Pages

Wednesday, February 8, 2017

Cara jelajah dunia yang berbeda: paradox generasi x dan z

Menyisihkan sebagian dari penghasilan untuk membeli buku, terdengar seperti proyek tanpa arah. Orang-orang sudah mulai berbicara buku digital dan buku elektronik. Sepertinya membeli buku hard kopi menjadi berkesan ketinggalan zaman. Ketika buku elektronik bertebaran disemua screen, kenapa harus repot-repot membeli buku kertas, selain tidak ramah lingkungan, juga tidak praktis.

Bagi mereka yang telah terbentuk kebiasaan membacanya dengan dimulai dari  buku kertas, ketika pindah ke buku elektronik bukan masalah besar. Buku kertas, buku elektronik keduanya menjadi media yang sama efektifnya untuk memuaskan hasrat membaca.

Masalahnya adalah ketika kebiasaan membaca itu belum dimiliki , tawaran media sejenis buku tidak bisa jadi efektif. Membaca dari buku kertas memberikan kesempatan pengalaman membaca yang berbeda dibandingkan dengan membaca pada buku elektronik. Bau kertas ketika membuka buku, sangat khas dan hanya diperoleh dari momen ketika buku kertas dibuka. Sensasi memegang buku kertas, tidak sama sensasinya dengan memegang telepon selular android yang dilengkapi fitur Wattpad (penyedia buku elektronik untuk android) misalnya.

Anak-anak kita yang menjadi penduduk digital, sejak lahir telah akrab dengan gadget. Sejak balita mereka telah terbiasa memainkan game. Saat SD, tanpa.diajari telah mampu mengunduh lagu dari sebuah situs ke hapenya dan melengkapi lagu tersebut dengan teks lirik. Mereka menjelajah negeri virtual dan memuaskan pencariannya. Aktivitas seperti ini mendominasi kehidupan anak-anak generasi Z. Sedikit dari mereka yang memiliki kecintaan membaca. Mereka sangat keranjingan game.

Gawai yang ada pada tangan siapapun, tidak membantu menumbuhkan kebiasaan membaca karena seolah ada kesepakatan tidak tertulis bahwa gadget untuk kesenangan dan hiburan, bukan untuk membaca.

Kebablasan
Hadirnya buku elektronik bersamaan pula dengan hadirnya peluang untuk membangun kebiasaan membaca. Berbagai situs yang menyediakan buku bacaan elektronik dengan tanpa bayar, atau kalaupun ada harga,  harganya sangat murah. Kondisi ini memungkinkan semua orang dapat memiliki buku dengan jumlah yang hampir tidak terbatas. Mereka dapat memiliki Library virtual sendiri yang bisa dibagikan kepada orang lain.

Dengan hampir setiap anak memiliki gawai sendiri, kemungkinan anak tidak memiliki buku menjadi semakin sedikit. Sebuah kemajuan yang luar biasa akibat dari majunya teknologi. Anak generasi Z dapat menikmati surga buku gratis, dan memiliki perpustakaan sendiri.

Keadaan di atas tidak dialami oleh generasi X. Bagi anak generasi X, memiliki satu buku, artinya harus menyisihkan uang jajan; kalau mau buku gratis, bergabung ke perpustakaan sekolah. Namun perpustakaan sekolah tidak memuaskan hasrat membaca buku non pelajaran. Maka jadi anggota Taman Bacaan adalah solusinya. Taman Bacaan menjejerkan buku-buku novel, komik, dan buku non pelajaran dengan sewa pinjam yang tidak memberatkan. 

Gambaran anak generasi Z lebih tinggi minat bacanya, hanyalah ilusi. Bahkan, kemampuan membaca generasi Z pada tahun 2016 sangat memprihatinkan.
Memberikan gawai kepada anak-anak generasi Z sebaiknya dibarengi dengan pembekalan penggunaan gawai untuk membuatnya berpikir kritis melalui membaca. Pembiaran anak generasi Z berselancar sendiri di dunia virtual mengantarkan mereka pada kegiatan pengisi waktu miskin makna.

