Pages

Wednesday, July 29, 2015

Hari Ke-1

 Pertemuan pertama (28 Juli 2015)

Kata ‘pertama’ selalu menarik untuk dibahas. Demikian pula kata pertama bagi saya dalam peran sebagai wali kelas: kelas Sosial. Dalam pengalaman menjadi guru selama 18 tahun, inilah kali pertama saya mendapat tugas sebagai orang tua di sekolah bagi kelas 12 Ilmu Sosial 4.

Seperti umumnya, siswa yang berada pada kelas sosial dianggap golongan kedua setelah siswa kelas Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sesungguhnya tidak demikian untuk siswa yang menggunakan Kuikulum 2013 mengingat siswa kelas Soaial banyak mengambil materi ajar Lintas Minat yang memungkinkan siswa tersebut mendapatkan materi ajar yang sama dengan siswa IPA.

Saya mendapat ucapan selamat dari rekan sekerja atas penunjukkan sebagai wali kelas sosial 4. Ucapan ini dapat dimakanai positif dan negatif. Seorang teman secara langsung berkata, ‘sesekali cobalah menikmati bagaimana rasanya menjadi wali kelas sosial dan mengajar kelas sosial’. Teman lainnya berkelakar, ‘tumben nih jadi wali kelas sosial’. Saya akan meninggalkan komentar rekan sekerja. Di bawah ini akan saya paparkan apa yang saya lakukan pada pertemuan pertama dengan siswa sosial 4.

Bersitatap dengan siswa sosial 4 di ruang kelas sosial 4, saya tidak merasakan perbedaan mencolok seolah ‘inilah kelas sosial’. Bahkan, terlihat lebih menarik. Jumlah siswa hanya 33 orang. Bagi saya itu sebuah keuntungan. Selama ini, ketika mengajar kelas IPA, jumlah siswa paling sedikit 42 orang.
Pertemuan pertama dimulai dengan mencoba saling mengenal antara saya dengan siswa secara lebih personal. Saya berusaha memberikan kesan bahwa guru di sekolah dapat menjadi orang yang dapat dipercaya dan menjadi teman secara akademis.

Mulanya para siswa terlihat ragu-ragu. Untuk mengurangi kecangungan saya mengubah penggalian pengenalan personal dari lisan menjadi tulisan. Saya memberikan 8 pertanyaan yang akan membantu saya nantinya mengenal siswa. Pertanyaan tersebut adalah: 1) Apakah yang kamu ketahui tentang saya? 2) Siapa kamu?, 3) Siapakah teman sekelas yang menurutmu tidak menyenangkan dan apa alasannya? 4) Siapakah guru yang tidak menyenangkan dan apa alasanya? 5) Siapakah teman yang tidak menyenangkan? 69 Siapakah guru yang tidak menyenangkan dan apa alasannya? 7) APa yang membuat kelas ini dianggap negatif oleh kelas lain? dan 8) apa yang harus dilakukan agar kelas ini menjadi kelas yang terbaik?

Para siswa terlihat sangat antusias memberikan jawaban. Saya mengumpulkan jawaban dan melanjutkan kegiatan dengan memberikan arahan untuk membangun citra kelas menjadi lebih positif. Saya meminta pendapat siswa menganai bagaiamna caranya agar kelas terlihat bersih dan rapih, siapa yang akan bertanggung jawab terhadp keberlangsungan kebersihan, keamanan dan ketrtiban kelas. Diluar dugaan para siswa sangat aktif mengajukan tawaran pilihan dan kemungkinan agar kelas menjadi kelas yang terbaik. Bahkan terlontar rencana membersihkan kelas, membuat baju kelas, membuat nama kelas, memberikan warna khusus untuk menunjukkan nuansa kelas.

