Pages

Thursday, July 27, 2017

Hari ke-9

Hari Senin ini akan dihabiskan di lbukota Indonesia,  Jakarta. Kehadiran saya di Jakarta, tidak mengubah wajah Jakarta,  atau membuat Cianjur berkurang satu penduduknya. Semuanya terdengar dan terlihat biasa. Namun jika ditelusuri,  sama sekali, tidak biasa.

Subuh buta saya dan anak saya telah membelah jalan raya menuju Bogor. Kabut dan temaram jalan yang sebagian tanpa penerangan membuat kami selalu waspada. Banyak tersiar kabar banyak kejahatan di jalan raya demi untuk mendapatkan kendaraannya, harta yang dibawanya, dan nyawa tidak dimasukkan sebagai sesuatu yang berharga. Perjalanan sunyi,  sesekali pecah ketika anak saya yang sulung mengajak berbicara. Mungkin sekedar menghilangkan kantuk, karena dia menyetir.

Hampir pukul 5 pagi kami tiba di stasiun Bogor. Kendaraan disimpan diparkiran yang disediakan pihak stasiun keret api.
Kami naik kareta api menuju Jakarta. Mulanya, kami duduk, dan bisa membayar kantuk dengan tidur tanpa mimpi.
Saya terbangun ketika insting mengatakan kereta penuh sesak. Benar, ketika membuka mata, tak ada daerah kosong, lorong penuh orang. Mungkin semua orang ini bekerja di Jakarta, pikirku.
Saya lihat ada 2 orang lbu-lbu hamil. Saya persilakan dia duduk. Anak saya melakukan hal yang sama. Kami berdua berdiri menahan diri agar bisa berdiri di belantara kaki dan tubuh yang mendorong dan menghimpit kami dari berbagai arah.

Menurut perhitungan saya, gerbong kereta telah melebihi kapasitas yang mampu ditampungnya. Sayangnya, masih saja ada orang yang memaksa masuk. Maka, makin sesaklah lorong tempat dimana saya dan anak saya berdiri. Saya koreksi, bukan berdiri. Berdiri ditandai dengan kaki tegak lurus 90°. Saya menopang badan dengan kaki miring 45° karena terdorong dari belakang.

Seorang gadis di belakang saya terlihat meringis karena badannya yang kecil terjepit dari semua arah. Tangannya menggapai-gapai mencari pegagan. Seorang lbu mengeluh, dan meminta gadis di samping saya untuk membuka jendela. Sepertinya dia merasa tidak lagi bisa bernafas karena sesak. Jendela dibuka, wush...angin polusi masuk. Kami menghirup udara kotor dengan ikhlas. Tidak ada pilihan. Kaki sakit menahan beban badan sendiri dan tubuh orang lain. Setiap kali kereta api berhenti, bertambah pula orang yang naik. Memaksa naik.

Terdengar suara pengumuman di dalam kereta api, ' Untuk keselamatan,  penumpang yang tidak dapat naik jangan memaksakan diri.'
Saya seperti sedang mengalami apa yang disebut Richard K Coleman sebagai 'paradoks tragis.'
Pengumuman bergema didalam kereta api. Penumpang yang tidak dapat naik, berada di luar kereta. Teriak-teriak himbauan untuk keselamatan tidak terdengar oleh yang seharusnya mendengarnya. Persis seperti guru yang memarahi siswa yang sering bolos kepada siswa yang hadir, sementara siswa yang bolosnya tidak mendengar luapan marah sang guru. Paradoks tragis.

Perjalanan dengan kereta api sejatinya sangat nyaman, paradoks tragisnya, perjalanan jauh dari nyaman. Lebih dekat kepada pengalaman traumatik.
Badan terjepit, kaki hampir mati rasa karena terlalu lama menahan tubuh, udara yang terasa tipis, dan tulang rusuk terasa akan patah terdorong ransel mungkin berisi setrikaan.

Untunglah setiap perjalanan memiliki akhir. Saya bernafas lega pada saat kereta mengumumkan kereta api telah tiba di akhir perjalanan. Saya meninggalkan gerbong yang menyodorkan pengalaman tragis.

Syukurlah segala haru biru gerbong kereta api, sirna ketika bertemu anak saya. Saya mencoba memahami makna gerbong dan penumpangnya yang tidak berdaya didera desakan kelebihan penumpang. Saya ibaratkan gerbong itu kelas, di dalamnya berdesak-desakan mimpi-mimpi siswa, juga mimpi gurunya. Setiap pemimpi terombang-ambing, terseok-seok, menahan beban dorongan dari mimpi orang-orang di sebelahnya. Semuanya harus sabar, harus bekerjasama sampai ujung perjalanan yang telah di tetapkan.
Tidak bisa siswa atau saya menyerah dan meminta mundur di tengah perjalanan karena merasa terlalu kesempitan dan terdesak mimpi-mimpi orang lain. Semua harus ikut aturannya, ikut takdirnya. Nanti, ada masanya semuanya berakhir dan bertemu dengan mimpinya.

