Pages

Thursday, July 20, 2017

Hari Ke-5

Hujan semalam menyejukkan kota kecilku. Pohon-pohon Kupa Landak di sekitar rumah terlihat lebih segar, warna hijaunya memantul ditimpa cahaya mentari pagi. Saya menikmati perjalanan menuju sekolah pada pukul 6.15. Berbagai macam kendaraan seolah berlomba menuju tempat tujuan. Knalpotnya menderu menyapu hening segar pagi mengantarkan mimpi-mimpi yang bertebaran di setiap kepala orang-orang yang sedang diantarkannya.

Saya menikmati pemandangan pagi dengan takjub. Kehidupan begitu cepat dimulai. Pukul 6.15 hiruk pikuk kota kecil telah mulai. Anak-anak berbaju seragam SMA telah berebut memasuki gerbang sekolah dimana saya mengajar.

Pukul 6.40 saya masuk kelas yang saya walikelasi, 12 IPA 6. Dengan membawa teks berjudul ‘Pembawa Mayat’ sebuah karya besar anak bangsa yang menjuarai menulis cerpen yang diadakan oleh Harian Republika. Karya ini dibawa ke kelas karena selain isinya yang bernas, juga pesan moral yang diimplisitkan si penulis sangat halus namun mengena.

Kelas dimulai pukul 6.45 dengan membaca Asmaul Husna bersama. Sebelumnya saya telah membagikan cerpen berjudul Pembawa Mayat yang saya print tadi malam. Siswa terlihat terkejut karena saya datang tepat waktu. Sebelas orang siswa belum hadir. Saya seolah tidak mengindahkan ketidakhadiran siswa yang belum hadir di kelas. Saya memimpin Asmaul Husna dan membaca doa pagi.

Saya lihat ada satu orang siswi yang non muslim. Saya merasa senang sekali. Kelas ini mewakili sedikit kehidupan nyata masyarakat secara sosial, yakni heterogenitas suku dan agama. Saya anjurkan agar dia berdoa sesuai keyakinannya. Sampai hari ini, saya belum tahu siapa namanya.

Satu persatu siswa berdatangan. Terakhir yang datang pada pukul 7.00. Kelas dihadiri 34 siswa. Orang tua Ica (nama samaran) mengabari bahwa putrinya sakit lewat sms.  Satu lagi Ori (nama samaran) juga tidak hadir karena sakit.

Pukul 7, kegiatan literasi dimulai. Setelah yakin semua siswa memegang teks cerita pendek Pembawa Mayat, saya membacakan paragraf pertama dalam bahasa Inggris, sementara para siswa memegang teks dalam Bahasa Indonesia.  Tujuan dari pembacaan dalam bahasa Inggris, agar siswa mendapatkan kosa kata baru Bahasa Inggris secara tidak langsung. Harapan jauhnya, mereka bisa melihat bagaima mereka sebetulnya dapat memahami apa yang saya ucapkan, walaupun dalam bahasa Inggris, karena ada sandingan terjemahnya dalam bahasa Indonesia yang mereka pegang. Berpikir dalam dua bahasa sekaligus, terdengar seperti praktek berpikir kritis. 

Saya mulai menggali makna paragraf ke-1. Bagaimana kematian bisa ditolak seorang suami ketika istrinya meninggal sejak dua hari lalu. Bagaimana seorang suami tidak menerima istrinya dikuburkan, karena kematian bukanlah hal istimewa baginya.

Para siswa seperti sedikit tersihir bahwa ada hubungan yang amat dekat antara cinta dan kematian. Cinta tidak terhalangi kematian. Cinta tetap hidup walaupun raganya tidak lagi ber-ruh. Bagi lelaki, tokoh pada cerita pendek ini, kematian tidak memerlukan doa. Menurutnya, doa tidak mengubah apapun.

Cara pikir seperti ini perlu dijelaskan kepada siswa. Mereka harus melek (literat) bahwa kematian tidak bisa dipandang sebagai hal biasa. Saya katakan, segala sesuatu yang hanya terjadi satu kali dalam kehidupan manusia, seharusnya istimewa. Contoh, kelahiran, hanya terjadi satu kali. Maka setiap kelahiran disambut dengan gembira karena telah hadir insan baru yang akan menyemarakan kehidupan sebuah keluarga. Kematian, juga istimewa, karena hanya terjadi satu kali. Tidak bisa seseorang sangat posesif dan egois menolak kematian dan menerimanya sebagai hal biasa. Bagimana si penulis berpikir berlawanan arah dan menitipkannya pada tokoh utama pada cerita, sangat luar biasa.