Hal-hal yang terjadi di atas memberikan gambaran yang jelas bahwa tidak ada perbedaan antara siswa IPA dan siswa IS seperti yang selama ini saya dengar. Hal lainnya yang membuat saya terkesan adalah ketika salah seorang siswi mengatakan dengan lantang bahwa ayahnya bekerja sebagai Satpam. Saya bisa merasakan kebanggan yang tersirat dari nada suaranya, dan ini mengharukan.

Yang menarik perhatian saya adalah ada tiga siswa yang tidak hadir: 1) Khisan, 2) Farhan, dan 3) Randi. Saya mendengar dari teman sekerja bahwa salah satu dari ketiga siswa yang tidak hadir ini harus mendapat perhatian khusus. Mereka mengatakan hal-hal yang kurang positif tentang siswa ini diantaranya jarang masuk kelas, terlalu lamban dalam melaksanakan tugas, dan tidak aktif pada saat proses pembelajaran.

Selain dari ketiga siswa diatas, ada siswa lainnya yang juga menarik perhatian saya. Berdasarkan jawaban tertulis siswa saya menemukan bahwa ada siswa yang tidak disukai oleh hampir semua anggota kelas karena sikapnya yang kurang bisa diterima. Namun ada pula siswa yang hampir disukai oleh semua anggta kelas karena dianggap nyaman ketika diajak ngobrol, sikapnya logis, pengertian, dan inspiratif.

Secara pribadi, pertemuan pertama saya dengan siswa sosial 4 memberikan kesan positif. Saya merasa bangga menjadi bagian dari kehidupan mereka dan berkesempatan untuk mengahabiskan 250 hari bersama mereka.

Tuesday, January 27, 2015

Pra-Seleksi

 Sambil menunggu pemberitahuan seleksi, diam-diam saya belajar bahasa Inggris untuk mempersiapkan diri magang nanti di Australia. Mungkin ini terdengar lucu, guru bahasa Inggris tapi belajar bahasa Inggris. Bagi saya pribadi, ini sama sekali tidak lucu, tapi serius. Sebagai orang yang akan berhadapan langsung dengan native speaker saya harus benar-benar mampu berkomunikasi dan menunjukkan keterampilan reseptif dan produktif pada saat magang, dan tidak mempermalukan bangsa saya sendiri, khususnya guru.

