Pages

Friday, October 20, 2017

Butuh revolusi membaca

Baru-baru ini hasil riset Bank Dunia untuk pendidikan dirilis. Hasilnya sangat menyedihkan saya, yang perkerjaannya sebagai guru. Bank Dunia melaporkan bahwa 'Indonesia dianggap butuh waktu 45 tahun untuk mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan dalam hal membaca.'
Yang perlu kita garisbawahi dari laporan Bank Dunia tersebut adalah ketertinggalan dalam hal membaca.

Bagi beberapa orang yang statusnya guru ingin sekali menyangkal hal ini. Mereka akan membela diri dengan mengatakan bahwa para siswa sudah dibimbing, dibina, dan diajarkan membaca. Buktinya? Tidak ada anak-anak Indonesia yang buta huruf, semua bisa membaca.

Bagi sebagian guru yang mengajar di SMA akan mengatakan, urusan membaca mah urusan guru SD. Merekalah yang bertanggung jawab mengajarkan membaca dan memastikan setiap anak bisa membaca. Guru SMA mendapatkan siswa yang sudah begitu rupa dan kemampuannya ketika mereka masuk SMA. Sudah bukan tanggung jawab  guru SMA untuk ngutak ngatik urusan membaca.

Laporan Bank Dunia menyoal ketertinggalan membaca bukan untuk membuat kita saling menyalahkan, saling tuduh siapa yang harus bertanggung jawab, atau mencari kambing hitam diantara kambing putih. Kita, sebagai bagian dari bangsa ini harus ikut memikirkan bagaimana agar waktu yang dibutuhkan menjadi lebih pendek sehingga ketertinggalannya tidak terlalu jauh dan merugikan bangsa ini.

Kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa sebagian dari kita dan anak-anak didik kita belum bisa membaca dalam arti tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan bahasa  dan menggunakannya untuk mengerti teks (misalnya bacaan) , mendengarkan perkataan, memahami percakapan, mengungkapkannya  dalam bentuk tulisan dan lisan atau berbicara.

Keadaan kita sekarang berada pada posisi melek huruf. Kita dan anak-anak dapat membedakan huruf dan angka. Dapat pula mengeja setiap huruf yang dirangkai menjadi kata. Namun, tidak memahami apa makna dibalik huruf atau angka yang sedang diejanya.
Sebagai contoh nyata, seorang anak berusia 6 tahun belajar mengenal dan membaca huruf Arab. Setelah sekian waktu, dia bisa membaca huruf, bahkan bisa membaca AlQuran dengan lancar.
Kondisi ini belum dapat dikatakan bisa membaca, namun melek huruf.

Mampu membaca, arti sederhananya adalah mampu memahami isi dan makna (tersirat dan tersurat) yang terkandung pada tulisan tersebut.  Ketika saya tidak mengalami hambatan membaca  teks berbahasa Perancis karena menggunakan huruf-huruf Latin yang memang sudah sangat saya kenal, saya tidak dapat dikatakan bisa membaca dalam bahasa Perancis. Saya hanya melek huruf yang digunakan pada teks berbahasa Perancis namun sama sekali tidak tahu isi bacaan tersebut apa.

Contoh lain, saya membaca artikel pada  Koran Tempo tentang Ekonomi  yang didalamnya berisi tabel, grafik juga huruf-huruf Latin dan menggunakan  bahasa Indonesia. Saya bisa menghubungkan setiap huruf yang dipakai pada artikel tersebut.  Namun jika ditanya apa isi artikel tersebut,  saya tidak paham. Kondisi inilah yang dimaksud dengan tidak bisa membaca.
Saya tidak tersinggung ketika disebut tidak bisa membaca. Saya harus mengakui bahwa banyak teks yang hanya bisa saja kenali huruf-hurufnya namun tidak tahu isinya.

Kondisi siswa kita, yang termasuk tidak bisa membaca, adalah siswa yang kurang lebih sama dengan kondisi saya ketika membaca teks berbahasa Perancis dan berbahasa Indonesia dengan tema ekonomi yang saya jelaskan di atas.

Tidak sedikit dari siswa kita yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku (pelajaran), namun selesai membaca, mereka seperti tidak mendapatkan apapun. Tidak sedikit pula siswa kita yang memilih tidak membaca, karena walaupun mereka membaca, mereka tidak memperoleh informasi baru.
Inilah kondisi yang menyebabkan negara kita tertinggal dari negara lain dalam hal penguasaan keterampilan membaca.

Jika Bank Dunia menduga perlu waktu 45 tahun bagi negara kita bisa sejajar dengan negara lain dalam hal membaca, itu pun mungkin belum  tentu benar. Ketika kita dan siswa kita masih bergaya membaca seperti saat ini dan tidak mengubahnya, kita perlu waktu lebih dari 45 tahun sepertinya. Namun, jika kita mulai bergerak,  mulai mengajarkan membaca dalam arti mampu memahami isi bacaan, mungkin tidak harus menunggu 45 tahun untuk setara dengan bangsa lain.

Membaca adalah  keterampilan. Perlu latihan yang terus menerus dan berkelanjutan agar dapat menguasainya. Kita sering mendengar seseorang ikut kursus berbicara. Mungkin awalnya terdengar aneh. Masa sih ikut kursus berbicara. Kita semua kan bisa bicara. 

Bagi yang ingin bisa berbicara di depan publik, mereka berlatih  bicara untuk memenuhi kebutuhan ini. Presiden Sukarno pun, berlatih  berbicara di kamarnya sebelum menjadi orator ulung. Keterampilan  berbicara, diperoleh berkat latihan.

