Pages

Showing posts with label guru. Show all posts
Showing posts with label guru. Show all posts

Friday, March 3, 2017

Fairfield Marriott bagiku

Marriot, nama yang rasanya pernah terdengar. Entah dimana, kapan, dan acara apa. Tapi pikiranku mengarahkan ke bom. Peristiwa pengeboman. Apa iya pernah ada kaitan antara pengeboman dengan Marriott.

Aku kali ini bersentuhan dengan nama Marriott. JW Marriott? Semula, Marriott  saja yang menjadi patokan. Oleh karenanya ketika turun pesawat ditawari Blue Bird diantar, aku sebut kata Marriott serta merta oh sekian ribu kata mereka kalau mau diantar ke nama Marriott, hotel.

Perjalanan menuju Marriott dalam pengalaman pertama menginjak Surabaya disuguhi pemandangan jalan macet karena akan menyambut kehadiran Wapres yang akan meresmikan salah satu Universitas berNU. Jalan dibuat "steril", dan jalan orang kebanyakan dibuat sesak. Di sisi kiri kanan jalan dihiasi warung,-warung, kios-kios , dan toko-toko, suasana yang sama ketika masuk ke kota besar untuk pertama kali seperti Medan.

Menelusuri sebuah kota untuk pertama kali, selalu memberikan kesan yang sama yakni tipikal kota sedang berkembang dimana gedung2 baru ramping pencakar langit tumbuh menjamur sedangkan di sekitarnya bangunan tua hampir reyot bertahan untuk berdiri. Kesenjangan yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin nyata terlihat nyata dari komposisi gedung ini.

Sambil menikmati Surabaya dengan bonus udara siangnya yang panas, sopir berbelok ke kiri. Terlihat gerbang nan megah, tertulis JW Marriott. Aku tertegun, untuk pelatihan guru, gerbangnya setinggi ini, gedungnya semegah ini. Ini pasti salah. Dan memang salah. Ketika kulihat di undangan, bukan JW Marriott tapi Fairfield Marriott.

Pelatihan pedagogik profesional guru biasanya pada hotel, namun tidak di hotel seperti JW Marriott.  Biasanya di tempat pelatihan2 yang disediakan oleh LPMP, dengan kamar sederhana, makan sederhana, dan bangunan sederhana. Bagi guru, tempat sangat sederhana sekalipun (tidak ada air untuk mandi, tidak ada nasi karena kehabisan) tidak pernah dipermasalahkan. Kemuliaan guru membuatnya menerima tanpa banyak keluhan, dianggap sebagai bagian dari penerapan pendidikan karakter.

Kembali ke Marriott, setelah yakin bahwa itu bukan Marriott yang dicari, supir Blue Bird putar balik stir dan menuju Marriott untuk guru. Marriott yang masih sekitar enam kilo meter lagi jauhnya. Hotel baru dibangun dengan kamar model minimalis, dan makan minimalis (banyak guru tidak kebagian makan karena keburu habis, padahal makannya ala porsi guru yang ingin terlihat langsing dengan mengurangi karbo).

Tiga malam di Fairfield Marriott, memberikan kesan mendalam. Kegiatan guru yang menuntut kinerja overtime (mulai pukul 7.30 selesai pukul 12 malam) memungkinkan untuk berkata "aku tidak ingat bagaimana rasanya tidur di Marriott, tidak pula ingat apakah sempat tidur.

Bagiku sendiri, Marriott mengenalkan pada guru dari wilayah timur Indonesia: Kupang, Bali, Malang. Pertemuan yang mengesankan karena bertemu guru2 pekerja keras yang siap memajukan anak bangsa.

Marriott menjadi tambahan spot tempat yang pernah aku kunjungi. Seperti halnya tempat lain yang pernah aku kunjungi, Marriott meninggalkan kesan tersendiri.



Sunday, February 12, 2017

Wabah SKP (#1)

Aku mau memberitahukan sebuah rahasia besar yang sekarang sedang dialami para guru SMA dan SMK. Para guru itu, mereka semua sedang sakit kepala, hilang kesabaran, menyesal ada teknologi, dan satu lagi, sebel karena tidak berdaya pada saat dipindahtangankan ke Provinsi. Aku bilang semua, ya semuanya, termasuk Kepala Sekolah. Kepala sekolah juga guru. Guru yang mendapatkan tugas tambahan jadi menejer sekolah.