Hari Ke-8

Minggu disepakati sebagai hari libur ditandai dengan warna merah pada kalender. Disikapi dengan bangun siang oleh anak-anak sekolah. Katanya balas dendam. Entah  balas dendam untuk apa. Apakah selama seminggu mereka tidak tidur atau mereka tidak bisa semena-mena tidur di pagi hari? Sehingga hari Minggu harus menjadi korban dendam.

Hari Minggu ini saya tidak memiliki rencana yang terkait langsug dengan kehadiran saya di kelas dan bertemu siswa. Dalam benak, saya berniat akan tetap mendampingi mereka dari jauh. Adanya grup pada LINE, memfasilitasi niat saya untuk melakukan hal itu.

Minggu pagi, bagi guru, mengerjakan pekerjaan rumah. Berubah peran dari Ibu Guru menjadi Ibu Rumah Tangga. Memasak, mencuci, menyapu, mengepel, membersihkan rumput dan serentetan pekerjaan domestik lainnya membuat Ibu Guru bekerja lebih keras ketika menjadi Ibu Rumah Tangga.
Sedang memasak ketika saya mendengar suara pintu depak diketuk. Saya didatangi salah seorang siswa saya lulusan empat tahun sebelumnya. Dia diwalikelasi saya ketika kelas 12. Saya memanggilnya Rara. Saya masih ingat bagaimana dia menangis ketika mendengar saya bolak balik ke rumah sakit untuk pengobatan mata. Dia sangat simpati dengan kesehatan saya. Dia dan Ibunya menyempatkan menengok ketika saya pulang dari rumah sakit. Rara, anak yang sangat manja, sehingga Ibunya menitipkan agar saya membantunya untuk bisa lebih mandiri.

Masih terbayang jelas ketika Rara berulang tahun dan masih menangis di pangkuan Mamanya untuk mengekspresikan betapa dia mencintai Mamanya. Masih jelas pula dalam ingatan saya, ketika saya sebagai wali kelasnya, dan teman-temannya mendo’akan untuk kesehatan ayah Rara, Ibunya Rara dan Rara sendiri.

Kini Rara datang meminta do’a karena akan menikah. Menikah? Secepat ini?  Rasanya baru kemarin dia duduk di kelas MIPA. Saya mendengar kabar, ketika dia berada di tahun pertama kuliahnya, ayahnya meninggal karena diabetes. Saya tahu bagaimana rasanya ditinggal ayah. Saya membayangkan bagaimana Rara yang manja, ditinggal ayahnya. Lama tidak mendengar kabar darinya. Tiba-tiba dia datang dengan calon suaminya dan meminta do’a restu. Saya tanya mengapa secepat itu menikah.

Diselingi isak tangis, Rara menyampaikan bahwa Minggu depan, belum genap 40 hari Mamanya meninggal, dia harus  segera menikah untuk memenuhi pesan terakhir Mamanya. Jawaban ini membuat saya kerongkongan saya serasa tercekat Rara, si anak manja, ditinggal ayah bundanya dalam usia sebegitu muda, dan menikah tanpa kehadiran salah satu pun dari kedua orang tuanya. Suasana pernikahan seperti apa yang akan dilaluinya? Terlalu sedih untuk membayangkan hari bahagia yang dilaksanakan dalam suasana duka.

Mama Rara, menurut penjelasan Rara, meninggal karena adalah masalah dengan usus dikarenakan mengonsumsi jamu. Jamu, perlahan namun dengan tanpa ampun, mengikis sisi dalam ususnya. Setiap kali terasa sakit di lambung, ditudingkan pada Maag. Padahal setelah diperiksa oleh dokter, dinding usus terus menerus mengelurkan asam lambung berlebihan. Seiring waktu, dinding usus menipis, luka, sehingga BAB berdarah segar. Semakin lama didnding usus yang luka tersebut bolong-bolong dan endoskopi satu-satunya jalan untuk pengobatan. Namun jalan itupun bukan arah menuju kesembuhan. Luka usus mengakibatkan tidak terjadinya penyerapan makanan, dan itu masalah besar.

Saya mendengarkan penjelasan Rara,  seolah saya sedang dibawa kembali ke tahun 2008 sampai 2010. Kisah penyakit Mamanya persis yang dialami Ibuku. Beliau meninggal karena radang usus yang parah. Sama, pemicunya karena mengonsumsi jamu godogan. Saya berusaha tidak menangis ketika Rara bercerita bagaimana kekejaman radang usus merenggut nyawa Mamanya. Namun bayangan Ibuku, bayangan deritanya semasa hidup, terasa amat dekat, amat nyeri, saya pun menangis. Dan Rara pun, menangis. Calon suami Rara berjuang untuk tidak menangis, tapi tidak berhasil. Kami diselimuti kedukaan yang kami sendiri yang tahu kedalaman, dan keperihannya.

Setelah saya kembali mendapatkan kekuatan untuk bicara, saya mendo’akan Rara untuk kebahagiaan rumah tangganya. Serasa ada yang kosong ketika membayangkan siapa yang akan berdiri di samping mempelai wanita dan saya salami nanti. Saya baru memahami, mengapa Rara begitu manja, begitu tergantung pada Mamanya. Rara hanya memiliki waktu yang sangat singkat untuk bisa bercengkrama dengannya. Saya bersyukur memiliki waktu yang lebih panjang ketimbang Rara untuk bisa bersama Ibuku. Walaupun kondisi kami sekarang sama, tak berayah Ibu, saya merasa lebih baik dalam arti ayah ibuku sempat menyaksikan saya menikah dan ayah menjadi walinya. Kalau Rara? Kembali bayangan kesedihan hadir.