Sekarang membaca, hanya sedikit orang yang diberkahi Tuhan dengan kemampuan membaca. Sebagian besar lainnya harus berlatih dan harus belajar. Sangat sedih jika saya menemukan seseorang yang mengaku dirinya pandai membaca tanpa harus berlatih. Jangan-jangan dia hanya melek huruf; dia belum terampil membaca dan tidak memiliki kecakapan literat.

Tuesday, October 17, 2017

Pendidikan di Indonesia

●Nara sumber: Prof. Udin●

Sistem pendidikan nasional Indonesia dibangun atas empat filosofi: Esensialisme (terkait iman takwa, ahlak mulia), Perenialisme (iman takwa cakap, watak), Reconstruksionisme (cakap, kreatit, demokraris, bertanggung jawab), dan Progresivisme (kemampuan, cakap, kreatif, mandiri, iman, takwa)

Dari keempat filosofi tadi dituangkan pada Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, yang menyebutkan fungsi: Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan tujuan: untuk berkembangnya potend peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia,  sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan nasional tadi diterjemahkan kedalam kompetensi agar pendidikan menghasilkan pribadi yang utuh. Ditandai dengan menguasai kompetensi inti 1 dan 2 (sikap), kompetensi inti 3 (pengetahuan) dan kompetensi 4 (keterampilan).

Muatan tujuan pendidikan nasional dikemas dalam disain Kurikulum 2013 dengan entitas pendidikan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan. Tujuan pendidikan nasional dicapai melalui pembelajaran yang dinilai keberhasilannya. Untuk mendukung pembelajaran terjadi diperlukan budaya, kepemimpinan, dan menagement pendidikan.

Kerangka Akademik pedagogik
Belajar diartikan sebagai proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman (Kolb: 1986)
Pengetahuan harus dibangun melalui pengalaman. Guru TK sangat piawai membangun pengetahuan, misalnya pada saat menggambar, para siswa menggambar dengan bebas tanpa plot dan semuanya disebut bagus.

Dyers dkk  (2011) menyebutkan bahwa
○ 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidika, 1/3 sisanya berasal dari genetik.
○ Kebalikannya berlaku untuk kemampuan intelligent yaitu 1/3 dari pendidikan, 2/3 dari genetik.
○ Kemampuan kreativitas diperoleh melalui: mengamati, menanya, menalar, dan  mencoba.

Pembelajaran hari ini adalah pembelajaran abad 21. Kita sedang ada di tahun ke 17 dari abad 21.  Jadi pembelajaran abad 21 bukan pembelajaran dalam mimpi, kita sedang melakukannya.
Untuk pembelajaran abad 21 harus membantu siswa memiliki tiga hal: 1) life and career skills, 2) digital literacy,  dan 3) learning and innovative skills.

Pembelajaran efektif dimulai dengan sikap dan persepsi yang positif tentang belajar (Marzano: 1985). Tugas guru membangkitkan sikap dan persepsi positif siswa. Kedua, siswa dibawa untuk mampu menggunakan pengetahuan dengan bermakna. Selanjutnya,  siswa dilatih untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan. Di akhir para siswa secara otomatis menggunakan productive habit of mind.

Biggs dkk (2004) mengingatkan bahwa  ' .. untuk mencapai tujuan pendidikan maka harus dibangun hubungan antara pembelajaran, proses belajar, dan penilaian'
Tujuan pendidikan tercapai jika siswa mengalami  pembelajaran otentik, proses pembelajaran otentik,  dan penilaian otentik.











Saturday, September 23, 2017

Hari ke-60 Libur, Bisa Gak?

HARI INI, saya memiliki 24 jam yang benar-benar milik saya sendiri. Tidak ada tugas di luar jam kerja, tidak ada sisa laporan yang harus diselesaikan, tidak ada hutang tulisan yang ditunggu deadline, tidak ada janji, tidak ada agenda yang harus dipenuhi, tidak ada tanggung jawab sebagai Ibu, sebagai istri, tidak ada apa-apa. Bebas.

Bangun tidur dihantui mimpi. Dalam mimpi teman yang lama tak besua, meninggal karena kanker. Karena hari ini milik saya, pagi-pagi, bukannya ke dapur, tapi menelepon. Menanyakan kabar, menanyakan hal-hal basi, ternyata teman lama yang dimimpikan meninggal, sehat walafiat. Hanya katanya dia agak stress akhir-akhir ini, selalu lupa hari, tiba-tiba sudah Sabtu lagi. Dia mengatakan tidak siap meninggal, masih banyak urusan, keluarga, pekerjaan, semua belum beres. Katanya sih sempet kepikiran bagaimana kalau masa hidupnya dicabut. Dia ngeri sendiri, bilang belum siap berjumpa ajal.

Ngobrol dengan teman lama, ya lama, dan … lupa waktu, 2 jam bertelepon dan harus diakhiri karena saya kebelet pingin ke belakang.  