Saya menghabiskan paling tidak satu jam setiap hari untuk menyimak siaran berbahasa Inggris dari TV Channel “Australia” melalui TV Satelit BIG TV. Sengaja saya tune in pada saluran ini, karena saya yakin dialek Inggris-Australia memerlukan latihan untuk dapat mengenalinya dengan baik. Saya pun kembali menghabiskan waktu sekitar satu atau dua jam untuk membaca koran The Jakarta Post dan sesekali majalah Time untuk memperkaya pengetahuan berbahasa. Menjadi peserta magang merupakan hal besar, saya tidak bisa bertindak tanpa ada persiapan.
Saya malah hampir lupa dengan persyaratan yang telah dikirim ketika Dinas memberitahukan bahwa saya harus mengikuti seleksi magang bertempat di Lembang, di Grand Hotel, dengan membawa segala persyaratan tambahan. Persyaratan tambahan ini diantaranya surat keterangan sehat dari dokter Rumah Sakit. Saya mempunyai pengalaman tidak terlupakan ketika membuat surat keterangan sehat. Pagi itu, ketika saya mendaftarkan diri ke Rumah sakit untuk mendapatkan Rekam Medic, saya dipersilahkan mengambil sendiri rekam medic di lantai 2. Saya menunggu berlama-lama agar dapat mengambil Rekam Medic. Setelah hampir satu jam, seorang Ibu (mungkin orang yang biasa mengurusi wilayah Rekam Medic) berkata, ‘maaf, rekam mediknya hilang, terkena air hujan, silakan kembali ke bagian pendaftaran dan buat data baru’.
Segera setelah mendaftar ulang, saya menuju ruang untuk menerima layanan pemeriksaan. Pada bagian pendaftaran pemeriksaan seorang Perawat bertanya, ‘Ibu, harus saya periksa apanya?’. Saya jawab dengan polos, ’saya tidak tahu, mungkin rumah sakit memiliki daftar atau list standard apa yang harus diperiksa untuk keperluan pergi ke luar negeri’. Saya diminta untuk diroentgen, periksa darah, urin. Saya memasuki ruang periksa, seorang petugas berkata, ‘maaf Ibu, kami tidak bisa menjalankan tugas kami, listrik mati’. Kejutan lainnya adalah bahwa setiap hasil pemeriksaan labratorium, baru bisa diambil dua hari kemudian. Sedangkan, pemberitahuan harus menyertakan Surat Keterangan Sehat baru saya terima sore hari sebelumnya, dan pukul 11 siang ini, surat tersebut harus sudah diserahkan kepada Disdik.
Segera saya meninggalkan Rumah Sakit dan menuju Betta Lab yang bisa menyediakan fasilitas pemeriksaan Urine dan Darah, sedangkan untuk Roentgen saya harus bergegas ke Klinik lain, mencari Klinik yang menyediakan Roentgen, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pada saat itu.
Singkat cerita, pukul 11 siang itu, semua persyaratan lengkap, dan bisa diserahkan ke Disdik. Esok harinya saya berangkat menuju tempat seleksi bersama guru lainnya. Saya mengikuti kegiatan tes TOEFL, kemudian wawancara. Untuk wawancara, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok. Saya termasuk kelompok dua. Pewawancara menanyakan apa yang akan saya teliti ketika saya mengobservasi kegiatan pembelajaran di Australia. Saya menjawab ingin mengetahui bagaimana pengajaran reading dilaksanakan. Wawancara berjalan lancar, saya merasa mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Termasuk bagaimana cara saya melakukan observasi, siapa yang akan diobservasi, instrument yang digunakan selama observasi. Pikiran saya kembali ke menulis tesis. Sebagai orang yang akan menemukan ‘sesuatu’ dinegeri Kanguru, saya harus berpikir sistematis.
Sebetulnya saya sedikit terkejut ketika wawancara dilaksanakan. Satu pewawancara berhadapan dengan enam orang sekaligus. Pada beberapa panduan yang saya baca untuk large interview panel idealnya pewawancara berhadapan dengan dua atau tiga orang agar dapat mengevaluasi potensi calon secara akurat.
Di luar yang ditanyakan oleh pewawancara sesungguhnya saya telah menyiapkan bahan untuk 1) menjelaskan siapa diri saya, 2) menjelaskan sifat saya, 3) alasan mengapa saya menjadi guru bahasa, 4) kelemahan saya, 5) hal yang saya banggakan, 6) pertanyaan-pertanyaan yang akan saya ajukan ketika di SA. Berikut ini adalah persiapan yang saya buat.
1. I have always considered myself lucky to have been admitted to school of education at university and eventually become a teacher. I was admitted to school of education in order to become a teacher when the teaching profession was not so attractive in terms of financial rewards.
I registered in the school of education then purely in idealistic terms because I love teaching, love being with young people, being with kids, and I love reading books about education.
2. Scholarly, bookish, easy going, friendly, firm, self-disciplined, highly confident. Those are some of the adjectives my best friend(s) use(s) to describe myself.
3. I want to encourage young people to read English because it will be useless to learn English if they don’t want to end up reading in that language. It doesn’t make sense if learning English is devoted to being able to communicate orally, whereas in Indonesian curriculum it is emphasized that knowledge seeking through reading is the main goal.
4. I consider this is one of my weaknesses, I tend to be an unmaterialistic teacher due to my passion for education. I don’t mind guiding students beyond school prescribed time. I even open the door of my home to my students who want to consult or confide to me. I realize at the end that my teaching profession in order to be successful cannot depend on idealism alone; more money is needed. (there are some students who happen to be broke, they don’t have to compensate for the copied paper I provide for them)
I am a school teacher and house wife as well. This double role leaves me very little time for professional advancement through reading. That’s why I always try to use every minute of my spare time in school to read. This behaviour is misunderstood by my colleagues who tend to think me as asocial, introvert, lonely, and arrogant. In fact, I am the opposite of those things.