Hari Minggu merangkak menuju senja ketika saya menerima kabar bahwa anak saya, yang berusia 12 tahun, sudah mendapatkan tiket untuk ke Rusia dan berangkat pada hari Senin pukul 23.45. sudah seminggu anak saya berada di kedutaan Rusia untuk mengkuti persiapan keberangkatan ke Vladivostok sebgai peserta International Youth Camp dari Rosatom School. Rasanya sangat janggal jika anak kecil berangkat jauh untuk pertama kalinya tidak bertemu Ibunya terlebih dahulu. Saya memutuskan untuk berangkat ke Jakarta dan menemui anak saya dalam sehari terakhirnya sebelum berangkat ke Rusia.


Saya mengabarkan melalui Grup LINE kepada siswa bahwa hari Senin saya tidak dapat mengajar karena akan mendampingi keberangkatan anak saya. Mereka secara spontan mengutarakan keinginannya agar saya bisa masuk kelas. Namun kemudian mereka mengoreksi keinginannya dengan mengucapkan selamat kepada anak saya dan memahami ketidakhadiran saya di kelas. Hari Minggu ini, sama durasinya dengan Minggu-minggu yang lain yang telah saya lalui. Namun, secara makna minggu ini sangatlah berbeda. Saya berterimakasih kepada Tuhan atas kemurahanNYA memberikan saya hari Minggu yang selalu istimewa. 

Tuesday, July 25, 2017

Teu Uyahan

Kecap 'uyah' boga tempat sorangan dina basa Sunda. Contona baé 'Ieu aing uyah kidul' keur nyindiran ka jalma anu adigung.  Ngarasa leuwih punjul tibatan nu lian ku ningali asal muasal daérahna. Anu kadua, ' Uyah mah tara téés ka luhur.'  Hartina kapinteran atawa kaparigelan hiji jalma, nyakitu deui goréngna, turunna tara ti sasaha, nya ti indung-bapana.

Loba pisan paribasa anu make kecap uyah keur nunjukeun pentingna uyah dina kahirupan urang Sunda.  Dina  dahareun, masakan dianggap ngeunah cukup ku ukuran 'puguh karasa uyah gulana.' Ku penting-pentingna uyah,  aya istilah jalma 'teu uyahan.'

Nu kumaha jalma teu uyahan teh? Kurang leuwih jalma nu kurang rasa lamun dina asakan mah. Contona siga nu karandapan ku kuring poé Ahad isuk-isuk kamari. Basa keur anteng ngulub hui ungu, bari ngagodogkeun opor hayam, oge bari nyeuseuh. (Tong reuwas, naha bisa multitasking ceuk budak ayeuna mah. Pan opor kari ngulubkeun, nyeuseuhan kari ngasupkeun kana mesin).
Panto dapur ngahaja dipolongokeun, maksud téh ngarah bau opor teu ngulikbek di jero imah.

Pikiran keur ngulayaban nyipta-nyipta engké jeung barudak balakécrakan sasarap méméh iinditan. Kadéngé aya nu uluk salam. Kuring nyampeurkeun panto anu geus ngageblak muka. Katingali aya awéwé kolot make baju basajan. Geus teg wé, pasti rék nginjeum duit. Lain sakali dua kali manéhna datang kalayan tujuan nu sarua, mun teu nginjeum duit, ménta lungsuran, ménta payung, jeung réa-réa deui sapangabutuhna baé meureun.

Kuring teu geuwat nitah asup, keur kagok ceuk pikiran téh. Mun manéhna nyémah, kabancén masak, bébérés imah kaganggu, moé baju kudu ditunda heula, padahal kuring sakulawarga rék iinditan. Boga waktu sajam dua jam geus diitung nepika menit-menitna ceuk nu bohong téa mah.

'Punten ah ngiring calik,' pokna ngagebah lamunan kuring. Bulubus manéhna asup, ngaliwatan irung kuring nu ti tatadi nangtung hareupeun panto.
Gék manéhna diuk kalayan teu nungguan dimanggakeun heula. Kuring ukur bisa olohok, jalma téh aya ku murugul, ceuk haté.

Kuring kapaksa diuk maturan 'sémah' anu geus miheulaan diuk. Papasakan mah, cul baé.
Pok manéhna muka carita, 'Kamana Adén Guru, Néng?'
Karék gé engab rék némbalan, manéhna geus pok deui ngomong.

'Aduh Ènéng, katampi kasaéan Enéng sareng Adén didieu. Payung dianggo kamana-mana, atuh panci, katél, ogé kasur, sadayana mangpaat.

Kuring cicing baé. Dina haté geus norowéco, pasti kadituna ménta béas. Kuring ngagebés haté sorangan anu geus miheulaan su'udon.

'Néng, di doakeun ku Ema sing geura naék haji. Atuda Enéng mah kieu,' pokna bari ngacungken jémpolna.