Monday, February 6, 2017

(Menuju) Cina (January 20, 2017)

Group WA, dimulai dengan teks dari Admin
"Selamat pagi Bapak dan Ibu semua. Maaf baru sempat buka HP dan membalas sapaan maupun pertanyaan Bapak dan Ibu sekalian.
Pertama-tama... niat kami, Subdit Kesharlindung Dikmen itu tulus and genuine ingin memberangkatkan Bapak/Ibu sekalian ke luar negeri. Jikalau ada hal-hal yang menyebabkan program ini dibatalkan kembali, itu adalah di luar kuasa kami. Update terakhir sampai hari ini... kami sedang menyiapkan SOP yang mumpuni untuk dibawa ke hadapan Bapak Dirjen GTK yang terhormat. Jadi mohon bantuannya, selain doa dan dukungan, adakah Bapak/Ibu yang dapet memberikan ide, saran, dan masukan, agar TOR program ini bisa lolos dari meja Pak Dirjen. Demi kebaikan kita bersama. Monggo... yang bisa bantu kami. 🙏🙏🙏 Surat yang beredar di antara Bapak/Ibu itu memang sengaja belum bernomor dan ditandatangani. Karena selain waktu itu Pak Dir masih di LN, juga karena kami masih belum mendapatkan dukungan 100% dari eselon 1."

What's going on?
Ada apa ya? Kenapa terancam dibatalkan kembali,  kenapa perlu ide, saran untuk dimuat di TOR, kenapa surat telah beredar dan diminta ditindaklanjuti tapi belum ada izin?
Terlalu banyak kenapa, dan aku tidak paham dengan apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Apakah benar kegiatan ini masih miskin saran sehingga perlu lagi urun ide dari kami, para calon peserta, yang sebagian besar tidak pernah hadir untuk membuat itinerary kemudian nanti jadi TOR.
Apakah kami, terlalu merepotkan sehingga para officer Kesharlindung harus painstakingly, susah payah, menjadikan kegiatan ini nyata. Bagaimana dengan officer Kesharlindung yang ngurusi SD, SMP, Pengawas, Kepala Sekolah yang telah berhasil mengirimkan peserta setiap tahun, misalnya yang terakhir ke Belanda.
Untuk tingkat SMA, tidak ada? Dan mengapa Cina? Apakah akan menunjukkan betapa Indonesia dan Cina serupa sesaknya ketika naik bis? Serupa joroknya ketika berurusan dengan toilet?

Aku tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku sendiri.
Aku lihat, ada teks yang memberikan sumbangan ide dan doa agar Pak Dir dicerahkan Tuhan?
Ini teksnya:
"Hasil kunjungan sy thn 2015, point penting yg bs kita jadikan bahan uk berkunjung:
1. Penguatan Pendidikan Karbang.
2. Penguatan sistem rekruitmen peserta didik.
3. Penguatan ttng peningkatan SDM Guru.
4. Penguatan pendidikan uk Mapel Bahasa, Sejarah, Olahraga, dan Rumpun Humaniora.
5. Penguatan sistem pembelajaran.
6. Penguatan pengembangan ekosistem pendidikan.
Hal2 di atas perlu kita pelajari dan terapkan di tempat kita.
Semoga Pak Direktur diberikan pencerahan oleh Allah SWT uk memberikan kesempatan pada guru uk terus belajar".

Dalam hati aku berkomentar, untuk penguatan Pendidikan Karakter bangsa, untuk apa jauh-jauh ke Cina. Suku Sunda, misalnya, telah mendidik anak dalam asuhan keluarga dengan karakter yang sempurna: cageur, bageur, bener, pinter, rapekan, singer. Suku Jawa sudah punya karaktet belajar dengan niteni, niroake dan nambahake.

Hal kedua recruitment peserta didik, apalah daya seorang guru, rekrutmen peserta didik telah diatur PPDB yang menguntungkan sekolah negeri dan diam-diam PPDB tidak membantu menaikkan APK.

Aku tidak akan mengomentari nomor 3 dan selanjutnya, aku khawatir mengeluarkan pernyataan nyinyir . Dalam pandanganku , yang diberangkatkan adalah orang-orang terbaik dan pilihan, kenapa masih memikirkan penguatan untuk mereka?

Aku mencatat saja bahwa diantara calon peserta terdapat yang sudah berkunjung ke Cina. Kalau dia sudah pernah berkunjung, so what's the next visit for?

