Pages

Friday, January 20, 2017

Menanam cabai sendiri, kenapa tidak?

Mahalnya harga cabai menjadi penanda masuk tahun 2017. Masyarakat mengeluhkan melangitnya harga cabai sehingga muncul seloroh 'pedasnya harga cabai'

Masyarakat Indonesia sebagian besar sangat membutuhkan cabai dalam kesehariannya. Cabai menjadi teman tetap pada makan. Tak ada sambal, tidak makan, demikian kata pecinta sambal cabai. Tidak pedas, tidak semangat makan, demikian kata yang lainnya. Hampir setiap jajajan, juga dilengkapi cabai. Tahu goreng, lontong, bakso misalnya terasa lebih nikmat jika dimakan dengan cabai.

Ketika harga cabai meroket, maka tak heran kondisi ini menimbulkan guncangan. Namun, seolah tidak ada yang dapat dilakukan agar bisa selamat dari kelangkaan cabai. Saran termudah yang ditawarkan sambil guyon adalah tanam saja cabai sendiri.

Sebetulnya saran tersebut mengarahkan kepada kondisi pengelolaan menamam cabai sebagai bisnis. Bukan sekedar menanam cabai, kemudian biarkan tumbuh, terus petik dan jadikan bahan sambal.

Selama ini, cabai ditanam dengan cara tradisional. Dalam arti, beli bibit, tanam bibit, biarkan tumbuh, semprot jika ada hama, dan panen. Cara ini tentu saja tidak akan pernah membuat penanam cabai makmur dan tidak akan pernah pula memenuhi kebutuhan konsumrn akan cabai.

Petani cabai harus berpikir sebagai agropreneur. Dia harus berperan sebagai Pebisnis cabai yang menerapkan tata tanam dan tata kelola hasil cabai berdasarkan penelitian.
Saat ini, menanam cabai tanpa pernah dipelajari pada suhu berapa tanaman cabai bisa sangat produktif. Jika diketahui suhunya, petani cabai harus mengupayakan suhu yang sesuai dengan kebutuhan cabai tumbuh dan berbuah optimal.

Pada saat panen. Petani tidak pernah memikirkan bagaimana penyimpanan hasil panenan dalam waktu lama. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia dapat mengkonsumsi apel New Zealand yang entah berapa lama apel itu berpindah dari petani sampai ke tangan konsumen Indonesia.
Kenapa cara ini tidak diimitasi untuk cabai?

Menanam cabai sendiri bisa jadi alternatif jawaban bagi kebutuhan cabai. Pengelolaan dengan intervensi hasil penelitian bisa membantu hasil cabai tanaman sendiri ini bernilai bisnis.

Wednesday, January 18, 2017

Ada apa dengan mereka?

Dengan menggunakan lagu The Show Must Go On dari Queen sebagai pemicu ide. Para siswa diminta untuk membuat Tips bagaimana menjadi orang baik.
The show must go on berisi untaian lirik kengerian dan kepedihan menjalani kefanaan. Lagu ini menggambarkan bahwa seseorang dapat melalukan kekejian , kejahatan, bahkan mengambil nyawa orang lain untuk memenuhi tujuannya.
Sangat gamblang lagu ini mendeskripsikan figur mindless crime (orang jahat).
Pada saat makna lirik disampaikan, para siswa terlihat sangat antusias.  Mereka tak henti berkomentar, dan mengiyakan sisi buruk manusia ketika ada maunya. Bahkan ada yang mengakui bahwa pernah mengalami posisi jadi pihak yang dirugikan.
Pemerolehan pemahaman tentang makna lagu menjadi semakin lengkap ketika lagunya diperdengarkan dan para siswa menghubungkan antara lirik, musik, dan makna lagu yang diusung. 
Namun kemudian, ketika hal di atas selesai dan mereka diminta memikirkan "tips jadi orang baik" (dalam arti tidak melakukan hal-hal negatif seperti yang diuraikan pada lirik lagu) sebagian besar peserta didik mendadak menjadi sepi ide.  Mereka rerata menuliskan bahwa menjadi orang baik adalah dengan "jangan berbohong, rajin sekolah, jangan galak, hormat pada orang tua". Mereka seolah miskin nilai (value) tentang kebaikan dan kebajikan sehingga tidak dapat menuliskan bagaimana kiat menjadi orang baik.
Sangat menakutkan jika generasi muda tidak mampu menyebutkan indikator-indikator orang baik. Jangan-jangan mereka salah tangkap dan salah tafsir nilai, misalnya bagaimana menjadi seseorang, tanpa mempedulikan bagaimana caranya (gaya hidup menghalalkan segala cara).
Para siswa mengatakan bahwa lebih mudah menyebutkan bagaimana menjadi orang jahat. Temuan ini memicu pertanyaan seperti apakah orang-orang yang ada di sekeliling siswa dan seperti apa orang-orang yang mengisi kehidupan mereka.
Semoga ketidakmampuan menyebutkan bagaimana kiat menjadi orang baik disebabkan oleh miskin kosa kata, bukan karena miskin teladan

