Pages

Thursday, July 20, 2017

Hari Ke-2

Kabar di Group WA bahwa hari ke-2 para guru dan siswa kelas 11 dan 12 diperkenankan menikmati kemerdekaan di sekolah. Saya merasa senang diberi kemerdekaan. Sama halnya dengan manusia lainnya, guru adalah manusia yang bahagia jika diberi keleluasaan untuk menikmati harinya tanpa jadwal. Dia dapat membuat jadwal sendiri yang menurutnya harus dilakukan. Saya pun demikian.
Hari ke-2 diisi dengan mengurusi anak saya sendiri yang mendapatkan kesempatan menjadi peserta International Youth Camp di Rosatom School, Rusia. Saya memulai hari dari pukul 6.15 dengan berangkat ke Rumah Sakit untuk mendapatkan antrian sebagai seorang Ibu yang membutuhkan bantuan dibuatkan Surat Keterangan Sehat dari Dokter untuk anaknya. Pegawai RS mengatakan bahwa Dokter mungkin akan hadir pukul 8. Saya membayangkan menunggu 2 jam.

Keberuntungan sedang berpihak pada saya, pukul 7 Dokter telah tiba. Beliau bersedia mengisi format yang disediakan dari pusat kebudayaan Rusia. Pertemuan dengan Dokter berakhir setelah beliau membubuhkan tanda tangan dan cap.

Saya segera menuju SMP dimana anak saya sedang mengikuti masa orientasi. Pihak sekolah menyambut kehadiran saya sebagai orang tua dengan ramah. Kepala Sekolah berterimakasih atas keikutsertaan anak saya pada kegiatan internasional dengan membawa nama SMP yang dipimpinnya.
Petualangan hari ke-2 belum selesai, saya mencari tempat dimana saya bisa mencetak foto untuk persyaratan membuat visa anak saya. Pukul 9, beberapa toko belum mulai aktivitasnya. Lagi-lagi, keberuntungan bersama saya, di studio dekat Pegadaian, telah buka. Maka selesailah persyaratan untuk anak saya dibuat. pada pukul 10 semua dokumen tersebut diantar ke Pusat Kebudayaan Rusia, Jakarta oleh anak saya yang pertama.

Setelah semua persyaratan berada pada posisi sedang diantarkan, saya ke sekolah. Dalam benak saya, belum ada kegiatan yang terjadwal, jadi saya harus kembali membuat jadwal sendiri.
Jadwal yang saya buat adalah melanjutkan analisis silabus, membaca buku, menulis untuk blog, melanjutkan cerita dengan tokoh Sunda ‘Bi Janah’, dan mengingatkan anggota komunitas PKB untuk mulai melakukan analisis silabus.


Sekolah bagi saya merupakan tempat belajar. Kapan pun saya berada di sekolah,  saya harus mendapatkan pelajaran. Seorang guru, sama dengan orang-orang lainnya di luar sana, memiliki tanggung jawab untuk belajar sepanjang hayat. Jika saya ditemukan selalu seperti sibuk membaca, menulis, dan mengajar, maka saya sedang belajar. 

Hari Ke-1

Tahun Ajaran 2017/2018 jatuh pada Senin, 17 Juli 2017. Angka yang bagus untuk dicatat ’17.7.17’. Keistimewaan  banyaknya angka 7 seolah menunjukkan luar biasanya tahun ini untuk saya, seorang guru SMA dari kota kecil yang mungkin nama kotanya tidak dikenal oleh orang Vladivostok. Bicara angka 7, tahun ini bersamaan dengan dipopulerkannya 7 Pilar Budaya Kota Cianjur, yaitu: Ngaos, Mamaos, Maenpo, Tatanen, Someah, Tangginas, dan gotong royong. bersamaan pula dengan kegiatan hajatan besar Bupati Cianjur yang bertajuk 70.000 detik memperingati hari lahir Cianjur. Cari ada kejadian apa pada tanggal 17 juli.