Hanya dua paragraf yang bisa digali makna tersiratnya, waktu menunjukkan pukul 7.15. Masa literasi, habis. Para siswa seolah masih betah dengan membedah cerita. Saya katakan bahwa besok hari, bisa dilanjutkan lagi.


Saya mengajak para siswa untuk mulai menuliskan pengalaman mereka selama di kelas 12 IPA 6. Saya anjurkan untuk menuliskannya di blog. Sebagian besar siswa terlihat berbinar ketika saya menantang torehkan namamu pada karyamu. Buku Seri 365 (bersama Ms. B) akan menjadi karya pertamamu yang membedakanmu dari siswa-siswa lainnya di sekolah ini, juga di sekolah lainnya. 

Hari ke-4

Kamis, 20.07.2017 (lagi-lagi angka yang bagus).  
Saya dapat menemui kelas 12 IPA 6. Mereka berada di kelas bangunan atas, paling ujung kiri jika saya menghadap ke arah Timur. Pada saat menuju kelas, saya berpapasan dengan siswa yang tahun sebelumnya saya ajar di kelas 11, saya ditanyai apakah benar saya mewalikelasi 12 IPA 6. Pertanyaan ini mendatangkan rasa bangga bagi saya sebagai seorang guru. Saya memaknainya mereka ingin diwalikelasi saya. Terbukti dengan pertanyaan yang diajukannya , ‘bolehkah saya meminta bertukar wali kelas dan meminta Ms jadi wali kelas saya?’ Saya menjawab dengan senyum, saya jelaskan meminta itu hak, namun persoalan dikabulkannya tidak berada pada tangan saya. Kekecewaan nyata terlihat dari wajahnya. Semoga siswa ini mendapatkan wali kelas sesuai harapannya, walaupun bukan saya.
Kelas 12 IPA 6 rupanya telah menunggu kehadiran saya. Mereka diam ketika saya masuk kelas. Sunyi.
Kesunyian kelas yang dihuni 30an siswa bisa saja terasa menakutkan bagi setiap guru, termasuk saya. Bisakah kesunyian ini akibat dari ketidaksiapan mereka bertemu wali kelas? Mungkinkah mereka merasa takut ketika menyadari bahwa wali kelasnya bukan guru yang diharapkannya?
Pertanyaan itu tidak lama bertahta di pikiran saya. Saya segera mengucapkan salam segera setelah menyimpan tas. Saya mengambil gawai yang didalamnya sudah saya tulis plan (rencana) untuk kelas 12 IPA 6. Pada 5 menit pertama, warga 12 IPA 6 masih terlihat canggung. Saya mencoba mengubah suasana dengan menyampaikan misi saya untuk mengajak mereka menjadi orang berbeda (to be different).
Saya jelaskan bahwa di dunia ini agar kehadiran kita diakui orang lain dapat dilakukan dengan 3 cara. Pertama menjadi orang nomor satu, namun itu tidak mudah diraih karena harus menyingkirkan banyak orang. Kedua, menjadi orang terhebat, namun ini pun tidak sederhana mencapainya karena banyak orang yang lebih hebat dari kita. Terakhir, ketiga, menjadi orang berbeda. Untuk menjadi orang berbeda dapat diraih siapapun.
Sebagai contoh, untuk menjadi orang berbeda, mudah sekali. Dia tidak membuang sampah sembarangan. Sampah sendiri diurus sendiri. saya tunjukkan bagaimana mengurusi sampah sendiri dengan menggunakan kantong yang dibawa dari rumah, dilipat sedemikian rupa dan kemudian setelah penuh dibuang ke tempatnya. Saya mengajak siswa 12 IPA 6 menjadi orang berbeda dengan membawa kantong sampah sendiri dan berhenti membuang sampah sembarangan. Mereka terlihat siap menjadi orang berbeda.