Wednesday, September 16, 2015

Brain, Teacher, and Curriculum

 Our mind is like a black box. It is said so as we do not know what is in there. To understand what our brain do, we ask the help of psychologist. Psychologists do not  recognize the work of our brain easily, so they try to do analogy. For example, Pavlov, he tried to see human brain’s work by making experiment on a dog. From his experiment, people then see that there Stimulus-Response relation. Other expert makes experiment on Chimpanzee. The results of those experts open a little understanding on the work of brain.

Then, expert found out that environment plays a vital role for our brain. They said ‘mind is in society”. Mind is conditioned by the environment.  This implicitly acknowledged that each of us has capacity to be what we want as long as we are put in the right environment. In school’s context this means that every student is good seed, teacher becomes a person who nurture the seed. The good seed will not grow or even die if the teacher does not provide good environment for learning.

A professional teacher should cause the students to experience learning. Since the heart of education is learning. To do so, teacher should apply curriculum because any curriculum is product of accomplished mind. Curriculum is developed by innovator who are small in number. Then it will be adopted by early adopters like people who are in charge in education and later used by early majority such as teacher. As the distance from the innovators to teachers are quite long, sometimes the innovator said “quay” and distortion occurs it becomes “key”. Those words are different in meaning and fatal if it happens in the educational world. Teacher may lead the students to a wrong end as distortion had happened.

Saturday, September 12, 2015

Pendaftaran

 Ketika membaca pengumuman yang ditempel di ruang guru tentang adanya pendaftaran calon guru magang di Australia, dan setelah membaca persyaratan yang diurutkan, hal yang pertama muncul dalam kepala saya adalah pesimis diikuti kata ‘not a chance’. Dengan jelas tertulis bahwa calon peserta disyaratkan berusia 45 tahun pada tanggal 23 Desember 2013, sedangkan saya terlahir tahun 1968. Pendaftaran pun diacuhkan.

Perasaan kecewa karena expired (umurnya ketuaan) membuat saya membicarakan hal ini dengan suami, Yankie. Diluar dugaan Yankie menyarankan agar pede dan mengikuti pendaftaran. Dia mengatakan dengan yakin bahwa belum tentu sarat usia ini diaplikasikan jika pendaftar tidak memenuhi kuota. Akhirnya, dengan segala keberanian, saya mulai berbenah diri untuk mengikuti pendaftaran. Saya mulai memikirkan essay yang harus dilampirkan pada saat menyerahkan pendaftaran.

Dalam pandangan saya, essay ini harus sempurna, harus menunjukkan kesungguhan, harus menggambarkan bahwa saya benar-benar serius ingin mengikuti magang, dan harus menunjukkan bahwa saya bisa berbahasa Inggris sesuai dengan angka yang ditunjukkan pada sertifikat TOEFL. Tekanan untuk membuat essay 500 kata dengan muatan di atas, membuat saya tidak menulis sepatah kata pun. Masa untuk menyerahkan pendaftaran semakin dekat. Kekhawatiran saya terlalu besar. Pertama, saya merasa bahwa saya sudah expire dan tidak akan bisa diterima sebagai salah satu peserta. Kedua, saya memenuhi persyaratan lain hanya dengan seadanya. Ketiga, saya merasa yakin bahwa banyak kandidat kuat yang akan membuat saya tersingkir.

