Pages

Monday, May 1, 2017

lbuku

Setiap pagi, ibuku menyambutku dari sisi tungku batu (kami menyebutnya Hawu). Ibuku telah bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Biasanya ayahku tidak ada di samping lbuku pada pagi hari. Ayahku, petani, menanam padi dan teh, selalu berangkat ke sawah setelah shalat subuh dan kembali pada pukul 6 untuk menikmati sarapan rebus ubi dengan gula merah dilengkapi air teh hangat yang baru diangkat ibuku dari Hawu. Ibuku dengan khidmat duduk disamping ayahku tanpa bersuara. Mungkin lbuku sangat mengistimewakan waktu yang dapat dilalui bersama ayahku.

Pada siang hari ayahku tidak berada di rumah, aku anggap ayahku bekerja di ladang atau di sawah. Tanpa sepengetahuan otak kanak-kanakku ayahku makan siang bersama istrinya yang lain, bukan dengan lbuku yang selalu khidmat menemaninya minum teh.

Ibuku sangat setia pada mimpinya. Aku pernah bertanya, mengapa lbu bersedia jadi istri kesekian dari ayahku. Jawabnya dengan yakin karena mimpi. Ibu menjelaskan bahwa ketika beliau dijodohkan Bi Halimah kepada ayahku, beliau tidak langsung menerimanya. Beliau meminta waktu untuk mengkonsultasikan jodohnya pada Allahnya.
Pada khusu tahajudnya, lbu berdo'a memohon petunjuk. Ibu bermimpi. Dalam mimpinya beliau sedang berjalan di pematang sawah yang licin. Karena licin, lbu terpeleset dan hampir jatuh, namun ditangkap ayahku, akhirnya lbu selamat dan tidak jatuh ke lumpur sawah.
Itu alamat jodoh menurut versi lbuku. Ibuku bulat hati menerima ayahku dengan tiga anak tiri dan jadi istri kedua.

Cinta lbu kepada ayahku diatas kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Ibu mengabdikan seluruh hidupnya untuk membahagiakan lelaki yang menyelamatkan dirinya dalam mimpi. Ketika ayahku mengambil istri yang ketiga saat aku masih menyusu pada lbuku. Ibuku menerima itu sebagai bagian dari penyempurna pengabdian cintanya pada ayahku.

Aku selalu menyalahkan diriku sebagai penyebab ayahku mengambil istri ketiga. Alasan terbaiknya adalah, setelah aku lahir, belum genap dua tahun, ayahku lebih banyak menghabiskan hari-harinya tidak bersama lbuku. Setahun kemudian, ayahku menyambut haru anak pertama dari istri ketiganya. Perempuan, cantik, dinamai Zulaesih.

Alasan lainnya, ayahku kecewa karena aku tidak secantik Kakak Zulaiha, anak perempuan pertama ayahku dari istrinya yang pertama. Aku tidak juga secantik adik-adik perempuan dari istri ayahku yang ketiga. Adik pertama perempuanku, Zulaesih bermata bulat, rambutnya hitam, dan kulitnya kuning langsat. Adik kedua Zuansih, berbadan ramping, suaranya selembut gemericik Curug Siloar ketika butiran air terjunnya berdesir tertiup angin. Adik ketigaku, Zuhroyah, seorang periang, dan tingkah lakunya selalu terlihat lucu dan membuat semua orang gemas kepadanya.

Ibu pernah bercerita bahwa ketika beliau mengandungku, ayahku ikut berburu Begu (sejenis Babi liar) yang menyerang tanaman singkong. Ayahku menyambit Begu yang menyeruduk kearahnya. Sambitan parangnya mengenai telinga Begu sampai putus. Dan aku lahir tanpa daun telinga sebelah. Ayahku kurang gembira menerima hadirku. Beliau seolah enggan menyimak wejangan Ajengan Nu'man yang menyabarkan ayahku dengan berkata, 'Anakmu membawa ciri dari 'azali, membawa tanda dari bawaan, bukan karma atas perbuatan duniamu.' Ayahku selalu menghindar bersitatap denganku. Mungkin beliau menyamakanku dengan Begu yang akan membahayakan nyawanya.
Atau mungkin beliau merasa dikejar dosa telah menyakiti hewan dan perasaan bersalah itu seolah kembali diingatkan ketika melihatku. Entahlah.

