Pages

Thursday, January 18, 2018

Keterpecayaan nilai

Seorang siswa menghadap (dan dengan sedikit drama) meminta agar nilai rapornya diperbesar. Alasan yang diajukannya karena dia akan masuk perguruan tinggi tertentu, yang menurut informasi yang diperolehnya, nilai mata pelajaran tertentu harus minimal 80, dan dia berharap nilanya bisa diubah menjadi 90. Angka yang akhir tersebut dalam pandangannya "aman dan memuluskan" masuk ke perguruan tinggi impiannya.

Sebagai guru, saya mencantumkan angka sebagai gambaran kemampuan siswa dan kemudian diserahkan kepada orang tua sebagai laporan hasil belajar. Sejauh ini,  para siswa mengaku bahwa angka-angka tersebut sesuai dengan usaha dan unjuk kinerjanya. Namun menjadi masalah baru ketika angka-angka tersebut dengan terpaksa harus diganti atas nama menggapai impian.

Sebagian siswa memandang bahwa angka yang fantastis dapat membuka pintu pada perguruan tinggi idaman. Oleh karenanya, berlomba-lomba meminta perubahan angka sebagai penanda kemampuan penguasaan suatu mata pelajaran. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Yang menjadi tujuan adalah angka, bukan seberapa kompeten.

Keterpercayaan terhadap angka, yang menjadi nilai siswa  bisa saja hilang jika pemerolehannya melalui negosiasi yang tidak sehat. Angka-angka hasil kompromi tentu saja tidak mewakili kemampuan empunya. Selain itu, angka hasil katrolan melanggar esensi penilaian. Konfirmasi angka dari hasil penilaian lain dapat dengan mudah menunjulkan keterpercayaannya. Sebagai contoh nilai rapor dicek ulang dengan hasil Ujian Sekolah, jika terjadi perbedaan yang amat mencolok, misalnya pada raport tertulis angka 90, pada hasil Ujian Sekolah tertera 70. Lebih buruk lagi, pada hasil ujian nasional terpampang 50.

Nilai rapor hilang keterpercayaannya. Dalam pandangan saya, angka penanda kemampuan yang sesuai kemampuan lebih elegan dan benar-benar bernilai ketimbang angka melambung tapi tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Wednesday, January 10, 2018

Jurang kualitas sekolah elit dan sekolah alit makin menganga

Standar nasional pendidikan, salah satunya standar kompetenti lulusan  yang dicapai melalui penguasaan kompetensi dasar (KD) mata pelajaran, merupakan acuan gambaran seperti apa kualitas lulusan siswa dari satu jenjang pendidikan tertentu.  KD untuk jenjang SD menggambarkan kualifikasi yang harus  dikuasai siswa lulusan SD, misalnya secara pengetahuan: siswa memahami huruf abjad dan secara keterampilan: siswa terampil menggunakan huruf abjad untuk mengekspresikan ide dalam ragam tulis. 

Penguasaan kompetensi memahami dan menggunakan huruf abjad sejatinya dikuasai oleh siswa sekolah dasar, sehingga ketika siswa tersebut melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi diasumsikan secara otomatis dapat mengikuti pembelajaran tanpa mengalami kesulitan terkait keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak dan menyampaikan gagasan dalam bahasa tulis ataupun lisan.

Fenomena yang menarik ketika pada level SMA, kelas 12, terdapat siswa yang belum menguasai keterampilan merangkai huruf menjadi kata sehingga dapat memvisualisasikan gagasan dalam kata, apalagi dalam kalimat. Bagaimana siswa tersebut dapat melewati kelas 7, ,8, 9, 10, 11, sehingga kini berada di kelas 12?

Siswa ini termasuk siswa yang mengalami kesulitan belajar. Hal ini dibuktikan dengan ketidakmampuan menulis untuk menyampaikan ide.  Tulisan siswa ini sama sekali tidak dapat dipahami. Hasil tulisannya hanya merupakan rangkaian huruf yang tidak bermakna seperti misalnya 'gidder, peomg,' dan serangkaian huruf-huruf lainnya yang tidak merepresentasikan apapun.

