Pages

Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Thursday, August 31, 2017

Hari Ke-43 Miskin Motivasi?

Bel berbunyi.  Saatnya literasi. Semua siswa dan guru memegang buku. Sebagian membaca, sebagian mencoba membaca, sebagian memaksa membaca,  sebagian berusaha berdamai dengan membaca. Polah tingkah yang muncul saat literasi (apapun itu) menggembirakan bagi saya yang berharap semua warga sekolah menjadi orang yang berwawasan luas dan kaya informasi sehingga tidak terbawa arus hingar bingar saracen. 

Waktu literasi terasa berlalu lebih cepat dari yang seharusnya. Senyap khas literasi dipenggal bel masuk jam pertama.

Saya meninggalkan kelas 12 MIPA 6 dan masuk ke kelas yang tertera pada jadwal. Jam ke-1 dan ke-2, saya membayangkan semangat siswa pada jam awal melahap pelajaran dengan semangat.
Seusai membagikan lembaran kerja yang telah dinilai, kelas dimulai dengan memasangkan in focus. LCD diharapkan membantu banyak kepada siswa dan guru dari aspek kepraktisan. Misalnya pada saat menayangkan gambar, para siswa dapat melihatnya dengan jelas. Sayang, cahaya dari luar tanpa terhalang selembar benangpun mengakibatkan pantulan cahaya LCD hanya terlihat seperti bayangan di kaca yang 5 tahun belum di bersihkan. Pembelajaran yang direncanakan menarik, berubah membingungkan karena apapun yang ditayangkan tidak terlihat. Para siswa menanggapi kondisi ini dengan berbicara dengan teman sebangkunya. Entah membicarakan pantulan LCD, entah bicara yang lain. 

Situasi tidak nyaman ini segera diputus dengan menyetel rekaman berita sesuai materi yang harus dikuasai siswa. Lembaran pertanyaan diberikan dengan tujuan agar siswa mendapatkan arahan, bagian mana yang harus diperhatikan sehingga nanti berita tersebut  tertangkap informasi utamanya.  Setiap pertanyaan dibahas apa maksud dan tujuannya. Para siswa terlihat datar. Kelas sepi. Saya merasa sendirian di kelas. Siswa tidak bertanya, tidak menyahut, hanya memegang kertas.
Setelah siswa dianggap paham apa yang harus dilakukan selama menyimak rekaman berita,  rekaman disuarakan. Bahasa lnggris yang diucapkan berlogat Inggris British. Tanpa diduga  para siswa berbunyi. Mereka tertawa, saling tatap dengan temannya dan kemudian tertawa lagi. Adakah yang salah dengan rekaman ini?

Terdengar pembaca berita  mengucapkan 'submarine', seorang siswa berujar keras ' sugan maling' diikuti gelak tawa temannya. Selanjutnya mereka menertawakan pembaca berita yang mungkin tidak dapat mereka pahami sedang mengatakan apa. Ajakan agar mencoba konsentrasi pada apa yang diucapkan dengan menyandingkan teks berita yang dipegang dengan bunyi dari rekaman, kurang berhasil. Para siswa terkekeh-kekeh dan sibuk sendiri dengan dunia dan pikirannya.
Mengantisipasi kekacauan, teks saya bacakan dengan perlahan sambil dijelaskan apa maksudnya. Cara ini tentu saja membodohkan siswa. Alasan pertama,  para siswa tidak berkesempatan mendengar variasi  logat bahasa Inggris yang nyata, misalnya bagaimana bahasa Inggris diucapkan orang India, Singapur, Amerika, atau Cina seperti yang disediakan pada rekaman. Kedua, menerjemahkan setiap kata memperlambat kemampuan siswa untuk berpikir kritis dengan cara menebak makna kalimat berdasarkan kosa kata yang telah dimilikinya. Saya sesungguhnya merasa bersalah kepada siswa, namun jika pilihan ini tidak diambil, para siswa membuat kesibukan sendiri,  no engagement at all.
Upaya ini berhasil, sesaat. Para siswa terlihat enggan menemukan informasi dari teks dengan membacanya berulang-ulang didampingi guru agar paham. Wajah mereka menunjukkan  penolakan, dibuktikan dengan mengobrol.  Melihat hal ini bukan berarti  kesabaran guru diuji,  namun harus ditemukan kenapa siswa seolah enggan belajar. Mereka asik ketika mengobrol dengan temannya  (bahkan pada saat pelajaran berlangsung).

Permasalahan ini dikonfirmasikan kepada guru lain. Saya tidak sendiri, guru lainpun mengiyakan bahwa banyak siswa yang seolah hadir ke sekolah agar tidak dimarahi orang tuanya karena tidak berangkat ke sekolah.  Di sekolah,  siswa secara fisik duduk di bangkunya dan menjawab 'hadir' ketika namanya dipanggil.  Setelah itu, urusan selesai, belajar tidak jadi tujuan. Tujuan utama: meninggalkan rumah,  menjawab hadir ketika di absen.

