Pages

Wednesday, September 16, 2015

Brain, Teacher, and Curriculum

 Our mind is like a black box. It is said so as we do not know what is in there. To understand what our brain do, we ask the help of psychologist. Psychologists do not  recognize the work of our brain easily, so they try to do analogy. For example, Pavlov, he tried to see human brain’s work by making experiment on a dog. From his experiment, people then see that there Stimulus-Response relation. Other expert makes experiment on Chimpanzee. The results of those experts open a little understanding on the work of brain.

Then, expert found out that environment plays a vital role for our brain. They said ‘mind is in society”. Mind is conditioned by the environment.  This implicitly acknowledged that each of us has capacity to be what we want as long as we are put in the right environment. In school’s context this means that every student is good seed, teacher becomes a person who nurture the seed. The good seed will not grow or even die if the teacher does not provide good environment for learning.

A professional teacher should cause the students to experience learning. Since the heart of education is learning. To do so, teacher should apply curriculum because any curriculum is product of accomplished mind. Curriculum is developed by innovator who are small in number. Then it will be adopted by early adopters like people who are in charge in education and later used by early majority such as teacher. As the distance from the innovators to teachers are quite long, sometimes the innovator said “quay” and distortion occurs it becomes “key”. Those words are different in meaning and fatal if it happens in the educational world. Teacher may lead the students to a wrong end as distortion had happened.

Saturday, September 12, 2015

Pendaftaran

 Ketika membaca pengumuman yang ditempel di ruang guru tentang adanya pendaftaran calon guru magang di Australia, dan setelah membaca persyaratan yang diurutkan, hal yang pertama muncul dalam kepala saya adalah pesimis diikuti kata ‘not a chance’. Dengan jelas tertulis bahwa calon peserta disyaratkan berusia 45 tahun pada tanggal 23 Desember 2013, sedangkan saya terlahir tahun 1968. Pendaftaran pun diacuhkan.

Perasaan kecewa karena expired (umurnya ketuaan) membuat saya membicarakan hal ini dengan suami, Yankie. Diluar dugaan Yankie menyarankan agar pede dan mengikuti pendaftaran. Dia mengatakan dengan yakin bahwa belum tentu sarat usia ini diaplikasikan jika pendaftar tidak memenuhi kuota. Akhirnya, dengan segala keberanian, saya mulai berbenah diri untuk mengikuti pendaftaran. Saya mulai memikirkan essay yang harus dilampirkan pada saat menyerahkan pendaftaran.

Dalam pandangan saya, essay ini harus sempurna, harus menunjukkan kesungguhan, harus menggambarkan bahwa saya benar-benar serius ingin mengikuti magang, dan harus menunjukkan bahwa saya bisa berbahasa Inggris sesuai dengan angka yang ditunjukkan pada sertifikat TOEFL. Tekanan untuk membuat essay 500 kata dengan muatan di atas, membuat saya tidak menulis sepatah kata pun. Masa untuk menyerahkan pendaftaran semakin dekat. Kekhawatiran saya terlalu besar. Pertama, saya merasa bahwa saya sudah expire dan tidak akan bisa diterima sebagai salah satu peserta. Kedua, saya memenuhi persyaratan lain hanya dengan seadanya. Ketiga, saya merasa yakin bahwa banyak kandidat kuat yang akan membuat saya tersingkir.

Memikirkan essay tidak sama maknanya dengan menulis essay. Dengan kata lain, melamunkan essay tidak menghasilkan tulisan dalam bentuk essay. Oleh karenanya segera saya membuka majalah lama: Time, majalah berbahasa Inggris yang mungkin memberikan inspirasi. Australia masih terdengar asing bagi saya. Tidak banyak pengetahuan saya mengenai Negara ini.
Saya mulai membaca Time. Banyak informasi yang dapat gali diantaranya Australia disebut pula the Lucky Country. Namun ada pula penulis yang menyebutnya Down Under. Selain itu saya pun menemukan artikel yang membuka sejarah kelam pendudukan Australia. Secara berani penulis memberi judul The Stolen Generation. Sedangkan keindahan Australia diwakili dengan artikel yang menyuguhkan The Great Barrier Reef.