Siswa tersebut berasal dari sekolah dengan layanan standar nasional pendidikan di bawah minimal. Sebagai contoh, siswa dilayani oleh guru kelas atau guru-guru SD yang bersedia meluangkan waktu di sore hari sepulang ngajar di SD. Siswa SMA seharusnya dilayani oleh guru mata pelajaran. Ketidaktersediaan unsur tenaga pendidik yang mengampu mata pelajaran, berakibat langsung terhadap bagaimana siswa mendapatkan pembelajaran dan bagaimana mereka diukur keberhasilan belajarnya.

Sekolah kecil, baru berdiri, nun jauh di pedesaan, tentu saja tidak semudah sekolah  elit dalam menyelenggarakan pendidikan. Sekolah elit dengan mudah melampaui standar, salah satunya dengan tersedianya tenaga pendidik yang bersertifikat sesuai mata pelajaran yang diampunya.  Bagaimana dengan nasib sekolah-sekolah alit (kecil) yang berdarah-darah mengejar standar nasional? Mereka kepayahan mencari guru. Mendatangkan guru, bukan tidak mungkin dilakukan, namun sekolah alit, tertatih-tatih, dananya pun alit.
Perlu dipikirkan lebih lanjut bagaimana agar sekolah alit berhenti  mengeluarkan lulusan tidak kompeten.

Tuesday, January 9, 2018

Idolaku: lbuku, ayahku, dan kerabat dekatku

Ditengah munculnya kekhawatiran yang diungkap para orang tua bahwa anak-anak sekarang lebih mengidolakan tokoh-tokoh imajinatif yang biasanya ditemui di film, game, dan buku bacaan. Ketika melongok ke bagian terdalam hati anak-anak, ternyata anggota keluarga diposisikan sebagai individu-individu terpenting dalam kehidupannya.  Ayah, lbu  adik, kakak menjadi sumber inspirasi dan motivasi yang membuatnya terus berjuang mengejar mimpi atas nama kelak dapat mempersembahkan  kebahagiaan untuk persona-persona tadi.

Pada sebuah kegiatan dimana siswa SMA kelas 10 diminta mencari tokoh inspirstif kemudian dibuat biografi kehidupannya, ditemukan hampir seluruhnya mengangkat anggota keluarga sebagai tokoh penggerak jiwanya untuk lebih menghargai hidup, menghormati hidup, dan menyayangi hidup.

Tokoh idola terpopuler adalah lbu. Mereka menganggap ibu sebagai malaikat, penolong,  dewi penyayang, sumber kasih, pahlawan dan sederet label positif lainnya.
Anak SMA bisa melihat kejerih dan payahan lbu mereka mulai dari urusan merawat mereka yang dipandangnya sebagai anak tak berbakti. Juga kelapangan hati sang lbu yang tanpa kesah mengabdikan dirinya untuk bahagia ayah, kakak,  adik, bahkan kerabat lain yang menumpang harus ikut pula ditanggungjawabinya.
Juga, anak SMA mampu melihat bagaimana lbu mereka menjadi partner ayah dalam hal menghidupi anak atau bahkan menghidupi suaminya, berperan sebagai tulang bagi pungung-punggung dalam keluarga bisa tegak dan tumbuh. 
Dalam pandangan anak SMA,  lbu juga menjadi idola karena para lbu masih menunjukkan kepatuhan sebagai anak, misalnya ada siswa yang menuliskan bahwa sebagai anak pertama, lbunya masih berpayah-payah membantu kakeknya di sawah.
Seorang anak menganggap lbunya sebagai nyawa dan hidupnya, idola yang disembahi secara rohani dan kesadaran tertinggi dari seorang anak. Ibunya bekerja di Arab, begitu tulisnya, lbunya mengirimi uang hasil kerjanya, seluruhnya, tanpa lbunya cicipi satu riyalpun. Seluruh hidup lbunya dipertaruhkan di belantara dunia Arab yang terkenal menggunakan hukum Qisos, tanpa ampun, ketahuan mencuri, tangan dipotong, ketahuan zinah, badan dicambuk-dirajam. Ibunya, mendapatkan rasa siksa Qisos tanpa diketahui apa dosanya, ayahnya menggunakan uang bertabur air mata lbunya untuk mengambil istri lagi. Ketika lbunya pulang, lbunya hanya menemukan rajam dan cambuk yang mengeluarkan darah dari setiap por-pori kesabarannya. Sejak itu, lbunya juga menjadi ayahnya untuknya, menjadi penghidup bagi anak-anaknya yang semuanya ditinggalkan ayahnya untuk istri barunya.

