Pages

Showing posts with label LINE. Show all posts
Showing posts with label LINE. Show all posts

Thursday, September 21, 2017

Hari Ke-59 Haduh Capek Deh, Kebanyakan Notifikasi

Hari libur memang menyenangkan. Kita memiliki banyak waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Salah satunya adalah buka-buka hape. Hapus-hapus gambar yang diangap hanya menghabiskan memori, buang-buang file yang sudah tidak dibutuhkan, pilih-pilih video yang mau disimpan, dan sortir foto-foto sendiri yang kira-kira layak bertahan di memori.

Membuka hape (android) menjadi masalah bagi saya. Dalam waktu kurang dari 10 jam, pada saat saya tidur, hape offline, pada saat bangun, di-online kan berbondong-bondong masuk segala informasi yang tertahan pada saat offline. Ratusan angka di WA, ratusan juga di LINE, masih ratusan di Telegram, puluhan pada email (saya memiliki 4 email, dan semuanya aktif), puluhan dari satu email, ketika dibuka mode combined, email baru … banyak  juga (untunglah notifikasi Facebook tidak diizinkan muncul pada email). Syukurlah BBM ditutup, tapi masih ada, Facebook memberikan puluhan notifikasi. Yang lain, Duolingo memberi 2 notifikasi, Watpadd mengabarkan ada 3 buku baru, WeChat ada 2 notifikasi. Flipboard memberikan juga notifikasi.  Lyra ada satu.

Saya mulai membuka WA, saya tidak tahu ada pada berapa grup nama saya diikutkan. Saya menemukan kelucuan: grupnya beda, orangnya itu-itu juga, dan ini berakhir dengan berita salin-rekat ke sana sini. Satu orang mengirim ucapan selamat tahun baru pada 5 grup yang berbeda dengan gambar yang sama, bedanya waktu pengiriman berbeda detik.  Selanjutnya ada kabar duka yang diunggah seseorang karena saudaranya meninggal dunia, dijawab dengan ungkapan bela sungkawa. Saya juga melihat hal menarik, ungkapan belasungkawa yang pertama, di kopi (salin) oleh hampir semua anggota grup maka berjejeranlah puluhan salinan ungkapan belasungkawa tertulis, padahal keluarga orang yang berbela sungkawanya sendiri tidak ada pada grup.

Pada grup lainnya ada tulisan ‘copas dari kamar sebelah’ isinya tentang muslim dianiaya oleh para Budha di Myanmar dan ajakan jangan mengunjungi Borobudur. Copas tadi beredar pula di group yang lain dikirim oleh yang berbeda, isinya persis.

WA paling merepotkan, grupnya terlalu banyak, membingungkan harus membuka yang mana dulu. Karena terlalu banyak, malah jadi tidak tahu mana berita yang penting, mana respons, mana yang harus saya jawab. Karena bingung, akhirnya hanya dibuka, tidak dibaca satupun yang penting angka 210 pada notifikasi hilang (dipikir-pikir, apa semalam mereka tidak tidur ya). Grup yang lain bernasib sama, saya buka, pindah ke grup lain, pindah lagi ke grup lain, terus, sampai semua notifikasi hijau hilang.

Pindah ke Telegram, eh ternyata ada copas tipe kamar sebelah juga. Pada Telegram saya diikutkan pada beberapa grup, dengan konten berbeda, ada grup yang khusus pendidikan tapi sesekali nyelip copas, ada yang khusus mata pelajaran tapi nasibnya sama ‘sering nyelip copas’, ada grup teman waktu SMA yang isinya ‘kebanyakan copas’. Saya tidak membaca copas-copas, selain tulisannya panjang-panjang, juga sepertinya informasinya bukan yang saya sedang saya butuhkan saat ini. Saya meminta maaf kepada para copaser, beritanya tidak saya baca, tidak saya sebar walaupun dibawahnya ada tulisan ‘80% orang tidak menyebarkan ini, tugas anda untuk menyebarkannya’.
Pada Email, saya harus menyalahkan diri sendiri karena subscribe (berlangganan) beberapa informasi yang dikaitkan ke email untuk update berita baru, misalya Jurnal Taylor and Frances, Linkedin, Globalethics, akibatnya setiap ada kabar ada link dikirim via email. Yang hebat, walaupun saya tidak lagi memakai hape Asus, setiap ada kabar update fitur baru gratisan Asus selalu masuk, padahal sudah diminta end subscribe, masih saja bocor.