Aku lanjutkan membaca WA teks , terdapat teks yang mencoba netral berdasarkan kebanyaktahuanya soal officer Kesharlindung dan Cina:
"Kesharlindung tentu sudah mempunyai pengalaman yg cukup banyak menangani bench mark insan berprestasi di LN, namun tdk ada salah kita memberi dukungan dan saran:
1. Mari berdoa bersama semoga subdit harlindung diberi kelancaran urusannya dlm memuliakan guru2 berprestasi.
2. Menyiapkan program lengkap dengan skenarionya termasuk plann B jika ada hal2 yg membutuhkan kebijakan dg respon cepat
3. Bench mark fokus pd vocational school terbaik dan bs diadaptasi di Indonesia seperti Beijing No. 4 High School atau Xinhai Senior High School khan bagus bu atau ke Tsinghua University, Fudan University, atau Peking University
4. Kawan2 tetap fokus pd tupoksi dan kelengkapan dokumen yg dipersiapkan dlm bench mark
5. Apresiasi dan penghargaan
Terima kasih dan mhn maaf jk kurang berkenan."

Dua teks di atas sangat hebat. Admin sigap dan memberikan jawaban dengan teks berikut:
"Terimakasih  atas masukkannya Pak A. Memang ... bertahun-tahun kami mengadakan program ini tanpa mengalami kendala yang berarti. Tapi jaman berubah Pak... dan pemerintah makin ketat memberikan anggaran untuk kami. Maka dari itu... SOP yang sedang kami persiapkan juga tidak main-main, tidak hanya sekedar copy paste dari kegiatan sebelumnya. Kalau tahun-tahun yang lalu mungkin bisa seperti itu, tapi beda dengan keadaaan hari ini Pak. Jadi mohon maklum."

Copy paste?

Aku tidak paham lagi.
Dan kemudian, ada teks saran:
" Bu Admin, kalo boleh usul ini... mungkin selain sasaran ke sekolah2 kita juga bisa mengadakan semacam event pengenalan atau difusi budaya indonesia di china.. misalnya tari2an ato pertunjukan musik atau juga mengajari instant ttg budaya indonesia.. kerjasama dg kedutaan besar RI di china.."

Aku membayangkan "bagaimana mengajari instant tentang budaya Indonesia?"
Kata instant, berhasilkah untuk mengajari sebuah budaya?
Menanamkan budaya tidak membuang sampah sembarangan, sampai saat ini belum berhasil. Mungkin, karena mengajarkannya instant? Budaya Indonesia mana yang bisa diajarkan secara instant kepada Cina yang nota bene sudah punya budaya turun temurun sendiri, misalnya meludah (spitting) yang mungkin tidak berterima dalam budaya Indonesia.

Sunday, February 5, 2017

(Menuju) Cina (19 Januari 2017)

Informasi dan komunikasi ke Cina melalui WA menambah waktu menatap screen menjadi bertambah. Setiap pagi dan malam aku buka untuk memastikan bahwa aku tidak ketinggalan informasi kemudian kehilangan momen.

Hari ini, WA memuat tambahan anggota group oleh admin. Selain itu ada informasi yang mengejutkan. Admin mengunggah ini " Bapak Ibu jangan dikirim dulu ga... EO nya barusan nelpon saya. Persyaratannya nambah. Banyak banget. Sebentar saya lagi susun dulu."

Maksud dari jangan kirim dulu, adalah jangan mengirimkan berkas-berkas yang kemarin diminta. Persyaratan nambah dan banyak.
Teks ini muncul pagi hari. Aku tidak hirau. Aku harus bekerja dan coba-coba menyampaikan kabar kepada Kepala Sekolah tentang kabar apresiasi ke Cina sebagai pengganti apresiasi yang katanya ke Finlandia.

Kepala Sekolah mengiyakan dan mengizinkan. Aku sendiri merasa sedikit pesimis, jangan-jangan setelah mengirimkan berkas-berkas ada kabar apresiasi dibatalkan, tanpa penjelasan. (Kalau kepada guru, tidak memberi kabar, tidak memberi alasan: tidak apa-apa). Aku berkaca pada beberapa kali kejadian sebelumnya. Tiba-tiba dan terburu-buru harus menyerahkan berkas-berkas ini itu untuk persyaratan ini itu. Aku, buru-buru memenuhinya, setelah itu tidak ada kabar.
Untuk kali ini semoga tidak seperti itu.