Setelah menemukan banyak tentang Australa, essay pun dibuat. Dalam benak saya, essaylah yang akan menyelematkan saya dan menyebabkan saya diterima. Pada essay saya masukkan kata The Lucky Country dan Down Under untuk menunjukkan bahwa saya sedikit kenal dengan Australia. Saya pun menuliskan bahwa saya sangat ingin melihat bagaimana pengajaran bahasa berbasis-teks dilaksanakan di Negara yang dikiblati Indonesia untuk Genre-Based Aproach. Saya membayangkan apakah Systemic Functional Grammar dari M.A.K Halliday benar-benar ada dalam kelas. Apakah saya akan mendengar kata tone, mode, field, register, behavioural process, mental process, dan sederetan peristilahan lainnya yang berkaitan dengan teks seperti argumentative text, analytical exposition, hortatory exposition ketika saya mengobservasi kelas.
Pada akhirnya, essay yang saya anggap mewakili pikiran saya tertuang seperti di bawah ini:
Why I Want to Study in Australia
By Badriah
SMA Negeri 2 Cianjur, West Java

Genre-Based Approach (GBA) has been applied in Indonesia in teaching English as a foreign language since 2008. In 2010, I was admitted to post-graduate program in the teaching of English at Bandung’s Education University of Indonesia (UPI). I was lucky that I was involved in organizing Seminar on the Genre-Based Approach on 10- 12 June 2012 and on October 14-15, 2012. The seminar was jointly organized by UPI as a host and Sydney University and Australian Catholic University. I met and worked with two experts from Down Under who have successfully developed the GBA. Jim Martin has written the books entitled ‘Genre Relation’ and ‘Learning to Write, Reading to Learn: Genre, Knowledge, and Pedagogy in the Sydney school’. Another expert I met was Frances Christie, Emeritus Professor of Language and Literacy Education, University of Melbourne and Honorary Professor of Education and Linguistics, University of Sydney. I had been indebted to both of them for my rich knowledge and skills in the GBA.
It will be good to come to the country of origin of the GBA and have a reunion with both great teachers. Besides, I will be able to see first-hand how the GBA is organized and applied in Australian schools. I will use every available and possible means to learn this approach as much as I can. Coming to study in an English-speaking country such as Australia is a dream and a must as well for a teacher of English language who is interested in developing and advancing the teaching of English to the best possible result as myself.
Upon my return to Indonesia, I will try to do my best in disseminating what I have learned during my stay and study Down Under in my capacity as the chairperson of the English section of Musyawarah Guru Mata Pelajaran (Deliberation of School Subject Teachers). The organization I lead consists of English teachers from 35 Senior High Schools in the Regency of Cianjur, West Java. Those schools have been trying to familiarize the students with the GBA to some extent. In this approach, students are introduced to various texts in order for them to be ready for studying through many kind of texts they will be faced with in college.
How I disseminate my knowledge of the GBA will be done in such a way that all my fellow English teachers in Cianjur gain sufficient knowledge in order for them to successfully implement the GBA in their school which measure up to the expectations. The organizing of the activities of our teachers’ association is under the auspices of the Musayawarah Kerja Kepala Sekolah (Joint Deliberation of School Principals) and Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (Board for Quality Assurance of Education). Both institutions are responsible for funding and the legality of all the activities related to the organization that I chair.

Dengan izin, berkat dan doa Yankie, Miracle, dan Excel, saya serahkan pendaftaran kepada pihak Dinas Pendidikan Cianjur. Setelah penyerahan pendaftaran, saya serahkan kepada Allah. Jika DIA berkenan maka saya akan menerima pemberitahuan jika saya diterima. Saya pun memberitahukan kepada Ibu dan Ayah saya lewat doa bahwa saya meminta izin mereka untuk mengenal Negara asing. Semasa mereka hidup, mereka pernah berkelakar bahwa suatu saat saya akan bisa ke Australia. Kata Ayah, ”Kamu bisa ke Australia, kamu berenang saja”. Mereka tidak sempat menyaksikan bahwa kelakar mereka pada tahun 2014 menjadi kenyataan, dan saya tidak harus berenang untuk sampai ke sana.

Tuesday, August 18, 2015

Anjing Shalat

 Dua rumaja guntreng ngobrol.

