Pages

Wednesday, September 16, 2015

Brain, Teacher, and Curriculum

 Our mind is like a black box. It is said so as we do not know what is in there. To understand what our brain do, we ask the help of psychologist. Psychologists do not  recognize the work of our brain easily, so they try to do analogy. For example, Pavlov, he tried to see human brain’s work by making experiment on a dog. From his experiment, people then see that there Stimulus-Response relation. Other expert makes experiment on Chimpanzee. The results of those experts open a little understanding on the work of brain.

Then, expert found out that environment plays a vital role for our brain. They said ‘mind is in society”. Mind is conditioned by the environment.  This implicitly acknowledged that each of us has capacity to be what we want as long as we are put in the right environment. In school’s context this means that every student is good seed, teacher becomes a person who nurture the seed. The good seed will not grow or even die if the teacher does not provide good environment for learning.

A professional teacher should cause the students to experience learning. Since the heart of education is learning. To do so, teacher should apply curriculum because any curriculum is product of accomplished mind. Curriculum is developed by innovator who are small in number. Then it will be adopted by early adopters like people who are in charge in education and later used by early majority such as teacher. As the distance from the innovators to teachers are quite long, sometimes the innovator said “quay” and distortion occurs it becomes “key”. Those words are different in meaning and fatal if it happens in the educational world. Teacher may lead the students to a wrong end as distortion had happened.

Saturday, September 12, 2015

Pendaftaran

 Ketika membaca pengumuman yang ditempel di ruang guru tentang adanya pendaftaran calon guru magang di Australia, dan setelah membaca persyaratan yang diurutkan, hal yang pertama muncul dalam kepala saya adalah pesimis diikuti kata ‘not a chance’. Dengan jelas tertulis bahwa calon peserta disyaratkan berusia 45 tahun pada tanggal 23 Desember 2013, sedangkan saya terlahir tahun 1968. Pendaftaran pun diacuhkan.

Perasaan kecewa karena expired (umurnya ketuaan) membuat saya membicarakan hal ini dengan suami, Yankie. Diluar dugaan Yankie menyarankan agar pede dan mengikuti pendaftaran. Dia mengatakan dengan yakin bahwa belum tentu sarat usia ini diaplikasikan jika pendaftar tidak memenuhi kuota. Akhirnya, dengan segala keberanian, saya mulai berbenah diri untuk mengikuti pendaftaran. Saya mulai memikirkan essay yang harus dilampirkan pada saat menyerahkan pendaftaran.

Dalam pandangan saya, essay ini harus sempurna, harus menunjukkan kesungguhan, harus menggambarkan bahwa saya benar-benar serius ingin mengikuti magang, dan harus menunjukkan bahwa saya bisa berbahasa Inggris sesuai dengan angka yang ditunjukkan pada sertifikat TOEFL. Tekanan untuk membuat essay 500 kata dengan muatan di atas, membuat saya tidak menulis sepatah kata pun. Masa untuk menyerahkan pendaftaran semakin dekat. Kekhawatiran saya terlalu besar. Pertama, saya merasa bahwa saya sudah expire dan tidak akan bisa diterima sebagai salah satu peserta. Kedua, saya memenuhi persyaratan lain hanya dengan seadanya. Ketiga, saya merasa yakin bahwa banyak kandidat kuat yang akan membuat saya tersingkir.

Memikirkan essay tidak sama maknanya dengan menulis essay. Dengan kata lain, melamunkan essay tidak menghasilkan tulisan dalam bentuk essay. Oleh karenanya segera saya membuka majalah lama: Time, majalah berbahasa Inggris yang mungkin memberikan inspirasi. Australia masih terdengar asing bagi saya. Tidak banyak pengetahuan saya mengenai Negara ini.
Saya mulai membaca Time. Banyak informasi yang dapat gali diantaranya Australia disebut pula the Lucky Country. Namun ada pula penulis yang menyebutnya Down Under. Selain itu saya pun menemukan artikel yang membuka sejarah kelam pendudukan Australia. Secara berani penulis memberi judul The Stolen Generation. Sedangkan keindahan Australia diwakili dengan artikel yang menyuguhkan The Great Barrier Reef.