Aku buka lagi WA dan muncullah yang tadi dibicarakan. Aku baca ini " Jadi selain persyaratan pembuatan visa ke Cina yang kemarin sudah kami kirimkan, ada lagi persyaratan untuk ke Setneg.
Ada beberapa, yang harus Bapak dan Ibu siapkan hanya ini saja: 1. CV
2. Foto berwarna latar belakang putih 4x6 (2 lembar) dan 3,5x4,5 (2 lembar)
Ada beberapa hal yang HARUS DIPERHATIKAN: 1. Nama di pasport  dan KTP harus sama jika berbeda harus ada surat keterangan dari kelurahan, dll, dst, dst.

Aku hanya memikirkan harus difoto. Aku rencanakan pulang kerja ke tukang foto.

Aku menuju tukang foto sambil mencoba memahami alur jalan kota kecilku yang sana sini ditutup. Dalam hati berkata mungkin inilah perwujudan jalan dibuat satu arah oleh Bupati baru. Aku hanya mengikuti kemana orang menuju. Tiba di tukang foto, langsung difoto setelah meyakinkan kepada tukang foto bahwa fotonya berlatar putih dan bukan untuk Umroh. Aku baru tahu bahwa foto latar putih selalu terkait langsung dengan Umroh.

Setelah menunggu 15 menit, fotonya jadi. Aku lihat, kacamatanya mantul. Aku bilang ke pegawai apa bisa dibuat tidak mantul kacamatanya. Dia bilang bisa. Aku bertanya-tanya selama ini berfoto dan dengan memakai kacamata tidak pernah mantul, tapi kali ini, beda sekali. Maka aku pulang, karena pihak toko bersedia mengurusi mantul jam 4 sore.

Pukul 4 sore aku ngurusi mantul. Ketika fotonya diterima, masih mantul !!!. Jadi sejak seharian, mantulnya diurus atau tidak? 
Aku berkata dalam kepalaku sendiri bahwa foto untuk ke Cina mah susah. Untuk penyelesaian mantul, aku print foto yang lama.
Jadi semua foto yang dibuatkan CDnya dan cetak banyak itu, tidak dapat dipakai. Andai tahu hasilnya mantul, kenapa susah-susah berfoto, nunggu sampai pukul 4 sore.

Friday, February 3, 2017

(Menuju) Cina (18 Januari 2017)

WA Group hari ini memuat tambahan peserta oleh Admin berdasarkan himbauannya bahwa yang mengetahui nomor hape si Anu, mohon unggah ke WA.
Aku berkata pada diriku sendiri  alangkah lelahnya jadi Admin. Mana harus menjawab pertanyaan setiap anggota group, mana harus cek memastikan bahwa telah terkumpul 46 orang di group. Mendapatkan nomor hape dari ke 46 orang tadi, menjadi pekerjaan melelahkan sepertinya.

Admin memberikan himbauan agar segera mengirimkan berkas-berkas. Himbauan tersebut berbunyi, "Bapak dan Ibu yang terhormat...jika dokumen2 yang kami minta sudah siap...silahkan dikirim via ekspedisi ke kami. Biar cepat terkumpul dan bisa langsung kami urus. Karena untuk yang paspor biru...pengurusannya agak lama".

Aku berusaha mulai mengumpulkan semua yang diperlukan dan mulai mengisi formulir. Formulirnya mengejutkan, menggunakan bahasa Cina! Untunglah ada terjemah dalam bahasa Inggris. Kalau tidak ada terjemah, aku tidak bisa mengisi apapun.

Aku masih mencari paspor yang biru dan yang hijau. Keduanya entah dimana. Yang hijau, jika tidak salah dikirim ke Bandung untuk syarat pendaftaran Umrah hadiah sebagai guru Berprestasi tingkat Provinsi dari gubernur. Paspor biru, perjalanan terakhir ke Adelaide untuk mengikuti continues professional development program dari Knowledge Exchange Australia. Mencari dokumen, selalu melelahkan.

Aku alihkan perhatian dengan mengikuti kursus online pertama dalam hidup..dan jadilah aku daftar ke SEAMOLEC, belajar blog untuk mengajar. Aku menganggap belajar membuat blog penting. Selama ini aku tidak pernah diajari untuk hal ini.
Aku mulai membuka courseware dan mencoba memahami isinya. Segera setelah paham, aku mulai membuat blog. Ya, blog yang ini.