Memikirkan essay tidak sama maknanya dengan menulis essay. Dengan kata lain, melamunkan essay tidak menghasilkan tulisan dalam bentuk essay. Oleh karenanya segera saya membuka majalah lama: Time, majalah berbahasa Inggris yang mungkin memberikan inspirasi. Australia masih terdengar asing bagi saya. Tidak banyak pengetahuan saya mengenai Negara ini.
Saya mulai membaca Time. Banyak informasi yang dapat gali diantaranya Australia disebut pula the Lucky Country. Namun ada pula penulis yang menyebutnya Down Under. Selain itu saya pun menemukan artikel yang membuka sejarah kelam pendudukan Australia. Secara berani penulis memberi judul The Stolen Generation. Sedangkan keindahan Australia diwakili dengan artikel yang menyuguhkan The Great Barrier Reef.

Setelah menemukan banyak tentang Australa, essay pun dibuat. Dalam benak saya, essaylah yang akan menyelematkan saya dan menyebabkan saya diterima. Pada essay saya masukkan kata The Lucky Country dan Down Under untuk menunjukkan bahwa saya sedikit kenal dengan Australia. Saya pun menuliskan bahwa saya sangat ingin melihat bagaimana pengajaran bahasa berbasis-teks dilaksanakan di Negara yang dikiblati Indonesia untuk Genre-Based Aproach. Saya membayangkan apakah Systemic Functional Grammar dari M.A.K Halliday benar-benar ada dalam kelas. Apakah saya akan mendengar kata tone, mode, field, register, behavioural process, mental process, dan sederetan peristilahan lainnya yang berkaitan dengan teks seperti argumentative text, analytical exposition, hortatory exposition ketika saya mengobservasi kelas.
Pada akhirnya, essay yang saya anggap mewakili pikiran saya tertuang seperti di bawah ini:
Why I Want to Study in Australia
By Badriah
SMA Negeri 2 Cianjur, West Java

Genre-Based Approach (GBA) has been applied in Indonesia in teaching English as a foreign language since 2008. In 2010, I was admitted to post-graduate program in the teaching of English at Bandung’s Education University of Indonesia (UPI). I was lucky that I was involved in organizing Seminar on the Genre-Based Approach on 10- 12 June 2012 and on October 14-15, 2012. The seminar was jointly organized by UPI as a host and Sydney University and Australian Catholic University. I met and worked with two experts from Down Under who have successfully developed the GBA. Jim Martin has written the books entitled ‘Genre Relation’ and ‘Learning to Write, Reading to Learn: Genre, Knowledge, and Pedagogy in the Sydney school’. Another expert I met was Frances Christie, Emeritus Professor of Language and Literacy Education, University of Melbourne and Honorary Professor of Education and Linguistics, University of Sydney. I had been indebted to both of them for my rich knowledge and skills in the GBA.
It will be good to come to the country of origin of the GBA and have a reunion with both great teachers. Besides, I will be able to see first-hand how the GBA is organized and applied in Australian schools. I will use every available and possible means to learn this approach as much as I can. Coming to study in an English-speaking country such as Australia is a dream and a must as well for a teacher of English language who is interested in developing and advancing the teaching of English to the best possible result as myself.
Upon my return to Indonesia, I will try to do my best in disseminating what I have learned during my stay and study Down Under in my capacity as the chairperson of the English section of Musyawarah Guru Mata Pelajaran (Deliberation of School Subject Teachers). The organization I lead consists of English teachers from 35 Senior High Schools in the Regency of Cianjur, West Java. Those schools have been trying to familiarize the students with the GBA to some extent. In this approach, students are introduced to various texts in order for them to be ready for studying through many kind of texts they will be faced with in college.
How I disseminate my knowledge of the GBA will be done in such a way that all my fellow English teachers in Cianjur gain sufficient knowledge in order for them to successfully implement the GBA in their school which measure up to the expectations. The organizing of the activities of our teachers’ association is under the auspices of the Musayawarah Kerja Kepala Sekolah (Joint Deliberation of School Principals) and Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (Board for Quality Assurance of Education). Both institutions are responsible for funding and the legality of all the activities related to the organization that I chair.

