Pages

Sunday, December 17, 2017

Guru

 Guru adalah orang yang luar biasa sekaligus mendapat tempat istimewa. Sebutan Guru menunjukkan tingginya derajat kedudukan dan keilmuan yang dimilikinya. Dalam pandangan global, sebagai contoh, Guru menurut kamus Merriam-Webster termasuk kedalam kata benda yang mengacu pada: 1) a religious teacher and spiritual guide in Hinduism (pembimbing agama atau pembimbing spiritual dalam agama Hindu), 2) a teacher or guide that you trust (pendidik atau pembimbing yang dipercayai), 3) a person who has a lot of experience in or knowledge about a particular subject (orang yang memiliki banyak pengalaman di dalam/mengenai sebuah keilmulan, 4) a person with knowledge or expertise (orang yang memiliki ilmu atau ahli pada ilmu tertentu).

Definisi Guru yang pertama mengisyaratkan bahwa Guru bukanlah orang biasa-biasa saja. Dia memiliki pengetahuan yang melebihi orang kebanyakan mengenai agama dan spritualisme. Pada definisi ini dikhususkan pada agama Hindu, hal ini disebabkan karena kata Guru berasal dari Bahasa Sansakerta yang kemudian digunakan dalam konteks keagamaan. Dalam agama Hindu, guru memiliki arti yang sangat dalam yaitu one who dispels the darkeness and ignorance atau orang yang membuka tabir kegelapan dan menyingkirkan sikap tidak acuh (Thirumaleshwar, 2015). Sekarang ini, kata Guru diadopsi untuk merujuk pada orang yang membimbing pada cahaya kebenaran dan mengajarkan kebaikan.

Selanjutnya, pada definisi kedua, Guru melebihi dari sekedar manusia. Acuan kata Guru adalah kata benda, oleh karenanya bisa saja Guru adalah gunung, sungai, pohon, atau benda lainnya. Sering kita dengar, ‘berguru kepada gunung, berguru ke padang datar, berguru pada alam. Ketiga contoh tadi menunjukkan bahwa Guru tidak selalu harus manusia. Pada dunia pewayangan, dikisahkan bahwa seorang Raja atau siapa saja yang sedang gundah gulana, menghadapi masalah berat, dia akan pergi naik gunung, dan tidak melakukan kontak dengan dunia luar selama beberapa tahun, kemudian turun gunung, jadilah dia Raja atau seseorang yang adil dan bijaksana. Hal ini menunjukkan bahwa gunung merupakan tempat yang mampu mengubah sikap, pengetahuan dan keterampilan seseorang.

Definisi ketiga, guru adalah orang yang berpengalaman dan berpengetahuan banyak pada ilmu tertentu. Dengan kata lain, guru adalah orang yang mumpuni karena pengalaman dan pengetahuannya. Sebagai contoh, seorang petani-guru adalah orang yang hidupnya dipersembahkan untuk menghasilkan butiran padi yang bernas. Dia akan belajar tanpa henti untuk dapat memproduksi gabah terbaik. Dia akan mencari cara dan upaya agar setiap usahanya mengarah kepada panen yang menguntungkan. Dari seluruh tindakannya, dia bisa berbagi pengalaman bagaimana cara menanam padi yang baik, bagaimana cara mengairi sawah yang benar, bagaimana cara memberikan pupuk yang tepat, bagaimana cara menjaga tanaman padi agar tidak diserang hama, dan bagaimana cara memanen padi serta bagaimana cara menyimpan padi yang aman. Seorang guru Bahasa Inggris, dia akan terus belajar tanpa henti agar memiliki ilmu yang cukup mengenai tata cara mengajarkan Bahasa Inggris, terus menerus mengajar sehingga pengalaman mengajarnya bertambah, sehingga nantinya dirinya dapat berbagi pengalaman dan keilmuan mengenai mengajar Bahasa Inggris.