A: “Njing, geus magrib ning, urang mah rek solat.”

B: “Emang, sia wae nu sok solat Njing, dewek oge osok. Hayu ah urang bareng Njing ka masigit.”

A: “Hayu, saha imamna Njing?”

B: “Didinya we Njing.”

A: “Heg lah Njing. Eh..Njing, rek solat mah kudu wudu heula, hayu Njing urang wudu.”

A ngimamanan solat magrib, aya sababaraha urang nu lain nu gabung milu ngama’mum ka manehna. A solat kalayan khusu, manehna maca surah Al-Fatihah kalayan rineh. Sarengse maca Fatihah, sanggeus ngucapekun walad’doooliiinnn. Ma’mum reang ngajawab,’aaaamiiiiiiin.’

A ngalieuk, pok ngomong, “Anjing Kompak!!!!”

Si B keuheul kacida, apan dina solat mah ulah ngomen. Dina hatena manehna ngagerentes, “ Keun siah mun maca Fatihah dina roka’at kadua, ku aing moal diaminan.”

A nuluykeun raka’at. Sarengse maca Fatihah, manehna rada ngajenghok lantaran taya nu ngaminkeun. Manehna galecok dina hatena, “Keun siah, tadi jempe wae, teu ngaminkeun, ku aing engke mun takbir moal ditarikkeun”.

Solat geus asup kana sujud pangahirna, A cengkat tina sujud, tapi teu nyebut Allohu akbar di tarikkeun sakumaha biasana pikeun ngabejaan pindah gerak solat. A tahiyat ahir dina hatena, terus aweh salam, leos bae indit.

Ari si B jeung ma’mun liana nungguan kode ti imam, tapi teu aya wae. Ahirna B cengkat, bari tumanya, naha bet lila-lila teuing sujud teh. Barang manehna cengkat terus nempo ka hareup, sihoreng si A, imamna, geus teu aya di tempatna. Manehna semu keuheul ngagorowok: “Anjing euweuh supiran…!!!!!!!”

Answer these questions

  1. What is the story about?
  2. What will you do if you are A?
  3. What will you do if you are B?
  4. What lesson you get from the story above?

Wednesday, July 29, 2015

Hari Ke-1

 Pertemuan pertama (28 Juli 2015)

Kata ‘pertama’ selalu menarik untuk dibahas. Demikian pula kata pertama bagi saya dalam peran sebagai wali kelas: kelas Sosial. Dalam pengalaman menjadi guru selama 18 tahun, inilah kali pertama saya mendapat tugas sebagai orang tua di sekolah bagi kelas 12 Ilmu Sosial 4.

Seperti umumnya, siswa yang berada pada kelas sosial dianggap golongan kedua setelah siswa kelas Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sesungguhnya tidak demikian untuk siswa yang menggunakan Kuikulum 2013 mengingat siswa kelas Soaial banyak mengambil materi ajar Lintas Minat yang memungkinkan siswa tersebut mendapatkan materi ajar yang sama dengan siswa IPA.

Saya mendapat ucapan selamat dari rekan sekerja atas penunjukkan sebagai wali kelas sosial 4. Ucapan ini dapat dimakanai positif dan negatif. Seorang teman secara langsung berkata, ‘sesekali cobalah menikmati bagaimana rasanya menjadi wali kelas sosial dan mengajar kelas sosial’. Teman lainnya berkelakar, ‘tumben nih jadi wali kelas sosial’. Saya akan meninggalkan komentar rekan sekerja. Di bawah ini akan saya paparkan apa yang saya lakukan pada pertemuan pertama dengan siswa sosial 4.

Bersitatap dengan siswa sosial 4 di ruang kelas sosial 4, saya tidak merasakan perbedaan mencolok seolah ‘inilah kelas sosial’. Bahkan, terlihat lebih menarik. Jumlah siswa hanya 33 orang. Bagi saya itu sebuah keuntungan. Selama ini, ketika mengajar kelas IPA, jumlah siswa paling sedikit 42 orang.
Pertemuan pertama dimulai dengan mencoba saling mengenal antara saya dengan siswa secara lebih personal. Saya berusaha memberikan kesan bahwa guru di sekolah dapat menjadi orang yang dapat dipercaya dan menjadi teman secara akademis.