Idola kedua setelah lbu, adalah ayah. Ayah diidolakan karena dipandang sebagai sosok yang mengajarkan kerja keras dan disiplin. Seorang anak membeberkan bagaimana ayahnya yang sejak SD memulai berdagang, dan sampai saat ini menjadi pedagang dan mampu menyekolahkan anaknya ke SMA impian.
Anak lain melihat ayahnya sebagai teman, teman dalam arti seseorang yang membuatnya mengenal ambisi. Dia sendiri, sebagai anak, berambisi menjadi seseorang kelak. Ambisi yang terdengar berlebihan untuk anak seorang guru SD, begitu anggapannya. Baginya, persaingan dengan anak  dari golongan berduit menjadi ancaman bagi kejernihan dan keenceran otaknya. Dia menjelaskan, bolehkan ada Bidikmisi, beasiswa bagi si duafa, tapi anak guru honorer  SD dengan gaji 400ribu sebulan,  akan kalah merebut kursi di perguruan tinggi akibat telah dibeli anak berduit, atau dia harus mundur karena sadar diri tak ada duit untuk membayar biaya kuliah dan ongkos hidup sebagai anak kos. Baginya,  ambisi menerangi dan menuntun hidupnya. Si miskin boleh punya ambisi yang sejajar dengan si beruang.

Saudara perempuan dan laki-laki yang sedarah dan yang menjadi saudara akibat terikat perkawinan,  menempati posisi idola ketiga,  sejajar dengan posisi guru di sekolah. Saudara menjadi idola anak SMA  karena mereka dianggap memiliki kesabaran ekstra untuk menerima dirinya yang SMA lengkap dengan sikap menyebalkan,  sok tahu, sok bisa ambil keputusan, dan pandai menyalahkan apapun asal bukan dirinya. Sedangkan guru diidolakan karena sabar mengajari dan tidak bosan memberi tantangan sehingga terjadi perubahan secara perolehan prestasi.

Kekhawatiran anak bangsa salah pilih dan tunjuk idola tergeser manakala dari tulisan anak SMA, yang digali guru dalam proses pembelajaran, menunjukkan bahwa orang-orang terdekatlah sesungguhnya yang menjadi panutan mereka. Sementara panutan lain yang hadir dari musik, film, dan tokoh imajinatif,  merupakan idol sesaat, sebatas suka sesaat dengan berbagai karena. Karena suaranya bagus, karena orangnya keren, karena gayanya bikin heboh dan karena-karena lain yang tidak menyentuh ruhnya untuk menjadi seseorang yang lebih baik.
Dari pemilihan siapa yang menginspirasi hidup anak SMA,  seolah menyiratkan bahwa tatanan keluarga harus tetap menjadi lembaga terideal untuk anak-anak mencari tauladan sehingga keluarga  menjadi rumah dan tempat ditemukannya orang-orang inspiratif yang menjadikan anak-anak sebagai makhluk lucu- paripurna.

Sunday, January 7, 2018

Komunikasi guru semata-pelajaran

Forum guru mata pelajaran pada tingkat sekolah, kabupaten dan provinsi memegang peranan penting untuk peningkatan layanan kepada siswa dan peningkatan karir guru. Selain itu forum memberikan ruang kepada guru mata pelajaran untuk mendapatkan wadah secara profesional sehingga dapat saling mengomunikasikan segala hal terkait mata pelajaran dan hal-hal penting lainnya yang menyangkut aspek pribadi dan sosial.

Sebagai contoh, Forum MGMP Bahasa Inggris SMA Provinsi Jawa Barat mengadakan pertemuan dengan peserta guru semata pelajaran yang berasal dari 27 Kabupaten dan kota yang ada di Jawa Barat.  Pertemuan bertema Rapat Koordinasi untuk menghasilkan Program Kerja Forum tahun 2018-2021. Melalui pertemuan tersebut terkomunikasikan harapan dan kecemasan para ketua MGMP.

Sebagian besar para ketua MGMP cemas atas keberlanjutan karir yang harus ditebus dengan menunjukkan karya buah analisis terhadap pembelajaran dalam berbagai bentuk tulisan ilmiah seperti laporan penelitian tindakan kelas, tinjauan ilmiah terhadap kebijakan dan pembelajaran,  tulisan populer tentang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, laporan praktik baik pembelaran, buku berisi ide model pembelajaran dan sederet karya tulis lainnya.