Definisi keempat, guru adalah seorang ahli atau seorang yang profesional. Sebagai seorang ahli, seorang guru sangat menghindari tindakan malpraktek dalam mengajar. Selain itu, kata ahli menyiratkan bahwa tidak sembarang orang dapat menjadi guru atau tidak bisa seseorang tiba-tiba berdiri di depan peserta didik dan mengajar. Dia harus memiliki keahlian terlebih dahulu. Seorang piawai penganyam tikar dari daun pandan, dia bisa menjadi guru penganyam tikar, karena itulah keahliannya. Dia tidak bisa dipertukarkan untuk mengajar hal lain di luar keahliannya. Jika hal ini dipaksakan, yang terjadi adalah kemunduran, kemerosotan, dan kekacauan.

Dalam pandangan lokal, Guru merupakan orang terpenting dalam budaya Indonesia. Pepatah tua mengatakan ada tiga orang yang harus dihormati, dipatuhi, dan ditinggikan, yaitu 1) Guru,  2) Ratu, dan 3) Wong Atua Karo. Guru menempati urutan pertama karena dialah yang memanusiakan manusia, dan dia pulalah yang menunjukkan bagaiamana cara menjadi manusia. Ratu mengacu kepada pemimpin. Pemimpin harus dipatuhi karena dialah yang mengatur kehidupan manusia. Dan yang terakhir adalah Wong Atua atau orang tua. Mereka harus dipatuhi dan dihormati karena pengorbanan mereka tanpa batas, kasih mereka tanpa pamrih, dan mereka menerima kita-anaknya apa adanya.

Guru atau teacher dalam Bahasa Inggris (dan saya lebih setuju menggunakan kata teacher –ticer- daripada guru) mengemban tanggung jawab besar bagi berkembangnya pendidikan di Indonesia. Temuan Prof. Alwasilah (2010) bahwa 65% guru di Indonesia tidak profesional tidak harus menjadi was-was dan menduga bahwa sekolah adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang tidak selesai dengan dirinya. Buruknya wajah pendidikan Indonesia, tidak semuanya karena guru…eh ticer.

Bagaimana seorang guru memandang dirinya dan menentukan definisi bagi profesinya, di kemudian hari akan menentukan guru apa yang diperankannya dan dilakukannya.

Saturday, December 2, 2017

Setengah mati?

Aku lihat pengantar penguburan kali ini sangat banyak. Rerata usia mereka duapuluh sekian, mungkin para mahasiswa karena sebagian dari mereka ada yang berblazer dengan warna dan bentuk yang sama. Aku penasaran, siapa yang dikebumikan sepagi ini. Padahal angin ribut  Desember seolah menghalau agar jangan ada jasad yang diurai bakteri dan kembali menjadi tanah. Semua yang hadir, khusyu, berdo'a.

Sebentar, siapa itu yang berlinang air mata, meraung, meradang, melarang jangan tinggalkan dia sendirian, jangan kubur kekasihku. Dia memegang usungan mayat, menghalangi siapapun menurunkan mayat ke dalam liang lahat. Kenapa dia begitu kesetanan menghiba dalam puisi kacau dadakan bahwa dia cinta kekasihnya. Mungkin begitulah cara mahasiswa melepas kekasih ke peraduan terakhirnya, pikirku.
☘

Masih segar dalam ingatanku ketika  Doni menanyakan bagaimana insomniaku. Akhir-akhir ini insomnia merusak malam-malamku. Malam terasa bagaikan jalan panjang tiada akhir.  Setiap detiknya memanjang, membuat malam seolah tiada ujung. Aku kelelahan dikawal insomnia setiap malam.

Malam-malam sebelum insomnia berkunjung, aku memiliki malam yang penuh dengan impian masa selepas kuliahku. Terlihat diriku memakai Toga dan memegang gulungan ijazah. Tak lama, diriku menjelma menjadi seorang ahli tata kota yang membuat kota kecilku menjadi syurga bagi para pejalan kaki. Di kota itu aku berjalan bersama kekasihku, Doni, seorang ahli racik obat. Kami berdua tertawa, melangkah bersama.

