Pages

Showing posts with label membaca. Show all posts
Showing posts with label membaca. Show all posts

Monday, June 1, 2020

Wattpad Tempat Cerita Menjadi Hidup

Dalam sebuah obrolan di dalam sebuah grup WhatsApp, Salah satu dari anggotanya menanyakan bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan nilai TOEFL yang memadai untuk kuliah S3. Diantara beberapa tawaran yang saya berikan, saya katakan bahwa Silahkan menggunakan Wattpad untuk mendukung keterampilan membaca.

Membaca The Jakarta Post, jika paham 75%, saya katakan itu artinya menguasai TOEFL sekitar 450. Kemudian saya berikan kopi atau salinan tiga paragraf yang diambil dari Jakarta Post untuk mereka baca. Mereka berkata bahwa mereka tidak paham itu. Karena tidak paham maka Saya tawarkan untuk membaca Wattpad.

Wattpad biasanya ditulis oleh para penulis pemula biasanya anak-anak sekolah yang mendapatkan tugas menulis, atau sedang berlatih menulis. Sehingga bahasa Inggris yang digunakannya kadang-kadang secara gramatikal masih ada salah, atau kadang-kadang juga penggunaan tanda bacanya masih salah. tetapi bagi mereka yang ingin latihan membaca, membaca bahasa Inggris yang ditulis di Wattpad membantu memperkaya kosakata dengan cara yang tidak melelahkan. Kenapa tidak melelahkan tanda tanya Karena kosakata yang diperoleh melalui kegiatan membaca bacaan yang ringan.

Saya mengatakan hal semua diatas itu berdasarkan apa yang saya alami sendiri titik beberapa bulan lalu saya membutuhkan TOEFL untuk mendapatkan beasiswa ke Thailand titik tanpa Saya Sadari saya selalu membaca Wattpad Oma dengan tujuan untuk mendapatkan plot cerita yang sangat tidak terduga yang ditulis oleh anak-anak yang berada di belahan dunia di luar Indonesia titik ragam cerita yang dibuat oleh mereka amat sangat banyak mulai dari hal-hal yang biasa seperti cerita-cerita Roman, mereka juga menulis tentang hal-hal spesifik kesehatan tentang kesehatan, vampir, atau bahkan kisah-kisah masa datang yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran saya sendiri yang berada di Kampung Kebon Manggu.

Kebiasaan membaca tersebut ternyata membantu saya untuk dapat memahami teks teks yang disajikan di TOEFL secara lebih mudah titik enam unsur Saya kira Wattpad menjadi satu-satunya bahan bacaan, Tentu saja sangat salah titik Saya menyarankan membaca Wattpad itu bagi mereka yang bahasa Inggrisnya ketika mereka membaca The Jakarta Post tidak paham sebanyak 75%.

Ada baiknya bagi mereka yang memang ingin meningkatkan TOEFL secara point meningkat membacanya dari Wattpad ke The Jakarta Post. Menurut pengalaman saya pribadi, The Jakarta Post membantu memberikan peningkatan kosakata secara harian. Karena The Jakarta Post menyajikan berita berita berdasarkan kejadian-kejadian yang berlangsung setiap hari. Sebagai contoh saja saya dapat mengenal istilah-istilah terkait dengan wabah korona, dari The Jakarta Post.


Kembali pada grup tadi yang menanyakan bagaimana cara agar dapat membaca bahasa Inggris dengan tidak melelahkan. Saya katakan Wattpad. Kemudian ada yang bertanya Wattpad itu apa? Saya jelaskan pada Wattpad itu seseorang dapat membaca karya orang lain, atau dapat juga kita mengunggah karya kita sehingga dibaca dan dikomentari oleh orang lain. Saya menyarankan agar masuk ke Wattpad yang menggunakan bahasa Inggris. Saya sendiri baru mengetahui dari orang yang bertanya tadi ketika dia mencoba mengunduh Wattpad Ternyata isinya bahasa Indonesia, karena dia mengunduh Wattpad yang di selenggarakan di Indonesia mungkin saya sendiri tidak begitu paham. Hanya untuk Wattpad yang berbahasa Inggris, isinya sama sekali tidak ada yang berbahasa Indonesia. Saya belum mencoba di kolom search Apakah bisa saya mengakses Wattpad yang Bahasa Indonesia. Atau sebaliknya dari Wattpad yang berbahasa Indonesia dari bahasa Indonesia dapat menemukan teks yang berbahasa Inggris. Saya belum mencobanya.

Thursday, August 31, 2017

Hari Ke-43 Miskin Motivasi?

