Pages

Sunday, December 17, 2017

Guru

 Guru adalah orang yang luar biasa sekaligus mendapat tempat istimewa. Sebutan Guru menunjukkan tingginya derajat kedudukan dan keilmuan yang dimilikinya. Dalam pandangan global, sebagai contoh, Guru menurut kamus Merriam-Webster termasuk kedalam kata benda yang mengacu pada: 1) a religious teacher and spiritual guide in Hinduism (pembimbing agama atau pembimbing spiritual dalam agama Hindu), 2) a teacher or guide that you trust (pendidik atau pembimbing yang dipercayai), 3) a person who has a lot of experience in or knowledge about a particular subject (orang yang memiliki banyak pengalaman di dalam/mengenai sebuah keilmulan, 4) a person with knowledge or expertise (orang yang memiliki ilmu atau ahli pada ilmu tertentu).

Definisi Guru yang pertama mengisyaratkan bahwa Guru bukanlah orang biasa-biasa saja. Dia memiliki pengetahuan yang melebihi orang kebanyakan mengenai agama dan spritualisme. Pada definisi ini dikhususkan pada agama Hindu, hal ini disebabkan karena kata Guru berasal dari Bahasa Sansakerta yang kemudian digunakan dalam konteks keagamaan. Dalam agama Hindu, guru memiliki arti yang sangat dalam yaitu one who dispels the darkeness and ignorance atau orang yang membuka tabir kegelapan dan menyingkirkan sikap tidak acuh (Thirumaleshwar, 2015). Sekarang ini, kata Guru diadopsi untuk merujuk pada orang yang membimbing pada cahaya kebenaran dan mengajarkan kebaikan.

Selanjutnya, pada definisi kedua, Guru melebihi dari sekedar manusia. Acuan kata Guru adalah kata benda, oleh karenanya bisa saja Guru adalah gunung, sungai, pohon, atau benda lainnya. Sering kita dengar, ‘berguru kepada gunung, berguru ke padang datar, berguru pada alam. Ketiga contoh tadi menunjukkan bahwa Guru tidak selalu harus manusia. Pada dunia pewayangan, dikisahkan bahwa seorang Raja atau siapa saja yang sedang gundah gulana, menghadapi masalah berat, dia akan pergi naik gunung, dan tidak melakukan kontak dengan dunia luar selama beberapa tahun, kemudian turun gunung, jadilah dia Raja atau seseorang yang adil dan bijaksana. Hal ini menunjukkan bahwa gunung merupakan tempat yang mampu mengubah sikap, pengetahuan dan keterampilan seseorang.

Definisi ketiga, guru adalah orang yang berpengalaman dan berpengetahuan banyak pada ilmu tertentu. Dengan kata lain, guru adalah orang yang mumpuni karena pengalaman dan pengetahuannya. Sebagai contoh, seorang petani-guru adalah orang yang hidupnya dipersembahkan untuk menghasilkan butiran padi yang bernas. Dia akan belajar tanpa henti untuk dapat memproduksi gabah terbaik. Dia akan mencari cara dan upaya agar setiap usahanya mengarah kepada panen yang menguntungkan. Dari seluruh tindakannya, dia bisa berbagi pengalaman bagaimana cara menanam padi yang baik, bagaimana cara mengairi sawah yang benar, bagaimana cara memberikan pupuk yang tepat, bagaimana cara menjaga tanaman padi agar tidak diserang hama, dan bagaimana cara memanen padi serta bagaimana cara menyimpan padi yang aman. Seorang guru Bahasa Inggris, dia akan terus belajar tanpa henti agar memiliki ilmu yang cukup mengenai tata cara mengajarkan Bahasa Inggris, terus menerus mengajar sehingga pengalaman mengajarnya bertambah, sehingga nantinya dirinya dapat berbagi pengalaman dan keilmuan mengenai mengajar Bahasa Inggris.

Definisi keempat, guru adalah seorang ahli atau seorang yang profesional. Sebagai seorang ahli, seorang guru sangat menghindari tindakan malpraktek dalam mengajar. Selain itu, kata ahli menyiratkan bahwa tidak sembarang orang dapat menjadi guru atau tidak bisa seseorang tiba-tiba berdiri di depan peserta didik dan mengajar. Dia harus memiliki keahlian terlebih dahulu. Seorang piawai penganyam tikar dari daun pandan, dia bisa menjadi guru penganyam tikar, karena itulah keahliannya. Dia tidak bisa dipertukarkan untuk mengajar hal lain di luar keahliannya. Jika hal ini dipaksakan, yang terjadi adalah kemunduran, kemerosotan, dan kekacauan.

Dalam pandangan lokal, Guru merupakan orang terpenting dalam budaya Indonesia. Pepatah tua mengatakan ada tiga orang yang harus dihormati, dipatuhi, dan ditinggikan, yaitu 1) Guru,  2) Ratu, dan 3) Wong Atua Karo. Guru menempati urutan pertama karena dialah yang memanusiakan manusia, dan dia pulalah yang menunjukkan bagaiamana cara menjadi manusia. Ratu mengacu kepada pemimpin. Pemimpin harus dipatuhi karena dialah yang mengatur kehidupan manusia. Dan yang terakhir adalah Wong Atua atau orang tua. Mereka harus dipatuhi dan dihormati karena pengorbanan mereka tanpa batas, kasih mereka tanpa pamrih, dan mereka menerima kita-anaknya apa adanya.