Mulanya para siswa terlihat ragu-ragu. Untuk mengurangi kecangungan saya mengubah penggalian pengenalan personal dari lisan menjadi tulisan. Saya memberikan 8 pertanyaan yang akan membantu saya nantinya mengenal siswa. Pertanyaan tersebut adalah: 1) Apakah yang kamu ketahui tentang saya? 2) Siapa kamu?, 3) Siapakah teman sekelas yang menurutmu tidak menyenangkan dan apa alasannya? 4) Siapakah guru yang tidak menyenangkan dan apa alasanya? 5) Siapakah teman yang tidak menyenangkan? 69 Siapakah guru yang tidak menyenangkan dan apa alasannya? 7) APa yang membuat kelas ini dianggap negatif oleh kelas lain? dan 8) apa yang harus dilakukan agar kelas ini menjadi kelas yang terbaik?

Para siswa terlihat sangat antusias memberikan jawaban. Saya mengumpulkan jawaban dan melanjutkan kegiatan dengan memberikan arahan untuk membangun citra kelas menjadi lebih positif. Saya meminta pendapat siswa menganai bagaiamna caranya agar kelas terlihat bersih dan rapih, siapa yang akan bertanggung jawab terhadp keberlangsungan kebersihan, keamanan dan ketrtiban kelas. Diluar dugaan para siswa sangat aktif mengajukan tawaran pilihan dan kemungkinan agar kelas menjadi kelas yang terbaik. Bahkan terlontar rencana membersihkan kelas, membuat baju kelas, membuat nama kelas, memberikan warna khusus untuk menunjukkan nuansa kelas.

Hal-hal yang terjadi di atas memberikan gambaran yang jelas bahwa tidak ada perbedaan antara siswa IPA dan siswa IS seperti yang selama ini saya dengar. Hal lainnya yang membuat saya terkesan adalah ketika salah seorang siswi mengatakan dengan lantang bahwa ayahnya bekerja sebagai Satpam. Saya bisa merasakan kebanggan yang tersirat dari nada suaranya, dan ini mengharukan.

Yang menarik perhatian saya adalah ada tiga siswa yang tidak hadir: 1) Khisan, 2) Farhan, dan 3) Randi. Saya mendengar dari teman sekerja bahwa salah satu dari ketiga siswa yang tidak hadir ini harus mendapat perhatian khusus. Mereka mengatakan hal-hal yang kurang positif tentang siswa ini diantaranya jarang masuk kelas, terlalu lamban dalam melaksanakan tugas, dan tidak aktif pada saat proses pembelajaran.

Selain dari ketiga siswa diatas, ada siswa lainnya yang juga menarik perhatian saya. Berdasarkan jawaban tertulis siswa saya menemukan bahwa ada siswa yang tidak disukai oleh hampir semua anggota kelas karena sikapnya yang kurang bisa diterima. Namun ada pula siswa yang hampir disukai oleh semua anggta kelas karena dianggap nyaman ketika diajak ngobrol, sikapnya logis, pengertian, dan inspiratif.

Secara pribadi, pertemuan pertama saya dengan siswa sosial 4 memberikan kesan positif. Saya merasa bangga menjadi bagian dari kehidupan mereka dan berkesempatan untuk mengahabiskan 250 hari bersama mereka.

Tuesday, January 27, 2015

Pra-Seleksi

 Sambil menunggu pemberitahuan seleksi, diam-diam saya belajar bahasa Inggris untuk mempersiapkan diri magang nanti di Australia. Mungkin ini terdengar lucu, guru bahasa Inggris tapi belajar bahasa Inggris. Bagi saya pribadi, ini sama sekali tidak lucu, tapi serius. Sebagai orang yang akan berhadapan langsung dengan native speaker saya harus benar-benar mampu berkomunikasi dan menunjukkan keterampilan reseptif dan produktif pada saat magang, dan tidak mempermalukan bangsa saya sendiri, khususnya guru.

