Pages

Friday, March 12, 2021

SMA Cokro

Wakakur Pa Nana, Bahasa Indonesia: Annisa, Bu Ayi, Pa Deden, Pa Ade.

I think the workshop went very slow. My body ache, exhausted,  and my voice was so heavy. 




Sunday, March 7, 2021

Home Theater

Setelah dibuka apa yang dibeli di Mangga Dua, maka kami punya home theater. Saat pemasangan, Excel kakeureut curukna ku gerinda. Jero pisan. 

Dolby experience. 
Suara datang dari berbagai arah terasa bedanya. Bener, teknologi mah bisa mere pengalaman beda. 

Pada saat yang sama Yankie dudurukan sekam cenah rek bikin media tanam.
Kacilakaan deuih, jempolna raheut ku beling.
Cenah sugan teh nyabak plastik,  diduudt satarikna, ari pek reh beling.

Beli  dan makan bubur heula di Leles. 


Dunia maya melebihi realita

Jelajahi Realita dalam Maya 

Hari Sabtu inginnya di rumah. Menghabiskan hari hanya untuk memandang rumput yang tumbuh tak terkendali, mengamati cucian yang luber dari basin, merasakan sesaknya melihat buku berserakan di hampir setiap jengkal rumah. Berada di rumah, tidak untuk membereskan semua kekacauan itu, tapi untuk membiarkannya, dan saya akan rebahan saja. Apapun yang terjadi di sekeliling dan seputar rumahku, biarkanlah.  

Belum lagi lamunan itu khatam, anak saya mendekat.
"Mom, Sabtu besok, ke Mangga Dua. Ngambil speaker téa. Home theater Mom, home theater." Excel meminta sekaligus meyakinkan kenapa harus ke Mangga Dua. 

Anak zaman sekarang, ngukur Cianjur-Jakarta ibarat jarak dari kamar tidur ke kamar mandi. Tapi saya mengiyakan permintaannya dengan alasan tidak mungkin barang yang sudah dibeli, tidak diambil. Mending kalau harganya murah. Anak saya menabung selama tiga tahun agar mampu membelinya. Mampu beli sekarang pun kebetulan saja ada diskon, plus asal barang diambil langsung ke toko. Tokonya di Mangga Dua, haduh. Apakah kemampuan spasial anak sekarang tidak jalan? 
Ngambil barang dari toko Nuhun di belokan Sinar, lumayan terdengar wajar. Ngambil barang dari Mangga Dua, di Jakarta sana? Tobat deh! 
Atas nama harga bisa terjangkau dan anak bahagia,  baiklah. Akhirnya Excel, Yankie, dan saya, pada Sabtu pagi sudah meluncur menuju Mangga Dua. Sambil ke Mangga Dua, nanti sambil sekalian nengok si sulung,  Miracle di Pancoran.

Perjalanan pagi seolah tanpa hambatan. Mangga Dua terasa hidup ketika kaki kami menginjak lantai basementnya. Kami langsung menuju ke toko untuk mengambil barang. Saya terkaget-kaget. Bangunan begini luas, besar, bertingkat-tingkat, isinya cuman alat elektronik semua. Saya merasa berada di sebuah tempat yang asing. Di sekeliling saya benda-benda aneh yang sebelumnya saya lihat dalam filem-filem futuristik. 

Mata tak henti mencoba mengenal isi lantai dua yang sedang kutapaki. Excel mengajak masuk ke sebuah toko. Seorang lelaki langsung menyodorkan kartu antre. Kulihat sebuah ruangan yang bernuansa masa depan. Semuanya serba mesin. 

Excel langsung mendekati salah satu perempuan yang telinganya ditutup headset besar yang seolah menelan kepalanya dan mimpinya sekaligus. Kulit wajahnya yang putih pucat menguarkan kabar bahwa dia takut sinar matahari.  

"Kak, minta nomor pemesanannya," katanya pada Excel. 
Excel menyebutkan sederet angka dan kode setiap kali perempuan itu memintanya.
Saya merasa seperti mendengarkan percakapan yang tidak lazim. Semua pertanyaan dan jawaban, tidak ada dalam kamus besar bahasa Indonesia!
Saya sering menulis I am not a robot untuk memastikan bahwa saya manusia. Tapi obrolan anak saya terdengar robotik. 

"Kak, silakan ke bagian pembayaran, minta risit, dan nanti ke bagian pengecekan barang." Perempuan itu berbicara prosedur yang harus dilalui Excel untuk dapat bertemu barang yang dibelinya. Kosakatanya campur bahasa Inggris. Risit yang diucapkannya pasti mengacu pada kuitansi.

Tanpa babibu, Excel mengantri. Tak lama, dia menyodorkan kartu. Saya yakin dalam hitungan detik telah terjadi perpindahan uang. 

