Monday, September 8, 2025
Pak Zen, mantan KS SMAN 1 Cianjur, wafat
Pembinaan Bulan Séptémber 2025
Thursday, September 4, 2025
SMA Prima Teladan dan SMA IT Baitul Ilmi
Sampah Masih Jadi Masalah
Wednesday, September 3, 2025
Pelatihan Mandiri, Purna Tugas, dan Wafat
Rabu, 3 September 2025
Pagi ini dikejutkan dengan berpulangnya Ibu Nita, pengawas induksi yang kabarnya sakit jantung. Saya belum mengenal almarhumah dengan baik. Semoga almarhumah kembali ke kedamaian dan menemukan kebahagiaan pada kehidupan baru. Kadang saya teringat Ibu saya sendiri. Ibuku menderita luka pada usus sehingga sulit untuk disembuhkan, setiap saat beliau terlihat meringis menahan sakit di dalam tubuhnya yang sudah terlalu lelah menahan derita bertahun-tahun. Dokter dan rumah sakit menyerah untuk mengobatinya. Saat beliau berpulang, dalam hati kecil saya mungkin ibuku menginginkan kematian agar sejenak bisa istirahat dari rasa sakit yang seolah tidak pernah henti. Ibu Nita, entahlah, semoga almarhumah pun dapat sejenak menikmati istirahat dari sakitnya.
Saya mengetahui tentang wafatnya Bu Nita dari WA. Ternyata beritanya ada di grup Pengawas KCD 6, di Grup induksi, dan di grup pengawas Jawa Barat. Saya tidak terlalu memperhatikan isi WA. Saya juga kejam mungkin; saya tidak melakukan salin rekat ucapan innalilahi dan seterusnya yang panjang yang dikopi dari isi WA sebelumnya. Saya berpikir cara seperti itu, tidak menunjukkan ketulusan untuk orang yang mungkin tidak akan pernah lagi ber-WA. Di grup kecil, saya merespon kabar duka tersebut, Lebih karena takut dianggap tidak empati, padahal dalam hati, saya hening dan berdoa sejenak ketika membaca pertama kali beliau wafat.
Saya juga membaca ada pengawas yang purna tugas. Keduanya menandakan 'selesai' Meninggal artinya selesai dengan tugas hidup. Pensiun artinya selesai dengan tugas kedinasan. Selesai memberikan kesan kosong setelah kata itu. Setelah selesai tidak ada lagi ada hal lain yang akan dikerjakan. "Manusia yang baik adalah mereka yang 'selesai' dengan dirinya" begitu kata pepatah, Untuk pepatah ini bukan berarti harus mati, tapi manusia dalam hidupnya harus mampu menunjukkan kemampuan mengelola nafsu dan hasratnya sehingga tidak serba ditabrak demi memenuhi kepuasan hidup.
Hari ini saya merencanakan membuat PPT untuk besok hari memberikan materi kebijakan di SMA Prima Teladan Cugenang. Kepala masih terasa sakit, semoga bukan karena kolesterol. Setelah berobat kemarin, sakit kepala lumayan berkurang, semoga sehat seterusnya. Sambil mengisi waktu karena belum mood membuat PPT, saya mengikuti pelatihan mandiri di Rumah Pendidikan. Materinya tentang penyusunan kurikulum satuan pendidikan tahap berkembang, siap, dan mahir. Tidak terlalu tertangkap pesannya, karena saya mendengarkan paparan sambil mencuci baju yang dilanjutkan dengan memasak snack 'basreng rasa kencur'. Saya juga berinovasi mencoba membuat kudapan dari pepaya muda untuk nanti sore.
Monday, September 1, 2025
Pohon Pinggir Jalan
Senin, 01 Septmeber 2025
Hari ini saya mengantar suami membeli tali tambang untuk pengikat screen house yang selalu kalah diterpa angin. Screen yang terbuat dari plastik berkibar-kibar tersapu angin yang membawa tenaga hebat seolah ingin mengangkat semua plastik termasuk genteng yang digunakan manusia untuk berlindung dari panas dan hujan. Angin luar biasa sepak terjangnya. Sekali sepak dan sekali terjang, manusia sama sekali tidak berdaya. Untuk angin kecil, manusia, seperti suami saya, hanya bisa berupaya dengan membeli tambang yang tahan terkena hujan dan panas, kuat bertahan tahunan, kuat menerima siksaan angin, siksaan sinar matahari, dan siksaan dinginnya malam.
Maaf saya melantur. Intinya, kami berdua memakai motor Vario berangkat ke toko seberang BRI jalan Adi Sucipta, di sana ada toko yang menjual peralatan pancing, tambang, jaring.