Meninggalkan toilet, pikiran saya sudah memberitahu, hari ini, tidak ada pekerjaan, semua off, silakan buang waktu sesuka hati, jadi orang malas juga … boleh. Maka jadilah saya orang malas.
Kemalasan dimulai dengan membuka bonus 1013MB VideoMax dari HOOQ  yang artinya memiliki kesempatan menonton film tanpa ambil kuota paling tidak selama 2 jam secara streaming atau download. Saya ingin melihat bagaimana Angels and Demon tulisan Dan Brown dimainkan Tom Hank. Tapi saya takut, bagaimana jika filmya tidak serame bukunya, atau saya malah kecewa karena film bukanlah secara 100% memindahkan isi buku ke layar. Niat menggunakan bonus. Batal. Mending pakai masker saja. Sudah hampir seratus hari produk masker dibeli, namun belum juga dipakai. Selalu saja ada bayangan menakutkan kalau memakai masker. Bayangan tersederhana adalah pas selesai bermasker, tiba-tiba ada tamu yang datang tanpa janji. Ditolak dengan alasan saya sedang menghindarkan diri dari dakwaan masker yang dibeli tapi tidak dipakai, pasti tidak enak ke si tamunya. Tidak ditolak, tidak mungkin saya buru-buru basuh wajah, ternyata tamunya hanya mau nagih iuran RT saja, misalnya. Padahal harga maskernya, lebih besar dari iuran tagihan ke-RT-an.
Niat bermasker, dibatalkan, abort, unwelcomed guests may come anytime. Dan saya benar, sekitar lima menit dari pembatalan memakai masker terdengar suara ragu Assalamu’alaikum. Saya buka pintu (sambil bilang Alhamdulillah belum bermasker), saya lihat seorang anak perempuan tanggung yang memanggil saya ‘Tante” menanyakan keberadaan anak saya. Saya tanya sudah janjian atau belum, dia jawab, belum. Saya jelaskan bahwa anak saya sedang ke Kecamatan, mencari internet gratis, katanya buat mengerjakan pe-er. Si anak tanggung menutup pertamuan dengan mengatakan akan menyusul anak saya ke kecamatan. Saya duduk sambal memikirkan panggilan ‘Tante’ dari teman anak saya.  Kota kecil ini telah berubah besar sekali. Saya tidak mengira, untuk kampung sekecil ini ada kata “Tante” muncul dari mulut anak-anak. Saya membayangkan kata ‘Ibu’ sebagai pilihan panggilan untuk nenek-nenek (muda wkwkwkk) akan dipilih anak-anak kepada saya. Dan saya salah. Agak canggung rasanya dipanggil ‘Tante’. Tapi sudahlah Tante.

Saya berniat membuat nasi goreng ketika terdengar pintu diketuk orang. Masak, batal, abort. Saya buka pintu (sambil bilang alhamdulilah berlum bermasker), ternyata ada Kakak yang mampir untuk say hi dan memberikan oleh-oleh favorit, pisang. Ngobrol ngalor kidul tidak jelas, asal sunyi pinggiran makam pecah, akhirnya Kakak berangkat lagi, saya duduk lagi, mikir. Ini libur, terus?

Hape, cek hape saja. Mungkin ada yang menarik. Saya buka Flipboard. Ada apa di belahan dunia lain hari ini. Ada berita 20 foto terbaik dengan latar bencana alam. Ada artikel “Adulting Would Have Been So Much Easier If these Vital Life Lessons Were Taught in School”. Artikel ini menyoroti bahwa sekolah tidak membantu hidup di luar sekolah menjadi lebih mudah karena hanya berfokus pada tampilan kinerja akademis siswa saja (setting India). Si penulis menyarankan agar sekolah mengajarkan bagaimana caranya membuka rekening bank dan mengirim uang secara online, atau mengambil uang yang dibayar dengan Pay Pal. Kedua, sekolah harus mengajarkan etika bertamu (pada saat travelling) dan etika penggunaan barang-barang publik. Sekolah juga harus mengajarkan bagaimana cara bertahan hidup dan cara mengelola keuangan. Selain itu, sekolah harus mengajarkan bagaimana cara menghadapi kegagalan hidup dan bagaimana cara menjalani kegagalan dengan cara positif. Masih banyak yang harus diajarkan di sekolah yang menurut penulis agar para siswa menjalani kehidupannya kelak dengan lebih mudah.

Saya merasa bacaan ini menjadi tugas tambahan yang harus disisipkan pada saat mengajar nanti. Ternyata, masih banyak yang kurang dalam pengajaran yang saya berikan. Pikiran saya memikirkan mengajar, hey.. ini libur. Stop thinking about teaching. Saya pindah ke fitur musik, sudah lama tidak mendengarkan Kacapi Suling Cianjuran, saya menyimak Bubuka. Pagi-pagi, belum makan, rasanya kurang pas mendengarkan Cianjuran.

Mengisi libur yang tak berjadwal, bisa memilih kegiatan apapun, come on, ayolah, sedikit kreatif, 24 jam itu waktu yang cukup untuk merasakan malas (bebas jadwal). Ganti, jangan Cianjuran, cari yang membuat tertawa, semangat, terinspirasi. Saya menyetel Wayang. Seisi rumah penuh dengan suara Dalang Asep Sunandar Sunarya menyajikan Sumur Sijalantunda. Kisah yang mengangkat peristiwa Jenderal yang dibuang ke sumur Lubang Buaya. Penggalan peristiwa G30S/PKI versi wayang, sama mengerikannya, namun tidak semengerikan (visually) ketika dulu saya menonton filmnya. Wayang sangat menarik perhatian saya, kehebatan dalang bercerita tunggal namun bersuara berbeda-beda sesuai karakter. Saya mendengarkan wayang dengan saksama, tapi jadi kurang konsentrasi karena lapar. Tidak ada makanan. Hanya ada Mie instan. Baiklah, ini hari malas, hari libur, tidak ada acara masak, bikin mie instan saja. Selesai.  

Sendirian, menikmati Mie Instan, tanpa ada daging ayam, hiasan bawang goreng, tomat, atau yang lainnya seperti yang tertera pada bungkus Mienya. Rasanya? Pahit air liur sejak pagi belum terlewati apapun, berubah rasa (terlalu) gurih sehingga saya menambahkan air jeruk nipis kedalamnya agar sedikit ringan kegurihannya. Inilah rasa makanan pada saat libur. Nikmati saja Tante.

