Pages

Friday, December 30, 2011

DESTINY

 Mulanya semuanya seperti normal-normal saja. Bagi para perempuan sedikit nyeri pada payudara ketika menjelang haid, dianggap sebuah pertanda siklus bulanan itu sudah dekat. Tapi kali ini aku merasa sedikit terganggu dengan rasa nyeri ini. Lebih dari seminggu payudara kanan terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk. Diam-diam aku mengikuti petunjuk buku mengenai bagaimana mengenali kanker payudara secara dini. Sedikit lega rasanya, aku tidak merasakan ada yang ganjil pada payudara, dan juga tidak ada benjolan yang mencurigakan. Apa yang tertera di buku, tidak satupun yang mendekati kondisi fisik payudaraku. Saya pun bersyukur dan merasa tenang.

Aku memang sok sibuk dan sok rajin, masalah yang terasa ditubuh tidak terlalu dipedulikan. Aku pusatkan perhatian pada kuliah. Aku punya cita-cita agar kuliahku tamat tepat waktu. Jika tidak tamat sesuai kontrak, aku merasakan sendiri, bagaimana sulitnya mencari uang dijaman ini. Aku selalu berusaha tidak bolos kuliah, pusing-pusing diit, hujan lebat, angin ribut campur halilintar pun tak mengurangi semangatku untuk tatap hadir di perkuliahan. Saking aku rajinnya, sampai dosen yang merasa iba hati ketika melihat aku basah kuyup dan menggigil demi hadir di kuliahnya. Beliau  beriba hati melihatku, tapi aku keukeuh untuk hadir. Rasanya menjadi mubazir kedatangan saya jauh-jauh dari kota kecil, ngekos demi kuliah. Sekarang saat kuliah tiba, dan baju basah tidak harus menghentikan niat kuliah. Saya senyam senyum saja pas saat kuliah, mengurangi seringai kedinginan dan jaga imej juga sih. Masa ketua kelas harus pulang dengan alasan takut masuk angin, ah kurang seru.

Setiap hari, aku belajar. Bagi beberapa orang, kebiasaan belajarku sedikit membuat mereka heran. Hidupku hanya ada di dua tempat. Rumah dan kampus saja. Di kampus aku belajar. Di kosan pun, ya belajar lagi. Anak-anak kos lain menganggap aku sedikit ‘aneh’. Karena aku hanya tidur, makan, menghabiskan hari, dan bahkan mungkin  mimpi pun hanya dengan buku. Sebenarnya bukannya aku rajin baca. Aku banyak baca, karena aku merasa bodoh, serba tidak tahu. Jadi aku usahakan meninggalkan ketertinggalanku pada pengetahuan dengan baca. Akupun memilih jajan kertas = beli buku ketimbang jajan yang lain. Aku tidak seperti temanku yang koleksi barang-barang antik, boneka-boneka lucu, atau benda-benda langka. Selain uangku tak cukup, karena memang aku sangat memaksakan kuliah padahal secara ekonomi, aku morat marit. Mungkin keberadaanku di kampus ini anugrah terbesar bagiku yang terus terang selama ini merasa gak mungkin bisa jadi anak kuliahan.

Aku mensyukuri anugrah Allah yang memberikan kesempatan kuliah. Di kampungku mungkin hanya aku yang bisa kuliah. Itu jadi satu kebanggan tersendiri. Maklumlah aku kan orang kampung. Bisa kuliah merupakan satu cara yang nantinya bisa meningkatkan derajat dan prestise tersendiri. Aku tidak mengincar itu tentu saja. Aku kuliah karena aku memang merasa bodoh saja. Ketika aku tahu dari teman bahwa aku diterima di Perguruan Tinggi Negeri, aku merasa tidak percaya jika aku diberi kesempatan untuk merasakan atmosfir kuliah di abad 21. Mengenal ruang kuliah dengan dilengkapi hot spot, akses kampus on line, dengan penggunaan one multifunction card, LCD on all the time, dan segala macam peralatan perkuliahan zaman dunia maya. Makan di kantin dengan menu youghurt, mie pasta, kwe tiaw goreng, dan sedikit sekali pilihan makanan dengan menu pokok nasi. Maka aku tidak terlalu peduli juga ketika aku merasakan jempol kanan bagian bawah terasa gatal-gatal. Aku anggap mungkin karena aku pakai sepatu dari bahan katun, dan berjalan di air comberan karena musim hujan, maka gatal-gatal di jempol kaki, lumrah sebagai reaksi normal kulit terhadap kuman-kuman unidentified yang dibawa air comberan (air comberan sekarang punya nama baru yakni Cileuncang, yang sedikit diartikan sebagai sungai dadakan).