Tulisan di atas hanya ungkapan kekhawatiran guru kepada siswanya yang menyia-nyiakan waktu belajar. Guru yang bersedia menemani belajar diabaikan karena alasan pelajarannya sulit, tidak bakalan bisa, susah, dan alasan klise lainnya.

Wednesday, August 23, 2017

Hari Ke-22 Jangan Berhenti Berlatih agar Terampil

Menikmati hari Minggu dilakukan dengan berbeda cara oleh setiap orang. Bagi saya hari Minggu digunakan untuk berperan sebagai bagian masyarakat. Saya bersosialisasi atau sekadar berbincang ringan dengan tetangga. Saya dianggap kurang sosialisasi di kampung tempat saya tinggal. Hal ini muncul karena pertama, saya jarang ada di rumah. Pergi pagi pulang petang, malamnya tidak keluar rumah. kedua, saya tidak memiliki banyak kesempatan untuk bercengkrama dengan tetangga selain karena rumah saya paling pinggir,  para tetangga juga sungkan untuk berbasa basi mengingat saya hampir tidak pernah berguyon dengan siapapun. Mungkin saya dianggap makhluk paling serius.

Minggu ini saya telah punya janji dengan sesama guru yang hendak berbincang soal tesis. Beruntung sekali, saya memiliki pengalaman menulis tesis. Pengalaman menulis tesis saya dibutuhkan oleh rekan saya ini untuk memotivasinya menulis, maju sidang, dan tangguh menyelesaikan revisi.
Dari pengakuannya saya bisa merasakan kembali ke masa dimana nasib seolah ada di tangan pembimbing dan penguji. Pada saat menulis tesis, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menulis efektif saja. Lebih dari itu. Kekuatan dan daya tahan secara mental. Bagi saya, pada saat itu, hambatan seolah berlapis. Tesis harus ditulis dalam bahasa Inggris sesuai jurusan, kedua konten harus seizin pembimbing. Menulis dalam bahasa Inggris, tentu saja tidak pede, karena bukan bahasa nasional atau bahasa Sunda yang setiap hari dipakai. Memaksanakan diri menulis dalam bahasa Inggris tentu saja menimbulkan masalah tersendiri. Saya melaluinya dengan susah payah.

Hal berat kedua adalah konten. Pengetahuan seorang mahasiswa, jauh bak bumi dengan langit ketika mengkaji sebuah isu pendidikan. Saya merasa tidak tahu dengan apa yang harus ditulis padahal untuk menulis hal lain, tidak ada segelap itu. susah payah pula saya memahami konten yang kemudian harus ditulis sebagai teori, dikaji, dilihat praktiknya, dan dianalisa koneksitas teori dan praktiknya. Rasanya perjalanan yang hampir tiada ujung ketika menghubungkan apa yang dibaca di buku dengan fakta yang ditemukan dari hasil observasi, kemudian ditulis menjadi sebuah temuan.

Kini, hal tersebut dialami teman saya. Saya yakin, dia bingung karena ketidaktahuan apakah pekerjaannya dianggap layak sebagai sebuah temuan. Apakah nanti tulisannya bisa diterima sebagai karya ilmiah yang mengantarkannya memiliki gelar akademik. Saya menjelaskan hal yang saya tahu menyoal penulisan, penyajian, proses persidangan, revisi, sampai wisuda. Penjelasan tersebut membantu meringankan secara mental, sepertinya. Tidak perlu taku sidang, karena jika tidak berani sidang, maka kuliah tidak akan pernah selesai. Stessnya tidak akan berakhir. Lebih baik ikut sidang, seburuk apapun tesis kita saat itu. setelah sidang, akan ada masukan, dan tesis dapat direvisi jika masih diangap belum merepresentasikan kemampuan menulis kita.

Dalam pandangan saya, proses menulis tesis, berat, karena saya tidak memiliki pengalaman menulis sebelumnya. Ketika saya menetapkan melanjutkan kuliah dan ternyata harus diakhiri dengan menulis tesis, hal ini terasa menjadi beban yang mungkin tidak pernah bisa saya atasi. Namun saya jalani, tesis terus menerus dibaca-ditulis ulang-diedit-dibaca ulang, hingga pada akhirnya dianggap mendekati bisa disebut tesis. Selesai, sesederhana itu, sekompleks itu.


Seusai berbincang dan mengenang masa-masa menulis tesis, saya masih merasakan, sampai saat ini, bahwa menulis tidaklah mudah untuk orang yang tidak memiliki bakat seperti saya. Orang berbakat menulis, tanpa sekolahpun, bisa menghasilkan tulisan yang luar biasa. Bagi saya, yang tidak berbakat, hanya bergantung pada ujaran para ahli bahwa menulis adalah keterampilan. Keterampilan artinya sesuatu yang bisa diperoleh karena latihan. Maknanya, saya berpeluang untuk bisa menulis, selama rajin berlatih. Tulisan ini pun adalah wujud latihan saya menulis. Semoga di kemudian hari saya menguasai keterampilan menulis.