Hari pertama sekolah, baik bagi guru ataupun bagi siswa, sama-sama mendebarkan. Bagi guru (seperti saya), harap-harap cemas semoga tahun ini menjadi tahun yang tercatat dalam sejarah. Tertulis dalam ingatan siswa-siswa saya bahwa mereka pernah bertemu seorang guru yang memberikan sumbangan pemikiran kepada mereka untuk menjadi orang yang berbeda. Dengan menjadi orang berbeda semoga menjadi orang terbaik, dan pada akhirnya menjadi orang nomor satu (to be different, to be the best, and to be number 1).

Bagi siswa, dalam bayangan saya, mereka memikirkan akan seperti apa mereka menghabiskan masa 365 hari di akhir tahun ke-SMA-annya. Sebagian mereka mungkin ada yang merasa takut jika tahun terakhirnya berakhir kurang menyenangkan karena mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman, guru, atau pihak lain yang tidak diduganya. Sebagian lainnya, bisa saja merasa tertekan karena terus menerus memikirkan dirinya mau jadi apa, kuliah dimana, apakah orang tuanya sanggup membiayai kuliahnya, dan pikiran-pikiran lain yang khas hanya dimiliki anak-anak SMA kelas 12. Atau, tanpa sepengetahuan saya, ada sedikit siswa yang memikirkan siapa yang akan menjadi wali kelas terakhirnya di masa SMA.

Hari pertama, seperti tulisannya yang sakral 17.7.17, dimulai dengan upacara. Upacara pada hari istimewa, tentu peserta upacaranya istimewa. Ada sekelompok besar anggota barisan upacara yang masih berbaju SMP dikawal siswa yang berwajah serius. Dua kelompok besar lainnya berseragam SMA. Mereka yang berbaris paling kanan, terlihat lebih percaya diri. Mereka adalah kelas 12. Kakak tertua, mereka adalah siswa yang mendapatkan peluang untuk meraih cita-cita masuk ke Perguruan Tinggi impian lebih cepat ketimbang kelas 11 atau kelas 10. Mereka orang-orang hebat yang akan menjadi pemain utama di negeri ini pada 5 atau 7 tahun ke depan setelah mereka berbaris pada upacara ini.

Setelah 7 tahun dari sekarang, mereka yang berbaris pada kelompok kanan, telah lulus S2, saya akan trenyuh bahkan bisa saja berurai air mata ketika mereka menyempatkan menyaksikan upacara bendera dan status mereka adalah Master, orang ahli, orang yang keilmuannya diakui secara akademik dan profesional. Mereka akan bicara didepan adik-adiknya mengabarkan kegembiraan selama di SMA. Yang lebih membahagiakan, mereka mengabarkan bahwa mereka menuai keberhasilan karena memiliki guru-guru di SMA yang membuatnya jadi orang berbeda.

Usai upacara, para siswa terpisah. Kelas 10 yang masih dalam masa orientasi, kembali dibimbing oleh kakak-kakak kelasnya yang berwajah serius tadi ke kelas. Sementara kelas 11 dan 12, untuk sementara mereka menikmati kemerdekaan berada di sekolah tanpa jadwal pelajaran. Mereka menghabiskan hari dengan berbincang, sebagian lagi kembali mencicipi makanan kantin, ada pula yang hanya berjalan hilir mudik memperhatikan keadaan.

Di sisi lain, para guru kembali ke ruang guru. Sebagian guru mendapatkan tugas untuk membantu siswa baru mengenal lingkungan sekolah. Sebagian lagi, belum mendapatkan tugas. Saya, termasuk guru yang tidak mendapatkan tugas.