Aku menjalani masa perkuliahan dengan riang. Ada bahagia yang tidak dapat dijelaskan sekaitan dengan keberadaanku di kampus. Aku menyinggung masalah bahagia, karena sesungguuhnya aku sedikit merasa bingung, mau apa setelah kuliah ini kelar? Melanjutkan kuliah lagi ke jenjang yang lebih tinggi? Tidak mungkin rasanya. Terlalu berat untukku. Berat dari segi finansial, juga berat dari sisi mental.  Perkuliahanku saat ini terasa sangat berat, menyita segala yang kumiliki. Aku habis-habisan belajar, tetapi tetap terasa bodoh. Tugas datang silih berganti, aku seperti tak sempat punya libur. Ada hari kosong dari kuliah, harus sigap digunakan untuk penelitian. Mencari data, mencari participant, mencari ide, dan mencari hal-hal lain yang membuat aku bisa bertahan kuliah.

Payudaraku tidak terlalu sakit. Aku mensyukurinya sekaligus pertanda aku sehat. Hdupku berjalan normal (paling tidak dari sudut pandangku sendiri). Aku menghabiskan hari-hariku di kampus, di rumah, di depan laptop, hidup berjalan mengikuti kalender. Pada saat awal bulan aku punya sedikit uang, jadi bisa sedikit memanjakan mulut dengan jajan makanan yang beda dengan sehari-hari (=kwe tiaw goreng, bihun goreng, nasi goreng). Bulan ini aku bisa sedikit boros. Aku bisa beli jagung bakar! (ukuran boros yang terlalu rendah untuk ukuran sebagian temanku yang hidup di zaman sekarang, aku menemukan temanku menghabiskan 300ribu hanya untuk memuaskan mata dengan membeli dompet plastik, dan dompetnya tidak pernah dipakai dengan alasan gak matching sama baju)

Aku menikmati udara sore dengan kelembaban tinggi sedikit chill sangat cocok jika makan jagung bakar. Maka terpilihlah satu kios penjual jagung bakar diantara jejeran kios lainnya. Kupilih kios itu karena terlihat bersih, ada bangku panjang dan meja panjang. Mengingatkanku pada masa kecil dulu. Ketika SD aku diberi tempat duduk memakai bangku panjang seperti bangkunya tukang bubur: panjang, tanpa sandaran, hanya papan datar dengan disangga dua kaki, sangat sederhana, tapi efektif untuk memuat banyak orang.  Aku belum duduk ketika aku diberi kesempatan untuk memilih sendiri jagung yang hendak dibakar. Sedikit sulit bagi orang yang tidak ahli dengan kontur (contour) jagung untuk dapat membedakan mana jagung penuh biji dan  mana jagung yang hanya besar bongkolnya saja. Aku memilih jagung yang tampak bersih, gurat-gurat bungkusnya menandakan gambaran isinya yang padat, kupilih itu. Gembira sekali aku mecoba membuka setiap lembaran daun pembungkus jagung. Seperti mengikuti sebuah teka-teki, aku bertanya-tanya apakah tebakanku akan isi di dalam bungkus daun jagung seperti yang saya perkirakan. Lembaran akhir telah terbuka dan jagungnya ternyata sangat bagus, kuning, keindahannya mewakili deratan gigi iklan pepsodent. Tangkai jagung terasa terlalu panjang untuk bisa dibakar. Sekuat tenaga aku potong. Aku pegang bagian ujung tongkol jagung dengan tangan kanan, tepat di depan dada. Tangan kiri memegang bulir-bulir jagung, kukerahkan semua tenaga yang kumiliki untuk memisahkan jagung dari tongkolnya. … krek! Tongkol jagung patah, menekan payudara kananku, dan … sangat nyeri. Nyeri yang hampir tidak tertahankan. Aku minta ijin kepada pembakar jagung barangkali dia punya toilet. Aku tergesa-gesa masuk toilet. Dan kuperiksa payudara kananku. Dan…. Allah  ada darah. Darah kental, terlalu kental untuk ukuran hemoglobin normal. Terasa panas mengalir disemua bagian payudara. Kulap dengan tisu, darahnya keluar lagi. Aku tidak tahu apakah harus panik, diam, atau menunggu darahnya kering. Kulihat payudaraku sedikit memerah. Kutekan bagian yagn merahnya, tanpa kuduga, darah semakin kuat mengucur. Tuhan kenapa ini?