"Paling lama 30 menit, barang bisa diambil pickup point." Terdengar suara datar dari balik layar monitor.

Permintaan menunggu 30 menit menjadi keuntungan bagi saya yang belum habis terheran-heran dengan ruangan yang sedang kami kunjungi. Saya ingin mengetahui benda apa saja yang ada pada ruangan ini. 
Mataku tak bisa lepas dari layar monitor 1000R. Pengalaman menatap layar yang terasa sangat berbeda. 

Perhatian saya tertuju pada ruang gaming. Sebuah kursi berbentuk kalajengking nagkring di sana. Di sebelahnya seperangkat alat untuk mendukung game Dirt Racing siap untik dicoba. Di sana sini, alat-alat game yanh tidak saya kenal ditata apik sehingga meninggalkan kesan kita berada pada ruang spaceship. 

Yang menarik perhatian saya adalah  kursi berbentuk kalajengking bernama Cluvens dengan  monitor ultra-wide 49 inchi. Ada tiga monitor sekaligus yang bisa dipasang. Posisi kursi dapat diatur sesuai keinginan pengguna. Harganya? Tertulis pada standing banner: 50 jutaan.
Si bagian marketing sangat cerdik.  Dengan menulis 50 jutaan kesannya murah dan biasa saja. 
"Mom, barang sudah ada. Lihat di monitor, nama Ex*** Nal**** lengkap dengan nomor Nota sudah pop up." Excel menyadarkan saya pada dunia nyata.
Jadi, zaman sekarang, belanja itu tidak ada tawar menawar, tidak ada obrolan transaksi jual beli, tidak bertemu penjual barang dengan pembeli barang. Padahal pembelian tidak secara online. 

Kami menuju pickup point. Ngantre. Tampak seorang lelaki membuka kardus berisi layar monitor. Diceknya satu  per satu, dia memastikan semua isi dus sesuai dengan yang dipesan. Usai itu, dia mengambil dus. Sebuah speaker dari Logitech beserta benda-benda lainnya dikeluarkannya. Excel maju dan mengecek produk suara. Inilah rupanya home theater yang dijanjikan Excel. Selain Dolby Stereo, the sound surround you, suara seolah datang dari segala arah, suara terdengar begitu  jernih. Suara gelas pecah, begitu persis seperti bunyi yang biasa didengar dalam dunia nyata. 

Pengecekan barang berlangsung dengan sedikit kata-kata. Excel dan lelaki bagian pengecekan barang sibuk mengatur dan menyetel ini itu. 

Sabtu ini memberikan pengalaman lain. Ruang gaming seolah bukan bagian dari Jakarta. Kabar buruknya, itulah dunia anak zaman sekarang. 


Friday, March 5, 2021

Membuat media tanam dari sekam


Pembuatan media tanam dapat dilakukan dengan komposisi arang sekam yang dibakar ditambah dengan tanah dan pupuk dengan perbandingan 1 banding 1.
Pertama disiapkan dulu lahan untuk dijadikan tempat pembakaran arang sekam

 siapkan cerobong untuk tempat pembakaran sekam titik cerobong tersebut terbuat dari kawat yang nantinya menjadi rongga agar sekam dapat secara perlahan terbakar dari arah bawah ke atas.



Melak Cengek

Jumat, 5 Maret 2021 tumbuh 3 cm. Pada pot ini dititipkan pula beberapa biji Cengek yang bentuknya bulat. Nanti kalau sudah tumbuh akan dipindahkan.
My plan: punya seribu pohon cengek!
Bibit dari biji  cengek bulat sudah tumbuh. Ternyata cepat sekali dia tumbuhnya (7 Maret 2021)

18 Maret 2021
Semakin bagus kelihatannya.
Dan ada bunga berdaun merah 

Thursday, March 4, 2021

Penyusunan soal US SMAN 1 Mande

 

Badriah menyajikan penyusunan soal US

Kedatangan ke SMAN 1 Mande Cianjur seolah membayar hutang. Sebelumnya sekolah ini meminta saya untuk memberikan materi terkait dengan penilaian. Namun karena permintaaan waktu itu bertepatan dengan PPKKS maka terpaksa ditangguhkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Takdir menetukan saya tetap bisa bertemu para guru SMAN 1 Mande, saya dimintai bantuan Pa Ade Suherlan, Pengawas Pembina sekolah tersebut untuk memberikan pembinaan terkait materi persiapan US.

Sebelum materi dimulai saya mengenalkan Padli titik dan menarik sekali para guru tertarik untuk menggunakan padlet. Jadi pada pertemuan kali ini selain mereka menguasai Bagaimana cara menulis kisi-kisi, mereka juga tahu cara menggunakan padlet agar para murid dapat menjawab pertanyaan dalam waktu yang bersamaan, sehingga tidak menyontek.