Saya menghabiskan paling tidak satu jam setiap hari untuk menyimak siaran berbahasa Inggris dari TV Channel “Australia” melalui TV Satelit BIG TV. Sengaja saya tune in pada saluran ini, karena saya yakin dialek Inggris-Australia memerlukan latihan untuk dapat mengenalinya dengan baik. Saya pun kembali menghabiskan waktu sekitar satu atau dua jam untuk membaca koran The Jakarta Post dan sesekali majalah Time untuk memperkaya pengetahuan berbahasa. Menjadi peserta magang merupakan hal besar, saya tidak bisa bertindak tanpa ada persiapan.
Saya malah hampir lupa dengan persyaratan yang telah dikirim ketika Dinas memberitahukan bahwa saya harus mengikuti seleksi magang bertempat di Lembang, di Grand Hotel, dengan membawa segala persyaratan tambahan. Persyaratan tambahan ini diantaranya surat keterangan sehat dari dokter Rumah Sakit. Saya mempunyai pengalaman tidak terlupakan ketika membuat surat keterangan sehat. Pagi itu, ketika saya mendaftarkan diri ke Rumah sakit untuk mendapatkan Rekam Medic, saya dipersilahkan mengambil sendiri rekam medic di lantai 2. Saya menunggu berlama-lama agar dapat mengambil Rekam Medic. Setelah hampir satu jam, seorang Ibu (mungkin orang yang biasa mengurusi wilayah Rekam Medic) berkata, ‘maaf, rekam mediknya hilang, terkena air hujan, silakan kembali ke bagian pendaftaran dan buat data baru’.
Segera setelah mendaftar ulang, saya menuju ruang untuk menerima layanan pemeriksaan. Pada bagian pendaftaran pemeriksaan seorang Perawat bertanya, ‘Ibu, harus saya periksa apanya?’. Saya jawab dengan polos, ’saya tidak tahu, mungkin rumah sakit memiliki daftar atau list standard apa yang harus diperiksa untuk keperluan pergi ke luar negeri’. Saya diminta untuk diroentgen, periksa darah, urin. Saya memasuki ruang periksa, seorang petugas berkata, ‘maaf Ibu, kami tidak bisa menjalankan tugas kami, listrik mati’. Kejutan lainnya adalah bahwa setiap hasil pemeriksaan labratorium, baru bisa diambil dua hari kemudian. Sedangkan, pemberitahuan harus menyertakan Surat Keterangan Sehat baru saya terima sore hari sebelumnya, dan pukul 11 siang ini, surat tersebut harus sudah diserahkan kepada Disdik.
Segera saya meninggalkan Rumah Sakit dan menuju Betta Lab yang bisa menyediakan fasilitas pemeriksaan Urine dan Darah, sedangkan untuk Roentgen saya harus bergegas ke Klinik lain, mencari Klinik yang menyediakan Roentgen, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pada saat itu.
Singkat cerita, pukul 11 siang itu, semua persyaratan lengkap, dan bisa diserahkan ke Disdik. Esok harinya saya berangkat menuju tempat seleksi bersama guru lainnya. Saya mengikuti kegiatan tes TOEFL, kemudian wawancara. Untuk wawancara, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok. Saya termasuk kelompok dua. Pewawancara menanyakan apa yang akan saya teliti ketika saya mengobservasi kegiatan pembelajaran di Australia. Saya menjawab ingin mengetahui bagaimana pengajaran reading dilaksanakan. Wawancara berjalan lancar, saya merasa mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Termasuk bagaimana cara saya melakukan observasi, siapa yang akan diobservasi, instrument yang digunakan selama observasi. Pikiran saya kembali ke menulis tesis. Sebagai orang yang akan menemukan ‘sesuatu’ dinegeri Kanguru, saya harus berpikir sistematis.
Sebetulnya saya sedikit terkejut ketika wawancara dilaksanakan. Satu pewawancara berhadapan dengan enam orang sekaligus. Pada beberapa panduan yang saya baca untuk large interview panel idealnya pewawancara berhadapan dengan dua atau tiga orang agar dapat mengevaluasi potensi calon secara akurat.
Di luar yang ditanyakan oleh pewawancara sesungguhnya saya telah menyiapkan bahan untuk 1) menjelaskan siapa diri saya, 2) menjelaskan sifat saya, 3) alasan mengapa saya menjadi guru bahasa, 4) kelemahan saya, 5) hal yang saya banggakan, 6) pertanyaan-pertanyaan yang akan saya ajukan ketika di SA. Berikut ini adalah persiapan yang saya buat.
1. I have always considered myself lucky to have been admitted to school of education at university and eventually become a teacher. I was admitted to school of education in order to become a teacher when the teaching profession was not so attractive in terms of financial rewards.
I registered in the school of education then purely in idealistic terms because I love teaching, love being with young people, being with kids, and I love reading books about education.
2. Scholarly, bookish, easy going, friendly, firm, self-disciplined, highly confident. Those are some of the adjectives my best friend(s) use(s) to describe myself.
3. I want to encourage young people to read English because it will be useless to learn English if they don’t want to end up reading in that language. It doesn’t make sense if learning English is devoted to being able to communicate orally, whereas in Indonesian curriculum it is emphasized that knowledge seeking through reading is the main goal.
4. I consider this is one of my weaknesses, I tend to be an unmaterialistic teacher due to my passion for education. I don’t mind guiding students beyond school prescribed time. I even open the door of my home to my students who want to consult or confide to me. I realize at the end that my teaching profession in order to be successful cannot depend on idealism alone; more money is needed. (there are some students who happen to be broke, they don’t have to compensate for the copied paper I provide for them)
I am a school teacher and house wife as well. This double role leaves me very little time for professional advancement through reading. That’s why I always try to use every minute of my spare time in school to read. This behaviour is misunderstood by my colleagues who tend to think me as asocial, introvert, lonely, and arrogant. In fact, I am the opposite of those things.