Aku  bayar, jagungnya dibungkus. Niat menikmati chill afternoon , senja dingin dengan bakar jagung batal. Segera aku masuk kamar dan berkaca di cermin meneliti setiap bagian payudara. Merahnya berdiameter antara 5-8 senti. Kutekan-tekan, kembali darah keluar. Aku tahu bisul. Bisul biasanya setelah matang (masa inkubasi habis) akan mengeluarkan nanah. Aku menduga bahwa inipun berdarah kental bisul. Tapi jika bisul, mana mata bisulnya? Terus, kenapa aku tidak merasakan gejala bisulan? Secara naluriah, kubuang darah yang masih terus mengalir, lama-lama habis juga rupanya darah kentalnya. Kututup lukaku dengan tisu. Dua  hari setelahnya aku demam berat, dan tidak diobati, dan tidak ada yang tahu, dan aku juga tidak peduli.

Hidupku berjalan lagi mengikuti tanggalan kalender. Kuliahku berjalan sesuai kalender. Semester satu penuh shock, karena serba tidak tahu dengan harus apa dan bagaimana dengan kuliah. Juga harus memulai penyesuaian hidup sebagai anak kuliahan. Semester 2, sedikit turun ketegangan kuliahnya, bukan karena tekah menjadi sedikit cerdas, tapi karena sedikit tahu, bahwa setelah semester 2 akan ada semester 3, itu menenangkan, artinya siklus kuliah tidak lebih dari melewati semester ke semester dan di dalamnya dipenuhi tugas dan membaca. Selama kuat dan tahan dengan segala macam tugas, kuat baca, selesai. Kuliah bisa berjalan sedikit tegak. Tapi jika berharap nilai tinggi, gayanya harus sedikit diubah. Kuat baca, tahan dengan tugas, ditambah cerdik dalam memfarafrase dan mensintesa kemudian mampu menuangkannya secara akademik, maka boleh berharap nilainya bagus.

Seiring kehidupan kampus, tanpa kusadari, tubuhkupun berkembang dan merespon sesuai kondisi. Sekarang, aku sudah bisa mengiris kulit jempol kaki dengan cutter ketika jempolnya sudah terasa membuat sempit sepatu dan sakit ketika berjalan, tergencat jari yang lain. Sehabis mandi aku iris kulit jempol yang menonjol karena dia tumbuh! Menebal, membesar, mengganggu, dan sakit. Pertumbuhan sel kulit jempolku tidak termasuk normal. Tapi aku memperlakukannya senormal mungkin. Tindakan yang kulakukan menurutku sangat rasional dan dewasa. Jika aku heboh dengan segala perubahan yang terjadi pada diriku, mungkin orang-orang yang peduli akan hidupku akan sedikit over acting dan mengambil keputusan bahwa aku sakit. Keadaan ini akan merugikanku, aku harus ini itu sesuai kepedualian orang lain. Hidup yang melelahkan sepertinya.

Jempol kaki kananku tidak bisa diam rupanya. Dia menulari jari terdekatnya. Ada tiga benjolan kecil tumbuh. Aku menyikapinya dengan tenang. Biarkanlah dulu. Toh kalo tumbuhnya terlalu cepat, bisa aku babat dengan tajamnya pisau cutter. Sedikit ngilu dan perih, tapi paling tidak aku bisa berjalan tanpa terlalu sakit. Aku demam lagi. Aku menganggap demam bukan penyakit. Suhu tubuhku lebih panas dari orang kebanyakan. Badanku selalu terasa panas, tapi aku merasa aku sehat-sehat saja.