Membeli barang yang kuat dengan harga murah, tidak gampang. Harus dihitung untung ruginya. Saya yang biasa belanja tanpa hitung rugi karena yang dibeli hanya tahu, kacang buncis, kentang, harganya segitu-gitu saja, merasa bosan dengan percakapan jual beli yang terdengar absurd untuk saya. Maka saya keluar dari toko.
Hal pertama yang saya lihat adalah pohon yang berbuah merah. Pikiran saya melantur apa pohon ini dikawinkan sehingga berbuah merah? pasalnya di tempat lain, saya menemukan pohon yang sama, tapi berbunga. DI kali lain, saya menemukan pohon ini berbuah keriwil-keriwil seperti belimbing. Pohon ini mengundang keanehan.
Buntu dengan pohon yang bisa berbunga, berbuah bermacam-macam, saya mengamati pinggir jalan. Ternyata sepanjang jalan Adi Sucipta tempat adanya Bank BRI, SMPN 4 Cianjur, Cabang Bank BRI, Toko Sarung, ada pohon yang sengaja ditanam oleh pemerintah. Saya tidak tahu namanya, dan tidak tertarik untuk melihat ke Google Lens apa namanya.
Pohonnya terlihat kuat, bunganya kuning. Warna kuning yang terang. Sangat menarik. Manusia bisa membuat warna dari beragam media, tapi meniru warna kuning persis seperti bagaimana alam menunjukkannya, mungkin tidak semua bisa.
Hari Senin saya mengantar suami, tidak bekerja dong! Tidak, saya menghindari bekerja, hanya untuk hari ini saja. Cianjur sedang dalam suasana tidak aman. Demo dan penjarahan sedang terjadi di mana-mana, begitu kata kabar instagram. Ada yang mengambil barang-barang dari rumah Ibu Sri Mulyani, dari rumahnya Eko Patrio, dari rumah Syahroni -kabarnya jam mahal harganya 11 miliar. Aduh 11 miliar itu segimana ya uangnya? Seumur hidup saya bekerja, sepertinya tidak akan mencapai angka 11 miliar. Saya jadi tertarik ingin jadi anggota DPR juga. Bekerja jadi buruh kecil, sudah cukup, sudah saatnya menjadi wakil buruh dan membantu menolong para buruh. Cuman kalau saya jadi anggota DPR, dari mana biayanya?
Beberapa sekolah tutup, SD Ibu Dewi di sepanjang jalan SIliwangi, semuanya tutup. SMPN 4 juga tutup, tidak ada kegiatan persekolahan yang terlihat. Tentu sangat mencemaskan jika suasana begitu mencekam tapi anak-anak berangkat sekolah yang letaknya tidak jauh dari gedung DPR. Saya lihat di Instagram gedung DPR Cianjur gerbangnya hendak dirobohkan. Semoga tidak ada korban dan kerusuhan tidak berkepanjangan. Ngeri ketika mendengar ada yang terinjak, terpukul, atau terhimpit saat kekacauan terjadi.
Ibarat pohon pinggir jalan Adi Sucipta yang ditanam pemerintah, dia tidak tahu mungkin kalau dirinya dibeli oleh anggaran negara, juga dia tidak tahu jika setiap lembar daun dan kelopak bunganya dibeli oleh pajak rakyat. Bersyukur di Cianjur tidak ada yang marah pada pohon sehingga pohon aman berdiri melindungi jalan, dan mungkin meneduhkan sedikit area di sekitarnya. Saya dengar di beberapa tempat banyak sekali segala sesuatu yang merupakan barang publik, dirusak. termasuk pohon, pot, pagar, bahkan stasiun.
Pohon yang dibeli oleh uang negara, dia tidak menginginkan itu, mugkin. Ketika pohon dirusak, digulingkan potnya, dia juga tidak menginginkan itu, mungkin.
Kegiatan Pengawas
Senin, 1 September, bekerja dari rumah karena ada pengumuman sedang ada demo
1. Memeriksa program pancawaluya SMAN 1 Kadupandak dan membahas tanggung jawab kordinator, guru wali, wali kelas.
3. Berbagi Transformasi Pengelolaan Kinerja KS kepada para pengawas induksi
4. Menerima Laporan pelaksanaan MPLS SMATER
5. Koordinasi dengan pengawas Rosmala perihal kegiatan IHT bersama sebagai tindak lanjut pelaksanaan surat perintah dari kepala KCD 6
6. Koordinasi dengan sekolah swasta perihal tindak lanjut dari darurat demo
7. Mengajukan cuti kedua untuk kuliah S3 dengan alasan kesulitan finansial