Ternyata menikmati Mie Instan diiringi Wayang, juga tidak cocok. Rebus Ubi atau rebus singkong mungkin pas. Saya matikan Wayang dan memindahkan mangkuk kotor, ke tumpukan piring kotor lainnya yang telah menggunung. Ini libur, tidak ada acara mencuci piring. Saya menjadi orang malas. Saya lihat, baju kotor menunggu dicuci. Saya lihat, lantai belum dibersihkan, pekerjaan domestik. NO. Ini libur, tidak ada pekerjaan domestik. Baju kotor, biarkan saja, kalau perlu baju, pakai baju bersih saja, kan masih ada.

Menikmati libur ternyata malah melelahkan. Libur mungkin akan terasa libur ketika benar-benar tidak memikirkan apapun. Tidak memikirkan kombinasi mie instan dengan wayang, tidak memikirkan inti bacaan dengan pekerjaan, tidak memikirkan panggilan Tante vs Ibu, tidak memikirkan urusan domestik. DAN, libur itu perlu bertemu orang. Libur hanya bertemu aku dan saya saja, bulak balik, disitu-situ saja dan ke situ-situ saja. Kesimpulannya, saya perlu libur beneran.

Thursday, September 21, 2017

Hari Ke-59 Haduh Capek Deh, Kebanyakan Notifikasi

Hari libur memang menyenangkan. Kita memiliki banyak waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Salah satunya adalah buka-buka hape. Hapus-hapus gambar yang diangap hanya menghabiskan memori, buang-buang file yang sudah tidak dibutuhkan, pilih-pilih video yang mau disimpan, dan sortir foto-foto sendiri yang kira-kira layak bertahan di memori.

Membuka hape (android) menjadi masalah bagi saya. Dalam waktu kurang dari 10 jam, pada saat saya tidur, hape offline, pada saat bangun, di-online kan berbondong-bondong masuk segala informasi yang tertahan pada saat offline. Ratusan angka di WA, ratusan juga di LINE, masih ratusan di Telegram, puluhan pada email (saya memiliki 4 email, dan semuanya aktif), puluhan dari satu email, ketika dibuka mode combined, email baru … banyak  juga (untunglah notifikasi Facebook tidak diizinkan muncul pada email). Syukurlah BBM ditutup, tapi masih ada, Facebook memberikan puluhan notifikasi. Yang lain, Duolingo memberi 2 notifikasi, Watpadd mengabarkan ada 3 buku baru, WeChat ada 2 notifikasi. Flipboard memberikan juga notifikasi.  Lyra ada satu.

Saya mulai membuka WA, saya tidak tahu ada pada berapa grup nama saya diikutkan. Saya menemukan kelucuan: grupnya beda, orangnya itu-itu juga, dan ini berakhir dengan berita salin-rekat ke sana sini. Satu orang mengirim ucapan selamat tahun baru pada 5 grup yang berbeda dengan gambar yang sama, bedanya waktu pengiriman berbeda detik.  Selanjutnya ada kabar duka yang diunggah seseorang karena saudaranya meninggal dunia, dijawab dengan ungkapan bela sungkawa. Saya juga melihat hal menarik, ungkapan belasungkawa yang pertama, di kopi (salin) oleh hampir semua anggota grup maka berjejeranlah puluhan salinan ungkapan belasungkawa tertulis, padahal keluarga orang yang berbela sungkawanya sendiri tidak ada pada grup.

Pada grup lainnya ada tulisan ‘copas dari kamar sebelah’ isinya tentang muslim dianiaya oleh para Budha di Myanmar dan ajakan jangan mengunjungi Borobudur. Copas tadi beredar pula di group yang lain dikirim oleh yang berbeda, isinya persis.

WA paling merepotkan, grupnya terlalu banyak, membingungkan harus membuka yang mana dulu. Karena terlalu banyak, malah jadi tidak tahu mana berita yang penting, mana respons, mana yang harus saya jawab. Karena bingung, akhirnya hanya dibuka, tidak dibaca satupun yang penting angka 210 pada notifikasi hilang (dipikir-pikir, apa semalam mereka tidak tidur ya). Grup yang lain bernasib sama, saya buka, pindah ke grup lain, pindah lagi ke grup lain, terus, sampai semua notifikasi hijau hilang.

Pindah ke Telegram, eh ternyata ada copas tipe kamar sebelah juga. Pada Telegram saya diikutkan pada beberapa grup, dengan konten berbeda, ada grup yang khusus pendidikan tapi sesekali nyelip copas, ada yang khusus mata pelajaran tapi nasibnya sama ‘sering nyelip copas’, ada grup teman waktu SMA yang isinya ‘kebanyakan copas’. Saya tidak membaca copas-copas, selain tulisannya panjang-panjang, juga sepertinya informasinya bukan yang saya sedang saya butuhkan saat ini. Saya meminta maaf kepada para copaser, beritanya tidak saya baca, tidak saya sebar walaupun dibawahnya ada tulisan ‘80% orang tidak menyebarkan ini, tugas anda untuk menyebarkannya’.
Pada Email, saya harus menyalahkan diri sendiri karena subscribe (berlangganan) beberapa informasi yang dikaitkan ke email untuk update berita baru, misalya Jurnal Taylor and Frances, Linkedin, Globalethics, akibatnya setiap ada kabar ada link dikirim via email. Yang hebat, walaupun saya tidak lagi memakai hape Asus, setiap ada kabar update fitur baru gratisan Asus selalu masuk, padahal sudah diminta end subscribe, masih saja bocor.

Di WeChat, teman-teman dari Tiongkok mengirim 2 video: That is why eating healthy food, dan video stop sugary food and drinks.  