5. It takes a teacher not less than 20 years to have a small home of his or her own if they count on salary alone. It took me relatively shorter time to have a big house in western style. Apart from regular salary which is better now, I have additional income from writing and private teaching which are considerably big so that I can build that home. There are seven spacious, high-ceiled rooms, one of which is my personal library. (self-learned architect). One of the successful culminations of my writing interest is being rewarded as one of the winners in the teacher science forum and eventually I was rewarded to go on pilgrimage to the Holly land, Mecca (I wish I could go to an English-speaking country such as Australia which was considered to be the best destination for such a winner as myself). It is a pity that the proposal to send the science forum winners to Australia was rejected by the majority of the teachers. It was the one of the provincial department of education official that proposed sending the winners to Australia which I fully supported. It is for this reason that I don’t want to miss the second chance to go to Australia.

6. Do you have breakfast at a regular basis, not casually as most Indonesian do?
– Have you been in any Indonesian school?
– Do parents give pocket money to their children to go to school as in Indonesia? If so, how much is in average? Do the teacher-parents association in most Australian schools work well? Do parents in Australia participate in deciding what to teach to their kids whereas in Indonesia gullibility is the norm.
– Do principals know the teachers’ name and some of their students?
– Do family and children consume only local food or they consume ethic foods that are available in Australia?

Tuesday, January 6, 2015

Mengapa saya ingin mengunjungi Australia

 Barangkali, mengunjungi Negara dimana bahasa Inggris menjadi bahasa pertama, merupakan impian guru bahasa Inggris yang non native. Menjadi sebuah tanda tanya besar bagaimana guru native mengajarkan bahasa Inggris. Apakah sama seperti guru native bahasa Indonesia mengajarkan bahasa Indonesia? Bagaimanakah para guru native bahasa Inggris menciptakan pemakai bahasa Inggris yang efektif? Di tivi-tivi terlihat bagaimana anak kecil mampu menggunakan bahasa Inggris untuk mengkomunikasikan pikiran dan ide-idenya secara lancar dan lantang.

Barangkali pula, melihat bagaimana Genre-Based Approach yang kini dijadikan pendekatan pengajaran bahasa (Inggris dan Indonesia) di Indonesia, diimplemantasikan di negara asalnya, merupakan impian lainnya bagi guru bahasa. Melihat secara langsung bagaimana ide Frances Christie dan Jim Martin dilaksanakan di dalam kelas, merupakan masalah besar bagi guru yang menggunakan pendekatan ini di dalam kelas-kelasnya. Apakah Building Knowlegde of Field (BKoF) merupakan set induction yang membuka pikiran anak-anak untuk siap menerima materi ajar. Jika Cooper (1990) mensyaratkan set induction sebagai pembuka pemberian pengalaman belajar kepada siswa, apakah setara dengan BKoF yang sama-sama refers to actions and statements by teacher that are designed to relate the experiences of the students to the objectives of the lesson atau membangun pengetahuan/latar belakang pengetahuan siswa mengenai topik yang akan dipelajarinya (lihat pula Feez, 2002; Gibbons, 2009). Demikian pula dengan langkah selanjutnya dari GBA yakni Modeling of text, Joint Construction of Text, dan ditutup dengan Independent Construction of Text. Apakah di Australia para guru bersetia dengan GBA ataukah mereka memiliki Holy book-nya sendiri?
Selain kedua hal di atas, jadi pertanyaan yang menggelitik mengenai bagaimana pendidikan Australia menjelaskan the stolen generation kepada para siswa dan apakah tindakan realistis yang dilakukan untuk membayar dosa masa lalu para leluhur mereka? Apakah penduduk asli Australia mendapatkan hak istimewa? Jika di Indonesia ada ‘’daerah khusus’’ (DIY, DKI), apakah di Australia ada tempat semacam itu untuk menjaga kekhasan lokal (Aborigin)? Banyak pertanyaan menumpuk dalam kepala penulis sebelum berangkat ke Australia. Pertanyaan-pertanyaan itu secara subconsciously sesungguhnya terjawab ketika penulis berkesempatan tinggal bersama warga Australia, mengunjungi sekolah secara intens, memasuki pasar, mengunjungi Flinder University, dan menikmati Taman Kota dengan cuaca 60C.