Sunday, April 30, 2017

Aku Wanita

 

Berani mengaku diri sebagai wanita untuk diriku sendiri, bukanlah perkara sederhana. Pengakuan secara genital mempengaruhi bagaimana kubersikap kepada diriku sendiri dan bagaimana memperlakukan diriku di depan orang diuar diriku.

Pengakuan diri sebagai wanita, bagiku, melalui proses yang tidak sebentar. Semula aku selalu menganggap bahwa aku, salah satu anak dari ibu kandungku, sama saja dengan saudaraku.

Ibuku memperlakukanku tiada beda diantara kami berempat. Masih kuingat ketika aku menerima baju tidur yang sama dengan saudaraku. Ketika hendak tidur kami memakai baju dengan warna dan model yang sama. Rasanya sangat menyenangkan  pada saat kami bisa bercengkrama dalam keluarga tanpa memperhitungkan jenis kelamin. Aku menyukai diriku yang menjadi bagian dari empat bersaudara dalam keluarga kecilku.

Aku mempersoalkan keluarga, bukan jenis kelamin. Aku memiliki keluarga kecil dan keluarga besar. Keluarga kecil adalah aku, ibuku, dan saudara-saudara seibuku. Keluarga besar adalah keluarga kecilku ditambah ayah, dua ibu tiri, dan empat orang saudara perempuan tiri, serta tiga orang saudara lelaki tiri.

Aku, menjadi bukan siapa-siapa bagi ayahku yang memiliki empat orang anak wanita, dan memiliki tiga wanita pendamping hidup. Aku, bukan anak wanita yang diharapkan ayahku, aku tidak pernah ditegur atau disapa ayahku. Aku tidak menyukai diriku dilihat dari sisi ayahku. Aku tidak mengetahui jika aku wanita. Aku hanya tahu bahwa ayahku tidak menyukai diriku. Itu saja.

Ketika aku masuk sekolah dasar, barulah aku mengetahui bahwa aku digolongkan ke barisan anak wanita. Aku diminta berganti baju. Berganti baju artinya berganti pula permainan yang harus aku ikuti. Bagiku, yang anak kampong, bermain tanah merah dan membuatnya menjadi mobil-mobilan bersama teman-temanku sambil memperhatikan domba-domba yang kami jaga, adalah kesenangan tersendiri.  Aku selalu sangat pandai membuat mobil ‘Bayawak’. Sebutan untuk miniatur mobil Chevrolet yang aku tumpangi ketika ke kota.

Sejak aku masuk sekolah dasar, dan berganti baju. Perlahan-lahan aku kehilangan teman sepermainanku. Mereka tidak bersedia menerimaku mandi di Rawa Hideung bersama kerbau-kerbau merah mereka. Mereka menyuruhku agar bermain bersama jenisku. Membuat boneka dari kelopak bunga pisang dan menghiasinya dengan bunga Harendong, bukan keahlianku. Aku merasa sepi karena aku berganti baju.

Menjadi wanita, tidak terlalu aku sukai. Bukan karena wanitanya, tapi karena efek sebutannya. Ketika aku diketahui menstruasi pertama, ayahku dengan serta merta menghentikan sekolahku. Beliau dengan tegas berkata bahwa tugasnya sebagai ayah untuk memberi nama, membesarkan, dan mendidik telah khatam. Kini tugas selanjutnya adalah menikahkanku, dan ayah serius dengan hal itu.

Aku tak paham menikah. Aku tak paham kenapa harus mengikuti semua kata ayah. Kata ibuku, ayah harus selalu diutamakan. Pada saat makan, ayah makan terlebih dahulu, ibuku makan sisa ayah. Ibu berkata, ‘ pada sisa makanan ayah ada berkah.’

Aku tak paham berkah. Menikah dengan guru sekolah dasarku sendiri yang telah duda, itu berkah kata ibuku. Berkah dari ayahku. Untuk aku, anak wanita.