Saya lanjutkan, untuk menjadi orang berbeda, tidak berat.  Dia mengisi waktu luangnya dengan membaca. Saya iming-imingi bahwa dengan membaca seseorang akan menjadi orang berbeda. Saya contohkan bahwa saya sedang membaca buku Angels and Demons karya Dan Brown. Saya uraikan secara singkat bagaimana teori logika melawan teori Tuhan. Bagaimana sains menciptakan sesuatu dari sesuatu, dan bagaimna Tuhan menciptakan sesuatu dari tidak ada. Mereka terlihat tertarik. Sayangnya ketika mereka ditanya mereka sedang membaca buku apa sekarang. Jawabannya adalah senyum. Senyum orang Indonesia bisa bermakna banyak. Senyum yang saya lihat bisa saja bermakna mereka tidak sedang membaca buku apapun.

Senyum ini memprihatinkan saya. Di belahan dunia sana, saya baca di Flibroard, anak-anak SMA selama libur musim panas mereka diwajibkan membaca sederetan buku yang ditetapkan sekolah. Di Indonesia, termasuk 12 IPA 6, mereka berlibur dan benar-benar libur. Tidak ada kegiatan apapun yang berbau mendapatkan pelajaran, termasuk membaca.

Saya ingin mereka berkata bahwa mereka sedang membaca buku A, atau buku B ketika ditanya. Saya putuskan untuk membuat perpustakaan kelas. Caranya dengan meminta setiap siswa meminjamkan buku-buku non pelajaran yang mereka miliki di rumah. Kelas menyediakan lemari atau rak untuk menampung buku-buku tersebut. Termasuk saya akan meminjamkan buku-buku saya untuk mereka nikmati kehebatan isinya.
Sambil berkelakar saya katakan bahwa orang gila bisa menulis buku, dia benar-benar gila. Mereka tertawa. Saya jelaskan bahwa ada orang gila menulis buku berjudul ‘Tenggelam dalam lautan jiwa.’ Tulisannya berisi penjelasan bagaiamana dirinya sebagai orang gila memandang sekelilingnya. Dia menuliskan tahun berlompat ke tahun lampau seperti tahun 1200an, bertemu Raja dan berbincang dengannya. Dia juga mengatakan bahwa dirinya tahu dan sadar ketika disebut orang gila.
Ajakan ini mendapat sambutan baik. Siswa 12 IPA 6 sepertinya bersedia menyisihkan waktunya untuk membaca. Gejala positif ini tentu menggembirakan saya.

Saya merasa yakin bahwa orang yang banyak membaca memiliki cakrawala dan pengetahuan yang lebih luas. Saya berharap dengan disediakan buku di dalam kelas, siswa kelas 12 IPA 6, mereka perlahan-lahan mulai menerima bahwa membaca tidak sulit. Buku mudah dijangkau. Untuk memastikan mereka membaca, saya katakan bahwa saya akan hadir ke kelas setiap hari mulai pukul 6.45 sampai 7.15. Mereka agak terkejut. Saya pun terkejut.  

Menghindari terlalu lama terkejut, saya melanjutkan percakapan dengan mengajak mereka untuk mulai memikirkan pembuatan struktur kelas, melengkapi peralatan kebersihan kelas, jadwal piket kelas, dan rencana membawa bekal. Tidak dipungkiri menghabiskan waktu dari pukul 6.45 sampai pukul 16.00 di sekolah memerlukan persediaan makan yang cukup. Jajan saja, tidak memenuhi kebutuhan asupan makanan anak-anak yang aktivitasnya begitu tinggi.

Salah seorang siswa mengatakan bahwa dia diberi uang jajan perhari Rp. 10.000. dia menyisihkan Rp. 5.000 untuk membeli bensin. Sisanya untuk jajan, kebutuhan makan dia penuhi dengan membawa bekal. Dia calon orang hebat. Pertama, dia memakan makanan yang sehat dari rumah. kedua, dia pandai mengatur keuangan. Terinspirasi dari calon orang hebat ini, saya ajukan agar siswa lain membawa bekal dari rumah.

Hal lain yang saya anjurkan kepada siswa adalah untuk memiliki buku yang khusus mencatat kegiatannya selama kelas 12 bersama saya. Saya ajak agar mereka menghasilkan satu buku pada saat lulus nanti. Berkaitan dengan itu, saya menawarkan agar membuat nama kelas yang menunjukkan cita-cita, ide, dan harapan kelas. Jika perlu membuat logo. Mereka antusias menyambut tawaran tadi. Mereka menunjuk bahwa ada siswa yang menguasai Corel Draw yang memungkinkan struktur kelas dan logo kelas dibuat dengan artistik.