'Enéng mah kaum gajih. Manasina Ema, boga anak pulung hiji, di Saudi, tacan mulang. Atuh alo, dua, anak pun adi, sami ngapung ka Abu Dabi. Tacan marulang. Ema téh tos hutang kaditu kadieu, éta nu ditandonkeun teh pami marulang, dibayar.'

Kuring teu kaburu némbalan, manehna geus pok deui ngomong bari ngusapan dada.
'Ema téh hayang manggihan indung,  ngan taya ieuna,' pokna bari nyieun kode ku ramo-ramo  leungeunna anu hartina duit.
'Bade nambut baé, engké dimana nu ti Saudi mulang,  dibayar. Atanapi bilih badé sidakoh, siap nampi. Enéng mah tos sohor bageurna, hanjakal baé tacan haji.'

Deg kana haté asa tugenah.  Teu nungguan manéhna ngabalakbak, kuring ngomong rada nyereng, 'alhamdulilah, haji mah tos 4 kali.' Pok teh bakat ku seueul, pèdah teu haji siga jadi hahalang pikeun nyieun kahadéan.

Manéhna langsung nyuuh, siga nu nyembah. Bari nyuuh kadéngé ngomong,  'aduh, Néng Haji, keur geulis tos haji. Alhamdulillah. Kamana Adén?'

'Teu aya, nuju di Lampung, ramana ngantunkeun. Abdi ge nembe dongkap tadi subuh, langsung nyeuseuh sababaraha jeurangan.' Jawab kuring.

'Innalillahi, sing ditampi iman islamna, Néng.' Cenah, duka enya milu prihatin, duka lip service ceuk istilah budak ngora mah.

Kuring nantung, kaambeu bau opor minuhan irung, sieun saat  tutung, atawa kulub hui oge saat, tangtuna tutung oge, mubadir moal kadahar kabeh.

Manehna kadéngé ngomong deui leuwih tarik sorana batan tadi.
'Kéla Néng,  kumaha ieu, badé nambut saongkoseun we, 50 rébu. Sauiheun, keun we tiditu mah, sugan aya nu haat masihan kango uihna deui kadieu mah.'

Kuring tuluy baé nangtung. Ingét aya duit dina tas, sésa ongkos, 15 rébu. Ngan sakitu-kituna, tadina mah keur meuli Molto. Kuring rugup ragap kana tas, goréhél duit téh kapanggih.  Énya baé ngan 15 rébu. Song dibikeun ka manéhna.

Duit buru-buru dirawu. Diitung, pokna, ' Néng tambihan we 20 rébu deui supados cekap saongkoseun.'

Kuring samar polah. Rék ambek, lain carékeun jalma kieu mah, rék teu ambek, asa nangtang émosi ti tadi kénéh.  Haté awor jeung hariwang, sieun papasakan tutung.

Ahirna kuring nyarita bari rada serak bakat ku soak nyanghareupan sémah.
'Hampura wé  Ma, abdi karak kapapaténan, pikiran keur kaweur mikiran biaya tahlilan, jaba acan ngajahul, duit mah éta ngan boga sakitu,  kop wé méré,  lilahi ta'ala.'

Manehna katingali bungah, pok nyarita, 'aduh Néng haji, pantes tos 4 kali hajianna oge, sidakohna katampi, ku Ema jadi andelan pisan pamasihan ti dieu téh.'

Manehna terus nangtung, duit ditilep-tilep dikeupeul dina leungeun kéncana. Terus manehna langsung amitan.

Kuring teu kaburu nembalan, manéhna kaburu indit, ngaliwatan panto anu ti tadi  mémang ngeblak muka. Kuring buru-buru neang kukuluban. Alhamdulillah, najan geus saat teuing, tapi kapuluk kénéh. Terus baé diangkat. Brak dahar. Si Cikal pok ngomén, 'Mah, naha asa aya nu kurang nya opor téh.'
Kuring ngagebeg,  ras inget, tadi papasakan teh teu acan diuyahan, kabéngbat ku aya sémah.

'Bener-bener teu uyahan ieu mah,' ceuk kuring bari murulukkeun  uyah kana opor.

Sunday, July 23, 2017

Tips menulis, menyimpan dan mengedit tanpa pakai laptop

Teknologi memudahkan melakukan banyak hal, salah satunya adalah menyimpan dan mengambil data. Selama ini, saya sangat bergantung kepada laptop untuk menyimpan data dan memanggilnya kembali. Anggapan ini tentu merepotkan dan tidak mengandung nilai kepraktisan. Pada saat akan melanjutkan menulis tesis, atau pekerjaan lainnya yang berbasis laptop, kadang terkendala karena laptop tidak berada dekat dari jangkauan. Hal ini tidak lagi akan terjadi. Google menyediakan tempat untuk menyimpan, mengedit, dan mengunduh semua file yang disimpan di sana. Namanya Google Drive.

Google drive adalah penyimpanan yang sama dengan save pada laptop. Penyimpanan dapat dibuatkan folder baru atau langsung file. Untuk memasuki Google Drive, buka email yang beralamat @gmail.com Klik Google apps, nanti muncul pilihan My account, Search, Maps, YouTube, Calendar, Drive (ada 11 pilihan apps). Klik Drive. Nanti muncul tulisan Google Drive, Search Drive, My Drive, Shared with me, trash dan lain-lain.