Wednesday, March 3, 2021

Sosialisasi Program Sekolah Penggerak

 

Persiapan pelaksanaan sosialisai program sekolah penggerak


Sekolah Penggerak VS Males Gerak 
     Program sekolah penggerak merupakan transformasi sekolah melalui program yang mendorong sekolah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik secara holistik dalam rangka mewujudkan profil pelajar Pancasila dengan berfokus pada kompetensi kognitif (literasi dan numerasi) dan non kognitif (karakter) yang diawali dengan peningkatan kompetensi KS dan guru. 

Kabupaten Cianjur mendapat kesempatan untuk menikmati perubahan pendidikan  yang paling pertama.  Pendaftaran untuk dapat bergabung pada angkatan pertama program sekolah penggerak (PSP) telah dibuka sejak Februari lalu. Para kepala sekolah harus bergerak agar sekolahnya mendapatkan bantuan PSP yang diterima selama tiga tahun berturut-turut. Bantuan yang diberikan memberikan keuntungan yang tidak sedikit,  di antaranya:
  1. Peningkatan mutu hasil belajar dalam kurun waktu 3 tahun
  2. Peningkatan kompetensi kepala sekolah dan guru
  3. Percepatan digitalisasi sekolah
  4. Kesempatan menjadi katalis perubahan bagi satuan pendidikan lain
  5. Percepatan pencapaian profil pelajar Pancasila
  6. Mendapatkan pendampingan intensif
  7. Memperoleh tambahan anggaran untuk pembelian buku bagi pembelajaran dengan paradigma baru
Berlawanan dengan keuntungan sekolah penggerak yang diperoleh di atas, beberapa kepala sekolah malas gerak. Akibatnya, P4TK dan Dirjen GTK turun ke Cianjur dan memberikan sosialisasi PSP agar para KS mau gerak dibuktikan dengan mendaftar. Sampai saat sosialisasi dilakukan, hanya terdapat 13 Kepala SMA yang masuk ke akun SIM PKB tapi 0 (nol) Kepala SMA yang submit mengajukan biodata dan esai.

Keikutsertaan  pada program sekolah penggerak kurang begitu ditanggapi positif oleh para kepala sekolah karena beberapa alasan. Alasan yang paling santer dikemukakan adalah karena adanya ketentuan selama 3 tahun tidak boleh rotasi. Alasan ini dipandang memberatkan.  Beberapa KS yang ditempatkan di sekolah yang terletak di daerah Cianjur Selatan yang begitu jauh dari pusat ibukota kabupaten berkeinginan untuk dapat rotasi ke pusat kota. Beberapa Kepala Sekolah yang sudah bekerja selama 3 tahun di Cianjur selatan sangat berharap untuk dapat pindah ke sekolah lain setelah 3 tahun berada di daerah antah-berantah. Menghabiskan 6 tahun di Cianjur selatan tidak dapat dicatat sebagai pengalaman indah dalam mengabdi bagi negeri. 

Selain itu juga, muncul rumor bahwa sekolah penggerak itu repot. Sehingga para kepala sekolah sedikit reterensi untuk mengikuti program ini karena bayangan keribetannya. Plus,  tuntutan para kepala sekolah mutlak harus melek teknologi juga menjadi pelengkap dari bayangan keribetan lainnya  yang akan mereka alami selama 3 tahun. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, untuk dapat menerima bantuan tidak harus mendaftar, menulis esai, dites mengajar, tes skolastik, dan wawancara terlebih dahulu. Rangakaian persyaratan ini, terutama menulis essay inilah yang kemudian menjadi hal yang menyurutkan untuk berpartisipasi pada PSP.

Alasan pelengkap  yang membuat para kepala sekolah enggan untuk mendaftar adalah ada ketentuan harus membuat RPP dan dites mengajar.  Para kepala sekolah mengaku bahwa mereka sudah lama tidak membuat RPP dan mereka juga sudah lama tidak mengajar.

Para kepala sekolah mengaku mereka tertarik dengan imbalan berupa keuntungan personal yang akan diperoleh, yaitu disebutkan bahwa barangsiapa yang mengikuti program sekolah penggerak maka bagi Kepala Sekolah yang sudah berada pada periode ketiga tidak diperlukan lagi mengikuti uji kompetensi kepala sekolah. Mereka akan secara otomatis dapat berlanjut ke tahun berikutnya tanpa tes.

PSP membuka peluang untuk membuat Cianjur, umumnya, untuk bergerak ke arah capaian hasil belajar yang lebih baik. Aksi kepala sekolah yang menentukannya. Selama kepala sekolah mager, selama itu pula Cianjur akan berada pada status quo.