Wednesday, April 26, 2017

Literasi dalam Pembelajaran

 Hal menarik dari kegiatan mendampingi guru adalah para nara sumber yang memberikan wawasan tambahan kepada para guru. Nara sumber adalah para pemikir yang sangat peduli pendidikan Indonesia. Ambil contoh, Ibu Pangesti Wiedarti. Beliau penggagas literasi yang mengharapkan peserta didik di Indonesia tanpa kecuali menjadi warga negara dan warga dunia yang literat. Beliau menawarkan cara literasi melalui pembiasaan terlebih dahulu. Secara teratur, peserta didik dan pendidik menghabiskan waktu 15 menit setiap hari untuk membangun kebiasaan membaca. Selanjutnya setelah terbangun kebiasaan. Selanjutnya masuk tahap literasi dalam pembelajaran.

Literasi dalam pembelajaran tentu memiliki strategi. Terdapat dua strategi pokok yakni: 1) strategi pemahaman wacana/teks dan 2) kompetensi representasi multimoda. Mencapai kedua hal tersebut tentulah memerlukan kerja keras semua warga sekolah, terutama dari pendidik. Pada saat mengajar, pendidik menguraikan literasi kedalam tiga bagian penting yakni: 1) sebelum membaca, 2) ketika membaca dan 3) setelah membaca (Wiedarti, 2017).

Pada pengajaran berbahasa strategi pemahaman teks dibagi kedalam sebelum, selama, dan setelah membaca. Misalnya, pada tahap sebelum membaca, peserta didik diajak untuk menebak apa topik bacaan yang akan dibahas. Atau misalnya dengan meminta peserta didik menyebutkan tujuan membaca sebuah teks.

Selanjutnya, pada tahapan saat membaca, penting bagi peserta didik untuk dapat menunjukkan pemahaman terhadap bacaan/teks dengan cara menjelaskan informasi rinci/tersurat/tersirat dari teka yang sedang dibacanya. Cara lain adalah dengan memvisualisasikan isi bacaan. Penggunaan mind map dan concept map sebagai representasi pemahaman isi  bacaan dapat digunakan sebagai alternative visualisasi pemahaman. Menggali apakah peserta didik memahami membaca dapat pula diuji dengan meminta mereka menunjukkan inferensi bacaan atau menunjukkan keterkaitan isi bacaan (lihat teori Rheme-Theme yang diajukan Halliday).

Pada tahap setelah membaca, pendidik dapat mengetahui sejauh mana peserta didik memahami bacaan dengan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk membuat ringkasan, mengevaluasi teks dan mengkonfirmasi, merevisi, atau menolak prediksi.

Pertanyaannya, apakah mungkin guru melakukan semua hal di atas?

Jika ditanya mungkin, jawabannya sangat mungkin. Pengajar bahasa asing (juga bahasa Ibu, dan Bahasa Nasional) sesungguhnya telah melakukan hal yang disebutkan di atas. Mengapa seolah terasa membingungkan? Masalahnya, istilah. Pemberian nama pada sebuah aktivitas, bagi sebagian guru bisa saja menimbulkan kebingungan. Kita lihat secara lebih dekat mengapa para guru pengajar bahasa telah menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran.

Ketika seorang guru bahasa Inggris misalnya akan memberikan pengalaman belajar menyusun teks biografi orang terkenal. Dia memulainya dengan memberi foto-foto orang terkenal secara nasional dan internasional pada berbagai bidang. Dia menanyakan siapa mereka, apa keberhasilan mereka, pada bidang apa mereka berkiprah. Peserta didik menjawab bahwa mereka mengenal sebagian dari tokoh-tokoh nasional dan internasional yang ditanyakan. Setelah itu guru menanyakan kira-kira apa pelajaran hari ini yang akan dibahas, peserta  didik tanpa ragu menjawab orang terkenal, orang hebat, atau jawaban sejenis.

Ketika peserta didik menjawab orang keren, penyanyi idolaku, atau inspirasiku, mereka telah melakukan prediksi. Mereka memperkirakan bahwa yang akan mereka pelajari berdasarkan stimulus berupa foto yang mereka lihat.

Bagimana pada saat membaca?

Apakah ketiga cara ini bisa diterima? Ahli literasi lain, menyatakan tidak setuju. Bahasan ketidaksetujuannya ditulis pada entri blog selanjutnya.