Malam yang membawa insomnia bermula ketika Doni menyuruhku memakan pil dengan kandungan hormon estrogen dan progestin, yang menghambat indung telur berovulasi atau melepaskan sel telur di rahimku. Pil itu tidak semujarab iklan, ada evolusi akibat ovulasi dalam diriku. Sejak saat itulah, aku insomnia.

Doni yang sangat mencintaiku selalu menanyakan bagaimana malam-malamku. Dia memberiku pil lainnya, katanya pil yang dapat mengalahkan insomnia, Nitrazepam.
Doni, penolongku, pil itu selalu mengantarku tidur, dalam 10 -15 menit aku sudah tidur. Dalam tidur, aku melihat diriku dan Doni kebingungan dengan evolusi di rahimku.
Dalam dunia nyataku Doni melarang aborsi,  katanya itu pembunuhan. Dalam tidurku, aku merasa takut.

Aku mengeluhkan bahwa aku bermimpi buruk. Aku melihat orangtuaku terisak menangisi diriku yang terbujur kaku dengan darah segar keluar dari hidung, mata, telinga, dan semua pori-poriku. Darah merahnya menembus kain kafan.
Kata Doni, kamu berhalusinasi, itu efek samping obat tidur.  Kamu tidak bisa membedakan apakah kamu tidur atau kamu bangun. Delusi. Kamu terkena tipu daya zat-zat kimia pada Nitrazepam. Kamu harus bangun, katamu sambil memberiku 8 pil Nitrazepam sekalgus agar aku lepas dari halusinasi dan tidur.
☘

Aku tidur, tidak ada mimpi. Doni, kekasihku, kamu penolongku. Kamu hentikan mimpi-mimpi ngeriku. Kini aku merasa ringan, aku bisa melanjutkan hari-hariku dan mengurus bayi jadi tujuan utamaku sekarang.
☘

Aku terbangun ketika dingin angin Desember menusukku. Gelap. Mungkin masih pagi pikirku. Aku raba perutku, oh bayi tiga bulanku syukurlah, kamu masih bersamaku. Betapa segarnya bangunku kali ini. Dunia hingar bingar tidak terdengar. Sunyi. Tapi... jauuuh, perlahan, lamat-lamat aku mendengar suara ibuku mengaji. Seolah dia ada ada diatasku.

Doni, dimana kamu? Bantu aku, aku ini sedang tidur atau bangun. Aku memanggil Doni. Dia mungkin sedang kuliah.
☘

Aku lihat Doni tersenyum, dia sedang merapikan tempat tidurku.  Oh betapa hebatnya ayah anakku.

Aku dekati dia dan kupeluk. Doni menatapku dam berkata, "Kamu, kenapa di sini? Bukankah aku sudah menguburmu tadi pagi?"

Wednesday, November 29, 2017

Aku, aduh mati dong!!!

Terdengar bisik-bisik anak-anak di bawah tangga diantara semilir angin dingin akhir November. Mereka membahas trending topik yang benar-benar live dalam hidup mereka: besok hari ke-3 ujian apa. Saya kaget dengan topik yang diangkat tinggi melebihi hebohnya pedas Seblak Dudut atau sedapnya Mi Cius Teh Esih. Bukankah jadwal ada pada kartu ujian, kenapa pula nanya besok ujian apa. Rasanya tidak pernah terdengar kabar UAS berganti jadwal tanpa sebab. Ini kan UAS bukan ujian dadakan.

"Besok tuh Kimia, ada esay ga ya?" Terdengar suara penuh nada cemas. Mungkin kalau Kimia ada esayna setara dengan kiamat kecil. (Dianggap kecil kiamatnya karena kimia ngurus unsur dan elemen yang emang kecil-kecil).

"Rahasia atuh itu mah, kayanya soal PG 50. Itu yang sudah pasti," seseorang menjawab.

"50? Masa sih? Kok 50 sih, apa ga kebanyakan?" Suara lain menimpali seperti risih dengan angka 50.

Senyap, dingin angin makin kuat menggelitiki kulit-kulit yang hanya dibungkus seragam tipis. Gambar burung gagah pada baju batik mereka tak mampu mengurangi kejamnya angin dingin November. Angin membawa beban UAS pada mata pelajaran kedua: Bahasa Sunda.