Saya buka Flipboard, pada berita yang saya follow ada banyak berita baru (saya hanya follow 3 saja, takut tidak sempat bacanya). Pada berita Pendidikan ada tulisan “No, You are not Visualized Student”. Saya baca, katanya bahwa siswa itu tidak benar dikelompokkan kinestetik, audio, visual dll, yang benar adalah guru harus mengajar dengan berbagai mode (cara) supaya setiap siswa aktif belajar. berita lainnya “3 weeks into motherhood, Serena Williams  was  complelled to write a letter of gratitude to her mama”. Ruapanya sang cewe perkasa tersebut baru ngeuh kalau jadi lbu lebih berat dari mengalahkan juara tenis kelas dunia. Saya tidak membuka semuanya.

Wattpad meminta ‘Continue reading this story, tap to read The Famoux” diikuti dengan kabar ada buku baru lanjutan The Last She, dan Scary Stories to Read at Night. Saya kadang berterimakasih pada Wattpad. Dia selalu mengingatkan untuk membaca buku ketika saya luput tidak berkunjung (offline padahal) selama 3 hari berturut-turut. Saya sedang membaca The Famoux, kisah masa depan setelah tidak ada matahari yang dibuat anak SMA.

Yang suka mengingatkan juga Duolingo, dia akan meminta berkunjung ke Duolingo kalau kita tidak belajar selama seminggu.


Saya tidak sempat membuka dan membuat semua notifikasi hilang, sudah 3 jam habis. Saya belum apa-apa. Jangan-jangan, kalau semua dibuka, akan habis setengah hari, apalagi kalau membuka Facebook. Saya harus menghentikan mengurusi notifikasi. Tidak rega rasanya kalau hari libur dihabiskan hanya untuk menghapus notifikasi saja. 

Wednesday, September 20, 2017

Hari Ke-58 Kok Pake Penjaminan Mutu SIh!

Pada sebuah kegiatan bersama guru-guru dari wilayah Maluku, Papua, Papua Barat, dan Gorontalo saya menemukan beberapa hal menarik untuk direnungkan. Salah satu materi kegiatan adalah penjaminan mutu pendidikan. Bagaimana mutu pendidikan, pengajaran, pendidik, dan segala hal yang memerlukan mutu bisa dijamin? Jawabannya adalah standar (Standar didefinisikan sebagai aturan, biasanya bersifat wajib, memberi batasan spesifikasi, baku). Segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan sandar, maka mutu akan terjamin. Sebagai contoh, pada dunia kedokteran, setiap tindakan dan aktivitas yang dilakukannya, semuanya berdasarkan standar sekaligus taat standar. Jika para dokter melakukan prosedur operasi tidak sesuai standar, maka taruhannya sangat besar.  

Pendidikan dan pengajaran, pun, memiliki standar untuk setiap kegiatan dan aktivitasnya. Dengan demikian diasumsikan bahwa pendidikan dilakuan sesuai dengan mutu yang ditetapkan sehingga hasilnya sesuai dengan proses. Ibarat seorang dokter yang merancang akan memindahkan garis lipatan mata karena dianggap kurang besar sehingga berkesan sipit, maka dia melakukan rencana pemindahan garis mata sesuai standar, dan kemudian melakukan penyayatan pemindahan garis mata berdasarkan prosedur yang telah dirancangnya dan tidak melenceng satu langkahpun. Cara ini memastikan hasilnya sama dengan yang diprediksikan pada rancangan.  Setiap yang dilakukannya berbasis standar, jaminan hasil bermutu telah dijamin.

Penjaminan mutu dalam dunia pengajaran sebagai contoh untuk prosedur mengajar, standar yang ditetapkan dikeluarkan oleh pemerintah melalui peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (Permendikbud) nomor 22 tahun 2016 tentang standar proses. Sejatinya para guru menggunakan peraturan menteri nomor 22/2016 tersebut ketika mengajar. Tanpa menggunakan peraturan tersebut maka perencanaan dan pelaksanaan mengajar tidak dilakukan sesuai standar dan mutu proses dan hasil pembelajaran tidak terjamin.

Saya menemukan hal menarik ketika mendampingi para guru dari wilayah timur. Meraka sangat piawai membuat rancangan pembelajaran yang dibuktikan dengan adanya dokumen rencana pembelajaran yang ada pada file di laptopnya.  Namun saya menjadi terkejut karena mereka mengaku bahwa saat merancang pembelajaran, mereka tidak melihat kepada Permendikbud nomor 22/2016.  Mereka merancang pembelajaran dengan mengacu pada penjelasan fasilitator saja. Pembimbingan dan penjelasan dari fasilitator dianggap final dan mengandung kebenaran mutlak, bahwa seperti itulah rencana pembelajaran harus di buat. Mereka TIDAK melihat ulang STANDAR yang ditetapkan pada Permendikbud nomor 22/2016.

Belum selesai dengan terkejut yang pertama, saya harus menerima kejut kedua.  Sebagian dari mereka mengaku bahwa rencana pembelajaran yang mereka buat dengan susah payah tersebut, TIDAK difungsikan sebagai acuan pada saat mengajar. Teringat pada tindakan dokter, alangkah banyaknya kemungkinan ketidakberhasilan yang dokter itu lakukan ketika dia bertindak tanpa mengacu pada rancangan prosedurnya. Guru dan dokter keduanya pekerjaan professional. Ketika guru tidak menggunakan rancangan sebagai acuan, bisa diasumsikan mutu pembelajaran tidak terjamin lagi.
Menanggapi kondisi guru merancang pembelajaran tanpa mengacu pada permendikbud no 22/2016, saya mengajak para guru untuk menyandingkan dokumen yang mereka buat dengan standar yang harus dipenuhi pada setiap bagian, elemen, dan langkah yang harus dipenuhi pada saat mengembangkan rancangan pembelajaran.  Pada saat memperbaiki dokumen rancangan pembelajaran dengan mengacu pada standar, para guru berkomentar oh harus begini atau oh harus begitu ketika merancang pembelajaran, semuanya ada aturannya, dan ternyata lebih mudah mengikuti aturan karena yang dilakukan memiliki nilai kepastian.