Demamku kini sedikit lama, dan aku dibawa ke dokter. Dokter menunjukkan wajah datar-datar saja, sedikit tidak simpati bagiku. Akupun diam saja. Sikap apapun yang saya tunjukkan saat itu, mungkin tidak akan mengubah keadaan sesudahnya. Kata dokter ada penyebaran tumor pada tubuhku, sumbernya di payudara. Aku dingin saja menanggapinya, ah dokter bisa saja salah. Agar dia dapat uang operasi, maka dia memutuskan agar  aku segera dioprasi. Operasi untuk apa? Untuk jempol dan payudara. Banyak amat. Apa ga bisa satu-satu, atau sabar sedikit. Biarkan aku menikmati sakitnya dulu, dan menyadari dulu kalau aku sakit, baru ada operasi, jangan mendadak divonis sakit dan harus operasi. Tidak adil, kenapa dokter bisa menguasai seseorang?

Aku kehilangan satu payudaraku, dan setengah jempol kakiku, ditambah seperempat jempol jari telunjuknya. Dokter dengan sumringah berkata, “saat ini penyebaran tumornya telah terkontrol, tenang saja, jika terjadi sesuatu, sistem kimoterafi menjadi jawabannya.” Aku menjadi lahan bisnis dokter. Ya sudahlah, ini nasib (kata orang ingris mah ‘destiny). Aku pun masih sempat beryukur karena aku masih punya satu payudara, satu mata, dan setengah jempol.

Thursday, December 15, 2011

Emancipatory Pedagogy

 Behaviorist believes that children are regarded as blank slates and ready to be taught anything by more knowledgeable adults (Paul, 2003:3). In other words, learners are considered to be empty cups and ready to be filled up with various kind of knowledge given by teachers. However, new perspective into teaching must take into consideration as learners come to the class with not empty handed. They bring their prior knowledge, experiences, and hopes altogether into the classroom. Their mind is neither blank nor empty. Therefore, curriculum shifting is substantial to do. The jargon of transmitting knowledge is shifted to constructing meaning is likely more appropriate now.

It seems to me that Behaviorist’s perspective influences the process of giving Literature learning experience to students so far. Refer to Paul (2003) at least there are three reasons for this. First, in teaching Literature the teacher is clearly control both the children’s behavior and learning process. The children respond to the teacher’s direction and stimuli and tend to passively follow the teacher. Second, students are considered successful when they are free from mistakes. Third, learning follows a clear lesson plan. The effect of this paradigm causes learning Literature come in the form of memorizing names, years, and things related to the literary works as a uniformity understanding. New ideas that come from differences or derive from having different perspectives are not allowed. Students are likely prevented from questioning and processing the new knowledge that may cause them to think in the different path with the teacher.

It can be said that teaching literature means transferring knowledge about literature by introducing the periodic table of literary work seems need to be leaved out in no time. Remembering names and their titles of master piece of work lead the students nowhere but memorization. In contrast, teaching literature means involving and giving experience with the literature itself should become new paradigm. When students are introduced with the world of literature, at the same time teacher also introduces what literary is, and how to learn it.

For most of novice learners and a little bit allergic with literature like me, learning literature sounds like something to be hindrance. Despite this, I felt being challenged when various kind of poem offered. Then I could make a clear difference between the nature of literature and things which are not, and I could see how to learn it. Being given adequate examples or modeling through various products of literature drive me as student to aware that literature can be learned and it (in its way) gives enjoyment too. The role of teacher in this stage is pivotal. The way teacher introduces what literature is and what he believes on it influences the students indirectly. When teacher believes that every student can digest any kind of literary work, he will apply certain approach to meet this. Inviting students to read, enjoy, or listen to a work of art enable the student to have a very subjective experience to share. This means that the teacher does not transfer the experience and make it as knowledge. Nevertheless empower learning process to gain literature experience and enable students to succeed as much as possible until they ‘feel’ what literature is.

The sequences of building understanding on the nature of literature is also another teaching approach that teacher must take into account. Starting teaching by giving examples is a right move. After the students get familiar with the kinds and texture of literature, teacher asks students to imitate so that they can feel and know what it is like to be a writer or reader. Later on, the students are given another task that suitable with their level of understanding.

