Pages

Showing posts with label Cianjur. Show all posts
Showing posts with label Cianjur. Show all posts

Monday, March 13, 2023

Apa Kabar Para Siswa Pasca Gempa Bumi Cianjur?

Senin, 13 Maret 2023, merupakan hari pertama bagi para siswa SMA melaksanakan Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ). Para siswa SMA di Kabupaten Cianjur, serentak mengikuti PSAJ jenis tulis di sekolahnya masing-masing. Bagi para siswa di Kabupaten Cianjur, PSAJ tahun ini akan menjadi kegiatan yang tidak akan terlupakan, khususnya bagi mereka yang sekolahnya berada di daerah Kecamatan: Cugenang, Cianjur Kota, Warungkondang, Cilaku, Cipanas, Pacet, dan Karangtengah. Kecamatan-kecamatan tersebut merupakan wilayah yang terdampak gempa. 

Pelaksanaan PSAJ untuk sekolah-sekolah yang terdampak gempa kategori sedang dan berat, dilakukan sesuai dengan kondisi sekolahnya. Sebagian ada yang dilaksanakan dengan cara online, ada pula yang dilakukan secara berbasis kertas, di tenda, di kelas yang sudah dianggap aman untuk digunakan.  Sebagai contoh di SMA Islam Annaba, Cianjur, yang sekolahnya terdampak gempa kategori sedang, kegiatan PSAJ dilakukan dengan berbasis kertas. Ruangan yang digunakan adalah kelas-kelas yang sudah sedemikian rupa diperbaiki sehingga aman untuk digunakan sebagai tempat PSAJ. 
Para Siswa SMA Islam Annaba Cianjur sedang mengikuti PSAJ

Sekolah dasar belum melaksanakan PSAJ, tetapi masih belajar seperti biasa. Senin, dimulai dengan upacara. Salah satu sekolah yang terdampak gempa kategori berat, sekolahnya telah diratakan dengan tanah. Masih dalam proses dibangun ulang. Kegiatan belajar dilakukan di tenda. Upacara dilakukan di lahan depan tenda. Kekhidmatan tidak berkurang, walaupun upacara dilaksanakan di tanah becek, dengan sepatu penuh lumpur. Kumandang Indonesia Raya lantang dan nyaring terdengar. Semua peserta upacara membusungkan dada seolah siap menghadapi dan menjalani hari Senin, dan hari-hari selanjutnya dengan semangat nasionalisme yang tidak berkurang sekalipun bangunan sekolah mereka hanya berdiri pada kenangan. 
Para siswa SD sedang melaksanakan upacara

Sementara siswa SMP, sama halnya dengan siswa SD, masih belajar sesuai jadwal. Para siswa terlihat aktif dalam kegiatan yang dijadwalkan untuk mereka. Sebagai contoh menghafal Al Quran yang dilakukan oleh para siswa SMP Baitul Ilmi. SMP ini merupakan sekolah yang berada di Kecamatan Cugenang yang berada tidak jauh dari pusat gempa. 
Pada siswa SMP Baitul Ilmi sedang menghafal AlQuran



Wednesday, January 25, 2017

Menaikkan gengsi Bahasa Sunda

Fakta
Tidak sedikit para orangtua (notabene orang Cianjur) yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama dan bahasa lbu. Alasan yang mendasarinya karena mereka tidak menguasai undak usuk (aturan penggunaan bahasa berdasarkan level, tenor), bahasa Sunda sulit, khawatir tidak memahami bahasa Indonesia ketika masuk sekolah formal, dan bergengsi jika anaknya bisa berbahasa Indonesia.

Posisi bahasa Sunda di Cianjur, sebagai bahasa daerah, bahasa lbu untuk penduduk asli Cianjur, kini tergeser oleh bahasa persatuan dan bahasa pergaulan internasional.
Padahal contoh membuktikan bahwa penggunaan bahasa daerah tidak mbuat sebuah daerah menjadi berskala lokal. Sebagai contoh nyata adalah Jepang.

Jepang menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa lbu, bahasa di rumah, di pergaulan, dan di sekolah. Namun tidak demikian dengan kasus Cianjur. Sebagian keluarga masih menggunakan bahasa Sunda di rumah, menggunakan bahasa Indonesia di pergaulan dan sekolah, beranjak ke bahasa Inggris dan asing lainnya untuk komunikasi global.