Saturday, July 12, 2014

Tiris Adelaide Australia versi kuring

 Juni-Juli mangrupaeun bulan tiris di Adelaide. Pikeun nu lain pituin urang dinya, saperti kuring nu asalna ti nagara tropis, kacida reuwasna nyanghareupan hawa tiris 8 atawa 7 darajat ditambah hujan es jeung angin.

Urang lembur Adelaide mah sigana teu tiris teu sing. Cukup make matel, kaos kaki ipis, malah aya nu bulucun oge, santey we.
Salila kuring leumpang saban isuk muru ka pengeureunan beus, siga nu matuh, hareupeun kuring pasti aya awewe nu make matel boda, leumpang ngagedig. Nepi ka halte jam 7. Beus liwat jam 7.15. Anger, manehna mun geus nepi ka halteu, muka tas leutik, ngaluarkeun alat kecantikan, dangdan sisi jalan. Sigana manehna geus ngukur, dangdan ngaropea beungeut waktuna bakal pas jeung datangna beus. Kuring ukur merhatikeun. euh meureun ieu nu disebutkeun beda budaya teh. Bangsa kuring mah tara kawenehan dangdan sisi jalan bari nunggu beus. da puguh bus di nagara kuring mah bisa dieureunkeun di mana wae, bisa datang jam sabaraha wae, taya jadwal matuh. Nu ngatur beus teh penumpang. Mun di Adelaide mah, sabalikna, kabeh gumantung kana jadwal. Waktu teh bisa diitung.
Misalna bae, ceuk indung-indungan kuring nyarita kieu ‘ti dieu ka jalan cukup leumpang, waktuna 20 menit, tidinya, tunggu beus, beus datang jam 7.15. Mun tlat, dagoan, saban 15 menit beus pasti datang deui. Ngan ulah nyetop nu nomer 30, eta mah teu liwat ka dieu’
omonganna na teh bener. nu teu bener mah, leumpang kuring! Ceuk manehna 20 menit, kuring mah, ngadedod leumpang ngagusur suku teh ampir 40 menit. Rumasa teu tuman leumpang!
di nagara kuring mah, jelema teh di ogo pisan. Bates buruan teh nyantek pisan ka jalan raya. matak tong heran mun aya kajadian hulu mobil asup ka imah lantaran supirna tunduh. ieu teh bisa kajadian kulantaran ampir taya pisan jarak antara buruan jeung jalan. nu matak prihatin mah, aya pager imah teh ngeser ka tengah jalan. sigana teu puas mun naek angkot teu jrut tina golodog teh. Nu matak, golodog imah teh sasenti jarakna tina panto angkot.
Balik deui kaluhur. Naha kuring nyebut penmumpang diogo. Alesanna lantaran di nagara kuring mah, mun hayang ngereunkeun angkot, der dimana we. malah angkot teh bisa nuturkeun kumaha kahayang penumpang. angkot bisa liwat ka jalur mana we asal daek mayar we. Mun di Adelaide mah, teu bisa kitu. Jalur beus teh matuh, teu bisa uprak aprak ka jalur nu lian.
Nu matak resep di Adelaide mah, mun make trem di tengah kota (city) eta gratis. Jadi di tengah kota teh genah pisan, teu katingali mobil macet, taya motor balawiri kana trotoar. Kuring pernah kawenehan ningali motor, mun teu salah 2 kali dina jero 3 minggu. Motor teh sigana lain kendaraan pilihan wijaksana di Adelaiade mah. Kamana-mana leuwih ngeunah make beus. Kahiji jadwalna puguh, kadua tempat diukna ngeunaheun, katilu supirna sopan pisan kaopat mobilna bisa mawa sagala rupa jalma, kalima teu aya nu ngaroko dina mobil, kagenep jero mobil taya nu ngobrol, jeung loba deui alesan nu matak lewih ngeunah make beus daripada make mobil sorangan. Eh katambahan, bensin mahal.