Mulai tahun 2017, para guru SMA/SMK katanya berdasarkan peraturan yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan pasti ini didukung Presiden, guru-guru dikelola oleh Provinsi. Akibatnya, segala hal berkaitan dengan guru SMA/SMK harus diurusi dan mengurusi ke Provinsi. Katanya ada UPTD, tapi para guru itu belum pernah bertemu UPTD. Apakah UPTD itu tinggalnya dekat-dekat sekolah atau punya rumah sendiri yang alamatnya bisa di cari pakai Google Map atau Waze. Guru-guru itu juga belum kenal, UPTD bisa memberikan pertolongan apa saja kepada mereka. Jadinya, sekarang guru-guru lebih banyak ngerumpi di kantor ruang guru. Sekedar melepaskan kebingungan berbagi kekhawatiran kepada guru-guru lainnya yang juga sama-sama bingung.

Sekitar tiga minggu lalu, para guru disuguhi briefing. Briefing guru, ya tidak sama dengan briefing-briefing yang kita kenal. Sesuai namanya, kita tahu briefing itu penjelasan singkat yang lebih panjang sedikit dari memo. Nah briefing guru yang ini, lama. Mulai dari jam 8 sampai jam 10 lebib 23 menit. Tapi tidak apa-apa, itu kan briefing guru. Guru itu penentu masa depan bangsa. Sangat dipahami jika briefingnya lama, karena mereka mengurusi masa depan bangsa ini.

Briefing untuk para guru menyoal SKP online. Pasti tidak tahu kan apa SKP. Aku juga belum tahu persis. Hanya saja, katanya SKP itu sangat menentukan hidup matinya dan maju mundurnya karir guru. Kita anggap saja SKP adalah tamu penting yang harus dilayani guru selain dia harus tetap melayani siswanya. Guru itu memang pelayan, yaitu melayani masyarakat dengan keprofesiannya.

Tamu bernama SKP ini tentu saja sebelumnya pernah bertemu para guru. Hanya saja dia memakai wajah yang beda. Kini dia datang berkacamata kekinian, berbasis teknologi, namanya online atau kalau kata menteri pendidikan yang lalu, Anies Baswedan, dalam jaringan, singakatannya daring. Bertemu tamu lawas yang tidak jadi silaturahmi dan melahirkan pertemanan, memang jadi tidak enak. Para guru tidak enak jika didatangi SKP. SKP juga tidak enak jika bertamu kepada guru. Keduanya tidak pernah akur, tapi dipaksa saling kenal dan belajar dari satu sama lain.

Briefing soal tamu bernama SKP membuat guru meninggalkan ruang briefing dengan wajah yang kurang enak. Akibatnya ada sisa waktu buat ngajar sekitar 40 menit, tidak dipakai ngajar, karena pikirannya masih tertambat pada tamu, si SKP itu. Para guru membayangkan hal-hal mengerikan akan terjadi ketika mereka harus ada kontak  virtual dengan SKP. Bayangan penderitaan ketika diberi tamu bernama GP masih membekas. Kontak virtual dengan GP memberikan kenangan getir. Sama getirnya dengan kenangan kontak virtual dengan teman sebelumnya yang bernama Dapodik.

Para guru menghela nafas panjang. Pikirannya tertuju pada jaringan internet yang dibutuhkan untuk silaturahmi dengan SKP. Pikiran lainnya, waktu. Terbayang jelas, pastilah lama untuk mengunggah satu data, apalagi jika ada ratusan data yang menunggu diunggah. Servernya berputar-putar dan ujung-ujungnya muncul "html error" atau notifikasi lain yang memberitahukan bahwa silaturahmi tidak lancar.

Helaan nafas itu semakin panjang ketika dari briefing itu disebutkan bahwa SKP harus selesai sebelum tanggal 15 dan SKP harus dijiarahi setiap bulan!!!