Teacher’s role as knowledgeable adult is shown through his role as adaptor, communicator, collaborator and also risk taker.  Adaptor means digging student’s experience through questions and treat the answers in humane way help students understand the nature of literature appropriately. Whereas, risk taker refers to teacher is not afraid of having unwelcomed answers from the learners. Otherwise, he takes the different point of view of the students as power to dig deeper on students’ understanding on the matter being discussed.

Musthafa (1994: pp.54-55) mentioned three challenges for classroom teacher to enable students construct meaning. The challenge demands teacher to consider the structure of the teaching itself so that the learners can do as planned and stated in terms of goal of teaching. Teaching structure rests in three major parts.

  1. Approach

Through Approach teacher introduces the nature of Literature and states how to learn literature. By giving these in advanced, the students are hoped to understand the content and context of literature. Teacher’s approach relates to what teacher’s belief. When teacher considers that doing literature means experiencing literature, he will employ inquiry and group based approaches. For example, the learners question what poem is. The teacher brings the poem to the class and let the students see what piece of works can be classified as poem. Apart from that, teacher also invites students juxtapose point of view to come to new ideas. The question given at school such as “what moral lesson can you take from this drama?’ seems to prevent students to have different ideas. To avoid this, changing question will create active learning and comprehend demanding. Take these questions to arouse students’ interest and curiosity on a drama of Antigone by Sophocles. 1) Who is Antigone? 2) Is she a true hero or traitor? 3) How can you prove your statement? 4) Who is Kreon?

In short, it can be said that learner centered literature learning where it is built on what teacher bring and belief to the class affects the success on giving learning experience to learners.

  1. Design

Literature teacher is someone who is not only ready to be the model of the learning process but also able to integrate pedagogy with students. Involving students’ personal life experiences, feeling and also previous literary experience can be a way to integrate learning gain with the learners. Further, giving learners learning experience may come into existence by demonstrating or modeling the material will be given. Adequate exposure enables learners to get rich examples on the area being learned. Showing the work of the teacher himself can be an ultimate example. He shows the product and shares it to the class. After that, he can advocate students to see the process of how this product comes into being. This activity is substantial. This gives learners meaningful learning experience. As learners can learn how a writer write or find out what causes a writer write.

  1. Procedure

Literature teacher must bring learning and teaching purposes into the class. To gain this learning and teaching purpose, he arranges some procedures that involve himself as teacher and students as learners. Learners can get learning experience if teacher gives the students chance to do so. Innovative method such as giving time for students to experience individual reading, free-stressed discussion and interpretation is part of friendly procedures that can be applied in the classroom.

Learning literature in person is probably new experience for some students. For me, it really affects how I see and feel on literature. As a language teacher, I feel being invited to imitate the steps I got in my learning experience in the classroom into my own class. Even tough, literature is not stated in the secondary school curriculum to be given; morally I am responsible to introduce my students a literature course to make them more humane. I believe that my decision to introduce literature to the class in a small step toward innovative teacher. To sum up, shifting my learning experiences to teaching later is form of responsible emancipatory pedagogy.

 

Reference

David Paul. 2003. Teaching English to Children in Asia.  Longman Asia ELT, Pearson Education North Asia Limited

Musthafa, Bachrudin. 1994. Literary Response: A Way of Integrating Reading-Writing Activities. Vol.31. Pp. 52-58.

Tuesday, December 13, 2011

GURUKU (1)