Bel berbunyi.  Saatnya literasi. Semua siswa dan guru memegang buku. Sebagian membaca, sebagian mencoba membaca, sebagian memaksa membaca,  sebagian berusaha berdamai dengan membaca. Polah tingkah yang muncul saat literasi (apapun itu) menggembirakan bagi saya yang berharap semua warga sekolah menjadi orang yang berwawasan luas dan kaya informasi sehingga tidak terbawa arus hingar bingar saracen. 

Waktu literasi terasa berlalu lebih cepat dari yang seharusnya. Senyap khas literasi dipenggal bel masuk jam pertama.

Saya meninggalkan kelas 12 MIPA 6 dan masuk ke kelas yang tertera pada jadwal. Jam ke-1 dan ke-2, saya membayangkan semangat siswa pada jam awal melahap pelajaran dengan semangat.
Seusai membagikan lembaran kerja yang telah dinilai, kelas dimulai dengan memasangkan in focus. LCD diharapkan membantu banyak kepada siswa dan guru dari aspek kepraktisan. Misalnya pada saat menayangkan gambar, para siswa dapat melihatnya dengan jelas. Sayang, cahaya dari luar tanpa terhalang selembar benangpun mengakibatkan pantulan cahaya LCD hanya terlihat seperti bayangan di kaca yang 5 tahun belum di bersihkan. Pembelajaran yang direncanakan menarik, berubah membingungkan karena apapun yang ditayangkan tidak terlihat. Para siswa menanggapi kondisi ini dengan berbicara dengan teman sebangkunya. Entah membicarakan pantulan LCD, entah bicara yang lain. 

Situasi tidak nyaman ini segera diputus dengan menyetel rekaman berita sesuai materi yang harus dikuasai siswa. Lembaran pertanyaan diberikan dengan tujuan agar siswa mendapatkan arahan, bagian mana yang harus diperhatikan sehingga nanti berita tersebut  tertangkap informasi utamanya.  Setiap pertanyaan dibahas apa maksud dan tujuannya. Para siswa terlihat datar. Kelas sepi. Saya merasa sendirian di kelas. Siswa tidak bertanya, tidak menyahut, hanya memegang kertas.
Setelah siswa dianggap paham apa yang harus dilakukan selama menyimak rekaman berita,  rekaman disuarakan. Bahasa lnggris yang diucapkan berlogat Inggris British. Tanpa diduga  para siswa berbunyi. Mereka tertawa, saling tatap dengan temannya dan kemudian tertawa lagi. Adakah yang salah dengan rekaman ini?

Terdengar pembaca berita  mengucapkan 'submarine', seorang siswa berujar keras ' sugan maling' diikuti gelak tawa temannya. Selanjutnya mereka menertawakan pembaca berita yang mungkin tidak dapat mereka pahami sedang mengatakan apa. Ajakan agar mencoba konsentrasi pada apa yang diucapkan dengan menyandingkan teks berita yang dipegang dengan bunyi dari rekaman, kurang berhasil. Para siswa terkekeh-kekeh dan sibuk sendiri dengan dunia dan pikirannya.
Mengantisipasi kekacauan, teks saya bacakan dengan perlahan sambil dijelaskan apa maksudnya. Cara ini tentu saja membodohkan siswa. Alasan pertama,  para siswa tidak berkesempatan mendengar variasi  logat bahasa Inggris yang nyata, misalnya bagaimana bahasa Inggris diucapkan orang India, Singapur, Amerika, atau Cina seperti yang disediakan pada rekaman. Kedua, menerjemahkan setiap kata memperlambat kemampuan siswa untuk berpikir kritis dengan cara menebak makna kalimat berdasarkan kosa kata yang telah dimilikinya. Saya sesungguhnya merasa bersalah kepada siswa, namun jika pilihan ini tidak diambil, para siswa membuat kesibukan sendiri,  no engagement at all.
Upaya ini berhasil, sesaat. Para siswa terlihat enggan menemukan informasi dari teks dengan membacanya berulang-ulang didampingi guru agar paham. Wajah mereka menunjukkan  penolakan, dibuktikan dengan mengobrol.  Melihat hal ini bukan berarti  kesabaran guru diuji,  namun harus ditemukan kenapa siswa seolah enggan belajar. Mereka asik ketika mengobrol dengan temannya  (bahkan pada saat pelajaran berlangsung).

Permasalahan ini dikonfirmasikan kepada guru lain. Saya tidak sendiri, guru lainpun mengiyakan bahwa banyak siswa yang seolah hadir ke sekolah agar tidak dimarahi orang tuanya karena tidak berangkat ke sekolah.  Di sekolah,  siswa secara fisik duduk di bangkunya dan menjawab 'hadir' ketika namanya dipanggil.  Setelah itu, urusan selesai, belajar tidak jadi tujuan. Tujuan utama: meninggalkan rumah,  menjawab hadir ketika di absen.