Dengan izin, berkat dan doa Yankie, Miracle, dan Excel, saya serahkan pendaftaran kepada pihak Dinas Pendidikan Cianjur. Setelah penyerahan pendaftaran, saya serahkan kepada Allah. Jika DIA berkenan maka saya akan menerima pemberitahuan jika saya diterima. Saya pun memberitahukan kepada Ibu dan Ayah saya lewat doa bahwa saya meminta izin mereka untuk mengenal Negara asing. Semasa mereka hidup, mereka pernah berkelakar bahwa suatu saat saya akan bisa ke Australia. Kata Ayah, ”Kamu bisa ke Australia, kamu berenang saja”. Mereka tidak sempat menyaksikan bahwa kelakar mereka pada tahun 2014 menjadi kenyataan, dan saya tidak harus berenang untuk sampai ke sana.

Tuesday, August 18, 2015

Anjing Shalat

 Dua rumaja guntreng ngobrol.

A: “Njing, geus magrib ning, urang mah rek solat.”

B: “Emang, sia wae nu sok solat Njing, dewek oge osok. Hayu ah urang bareng Njing ka masigit.”

A: “Hayu, saha imamna Njing?”

B: “Didinya we Njing.”

A: “Heg lah Njing. Eh..Njing, rek solat mah kudu wudu heula, hayu Njing urang wudu.”

A ngimamanan solat magrib, aya sababaraha urang nu lain nu gabung milu ngama’mum ka manehna. A solat kalayan khusu, manehna maca surah Al-Fatihah kalayan rineh. Sarengse maca Fatihah, sanggeus ngucapekun walad’doooliiinnn. Ma’mum reang ngajawab,’aaaamiiiiiiin.’

A ngalieuk, pok ngomong, “Anjing Kompak!!!!”

Si B keuheul kacida, apan dina solat mah ulah ngomen. Dina hatena manehna ngagerentes, “ Keun siah mun maca Fatihah dina roka’at kadua, ku aing moal diaminan.”

A nuluykeun raka’at. Sarengse maca Fatihah, manehna rada ngajenghok lantaran taya nu ngaminkeun. Manehna galecok dina hatena, “Keun siah, tadi jempe wae, teu ngaminkeun, ku aing engke mun takbir moal ditarikkeun”.

Solat geus asup kana sujud pangahirna, A cengkat tina sujud, tapi teu nyebut Allohu akbar di tarikkeun sakumaha biasana pikeun ngabejaan pindah gerak solat. A tahiyat ahir dina hatena, terus aweh salam, leos bae indit.

Ari si B jeung ma’mun liana nungguan kode ti imam, tapi teu aya wae. Ahirna B cengkat, bari tumanya, naha bet lila-lila teuing sujud teh. Barang manehna cengkat terus nempo ka hareup, sihoreng si A, imamna, geus teu aya di tempatna. Manehna semu keuheul ngagorowok: “Anjing euweuh supiran…!!!!!!!”

Answer these questions

  1. What is the story about?
  2. What will you do if you are A?
  3. What will you do if you are B?
  4. What lesson you get from the story above?

Wednesday, July 29, 2015

Hari Ke-1

 Pertemuan pertama (28 Juli 2015)

Kata ‘pertama’ selalu menarik untuk dibahas. Demikian pula kata pertama bagi saya dalam peran sebagai wali kelas: kelas Sosial. Dalam pengalaman menjadi guru selama 18 tahun, inilah kali pertama saya mendapat tugas sebagai orang tua di sekolah bagi kelas 12 Ilmu Sosial 4.

Seperti umumnya, siswa yang berada pada kelas sosial dianggap golongan kedua setelah siswa kelas Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sesungguhnya tidak demikian untuk siswa yang menggunakan Kuikulum 2013 mengingat siswa kelas Soaial banyak mengambil materi ajar Lintas Minat yang memungkinkan siswa tersebut mendapatkan materi ajar yang sama dengan siswa IPA.