Solusi
Bahasa Sunda dapat berjaya seperti halnya bahasa Jepang. Mewujudkan kejayaan bahasa Sunda perlu upaya dan dukungan.
Pertama, jadikan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar di sekolah. Cara ini menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar ilmu pengetahuan. Dan menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa yang digunakan untuk mencatat dan mengkomunikasikan pengetahuan. Sampai SD kelas 6, gunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar pendidikan.
Pemerintah harus mengawal keterlaksanaan hal ini dengan menggunakan otonomi daerahnya.

Kedua, gunakan bahasa Sunda dalam bahasa pergaulan dan pertemuan formal yang dilakukan oleh para pejabat. Bupati dan Gubernur yang menggunakan bahasa Sunda menjadi model pengguna bahasa Sunda. Bupati pidato dalam bahasa Sunda, Gubernur pidato dalam bahasa Sunda. Bukan untuk mengundang decak kekaguman, namun untuk menjadi role model yang harus ditiru seluruh warga.

Ketiga, buka kursus dan pelatihan bahasa Sunda. Ajarkan kembali dan contohkan lentong, rengkuh, pasemon. Lentong adalah intonasi yang khas dalam bahasa Sunda. Misalnya untuk greeting dengan rumus tidak lebih dari 3 kata, misalnya Bade angkat kamana? Lentong jatuh pada suku kata ke-2 dari akhir dengan cara dipanjangkan. Rengkuh adalah posisi tubuh pada saat berbicara dan pasemon ada mimik atau wajah pada waktu berkomunikasi.

Bahasa Sunda harus menjadi bahasa penghela ilmu pengetahuan, pergaulan, dan kegiatan formal sehingga nilai kebahasaanya naik. Agar hal ini terwujud perlu dukungan pemerintah daerah.

Friday, January 20, 2017

Menanam cabai sendiri, kenapa tidak?

Mahalnya harga cabai menjadi penanda masuk tahun 2017. Masyarakat mengeluhkan melangitnya harga cabai sehingga muncul seloroh 'pedasnya harga cabai'

Masyarakat Indonesia sebagian besar sangat membutuhkan cabai dalam kesehariannya. Cabai menjadi teman tetap pada makan. Tak ada sambal, tidak makan, demikian kata pecinta sambal cabai. Tidak pedas, tidak semangat makan, demikian kata yang lainnya. Hampir setiap jajajan, juga dilengkapi cabai. Tahu goreng, lontong, bakso misalnya terasa lebih nikmat jika dimakan dengan cabai.

Ketika harga cabai meroket, maka tak heran kondisi ini menimbulkan guncangan. Namun, seolah tidak ada yang dapat dilakukan agar bisa selamat dari kelangkaan cabai. Saran termudah yang ditawarkan sambil guyon adalah tanam saja cabai sendiri.

Sebetulnya saran tersebut mengarahkan kepada kondisi pengelolaan menamam cabai sebagai bisnis. Bukan sekedar menanam cabai, kemudian biarkan tumbuh, terus petik dan jadikan bahan sambal.

Selama ini, cabai ditanam dengan cara tradisional. Dalam arti, beli bibit, tanam bibit, biarkan tumbuh, semprot jika ada hama, dan panen. Cara ini tentu saja tidak akan pernah membuat penanam cabai makmur dan tidak akan pernah pula memenuhi kebutuhan konsumrn akan cabai.

Petani cabai harus berpikir sebagai agropreneur. Dia harus berperan sebagai Pebisnis cabai yang menerapkan tata tanam dan tata kelola hasil cabai berdasarkan penelitian.
Saat ini, menanam cabai tanpa pernah dipelajari pada suhu berapa tanaman cabai bisa sangat produktif. Jika diketahui suhunya, petani cabai harus mengupayakan suhu yang sesuai dengan kebutuhan cabai tumbuh dan berbuah optimal.

Pada saat panen. Petani tidak pernah memikirkan bagaimana penyimpanan hasil panenan dalam waktu lama. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia dapat mengkonsumsi apel New Zealand yang entah berapa lama apel itu berpindah dari petani sampai ke tangan konsumen Indonesia.
Kenapa cara ini tidak diimitasi untuk cabai?

Menanam cabai sendiri bisa jadi alternatif jawaban bagi kebutuhan cabai. Pengelolaan dengan intervensi hasil penelitian bisa membantu hasil cabai tanaman sendiri ini bernilai bisnis.