"Ga apa-apa esay Kimia mah, coba kalau esay bahasa Sunda, help, :-( :-(  ," suara yang tadi cemas kini menjadi tremor, mirip goyangan Gunung Agung.

"Ih... itu ga seberapa kali, coba kalau esayna pake aksara Sunda, huruf-hurufnya saja sudah begitu susah diingat yang gini-gini kan?" Kulihat tangannya seolah menulis di awan, gerakannya rumit, badannya ikut doyong-doyong, mulutnya kompak ikut membuat bentuk kadang bulat, kadang manyun. Saya menikmati pemandangan akrobat huruf pantomim sambil ikut memikirkan kira-kira suku kata apa yang sedang diperagakannya (~_~)   《•..•》

"Belum lagi kalau huruf a, i, e, o, eu, pamaeh," siswa yang menyandar ke dinding menambah informasi yang membuat temannya makin bergidik ngeri membayangkan soal ujiannya seperti apa nanti. 

"Ini, benar-benar p@€h," kata teman-temannya serempak.

"Apa? P@€h ¿¿¿ " anak yang menyender ke dinding sepertinya tidak konek.

"M@t!!! Tau. Paeh = mati."

"Kok bisa mati sih, emang sesulit itu esay Bahasa Sunda. Kamu kan lahir di Sunda, ngomong Sunda, kentut juga Sunda, kenapa ujian aksara Sunda bisa mati?" Siswa nyender semakin ga nyambung.

Si penulis awan terlihat kesal dan berkata,
"Kamu mah ah lemot! Pamaeh artinya kan membuat mati. Mau tak mau kita harus mematikan huruf-huruf vokal di setiap kata kalau mau menulis sesuai kebutuhan. Matilah kita. Bukan pamaehnya yang bikin kita mati, tapi suku-suku katanya itu yang kita ga hafal, boro-boro pakai pamaeh, yang huruf hidupnya saja kita ga bisa."


Tuesday, November 28, 2017

Aku cinta kamu, Pengawas

Saya lihat Ayu pulang terburu-buru. Mungkin karena dia takut hujan yang sejak tadi pagi ngintip kapan pas buat mengguyur anak SMA yang lagi UAS hari kedua; mungkin karena dia baru sadar bahwa bekal dari rumah masih di bawah jok motornya; atau mungkin karena kemungkinan yang lain (what?).

Bagiku itu tidak biasa. Ayu biasanya kalem, penuh perhitungan (biasaaaa anak SMA mah semuanya atas nama jaim), gerak geriknya mantap. Kalau saja Ayu terlihat tergesa menyeret sepatu, berarti pertanda sesuatu. Daripada menyiksa diri dengan berbagai pertanyaan tak berkesudahan,  saya dekati Ayu dan mencoba membuka tabir gesa yang merundung harinya.

"Kayanya terburu-buru yah? What happened? Why?" Saya menghujani Ayu dengan pertanyaan (kasihan hujan yang asli  dia masih ngintip-ngintip peluang).

"Hari ini, bad day Ms," Ayu menjawab dingin, sedingin butiran hujan yang masih menggelayut di atas langit yang mulai kesal karena angin iseng menggeser posisinya.

"Hari naas? Ini mah hari Selasa Yu," saya mencoba melunturkan kesalnya dengan lelucon yang mungkin wasted bagi anak SMA.

"Ah Ms mah," Ayu mulai memperlihatkan pesona indah senyumnya dan dia mengeksplanasikan bad day-nya.
"Jam ke satu, Ayu jadi korban. Anak-anak kan udah tahu siapa pengawasnya. Ayu bertugas mulia: kalau pengawas itu ngajak ngobrol, Ayu harus siap menimpali obrolannya, kata temen-temen kalau mungkin, memperpanjang ngobrol, agar mereka ada waktu buat menikmati rumitnya soal Matematika tanpa diajak ngobrol sama pengawas itu. Dia mah suka caper ke anak cewe Ms, dan sialnya, selalu Ayu yang dipilihnya . Dia ngajak ngobrol, tahu maksudnya apa. Ayu kan pengen ngerjain dalam tenang juga Ms. Kalau Ayu jadi tumbal ngobrol demi anak lain, bagaimana nasib nilai UAS Ayu."