Untuk mengunggah file, klik my drive, pilih apakah akan mengunggah folder, file, atau membuat folder baru. Jika hendak mengunggah folder, klik folder tunggu, nanti setelah selesai akan muncul notifikasi folder selesai diunggah. Klik recent, nanti akan muncul folder yang tadi diunggah. Jika akan menguggah file, klik my drive, pilih file. Setelah ada notifikasi selesai diunggah, klik recent. File akan muncul pada recent. Jika file tersebut akan dipindahkan, klik kanan pada nama file, pilih move to. Pindahkan ke folder yang diinginkan. Jika hendak dipindahkan ke folder baru, buat dulu folder baru.
Semua file dan folder yang diunggah pada google drive dapat diakses dimana saja dan tidak harus dari laptop. Misalnya, ketika hendak melanjutkan menulis sebuah artikel, tinggal buka google drive, dan pilih file yang hendak dilanjutkan menulisnya, klik open with, pilih google doc. Setelah diklik google doc, tunggu sebentar, file words (docx) bisa diedit seperti biasa kita menulis pada program microsoft words. Seluruh rangkaian kegiatan tadi dapat dilakukan pada hape android.

Google drive juga menyediakan aplikasi lain yang sama dengan Microsoft. Ada Google sheets untu Excel, ada Google slide untuk Power point.


Google menawarkan kemudahan. Selamat mencoba. 

Menunggu

Hal paling membosankan sedunia dan seCianjur adalah menunggu. Hampir semua orang sepakat dan mengiyakan bahwa menunggu merupakan kegiatan yang membosankan.

Seseorang yang sedang menanti pertemuan dengan orang yang diharapkannya bertemu, sebentar-sebentar melihat jam tangan. Memeriksa waktu, waktu terasa sangat lambat. Lebih lambat dari yang seharusnya. Segera setelah waktu  diketahui, jelas menunjukkan pukul berapa, dia menghela nafas, berat, seolah waktu menghimpit dadanya dan mengakibatkannya susah mengizinkan udara untuk masuk dan keluar saluran pernafasannya.

Urusan menunggu, yang paling kuat, mungkin lbu-lbu.
Ibu-lbu sabar menanti giliran pada saat akan membayar belanjaan di mall.
Ibu-lbu juga tidak mengeluh saat menanti kelahiran anaknya, dia menghitung sejak diketahui dirinya positif hamil.

Bi Janah juga lbu-lbu. Tak heran dia melakukan hal yang sama dengan lbu-lbu lainnya, yakni menunggu.

Sejak selesai menghidangkan makan pagi, Bi Janah meminta izin kepada Pak Guru bahwa dia punya janji bertemu dengan saudaranya yang tinggal di Cipanas dan MENUNGGU di depan kantor pos.

Saya tidak terlalu memperhatikan keberangkatan Bi Janah. Bagi saya, hal biasa seseorang membuat janji bertemu dan menunggu.
Tapi kepulangan Bi Janah jadi menarik perhatian saya, juga seisi rumah.
Bi Janah pulang bersungut-sungut, wajahnya memerah seperti menahan marah yang telah lama menyesakkan dadanya.

Kami khawatir, Bi Janah, bagi kami, dia orang penting. Dia, orang yang kami andalkan dalam urusan menyiapkan makan, merapikan rumah dan mengurusi hal-hal domestik lainnya.
Melihatnya bermuram durja, kami sangat prihatin.

"Kenapa Bi, katanya janjian di depan kantor pos. Kok pulang, mana? Tanya Pak Guru.

Bi Janah berusaha mengeluarkan kata-kata yang terasa mencekat lehernya karena kecewa telah menunggu lama tapi orang yang ditunggu tidak datang.

"Ga nyangka ya Pak, saudara sendiri bisa menyakiti Bibi. Janji bertemu di kantor pos, ditunggu. Kaki pegal, leher terasa sakit karena tengok kiri kanan, eh... 4 jam, bayangannya saja tidak kelihatan." Bi Janah menumpahkan kekesalan.

"Janjian nunggunya dimana?" Kata Si Bungsu

"Di kantor pos." Jawab Bi Janah pendek

"Ditelepon ga Bi, sebelah mana kantor posnya?" Tanya Si Sulung.

"Bibi lupa tidak bawa hape."

"Sini Bi, nomornya berapa, aku teleponin ya." Kata Si Bungsu.
Saya tidak ikut menawarkan solusi hanya menyimak bagaimana anak-anakku membantu Bi Janah menyelesaikan masalahnya. Tak lama terdengar suara Si Bungsu bersahutan dengan "saudara" Bi Janah lewat loud speaker hape.

"Ya, Bi Janahnya salah sendiri, tidak datang ke kantor pos, saya menunggu sampai pukul 12." Suara dari seberang menyalahkan.

Si Bungsu sigap menjawab, "  Bi Janah berangkat sejak pagi, nunggu sampai bada dhuhur di kantor pos, sesuai pesanan."

Senyap.
Si Bungsu memecah kesenyapan dengan bertanya, "lbu, menunggunya di kantor pos mana?"