Anjuran lainnya adalah membuat grup kelas. Mereka memilih LINE (walaupun ada yang meminta WA) karena sebagian besar menggunakannya. Saya di-invite dan join sekitar pukul 15.00. Ajeng  bersedia menjadi admin LINE untuk kelancaran komunikasi kelas.

Hampir 1 jam saya berada di kelas 12 IPA 6. Pertemuan ditutup dengan meminta siswa untuk mendonasikan sebagian uang jajannya (Rp. 2.000) untuk melengkapi peralatan kelas yang masih kurang.  

Saya merasa bahagia karena dapat mulai mengajak menjadi orang berbeda kepada 36 orang remaja. Mereka akan menjadi orang-orang hebat karena sejak SMA mereka telah jadi orang berbeda. Perbedaan mereka telah dimulai. Pada LINE mereka membicarakan bagaimana bentuk rak untuk menyimpan buku perpustakaan kelas. Bagi saya, itu permulaan yang baik.


Besok, saya akan hadir pada pukul 6.45. Akan saya lihat berapa orang dari mereka yang tepat waktu. Saya telah menyiapkan bacaan ‘Pembawa Mayat’ untuk dibedah dan menjadi kajian bersama. 

Hari Ke-3

Kesakralan dan keistimewaan angka 17.7.17 mulai terasa. Pada hari ke-3 tahun ajaran ini saya mendapatkan surat keputsan (SK) dari Kepala Sekolah sebagai Wali Kelas. Bagi saya tentu saja menjadi wali kelas merupakan sesuatu yang istimewa karena tidak setiap tahun saya berkesempatan menerima tanggung jawab ini. Barangkali, bagi mereka yang telah lama dan terbiasa menjadi wali kelas, ketika namanya tertera pada SK bisa saja mengeluarkan keluhan. Keluhan atas ketidaksenangan menerima kelas yang dalam tanda petik perlu perhatian khusus, atau telah merasa terlalu bosan menjadi wali kelas.

Selama ini, hampir tidak ada guru yang ketika menerima SK sebagai wali kelas menyambutnya dengan sukacita karena kelak dia memiliki kesempatan untuk berbagi ide, berbagi harapan, dan berbagi nilai-nilai kehidupan. Bagi yang telah terbiasa menjadi menjadi wali kelas, peran ini seolah rutinitas yang menjadi bagian dari statusnya sebagai guru.

Selama ini, tidak juga pernah terdengar ada wali kelas yang dengan bangga mengatakan bahwa dirinya menerima anugerah besar, yakni menjadi wali kelas. Kemudian pengalamannya menjadi wali kelas dijadikan bahan tulisan untuk kemudian disebarkan kepada dunia luar dalam bentuk buku. Buku yang nantinya dapat menjadi catatan otentik bagi para orang tua yang anaknya diwalikelasi. Mereka dapat mengetahui apa saja yang dilakukan ‘orang tua kedua di sekolah’ kepada anak-anak mereka. Buku tulisan wali kelas menjadi media yang menjelaskan bagaimana kontribusi orang tua kedua ini bagi kesuksesan anak-anaknya.

Saya mendapatkan tugas sebagai wali kelas 12 IPA 6. Saya merasakan adanya tantangan, selama ini saya tidak pernah bertemu dengan siswa kelas 11 IPA 6. Seperti apa mereka? Apakah mereka juga berpikiran yang sama, ‘seperti apa wali kelasku?’ Ketikdak-kenalan antara saya dengan 12 IPA 6 menarik untuk ditelusuri. Saya yakin, banyak yang dapat dipelajari dari setiap individu anggota kelas 12 IPA 6. Namun pertanyaan selanjutnya, ‘apakah mereka akan mendapatkan banyak pelajaran dari saya?’

