahku, sayalah orang pertama yang punya buku tulis. Merknya “Letjes” dengan jilid warna ungu tua. Kertas yang terbuat dari jerami, serat-seratnya nyata dan kasar (mungkin saya salah  dalam kajian mengenai bahan untuk membuat buku). Teman-teman hanya memiliki satu atau dua buku saja untuk digunakan sepanjang tahun. Untuk melihat betapa saya lebih beruntung dari teman sekelas lainnya, selain punya buku tulis, saya pun punya buku bacaan, namanya si Kuncung. Majalah yang diperoleh dari sekolah. Saya bisa meminjam dan membawanya ke rumah, Kharisma ayah sayalah yang membuat saya punya ijin illegal untuk membawa buku sekolah ke rumah. Apa yang saya baca saat itu, ada satu yang masih saya ingat dengan baik. Cita-cita. Sebuah artikel menuliskan tentang tugas dan tanggung jawab seorang duta besar. Maka, itulah pertama kalinya saya punya cita-cita. Maka saya menetapkan cita-cita ‘aku ingin jadi duta besar’. Jaman sekarang, seorang anak kecil ketika ditanya cita-cita, dengan mudahnya menjawab ‘aku ingin jadi dokter, insinyur, presiden, mentri’. Saat itu saya tidak tahu, cita-cita itu apa. Maka saya tidak punya cita-cita, sampai saya baca di majalah bahwa seseorang harus punya cita-cita agar punya sesuatu yang dikejar dalam hidupnya. Saya membayangkan, menjadi duta besar pekerjaan yang sangat enak. Dia bisa mengunjungi setiap negara dan diberi ongkos oleh negara. Dan pasti punya sepatu!

Duta besar pasti bersepatu. Duta besar pasti naik mobil. Saat itu saya tidak tahu bagaimana rasanya naik mobil. Melihatnya pun hanya dari gambar. Hati saya berkata ‘pasti teman-teman akan memuji dan mengagumi saya jika saya memakai sepatu’. Keinginan punya sepatu sangat mengganggu saya. Maka saya menemui Ibu. Saya katakan jika saya ingin punya sepatu untuk bersekolah. Saya juga ingin punya kaus kaki putih. Saya membayangkan bersepatu dan berkaus kaki akan mengakibatkan saya menjadi anak kota. Ibu saya hanya diam. Beberapa hari kemudian Ibu saya berkata ‘nanti sepatunya Ibu belikan, sekarang lagi di pesan sama Haji Nurohman’. Siapa Haji Nurohman? Dia adalah satu-satunya pemilik warung yang sesekali pergi ke kota untuk berbelanja. Dia berjualan minyak tanah, payung, garpu, cangkul, dan benda-benda lainnya yang saya tidak ingat lagi. Kalau tidak salah, dia tidak menjual minyak goreng. Saat itu, minyak goreng dibuat sendiri dari kelapa parut dan digodok diatas api kayu bakar. Saya sanyat menyukai residu minyak kelapa, namanya Galendo, rasanya gurih dan punya bau khas.  Dia juga tidak menjual permen. Kita mempunyai permen buatan sendiri. Gulali. Gulali terbuat dari gula yang dipulut, dan jadilah permen. Untuk menikmati Gulali, tidak semudah menikmati permen jaman sekarang dimana warung berjejer kurang dari 5 meter dari satu warung ke warung lainnya. Gulali hanya dijual di pinggir madrasah tempat ibu-ibu dan anak gadis melakukan pengajian Mingguan. Mingguan adalah kegiatan pengajian rutin yang dilakukan oleh masyarakat untuk belajar agama. Cara mengikuti Mingguan sangatlah mudah. Hanya duduk di dalam Madrasah (ruangan di sebelah mesjid, biasanya digunakan untuk mengajar para santri mengaji), kita hanya wajib diam, dan diam, dan diam, mendengarkan Kyai berbicara sendiri. Kita sebagai mustami (pendengar ceramah) Tidak boleh bertanya, tidak boleh ngobrol, tidak boleh lalu lalang berjalan, tidak boleh ngapa-ngapain. Hanya duduk dan diam. Setelah Kyai selesai bicara, barulah hak kita sebagai manusia dapat kita peroleh kembali. Kita boleh bertegur sapa dengan orang di sebelah kita, boleh membeli Gulali. Tetapi masih ada satu hal yang masih tidak boleh dilakukan, bertanya. Kita tidak boleh bertanya kepada Kyai jika apa yang diajarkannya tidka kita pahami. Terima saja, dan setelah itu pulang. Kalau saja iseng kita nanya salah satu mustami begini ‘tadi, pak Kyai bicara apa, apa pesan religius yang dititipkannya’. Maka kita akan tercengang. Mereka para mustami yang duduk bersimpuh itu akan mengatakan ‘ya itu, pokoknya kita ga boleh buat dosa’. Selesai.