 David adalah salah satu guru bahasa Inggris saya waktu SMA dulu. Bagi saya, beliau termasuk guru jempolan. Paling ada LIMA hal yang bisa diajukan sebagai alasan atas kejempolannya. Pertama, sebagai guru, dia satu-satunya guru yang tidak setuju dengan sebutan ‘guru’. Suatu saat beliau meminta saya agar buka kamus Oxford atau Cambridge, atau apalah yang penting kamus English-English, karena beliau termasuk orang yang tidak bersetuju jika siswa belajar bahasa Inggris dengan menggunakan kamus Indonesia-Inggris atau sebaliknya. Alasannya kamus model begituan TIDAK MENCERDASKAN.  Sebagai murid, saya harus bersetuju dengan fatwanya. Padahal tanpa sepengetahuan beliau, saya memiliki kamus Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia. Bukannya saya berkhianat kepada guru, tetapi saya tidak bisa menolak keberadaan kamus dua versi bahasa ini. Keduanya datang pada saya sebagai hadiah atas pengakuan orang lain terhadap kemampuan berpidato saya dalam Bahasa Inggris, yang katanya cukup baguslah untuk ukuran anak kampung yang belum pernah ke Inggris bisa niru-niru ngomong orang Inggris, dan sedikit meyakinkan juri (yang saya yakin mereka pun sama seperti saya, yakni belum pernah ke Inggris, makanya mereka menilai ngomong saya bagus ðŸ˜‰ ). Kedua kamus itu tidak pernah saya keluarkan, juga tidak pernah saya pakai, bahkan tidak saya pajang untuk sekedar pamer kalau saya punya kamus John Echols. Selain saya takut dianggap murtad karena telah melanggar perintah guru, saya juga khawatir terkena kutuk. Walaupun guru saya tidak tahu kalau saya buka-buka kamus hadiah itu, tapi hati kan saya ngaku kalau saya telah melanggar amanat guru. Eh… tapi kalau tidak salah, saya pernah buka kamus itu satu kali, waktu itu saya mencari apa bahasa Inggrisnya ‘lempeng’. Ah ternyata, guru saya memang benar, saya pusing sendiri, karena terjemah lempeng itu memusingkan. Ketika dicoba dipakai pada kalimat, dan diterjemah balik ke dalam Bahasa Indonesia, terjemahnya jauuh dari yang saya maksudkan. (Kasus ‘pusing’ karena salah kamus pernah menimpa teman saya. Alkisah dia harus menerjemahkan kalimat “dia jago main gitar”. Dia nyari setengah mati kata jago pada kamus Indonesia-Inggris. Dia menemukan terjemah ‘jago’ adalah ‘cock’. Dengan bangganya dia menulis “he cock play guitar” hahahaha…. cock = ‘ayam jago”) Sejak saat itu saya punya keyakinan bahwa guru harus digugu dan ditiru, karena petuah mereka walaupun awalnya terdengar nyeleneh, tapi terbukti benar (walaupun perlu 10 tahun untuk ketahuan benernya hehehe).

Kembali ke masalah guru bahasa Inggris saya yang berkeberatan disebut ‘guru’. Beliau menjelaskan dengan yakinnya begini, ‘coba kamu telusuri “kata pinjaman” dalam bahasa Indonesia (kalau kata ahli translation penganut Vinay and Dalbernet mah disebutnya Calque, in contrast to ‘borrowing’), kata engineer jadi insinyur, doctor jadi dokter, governor jadi gubernur, kenapa teacher jadi…guru.  GURU? Wow..how come, do you know what guru is?” (kamu tau ga apa arti kata guru? Terjemah pribadi). Saya cengangas cengenges saja, karena bagi saya mau guru mau teacher (ticer), ah tidak ada bedanya. Kalau saya manggil guru… teacher (ticer), malah jadi awkward (aneh). Ticer  bahasa sunda, ticer matematika, ticer mulok…bapak ticer dan ibu ticer…… .

Saya buka kamus Cambridge (karena kebetulan saya belum mampu beli kamus Oxford yang harganya 400 ribu dan tidak bisa ditawar dengan alasan ‘worth paying as it is an original edition’). Nah pada kamus Cambridge guru memiliki dua makna (1) a religious teaacher in the Hindu or Sikh religion, dan (2) a person skilled in something who gives advice. Walhasil kata guru adalah pemberi pencerahan keagamaan bagi penganut Hindu atau seseorang yang luas pengetahuannya sehingga mampu menerangi orang yang dalam kegelapan, atau seseorang yang mumpuni dalam keilmuannya. Sedangkan guru, yang kita hadapi tiap hari, tidak memiliki atribut dan tanda-tanda dari yang dua tadi. Jadi kita salah sebut, mereka bukan guru tapi ticer.  Saya mulai mengernyitkan dahi (tandanya saya mikir). Guru saya ini ada benarnya juga. Kata guru mengandung unsur sakral. Kesakralannya diabadikan pada kisah-kisah Mahabarata dan Ramayana. Para Nalendra (raja) mereka berguru kepada gunung, kepada pohon, kepada sungai, kepada alam sebelum mereka menjadi orang nomor satu dalam pemerintahan. Alam takambang adalah guru.