Saya mendapat ucapan selamat dari rekan sekerja atas penunjukkan sebagai wali kelas sosial 4. Ucapan ini dapat dimakanai positif dan negatif. Seorang teman secara langsung berkata, ‘sesekali cobalah menikmati bagaimana rasanya menjadi wali kelas sosial dan mengajar kelas sosial’. Teman lainnya berkelakar, ‘tumben nih jadi wali kelas sosial’. Saya akan meninggalkan komentar rekan sekerja. Di bawah ini akan saya paparkan apa yang saya lakukan pada pertemuan pertama dengan siswa sosial 4.

Bersitatap dengan siswa sosial 4 di ruang kelas sosial 4, saya tidak merasakan perbedaan mencolok seolah ‘inilah kelas sosial’. Bahkan, terlihat lebih menarik. Jumlah siswa hanya 33 orang. Bagi saya itu sebuah keuntungan. Selama ini, ketika mengajar kelas IPA, jumlah siswa paling sedikit 42 orang.
Pertemuan pertama dimulai dengan mencoba saling mengenal antara saya dengan siswa secara lebih personal. Saya berusaha memberikan kesan bahwa guru di sekolah dapat menjadi orang yang dapat dipercaya dan menjadi teman secara akademis.

Mulanya para siswa terlihat ragu-ragu. Untuk mengurangi kecangungan saya mengubah penggalian pengenalan personal dari lisan menjadi tulisan. Saya memberikan 8 pertanyaan yang akan membantu saya nantinya mengenal siswa. Pertanyaan tersebut adalah: 1) Apakah yang kamu ketahui tentang saya? 2) Siapa kamu?, 3) Siapakah teman sekelas yang menurutmu tidak menyenangkan dan apa alasannya? 4) Siapakah guru yang tidak menyenangkan dan apa alasanya? 5) Siapakah teman yang tidak menyenangkan? 69 Siapakah guru yang tidak menyenangkan dan apa alasannya? 7) APa yang membuat kelas ini dianggap negatif oleh kelas lain? dan 8) apa yang harus dilakukan agar kelas ini menjadi kelas yang terbaik?

Para siswa terlihat sangat antusias memberikan jawaban. Saya mengumpulkan jawaban dan melanjutkan kegiatan dengan memberikan arahan untuk membangun citra kelas menjadi lebih positif. Saya meminta pendapat siswa menganai bagaiamna caranya agar kelas terlihat bersih dan rapih, siapa yang akan bertanggung jawab terhadp keberlangsungan kebersihan, keamanan dan ketrtiban kelas. Diluar dugaan para siswa sangat aktif mengajukan tawaran pilihan dan kemungkinan agar kelas menjadi kelas yang terbaik. Bahkan terlontar rencana membersihkan kelas, membuat baju kelas, membuat nama kelas, memberikan warna khusus untuk menunjukkan nuansa kelas.

Hal-hal yang terjadi di atas memberikan gambaran yang jelas bahwa tidak ada perbedaan antara siswa IPA dan siswa IS seperti yang selama ini saya dengar. Hal lainnya yang membuat saya terkesan adalah ketika salah seorang siswi mengatakan dengan lantang bahwa ayahnya bekerja sebagai Satpam. Saya bisa merasakan kebanggan yang tersirat dari nada suaranya, dan ini mengharukan.

Yang menarik perhatian saya adalah ada tiga siswa yang tidak hadir: 1) Khisan, 2) Farhan, dan 3) Randi. Saya mendengar dari teman sekerja bahwa salah satu dari ketiga siswa yang tidak hadir ini harus mendapat perhatian khusus. Mereka mengatakan hal-hal yang kurang positif tentang siswa ini diantaranya jarang masuk kelas, terlalu lamban dalam melaksanakan tugas, dan tidak aktif pada saat proses pembelajaran.

Selain dari ketiga siswa diatas, ada siswa lainnya yang juga menarik perhatian saya. Berdasarkan jawaban tertulis siswa saya menemukan bahwa ada siswa yang tidak disukai oleh hampir semua anggota kelas karena sikapnya yang kurang bisa diterima. Namun ada pula siswa yang hampir disukai oleh semua anggta kelas karena dianggap nyaman ketika diajak ngobrol, sikapnya logis, pengertian, dan inspiratif.