Sebulan setelah Ibu mengabarkan saya akan dibelikan sepatu. Datanglah hari bersejarah itu. Ibu saya sepulang dari warung Haji Nurohman, selain membawa minak tanah, beliau menunjukkan sebuah kotak, dan disuruhnya saya membukanya. Dan isinya, sepasang sepatu!! Saya gembira bukan kepalang. Bergetar tangan kurus kecil saya mengeluarkan sepatu dari kotaknya. Warnanya putih, terbuat dari kain belacu (mungkin). Ada talinya berwarna putih. Bawahnya terbuat dari karet, putih juga. Sepatu putih. Saya coba pasangkan pada kaki. Mematut-matut diri sendiri dengan mencoba berjalan di atas papan lantai rumah. Terdengar papan berdecit ketika kaki saya bergerak. Decit suara papan terdengar indah. Suaranya terasa beda karena di kaki saya ada sepatunya. Sepatu yang akan dipuji anak sekampung, sepatu yang akan diraba-raba anak sekampung. Saya yakin, saya akan dikerumuni dan ditanya dari mana saya punya sepatu. Saya akan ditanya, bagaimana rasanya memakai sepatu. Saya bersiap dengan segala kemeriahan yang akan menghampiri. Saya berkata dalam hati ‘tak satupun akan saya biarkan mencoba memakai sepatu ini’.

Esok harinya, dengan sumringah, saya bangun pagi, mandi. Hari itu berangkat sekolah terasa sangat istimewa. Saya punya sepatu dan kaus kaki. Mula-mula saya pakai kaus kaki. Terasa aneh ketika kain kaus kaki menyentuh kulit kaki. Kaki terasa dibungkus sesuatu yang tidak dapat saya jelaskan. Sedikit geli, kaki terasa diikat, jari-jarinya tidak bebas bergerak. Saya berkata pada diri sendiri ‘emang kalo pake kaus kaki mah, begini rasanya, kaki jadi agak aneh, tapi itu kan bagian dari usaha dan gaya supaya bisa mirip anak Ceu Murkoyah-anak kota’. Saya pasangkan kaus kaki pada kaki satunya lagi. Sambil duduk saya tatap kaki berkaus kaki putih. Ada keganjilan dalam pikiran saya. Saya merasa lucu ketika melihat kaki berkaus. Apa kerennya kaki berkaus? Kenapa orang kota sepertinya ‘enak’ berkaus kaki? Apa bangganya berkaus kaki? Kenapa orang kota sepertinya tak mau lepas dari kaus kaki? Pikiran kampungan saya memunculkan banyak tanya.