jeung nu matak kuring betah naek beus mah nyaeta, teu tiris! Mun dina jero beus sigana aya pemanas, jadi anjeucleu dina beus teh nnikmat pisan. mun turun tina beus, kasiksa, tiris karasa nyoco kana beungeut jeung pingping, nepika irung teh asa leuwih pesek hese ngarenghap. kana awak mah teu karasa ripuh teuing, pan kuring mah make bajuna 4 lapis!!
Tiris di Adelaide cenah puncakna mah di bulan juli. ari kuring nyangkana dina bulan juni sabab 7 darajat teh keur kuring mah geus matak ngebul ari nyarita jeung nyorodcod tuur ari leumpang. Jeung kuring salah tetempoan deuih. Kuring ningali tangkal Cherry Blossom geus aya nu mekar kembangna. Kuring nyangka yen eta teh ciri yen usum tiris rek beak. Padahal nu jadi patokan mah, mun tangkal (poho ngaranna) geus muguran kabeh daunna, tah eta tanda yen usum tiris eureun. eta tangkal nu dijadikeun ciri teh, basa ku kuring ditingali karak muguran tilu parapatna, jadi nya hartina, usum tiris lila keneh.
Pikeun kuring pribadi, tiris Adelaide jadi pikaseurieun. Kuring jadi kedul mandi. Mandi cukup saminggu sakali, eta ge mun sirah geus karasa ateul. Mun sirah tacan arateul mah, kuring tara waka mandi. kulantaran tara ngesang, baju saminggu teu ganti ge teu kanyahoan. nu nyababkeun kuring kedul mandi teh deuih, hoream mukaan baju. Kulantaran make baju opat lapis, jadi mandi teh lain lila mandina, tapi lila mukaan baju. mimiti muka long jhon (baju husus keur nahan hawa panas awak), kuring make long jhon 2 lapis. terus muka kaos wol nu nutup nepika beuheung, ditutup ku muka kaos biasa. sakitu teh lantaran jaket mah geus dibuka di kamar. kaos kaki ge dua lapis. pokona urusan muka jeung make baju, ripuh. mandina mah teu lila, da puguh cenah di ustrali mah cai teh mahal, jadi mandi teh ulah sangeunahna siga di lembur kuring. terus, mandi teh teu matak betah, cenah toilet teh kudu garing bae. jadi teu bisa tumaninah ngome cai. sawareg-waregna mandi tina shower we. mun kamar mandina teu ngabogaan heater, dijamin beres mandi teh ngudupruk kabulusan. kuring mah rumasa teu kuat ku kabulusan, jadi lolobana wudu ge ganti ku tayamum. teu maksakeun wudu ku cai nyenyep. kuring ngabandingkeun jeung nyenyepna cai di puncak Cianjur, nu 18 darajat, nyabak cai teh matak reuwas, komo ieu nu 8 darajat selsieus.

Thursday, June 26, 2014

Sedikit Mengenai Wiltja

 Wiltja adalah sekolah (singgah) yang memberikan peluang kepada para Aborigin muda untuk bisa masuk ke sekolah menengah di Australia Selatan yang dipimpin oleh seorang kepala sekolah. Menariknya, Wiltja itu sendiri berada di bawah Woodville High School dengan kepala sekolahnya Meredith Edwards dan bertanggung jawab kepada Pitjantjatjara Yankunytjatjara Educational Committee (PYEC). Para siswa Aborigin yang bersekolah di Wiltja berkesempatan untuk mendapatkan sertifikat SACE (South Australian Certificate of Education). Selain itu para siswa mendapatkan materi pelajaran Literacy, yang hanya ada di Woodville High School.