Guru atau teacher dalam Bahasa Inggris (dan saya lebih setuju menggunakan kata teacher –ticer- daripada guru) mengemban tanggung jawab besar bagi berkembangnya pendidikan di Indonesia. Temuan Prof. Alwasilah (2010) bahwa 65% guru di Indonesia tidak profesional tidak harus menjadi was-was dan menduga bahwa sekolah adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang tidak selesai dengan dirinya. Buruknya wajah pendidikan Indonesia, tidak semuanya karena guru…eh ticer.

Bagaimana seorang guru memandang dirinya dan menentukan definisi bagi profesinya, di kemudian hari akan menentukan guru apa yang diperankannya dan dilakukannya.

Saturday, December 2, 2017

Setengah mati?

Aku lihat pengantar penguburan kali ini sangat banyak. Rerata usia mereka duapuluh sekian, mungkin para mahasiswa karena sebagian dari mereka ada yang berblazer dengan warna dan bentuk yang sama. Aku penasaran, siapa yang dikebumikan sepagi ini. Padahal angin ribut  Desember seolah menghalau agar jangan ada jasad yang diurai bakteri dan kembali menjadi tanah. Semua yang hadir, khusyu, berdo'a.

Sebentar, siapa itu yang berlinang air mata, meraung, meradang, melarang jangan tinggalkan dia sendirian, jangan kubur kekasihku. Dia memegang usungan mayat, menghalangi siapapun menurunkan mayat ke dalam liang lahat. Kenapa dia begitu kesetanan menghiba dalam puisi kacau dadakan bahwa dia cinta kekasihnya. Mungkin begitulah cara mahasiswa melepas kekasih ke peraduan terakhirnya, pikirku.

Masih segar dalam ingatanku ketika  Doni menanyakan bagaimana insomniaku. Akhir-akhir ini insomnia merusak malam-malamku. Malam terasa bagaikan jalan panjang tiada akhir.  Setiap detiknya memanjang, membuat malam seolah tiada ujung. Aku kelelahan dikawal insomnia setiap malam.

Malam-malam sebelum insomnia berkunjung, aku memiliki malam yang penuh dengan impian masa selepas kuliahku. Terlihat diriku memakai Toga dan memegang gulungan ijazah. Tak lama, diriku menjelma menjadi seorang ahli tata kota yang membuat kota kecilku menjadi syurga bagi para pejalan kaki. Di kota itu aku berjalan bersama kekasihku, Doni, seorang ahli racik obat. Kami berdua tertawa, melangkah bersama.

Malam yang membawa insomnia bermula ketika Doni menyuruhku memakan pil dengan kandungan hormon estrogen dan progestin, yang menghambat indung telur berovulasi atau melepaskan sel telur di rahimku. Pil itu tidak semujarab iklan, ada evolusi akibat ovulasi dalam diriku. Sejak saat itulah, aku insomnia.

Doni yang sangat mencintaiku selalu menanyakan bagaimana malam-malamku. Dia memberiku pil lainnya, katanya pil yang dapat mengalahkan insomnia, Nitrazepam.
Doni, penolongku, pil itu selalu mengantarku tidur, dalam 10 -15 menit aku sudah tidur. Dalam tidur, aku melihat diriku dan Doni kebingungan dengan evolusi di rahimku.
Dalam dunia nyataku Doni melarang aborsi,  katanya itu pembunuhan. Dalam tidurku, aku merasa takut.

Aku mengeluhkan bahwa aku bermimpi buruk. Aku melihat orangtuaku terisak menangisi diriku yang terbujur kaku dengan darah segar keluar dari hidung, mata, telinga, dan semua pori-poriku. Darah merahnya menembus kain kafan.
Kata Doni, kamu berhalusinasi, itu efek samping obat tidur.  Kamu tidak bisa membedakan apakah kamu tidur atau kamu bangun. Delusi. Kamu terkena tipu daya zat-zat kimia pada Nitrazepam. Kamu harus bangun, katamu sambil memberiku 8 pil Nitrazepam sekalgus agar aku lepas dari halusinasi dan tidur.

Aku tidur, tidak ada mimpi. Doni, kekasihku, kamu penolongku. Kamu hentikan mimpi-mimpi ngeriku. Kini aku merasa ringan, aku bisa melanjutkan hari-hariku dan mengurus bayi jadi tujuan utamaku sekarang.

Aku terbangun ketika dingin angin Desember menusukku. Gelap. Mungkin masih pagi pikirku. Aku raba perutku, oh bayi tiga bulanku syukurlah, kamu masih bersamaku. Betapa segarnya bangunku kali ini. Dunia hingar bingar tidak terdengar. Sunyi. Tapi... jauuuh, perlahan, lamat-lamat aku mendengar suara ibuku mengaji. Seolah dia ada ada diatasku.

Doni, dimana kamu? Bantu aku, aku ini sedang tidur atau bangun. Aku memanggil Doni. Dia mungkin sedang kuliah.

Aku lihat Doni tersenyum, dia sedang merapikan tempat tidurku.  Oh betapa hebatnya ayah anakku.

Aku dekati dia dan kupeluk. Doni menatapku dam berkata, "Kamu, kenapa di sini? Bukankah aku sudah menguburmu tadi pagi?"