Hari yang panjang di sekolah seiring dilaksanakannya 5 hari di sekolah, tidak mungkin diisi dengan hanya mengobrol dan melakukan hal-hal yang tidak jelas. Saya mulai bekerja. Saya mulai menganalisis silabus untuk menyegarkan pikiran mengenai materi ajar apa yang akan diberikan pada tahun ini. Melakukan analisis menuntut konsentrasi tinggi. Bagaimana materi ajar diperoleh sampai bagaimana mengajarkannya, tidak mudah dirancang dan menjadi tulisan pada laptop. Pada saat yang sama, saya melayani guru-guru seKabupaten Cianjur yang mengalami masalah dengan kegiatan PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan). Saya berperan sebagai ketua komunitas yang bertanggung jawab secara sukarela untuk membantu dan memfasilitasi setiap guru Bahasa Inggris SMA di Kabupaten Cianjur jika menghadapi masalah terkait mengajar dan hal-hal lain terkait dengan urusan mendidik.


Saya meninggalkan pekerjaan menganalisis, terlalu lama menatap layar laptop membuat mata berkunang-kunang. Akhirnya saya melanjutkan kembali membaca buku Dan Brown “Angels and Demons”. Waktu berjalan sesuai tugasnya, dia dengan tepat mengatakan jam dan menit kepada setiap warga sekolah untuk menaati angkanya. Angka yang meminta semua warga menghentikan kegiatan di sekolah dan kembali kepada dirinya, keluarganya, dan impiannya.  Hari pertama sekolah, berakhir dengan harapan semoga tahun ini menjadi tahun istimewa bagi semua warga sekolah ini. 

Projek 365 (Pengantar)

Bagaimana seorang guru berperan sebagai wali kelas selama ini belum banyak diungkapkan kepada khalayak ramai. Biasanya wali kelas dianggap sebagai bagian dari tugas guru dan tidak perlu dipertanyakan lagi, apalagi kegiatannya dicatat kemudian dijadikan sebuah buku. Sesungguhnya  memiliki tanggung jawab sebagai wali kelas bukanlah hal biasa. Mendapatkan peran ini diawali dengan diterimanya Surat Keputusan dari afiliasi dimana seorang guru bekerja. Anggapan semua guru adalah wali kelas, hal ini tidaklah benar, terutama untuk guru pengajar sekolah menengah atas. Terbatasnya jumlah kelas dibandingkan dengan jumlah guru mengakibatkan tidak semua guru berkesempatan menjadi wali kelas.

Peran wali kelas (juga) sering dianggap hal lumrah bahkan mendekati biasa-biasa saja. Hal ini tidak tepat. Para ahli dalam pengajaran menyebutkan bahwa dalam dunia pendidikan hal-hal luar biasa terjadi dari hal-hal biasa yang dilihat secara tidak biasa. Buku yang anda pegang ini pun merupakan catatan kejadian biasa sehari-hari wali kelas. Yang menjadi tidak biasa adalah salah satunya karena dicatat dan menjadi artefak yang dapat dipelajari oleh pihak pendidik atau pun pihak luar yang merasa peduli terhadap pendidikan.  Ketidakbiasaan lainnya adalah menyajikan bagaimana peran seorang wali kelas selain mengajar, juga dalam membimbing, membina, mendidik, membantu, mengarahkan, menolong, menghormati dan memanusiakan siswa pada kelas binaannya.

Buku ini memberikan gambaran bagaimana seorang wali kelas banyak belajar dari siswa yang dibinanya. Bagaimana secara pedagogis dan profesional dirinya menjadi lebih baik, dalam arti meningkat secara pemahaman dan praktik karena ada kontak langsung dengan siswa yang langsung menjadi tanggungjawabnya diluar sekadar memberinya pelajaran. Bagaimana secara sosial berkembang setelah bersama-sama berbagi hari, berbagi persoalan, dan berbagi tanggung jawab dengan siswanya.