Kita mungkin pernah mendengar bagaimana para Pandawa berguru kepada alam selama empat tahun ketika mereka dibuang oleh Kaum Kurawa karena kalah bertaruh. Setelah empat tahun berguru kepada alam (empat tahun berguru kepada alam, waktu yang dihasibiskannya setara dengan kuliah S1) Pandawa menjadi insan kamil atau manusia paripurna. Sedangkan,pada jaman kekinian kita masih mendengar, agar mendapatkan sebuah kemanjuran dari suatu ilmu maka mandi di tujuh mata air yang berbeda adalah saratnya. Artinya, orang yang belajar ilmu tadi harus berguru pada mata air. Makna tersembunyi dari mata air adalah ‘kesucian dan sikap qonaah’. Sumber air mencerminkan bersih, saya tak perlu mengulasnya, qona’ah? Maksudnya sikap nrimo, mengikuti takdir tanpa banyak demo-demo atau protes-protes. Lihat bagaimana air menelusuri kodratnya. Dari sumber manapun dia berasal dia akan mengalir ke arah yang lebih rendah, dan itu takdirnya air. Maknanya, kata GURU untuk digunakan sebagai atribut untuk ticer (pengajar) belum tepat.

Guru saya (ticer saya) meminta saya melongok sejarah, dari mana kata guru munculnya. Saya tentu saja  give up (menyerah), lha wong saya bukan ahli sejarah, mana saya tahu kapan kata guru muncul. Saya hanya menebak-nebak saja mungkin kata guru muncul pada jaman penjajahan Belanda dulu. Jika kita kaji dari sejarah, katanya Belanda itu mencoba menciptakan jurang yang beda antar sesama manusia (diskriminasi). Misalnya saja, harus beda antara rakyat (cacah) dan  pejabat (menak). Panggilan Raden, Aden, atau diselewengkan jadi Adeng adalah salah satu cara yang digunakan agar derajat manusia menjadi tidak sama . Dari tulisan Ahmad Bakri (penulis buku Dukun Lepus terbitan Kiblat) saya bisa membayangkan kesenjangan kasta pada jaman Belanda. Ahmad Bakri menggambarkan bagaimana sikap cacah ketika seorang menak lewat. Cacah harus duduk ditanah basah kotor bercampur tahi kerbau dan menundukkan kepala ketika menak lewat. Sangat tidak beradab sekali karena si menak lewatnya dengan menunggangi kuda, you can imagine bagaimana air kotor yang terinjak kuda muncrat ke wajah para cacah. Nah, kata guru mungkin diperkenalkan oleh Belanda untuk memberikan imej kalau guru adalah orang yang berbeda, bukan manusia biasa, something atau yang kaya begitulah, sesuatu. Guru dipekerjakan Belanda untuk mengajar anak-anak pribumi golongan menak. Guru mengajarkan baca-tulis agar lulusannya bisa bekerja sebagai pekerja kelas rendahan. Pada saat itu selain guru ada pula orang yang mengajarkan baca-tulis Arab (Al-qur’an) tidak disebut guru, tapi Kyai. Dan lulusan pesantren bisa menulis huruf Arab, bukan huruf Latin seperti yang diajarkan guru. Perbedaan sebutan ini tentu ada maksudnya. Selain mengakibatkan cara pandang yang berbeda terhadap pekerjaan, memisahkan pula cara tata titi dan beretika ketika berhadapan dengan dua genre pengajar ini. Belanda menciptakan guru adalah pengajar ilmu dunia, dan kyai pengajar ilmu akhirat. Mereka tidak bisa berdiri sama tinggi duduk sama rendah padahal tugas mereka (kurang lebih) sama. Atau saya salah, Belanda malah menerapkan kata guru untuk menyindir, mengejek, atau mengironikan. Kita, bangsa Indonesia memiliki pengaruh kuat keHinduan dalam kehidupan keseharian. Otomatis kata guru, telah punya definisi tersendiri dalam kosakata budaya bangsa kita. Belanda menggunakan kata guru untuk mengejek kesakralan bawaan dari kata guru. Entahlah. Saya sampai saat ini masih menyebut guru bahasa Inggris SMA saya itu guru. Tidak sempat saya memanggilnya ticer, saya merasa kagok (canggung) untuk memanggilnya ticer seperti permintaannya.

Alasan KEDUA, kita bertemu di Guruku (2)