Kecemasan para tetua,  bukan pada banyaknya jenis pilihan karya ilmiah yang bisa dipilih untuk dijadikan bahan pemghitungan poin salah satu syarat kenaikan pangkat.  Kecemasan timbul karena ada keraguan apakah para anggota MGMP memiliki kemampuan untuk mewujudkan pengalaman mengajarnya kedalam bentuk tulisan. Menulis, telah diakui bersama secara diam-diam ataupun terang-terangan, merupakan keterampilan yang mudah dikuasai secara teori, namun tidak menjadi sederhana ketika diwujudkan melalui praktik. Sebagian pata anggota MGMP mengaku bahwa mereka fasih mengajarkan cara menulis kepada siswanya, tetapi menjadi gagap ketika menerapkan kefasihan membimbing di kelas ketika diterapkan untuk dirinya.  Alasan penyebab kegagapan yang paling klise  adalah tidak punya waktu untuk menulis. Alasan yang lebih elegan adalah tidak ada pendamping penelitian. Alasan yang paling jujur adalah tidak bisa menulis bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.

Adapun harapan yang dengan segenap hati diajukan pada aktualisasi program kerja 2018-2021 adalah hilangnya seluruh cemas yang disebutkan di atas. Dengan kata lain, para guru mendapatkan kesempatan untuk memiliki  keterampilan menulis sehingga tidak ada hambatan dalam urusan karir.
Harapan lainnya adalah memiliki kompetensi mumpuni secara profesional pedagogis yang kelak membuat layanan terhadap siswa menjadi optimal yang ditandai dengan pembelajaran efektif terjadi di setiap kelas.

Suara-suara guru selama ini nyaris tidak terdengar akibat tertutup suara di luar guru yang mencecar kinerja guru yang dianggap tidak tahu terimaksih yakni sudah diberi uang sertifikasi namun masih berkinerja rendah. Keberadaan forum guru yang semata-pelajaran memberikan lahan untuk guru bersuara, dan mengutarakan apa yang dipikirkannya, dipertimbangkannya, direncanakannya sehingga mereka berkesempatan dapat memperbaiki kualitas layanan pendidikan dengan cara yang mampu dilakukannya.

Komunikasi guru semata-pelajaran menjadi sangat penting untuk terjadi secara rutin. Dengan cara ini diharapkan suara guru baik berupa kecemasan ataupun harapan, keduanya mendapatkan jawaban. Dukungan pihak sekolah berupa pemberian ijin merupakan titik penanda penting, karena dengan ijin dari atasa langsunglah yang kemudian membuat para guru ini dapat mengomunikasikan suaranya. Selanjutnya,  dalam forum, para guru dapat saling bertukar pengalaman mengajar, dapat saling menyimak keberhasilan pembelajaran yang akan mempercepat terjadinya imitasi pembelajaran efektif yang meningkatkan kualitas layanan sekaligus meningkatkan kualitas kompetensi guru.

Sunday, December 17, 2017

Guru

 Guru adalah orang yang luar biasa sekaligus mendapat tempat istimewa. Sebutan Guru menunjukkan tingginya derajat kedudukan dan keilmuan yang dimilikinya. Dalam pandangan global, sebagai contoh, Guru menurut kamus Merriam-Webster termasuk kedalam kata benda yang mengacu pada: 1) a religious teacher and spiritual guide in Hinduism (pembimbing agama atau pembimbing spiritual dalam agama Hindu), 2) a teacher or guide that you trust (pendidik atau pembimbing yang dipercayai), 3) a person who has a lot of experience in or knowledge about a particular subject (orang yang memiliki banyak pengalaman di dalam/mengenai sebuah keilmulan, 4) a person with knowledge or expertise (orang yang memiliki ilmu atau ahli pada ilmu tertentu).

