Pages

Showing posts with label Bahasa Sunda. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Sunda. Show all posts

Monday, February 25, 2019

Keluarga pewaris bahasa

Budaya lahir seiring kelahiran manusia. Oleh karenanya para ahli mendefinisikan budaya sebagai aktifitas  dan produk manusia sebagai hasil belajar.

Budaya Sunda berkembang di tatar Sunda dan menjadi ciri orang Sunda  seiring perkembangan zaman. Kata Sunda itu sendiri, bagi orang Sunda bermakna bukan sekadar bahasa. Ajip Rosidi menjelaskan bahwa ketika orang Sunda menyebutkan "urang Sunda" mengacu pada suku, bahasa, adat istiadat, kata penunjuk tunggal yang artinya setara dengan saya, dan kata penunjuk jama setara dengan kami.

Sunda dengan pelbagai makna menjadi bagian dari keseharian hidup orang Sunda. Khusus untuk orang Sunda dalam cakupan kecil yaitu individu dihadapkan pada tanggungjawab besar yang menjadi tanggungannya sebagai bagian dari sebuah komunitas warga Sunda.

Sebagian individu orang Sunda memandang bahwa Sunda dalam representasi bahasa mengahadapi masalah besar. Salah satunya adalah menuju sekarat karena semakin berkurangnya jumlah penutur. Pandangan ini mendorong individu tersebut bergegas melakukan upaya untuk menghidupkan bahasa Sunda. Mencampurkan bahasa Sunda dalam percakapan bahasa Nasional sangat akrab terdengar.  Upaya ini patut diacungi jempol mengingat tidak mudah mencampurkan bahasa ibu dengan bahasa nasional dengan sisipan tujuan penerima pesan lebih paham maksud yang disampaikan penutur. Walaupun tidak dipungkiri bagi sebagian pecinta pengguna bahasa Sunda, hal ini dipandang kurang tepat. Kekhawatiran yang membayang adalah kelak generasi muda menganggap 'dibenarkan' berbahasa mix (campur) dan menjadi kebiasaan.

Sebagian individu lainnya memandang Sunda sebagai bahasa akan hidup seperti bahasa-bahasa lain yang ada di dunia ini.  Pandangan ini membuat individu tersebut memperlakukan bahasa Sunda seperti benda. Fitrahnya benda: ada, dipakai, tiada.
Bahasa Sunda menjadi ada dan dipakai karena dipandang mampu memfasilitasinya sebagai alat komunikasi, dan lebih jauh lagi mampu menunjukkan jati diri kesukuan. Ketika kedua hal tersebut tidak dimiliki lagi, maka bahasa Sunda ditinggalkan.  Sebagai contoh kecil, merasa malu berjati diri Sunda yang ditandai dengan berbahasa Sunda mengakibatkan individu tersebut memilih  menggunakan bahasa lain. Eksodus pengguna bahasa Sunda ke bahasa lain, hal ini pencetus bagi matinya bahasa Sunda.

Setiap individu adalah pewaris budaya. Warisan bahasa menjadi tanggungjawab perorangan.  Berbeda dengan warisan lainnya, pewaris bahasa Sunda memiliki tanggungjawab untuk (salah satunya) tetap menghidupkan bahasa Sunda. Bagaimana cara menghidupkannya setiap individu Sunda dihadapkan pada banyak pilihan.  Pilihan yang paling masuk akal diantaranya menggunakan bahasa Sunda pada tataran keluarga.

Orangtua yang menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan berkeluarganya memberikan peluang bagi bahasa Sunda untuk tetap hidup.  Akibat langsungnya adalah anak-anak dalam keluarga tersebut menikmati penguasaan berbahasa ibu dengan penuh. Ibu Bapak menjadi model pengguna yang secara langsung mencontohkan sekaligus meningkatkan kualitas penggunaan bahasa Sunda anggota keluarga.

Setiap individu adalah bagian dari sebuah keluarga.  Sudah saatnya keluarga kembali difungsikan sebagai sumber belajar berbahasa.

Wednesday, January 25, 2017

Menaikkan gengsi Bahasa Sunda

Fakta
Tidak sedikit para orangtua (notabene orang Cianjur) yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama dan bahasa lbu. Alasan yang mendasarinya karena mereka tidak menguasai undak usuk (aturan penggunaan bahasa berdasarkan level, tenor), bahasa Sunda sulit, khawatir tidak memahami bahasa Indonesia ketika masuk sekolah formal, dan bergengsi jika anaknya bisa berbahasa Indonesia.

Posisi bahasa Sunda di Cianjur, sebagai bahasa daerah, bahasa lbu untuk penduduk asli Cianjur, kini tergeser oleh bahasa persatuan dan bahasa pergaulan internasional.
Padahal contoh membuktikan bahwa penggunaan bahasa daerah tidak mbuat sebuah daerah menjadi berskala lokal. Sebagai contoh nyata adalah Jepang.

Jepang menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa lbu, bahasa di rumah, di pergaulan, dan di sekolah. Namun tidak demikian dengan kasus Cianjur. Sebagian keluarga masih menggunakan bahasa Sunda di rumah, menggunakan bahasa Indonesia di pergaulan dan sekolah, beranjak ke bahasa Inggris dan asing lainnya untuk komunikasi global.

Solusi
Bahasa Sunda dapat berjaya seperti halnya bahasa Jepang. Mewujudkan kejayaan bahasa Sunda perlu upaya dan dukungan.
Pertama, jadikan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar di sekolah. Cara ini menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar ilmu pengetahuan. Dan menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa yang digunakan untuk mencatat dan mengkomunikasikan pengetahuan. Sampai SD kelas 6, gunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar pendidikan.
Pemerintah harus mengawal keterlaksanaan hal ini dengan menggunakan otonomi daerahnya.

Kedua, gunakan bahasa Sunda dalam bahasa pergaulan dan pertemuan formal yang dilakukan oleh para pejabat. Bupati dan Gubernur yang menggunakan bahasa Sunda menjadi model pengguna bahasa Sunda. Bupati pidato dalam bahasa Sunda, Gubernur pidato dalam bahasa Sunda. Bukan untuk mengundang decak kekaguman, namun untuk menjadi role model yang harus ditiru seluruh warga.

Ketiga, buka kursus dan pelatihan bahasa Sunda. Ajarkan kembali dan contohkan lentong, rengkuh, pasemon. Lentong adalah intonasi yang khas dalam bahasa Sunda. Misalnya untuk greeting dengan rumus tidak lebih dari 3 kata, misalnya Bade angkat kamana? Lentong jatuh pada suku kata ke-2 dari akhir dengan cara dipanjangkan. Rengkuh adalah posisi tubuh pada saat berbicara dan pasemon ada mimik atau wajah pada waktu berkomunikasi.

Bahasa Sunda harus menjadi bahasa penghela ilmu pengetahuan, pergaulan, dan kegiatan formal sehingga nilai kebahasaanya naik. Agar hal ini terwujud perlu dukungan pemerintah daerah.