Sepatu putih saya pakai. Karena saya berkaus kaki, sepatu terasa lebih sempit. Saya berjinjit, kembali papan rumah berderit. Ah… sepatu ini memang luar biasa. Dengan rasa bangga, saya keluar rumah. Hati-hati sekali saya menginjakkan sepatu di atas tanah. Saya khawatir sepatunya jadi kotor. Ternyata berjalan dengan menggunakan sepatu, susah. Saya susah memilih tanah yang tidak akan membuat sepatu saya kotor. Kekhawatiran saya makin meninggi ketika saya harus melewati pematang sawah. Lumpur basah menutupi permukaan pematang sawah. Itu artinya sepatu putih akan berubah hitam karena menyentuh lumpur setengah kering di atas pematang sawah yagn HARUS saya injak. Saya terlalu khawatir sepatunya jadi kotor. Keputusan terbaik saya adalah sepatunya harus dibuka. Akhirnya sepatu saya buka, kembali saya berjalan dengan bertelanjang kaki, menapaki setiap jengkal pematang sawah. Sementara sepatu kebanggaan, bertengger di pundak. Tali-talinya saya ikatkan supaya dia bisa saya pasangkan di pundak. Bau karet menebar menutupi hidung. Kesegaran hawa pedesaan tersingkir. Ternyata sepatu kota itu bau.

Setiba di jalan besar. Mungkin jaman sekarang mah jalan raya. Saya duduk di pinggir jalan. Dan saya cuci kaki saya dengan air selokan. Setelah kaki kering, saya pasangkan kaus kaki. Kembali rasa geli itu muncul lagi. Saya usahakan bisa menyesuaikan kaki (diri) dengan rasa baru ‘kaki berkaus’. Saya pasangkan kembali sepatu barunya. Tak lama setelah itu teman-teman satu persatu berdatangan. Dan saya benar, saya dikerumuni. Sepatu saya diusap-usap, dipegang-pegang, mereka semuanya kagum. Saya merasa sederajat lebih tinggi dari teman-teman saya. Saya berdiri, dan selangkah demi selangkah saya menginjakkan kaki ke tanah jalan. Terasa sangat kaku. Saya berjalan paling depan. Teman-teman mengikuti saya dari belakang. Seolah mereka tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat bagaimana moment setiap saat telapak sepatu karet itu menyentuh tanah.

Berjalan dengan memakai sepatu dengan jarak tempuh tiga kilometer untuk pertama kali sangatlah sulit untuk dilupakan. Kilometer pertama, iring-iringan di belakang saya tidak lebih dari 8 anak. Mereka kehabisan kata-kata memuji betapa enaknya berjalan memakai sepatu. Mereka bilang, kaki akan aman dari tahi kerbau; kaki tidak akan tertusuk duri, kaki akan jadi lepas dari jebrag, dan hal-hal memalukan lainnya. Sekarang saya merasa dua derajat lebih tinggi dari teman-teman.

Sebenarnya sejak pertama sepatu itu dipakai, kaki sudah merasa kaku dan canggung. Tapi karena atas nama keren dan gengsi jika teman-teman tahu jika saya tidak pandai bersepatu, saya berjalan seolah-olah memakai sepatu merupakan hal terbaik dalam hidup anak-anak. Tetapi mulai kilometer kedua, bagian belakang dan ujung-ujung jari saya terasa nyeri. Saya tahan saja. Saya katakan pada diri saya ‘kalo pake sepatu mah sakit, tenang saja, nanti juga reda sakitnya’. Rupanya bagian kaki saya lecet. Karena lecet otomatis gaya berjalan saya jadi rada ‘aneh’. Teman-teman menganggap itu ‘gaya keren’ kalau berjalan pakai sepatu. Mereka mengikuti gaya saya berjalan, seolah ingin ikut sedikit menikmati indahnya dan nikmatnya bersepatu. Iring-iringan mulai agak panjang ketika saya akan tiba di sekolah. Semua anak memandang saya. Mereka memusatkan pandangan pada kaki saya. Aduh sepatu putih ini ternyata punya daya pesona luar biasa. Tapi, sakitnya pun luar biasa. Saya merasakan komplikasi antara sakit menahan lecet dan bangga memakai sepatu.

Seharian saya memakai sepatu. Kaki terasa pegal, gerah dan perasaan-perasaan lain. Saya tidak menghiraukan segala kekacauan di kaki, saya utamakan keren diatas segalanya. Saya mulai merasa gatal dan panas. Tapi saya tidak berani membuka sepatu karena khawatir ditanya kenapa sepatunya dibuka. Hari itu pada saat beristirahat, saya tidak ikut main petak umpet, tidak juga ikut main ‘loncat tinggi’, tidak main apapun yang melibatkan gerak kaki. Saya hanya main “bekles”, mainan anak perempuan yang tidak begitu saya suka karena tantangnnya seolah sama.  Saya takut kalau ketahuan saya tidak bisa berjalan karena kakinya lecet. Saya berusaha senyum ketika anak-anak lain mengagumi sepatu saya.

