Pada sebuah wawancara profesor bagus Mulyadi mengatakan bahwa dia ahli pada bidang lahan gambut. Penelitiannya juga berkisar mengenai bagaimana pengelolaan lahan gambut dan bagaimana mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut.
Beliau berbicara mengenai bagaimana dia membantu Skotlandia untuk bisa mengelola kebakaran sebelum terjadi.
Ironi yang terjadi adalah beliau menyatakan sendiri, saya membantu Skotlandia menangani masalah lahan gambut tetapi saya sendiri tidak berdaya ketika berbicara lahan gambut terbakar yang terjadi di Indonesia.
Tentu saja ini sangat melukai perasaan beliau yang ahli pada bidang itu namun tidak dapat melakukan apa-apa karena banyak faktor.
Salah satu faktor terberat yang menyebabkan berat bagi beliau untuk melakukan tindakan adalah karena lahan gambut yang terbakar itu bukan karena terbakar melainkan dibakar sehingga untuk menanganinya tentu lain dengan yang periodility. Karena kondisi dibakar tidak alami sedangkan beliau melakukan penelitian berdasarkan kondisi natural yang terjadi di alam bukan karena terganggu dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kondisi kebakaran. Ironi ini tentu juga membuat profesor bagus merasa terluka sekaligus juga frustasi karena bisa saja orang menuding ke wajahnya bahwa kamu berbicara mengenai peatland atau lahan gambut tetapi kamu sendiri tidak bisa menyelamatkan negerimu yang habis di lalap api.
Kemudian saya menengok kepada diri saya sendiri. Ada ironi di dalamnya. Di luar Saya berbicara mengenai pentingnya pendidikan, bawa pendidikan itu mampu mengubah nasib manusia menjadi lebih baik karena keterdikannya. Di sisi lain Saya tidak mempan membicarakan pendidikan kepada anak saya sendiri yang saat ini menolak untuk mengikuti pendidikan secara formal.
Kata ironi itu baik bagi profesor bagus Mulyadi, ataupun bagi saya, sama-sama membuat frustasi dan merasa tidak berdaya untuk mengubah kondisi unwanted.
No comments:
Post a Comment