Kembali ke Admin, rupanya deritanya amat panjang. Beliau berusaha mencari keberadaan guru yang diundang dengan mengunggah ini " Application Form boleh ditulis tangan. Selamat datang buat yang baru bergabung. Silahkan tanya2 sama teman2 yang sudah gabung duluan ya?! Saya sdg berusaha menghubungi yang belum bergabung."

Sementara itu, peserta yang telah bergabung, mulai menghadapi masalahnya sendiri-sendiri. Aku tidak berkomentar apapun. Khawatir hanya menambah sampah teks. Ada peserta yang kebingungan dengan paspor, dia mengunggah begini," buk Admin, maaf buk.barusan saya coba daftar paspor online.ketersedian tanggal pembuatan yg tersedia hanya mulai tgl 31 buk..mhon solusi bpak ibuk yg lebih pengalaman ngurus paspor.heee"
(Mix of feeling excited, worry, and humor at once).

Terhadap teks di atas, para anggota group memberikan saran ini itu. Entah si penanya dapat menangkap jawaban pertolongan atau tidak karena terhalang yang mengirim kartu nama, pertanyaan, ucapan terimakasih dan macam-macam teks lain.

Aku akhirnya muncul pada teks yang menanyakan apakah ada itinerary. Tidak ada jawaban.
Mungkin pertanyaan itu belum seharusnya muncul? Entahlah.

(Menuju) Cina (3 Feb 2017)

Tanggal 17 Januari 2017 namaku terdaftar pada Group WA "China 2017_Kesharlindung"
'What's this and who did this?', aku bertanya-tanya.
Aku buka admin dan group member. Adminnya seorang kantoran dari Direktorat Kesharlindung. Direktorat yang mengurusi kesejahteraan dan perlindungan bagi para guru.

Aku mencoba menebak-nebak, ada apa dan untuk bisnis apa aku dimasukan anggota Group. Anyway, untuk menunjukkan orang civilized, aku mengunggah, "Terimakasih telah dimasukkan ke Group". Period.
Tak lama, admin mengunggah pdf "Surat panggilan dan daftar nama peserta benchmarking ke Cina". Terdapat 46 calon peserta tertera pada surat panggilan tanpa nomor yang diunggah pada WA group.
Oh, rupanya aku diikutsertakan sebagai calon peserta benchmarking ke Cina atas apresiasi sebagai guru Berprestasi tahun 2015. Apreasiasi yang hampir terlupakan sepertinya. Calon peserta lainnya, sebanyak 33 orang adalah mereka juara dari berbagai lomba pada tahun 2016.

Aku sebut calon, karena pada surat tertera demikian. Aku membayangkan pasti ada tes lagi atau berkas-berkas lagi yang biasanya memakan waktu untuk menyusunnya. Aku mengatakan ini berdasarkan pengalaman sebagai calon penerima penghargaan Satyalencana Pendidikan dari Presiden RI tahun 2016. Ada berkas-berkas yang diperoleh selama dalam 9 aspek yang merepresentasikan "layak" sebagai penerima penghargaan dari Presiden. Pengumpulan berkas-berkas ini, sangat menyita waktu.
Ternyata, ada berkas-berkas juga yang harus dikumpulkan. Aku kembali membayangkan, cari-cari kertas, buka-buka file.
Selesai membaca surat, aku lihat ada pemberitahuan bahwa email yang masuk. Dicek, isinya? Surat panggilan dan daftar nama calon peserta benchmarking Cina. Surat yang sama, dalam arti isi dan tidak bernomor.
Aku berucap terimakasih kepada Allah atas kebaikanNYA aku nanti bisa ke Cina. Kata surat tanggal 26 Februari sampai 5 Maret. 8 hari di Cina, program apa yang akan disediakan untuk kami, guru-guru terpilih? Aku berdoa bahwa kegiatannya lebih banyak belajar dari negeri Cina. Seperti pepatah "Belajarlah sampai ke negeri Cina". Dan, aku akan dibuat sampai ke Cina oleh Kesharlindung. Sungguh anugerah yang luar biasa.
Aku tinggalkan percakapan di group WA. Aku lihat ada tambahan anggota setelah surat pdf. Aku screen shot bagian persyaratan, dan mengunduh formulir pendaftaran yang dilampirkan di email. 
Aku rencanakan besok mulai dibaca cermat , digarap , dan satu urusan selesai.