Definisi Guru yang pertama mengisyaratkan bahwa Guru bukanlah orang biasa-biasa saja. Dia memiliki pengetahuan yang melebihi orang kebanyakan mengenai agama dan spritualisme. Pada definisi ini dikhususkan pada agama Hindu, hal ini disebabkan karena kata Guru berasal dari Bahasa Sansakerta yang kemudian digunakan dalam konteks keagamaan. Dalam agama Hindu, guru memiliki arti yang sangat dalam yaitu one who dispels the darkeness and ignorance atau orang yang membuka tabir kegelapan dan menyingkirkan sikap tidak acuh (Thirumaleshwar, 2015). Sekarang ini, kata Guru diadopsi untuk merujuk pada orang yang membimbing pada cahaya kebenaran dan mengajarkan kebaikan.

Selanjutnya, pada definisi kedua, Guru melebihi dari sekedar manusia. Acuan kata Guru adalah kata benda, oleh karenanya bisa saja Guru adalah gunung, sungai, pohon, atau benda lainnya. Sering kita dengar, ‘berguru kepada gunung, berguru ke padang datar, berguru pada alam. Ketiga contoh tadi menunjukkan bahwa Guru tidak selalu harus manusia. Pada dunia pewayangan, dikisahkan bahwa seorang Raja atau siapa saja yang sedang gundah gulana, menghadapi masalah berat, dia akan pergi naik gunung, dan tidak melakukan kontak dengan dunia luar selama beberapa tahun, kemudian turun gunung, jadilah dia Raja atau seseorang yang adil dan bijaksana. Hal ini menunjukkan bahwa gunung merupakan tempat yang mampu mengubah sikap, pengetahuan dan keterampilan seseorang.

Definisi ketiga, guru adalah orang yang berpengalaman dan berpengetahuan banyak pada ilmu tertentu. Dengan kata lain, guru adalah orang yang mumpuni karena pengalaman dan pengetahuannya. Sebagai contoh, seorang petani-guru adalah orang yang hidupnya dipersembahkan untuk menghasilkan butiran padi yang bernas. Dia akan belajar tanpa henti untuk dapat memproduksi gabah terbaik. Dia akan mencari cara dan upaya agar setiap usahanya mengarah kepada panen yang menguntungkan. Dari seluruh tindakannya, dia bisa berbagi pengalaman bagaimana cara menanam padi yang baik, bagaimana cara mengairi sawah yang benar, bagaimana cara memberikan pupuk yang tepat, bagaimana cara menjaga tanaman padi agar tidak diserang hama, dan bagaimana cara memanen padi serta bagaimana cara menyimpan padi yang aman. Seorang guru Bahasa Inggris, dia akan terus belajar tanpa henti agar memiliki ilmu yang cukup mengenai tata cara mengajarkan Bahasa Inggris, terus menerus mengajar sehingga pengalaman mengajarnya bertambah, sehingga nantinya dirinya dapat berbagi pengalaman dan keilmuan mengenai mengajar Bahasa Inggris.

Definisi keempat, guru adalah seorang ahli atau seorang yang profesional. Sebagai seorang ahli, seorang guru sangat menghindari tindakan malpraktek dalam mengajar. Selain itu, kata ahli menyiratkan bahwa tidak sembarang orang dapat menjadi guru atau tidak bisa seseorang tiba-tiba berdiri di depan peserta didik dan mengajar. Dia harus memiliki keahlian terlebih dahulu. Seorang piawai penganyam tikar dari daun pandan, dia bisa menjadi guru penganyam tikar, karena itulah keahliannya. Dia tidak bisa dipertukarkan untuk mengajar hal lain di luar keahliannya. Jika hal ini dipaksakan, yang terjadi adalah kemunduran, kemerosotan, dan kekacauan.

Dalam pandangan lokal, Guru merupakan orang terpenting dalam budaya Indonesia. Pepatah tua mengatakan ada tiga orang yang harus dihormati, dipatuhi, dan ditinggikan, yaitu 1) Guru,  2) Ratu, dan 3) Wong Atua Karo. Guru menempati urutan pertama karena dialah yang memanusiakan manusia, dan dia pulalah yang menunjukkan bagaiamana cara menjadi manusia. Ratu mengacu kepada pemimpin. Pemimpin harus dipatuhi karena dialah yang mengatur kehidupan manusia. Dan yang terakhir adalah Wong Atua atau orang tua. Mereka harus dipatuhi dan dihormati karena pengorbanan mereka tanpa batas, kasih mereka tanpa pamrih, dan mereka menerima kita-anaknya apa adanya.