Waktu pulangpun tiba. Gawat. Saya harus berjalan tiga kilometer menuju rumah. Saya trauma jika harus berjalan didepan dan teman-teman berjalan dibelakang saya. Akan seperti apa langkah saya nanti. Saya cari akal agar tidak pulang bersama teman-teman. Saya katakan pada teman-teman jika saya harus ke rumah kakak saya dulu jadi tidak pulang bersama-sama. Saya menunggu beberapa saat sampai semua teman saya pulang. Setelah yakin tidak satu orangpun tertinggal, saya buka sepatunya. Kebebasan rasanya kembali ke dalam kehidupan saya. Angin semilir terasa sangat nyaman menyentuh kaki. Sakit di kaki saya hampir hilang. Gatal juga tidak ada. Saya mengutuki diri saya sendiri. Keren itu tidak enak. Apa yang dipakai orang lain belum tentu pas dipakai saya.  Saya lihat kaki saya memerah karena terberangus sepatu.

Saya pulang. Bertelanjang kaki. Tuhan telah menciptakan kaki dengan segala kekuatannya, tergantung pada bagaimana cara kita melatihnya. Bagi saya, anak kampung yang terbiasa bertelanjang kaki, memakai sepatu adalah siksaan. Semenjak saat itu, saya tidak pernah lagi merajuk ingin dibelikan sepatu. Cukuplah satu sepatu untuk selama saya sekolah di SD.

Friday, September 30, 2011

PHOBIA SEBAGAI HIBURAN

 Sekitar pertengahan bulan September 2011, tanpa sengaja saya melihat tayangan teve swasta. Secara harfiah, saya menebak tujuan dari acara yang dipandu presenter laki-laki (tapi dengan gaya bicara dan pakaian ala wanita) itu untuk menghibur. Siapa yang hendak dia hibur, mungkin bukan manusia. Sebab jika dia menganggap acara yang dipandunya adalah hiburan, tidak bisa diterima kayanya oleh lapisan sosial masyarakat manapun. Bagi anak-anak, jelas itu bukan acara yang memberikan pengajaran nilai, norma ataupun etika. Tak ada yang dapat diambil ‘pelajaran’ dari acara yang lumayan lama ditayangkannya. Bagi remaja, saya yakin, remaja yang jahilpun tidak akan meniru dan menganggap program ini lucu. Bagi orang tua, seperti saya. Wah, saya yang tidak paham dengan gaya entertainment masa kini, merasa tayangan ini tidak punya identitas.

Adalah sepasang suami istri (saya anggap begitu saja. Supaya tidak jadi dugaan negatif atas intimacy gaya artis. Karena kalau bukan suami istri tidak mungkin si lelaki berlagak begitu tanpa ada rasa risih dengan si perempuannya) yang diajak jalan-jalan oleh presenter. Si presenter dengan berhaha hihi, membawa crew menyorot suami-istri tadi pada sebuah tempat parkiran mobil.

Sesampainya di parkiran mobil, tiba-tiba ada pocong jejadian berdiri dibelakang si lelaki (tanpa sepengatahuan si lelaki, pocong itu telah berdiri dibelakangnya). Barangkali dalam dugaan saya, si lelaki amat takut dengan pocong. Sedangkan si perempuan amat phobia dengan ular. Entah apa yang ada dalam pikiran si presenter. Dia dengan entengnya membawa lelaki itu face to face dengan pocong jejadian. Pertemuan antara si lelaki  dengan pocong jejadian ini amat memilukan hati saya. Si lelaki sangat kaget, dan takut. Ketakutannya nyata terlihat dan tertangkap kamera. Anehnya si presenter tambah keras berhaha hihi, apakah dia senang melihat si lelaki yang meringis sedang berjuang melawan takutnya. Si lelaki kehabisan akal untuk menyelamatkan dirinya dari takut. Satu-satunya cara yang mampu dia lakukan hanya berkata, “suda, sudah, sudah,’ dan dia menutup mata. Pocongnya sangat agresif, dia mengahiskan segala gaya untuk membuat si lelaki takut (padahal semenjak awal, sudah jelas lelaki itu ketakutan). Tontonan apa ini? Apakah takut merupakan hal lucu? Apakah kita tidak boleh takut? Apakah dengan memiliki rasa takut seorang lelaki menjadi banci?