Selain itu, buku ini juga membantu mereka yang tidak bergelut langsung pada pengajaran di kelas mengetahui apa saja yang dilakukan seorang guru dari aspek perannya sebagai wali kelas. Tentu tulisan ini tidak mewakili peran guru secara holistik. Penitikberatan pada wali kelas menunjukkan bahwa guru memiliki multiperan ketika berada di sekolah dan di kelas. Peran lain guru yang paling dikenal diantaranya sebagai pendidik, pengajar dan orang tua siswa di sekolah. Bagaimana peran ini dilakukan bisa dibaca pada seri 365 yang menyertai buku ini yakni 365 hari menjadi guru pada tahun ajaran 2017/2018; dan 365 hari menjadi pengampu mata pelajaran bahasa Inggris, dan 365 hari bersama Ms. B. Khusus untuk yang terakhir, terdapat 36 buku yang ditulis oleh 36 siswa yang diwalikelasi yang menyampaikan pengalamannya selama bersama Ms. B.  

Tuesday, July 18, 2017

Karak nyalse

'Rumah tangga nu bagja,  dimana-mana sarua, tapi rumah tangga nu teu bagja, beda dina masalahna, kusutna, amburadulna, jeung rocétna,' kurang leuwih kitu pamanggih Leo Tolstoy ngeunaan rumah tangga. Contona dina rumah tangga Anna Karerina anu ceuk batur mah mulus banglus, lubak libuk  sagala aya, dina jero-jeroanna mah aya bae ciderana jeung kuciwana nu ngakibatkeun milih nemahan pati. Audzubilah min dalik.

Rumah tangga Bi Janah,  ti luar mah katingal taya kasusah. Anak hiji, lalaki geus kawin boga anak hiji keur meujeuhna lucu. Anakna gawe di pabrik, lumayan we cukup keur manehna mah. Cicing saimah jeung Bi Janah. Atuh salaki Bi Janah, soleh, jalma basajan, gawe kula kuli, tapi cukup keur hirup hurip mah. Atuh Bi Janah, leutik-leutik ge pan gawe bunta bantu di Pa Guru.

Bi Janah tara kadéngé humandeuar komo ngangluh mah. Dina waktu isuk-isuk, sabada beres di imahna, langsung bae pak pik pek di bumi Pa Guru. Geus apal kana pagawean.
Kulantaran imah Bi Janah aya di pengkereun bumi Pa Guru, ukur kahalangan dua suhunan, atuh salse pisan Bi Janah bisa bulak balik, ngatur dua imah sakaligus. Eh.. dua imah tapi tilu kuren, pan anakna anu ngahiji diimahna pan geus rarabi.

Dina waktu beurang nepika sore, kadang-kadang mah nepika peuting,  Bi Janah istuning katingal janglar jeung berag bae. Matak mawa tingtrim ka Pa Guru jeung Ibu anu sapopoe tara aya di imah. Atuh ka si Cikal jeung si Bungsu oge mawa tenang lantaran pasakan Bi Janah cocog pisan jeung letah barudak.

Tapi dina isuk-isuk ieu. Bi Janah datangna elat. Tara ti sasari pisan. Matak hemeng. Kamari mah katingalna biasa-biasa bae.
Jaba rek indit gawé, aya rapat dinas tahun ajaran anyar tabuh 8, jaba motor banna kudu ditambah angin heula. Kamana Bi Janah tacan katingali tarang-tarangna acan.

Meh ampir tabuh 7 karak Bi Janah ngurunyung. Beungeutna teu berag, biwirna nyungcung siga aseupan.
Diantep we basa manehna ngagoloyoh ka dapur. Teu ditanya, waktuna samporet, bisi kabeurangan rapat.

Karak ge ngaluarkeun motor, kadenge Bi Janah ngagukguk ceurik. Hate ngagebeg, na aya naon. Boa-boa gering tapi maksakeun gawé.
Barudak, si lbu, oge kuring nyampeurkeun kanu sumegruk sisi basin paranti ngumbahan piring.

Si Cikal nanya, 'Kunaon Bi nangis? Hapunten pami kamari  mapah ngahindar pulisi tidur matak keuheul ka Bibi.'

Bi Janah cengkat, manehna ngajawab, Bibi nangis pedah keuheul, ngewa, jeung kesel ka nu di imah. Kabeh matak pusing."