Saya harus menerima pengakuan yang membuat saya harus mendapatkan kejut ketiga. Para guru mengaku bahwa mereka tidak membaca permendikbud no 22/2016 walaupun file itu telah ada sejak setahun lalu pada laptopnya. Mereka mengatakan kalau filenya ada, rasanya tenang. Saya khawatir jangan-jangan data yang ribuan giga yang tersebar pada hape, laptop, dan external disk semuanya hanya koleksi, untuk menghilangkan rasa khawatir, untuk menenangkan diri  sendiri bahwa file ini ada, file itu ada, semuanya ada.


Hal kedua yang saya lakukan kepada pada guru yang saya bimbing adalah mengajak mereka membaca dahulu semua file yang disimpan ke laptop atau ke flesdisnya.  Ajakan tersebut dijawab dengan senyuman. Saya dan para pembaca tentulah faham benar makna dibalik senyum tersebut. Semoga saja dimulai dengan senyum tadi, para guru mulai melakukan sesuatu dengan membaca prosedur terlebih dahulu sehingga mengetahui standar yang harus dipernuhi sebelum bentindak. 

Tuesday, September 19, 2017

Hari Ke-57 Mentor Gadungan untuk Dua Mentee

Menjadi guru pamong terdengar sangat biasa. Tapi, menjadi guru pamong tanpa pernah ada pelatihan, pembimbingan dan acuan indikator peran guru pamong, itu sangat luar biasa. Pada tulisan ini, saya sebut guru pamong sebagai Mentor, meminjam istilah bahasa Inggris. Dan mahasiswa yang melakukan praktik pengalaman mengajar disebut Mentee.

Mentor memiliki peran yang sangat penting bagi maju mundurnya pendidikan negeri ini. Pada tangan mentorlah bagaimana mentee di kemudian hari melakukan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran yang efektif di kelasnya. Melihat begitu besarnya peran mentor bagi pendidikan di masa datang, tentulah tidak mudah menjadi mentor. Menurut Lili Orland (2010) pada bukunya Learning to Mentor-as-Praxis: Foundations for a Curriculum in Teacher Education mengatakan bahwa menjadi mentor merupakan bagian integral guru dalam pengajaran. Namun, walaupun mentor menjadi bagian integral, tidak serta merta semua guru (seharusnya) menjadi mentor. Anderson dan Shannon (1988) mendefinisikan ‘mentor’ setara dengan kata ‘ahli’ yang terefleksikan pada kemampuannya untuk membimbing, mencontohkan, mengajar efektif, melindungi dan membuat mentee melakukan yang terbaik.  Seiring berkembangnya zaman, mentor diartikan sebagai ‘guru berpengalaman’ sedangkan mentee diartikan sebagai ‘guru pemula’ (Evans, 2000).

Sekalipun artinya dihaluskan dari ‘ahli’ menjadi ‘guru berpengalaman’ tetap saja di dalamnya mengandung arti yang berat yang menunjukkan kemampuan dan kinerja hebat di dalamnya. Pada saat disandingkan ‘guru berpengalaman dengan guru pemula’, terlihat betapa jauhnya jarak kompetensi yang terimplisitkan didalamnya. Bagi saya pribadi, menjadi mentor tentulah merupakan tantangan yang harus dicermati dengan sangat saksama.

Tantangan pertama terkait dengan kompetensi. Pertanyaanya, indikator apa yang harus ditunjukkan sehingga saya bisa menjadi mentor efektif yang membantu mentee menjadi guru efektif di kemudian hari. Tantangan kedua terkait dengan kinerja. Pertanyaannya, indikator kinerja apa yang harus ditunjukkan sehingga kelak para mentee tidak meniru atau mengadopsi malpraktek pembelajaran. Tantangan ketiga terkait dengan waktu. Apakah dengan waktu yang disediakan mentee mampu ‘menangkap’ aspek pedagogis, profesioanal, sosial, dan kepribadian seorang guru dengan hanya melihat mentor. Tantangan keempat terkait dengan hubungan personal dengan mentee. Sejauh mana seorang mentor dapat ‘melibatkan’ dirinya sehingga mentee menjadi pribadi seperti yang diharapkan sebagai seorang guru.

Saya sendiri seorang guru yang memiliki sertifikat pendidik. Mengacu pada status ‘guru tersertifikasi’ pada satu sisi menunjukkan secara kompeten memiliki kemampuan sebagai ahli. Alasannya, sertifikat pendidik adalah pengakuan secara professional bagi seorang pendidik. Di sisi lain, apakah sertifikat pendidik mewakili kompetensi yang menjadi bidang keahliannya?