Setelah menemukan banyak tentang Australa, essay pun dibuat. Dalam benak saya, essaylah yang akan menyelematkan saya dan menyebabkan saya diterima. Pada essay saya masukkan kata The Lucky Country dan Down Under untuk menunjukkan bahwa saya sedikit kenal dengan Australia. Saya pun menuliskan bahwa saya sangat ingin melihat bagaimana pengajaran bahasa berbasis-teks dilaksanakan di Negara yang dikiblati Indonesia untuk Genre-Based Aproach. Saya membayangkan apakah Systemic Functional Grammar dari M.A.K Halliday benar-benar ada dalam kelas. Apakah saya akan mendengar kata tone, mode, field, register, behavioural process, mental process, dan sederetan peristilahan lainnya yang berkaitan dengan teks seperti argumentative text, analytical exposition, hortatory exposition ketika saya mengobservasi kelas.
Pada akhirnya, essay yang saya anggap mewakili pikiran saya tertuang seperti di bawah ini:
Why I Want to Study in Australia
By Badriah
SMA Negeri 2 Cianjur, West Java

Genre-Based Approach (GBA) has been applied in Indonesia in teaching English as a foreign language since 2008. In 2010, I was admitted to post-graduate program in the teaching of English at Bandung’s Education University of Indonesia (UPI). I was lucky that I was involved in organizing Seminar on the Genre-Based Approach on 10- 12 June 2012 and on October 14-15, 2012. The seminar was jointly organized by UPI as a host and Sydney University and Australian Catholic University. I met and worked with two experts from Down Under who have successfully developed the GBA. Jim Martin has written the books entitled ‘Genre Relation’ and ‘Learning to Write, Reading to Learn: Genre, Knowledge, and Pedagogy in the Sydney school’. Another expert I met was Frances Christie, Emeritus Professor of Language and Literacy Education, University of Melbourne and Honorary Professor of Education and Linguistics, University of Sydney. I had been indebted to both of them for my rich knowledge and skills in the GBA.
It will be good to come to the country of origin of the GBA and have a reunion with both great teachers. Besides, I will be able to see first-hand how the GBA is organized and applied in Australian schools. I will use every available and possible means to learn this approach as much as I can. Coming to study in an English-speaking country such as Australia is a dream and a must as well for a teacher of English language who is interested in developing and advancing the teaching of English to the best possible result as myself.
Upon my return to Indonesia, I will try to do my best in disseminating what I have learned during my stay and study Down Under in my capacity as the chairperson of the English section of Musyawarah Guru Mata Pelajaran (Deliberation of School Subject Teachers). The organization I lead consists of English teachers from 35 Senior High Schools in the Regency of Cianjur, West Java. Those schools have been trying to familiarize the students with the GBA to some extent. In this approach, students are introduced to various texts in order for them to be ready for studying through many kind of texts they will be faced with in college.
How I disseminate my knowledge of the GBA will be done in such a way that all my fellow English teachers in Cianjur gain sufficient knowledge in order for them to successfully implement the GBA in their school which measure up to the expectations. The organizing of the activities of our teachers’ association is under the auspices of the Musayawarah Kerja Kepala Sekolah (Joint Deliberation of School Principals) and Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (Board for Quality Assurance of Education). Both institutions are responsible for funding and the legality of all the activities related to the organization that I chair.

Dengan izin, berkat dan doa Yankie, Miracle, dan Excel, saya serahkan pendaftaran kepada pihak Dinas Pendidikan Cianjur. Setelah penyerahan pendaftaran, saya serahkan kepada Allah. Jika DIA berkenan maka saya akan menerima pemberitahuan jika saya diterima. Saya pun memberitahukan kepada Ibu dan Ayah saya lewat doa bahwa saya meminta izin mereka untuk mengenal Negara asing. Semasa mereka hidup, mereka pernah berkelakar bahwa suatu saat saya akan bisa ke Australia. Kata Ayah, ”Kamu bisa ke Australia, kamu berenang saja”. Mereka tidak sempat menyaksikan bahwa kelakar mereka pada tahun 2014 menjadi kenyataan, dan saya tidak harus berenang untuk sampai ke sana.