Kuring ngahuleng.
"Maksudna naon Bi?' Ceuk kuring.

"Bibi teh keuheul ka Bapana barudak, ambek, hayang nyarekan laklak dasar ti minggu kamari. Naha manehna bet wawanianan milu arisan paket lebaran, sapoe 5 rebu. Padahal si Sujang, pan keur ngiridit motor, sabulan Bibi kabagean kudu mayar 700 rebu," Bi Janah nerangkeun bari sisimekeun.

"Atuh bayar we Bi, dicicil, teu kudu dipake ceurik sagala.' Kuring ngalelemu.

"Bapa,  abdi ambek ti minggu kamari, keuheul ti mangkukna, hoyong budal ceurik bakating ku kesel. Tapi teu kabujeng bae. Ayeuna nembe nyalse, hapunteun, nya abdi ceurikna ayeuna."

Monday, July 17, 2017

Ditilang

Sok melang lamun si Cikal momotoran. Sanajan ukur di tengah kota, tetep we sok palaur bisi kuma onam.  Lamun dina waktuna kudu mulang, tacan jebul bae nepi ka imah, hate teh sok marojengja, bisi kitu, paur kieu. Sok sieun ujug-ujug aya telepon ti Rumah Sakit atawa beja lianna nu matak murag jajantung.

Jaba ti kitu, pan kabejakeun ayeuna keur meuweuh razia Zebra serentak. Hartina utak eutik tilang.
Dina WA murudul silih bejaan, jadwal razia nu kaitung taya lolongkrang pikeun teu katangkep lamun ngalanggar aturan lalu lintas.
Isuk-isuk, razia teh ti tabuh  10 nepika jam 12. Sore, tabuh 3 nepika tabuh 5. Peuting, ti jam 10 nepika jam 12. Teu kaliwat, subuh oge aya ti mimiti tabuh 3 subuh nepika tabuh 5.
Ari si Cikal pan tacan boga SIM.

Saperti sore ieu, Bi Janah menta dianteur ka Pasar. Tapi hayang ka pasar handapeun Ramayana cenah. Pajar teh ngarah teu rarujit, teu barecek. Pan pasar Induk mah matak kapok datang. Nya hareurin, nya kalotor, nya jauh mela melu, eta deui bauna, matak ruy rey. Jeungna deui, Bi Janah boga alesan, lamun beres ti pasar, bisa laha loho heula ka Ramayana.  Pokna teh neangan nu euweuh. 

Ampir Isya, nu ti pasar tacan jol. Hate ratug. Bisi budak teh ditilang. Pan ti Ramayana mah kapegung kabeh jalan teh. Liwat jalan handap, pulisi siaga di pengkolan deukeut susukan Cianjur. Jalan tengah kota, lebah hareupeun SMP 4 pulisi rajeg. Jalan luhur, deukeut pertigaan Harimart, pulisi geus pasti siap.

Tamba bingung teu puguh, budak twh ditelepon. Aipek jawabna teh,  'telepon di  luar jangkauan.' Naha make di luar jangkauan sagala, pan Ramayana mah teu leuwih ti 5 kilometer ti imah teh. Pikiran geus ngaprak ka jauhna. Boa budak teh keur diinterogasi, Bi Janah pastina ukur bisa rambisak.

Teu lila tutas nelepon kadenge motor ngagerung asup ka buruan imah. Buru-buru dipapag ku pananya.
'Kamana heula atuh meni matak melang.'
Bi Janah jrut turun tina sadel motor, terus ngajawab.
'Hapunten Bapa, abdi elat. Eta da  gara-gara pulisi,' pokna bangun ngenes pisan.

'Kunaon kitu,  make nyalahkeun pulisi.'

''Abdi dipiwarang turun ku si Eneng, saurna paur aya pulisi. Abdi mapah malibir ngarah teu pendak sareng pulisi, lumayan oge tebih, dugika asa leklok tuur.'
'Terus? Geuning salamet teu ditilang?'
'Henteu, da abdi mung ngaliwatan pulisi tidur. Mun abdi teu turun, motor ngagesruk, boa moal majeng, da témbokna luhur pisan.'