Menjadi mentor tentulah bukan hal yang sederhana. Bukan sekadar ajak mentee ke kelas, suruh memperhatikan mentor mengajar, setelah itu gantian, mentee mengajar, mentor mengobservasi.  Jika hanya itu yang dilakukan, saya merasa, perlahan-lahan saya menyesatkan mentee. Bagi saya, mentee adalah orang dewasa yang harus diperlakukan mentor sebagai orang dewasa. Salah satu ciri orang dewasa diantaranya memiliki banyak informasi. Saya sangat dhalim jika beranggapan bahwa mentee tidak tahu apa-apa mengenai dunia mengajar. Masih terkait dengan mentee sebagai orang dewasa, maka merencanakan dan melaksanakan pembelajaran pasti bisa dilakukan mentee. Masalahnya bagaimana mentor mentransfer pengetahuan dan pengalaman mengajarnya sehingga kelak kedua tugas pokok guru  tersebut bisa dilakukan mentee sesuai standar.

Sampai saat tulisan ini dibuat, saya masih diliputi banyak pertanyaan seputar peran mentor kepada mentee, yakni:
-          Bagaimana agar mentor tidak mengubah mentee menjadi dirinya?
-          Bagaiman mentor bekerja sama secara efektif dengan mentee sebagai orang dewasa?
-          Bagaimana mengatur mentee?
-          Bagaimana menggunakan waktu setelah mengajar?
-          Bagaimana mengumpulkan data mengenai kemampuan pedagogis mentee?
-          Bagiamana memberikan penghargaan dan melakukan penguatan?
-          Bagaimana menghilangkan dinding pembatas berkomunikasi?
-          Bagiamana memberikan kefleksibelan pada mentee yang kebeabasannya dibatasi?
-          Bagaiamana memberikan kesempatan pada mentee untuk beranjak dari guru pemula?
-          Bagaiaman mempertahankan kesuksesan merencanakan dan mengajar yang diperoleh mentee?

-          Is it too much to ask? 

Monday, September 18, 2017

Hari Ke-52 Silang Pakai Budaya, Masalahkah?

