Pages

Showing posts with label caption. Show all posts
Showing posts with label caption. Show all posts

Thursday, September 10, 2020

Teaching through a pandemic

Merancang pembelajaran pada masa pandemi memang tidak sederhana. Walaupun banyak guru yang tidak menghadapi kesulitan dalam menggunakan teknologi untuk mendukung keterlaksanaan pengajaran, masih terdapat hal yang harus dilatih lebih sering, yakni perancangan pembelajaran. 
Hal ini dibutuhkan karena telah ada perubahan yang meminta guru untuk meninjau ulang bagaimana merancang RPP.  Semula, perancangan memerlukan terpenuhinya 13 elemen dalam aspek rancangan tulis,  kini disederhanakan menjadi tiga elemen saja. Tidak banyaknya elemen yang harus dimasukkan ada kaitannya dengan efektifitas waktu pembuatan RPP. Satu KD dapat dikembangkan menjadi satu RPP saja. Sangat praktis. 

Sesuai pesan Mendikbud 'merdeka belajar" artinya guru dan siswa sama-sama belajar. Guru belajar menggunakan mind set baru dalam hal menyusun RPP. Siswa belajar menerima rancangan yang berbeda dalam hal sajian pembelajaran, apalagi dalam masa pandemi seperti sekarang ini. RPP SMA menjadi lebih efisien dalam hal penyusunan karena hanya menggunakan tiga elemen saja yakni tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran dan penilaian. Namun RPP disederhanakan bukan berarti secara kualitas, mengajar menjadi turun tingkatannya. 

RPP yang disederhanakan atau RPP tatap muka dapat menjadi acuan pada saat menyusun ulang RPP daring dan luring. Sebagai contoh, pada saat RPP tatap muka guru bertujuan agar siswanya menguasai ekspresi memberikan tawaran. Maka ketika diubah menjadi RPP daring atau luring, tetap saja tujuannya adalah membantu siswa menguasai ekspresi memberikan tawaran.  Bedanya, pada luring ataupun daring pada langkah-langkah pembelajaran ada bagian yang ditambahkan atau dikurangi. 

Masalah kemudian muncul ketika KD disederhanakan sesuai kondisi pandemi. Tafsiran terhadap pengggunaan KD disederhanakan ini pun beragam. Ada yang berpendapat bahwa seluruh KD tersebut harus selesai sampai Desember.  Ada pula yang  berpendapat KD  diperuntukkan satu tahun ajaran. Akibatnya muncul kebingungan.  KD sesedikit itu untuk satu tahun. Atau sebaliknya,  KD sebanyak itu harus selesai Desember.  
Sesuai namanya KD kondisi khusus. Artinya berlaku selama kondisi khusus. Jika kondisi khusus dicabut pemerintah pada bulan Desember 2020,  KD yang selesai sampai Desember itu yang terlaksana
Tidak berarti harus terburu-buru menyelesaikan semua KD. Sebaliknya,  jika kondisi darurat belum dicabut sampai Juni 2021 KD tersebut dapat tetap dipakai. Bukankah secara materi tidak pernah habis? 

Perlu ditinjau ulang ketika menyebutkan bahwa KD ini telah habis materinya. Sebagai contoh, kita lihat KD yang menuntut para siswa menguasai caption. Saat ini caption banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari para siswa, salah satunya adalah digunakan di Instagram. KD yang dituntut dikuasai oleh siswa adalah caption untuk koran. Tentu penguasaan KD ini murni untuk sekadar pengetahuan saja. Siswa bukan jurnalis yang menulis di koran. Penguasaan caption untuk koran menjadi pintu untuk bisa menguasai caption yang realistis yang nanti dipakai dalam kehidupannya. Ketika melihat KD caption hanya sebatas membuat kalimat berdasarkan gambar, tentu saja materinya sempit dan tidak banyak memberi manfaat. Namun ketika KD ini dilihat sebagai ajang bagi para siswa untuk mengisi feed IG secara santun. Ini menjadi wahana yang tepat untuk melahirkan para pengisi IG yang terdidik. Selama ini, mengisi IG, menulis di FB atau media sosial lainnya tidak pernah diajarkan. Para siswa menulis berdasarkan 'kira-kira' saja. Hasilnya? Lahir ujaran kebencian.
So, RPP kondisi khusus disarankan diperlakukan secara khusus pula agar dapat membantu siswa untuk tetap literat walau dalam keadaan darurat. 