Sunday, July 16, 2017

Ngajajap saha?

Bi Janah sok loba alesan mun dipentaan tulung ka pasar kana angkot.  Majar teh, atuh wios bae meser nu saayana bae, nu aya di warung. Atawa, aduh Pa Guru mah sok nyuhunkeun nu mahiwal.
Kahayangna Bi Janah mun ka pasar dianteur ku si cikal kana motor. Kahiji lamun kana motor mah teu ngetem, kadua bisa salasap selesep jadi tereh nepi kanu dituju.
Poe ieu si Cikal keur mantuan adina nyiapkeun tetek bengek keur miluan MOPD isukan ka SMP.
 
Waktu geus nunjukeun tabuh 4. Bi Janah masih keneh hulang huleng tacan indit.
'Bi tong sore teuing inditna nya ka pasar teh, balikna bisi kaburu magrib, ngke teu kabagean waktu keur salat, jadi dosa ka Bapa,' saur Pa Guru ngingetan Bi Janah.

Teu ngajawab, Bi Janah ngajewang jingjingan paranti balanja. Manehna ningali catetan, kabehanna barang-barang anu dibutuhkeun si Ade isukan MOPD.

Waktu manehna nepi ka pasar, Bi Janah langsung balanja, nuturkeun catetan. Teu tuwur tawar, teu loba tatanya, padu aya bae. Manehna buru-buru balik. Sieun Pa Guru bendu. Sieun jadi matak dosa ka Pa Guru lantaran kamalinaan di pasar nepika kamagriban.

Bari ngajinjing balanjaan Bi Janah ngeureunkeun angkot. Dilongok, kosong keneh. Tadina rek dibedokeun, rek nyebutkeun moal, ngan inget sieun kamagriban. Kapaksa manehna naek.

'Wayahna tong ngetem nya, bisi magrib manten,' ceuk Bi Janah ka supir angkot.

'Nembe ge jam 6 kirang, ah caang keneh, teu acan adzan magrib Bu. Lima menit nya Bu ngantosan heula, sugan we aya deui nu naek,' tembal supir angkot nu teu ngaraseun kumaha hariwangna Bi Janah nu sieun kamagriban di jalan. 

Di dago-dago, penumpang teh teu jebul bae. Kadenge kelewung adzan, sigana ti masjid gede deukeut Pasir Hayam. Bi Janah teu bisa kukumaha, manehna ukur bisa melong ka beulah kulon ningali panonpoe surup nu hibar koneng umyang didingding ku mega hideung saeutik. Bleg bae siga lukisan anu aya di kamar si Cikal.

Angkot ahirna ngageuleuyeung indit. Penumpangna, Bi Janah sorangan kadua balanjaan. Teu lila di lebah jambatan aya nu naek. Gek diuk dina korsi nu sarua ngan  dibeulah juru, rada anggang ti  Bi Janah. Awewe ngora keneh. Bi Janah nelek-nelek. Lain pedah wawuh, pedah teu ilahar bae. Teu di kerudung. Pan di kabupaten tempat Bi Janah cicing mah, lamun awewe bari lslam, wajib make kerudung. Gerbang marhamah, kota santri, kota lslami, kawasan berkerudung, kitu pan kasauran Bapa Bupati oge.

'Geulis budak teh,' ceuk hate Bi Janah. Memang enya geulis.  Awakna budak awewe di sampulur bari lenjang. Kulitna hejo carulang, beda jauh tina bajuna nu bodas beresih. Buukna panjang, lemes, lempay.

