Monday, March 13, 2023
Apa Kabar Para Siswa Pasca Gempa Bumi Cianjur?
Wednesday, January 25, 2017
Menaikkan gengsi Bahasa Sunda
Fakta
Tidak sedikit para orangtua (notabene orang Cianjur) yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama dan bahasa lbu. Alasan yang mendasarinya karena mereka tidak menguasai undak usuk (aturan penggunaan bahasa berdasarkan level, tenor), bahasa Sunda sulit, khawatir tidak memahami bahasa Indonesia ketika masuk sekolah formal, dan bergengsi jika anaknya bisa berbahasa Indonesia.
Posisi bahasa Sunda di Cianjur, sebagai bahasa daerah, bahasa lbu untuk penduduk asli Cianjur, kini tergeser oleh bahasa persatuan dan bahasa pergaulan internasional.
Padahal contoh membuktikan bahwa penggunaan bahasa daerah tidak mbuat sebuah daerah menjadi berskala lokal. Sebagai contoh nyata adalah Jepang.
Jepang menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa lbu, bahasa di rumah, di pergaulan, dan di sekolah. Namun tidak demikian dengan kasus Cianjur. Sebagian keluarga masih menggunakan bahasa Sunda di rumah, menggunakan bahasa Indonesia di pergaulan dan sekolah, beranjak ke bahasa Inggris dan asing lainnya untuk komunikasi global.
Solusi
Bahasa Sunda dapat berjaya seperti halnya bahasa Jepang. Mewujudkan kejayaan bahasa Sunda perlu upaya dan dukungan.
Pertama, jadikan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar di sekolah. Cara ini menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar ilmu pengetahuan. Dan menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa yang digunakan untuk mencatat dan mengkomunikasikan pengetahuan. Sampai SD kelas 6, gunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar pendidikan.
Pemerintah harus mengawal keterlaksanaan hal ini dengan menggunakan otonomi daerahnya.
Kedua, gunakan bahasa Sunda dalam bahasa pergaulan dan pertemuan formal yang dilakukan oleh para pejabat. Bupati dan Gubernur yang menggunakan bahasa Sunda menjadi model pengguna bahasa Sunda. Bupati pidato dalam bahasa Sunda, Gubernur pidato dalam bahasa Sunda. Bukan untuk mengundang decak kekaguman, namun untuk menjadi role model yang harus ditiru seluruh warga.
Ketiga, buka kursus dan pelatihan bahasa Sunda. Ajarkan kembali dan contohkan lentong, rengkuh, pasemon. Lentong adalah intonasi yang khas dalam bahasa Sunda. Misalnya untuk greeting dengan rumus tidak lebih dari 3 kata, misalnya Bade angkat kamana? Lentong jatuh pada suku kata ke-2 dari akhir dengan cara dipanjangkan. Rengkuh adalah posisi tubuh pada saat berbicara dan pasemon ada mimik atau wajah pada waktu berkomunikasi.
Bahasa Sunda harus menjadi bahasa penghela ilmu pengetahuan, pergaulan, dan kegiatan formal sehingga nilai kebahasaanya naik. Agar hal ini terwujud perlu dukungan pemerintah daerah.
Friday, January 20, 2017
Menanam cabai sendiri, kenapa tidak?
Mahalnya harga cabai menjadi penanda masuk tahun 2017. Masyarakat mengeluhkan melangitnya harga cabai sehingga muncul seloroh 'pedasnya harga cabai'
Masyarakat Indonesia sebagian besar sangat membutuhkan cabai dalam kesehariannya. Cabai menjadi teman tetap pada makan. Tak ada sambal, tidak makan, demikian kata pecinta sambal cabai. Tidak pedas, tidak semangat makan, demikian kata yang lainnya. Hampir setiap jajajan, juga dilengkapi cabai. Tahu goreng, lontong, bakso misalnya terasa lebih nikmat jika dimakan dengan cabai.
Ketika harga cabai meroket, maka tak heran kondisi ini menimbulkan guncangan. Namun, seolah tidak ada yang dapat dilakukan agar bisa selamat dari kelangkaan cabai. Saran termudah yang ditawarkan sambil guyon adalah tanam saja cabai sendiri.
Sebetulnya saran tersebut mengarahkan kepada kondisi pengelolaan menamam cabai sebagai bisnis. Bukan sekedar menanam cabai, kemudian biarkan tumbuh, terus petik dan jadikan bahan sambal.
Selama ini, cabai ditanam dengan cara tradisional. Dalam arti, beli bibit, tanam bibit, biarkan tumbuh, semprot jika ada hama, dan panen. Cara ini tentu saja tidak akan pernah membuat penanam cabai makmur dan tidak akan pernah pula memenuhi kebutuhan konsumrn akan cabai.
Petani cabai harus berpikir sebagai agropreneur. Dia harus berperan sebagai Pebisnis cabai yang menerapkan tata tanam dan tata kelola hasil cabai berdasarkan penelitian.
Saat ini, menanam cabai tanpa pernah dipelajari pada suhu berapa tanaman cabai bisa sangat produktif. Jika diketahui suhunya, petani cabai harus mengupayakan suhu yang sesuai dengan kebutuhan cabai tumbuh dan berbuah optimal.
Pada saat panen. Petani tidak pernah memikirkan bagaimana penyimpanan hasil panenan dalam waktu lama. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia dapat mengkonsumsi apel New Zealand yang entah berapa lama apel itu berpindah dari petani sampai ke tangan konsumen Indonesia.
Kenapa cara ini tidak diimitasi untuk cabai?
Menanam cabai sendiri bisa jadi alternatif jawaban bagi kebutuhan cabai. Pengelolaan dengan intervensi hasil penelitian bisa membantu hasil cabai tanaman sendiri ini bernilai bisnis.