Secara pribadi, pertemuan pertama saya dengan siswa sosial 4 memberikan kesan positif. Saya merasa bangga menjadi bagian dari kehidupan mereka dan berkesempatan untuk mengahabiskan 250 hari bersama mereka.

Tuesday, January 27, 2015

Pra-Seleksi

 Sambil menunggu pemberitahuan seleksi, diam-diam saya belajar bahasa Inggris untuk mempersiapkan diri magang nanti di Australia. Mungkin ini terdengar lucu, guru bahasa Inggris tapi belajar bahasa Inggris. Bagi saya pribadi, ini sama sekali tidak lucu, tapi serius. Sebagai orang yang akan berhadapan langsung dengan native speaker saya harus benar-benar mampu berkomunikasi dan menunjukkan keterampilan reseptif dan produktif pada saat magang, dan tidak mempermalukan bangsa saya sendiri, khususnya guru.

Saya menghabiskan paling tidak satu jam setiap hari untuk menyimak siaran berbahasa Inggris dari TV Channel “Australia” melalui TV Satelit BIG TV. Sengaja saya tune in pada saluran ini, karena saya yakin dialek Inggris-Australia memerlukan latihan untuk dapat mengenalinya dengan baik. Saya pun kembali menghabiskan waktu sekitar satu atau dua jam untuk membaca koran The Jakarta Post dan sesekali majalah Time untuk memperkaya pengetahuan berbahasa. Menjadi peserta magang merupakan hal besar, saya tidak bisa bertindak tanpa ada persiapan.
Saya malah hampir lupa dengan persyaratan yang telah dikirim ketika Dinas memberitahukan bahwa saya harus mengikuti seleksi magang bertempat di Lembang, di Grand Hotel, dengan membawa segala persyaratan tambahan. Persyaratan tambahan ini diantaranya surat keterangan sehat dari dokter Rumah Sakit. Saya mempunyai pengalaman tidak terlupakan ketika membuat surat keterangan sehat. Pagi itu, ketika saya mendaftarkan diri ke Rumah sakit untuk mendapatkan Rekam Medic, saya dipersilahkan mengambil sendiri rekam medic di lantai 2. Saya menunggu berlama-lama agar dapat mengambil Rekam Medic. Setelah hampir satu jam, seorang Ibu (mungkin orang yang biasa mengurusi wilayah Rekam Medic) berkata, ‘maaf, rekam mediknya hilang, terkena air hujan, silakan kembali ke bagian pendaftaran dan buat data baru’.
Segera setelah mendaftar ulang, saya menuju ruang untuk menerima layanan pemeriksaan. Pada bagian pendaftaran pemeriksaan seorang Perawat bertanya, ‘Ibu, harus saya periksa apanya?’. Saya jawab dengan polos, ’saya tidak tahu, mungkin rumah sakit memiliki daftar atau list standard apa yang harus diperiksa untuk keperluan pergi ke luar negeri’. Saya diminta untuk diroentgen, periksa darah, urin. Saya memasuki ruang periksa, seorang petugas berkata, ‘maaf Ibu, kami tidak bisa menjalankan tugas kami, listrik mati’. Kejutan lainnya adalah bahwa setiap hasil pemeriksaan labratorium, baru bisa diambil dua hari kemudian. Sedangkan, pemberitahuan harus menyertakan Surat Keterangan Sehat baru saya terima sore hari sebelumnya, dan pukul 11 siang ini, surat tersebut harus sudah diserahkan kepada Disdik.
Segera saya meninggalkan Rumah Sakit dan menuju Betta Lab yang bisa menyediakan fasilitas pemeriksaan Urine dan Darah, sedangkan untuk Roentgen saya harus bergegas ke Klinik lain, mencari Klinik yang menyediakan Roentgen, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pada saat itu.
Singkat cerita, pukul 11 siang itu, semua persyaratan lengkap, dan bisa diserahkan ke Disdik. Esok harinya saya berangkat menuju tempat seleksi bersama guru lainnya. Saya mengikuti kegiatan tes TOEFL, kemudian wawancara. Untuk wawancara, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok. Saya termasuk kelompok dua. Pewawancara menanyakan apa yang akan saya teliti ketika saya mengobservasi kegiatan pembelajaran di Australia. Saya menjawab ingin mengetahui bagaimana pengajaran reading dilaksanakan. Wawancara berjalan lancar, saya merasa mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Termasuk bagaimana cara saya melakukan observasi, siapa yang akan diobservasi, instrument yang digunakan selama observasi. Pikiran saya kembali ke menulis tesis. Sebagai orang yang akan menemukan ‘sesuatu’ dinegeri Kanguru, saya harus berpikir sistematis.
Sebetulnya saya sedikit terkejut ketika wawancara dilaksanakan. Satu pewawancara berhadapan dengan enam orang sekaligus. Pada beberapa panduan yang saya baca untuk large interview panel idealnya pewawancara berhadapan dengan dua atau tiga orang agar dapat mengevaluasi potensi calon secara akurat.
Di luar yang ditanyakan oleh pewawancara sesungguhnya saya telah menyiapkan bahan untuk 1) menjelaskan siapa diri saya, 2) menjelaskan sifat saya, 3) alasan mengapa saya menjadi guru bahasa, 4) kelemahan saya, 5) hal yang saya banggakan, 6) pertanyaan-pertanyaan yang akan saya ajukan ketika di SA. Berikut ini adalah persiapan yang saya buat.
1. I have always considered myself lucky to have been admitted to school of education at university and eventually become a teacher. I was admitted to school of education in order to become a teacher when the teaching profession was not so attractive in terms of financial rewards.
I registered in the school of education then purely in idealistic terms because I love teaching, love being with young people, being with kids, and I love reading books about education.
2. Scholarly, bookish, easy going, friendly, firm, self-disciplined, highly confident. Those are some of the adjectives my best friend(s) use(s) to describe myself.
3. I want to encourage young people to read English because it will be useless to learn English if they don’t want to end up reading in that language. It doesn’t make sense if learning English is devoted to being able to communicate orally, whereas in Indonesian curriculum it is emphasized that knowledge seeking through reading is the main goal.
4. I consider this is one of my weaknesses, I tend to be an unmaterialistic teacher due to my passion for education. I don’t mind guiding students beyond school prescribed time. I even open the door of my home to my students who want to consult or confide to me. I realize at the end that my teaching profession in order to be successful cannot depend on idealism alone; more money is needed. (there are some students who happen to be broke, they don’t have to compensate for the copied paper I provide for them)
I am a school teacher and house wife as well. This double role leaves me very little time for professional advancement through reading. That’s why I always try to use every minute of my spare time in school to read. This behaviour is misunderstood by my colleagues who tend to think me as asocial, introvert, lonely, and arrogant. In fact, I am the opposite of those things.