5. It takes a teacher not less than 20 years to have a small home of his or her own if they count on salary alone. It took me relatively shorter time to have a big house in western style. Apart from regular salary which is better now, I have additional income from writing and private teaching which are considerably big so that I can build that home. There are seven spacious, high-ceiled rooms, one of which is my personal library. (self-learned architect). One of the successful culminations of my writing interest is being rewarded as one of the winners in the teacher science forum and eventually I was rewarded to go on pilgrimage to the Holly land, Mecca (I wish I could go to an English-speaking country such as Australia which was considered to be the best destination for such a winner as myself). It is a pity that the proposal to send the science forum winners to Australia was rejected by the majority of the teachers. It was the one of the provincial department of education official that proposed sending the winners to Australia which I fully supported. It is for this reason that I don’t want to miss the second chance to go to Australia.

6. Do you have breakfast at a regular basis, not casually as most Indonesian do?
– Have you been in any Indonesian school?
– Do parents give pocket money to their children to go to school as in Indonesia? If so, how much is in average? Do the teacher-parents association in most Australian schools work well? Do parents in Australia participate in deciding what to teach to their kids whereas in Indonesia gullibility is the norm.
– Do principals know the teachers’ name and some of their students?
– Do family and children consume only local food or they consume ethic foods that are available in Australia?

Tuesday, January 6, 2015

Mengapa saya ingin mengunjungi Australia

 Barangkali, mengunjungi Negara dimana bahasa Inggris menjadi bahasa pertama, merupakan impian guru bahasa Inggris yang non native. Menjadi sebuah tanda tanya besar bagaimana guru native mengajarkan bahasa Inggris. Apakah sama seperti guru native bahasa Indonesia mengajarkan bahasa Indonesia? Bagaimanakah para guru native bahasa Inggris menciptakan pemakai bahasa Inggris yang efektif? Di tivi-tivi terlihat bagaimana anak kecil mampu menggunakan bahasa Inggris untuk mengkomunikasikan pikiran dan ide-idenya secara lancar dan lantang.