Belum lagi kekagetan saya lulus, tiba-tiba si perempuan disuruh membuka semacam tas, dan dari dalam tas itu muncul semacam ular. Si perempuan reflek meloncat, dan lari sekencang-kencangnya. Sementara itu, si presenter tambah keras berhaha hihi. Dia tertawa untuk apa? Sepasang suami-istri menjadi korban si presenter. Dengan tegas sipresenter menyebut mereka “korban”. Saya bersetuju dengan sebutan ‘korban’, karena memang benar suami-istri ini korban kebodohan media massa yang didalangi presenter.

Sebetulnya apa sih Phobia?  Phobia dapat dikatakan sebagai rasa takut yang sangat terhadap sesuatu akibat dorongan emosi kita. Apakah rasa takut atau phobia merupakan sesuatu yang faktual atau nyata? Jawabannya ya, walaupun tentu saja faktualnya sebuah phobia tidak bersifat universal.  Alsan tidak universal karena 1) phobia merupakan ketakutan yang didasari kuat oleh emosi terhadap sesuatu benda atau realitas tertentu. 2) pbobia bisa terjadi pada siapapun. 3) Phobia dapat muncul pada usia berapapun dan 4) phobia biasanya dapat dihilangkan.

Sebetulnya rasa takut yang berlebihan dapat disembuhkan oleh diri kita sendiri. Caranya dengan 1) belajar untuk relax/tenang, 2) kenali hirarki rasa takut, 3) gunakan hirarki rasa takut untuk menyadarkan takut yang berlebihan tadi dan 4) terapkan metoda penanganan rasa takut misalnya dengan teknik mengatur nafas dan self-talk.

Ketika phobia dijadikan hiburan dan ditonton segala lapisan masyarakat, pelajaran apa yang diperoleh dari itu. Seharusnya setelah melihat tayangan ini, paling tidak masyarakat menjadi tahu bahwa ada sebagian orang ada yang memiliki ketakutan yang sangat terhadap sesuatu yang menurut diri orang itu tidak dapat tertahankan. Misalnya takut yang berlebihan pada kecoa, ulat, ketinggian atau hal-hal biasa lainnya. Selain itu, selayaknya pula, penonton menjadi cerdas. Cerdas ketika menemukan seseorang yang sedang berjuang dengan rasa takutnya sendiri. Kejahilan menakuti seseorang bukan tidak mungkin mendatangkan bahaya yang tidak terduga. Bisa saja karena sangat takut, si penderita phobia bertindak tidak rasional. Sebagai contoh, ada seorang laki-laki yang sangat takut dengan ulat bulu. Suatu hari dia memanjt pohon yang lumayan tinggi. Ketika berada pada sebuah dahan pohon, dia sekilas melihat ‘seperti’ ada ulat bulu. Tanpa pikir panjang dia loncat. Karena loncatnya dari pohon yang tingginya tidak kurang dari empat meter, ketika dia jatuh tulang punggungnya tidak lagi selamat dan lumpuh sejak saat itu. Sebagai penutup, tayangan teve yang memuat jahil pada penakut tadi, akan banyak manfaatnya jika memberikan pelajaran mengenai hakikat phobia dan cara meananganinya tentu saja penyampaiannya ala standar teve. Waktu 30 menit sangatlah cukup untuk menyumbangkan kesadaran kasuistis yang terjadi pada emosi manusia.