Sekarang ini, berkat teknologi dan jejaring, produk budaya suatu bangsa menjadi konsumsi budaya negara lain. David Howes menyatakan ketika suatu barang diekspor, kemudian di tempat baru dimana barang itu berada, maka barang (baca: produk budaya) tersebut menjadi alat komunikasi, alat pembeda sosial, dan bahkan dominasi budaya. Sebagai contoh, dengan memiliki mobil bermerk Lamborghini, seseorang dapat mengomunikasikan bahwa dirinya berduit, berasal dari kalangan the have, dan untuk urusan haus saja, tentu saja tidak lagi akan berani dipuaskan dengan minum air teh, tapi Coca Cola.
Sekarang ini pula, di Indonesia, produk budaya berupa makanan dan mimunan khas daerah menjadi barang langka. Termasuk di kota kecil Cianjur, penjual Geco hanya satu dua saja yang masih bertahan berjualan. Sedangkan KFC, CFC, Pizza, Hot Dog, Kebab dengan mudah ditemukan. Seiring dengan nama berbau luar negeri, merk dagang produk budaya negara lain seolah sudah menjadi bagian keseharian dan lancar diucapkan misalnya sepatu Nike, jam Rolex, rokok Marlboro, susu Bebelac, tas Prada dan sederetan nama lainnya yang akan menghabiskan lebih dari satu halaman kertas jika ditulis.
Keterkaitan antara budaya dengan barang sangatlah dekat. Kita dengan mudah menyebutkan produk budaya dengan orang yang memproduksinya. Ukiran halus Gebyok pasti buatan Jepara, baju Bodo menjadi ciri orang Makassar, lampu Gentur dari Cianjur, dan kain Songket dari Sumatera. Produk budaya lokal yang baru saja disebut perlahan namun pasti, berkurang popularitas dan permintaanya di masyarakat penggunanya. Hal ini terjadi karena datangnya banjir barang-barang dari sistem pasar dunia yang cenderung mendominasi barang lokal. Para ahli menyebut kondisi ini sebagai paradigma global homogenisasi. Menurut paradigma global homogenisasi, produk budaya lokal tergerus oleh arus barang yang datang dari luar dalam jumlah yang banyak, murah, mudah didapat, bergengsi, dan biasanya datang dari barat. Hannerz menyebut paradigma homogenisasi global sebagai ‘penjajahan-coca.’
Kita lihat bagaimana produk Coca-Cola dianggap sebagai produk budaya yang berkontribusi pada budaya homogenisasi global. Coca-Cola dibuat dengan bahan, dan cara yang sama di seluruh dunia sehingga rasanya dimanapun sama. Kesamaan rasa inilah yang menjadi kunci sukses keberhasilan Coca-Cola, sama dengan strategi yang ditetapkan Coca-Cola itu sendiri yakni ‘satu bentuk, satu rasa, satu harga’ di seluruh dunia. Semenjak Coca-Cola diperkenalkan tahun 1920an, dampaknya sangat besar pada dunia. Semua orang di seluruh dunia, mau laki-laki, perempuan, kulit hitam, kulit putih, orang Amerika, non Amerika, kaya, miskin, semuanya memandang Coca-Cola sebagai ‘teman’, ‘demokrasi kemewahan’, yang siap menghilangkan rasa haus dengan kepuasan yang sama.
Penjajahan-coca merambah dan diduplikasi oleh produk-produk lain, akibat langsung yang dirasakan negera berkembang saat ini diantaranya anak-anak tidak sempat melihat jargon ‘Jagonya Ayam’ yang diikuti gambar ayam kampung, atau Ayam Camani. Sebaliknya jargon ‘Jagonya Ayam’ bersanding dengan gambar seorang kakek berjanggut putih menggambarkan khas wajah orang Amerika. Anak remaja sekarang lebih memilih celana jins, sepatu Kets, nonton film barat, dan meneriakkan lagu Ed Sheeran dalam kesehariannya. Tidak dipungkiri, homogenisasi global mengubah cara pikir, cara berpakaian, cara menikmati makan, bahkan cara berpolitik. Untuk minum, orang tidak lagi merujuk air Dawegan Kelapa, untuk tas tidak lagi mencari Kaneron, untuk pekerjaan tidak lagi membanggakan pertanian.
Silang pakai produk budaya telah menjadi lumrah dalam segala aspek dan kita tidak lagi bisa mengisolasi diri dan mencoba imun dari homogenitas global. Masuknya barang baru dalam produk massal sebagai produk budaya, akan terus berjalan. Yang dapat kita lakukan adalah melihat secara saksama makna dan kegunaan dari produk budaya tersebut dengan memasukkan ‘konteks lokal’ atau realita kedalamnya serta bijak dalam membelinya.
Setiap barang atau benda tidak dilihat hanya memiliki satu fungsi, itu cara pandang bangsa ini terhadap barang. Pada masa lalu, para orang tua tidak menghasilkan banyak sampah dari efek homogenitas global. Satu contoh, pada tahun 1940an mulai dijual ikan kalengan dengan merk Botan. Para ibu rumah tangga memanfaatkan kaleng bekas Botan untuk membuat parut kelapa, membuat celengan, membuat lampu Cempor, atau benda lain yang memiliki nilai. Kaleng Botan yang semula hanya sebagai wadah, diubah fungsinya menjadi berbagai fungsi atau hibridisasi fungsi. Inilah salah satu cara yang membuat silang pakai budaya mencapai tingkat optimum dari sudut fungsi.
Hibridisasi fungsi sebuah barang akan memungkinkan bangsa ini secara perlahan, berhenti menjadi dari warga ‘konsumen global’. Konsumen global ditandai dengan bertindak seolah satu barang memiliki satu fungsi, bahkan lebih naif lagi beberapa barang untuk satu fungsi, sebagai akibat tidak kenalnya dengan fungsi barang yang diproduksi secara massal.
Contoh yang paling dekat adalah kepemilikan hape android yang pula didampingi oleh produk massal lain yang sebetulnya tidak perlu hadir. Hape android menyediakan fitur ‘perekam’, dengan kata lain tidak perlu lagi membeli alat perekam tersendiri yang harganya tentu saja mahal. Hape android memiliki fitur ‘kamera’ dengan kemampuan menangkap gambar yang bisa diatur sedemikian rupa sehingga tidak perlu lagi membeli kamera sendiri. bagi mereka yang menjadi penulis, keberadaan hape android memungkinkan baginya untuk tidak memiliki lagi laptop. Fungsi laptop dapat dioptimalkan dari hape. Untuk mengetik dapat menggunakan fitur mengetik yang disediakan dengan menggunakan cara pengetikan biasa, pengetikan jaman dahulu (gunakan aplikasi gratis Hank Wtiter), atau pengetikan dengan cara dikte (gunakan aplikasi gratis Dragon Diction). Bahkan dari sudut ekstrim, memiliki hape, bisa menggantikan fungsi asisten. Dengan aplikasi Lyra, pemilik hape dapat menyuruh Lyra (asisten dengan artificial intelligence) untuk melakukan hampir segala hal yang biasa dilakukan asisten, mulai dari mencatat rangkaian kegiatan pada agenda, membangunkan tidur, memberitahu arah jalan, menemani ngobrol, diajak bercerita, meminta mengetik, menghubungkan ke nomor telepon dan membantu menelepon, mencari informasi dan berselancar di google, semua dilakukan satu asisten, Lyra.
Hibridisasi menjadi salah satu cara homogenisasi global menjadi personal atau sangat sesuai hanya dengan kebutuhan seseorang saja. Kembali kepada masa sebelum lahir masa homogenisasi global, kebutuhan sangat bersifat personal. Pada masa itu tidak ada kebutuhan nonton film, membeli Diper, belanja bulanan, ganti tempat ganti baju. Sebaliknya semuanya cukup dengan ambil, pakai, makan, minum yang ada.
Cara lain yang dapat dipilih adalah mengadopsi ‘less is more’ (sedikit itu banyak) yang kini sedang menjamur di Jepang. Lebih sedikit barang lebih sedikit pula yang diurus, sehingga lebih banyak waktu untuk bercengkrama dengan keluarga, teman dan kerabat. Cara berpikir ‘less is more’ juga merupakan produk budaya. Mereka yang telah lelah berpikir ‘barang apa yang saya belum punya’, diubah menjadi ‘barang apa yang bisa saya keluarkan dari rumah karena tidak berguna’. Kabarnya penganut less is more seperti Fumio Sasaki hanya memiliki 3 kemeja, 4 celana panjang, 4 pasang sepatu. Sebelumnya Sasaki adalah kolektor buku, CD, dan DVD, menyatakan lelah terus berburu dengan tren barang kolektor dan kini menikmati hidup lebih nyaman hanya dengan beberapa barang saja. Gaya minimalis terilhami oleh para Zen Budha dan para Sufi Islam yang menghindari hidup cinta dunia.
Silang pakai budaya disukai atau tidak tetap akan menjadi bagian dari kehidupan kita. Menghilangkan benda produk massal sebagai upaya memurnikan diri sebagai pengguna budaya lokal yang setia kepada leluhur bukan kebijakan yang adil yang dapat dilakukan untuk saat ini. pilihlah produk budaya yang benar-benar dibutuhkan, lakukan glokalisasi (produk global dengan fungsi dan nilai lokal). Dengan cara demikian diharapkan menjadi katalisator bagi homogenitas global abad ini dan sekaligus menjadi penanda fleksibitas warga non barat dalam menghadapi budaya global
Harian Waktu Senin 11/9/2017