Guru atau teacher dalam Bahasa Inggris (dan saya lebih setuju menggunakan kata teacher –ticer- daripada guru) mengemban tanggung jawab besar bagi berkembangnya pendidikan di Indonesia. Temuan Prof. Alwasilah (2010) bahwa 65% guru di Indonesia tidak profesional tidak harus menjadi was-was dan menduga bahwa sekolah adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang tidak selesai dengan dirinya. Buruknya wajah pendidikan Indonesia, tidak semuanya karena guru…eh ticer.

Bagaimana seorang guru memandang dirinya dan menentukan definisi bagi profesinya, di kemudian hari akan menentukan guru apa yang diperankannya dan dilakukannya.

Saturday, December 2, 2017

Setengah mati?

Aku lihat pengantar penguburan kali ini sangat banyak. Rerata usia mereka duapuluh sekian, mungkin para mahasiswa karena sebagian dari mereka ada yang berblazer dengan warna dan bentuk yang sama. Aku penasaran, siapa yang dikebumikan sepagi ini. Padahal angin ribut  Desember seolah menghalau agar jangan ada jasad yang diurai bakteri dan kembali menjadi tanah. Semua yang hadir, khusyu, berdo'a.

Sebentar, siapa itu yang berlinang air mata, meraung, meradang, melarang jangan tinggalkan dia sendirian, jangan kubur kekasihku. Dia memegang usungan mayat, menghalangi siapapun menurunkan mayat ke dalam liang lahat. Kenapa dia begitu kesetanan menghiba dalam puisi kacau dadakan bahwa dia cinta kekasihnya. Mungkin begitulah cara mahasiswa melepas kekasih ke peraduan terakhirnya, pikirku.
☘

Masih segar dalam ingatanku ketika  Doni menanyakan bagaimana insomniaku. Akhir-akhir ini insomnia merusak malam-malamku. Malam terasa bagaikan jalan panjang tiada akhir.  Setiap detiknya memanjang, membuat malam seolah tiada ujung. Aku kelelahan dikawal insomnia setiap malam.

Malam-malam sebelum insomnia berkunjung, aku memiliki malam yang penuh dengan impian masa selepas kuliahku. Terlihat diriku memakai Toga dan memegang gulungan ijazah. Tak lama, diriku menjelma menjadi seorang ahli tata kota yang membuat kota kecilku menjadi syurga bagi para pejalan kaki. Di kota itu aku berjalan bersama kekasihku, Doni, seorang ahli racik obat. Kami berdua tertawa, melangkah bersama.

Malam yang membawa insomnia bermula ketika Doni menyuruhku memakan pil dengan kandungan hormon estrogen dan progestin, yang menghambat indung telur berovulasi atau melepaskan sel telur di rahimku. Pil itu tidak semujarab iklan, ada evolusi akibat ovulasi dalam diriku. Sejak saat itulah, aku insomnia.

Doni yang sangat mencintaiku selalu menanyakan bagaimana malam-malamku. Dia memberiku pil lainnya, katanya pil yang dapat mengalahkan insomnia, Nitrazepam.
Doni, penolongku, pil itu selalu mengantarku tidur, dalam 10 -15 menit aku sudah tidur. Dalam tidur, aku melihat diriku dan Doni kebingungan dengan evolusi di rahimku.
Dalam dunia nyataku Doni melarang aborsi,  katanya itu pembunuhan. Dalam tidurku, aku merasa takut.

Aku mengeluhkan bahwa aku bermimpi buruk. Aku melihat orangtuaku terisak menangisi diriku yang terbujur kaku dengan darah segar keluar dari hidung, mata, telinga, dan semua pori-poriku. Darah merahnya menembus kain kafan.
Kata Doni, kamu berhalusinasi, itu efek samping obat tidur.  Kamu tidak bisa membedakan apakah kamu tidur atau kamu bangun. Delusi. Kamu terkena tipu daya zat-zat kimia pada Nitrazepam. Kamu harus bangun, katamu sambil memberiku 8 pil Nitrazepam sekalgus agar aku lepas dari halusinasi dan tidur.
☘

Aku tidur, tidak ada mimpi. Doni, kekasihku, kamu penolongku. Kamu hentikan mimpi-mimpi ngeriku. Kini aku merasa ringan, aku bisa melanjutkan hari-hariku dan mengurus bayi jadi tujuan utamaku sekarang.
☘

Aku terbangun ketika dingin angin Desember menusukku. Gelap. Mungkin masih pagi pikirku. Aku raba perutku, oh bayi tiga bulanku syukurlah, kamu masih bersamaku. Betapa segarnya bangunku kali ini. Dunia hingar bingar tidak terdengar. Sunyi. Tapi... jauuuh, perlahan, lamat-lamat aku mendengar suara ibuku mengaji. Seolah dia ada ada diatasku.