Tuesday, August 8, 2017

Hari Ke-17

Pembahasan tentang Pembawa Mayat baru bisa dilanjutkan lagi pada kegiatan literasi pagi ini. Saya menyoroti kalimat ‘Dalam kepalanya jalan lebih panjang dari doa yang tak putus.’ 

Kalimat diatas menyuguhkan dua hal, doa dan jalan. Mengapa doa bisa lebih panjang dari jalan yang tak putus. Saya jelaskan kepada siswa bahwa ini pemikiran terbalik. Seharusnya doa lebih panjang dari jalan yang tak putus. Penjelasannya seperti berikut ini. Jalan, sepanjang apapun, ada akhirnya. Artinya, jalan yang panjang, berliku, seolah tiada akhir, sesungguhnya ada ujungnya. Sedangkan doa, adalah jalan non fisik yang dibuat oleh manusia untuk menghantarkan keinginannya kepada Tuhannya. Jalan untuk sampai pada ujung doa, atau terkabul, tidak ada yang mengetahuinya.

Jika seseorang ‘Dalam kepalanya jalan lebih panjang dari doa yang tak putus’ menandakan bahwa orang ini sangat putus asa. Si suami memanggul mayat dan menyusuri jalan fisik. Kita melihatnya dia sedang menyusuri jalan sambil memanggul mayat. Sesungguhnya dalam pikiran si suami,  dia sedang menyusuri jalan non fisik, dia sedang berjalan besama istrinya menuju ke kehidupan yang baru.
Kesimpulannya, doa adalah jalan. Setiap orang harus berani menempuhnya walaupun tidak pernah tahu dimana ujung jalannya.

Hari ini, saya bertemu lagi dua kali dengan siswa 12 MIPA 6. Pertama ketika literasi dan kedua ketika mengajar, selama 90 menit. Pada pertemuan hari ini saya membahas ‘Caption.’  Saya bertanya kepada siswa apa definisi Caption, mereka menjawab berdasarkan pengalaman dan pengetahuan mereka. Misalnya caption adalah ungkapan perasaan, mungkin didasarkan pada caption yang dibuat pada Instagram. Saya merasa sedih. Definisi caption ada pada buku paket yang mereka bawa sejak 2 minggu lalu. Saya menduga, jangan-jangan mereka hanya membawa-bawa bukunya ke rumah-ke sekolah-ke rumah- ke sekolah tanpa dibaca. 

Saya meminta siswa agar membuka halaman 17 dan membaca baris ke satu agar mereka dapat menemukan definisi caption. Pada buku tertulis ‘Caption, also known as cutline, is a text below an image.’ Definisi yang sangat sederhana. Saya bertanya kepada siswa,’ what is another name for caption? (apa istilah lain untuk caption?) Mereka terlihat bingung. Jangan-jangan yang dibaca baru saja, tidak mereka pahami. Padahal saya ingin mereka serempak menjawab ‘cutline.’ Tapi itu berakhir pada keinginan saja. saya kira, saya berkeinginan terlalu tinggi tanpa mengajak siswa memahami apa padanan kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia. Saya trjemahkan kalimat ke satu tersebut dan saya ulang pertanyaan tadi. Dan syukurlah mereka bisa menjawab.

Hal di atas menyiratkan bahwa kosa kata siswa belum kaya. Saya harus memikirkan cara bagaimana agar mereka memiliki banyak kosa kata. Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Saya berpikiran, ke depan, ketika mengajar, saya akan mengulang-ulang kata yang saya asumsikan baru, dan siswa mencoba menggunakannya dalam kalimat. Semoga dengan cara itu berhasil. Selama ini mencatat kosa kata baru pada buku catatan, tidak berhasil. Kosa kata hanya jadi catatan saja, tidak mereka ingat.

Saya memberikan koran The Jakarta Post agar para siswa bisa membedakan caption dengan cutline. Saya sangat bahagia melihat siswa begitu semangat menemukan caption. Mereka dapat membedakan caption dan cutline dengan mudah. tidak terasa waktu sudah berakhir. Saya merencakan minggu depan akan mengajak siswa membuat caption sendiri. Fotonya mereka ambil sendiri dari sekitar sekolah. Seperti apa hasilnya, kita tunggu minggu depan