Untuk menjadi siswa Wiltja di Wooville High School, para siswa Aborigin meninggalkan tempat asalnya dan tinggal di asrama (boarding). Alasannya agar mereka dekat ke tempat sekolah dan dengan mudah kontak dengan budaya baru non-lokal. Tujuan didirikannya Wiltja tidak hanya untuk memberikan para siswa kesuksesan akademis namun hal-hal lain yang membuat mereka bisa meningkatkan taraf hidupnya sebagai manusia terdidik (educated person). Mereka tetap diberikan kesempatan belajar bahasa daerah Pitjantjatjara serta pembelajaran yang berkaitan dengan bagaimana mengoptimalkan penggunaan lahan leluhur mereka misalnya melalui pendidikan kejuruan Wisata (Vocational education)

Tahun lalu, sekitar 80 orang siswa Wiltja lulus dari kelas 12 dan mendapatkan sertificat SACE. Menurut salah seorang siswa Wiltja, yang terberat adalah terpisah dari keluarga dan memulai kehidupan baru sebaga warga Adelaide. Mereka menambahkan bahwa sekarang lebih banyak para orang tua yang tidak berkeberatan anak-anaknya bersekolah dan mengejar pendidikan tinggi.

Hal menarik dari Wiltja adalah adanya Hari Maaf (Sorry Day) pada tanggal 25 Mei lalu. Poster untuk merayakan Sorry Day dipasang pada hampir setiap dinding sekolah. Hari Maaf merupakan ekspresi penyesalan kepada para Aborigin yang mengalami masa “Generasi yang hilang” (Stolen generation).

Monday, June 23, 2014

Hail

 “Tomorrow is going to hail” (besok akan hujan es), itu kata seorang penjaga toko ketika saya masuk ke tokonya dengan tubuh menggigil. Cuaca di luar toko terasa sangat ekstrim bagi kulit Indonesia yang hanya mengenal musim hujan dan panas.Kalimat yang diucapkan pemilik toko sepatu UGG terdengar seperti “Tomorrow is going to hell”.

Segera setelah saya membeli beberap suvenir, saya meninggalkan toko, kembali bergabung dengan rombongan. Di dalam bis, tidak terasa terlalu dingin. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Saya turun dari bis, berhenti di King William Street dan berjalan mencari Grenfell Street pemberhentian bis T2 atau U2 agar saya bisa pulang ke rumah induk semang. Sore terasa menakutkan. Angin berhembus sangat kencang, kering, merobek kulit wajah. Saya bersembunyi dibalik tembok bangunan diseberang Rundall Place. saya melihat ada empat orang menunnggu pada bus stop yang sama. hampir 15 menit, bis nomor H32 belum juga datang. Saya akan menuju Hanley Beach Road.

Hampir putus asa menunggu, akhirnya bis datang juga. Jam 5.30, terlihat seperti pukul 7.30 malam di Indonesia, gelap, tidak banyak terlihat orang lalu lalang. Toko-toko telah tutup sejak jam 5 sore. Bis tiba di bus stop no 15 Henley Beach Road, saya turun dan terasa angin lebih kuat menusuk-nusuk pori-pori.

Saya berjalan sekuat dan secepat yang saya mampu. Udara di sini terlalu berat bagi tubuh saya. Saya berusaha menguji kekuatan tubuh, namun tidak mampu. Tubuh dengan tiga lapis baju, tidak mampu membuat tangan dan kaki lepas dari kaku.
jam 8, saya berusaha tidur. Kamar dengan tanpa penghangat ruangan terasa seperti berselimut es. Dingin. Tiba-tiba angin bergemuruh dengan kencangnya. Saya membayangkan pastilah itu hujan. Namun untuk ukuran hujan, terlalu berisik. Hujan ini terlalu riuh rendah menepuk-nepuk jendela seperti melemparkan kerikil-kerikil kecil. Rupanya itulah hail.