Friday, January 27, 2017

Full Day School Minggu Ke-3

Sekolah yang baru tahun ini melaksanakan Full Day School (FDS) merasakan dan menemukan banyak hal baru. Hal ini dirasakan oleh warga sekolah dimana saya bekerja.

Bagi siswa FDS artinya uang jajan naik, jam pulang naik, jam disekolah naik, kuantitas pertemuan dengan guru naik, dan hampir semuanya naik. Seperti diuraikan satu persatu di bawah ini.

Uang jajan naik karena masa yang dihabiskan di sekolah seharian penuh artinya mereka perlu isi perut yang cukup.  Untuk anak usia belasan tahun yang on terus, ga ada matinya, non stop bakar kalori,  seolah tidak pernah ada capeknya,   mereka menyeimbangkannya dengan asupan makan minum yang bisa memenuhi semua kebutuhan tersebut.

Mungkin, sebagian besar, untuk mengejar masuk pukul 6.30, tidak sempat makan, karena berangkat dari rumah pukul 6.15. Dan, hanya sedikit siswa yang bersedia membawa bekal dari rumah. Akibatnya, urusan energi, urusan kantin, dan jajan di kantin adalah solusi.
Jajan 3 kali dalam sehari, membutuhkan  jumlah uang yang berbeda dengan yang jajan hanya 2 atau 1 kali saja.
Dengan pulang pukul 4 sore, dan ditambah eskul berakhir pukul 5.30, perlu uang jajan yang kuantitasnya naik dibanding sebelumnya.
Apakah siswa bahagia dengan kondisi ini? Dari obrolan dengan siswa, pulang sore tidak apa-apa selama perut penuh. Yang apa-apa jika ada tugas dari guru secara penuh.

Efek kedua dari FDS adalah pulang lebih sore. Dengan jumlah tatap muka 10 Jam perhari, paling cepat pulang pukul 4 sore. Pukul 4 sore itu belnya. Ditambah siap-siap, ditambah ngerumpi dulu, jadi pulangnya pukul 4.30an dari sekolah. Tambah nunggu angkot, tambah di dalam perjalanan, macet-macet sedikit, pukul 5 atau 6 sore baru sampai di rumah. Namun bagi siswa yang rumahnya lebih dari 25 km dari sekolah, akan sampai rumah menjelang malam.
Bagi siswa yang ikut Bimbel, urusan pulang, beda lagi ceritanya.

Hal ketiga, kuantitas pertemuan dengan guru menjadi lebih intens. Dengan adanya hari sekolah hanya 5 hari, maka papasan dengan guru jadi lebih sering. Sering papasan dengan guru tidak bermakna jadi kenal dengan guru. Hal biasa, tidak negur guru yang tidak ngajar di kelasnya, mungkin karena dianggap tidak ada kebutuhan untuk itu.
Kemudian, karena hari belajar hanya 5 hari, maka sehari jam pelajaran ada 10. Artinya dalam sehari bertemu paling tidak dengan 5 guru yang berbeda. Pertemuan yang banyak, sejatinya membuat siswa lebih cepat dewasa secara akademik, namun tidak sesederhana itu.

Terakhir, bukan tak penting karena disimpan di akhir, adalah naiknya kebutuhan guru akan suplai makanan.
Terdengar sedikit mengada-ada. Tapi itulah adanya.
Dengan istirahat 2 kali, pada pukul 10, guru mencari sekedar ganjal perut sebelum makan siang.
Istirahat pukul 12, makan siang di sekolah. Makan siang sesungguhnya biasa saja. Namun agak sedikit tidak biasa karena mulai pukul 8 guru-guru sudah sibuk pesan makanan via WA. Sehingga nanti pukul 12, makanan terhidang di meja guru. Fungsi meja kerja menjadi meja makan untuk sesaat, demi tersedianya energi sampai pukul 4 sore nanti.

FDS menjadi akun baru bagi sekolah dimana saya bekerja. Semoga upaya pemerintah untuk menyediakan week end untuk keluarga benar-benar terwujud. Tidak menjadi sebaliknya, hari Sabtu pun siswa seharian nongkrong di sekolah, karena menghindari menghabiskan waktu 2 hari setiap week end dengan orangtua. Yang berarti kelamaan.