Saya bisa membayangkan gerahnya Ayu pada saat diajak ngobrol. Mendua pikiran, pastilah gerah. Pikiran kesatu: memikirkan jawaban. Pikiran kedua: bagaimana lepas dari cengkraman obrolan salah waktu. Belum lagi membayangkan gerahnya Ayu (yang memang Ayu, jadi walaupun gerah 100 derajat pun, pasti tetap Ayu, atau malah lebih Ayu (haduh), terdengar suara geram Ayu.

"Pas Ayu tanya, apa tuan Pengawas tahu jawaban soal nomor ini? Jawabnya aduh sudah lupa lagi, kan SMAnya sudah lama ditinggalkan. Tapi kalau mau tahu jawaban, tuh ada yang sudah selesai jawab semua. Terus dia menuju temen yang jawabannya sudah penuh, dan balik lagi ke Ayu. Terus nawarin jawaban. Kok?"

Saya melanjutkan membayangkan gerahnya Ayu menjadi gerah campur gatal-gatal. Tapi karena Ayu memang Ayu, garuk-garuknya pasti eksotik (Hus!).

"Pada jam kedua. Ayu tuh batuk. Batuknya sudah ditahan Ms. Maksudnya biar ga bikin kaget soal, atau ngagetin pengawas. Tapi, namanya juga batuk, alami saja, memecah sunyi UAS menjadi butiran-butiran ngikik dan ngakak temen-temen seruangan." Ayu melafalkan bad day sesi berikutnya.

"Pengawasnya emang marah?" Tanyaku.
"Dia bilang sstt, sstt, ini lagi ujian. Ayu jadi tersiksa, gelitik batuk sudah di tenggorokan, tapi sstt-sstt itu sok kuasa, bikin batuk serasa perbuatan dosa besar," Ayu terlihat mengerutkan alisnya. Mungkin dia menghubungkan batuk dengan dosa. Saya memperhatikan kerut alisnya, Ayu terlihat lebih cute (loh?).

"Barusan, jam terakhir," suara Ayu menyadarkan saya.

"Mana soalnya sulit banget, pengawasnya liat-liat jendela terus. Kan jadi parno, ada apa di balik jendela sana. Jadi mikirin kenapa tuan pengawas seolah ingin menemukan sesuatu di balik kaca. Setelah itu, dia ngobrol sama pengawas satunya lagi. Mana ngomongnya kenceng, aduh bikin konsen yang susah diperoleh tuh makin susah mampir. Hampir sejam ngobrol. Udah bosan mungkin, terus dia mondar mandir. Kadang Ayu dengar suara sepatunya berhenti di satu tempat,  terus terdengar mondar lagi ke mandir yang lain. Rasanya kaya ada malakal maut, bagaimana kalau tiba-tiba suara sepatunya berhenti deket Ayu," Ayu menuntaskan penjelasannya.

"Wah, benar-benar hari yang menarik," saya menyimpulkan ala guru bijaksana dengan memilih kata-kata yang semoga mengurangi kerut alis Ayu dan menutup percakapan dengan pertanyaan basi " Ayu mau pulang? Hati-hati ya."

"Ya Ms, tapi Ms boleh nanya ga?" Katanya ragu.
"Nanya apa?"
"Apa mungkin sesekali kita UAS tanpa pake pengawas biar Ayu ga bad day?"

Saya berdiri mematung,  memikirkan jawaban ala guru bijaksana sesi 2 yang bisa menenangkan Ayu.
(Haduh, gimana jawabnya ya? UAS kan selalu ada pengawasnya)

Kayanya kelamaan mikir, Ayu menjawab pertanyaanya sendiri ,"Ga  bisa ya Ms?"

Hari ini berbalik jadi bad day-nya Ayu pindah ke saya.

Monday, November 27, 2017

Aku duduk sama siapa?