Tulisan di atas hanya ungkapan kekhawatiran guru kepada siswanya yang menyia-nyiakan waktu belajar. Guru yang bersedia menemani belajar diabaikan karena alasan pelajarannya sulit, tidak bakalan bisa, susah, dan alasan klise lainnya.

Saturday, January 21, 2017

Penggunaan Chapter Report

Visual, auditory, read-write, kinestetic adalah jenis2 gaya belajar siswa. Guru secara terencana harus memanfaatkan gaya belajar untuk membantu siswa menjadi warga akademik. Kegiatan yang nyaris tidak membutuhkan dukungan alat yang merepotkan adalah read-wrte. Yakni mengajak siswa membaca, kemudian menuliskan apa yang dibaca.

Chapter report (CR) termasuk kedalam read-write. Kegiatan CR dilakukan  dengan cara meminta siswa membaca satu bab dari satu buku referensi yang ditentukan.  Untuk mengecek pemahaman terhadap isi bab yang dibaca, siswa diminta membuat kesimpulan atau rangkuman dari teks yang dipelajari.
Cara yang digunakan pada saat merangkum misalnya dengan menggunakan dua kolom. Kolom pertama untuk istilah, kolom kedua untuk penjelasan. Maksudnya, jika ada istilah atau definisi ditulis pada kolom kesatu. Dan penjelasannya dibuat pada kolom kedua.

Cara CR ternyata handal untuk membantu siswa memahami teks secara lebih dalam. Hal ini terjadi karena teks diberikan pada beberapa minggu sebelum teks tersebut dijadikan bahan diskusi dan analisis. Jika siswa menemukan kesulitan memahami teks atau membutuhkan penjelasan tambahan agar teks lebih dipahami, maka mereka harus membaca referensi lain yang terkait dengan teks tersebut.

CR membantu siswa belajar mandiri. Melalui mencatat, mencari definisi, menemukan makna istilah, mereka bebas menuliskan temuan pada kolom. Jika ingin paham lebih banyak, mereka dapat membuka lain yang sejenis sehingga pemahaman utuh diperoleh.
Cara ini tentu saja meningkatkan kemampuan membaca.

Namun ada hal yang harus diperhatikan. CR memiliki kelemahan. Yaitu siswa tidak membaca semua teks karena berfokus pada kata kata kunci dan mencari penjelasannya.
Kedua, bagi siswa yang malas membaca, ketika harus melengkapi pemahaman dengan membaca buku dari buku lain yang berhubungan dengan tema, ini  dianggap  memberatkan.
Ketiga, ada kemungkinan siswa menyontek hasil CR temannya karena enggan membaca.
Dan, Kesulitan yang dihadapi pendidik adalah memeriksa keaslian tulisan, dalam arti menentukan mana yang menulis CR asli, mana yang menyontek dari CR temannya.

Terlepas dari kekurangan CR yang ditulis di atas, Cr sangat baik untuk melatih memahami teks.

Masalahnya: Membaca

Kebiasaan membaca bangsa Indonesia berada posisi ke 96 dari 100 negara (human development index, 2010). Padahal, di Indonesia sekolah dimana -mana, perpustakaan dimana-mana.

Kenapa literasi bangsa Indonesia tertinggal begitu jauh dari negara saudaranya seperti Malaysia, Singapur?

Salah satu faktor penyebabnya adalah budaya "berbicara dan menyimak' mendapat tempat lebih luas dari membaca.
Faktor kedua, diasumsikan manajemen perpustakaan kurang menarik pembaca dan (kurang dukungan finansial)
Ketiga, belum ikhlas menggunakan uang untuk membeli buku (dibandingkan memveli pulsa).
Terakhir, membludaknya hal-hal menggoda dari internet dan media elektronik lainnya.

Literasi
Literasi dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis.
Tak heran di Indonesia, berbondong-bondong orang tua mengirimkan anaknya ke sekolah agar mereka segera literat (bisa baca tulis).
Cara ini pada akhirnya tidak berhasil membuat anak-anak menjadi literat.
Sebagai solusi, pengenalan literasi sebaiknya dimulai dari.rumah.
Bisa dimulai dengan literat bahasa lisan yang sesuai sesuai konteks diajarkan dalam.keluarga.
Kemudian, pengenalan ragam bahasa tulis dengan mengenalkan buku dan membangum.kecintaan pada buku.
Langkah selanjutnya,  izinkan anak-anak 'menyentuh' buku dan isinya diceritakan orang tua.
Cara diatas memberikan manfaat bagi anak-anak dalam bentuk kekayaan kosa kata, struktur kalimat yang berterima, dan pengetahuan tentang naratif.

Tidak ada kata terlambat untuk mulai menjadi literat. Menyediakan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca, menuliskan apa yang dibaca dapat menjadi aksi literasi personal, dan mengimplementasikan hal2 baik dari yang dibaca dapat menjadi literasi secara sikap.