Esok harinya ketika saya lewat jalan hendak menuju sekolah, terlihat batang-batang pohon berserakan di sepanjang jalan. Angin dan hail semalam telah membuat dahan-dahan dan ranting-ranting kecil rontok. Air menggenang di pinggir jalan. Pagi terassa dingin dan saya hampir tak kuat menahan dingin. Syal saya tutupkan pada mulut dan sebagian wajah. NAmun angin dingin musim winter Adelaide ini sangat hebat dalam membuat saya berjalan limbung.
Saya coba melindungi diri dengan payung. Rupanya payung pun tidak bayak menolong. Anginnya terlalu kuat, payung hampir terbang, saya beradu tenaga dengan angin. saya putuskan payung yang harus kalah.

Ada sesuatu yang menarik dari winter tanpa salju ini. Untuk melindungi kepala, ada seorang nenek-nenek mengenakan penutup kepala, dilapisi dengan penutup kepala terbuat dari plastik. Sebuah ide kreatif untuk melindungi kepala dari hujan.
Hujan pada winter pun menarik. di Indonesia hujan turun bisa berjam-jam seperti gadis nangis dan merajuk. Di sini hujan datang bersama angin, terlihat butiran-butiran air beterbangan. Kemana arah air itu melaju, terlihat jelas. Hujannya sebentar, anginnya tiada henti.

Bagi mereka yang belum tahu hail. Menikmati hail akan tidak jauh dari hell.

Saturday, June 14, 2014

Dear Miracle (1)

 Dear Miraacle,

Hari ini Mama berangkat menyerahkan map berisi lembaran-lembaran kertas yang menunjukkan bahwa Mama siap mengikuti seleksi Guru Magang ke Austrlia kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur. Dalam map ini Mira akan melihat surat Izin suami, surat izin dari Kepala Sekolah, sertifikat TOEFL dan Esay yang menjelaskan mengapa Mama ingin pergi ke Australia. Mira mungkin merasa bingung mengapa harus ada surat izin suami. Well, untuk yang bersuami, izin pergi menjadi penting karena Mama akan pergi dalam waktu yang agak lama, katanya sekitar 21 hari. Maknanya Mama off berperan sebagai istri selama tiga minggu. Selanjutnya, izin dari kepala sekolah juga penting, karena Mama bekerja sebagai pegawai negeri dan orang yang ditunjuk pemerintah sebagai manajer sekolah adalah principal (kepala sekolah), dengan demikian izin darinya menjadi pernyataan yang menjelaskan kenapa Mama tidak bekerja sebagai pendidik selama 21 hari. Sedangkan TOFL dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa Mama melek Bahasa Inggris. Australia merupakan negara native untuk bahasa Inggris maka peserta magang harus mengusai keterampilan berbahasa Inggris agar dapat berkomunikasi sekaligus mengkomunikasikan semua ide-ide pendidikan yang menjadi tugas Mama.

Mama mendengar bahwa tidak ada seleksi di tingkat Kabupaten dan ini tentu saja menguntungkan karena peluang Mama menjadi besar. Walaupun tidak ada seleksi, Mama tetap merasa khawatir. Kekhawatiran ini didasarkan pada kenyataan bahwa Mama tidak dapat memenuhi persyaratan pertama sebagai calon peserta seleksi, yakni pada 1 Desember 2013 berusia tidak lebih dari 45 tahun. Mira tahu usia Mama kan? Expired. Namun Mama akan mencoba ikut saja, siapa tahu keberuntungan ada di pihak Mama.

Map Mama telah diterima oleh orang disdik, Mama harus menunggu sampai ada pemberitahuan dari disdik provinsi apakah Mama lolos atau tidak.
Wish me luck,
Lots love
Mommy