5. It takes a teacher not less than 20 years to have a small home of his or her own if they count on salary alone. It took me relatively shorter time to have a big house in western style. Apart from regular salary which is better now, I have additional income from writing and private teaching which are considerably big so that I can build that home. There are seven spacious, high-ceiled rooms, one of which is my personal library. (self-learned architect). One of the successful culminations of my writing interest is being rewarded as one of the winners in the teacher science forum and eventually I was rewarded to go on pilgrimage to the Holly land, Mecca (I wish I could go to an English-speaking country such as Australia which was considered to be the best destination for such a winner as myself). It is a pity that the proposal to send the science forum winners to Australia was rejected by the majority of the teachers. It was the one of the provincial department of education official that proposed sending the winners to Australia which I fully supported. It is for this reason that I don’t want to miss the second chance to go to Australia.

6. Do you have breakfast at a regular basis, not casually as most Indonesian do?
– Have you been in any Indonesian school?
– Do parents give pocket money to their children to go to school as in Indonesia? If so, how much is in average? Do the teacher-parents association in most Australian schools work well? Do parents in Australia participate in deciding what to teach to their kids whereas in Indonesia gullibility is the norm.
– Do principals know the teachers’ name and some of their students?
– Do family and children consume only local food or they consume ethic foods that are available in Australia?