Di WeChat, teman-teman dari Tiongkok mengirim 2 video: That is why eating healthy food, dan video stop sugary food and drinks.  

Saya buka Flipboard, pada berita yang saya follow ada banyak berita baru (saya hanya follow 3 saja, takut tidak sempat bacanya). Pada berita Pendidikan ada tulisan “No, You are not Visualized Student”. Saya baca, katanya bahwa siswa itu tidak benar dikelompokkan kinestetik, audio, visual dll, yang benar adalah guru harus mengajar dengan berbagai mode (cara) supaya setiap siswa aktif belajar. berita lainnya “3 weeks into motherhood, Serena Williams  was  complelled to write a letter of gratitude to her mama”. Ruapanya sang cewe perkasa tersebut baru ngeuh kalau jadi lbu lebih berat dari mengalahkan juara tenis kelas dunia. Saya tidak membuka semuanya.

Wattpad meminta ‘Continue reading this story, tap to read The Famoux” diikuti dengan kabar ada buku baru lanjutan The Last She, dan Scary Stories to Read at Night. Saya kadang berterimakasih pada Wattpad. Dia selalu mengingatkan untuk membaca buku ketika saya luput tidak berkunjung (offline padahal) selama 3 hari berturut-turut. Saya sedang membaca The Famoux, kisah masa depan setelah tidak ada matahari yang dibuat anak SMA.

Yang suka mengingatkan juga Duolingo, dia akan meminta berkunjung ke Duolingo kalau kita tidak belajar selama seminggu.


Saya tidak sempat membuka dan membuat semua notifikasi hilang, sudah 3 jam habis. Saya belum apa-apa. Jangan-jangan, kalau semua dibuka, akan habis setengah hari, apalagi kalau membuka Facebook. Saya harus menghentikan mengurusi notifikasi. Tidak rega rasanya kalau hari libur dihabiskan hanya untuk menghapus notifikasi saja. 

Sunday, July 23, 2017

Hari Ke-7

Genap sudah, jatuh pada hari ini saya seminggu menjadi wali kelas 12 MIPA 6. Saya dapat mengatakan bahwa niat untuk mengajak peserta didik menjadi orang berbeda (to be different), tersampaikan dan tindakan untuk menjadi orang berbeda sedang dalam proses.
Sesungguhnya hari ini libur secara akademik. Sekolah berakhir pada hari Jumat. Namun sebagai wali kelas, saya tetap melakukan komunikasi dengan siswa bimbingan saya. Nama Ikrar melintas dalam benak. Apakah dia baik-baik saja? Hari Jum’at saya tidak bertemu dengannya. Melalui sms saya berkomunikasi dan kemudian saya merasa lega, dia mengabarkan bahwa dia dalam keadaan segar bugar.

Wadah komunikasi yang disepakati kelas adalah LINE. Bergabung dengan dunia LINE yang didalamnya dihuni orang hebat yang berada di kelas 12 MIPA 6, menarik. Mereka anak-anak yang peduli dan tanggap terhadap kejadian di sekitarnya. Ini pertanda baik. Selama ini ada kekhawatiran yang berlebihan bahwa anak-anak zaman sekarang kurang peduli dengan apa yang terjadi dengan lingkungannya. Hal ini tidak bisa digeneralisir (baca: disamaratakan). Para siswa, pada LINE, mereka sedang membicarakan tentang kebakaran yang asapnya terlihat membumbung tinggi. Salah seorang siswa yang tinggalnya agak jauh dari TKP namun melihat kepulan asapnya melaporkan hal tersebut. Teman-temannya merespon kejadian dengan harapan dan do’a semoga tidak ada korban dan apinya tidak merembet ke gedung lainnya.