'Mang kersa teu ngajajap abdi ka Kebon Manggu, wios ongkosna 20 rebu, janten dianggap pinuh we,' kadenge budak teh nyarita sorana laun bangun jero.
Tacan ge supir angkot ngajawab, Bi Janah geus ngecewis dina hatena, 'nya daek atuh, puguh ti tatadi ngetem ge hayang pinuh. Aya ku resep, nya geulis, nya loba duitna,'

'Kalebet teu Neng? Tebih teu?' Supir nanya.
'Caket, lebet sakedik, pas tanjakan anu aya tangkal kopi, didinya,' jawabna tandes pisan.

Supir angkot bangun bungah, Bi Janah oge milu bungah sabab angkotna bakal mangprung teu neangan penumpang deui.
Geus deukeut ka tempat nu dituju, nu geulis ngingetan, ' di payun Mang mengkolna, lebetna tina gerbang nu melengkung.'

Seok karasa angkot teh mengkol. Bi Janah rada keuheul, lamun nganteurkeun nu geulis, bakal elat nepi ka imah.
Kaatoh teh leungit sapada harita, kabayang Pa Guru bakal nganaha-naha.
Keur mapantes kumaha engke panyeuseul Pa Guru, gejrug mobil teh siga ngaliwatan polisi tidur. Bi Janah sontak istigfar.  Nu geulis panonna rada buncelik. Bi Janah rada ngalenyap ningali panon nu buncelik teh asa teu aya hihideungna.
Angkot maju lalaunan,  rada reyem-reyem katingali aya pengkolan.
Seng kaambu kembang kopi, melenghir minuhan angkot. Bi Janah ungas ingus bari mikir, naha aya kembang kopi seungit-seungit teuing. Bi Janah malik ka sisi, hayang sidik dimana aya tangkal kopi.
Beak pengkolan, jalan rada naek saeutik. Ku Bi Janah katingali sisi jalan rajeg loba tatangkalan, tingjurugkunuk siga jelema keur diharudum.

'Di payun Mang, liren.' Kadenge halon pisan.

Supir angkot ongkoh-ongkoh bae ngageuleuyeung kagok keur nanjak sigana. Bi Janah anteng nonggongan, nyidik-nyidik neangan tangkal kopi. Geus rada tenget kakarak katingali rentul kuburan. Bi Janah karak sadar angkot teh asup ka Sirnalaya.

Beak tanjakan karak angkot teh eureun. Ret  supirna ngareret katukang.

'Bu, si Eneng turun dimana?'

Bi Janah ukur calangap. Karérét ku tungtung panonna, nu geulis nu diuk dijuru, geu teu aya didinya.

Tuesday, July 11, 2017

Masih Ngurus Paspor (Excel Series)

Hari kedua mengurusi paspor,  Excel dan saya disuguhi banyak pengalaman baru. Kami naik bis untuk menuju kantor imigrasi.

Perjalanan naik bis menarik bagi Excel. Sepertinya dia menikmati setiap event yang tersaji bergantian di dalam bis. Mulai dari orang yang  mohon maaf karena ada hartanya yang harus dia ambil dari penumpang bis. Duduk perkaranya begini. Penumpang bis dipandang orang mampu secara ekonomi makanya bisa bepergian.  Sedangkan si peminta maaf, memandang dirinya orang kurang beruntung secara ekonomi. Menurut aturan agama, orang miskin wajib mendapatkan sodakoh dan bantuan dari orang mampu. Nah, si peminta maaf ini menjalankan syariat agama. Dia menagih harta dari orang-orang mampu untuk diberikan kepada dirinya.

Di dunia ini sepertinya serba terbalik. Kasus peminta maaf karena hartanya masih ada pada kita, contoh nyata dunia terbalik. Sama terbaliknya dengan barang mencari pembeli. Setahu saya, dulu, pembeli datang ke pasar, ke warung, ke ruko, untuk mencari barang yang hendak dibeli. Kini, tidak berlaku lagi.