(to be continued) silahkan beri komentar dan pertanyaan (jika perlu) agar tulisan ini berfungsi

Tuesday, April 11, 2017

Lathan daily note

Latihan Hrgrr. Rkdjbd. Jdjdbvd Bdjdjhd. Jdjdbbrv3 rnrkidhe r nroj r dkkbd dndkrb djdutxvuxh gid8dvv djdidv dhididjbbr. Jdoodjbbf. Kododb. Nkobb f. Hiishsvs. JiidbsHijshs. .

Sunday, April 2, 2017

Nyi Cicah Milu Reuni Alumni Adelaide

Ti saprak salakina loba di nu ngora, sagala kagiatan jeung kabutuhan leuwih loba di tekel ku sorangan. Manehna teu bisa kumaha da geus pilihan manehna yen rek hirup rumah tangga jeung lalaki pilihanna.

Sababaraha waktu kaliwat manehna meunang ondangan kudu ngumpul cenah di Dinas Provinsi anu baheula ngabiayaan manehna waktu aya kagiatan mekarkeun profesi di luar negri. Najan teu pati purun indit, da puguh poe pere, jeung karunya ka anakna nu ngan sorangan bae di imah bari ukur ditinggalan duit 15 rewu keur meuli deungeun sangu. Manehna maksakeun indit, era ku pamarentah nu geus mere biaya jeung kasempetan pikeun manehna nincak nagara Ustrali.
Padahal manehna teu boga duit. Aya duit, di irit-irit pisan pikeun nyukupkeun manehna dahar katut ngabiayaan anakna. Ngaluarkeun duit pangaji 150 rebu pikeun milu acara alumni karasa beuratna. Duit sakitu, mahi keur dahat tilu poe keur manehna mah.

Rebun-rebun manehna geus ngajengjen sisi jalan, nungguan beus. Lur lar liwat mobil pribadi, manehna ukur bisa ngagerentes dina jero hatena susuganan aya nu haat ngajak. Tapi pimanaeun jaman ayeuna aya jalma nu balabah daek tuwur tawar ngajak milu kana mobil pribadi. Manehna ngagebes lamunanna sorangan. Ras inget ka babaturanna nu ceuk manehna mah geus loba dibere kahadean ku manehna, malah aya kajadian anu manehna nandonkeun konditeu manehna demi ngabelaan eta babaturanna. Hanjakal pisan, kahadean manehna teu kaambeu. Tungtungna basa manehna balaka rek milu kana mobil babaturanna, eta babaturanna nolak kalawan eces nyebutkeun moal bisa mawa tumpangan alatan cenah inditna rek jeung kulawargana.
Ras deui bae manehna kana omongan babaturanna nu lain. Babaturanna boga mobil anyar, nulis dina Facebook yen gara-gara aya nu numpang, acara jadi teu asik cenah. Nyi Cicah sadar, kudu ngusap dada, narima kana bagja awak, naek beus bae bari teu ngarasula najan hatena mah gudawang. Nalangsa ku nasibna, bet kacida suena.

Ampir satengah jam leuwih karak beus MGI anu biasa manehna naek liwat. Clak, langsung diuk. Beus MGI cocok jeung manehna lantaran beusna ngalarang penumpangna ngaroko. Diuk di baris kaopat, gigireunna geus aya lalaki tengah tuwuh sare ngageubra. Beus terus laju. Pikiranna oge laju ngabayangkeun kumaha mun pas balik hujan gede. Renced pisan karasana make beus, ditambah naek turun angkot. Manehna ukur bisa ngadu'a bisa kabeuli mobil ngarah teu kudu kahujanan , kapanasan, kaanginan ari iinditan. Manehna sok ngabandingkeun sakapeung mah jeung babaturanna anu sapagawéan. Babaturanna kabeuli mobil padahal lamun ningali beban gawena, jauh leuwih enteng ti manehna. Contona bae, balik gawe jam opat sore, manehna ukur cicing sakeudeung , terus gawe deui nepika jam10 atawa jam 12 peuting. Tapi buruhna, anger we ngan mahi keur dahar jeung ngabiayaan anakna.