Saya ingin mengetahui kehadiran saya bermanfaat ataukah mudharat pada diri mereka secara perorangan. Terbersit niat. Saya akan mengajak mereka untuk menuliskan apa perasaan, pandangan, pikiran, dan hal-hal lainnya selama mereka diwalikelasi saya.  Buku ini menggambarkan dari sisi guru, dan buku mereka menggambarkan dari sisi mereka sebagai siswa. Saya membayangkan akhir tahun, saya dan siswa-siswa saya bertukar buku dengan nama kami masing-masing di sampulnya.
Saya tidak sabar menunggu esok, ingin bertemu siswa 12 IPA 6 yang akan menjadi guru kehidupan yang akan mendewasakan ke-guru-an saya.

Hari Ke-2

Kabar di Group WA bahwa hari ke-2 para guru dan siswa kelas 11 dan 12 diperkenankan menikmati kemerdekaan di sekolah. Saya merasa senang diberi kemerdekaan. Sama halnya dengan manusia lainnya, guru adalah manusia yang bahagia jika diberi keleluasaan untuk menikmati harinya tanpa jadwal. Dia dapat membuat jadwal sendiri yang menurutnya harus dilakukan. Saya pun demikian.
Hari ke-2 diisi dengan mengurusi anak saya sendiri yang mendapatkan kesempatan menjadi peserta International Youth Camp di Rosatom School, Rusia. Saya memulai hari dari pukul 6.15 dengan berangkat ke Rumah Sakit untuk mendapatkan antrian sebagai seorang Ibu yang membutuhkan bantuan dibuatkan Surat Keterangan Sehat dari Dokter untuk anaknya. Pegawai RS mengatakan bahwa Dokter mungkin akan hadir pukul 8. Saya membayangkan menunggu 2 jam.

Keberuntungan sedang berpihak pada saya, pukul 7 Dokter telah tiba. Beliau bersedia mengisi format yang disediakan dari pusat kebudayaan Rusia. Pertemuan dengan Dokter berakhir setelah beliau membubuhkan tanda tangan dan cap.

Saya segera menuju SMP dimana anak saya sedang mengikuti masa orientasi. Pihak sekolah menyambut kehadiran saya sebagai orang tua dengan ramah. Kepala Sekolah berterimakasih atas keikutsertaan anak saya pada kegiatan internasional dengan membawa nama SMP yang dipimpinnya.
Petualangan hari ke-2 belum selesai, saya mencari tempat dimana saya bisa mencetak foto untuk persyaratan membuat visa anak saya. Pukul 9, beberapa toko belum mulai aktivitasnya. Lagi-lagi, keberuntungan bersama saya, di studio dekat Pegadaian, telah buka. Maka selesailah persyaratan untuk anak saya dibuat. pada pukul 10 semua dokumen tersebut diantar ke Pusat Kebudayaan Rusia, Jakarta oleh anak saya yang pertama.

Setelah semua persyaratan berada pada posisi sedang diantarkan, saya ke sekolah. Dalam benak saya, belum ada kegiatan yang terjadwal, jadi saya harus kembali membuat jadwal sendiri.
Jadwal yang saya buat adalah melanjutkan analisis silabus, membaca buku, menulis untuk blog, melanjutkan cerita dengan tokoh Sunda ‘Bi Janah’, dan mengingatkan anggota komunitas PKB untuk mulai melakukan analisis silabus.


Sekolah bagi saya merupakan tempat belajar. Kapan pun saya berada di sekolah,  saya harus mendapatkan pelajaran. Seorang guru, sama dengan orang-orang lainnya di luar sana, memiliki tanggung jawab untuk belajar sepanjang hayat. Jika saya ditemukan selalu seperti sibuk membaca, menulis, dan mengajar, maka saya sedang belajar. 

Hari Ke-1

Tahun Ajaran 2017/2018 jatuh pada Senin, 17 Juli 2017. Angka yang bagus untuk dicatat ’17.7.17’. Keistimewaan  banyaknya angka 7 seolah menunjukkan luar biasanya tahun ini untuk saya, seorang guru SMA dari kota kecil yang mungkin nama kotanya tidak dikenal oleh orang Vladivostok. Bicara angka 7, tahun ini bersamaan dengan dipopulerkannya 7 Pilar Budaya Kota Cianjur, yaitu: Ngaos, Mamaos, Maenpo, Tatanen, Someah, Tangginas, dan gotong royong. bersamaan pula dengan kegiatan hajatan besar Bupati Cianjur yang bertajuk 70.000 detik memperingati hari lahir Cianjur. Cari ada kejadian apa pada tanggal 17 juli.