Barangkali pula, melihat bagaimana Genre-Based Approach yang kini dijadikan pendekatan pengajaran bahasa (Inggris dan Indonesia) di Indonesia, diimplemantasikan di negara asalnya, merupakan impian lainnya bagi guru bahasa. Melihat secara langsung bagaimana ide Frances Christie dan Jim Martin dilaksanakan di dalam kelas, merupakan masalah besar bagi guru yang menggunakan pendekatan ini di dalam kelas-kelasnya. Apakah Building Knowlegde of Field (BKoF) merupakan set induction yang membuka pikiran anak-anak untuk siap menerima materi ajar. Jika Cooper (1990) mensyaratkan set induction sebagai pembuka pemberian pengalaman belajar kepada siswa, apakah setara dengan BKoF yang sama-sama refers to actions and statements by teacher that are designed to relate the experiences of the students to the objectives of the lesson atau membangun pengetahuan/latar belakang pengetahuan siswa mengenai topik yang akan dipelajarinya (lihat pula Feez, 2002; Gibbons, 2009). Demikian pula dengan langkah selanjutnya dari GBA yakni Modeling of text, Joint Construction of Text, dan ditutup dengan Independent Construction of Text. Apakah di Australia para guru bersetia dengan GBA ataukah mereka memiliki Holy book-nya sendiri?
Selain kedua hal di atas, jadi pertanyaan yang menggelitik mengenai bagaimana pendidikan Australia menjelaskan the stolen generation kepada para siswa dan apakah tindakan realistis yang dilakukan untuk membayar dosa masa lalu para leluhur mereka? Apakah penduduk asli Australia mendapatkan hak istimewa? Jika di Indonesia ada ‘’daerah khusus’’ (DIY, DKI), apakah di Australia ada tempat semacam itu untuk menjaga kekhasan lokal (Aborigin)? Banyak pertanyaan menumpuk dalam kepala penulis sebelum berangkat ke Australia. Pertanyaan-pertanyaan itu secara subconsciously sesungguhnya terjawab ketika penulis berkesempatan tinggal bersama warga Australia, mengunjungi sekolah secara intens, memasuki pasar, mengunjungi Flinder University, dan menikmati Taman Kota dengan cuaca 60C.

Saturday, July 12, 2014

Tiris Adelaide Australia versi kuring

 Juni-Juli mangrupaeun bulan tiris di Adelaide. Pikeun nu lain pituin urang dinya, saperti kuring nu asalna ti nagara tropis, kacida reuwasna nyanghareupan hawa tiris 8 atawa 7 darajat ditambah hujan es jeung angin.