Teu karasa, beus ngadudud maju nganteurkeun lamunan Nyi Cicah boga duit jeung mampuh meuli mobil. Teu kuat ngalawan kaleuseuh bangbaluh hirup, clak clak cimatana rag-rag. Manehna reuwas, geus lila manehna teu bisa ceurik. Lir ibarat sumur, geus garing, manehna geus teu bisa ngucurkeun cipanon. Manehna tilem kana pikiranna sorangan, tungtungna sare. Hudang-hudang basa karasa puhu leungeunna nyeri kacida. AC beus gede pisan, manehna teu kuat ku hawa tiis nu ekstrim. Leungeunna sababaraha poe ieu karasa nyeri, sigana tina loba teuing angkat jungjung, jeung ngored buruan imahna nu geus ngajembrung. Manehna ngaluarkeun botol wadah nginum, terus nginum ngubaran tikorona nu karasa nyeri geus garing. Manehna sadar, nu karasa dina tikorona akibat manehna kurang sare.

Di terminal manehna turun terus naek deui kana Elp. Nungguan lila, karak Elpna berangkat. Nepi kanu dituju, geus telat dua jam. Tapi manehna asup bae. Terus lungak longok neangan korsi kosong. Teu katempo aya babaturanna nu manehn wawuh. Manehna diuk we di hareup nu kosong keneh.

Wednesday, March 22, 2017

Buku masih barang mewah

Dalam satu minggu ini, saya kedatangan beberapa lbu-lbu orang tua siswa SMP. Mereka datang dengan tujuan yang sama: meminjam buku bacaan non pelajaran berbahasa Sunda.

Kedatangan mereka untuk kembali pulang dengan tangan hampa. Beberapa buku berbahasa Sunda yang saya miliki telah dipinjam pada minggu sebelumnya, juga, oleh siswa-siswa SMP.

Saya mengetahui bahwa ada Gerakan Literasi Sekolah yang sedang digulirkan di Indonesia (termasuk Jawa Barat: West Java Reading Challenge) sebagai upaya menyiapkan generasi muda menjadi individu literat. Yang mampu mengkaji informasi dari berbagai sumber (teks, gambar, dan layar/screen) secara bijak. Sebagai permulaan, literasi dasar dipraktekan sebagai kegiatan membaca buku non pelajaran dalam kurun waktu tertentu secara rutin dan dipantau oleh guru.

Para siswa bersedia membaca dengan kondisi seolah terpaksa di awal kegiatan. Mereka, mungkin belum menemukan bahwa buku adalah jendela yang dapat membantunya berjelajah secara imajinatif. Para siswa juga, mungkin menganggap bahwa membaca adalah pemenuhan tugas dari guru. Bukan untuk menjadikan dirinya sebagai orang berbeda secara pengetahuan sebagai hasil dari membaca.

Buku dalam bentuk cetak (printed) ataupun digital dalam bahasa Indonesia (apalagi berbahasa Sunda) sama sulitnya untuk dapat diakses pembelajar.

Buku dalam bentuk cetak berperan penting dalam membangun keintiman pembaca dengan buku. Saat tangan membuka bungkus buku dan mencium bau khas kertas baru, sensasi ini hanya dialami pembaca ketika bersentuhan langsung dengan kertas.

Tidak semua anak Indonesia mengalami sensasi di atas. Kebanyakan mereka mengenal buku pada saat diberi setumpuk buku paket pelajaran di kelas satu SD. Buku paket terasa mahal karena biasanya uang tidak dikeluarkan untuk membeli kertas. Sebagian orang tua hanya membelikan buku pada saat anaknya sekolah, dan hampir tidak pernah menyarankan menabung sedikit dari uang saku anaknya untuk membeli buku non pelajaran.
Orang tua seperti ini tidak bisa disalahkan. Harga buku masih mahal. Harga buku tidak senilai harga semangkuk Bakso atau Mi Ayam.
Oleh karenanya tidak heran jika di rumah-rumah orang Indonesia lazimnya tanpa perpustakaan keluarga.

Mahalnya harga buku disempurnakan dengan semakin sedikitnya waktu untuk membaca. Zaman ini, yang katanya milik generasi Z, anak-anak telah terlebih dahulu akrab dengan gawai, bukan dengan buku.
Waktu untuk membaca menjadi langka. Menjadi pemandangan mewah jika melihat anak atau orang dewasa asik membaca.