Sunday, January 29, 2017

Bagaimana Badriah Membuat Blog

Badriah bisa memiliki sebuah blog dengan alamat badriahblog.blogspot.co.id tentu ada sejarahnya.
Berikut disajikan video yang menjelaskan bagaimana sebuah sejarah itu lahir.


In case videonya tidak dapat dibuka, video dapat dibuka dari alamat ini https://youtu.be/X09bR7WbFEs
Blog ini sangat berguna bagi Badriah. Selain membuatnya bisa 'terpaksa' menulis setiap hari, dia juga terpaksa memperlajari cara mengisi blog dengan audio, gambar, serta hal-hal lain yang sebelumbya tidak dia kenal.
Semua ini tidak akant terjadi tanpa bantuan Seamolec.
Terimakasih Seamolec.



Kompleksitas menjadi perempuan cantik

Perempuan dengan segala keindahan dan kecantikannya menawan banyak lawan jenisnya sampai kadang tiba dititik ekstrim seperti melakukan pembunuhan demi pengakuan atas kepemilikan terhadapnya.

Menjadi perempuan cantik secara fisik merupakan impian para perempuan itu sendiri dan menjadi kebanggaan tersendiri untuk para pria jika mampu merebut hatinya kemudian bersanding dengannya.

Demikian pula dengan para perempuan cantik di Indonesia yang pada tahun 1942-1945 berada pada masa cantik-cantiknya, yaitu mereka dengan usia sekitar 13-17 tahun. Mereka menjadi kebanggaan keluarga, idaman para pria, dan harapan ayah bundanya.

Para remaja perempuan  pada masa Perang Dunia ll (1943-1945) tidak jauh berbeda dengan gadis remaja masa kini. Mereka bersekolah, bercita-cita tinggi, ingin membahagiakan keluarga, membela negara, berguna bagi nusa dan bangsa. Apalagi mereka yang berasal dari keluarga ningrat dan pejabat (Pangreh Praja) seperti gunchoo (wedana), sonchoo (camat), kuchoo (kepala desa), dan kumichoo (kepala rukun tetangga), anak gadisnya bersekolah. Mereka ingin menjadi orang terpelajar.

Harapan ini ditangkap Dai Nippon sebagai peluang. Mereka membisikan bahwa para perempuan Indonesia harus disekolahkan ke Jepang dan Singapur untuk kebesaran dan kemenangan Perang Asia Timur Raya. Bisikan ini, tidak viral, tidak menggunakan mass media, cukup dengan lewat berita dari mulut ke mulut. Rupanya Dai Nippon telah paham dari hebatnya dan efektinya teknik propaganda word of mouth.

Para gadis pada saat itu tentu saja sangat antusias mendengar tawaran "disekolahkan" ke Jepang dan Shonanto (Singapur). Apalagi yang menawarkannya adalah orang tuanya sendiri, misalnya. Tak heran, anak-anak gadis banyak yang tertarik untuk mengikuti program ini. Namun, program ini diperuntukkan bagi gadis rupawan saja dan berumur belasan.

Kecantikan gadis usia belasan pada tahun 1943-1945 bagi ratusan (jumlahnya tidak diketahui sampai sekarang) remaja perempuan Indonesia menjadi petaka dengan kengerian yang tak terperikan. Mereka ditipu, dijadikan pemuas nafsu yang dipaksa menyerah kepada murka birahi tanpa kasih. Mereka yang berasal dari keluarga terhormat direbut kehormatannya. Sampai pada akhirnya mereka menganggap dirinyapun tak pantas lagi untuk kembali ke pangkuan keluarga, terlalu malu atas kemalangan tragis atas telah hilangnya harga diri mereka. Mereka yang berniat berbakti kepada negara, kesucian niatnya disalahgunakan oleh kejahatan perang.

Gadis rupawan dengan nasib malang terjadi di negara ini, tidak saja pada masa perang. Pada masa kini, setelah perang berakhir, masih saja berlangsung.
Tersiar kabar bahwa beberapa gadis (lagi-lagi jumlahnya tidak jelas), bagaimana mereka yang dari pedesaan diangkut ke kota untuk dieksploitasi dan diperjualbelikan dengan dalih akan diberi pekerjaan. 

Kejahatan terhadap perempuan sepertinya masih akan terjadi. Setiap masa dengan catatan kelamnya masing-masing. Termasuk didalamnya torehan kisah-kisah gadis cantik yang nasibnya tidak secantik kondisi fisiknya.