"Di kantor pos CIPANAS, depan mesjid dekat Brimob, kan gampang ketemu di sana mah."

Tiba-tiba Bi Janah berkata, "Bibi nunggu di kantor pos, dekat mesjid, depan Brimob."

"Kantor pos mana Bi?" Tanya kami.

"Kantor pos CIANJUR."

Catatan kaki kiri:.
Jarak Cipanas Cianjur: 25km.

Catatan kaki kanan:
Bi Janah disajikan dalam Bahasa Indonesia untuk kepentingan pembaca. Terasa berbeda, namun mudah-mudahan tokoh Bi Janah bisa go nasional.

Hari Ke-7

Genap sudah, jatuh pada hari ini saya seminggu menjadi wali kelas 12 MIPA 6. Saya dapat mengatakan bahwa niat untuk mengajak peserta didik menjadi orang berbeda (to be different), tersampaikan dan tindakan untuk menjadi orang berbeda sedang dalam proses.
Sesungguhnya hari ini libur secara akademik. Sekolah berakhir pada hari Jumat. Namun sebagai wali kelas, saya tetap melakukan komunikasi dengan siswa bimbingan saya. Nama Ikrar melintas dalam benak. Apakah dia baik-baik saja? Hari Jum’at saya tidak bertemu dengannya. Melalui sms saya berkomunikasi dan kemudian saya merasa lega, dia mengabarkan bahwa dia dalam keadaan segar bugar.

Wadah komunikasi yang disepakati kelas adalah LINE. Bergabung dengan dunia LINE yang didalamnya dihuni orang hebat yang berada di kelas 12 MIPA 6, menarik. Mereka anak-anak yang peduli dan tanggap terhadap kejadian di sekitarnya. Ini pertanda baik. Selama ini ada kekhawatiran yang berlebihan bahwa anak-anak zaman sekarang kurang peduli dengan apa yang terjadi dengan lingkungannya. Hal ini tidak bisa digeneralisir (baca: disamaratakan). Para siswa, pada LINE, mereka sedang membicarakan tentang kebakaran yang asapnya terlihat membumbung tinggi. Salah seorang siswa yang tinggalnya agak jauh dari TKP namun melihat kepulan asapnya melaporkan hal tersebut. Teman-temannya merespon kejadian dengan harapan dan do’a semoga tidak ada korban dan apinya tidak merembet ke gedung lainnya.

Percakapan mereka tentang kebakaran, mengundang perhatian saya. Alex Spiegel (2011) mengatakan bahwa anggapan dan ekspektasi (harapan) guru mempengaruhi bagaimana siswanya bertindak dan bertingkah laku. Saya beranggapan semua siswa saya baik, bertanggung jawab dan peduli.  Kepercayaan itu membuat saya berbicara dan bersikap dengan cara yang berbeda. Efeknya, mereka menunjukkan sikap seperti yang saya asumsikan. Melalui LINE saya mencoba mengenal dan memahami keunikan mereka masing-masing. Saya yakin bahwa mereka bersikap mengikuti bagaimana saya bersikap terhadap mereka.

Saya juga menemukan bahwa siswa saya adalah anak-anak yang antusias untuk mengenal hal baru. Seorang siswa mengunggah tawaran seminar di IPB pada hari Sabtu. Mulanya mereka merasa ragu dan khawatir jika nanti pada saat seminar diberi pertanyaan atau mungkin ada tes. Saya tersenyum ketika membaca kekhawatiran mereka. Jelas terlihat bahwa mereka belum memiliki pengalaman mengikuti kegiatan seminar, lokakarya, simposium atau kegiatan pertemuan yang membahas satu topik yang disajikan oleh dosen (penyaji). Saya membantu menenangkan dengan menuliskan bahwa pada seminar, peserta biasanya datang, duduk, menyimak, dan mendapatkan sertifikat.

Dalam hati saya menambahkan, ‘Tentu saja peserta seminar yang baik bukan sekadar datang dan duduk. Dia harus berinteraksi dengan penyaji agar muncul pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan baru yang menawarkan solusi atau alternatif bagi masalah yang sedang dijadikan isu.’ Saya tidak terlalu memikirkan apakah siswa saya paham hal ini atau tidak. Saya tawarkan bahwa jika memerlukan izin dan surat resmi untuk mengikuti seminar, saya bisa membantu. Dengan memberikan surat izin, saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk membuka kesempatan dan peluang baru, menemukan teman baru, dan melihat bagaimana remaja lain seusianya bertindak. Saya berharap dengan mengikuti seminar mereka lebih kaya secara pengalaman, lebih luas secara wawasan, dan lebih terdidik secara intelektual. Sering melihat dunia luar sangat penting untuk anak-anak yang sebentar lagi akan melanjutkan hidup di dunia perkuliahan.

Hal lain yang menyenangkan saya adalah mereka berusaha menggunakan Bahasa Inggris untuk bercakap pada LINE. Fenomena ini saya apresiasi tinggi-tinggi. Saya melihat bahwa mereka berusaha menunjukkan yang terbaik yang mereka mampu. Sebuah usaha yang luar biasa. Saya yakin, jika mereka terus menerus berusaha menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan di LINE, perlahan namun pasti, kemampuan Bahasa Inggris mereka akan meningkat.