Doni, dimana kamu? Bantu aku, aku ini sedang tidur atau bangun. Aku memanggil Doni. Dia mungkin sedang kuliah.
☘

Aku lihat Doni tersenyum, dia sedang merapikan tempat tidurku.  Oh betapa hebatnya ayah anakku.

Aku dekati dia dan kupeluk. Doni menatapku dam berkata, "Kamu, kenapa di sini? Bukankah aku sudah menguburmu tadi pagi?"

Wednesday, November 29, 2017

Aku, aduh mati dong!!!

Terdengar bisik-bisik anak-anak di bawah tangga diantara semilir angin dingin akhir November. Mereka membahas trending topik yang benar-benar live dalam hidup mereka: besok hari ke-3 ujian apa. Saya kaget dengan topik yang diangkat tinggi melebihi hebohnya pedas Seblak Dudut atau sedapnya Mi Cius Teh Esih. Bukankah jadwal ada pada kartu ujian, kenapa pula nanya besok ujian apa. Rasanya tidak pernah terdengar kabar UAS berganti jadwal tanpa sebab. Ini kan UAS bukan ujian dadakan.

"Besok tuh Kimia, ada esay ga ya?" Terdengar suara penuh nada cemas. Mungkin kalau Kimia ada esayna setara dengan kiamat kecil. (Dianggap kecil kiamatnya karena kimia ngurus unsur dan elemen yang emang kecil-kecil).

"Rahasia atuh itu mah, kayanya soal PG 50. Itu yang sudah pasti," seseorang menjawab.

"50? Masa sih? Kok 50 sih, apa ga kebanyakan?" Suara lain menimpali seperti risih dengan angka 50.

Senyap, dingin angin makin kuat menggelitiki kulit-kulit yang hanya dibungkus seragam tipis. Gambar burung gagah pada baju batik mereka tak mampu mengurangi kejamnya angin dingin November. Angin membawa beban UAS pada mata pelajaran kedua: Bahasa Sunda.

"Ga apa-apa esay Kimia mah, coba kalau esay bahasa Sunda, help, :-( :-(  ," suara yang tadi cemas kini menjadi tremor, mirip goyangan Gunung Agung.

"Ih... itu ga seberapa kali, coba kalau esayna pake aksara Sunda, huruf-hurufnya saja sudah begitu susah diingat yang gini-gini kan?" Kulihat tangannya seolah menulis di awan, gerakannya rumit, badannya ikut doyong-doyong, mulutnya kompak ikut membuat bentuk kadang bulat, kadang manyun. Saya menikmati pemandangan akrobat huruf pantomim sambil ikut memikirkan kira-kira suku kata apa yang sedang diperagakannya (~_~)   《•..•》

"Belum lagi kalau huruf a, i, e, o, eu, pamaeh," siswa yang menyandar ke dinding menambah informasi yang membuat temannya makin bergidik ngeri membayangkan soal ujiannya seperti apa nanti. 

"Ini, benar-benar p@€h," kata teman-temannya serempak.

"Apa? P@€h ¿¿¿ " anak yang menyender ke dinding sepertinya tidak konek.

"M@t!!! Tau. Paeh = mati."

"Kok bisa mati sih, emang sesulit itu esay Bahasa Sunda. Kamu kan lahir di Sunda, ngomong Sunda, kentut juga Sunda, kenapa ujian aksara Sunda bisa mati?" Siswa nyender semakin ga nyambung.

Si penulis awan terlihat kesal dan berkata,
"Kamu mah ah lemot! Pamaeh artinya kan membuat mati. Mau tak mau kita harus mematikan huruf-huruf vokal di setiap kata kalau mau menulis sesuai kebutuhan. Matilah kita. Bukan pamaehnya yang bikin kita mati, tapi suku-suku katanya itu yang kita ga hafal, boro-boro pakai pamaeh, yang huruf hidupnya saja kita ga bisa."