Percakapan mereka tentang kebakaran, mengundang perhatian saya. Alex Spiegel (2011) mengatakan bahwa anggapan dan ekspektasi (harapan) guru mempengaruhi bagaimana siswanya bertindak dan bertingkah laku. Saya beranggapan semua siswa saya baik, bertanggung jawab dan peduli.  Kepercayaan itu membuat saya berbicara dan bersikap dengan cara yang berbeda. Efeknya, mereka menunjukkan sikap seperti yang saya asumsikan. Melalui LINE saya mencoba mengenal dan memahami keunikan mereka masing-masing. Saya yakin bahwa mereka bersikap mengikuti bagaimana saya bersikap terhadap mereka.

Saya juga menemukan bahwa siswa saya adalah anak-anak yang antusias untuk mengenal hal baru. Seorang siswa mengunggah tawaran seminar di IPB pada hari Sabtu. Mulanya mereka merasa ragu dan khawatir jika nanti pada saat seminar diberi pertanyaan atau mungkin ada tes. Saya tersenyum ketika membaca kekhawatiran mereka. Jelas terlihat bahwa mereka belum memiliki pengalaman mengikuti kegiatan seminar, lokakarya, simposium atau kegiatan pertemuan yang membahas satu topik yang disajikan oleh dosen (penyaji). Saya membantu menenangkan dengan menuliskan bahwa pada seminar, peserta biasanya datang, duduk, menyimak, dan mendapatkan sertifikat.

Dalam hati saya menambahkan, ‘Tentu saja peserta seminar yang baik bukan sekadar datang dan duduk. Dia harus berinteraksi dengan penyaji agar muncul pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan baru yang menawarkan solusi atau alternatif bagi masalah yang sedang dijadikan isu.’ Saya tidak terlalu memikirkan apakah siswa saya paham hal ini atau tidak. Saya tawarkan bahwa jika memerlukan izin dan surat resmi untuk mengikuti seminar, saya bisa membantu. Dengan memberikan surat izin, saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk membuka kesempatan dan peluang baru, menemukan teman baru, dan melihat bagaimana remaja lain seusianya bertindak. Saya berharap dengan mengikuti seminar mereka lebih kaya secara pengalaman, lebih luas secara wawasan, dan lebih terdidik secara intelektual. Sering melihat dunia luar sangat penting untuk anak-anak yang sebentar lagi akan melanjutkan hidup di dunia perkuliahan.

Hal lain yang menyenangkan saya adalah mereka berusaha menggunakan Bahasa Inggris untuk bercakap pada LINE. Fenomena ini saya apresiasi tinggi-tinggi. Saya melihat bahwa mereka berusaha menunjukkan yang terbaik yang mereka mampu. Sebuah usaha yang luar biasa. Saya yakin, jika mereka terus menerus berusaha menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan di LINE, perlahan namun pasti, kemampuan Bahasa Inggris mereka akan meningkat.

Yang membahagiakan adalah mereka satu persatu mulai berbagi link blog. Artinya mereka sudah mulai menulis untuk ‘Seri 365.’ Saya merasa trenyuh ketika ada seorang siswa yang mengaku bahwa dirinya tidak bisa membuat blog, namun dia bekerja keras untuk dapat membuatnya sendiri. Saya sangat terkejut, siswa yang mengaku tidak bisa membuat blog tadi kurang lebih dalam 3 jam telah berbagi link blog. Saya harus mengakui temuan Tom Stafford (2011) pada bukunya Teaching Visual Literacy yang menyebutkan bahwa Generasi Z yang besar pada tahun 2000an mereka adalah warga negara digital (digital native). Mereka memiliki kemampuan sosial, teknologi, dan teknologi yang berbeda dengan saya, yang lahir jauh sebelum jaman milenial.

Satu persatu link blog bermunculan di LINE. Saya menikmati sajian tulisan yang dibuat oleh siswa saya dengan ucap syukur. Mereka benar-benar sedang berada pada alur untuk menjadi orang yang berbeda. Wujud syukur saya, saya komunikasikan kepada siswa saya dengan mengunggah komentar pada setiap tulisan yang mereka unggah.  

Menjadi wali kelas memang anugerah besar yang luar biasa. Saya telah menemukan banyak hal dan pelajaran dari pertemuan selama satu minggu dengan siswa-siswa saya.