Besok UAS, anak-anak sibuk cari bocoran posisi duduk, bocoran pengawas, dan bocoran-bocoran lainnya. Semua yang bocor-bocor dipandang menjadi sumber penguat jiwa ketika UAS dilaksanakan.

Apa benar bocoran posisi duduk penting?
"Ya pentinglah Ms. Ada di barisan berapa, deret berapa, menentukan prestasi," kilah lden.
"Kok bisa begitu?" Saya malah bingung. Setahuku ketika zaman SMA  dulu, duduk dimanapun pas UAS, tidak berpengaruh.

"Kan dengan tahu nomor posisi duduk, kita tahu dimana kita akan mencurahkan segala upaya selama seminggu. Misalnya nih,  yang nomor 40, enak karena posisinya ada di pojok kanan. Sementara yang nomor 35, ga banget.  Dia persis diujung hidung pengawas. Ms tahu bagaimana rasanya duduk depan pengawas? Keringetan Ms, susah gerak, dunia sempit." Iden mencoba memahamkan saya.

Saya tidak sependapat dengan lden, dan berdalih, "Enakan di dekat guru Den. Mata tajam dan ngilu dari pengawas bisanya mendarat di belakang. Yang depan malah aman."

"Depan, belakang, sama saja Ms. Sapuan tatap curiga pengawas tuh disebar merata, adil, bak sinar mentari menguapkan semua yang telah dihafal bikin kita bergidik, apalagi kalau dia ujug-ujug nyamperin. Suram dan kiamat kita," lden seperti menjelaskan apa yang pernah dialaminya sendiri. Saya mencoba membayangkan kengerian mencekam ala lden yang seumur ujian berlangsung belum pernah  saya alami.

"Tapi Ms," lden melanjutkan.
"Sebenarnya mah yang dicari teh, duduk sama siapa. Sekarang kan kelas 12. Kalau  sebangku dengan yang cantik dari kelas 10. Lumayan kan Ms, bisa menrintis pacaran singkat sambil nunggu UN," penjelasan lden membuat jantung saya darahnya menekan pompanya sesaat.

"Sudah ketahuan belum, sekarang lden duduk sama siapa? Tanyaku penasaran.

"Alhamdulilah,  sama cewe, kayanya mah level pualam, kinclong Ms, namanya Raza dari X MIA 4," lden semangat.

"Sip, selamat ujian Den. Sukses ya!" Saya mendoakan dengan seluruh keikhlasan yang ada. Dalam hati, saya cengengesan, ingin loncat dan teriak huh sambil ketawa yang panjang. Setahu saya, Raza X MIA 4 mah, laki-laki!

Sunday, November 26, 2017

Aam Amalia

Panalungtikan
Observasi

Untuk membuat cerita (pendek) diperlukan bekal.
Bekal yang dapat diceritakan diperoleh dari penelitian/kajian.
Kajian pertama, melalui bacaan. Misalnya penulis sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di SMA Wodvile Australia. Tapi dia ingin mengisahkan tokohnya pindah sekolah ke SMA wodvile karena orangtuanya menjadi diplomat. Maka, si penulis harus melakukan kajian melalui bacaan. Dia mengumpulkan informasi sebanyak2nya tentang SMA tersebut dan kemudian 'dimasukkan' ke dalam cerita.

Kajian kedua, melalui observasi. Misalnya penulis ingin menyindir sifat manusia yang terlihat lemah tapi sesungguhnya sangat jahat. Dia melakukan obsservasi Sero. Sero memakan semua ikan dikolam tanpa sisa.

Jangan memindahkan hasil kajian seperti aslinya karena akan memberikan kesan tidak koheren.  Caranya, pahami dulu bacaan atau observasi tadi,  kristalkan dalam pikiran dan baru keluarkan dalam tulisan.

Misalnya penulis membaca tentang anggrek. Pada buku tertulis definisi anggrek. Masukan ke karakter. Misalnya tokoh bertemu pedagang anggrek,  pedagang menjelaskan ciri dan cara hidup anggrek.
Penulis tidak memiliki bahan yang bisa diceritakan  jika tidak punya bahan. Untuk itu membaca dan observasi menjadi keharusan  bagi seorang penulis agar memiliki bahan untuk ditulis. 