Yang membahagiakan adalah mereka satu persatu mulai berbagi link blog. Artinya mereka sudah mulai menulis untuk ‘Seri 365.’ Saya merasa trenyuh ketika ada seorang siswa yang mengaku bahwa dirinya tidak bisa membuat blog, namun dia bekerja keras untuk dapat membuatnya sendiri. Saya sangat terkejut, siswa yang mengaku tidak bisa membuat blog tadi kurang lebih dalam 3 jam telah berbagi link blog. Saya harus mengakui temuan Tom Stafford (2011) pada bukunya Teaching Visual Literacy yang menyebutkan bahwa Generasi Z yang besar pada tahun 2000an mereka adalah warga negara digital (digital native). Mereka memiliki kemampuan sosial, teknologi, dan teknologi yang berbeda dengan saya, yang lahir jauh sebelum jaman milenial.

Satu persatu link blog bermunculan di LINE. Saya menikmati sajian tulisan yang dibuat oleh siswa saya dengan ucap syukur. Mereka benar-benar sedang berada pada alur untuk menjadi orang yang berbeda. Wujud syukur saya, saya komunikasikan kepada siswa saya dengan mengunggah komentar pada setiap tulisan yang mereka unggah.  

Menjadi wali kelas memang anugerah besar yang luar biasa. Saya telah menemukan banyak hal dan pelajaran dari pertemuan selama satu minggu dengan siswa-siswa saya. 

Saturday, July 22, 2017

Hari ke-6

Hari hadir dengan atribut harinya sendiri. Kabupaten Cianjur dengan program pemerintah bertajuk “Gerbang Marhamah” atau gerakan masyarakat berakhlakul karimah ditandai dengan berkumandangnya alunan-alunan ayat-ayat Al-Quran yang dari mesjid-mesjid kecil yang ada di RT-RT. Suaranya saling bersahutan seolah saling menyapa dalam bahasa ilahiyah. Saya mendengar keindahan naik turunnya suara dan bergantinya jenis suara dari setiap mesjid. Gerbang marhamah terasa kental di mesjid-mesjid dengan berlomba-lombanya anggota DKM menyetel rekaman pembacaan ayat-ayat Al-Quran.

Pagi beranjak sesuai fitrahnya. Setiap detik berlalu. Saya segera meninggalkan rumah untuk kembali memulai memenuhi tanggung jawab sebgai seorang guru.  Jalanan pada pukul 6.15 sama sesaknya dengan hari-hari sebelumnya. Sambil menikmati perjalanan, saya bersiap menempatkan diri jadi wali kelas. Menjadi ornag tua kedua, begitu kata orang.

Ketika saya masuk ruang guru, terdengar para guru saling mengingatkan agar para wali kelas memasuki ruang kelas yang diwalikelasinya untuk memberikan pembinaan wali kelas. Mereka saling baku-tanya harus memberikan apa. Saya tidak berkata apa-apa, langsung mengambil absen dan menuju kelas 12 MIPA 6.  Telah jelas apa yang akan saya lakukan hari ini untuk kelas 12 MIPA 6, melanjutkan membaca Pembawa Mayat dan membuat struktur organigram Kelas.

Para siswa telah menunggu, pada pertemuan ke-2 mereka hadir tepat waktu. Bagi saya, itu suatu perubahan yang drastis. Pada hari ke-1, hampir satu pertiga datang terlambat. Hari ini, mereka berusaha hadir tepat waktu. Bagi saya, seorang wali kelas, kehadiran mereka yang tepat waktu adalah sebuah kebahagiaan besar.

Saya melanjutkan paragraf ke-3 dari cerita pendek  Pembawa Mayat. Pada teksnya disebutkan bahwa si tokoh utama memandang do’a sama gaibnya dengan kematian. Dia memandang bahwa setelah kematian, ada kehidupan yang sama seperti yang sekarang sedang ia jalani. Dia sangat takut, di kehidupan nanti istrinya menikah dengan orang lain, dan barulah dia menangis.

Paragraf ini saya gunakan untuk menyadarkan para siswa terhadap pentingnya do’a. saya mulai dengan membeberkan kenapa do’a sama gaibnya dengan kematian. Do’a dan kematian keduanya tidak pernah dapat dijelaskan, misteri. Kematian, walaupun semua yang hidup mengalaminya namun tidak pernah ada kabar bagaimana mati itu menurut si pelaku.

Do’a, semua orang melakukannya, agama apapun. Namun, sekalipun semua memohonkannya, tidak pernah tahu, kapan do’a itu dikabulkan dan tidak pernah tahu bagaimana do’a itu tiba-tiba saja baru disadari bahwa telah terkabul.

Do’a dan kematian menjadi misteri besar bagi manusia, namun tidak bagi Tuhan. Seorang hamba misalnya berkata do’aku lama tak terkabul. Demikian juga kematian, ada seorang tua dan penyakitan berkata, aku menunggu kematian, lama sekali kutunggu, dia tak kunjung datang. Seorang lainnya berujar, kematian itu datang terlalu cepat, dia masih SMA, anak soleh, pintar, hanya anak satu-satunya, sayang dia meninggal.