Sekalipun buku dan waktu untuk membaca buku terasa tinggi bayarannya, semoga saja, semangat lbu-lbu yang bersedia meminjam dan mencarikan anaknya buku, memberikan sedikit sumbangan bagi bangkitnya semangat membaca di kalangan anak-anak.

Tuesday, March 14, 2017

Transformasi Guru

 enaga Pendidik, tanpa henti dikritik. Guru, khususnya diasumsikan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap maju dan/atau mundurnya pendidikan. Upaya berbagai pihak untuk memajukan pendidikan yang tengah dijalankan seperti memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan; penyediaan standar kompetensi lulusan dan kurikulum nasional untuk memandu guru merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pemberian pengalaman belajar kepada peserta didiknya. Upaya-upaya tersebut  belum menunjukkan hasil,  akibatnya kritikan tidak berkurang. Dari hasil penelitian dan uji kompetensi masih ditemukan guru berkinerja rendah, tidak efektif, tidak inovatif, atau tidak berubah sesuai zaman. Padahal pengawasan sudah cukup ketat, dan guru bersertifikat telah meningkat. Kondisi ini seolah mengisyaratkan bahwa guru secara sadar harus melakukan ‘kajian terhadap dirinya dirinya sendiri secara mandiri’ (self-study)  menyoal apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan dalam upayanya untuk meningkatkan layanan pendidikan.

Terdapat beberapa pilihan cara untuk melakukan ‘kajian terhadap tindakan sendiri’ atau self-study yang dapat dilakukan guru sehingga nantinya lahir pembaharuan personal, pengembangan diri, dan pembaharuan layanan pendidikan. Cara pertama adalah dengan melakukan kajian terhadap catatan harian yang dibuat guru. Jurnal guru merupakan bukti-tekstual mengenai cara pandang guru terhadap apa yang telah dilakukannya pada hari dia mengajar. Catatan harian guru menjadi artefak yang dapat dikaji dan diteliti oleh guru. Dari artefak tersebut dia dapat menelusuri metode, strategi, pendekatan mengajar yang telah diaplikasikannya; dia dapat mengumpulkan data bagaimana cara dia menyelesaikan masalah dalam menghadapi peserta didik atau masalah kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, dia dapat melakukan perbaikan pemberian pengalaman belajar bedasarkan bukti-bukti pada artefak yang dibuatnya.

Cara kedua, untuk melakukan transformasi, guru dapat mengkaji asumsi dirinya terhadap mengajar sehingga pada akhirnya mengubah cara mengajarnya. Dalam hal ini, guru dituntut untuk menghubungkan metakognitif-nya dengan persepsi-nya. Metakognisi yang dimaksud pada tulisan ini adalah cara guru melihat bagaimana dirinya menjadi pembelajar profesional, dan persepsi adalah bagaimana guru mengidentifikasi perubahan serta menanggapi cara dia melihat dirinya sebagai guru. Cara ini serupa dengan melakukan refleksi sambil tetap mengajar. Secara hati-hati guru mempelajari perkembangan dirinya sebagai guru, kemudian mengidentifikasi evolusi asumsi dirinya mengenai cara mengajarnya dan menghubungkannya dengan perubahan-perubahan pada cara mengajarnya dari waktu ke waktu.

Cara lainnya adalah melalui melihat bagaimana guru lain mengajar. Melalui observasi dan memperhatikan bagaimana rekan guru lainnya memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik, cara  pandang dan praktik mengajar guru akan berubah. Serta lewat kajian bagaimana orang lain mendidik, guru dapat melihat kontradiksi antara teori dengan praktik, melihat manajemen kelas, melihat ketidakberhasilan atau keberhasilan suatu metode, dan melihat upaya-upaya praktis persoalan peserta didik yang berbasis-masalah. Cara ini nantinya membantu guru untuk mengapresiasi pentingnya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memiliki waktu bereksplorasi, menemukan sendiri cara belajarnya,  dan secara perseorangan mengetahui bagaimana dirinya harus belajar.

Self-study merupakan upaya yang harus dicoba oleh guru agar terjadi transformasi mengajar dan pembaharuan dalam pemberian layanan pendidikan. Upaya self-study manapun yang dilakukan oleh guru, akan menjadi harapan penangkal kritik terhadap kinerja guru yang selama ini dipandang belum optimal.