Urang lembur Adelaide mah sigana teu tiris teu sing. Cukup make matel, kaos kaki ipis, malah aya nu bulucun oge, santey we.
Salila kuring leumpang saban isuk muru ka pengeureunan beus, siga nu matuh, hareupeun kuring pasti aya awewe nu make matel boda, leumpang ngagedig. Nepi ka halte jam 7. Beus liwat jam 7.15. Anger, manehna mun geus nepi ka halteu, muka tas leutik, ngaluarkeun alat kecantikan, dangdan sisi jalan. Sigana manehna geus ngukur, dangdan ngaropea beungeut waktuna bakal pas jeung datangna beus. Kuring ukur merhatikeun. euh meureun ieu nu disebutkeun beda budaya teh. Bangsa kuring mah tara kawenehan dangdan sisi jalan bari nunggu beus. da puguh bus di nagara kuring mah bisa dieureunkeun di mana wae, bisa datang jam sabaraha wae, taya jadwal matuh. Nu ngatur beus teh penumpang. Mun di Adelaide mah, sabalikna, kabeh gumantung kana jadwal. Waktu teh bisa diitung.
Misalna bae, ceuk indung-indungan kuring nyarita kieu ‘ti dieu ka jalan cukup leumpang, waktuna 20 menit, tidinya, tunggu beus, beus datang jam 7.15. Mun tlat, dagoan, saban 15 menit beus pasti datang deui. Ngan ulah nyetop nu nomer 30, eta mah teu liwat ka dieu’
omonganna na teh bener. nu teu bener mah, leumpang kuring! Ceuk manehna 20 menit, kuring mah, ngadedod leumpang ngagusur suku teh ampir 40 menit. Rumasa teu tuman leumpang!
di nagara kuring mah, jelema teh di ogo pisan. Bates buruan teh nyantek pisan ka jalan raya. matak tong heran mun aya kajadian hulu mobil asup ka imah lantaran supirna tunduh. ieu teh bisa kajadian kulantaran ampir taya pisan jarak antara buruan jeung jalan. nu matak prihatin mah, aya pager imah teh ngeser ka tengah jalan. sigana teu puas mun naek angkot teu jrut tina golodog teh. Nu matak, golodog imah teh sasenti jarakna tina panto angkot.
Balik deui kaluhur. Naha kuring nyebut penmumpang diogo. Alesanna lantaran di nagara kuring mah, mun hayang ngereunkeun angkot, der dimana we. malah angkot teh bisa nuturkeun kumaha kahayang penumpang. angkot bisa liwat ka jalur mana we asal daek mayar we. Mun di Adelaide mah, teu bisa kitu. Jalur beus teh matuh, teu bisa uprak aprak ka jalur nu lian.
Nu matak resep di Adelaide mah, mun make trem di tengah kota (city) eta gratis. Jadi di tengah kota teh genah pisan, teu katingali mobil macet, taya motor balawiri kana trotoar. Kuring pernah kawenehan ningali motor, mun teu salah 2 kali dina jero 3 minggu. Motor teh sigana lain kendaraan pilihan wijaksana di Adelaiade mah. Kamana-mana leuwih ngeunah make beus. Kahiji jadwalna puguh, kadua tempat diukna ngeunaheun, katilu supirna sopan pisan kaopat mobilna bisa mawa sagala rupa jalma, kalima teu aya nu ngaroko dina mobil, kagenep jero mobil taya nu ngobrol, jeung loba deui alesan nu matak lewih ngeunah make beus daripada make mobil sorangan. Eh katambahan, bensin mahal.
jeung nu matak kuring betah naek beus mah nyaeta, teu tiris! Mun dina jero beus sigana aya pemanas, jadi anjeucleu dina beus teh nnikmat pisan. mun turun tina beus, kasiksa, tiris karasa nyoco kana beungeut jeung pingping, nepika irung teh asa leuwih pesek hese ngarenghap. kana awak mah teu karasa ripuh teuing, pan kuring mah make bajuna 4 lapis!!
Tiris di Adelaide cenah puncakna mah di bulan juli. ari kuring nyangkana dina bulan juni sabab 7 darajat teh keur kuring mah geus matak ngebul ari nyarita jeung nyorodcod tuur ari leumpang. Jeung kuring salah tetempoan deuih. Kuring ningali tangkal Cherry Blossom geus aya nu mekar kembangna. Kuring nyangka yen eta teh ciri yen usum tiris rek beak. Padahal nu jadi patokan mah, mun tangkal (poho ngaranna) geus muguran kabeh daunna, tah eta tanda yen usum tiris eureun. eta tangkal nu dijadikeun ciri teh, basa ku kuring ditingali karak muguran tilu parapatna, jadi nya hartina, usum tiris lila keneh.
Pikeun kuring pribadi, tiris Adelaide jadi pikaseurieun. Kuring jadi kedul mandi. Mandi cukup saminggu sakali, eta ge mun sirah geus karasa ateul. Mun sirah tacan arateul mah, kuring tara waka mandi. kulantaran tara ngesang, baju saminggu teu ganti ge teu kanyahoan. nu nyababkeun kuring kedul mandi teh deuih, hoream mukaan baju. Kulantaran make baju opat lapis, jadi mandi teh lain lila mandina, tapi lila mukaan baju. mimiti muka long jhon (baju husus keur nahan hawa panas awak), kuring make long jhon 2 lapis. terus muka kaos wol nu nutup nepika beuheung, ditutup ku muka kaos biasa. sakitu teh lantaran jaket mah geus dibuka di kamar. kaos kaki ge dua lapis. pokona urusan muka jeung make baju, ripuh. mandina mah teu lila, da puguh cenah di ustrali mah cai teh mahal, jadi mandi teh ulah sangeunahna siga di lembur kuring. terus, mandi teh teu matak betah, cenah toilet teh kudu garing bae. jadi teu bisa tumaninah ngome cai. sawareg-waregna mandi tina shower we. mun kamar mandina teu ngabogaan heater, dijamin beres mandi teh ngudupruk kabulusan. kuring mah rumasa teu kuat ku kabulusan, jadi lolobana wudu ge ganti ku tayamum. teu maksakeun wudu ku cai nyenyep. kuring ngabandingkeun jeung nyenyepna cai di puncak Cianjur, nu 18 darajat, nyabak cai teh matak reuwas, komo ieu nu 8 darajat selsieus.