26 nov 2017 AK TV

Saturday, November 25, 2017

Telepon

Menjelang magrib, senyap. Awan-awan emas -hasil permainan sinar mentari sore- yang selalu menghiasi senja kini terlihat pucat. Saya menghabiskan sisa hari libur ini dengan mancabuti rumput yang tumbuh tak terbendung seiring turunnya hujan. Halaman rumah menjadi hijau dipenuhi rumput segala ukuran tak beraturan, terlihat sadis berkontradiksi dengan tanah yang seharusnya bersih tanpa gulma.

Angin sore berhembus kencang, menggigilkan seng atap dapur yang lepas pakunya. Gigilannya  terdengar sebagai bunyi berisik yang mengganggu kesyahduan senja. Kesunyian pecah oleh suara adzan magrib yang menghentikan upaya pembersihan rumput. Matahari semakin jauh menyusup ke ufuk barat, mengingatkan waktu  ikhtiar siangku telah habis. Saya pun masuk rumah dan bersiap berjumpa Tuhan pada sajadahku. Saya pun tenggelam dalam khalwat vertikal dengan Sang Khalik.

Waktu menunjukkan pukul 21.00 ketika saya mendengar dering hape. Kulihat, nama suami muncul. Saya abaikan karena tahu dia sedang tidur di lantai atas. Saya pikir, hapenya tertindih dan menelepon tanpa sengaja. Saya kembali pada kegiatanku.

Kurang dari lima menit,  hape berdering lagi, kulihat, nomor yang sama, nama yang sama. Sedikit agak kesal tumbuh merambat kalbu.

"Kebiasaan! Tidur bawa hape, alesan mendengarkan wayang untuk pengantar tidur. Kalau dia tidur,  tak sadar hape kepencet, ketindih, jadi seolah menelepon. Mending yang kepencet nomor istrinya,  lha kalau yang kepencet orang lain,  bisa dianggap mempermainkan orang." Rambatan kesal berubah barisan kata-kata tak terucap.

Saya klik 'decline' warna merah pertanda telepon ditolak. Saya kembali duduk. Belum lagi duduk dengan sempurna, hape berdering lagi.
Saya biarkan. Saya kemudian minta Excel, anakku untuk mengecek apakah ayahnya benar-benar menelepon atau hanya main-main. Saya menganggap lelucon suami saya kali ini amat buruk.

Excel turun dan mengatakan bahwa ayahnya tidur. Kami berdua berkesimpulan, hapenya kepencet. Karena kesal, saya telepon balik. Tak ada sahutan. Akhirnya saya matikan sendiri.

Belum lagi kami berdua memastikan kesimpulan kami benar. Telepon berdering lagi. Saya merasa berhak marah. Saya naik ke lantai atas untuk memberitahukan bahwa sebagai istri saya berhak memiliki waktuku sendiri.

Setibanya di kamar, saya dapati suami saya sedang tidur.  Saya cari hapenya. Raba-raba dalam gelap, saya temukan hapenya ada di dekat kepalanya. Saya ambil, niatnya untuk menghentikan lelucon kering nan mengesalkan.
Belum lagi hapenya dipegang, tetiba hapeku berbunyi lagi.

Notifikasi muncul.
"Reminder, 25 December, Elea's birthday."

Hari ini 25 November.
Anak pertamaku berulang tahun 25 Desember.
Usianya kini 20 tahun.
Saya akui, tak pernah ulang tahunnya dirayakan dengan kue, lilin, ataupun balon. Hanya dengan  doa-doa yang dipanjatkan pada haribaan Tuhan. 

Kami tentu saja tak pernah akan melupakan ulang tahun Elea. Sekalipun kami tak bersua. Kami berkomunikasi dan kami menemuinya setiap saat pada barisan-barisan doa di setiap habis shalat. Komunukasimu malam ini, tentu saja menjadi kejut yang mengharukan. Doa kami masih sama, "Semoga kamu bahagia disisiNYA."