Hari pertama sekolah, baik bagi guru ataupun bagi siswa, sama-sama mendebarkan. Bagi guru (seperti saya), harap-harap cemas semoga tahun ini menjadi tahun yang tercatat dalam sejarah. Tertulis dalam ingatan siswa-siswa saya bahwa mereka pernah bertemu seorang guru yang memberikan sumbangan pemikiran kepada mereka untuk menjadi orang yang berbeda. Dengan menjadi orang berbeda semoga menjadi orang terbaik, dan pada akhirnya menjadi orang nomor satu (to be different, to be the best, and to be number 1).

Bagi siswa, dalam bayangan saya, mereka memikirkan akan seperti apa mereka menghabiskan masa 365 hari di akhir tahun ke-SMA-annya. Sebagian mereka mungkin ada yang merasa takut jika tahun terakhirnya berakhir kurang menyenangkan karena mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman, guru, atau pihak lain yang tidak diduganya. Sebagian lainnya, bisa saja merasa tertekan karena terus menerus memikirkan dirinya mau jadi apa, kuliah dimana, apakah orang tuanya sanggup membiayai kuliahnya, dan pikiran-pikiran lain yang khas hanya dimiliki anak-anak SMA kelas 12. Atau, tanpa sepengetahuan saya, ada sedikit siswa yang memikirkan siapa yang akan menjadi wali kelas terakhirnya di masa SMA.

Hari pertama, seperti tulisannya yang sakral 17.7.17, dimulai dengan upacara. Upacara pada hari istimewa, tentu peserta upacaranya istimewa. Ada sekelompok besar anggota barisan upacara yang masih berbaju SMP dikawal siswa yang berwajah serius. Dua kelompok besar lainnya berseragam SMA. Mereka yang berbaris paling kanan, terlihat lebih percaya diri. Mereka adalah kelas 12. Kakak tertua, mereka adalah siswa yang mendapatkan peluang untuk meraih cita-cita masuk ke Perguruan Tinggi impian lebih cepat ketimbang kelas 11 atau kelas 10. Mereka orang-orang hebat yang akan menjadi pemain utama di negeri ini pada 5 atau 7 tahun ke depan setelah mereka berbaris pada upacara ini.

Setelah 7 tahun dari sekarang, mereka yang berbaris pada kelompok kanan, telah lulus S2, saya akan trenyuh bahkan bisa saja berurai air mata ketika mereka menyempatkan menyaksikan upacara bendera dan status mereka adalah Master, orang ahli, orang yang keilmuannya diakui secara akademik dan profesional. Mereka akan bicara didepan adik-adiknya mengabarkan kegembiraan selama di SMA. Yang lebih membahagiakan, mereka mengabarkan bahwa mereka menuai keberhasilan karena memiliki guru-guru di SMA yang membuatnya jadi orang berbeda.

Usai upacara, para siswa terpisah. Kelas 10 yang masih dalam masa orientasi, kembali dibimbing oleh kakak-kakak kelasnya yang berwajah serius tadi ke kelas. Sementara kelas 11 dan 12, untuk sementara mereka menikmati kemerdekaan berada di sekolah tanpa jadwal pelajaran. Mereka menghabiskan hari dengan berbincang, sebagian lagi kembali mencicipi makanan kantin, ada pula yang hanya berjalan hilir mudik memperhatikan keadaan.

Di sisi lain, para guru kembali ke ruang guru. Sebagian guru mendapatkan tugas untuk membantu siswa baru mengenal lingkungan sekolah. Sebagian lagi, belum mendapatkan tugas. Saya, termasuk guru yang tidak mendapatkan tugas.

Hari yang panjang di sekolah seiring dilaksanakannya 5 hari di sekolah, tidak mungkin diisi dengan hanya mengobrol dan melakukan hal-hal yang tidak jelas. Saya mulai bekerja. Saya mulai menganalisis silabus untuk menyegarkan pikiran mengenai materi ajar apa yang akan diberikan pada tahun ini. Melakukan analisis menuntut konsentrasi tinggi. Bagaimana materi ajar diperoleh sampai bagaimana mengajarkannya, tidak mudah dirancang dan menjadi tulisan pada laptop. Pada saat yang sama, saya melayani guru-guru seKabupaten Cianjur yang mengalami masalah dengan kegiatan PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan). Saya berperan sebagai ketua komunitas yang bertanggung jawab secara sukarela untuk membantu dan memfasilitasi setiap guru Bahasa Inggris SMA di Kabupaten Cianjur jika menghadapi masalah terkait mengajar dan hal-hal lain terkait dengan urusan mendidik.