Pada bis, barang-barang berjenis-jenis datang ke pangkuan tanpa permisi dan tanpa ampun. Barang-barang tersebut silih berganti jatuh ke pangkuan. Mulai dari buku masakan, kue dodol, kacang Bogor, permen jahe, pulpen, kacamata, jam tangan, peniti, tisu, kipas, ring haoe, lampu led, dan barang-barang lainnya yang mungkin dianggap dibutuhkan setiap orang. Sebagai penumpang, saya tidak bisa menghindar dari serangan barang mencari pembeli. Masih beruntung jika hanya diserang barang saja. Yang menyedihkan ketika diserang secara verbal juga. Misalnya, 'haseum' artinya asem tidak ada yang membeli. Kalau ada yang meminta barang yang lain, si pemilik barang menyindir ,' nu geulis loba pamenta' atau orang cantik banyak maunya.

Hal lain yang menarik bagi Excel sepertinya pengamen dan video dangdut yang selalu melengkapi perjalanan. Khusus untuk lagu dangdut, saya merasa malu sendiri. Penyanyi dangdut dengan tanpa sensor bergoyang sesuka hati pada balutan baju minimalis. Kasihan Excel, anak usia sebelas harus menikmati suguhan musik dalam negeri dengan kualitas tanpa sensor.  Bagaimana jika Excel ketika ditanya temannya dari belahan dunia lain mengenai seperti apa musik di Indonesia. Bahaya sekali jika Excel menjawab dengan mendeskripsikan  penyanyi dangdut yang berputar tiada henti pada video player bis. 

Secara pribadi, saya sangat terkejut dengan syair lagu-lagu dangdut yang diperdengarkan pada bis. Penyanyi dengan tanpa beban melantunkan bahwa sudah tidak zaman perempuan setia. Karenanya dia bercumbu didepan pacar lamanya. Dia melanjutkan bahwa pacar tidak cukup satu. Dia juga mengulang-ulang bahwa dirinya perempuan masa kini, punya cinta sana sini, tidak dijajah laki-laki. 

Saya bergidik mendengar syair lagu dangdut tersebut. Sejak kapan definisi perempuan masa kini adalah perempuan yang mengumbar syahwat tanpa aturan. Negeri ini dicekoki syair dangdut, harus maklum jika yang diurus rakyat hanya seputar kepuasan sesaat. Tidak beda dengan syair lagu dangdut tadi 'bercumbu didepan pacar lama, dan merasa bahwa itu representasi dari emansipasi.
Emansipasi kebablasan.

Bis berjalan lambat,  sebentar-sebentar berhenti karena membludaknya buruh pabrik yang bertukar shift kerja. Saya berusaha menikmati perjalanan senormal mungkin. Syair lagu dangdut diabaikan, penjual dianggap tidak ada, pengamen dianggap bisu. Akhirnya tiba juga di tempat yang dituju.

Pengurusan paspor hari kedua, sedikit menyedihkan. Ketidaktahuan bisa merugikan seseorang.  Itu pula yang terjadi pada saya.

Kemarin saya diminta datang pukul 14. Dan saya datang pukul 13. Tapi, 'maaf Bu, antrian sudah habis pukul 12, balik lagi besok saja,' itu sambutan dari si adek praktikan yang menjaga bagian kartu antri.  Gosh, apa sesederhana itu untuk bulak balik? Saya senyum kecut  karena saya tidak bisa senyum asem seperti penjaja barang di bis.

Saya mencoba menghadap ke bagian pengambilan  dokumen dan menjelaskan perkaranya. Syukurlah saya ditanggapi dengan ramah dan diminta menunggu. Tidak lama saya dipanggil dan saya menerima nomor paspor untuk Excel. Paspornya sendiri bisa diambil Kamis, sesuai aturan pembuatan paspor. Paspor dapat diambil 3 hari setelah pembayaran.

Sambil menerima nomor paspor saya membayangkan masalah lanjutan dari kegiatan hari ini. Ketiadaan paspor semoga tidak menghambat pembuatan visa.
Hati saya dipenuhi kesedihan. Sedih ketika harus membayangkan bagaimana Excel kecewa tidak bisa berangkat. Menjadi satu dari tujuh peserta dari jutaan remaja Indonesia memang tidak mudah.