Contoh tadi menyiratkan bahwa manusia membuat ukuran. Akibat dari pembuatan ukuran tadi  maka segala sesuatu menjadi berbeda. Padahal bagi Tuhan, tidaklah demikian. Saya uraikan begini. Manusia melihat segala sesuatu menjadi rumit karena ukuran yang dia buat sendiri. mari kita lihat diri kita. Kalau Donal Trump, Agnes Monica, kita, dan siapapun yang ada di muka bumi ini dilepaskan dagingnya. Maka kita akan sadar, bahwa kita sadar bahwa kita sama, hanya tulang belulang putih dan struktur yang sama. Yang membedakan kita kulit. Manusia kemudian membuat ukuran, si ini kulitnya berwarna ini, si itu berwarna itu, si fulan warnanya anu. Lahirlah perlakukan dan stereotip yang berbeda-beda karena ukuran warna kulit. Padahal Tuhan tidak membedakan manusia karena warna kulitnya, semuanya diterima sama, mereka semuanya khalifah di muka bumi.

Bagimana dengan do’a. bagi Tuhan, manusia semuanya sama. Pembedanya hanyalah keimanan. Do’a, saya tegaskan kepada para siswa yang semuanya diam, adalah pengakuan kita atas tidak berdaya tidak berkuasanya, dan bertapa kecilnya kita.  Boleh saja sesekali kamu bisa berkata, ‘Kamu harus tahu, aku ini …’ Tapi sadarkah bahwa ke-aku-an yang sedang kamu katakan adalah perwakilan dari murkamu, egomu, dan sesungguhnya muncul dari ketidakberdayannmu. Marah, merujuk diri sebagai sentral (aku ini …) menunjukkan bahwa kamu bukan siapa-siapa. Kamu melabeli diri kamu dengan ‘aku ini’ artinya kamu ingin diakui sebagai seseorang. Dengan kata lain bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, sehingga orang lain harus diberitahu kamu itu siapa, kamu tidak punya kuasa.

Kelas masih hening, saya lanjutkan. Ketidakberdayaan  menjadi fitrah kita. Membuat kita kuat adalah tugas kita, caranya, berdo’a. Do’a adalah penghambaan kita kepada Tuhan dengan cara yang elegan. Mengakui betapa kita tidak berdaya-upaya, namun memiliki banyak keinginan. Do’a juga merupakan cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Segala kesusahan, keperihan, kekecewaan, atau sebaliknya, segala suka, bahagia semuanya dikabarkan kepada Tuhan.

Para siswa terlihat seperti sedang berusaha mencerna apa yang saya sampaikan. Saya persilakan mereka untuk bertanya, namun tidak ada yang membuka mulut. Waktu 30 menit untuk bersama kelas ini, hampir habis. Saya teringat akan mencontohkan bagaimana menggunakan fasilitas blogger untuk menulis setiap hari agar di akhir tahun menjadi buku.

Saya jelaskan bahwa untuk menulis seri 365, tidak harus pada buku. Namun pada Android dengan menggunakan fasulitas Blogger yang bisa diunduh dari Play Store. Caranya dengan membuat akun beralamat @gmail.com. para siswa berkata bahwa mereka telah memiliki akun. Saya katakan bahwa itu bagus, tinggal lanjutkan situs blogger dengan menggunakan alamat tersebut, agar mudah lakukan di laptop. Jangan lupa gunakan nama asli, hal ini untuk memudahkan saya ketika berkunjung ke lamannya. Setelah membuat blog selesai, silakan unduh blogger di android. Nanti kalau mau menulis, langsung pada blogger android. Bisa dalam keadaan offline, dalam keadaan demikian kita menulis sesuai yang diinginkan. Setelah dirasa cukup, silakan unggah. Kelebihan blogger pada android adalah bisa menulis kapan saja tanpa harus terkoneksi dengan internet.

Saya menawarkan, boleh juga menulis pada Google doc. Setelah selesai menulis, silakan share linknya agar saya bisa membacanya. Para siswa terlihat lebih paham untuk urusan ini. saya berharap mereka mulai menulis, tidak sekadar mengiyakan.

Saya hendak meninggalkan kelas ketika Fauzi melaporkan bahwa struktur kelas belum jadi. Kemarin saya sudah meminta Fauzi untuk merancang struktur kelas dan Gian bisa membantu rancangan jadinya pada Corel draw untuk kemudian dicetak jadi banner. Ternyata struktur belum terwujud. Saya menghentikan niat meninggalkan kelas. Saya meminta Fauzi agar memimpin membuat struktur kelas. Saya melongok ke luar kelas. Terlihat kelas 10  masih rapi berbaris di lapangan menyimak apel bersama satu-satunya DanDim perempuan yang ada di Indonesia (katanya begitu). Saya merasa tenang, artinya pelajaran belum dimulai. Saya lanjautkan menemani Fauzi merancang struktur kelas. Tidak lama, selesai.


Hari ini, saya meninggalkan kelas 12 MIPA 6 dengan doa semoga mereka menghambakan dirinya dengan banyak berkomunikasi kepada Tuhan melalui do’a.