Saya meninggalkan pekerjaan menganalisis, terlalu lama menatap layar laptop membuat mata berkunang-kunang. Akhirnya saya melanjutkan kembali membaca buku Dan Brown “Angels and Demons”. Waktu berjalan sesuai tugasnya, dia dengan tepat mengatakan jam dan menit kepada setiap warga sekolah untuk menaati angkanya. Angka yang meminta semua warga menghentikan kegiatan di sekolah dan kembali kepada dirinya, keluarganya, dan impiannya.  Hari pertama sekolah, berakhir dengan harapan semoga tahun ini menjadi tahun istimewa bagi semua warga sekolah ini. 

Projek 365 (Pengantar)

Bagaimana seorang guru berperan sebagai wali kelas selama ini belum banyak diungkapkan kepada khalayak ramai. Biasanya wali kelas dianggap sebagai bagian dari tugas guru dan tidak perlu dipertanyakan lagi, apalagi kegiatannya dicatat kemudian dijadikan sebuah buku. Sesungguhnya  memiliki tanggung jawab sebagai wali kelas bukanlah hal biasa. Mendapatkan peran ini diawali dengan diterimanya Surat Keputusan dari afiliasi dimana seorang guru bekerja. Anggapan semua guru adalah wali kelas, hal ini tidaklah benar, terutama untuk guru pengajar sekolah menengah atas. Terbatasnya jumlah kelas dibandingkan dengan jumlah guru mengakibatkan tidak semua guru berkesempatan menjadi wali kelas.

Peran wali kelas (juga) sering dianggap hal lumrah bahkan mendekati biasa-biasa saja. Hal ini tidak tepat. Para ahli dalam pengajaran menyebutkan bahwa dalam dunia pendidikan hal-hal luar biasa terjadi dari hal-hal biasa yang dilihat secara tidak biasa. Buku yang anda pegang ini pun merupakan catatan kejadian biasa sehari-hari wali kelas. Yang menjadi tidak biasa adalah salah satunya karena dicatat dan menjadi artefak yang dapat dipelajari oleh pihak pendidik atau pun pihak luar yang merasa peduli terhadap pendidikan.  Ketidakbiasaan lainnya adalah menyajikan bagaimana peran seorang wali kelas selain mengajar, juga dalam membimbing, membina, mendidik, membantu, mengarahkan, menolong, menghormati dan memanusiakan siswa pada kelas binaannya.

Buku ini memberikan gambaran bagaimana seorang wali kelas banyak belajar dari siswa yang dibinanya. Bagaimana secara pedagogis dan profesional dirinya menjadi lebih baik, dalam arti meningkat secara pemahaman dan praktik karena ada kontak langsung dengan siswa yang langsung menjadi tanggungjawabnya diluar sekadar memberinya pelajaran. Bagaimana secara sosial berkembang setelah bersama-sama berbagi hari, berbagi persoalan, dan berbagi tanggung jawab dengan siswanya.


Selain itu, buku ini juga membantu mereka yang tidak bergelut langsung pada pengajaran di kelas mengetahui apa saja yang dilakukan seorang guru dari aspek perannya sebagai wali kelas. Tentu tulisan ini tidak mewakili peran guru secara holistik. Penitikberatan pada wali kelas menunjukkan bahwa guru memiliki multiperan ketika berada di sekolah dan di kelas. Peran lain guru yang paling dikenal diantaranya sebagai pendidik, pengajar dan orang tua siswa di sekolah. Bagaimana peran ini dilakukan bisa dibaca pada seri 365 yang menyertai buku ini yakni 365 hari menjadi guru pada tahun ajaran 2017/2018; dan 365 hari menjadi pengampu mata pelajaran bahasa Inggris, dan 365 hari bersama Ms. B. Khusus untuk yang terakhir, terdapat 36 buku yang ditulis oleh 36 siswa yang diwalikelasi yang menyampaikan pengalamannya selama bersama Ms. B.  

Tuesday, July 18, 2017

Karak nyalse

'Rumah tangga nu bagja,  dimana-mana sarua, tapi rumah tangga nu teu bagja, beda dina masalahna, kusutna, amburadulna, jeung rocétna,' kurang leuwih kitu pamanggih Leo Tolstoy ngeunaan rumah tangga. Contona dina rumah tangga Anna Karerina anu ceuk batur mah mulus banglus, lubak libuk  sagala aya, dina jero-jeroanna mah aya bae ciderana jeung kuciwana nu ngakibatkeun milih nemahan pati. Audzubilah min dalik.

Rumah tangga Bi Janah,  ti luar mah katingal taya kasusah. Anak hiji, lalaki geus kawin boga anak hiji keur meujeuhna lucu. Anakna gawe di pabrik, lumayan we cukup keur manehna mah. Cicing saimah jeung Bi Janah. Atuh salaki Bi Janah, soleh, jalma basajan, gawe kula kuli, tapi cukup keur hirup hurip mah. Atuh Bi Janah, leutik-leutik ge pan gawe bunta bantu di Pa Guru.

Bi Janah tara kadéngé humandeuar komo ngangluh mah. Dina waktu isuk-isuk, sabada beres di imahna, langsung bae pak pik pek di bumi Pa Guru. Geus apal kana pagawean.
Kulantaran imah Bi Janah aya di pengkereun bumi Pa Guru, ukur kahalangan dua suhunan, atuh salse pisan Bi Janah bisa bulak balik, ngatur dua imah sakaligus. Eh.. dua imah tapi tilu kuren, pan anakna anu ngahiji diimahna pan geus rarabi.

Dina waktu beurang nepika sore, kadang-kadang mah nepika peuting,  Bi Janah istuning katingal janglar jeung berag bae. Matak mawa tingtrim ka Pa Guru jeung Ibu anu sapopoe tara aya di imah. Atuh ka si Cikal jeung si Bungsu oge mawa tenang lantaran pasakan Bi Janah cocog pisan jeung letah barudak.

Tapi dina isuk-isuk ieu. Bi Janah datangna elat. Tara ti sasari pisan. Matak hemeng. Kamari mah katingalna biasa-biasa bae.
Jaba rek indit gawé, aya rapat dinas tahun ajaran anyar tabuh 8, jaba motor banna kudu ditambah angin heula. Kamana Bi Janah tacan katingali tarang-tarangna acan.

Meh ampir tabuh 7 karak Bi Janah ngurunyung. Beungeutna teu berag, biwirna nyungcung siga aseupan.
Diantep we basa manehna ngagoloyoh ka dapur. Teu ditanya, waktuna samporet, bisi kabeurangan rapat.

Karak ge ngaluarkeun motor, kadenge Bi Janah ngagukguk ceurik. Hate ngagebeg, na aya naon. Boa-boa gering tapi maksakeun gawé.
Barudak, si lbu, oge kuring nyampeurkeun kanu sumegruk sisi basin paranti ngumbahan piring.

Si Cikal nanya, 'Kunaon Bi nangis? Hapunten pami kamari  mapah ngahindar pulisi tidur matak keuheul ka Bibi.'

Bi Janah cengkat, manehna ngajawab, Bibi nangis pedah keuheul, ngewa, jeung kesel ka nu di imah. Kabeh matak pusing."

Kuring ngahuleng.
"Maksudna naon Bi?' Ceuk kuring.

"Bibi teh keuheul ka Bapana barudak, ambek, hayang nyarekan laklak dasar ti minggu kamari. Naha manehna bet wawanianan milu arisan paket lebaran, sapoe 5 rebu. Padahal si Sujang, pan keur ngiridit motor, sabulan Bibi kabagean kudu mayar 700 rebu," Bi Janah nerangkeun bari sisimekeun.

"Atuh bayar we Bi, dicicil, teu kudu dipake ceurik sagala.' Kuring ngalelemu.

"Bapa,  abdi ambek ti minggu kamari, keuheul ti mangkukna, hoyong budal ceurik bakating ku kesel. Tapi teu kabujeng bae. Ayeuna nembe nyalse, hapunteun, nya abdi ceurikna ayeuna."