Sebelum mengenal lebih jauh Anne Frank, coba simak kisah hidup Anne Frank.
Klik audio di bawah ini untuk menyimak.
Sambil menyimak lengkapi teks rumpang yang disediakan pada file pdf di bawah ini.
Hampir setiap hari kita disuguhi informasi kurang menyenangkan tentang pendidikan di negeri ini. TV memberitakan tawuran antar pelajar yang secara brutal saling bertukar lempar batu. Siswa SD membunuh temannya karena hal kecil yang sama sekali tak masuk akal untuk jadi alasan merenggut nyawa seseorang. Baru-baru ini diberitakan seorang lbu kehilangan anaknya untuk selamanya karena nyawanya dengan tanpa manusiawi disingkirkan temannya sendiri pada saat kegiatan kampus yang dikelola kakak tingkat.
Kengerian, kekejaman, dan tindakan biadab merusak sakralnya pendidikan. Pendidikan yang masih menjadi tumpuan perubahan hidup, berubah menjadi tempat yang menghancurkan hidup.
Anak seorang petani disekolahkan dengan hampir menjual sawah yang menjadi satu-satunya sumber biaya pendidikannya. Anak pedagang, disekolahkan dengan menghabiskan hampir sampai ke modal pokoknya.
Pendidikan tidak melahirkan anak petani, anak pedagang yang terdidik. Tamat sekolah, anak petani, malu jadi anak petani dan tidak mau bertani. Demikian pula dengan anak pedagang.
Pendidikan seolah membuat kepribadian baru yang tidak sesuai harapan, biaya, dan waktu yang telah dikorbankannya.
Pendidikan menaikkan gengsi dalam meningkatkan rasa malu untuk menjadi warga negara pekerja keras seperti yang dilakukan orang tua dan pendahulunya.
Kembali ke kodrat
Diasumsikan terjadinya produk pendidikan yang tidak sesuai harapan karena kurikulum. Namun asumsi ini ditolak. Kurikulum telah direncanakan dan dibuat sedemikian rupa sehingga menyentuh sisi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara seimbang.
Dugaan lain muncul, guru kurang mumpuni untuk menghasilkan warga negara yang santun namun terdidik. Dugaan ini dimentahkan dengan fakta guru di Indonesia telah tersertifikasi dan paling tidak lulusan S1.
Hasil penelitian mengatakan bahwa proses pendidikan harus dilakukan secara otentik sehingga melahirkan pengalaman belajar otentik.
Saat ini ditenggarai, pendidikan mencoba melakukan penilaian secara otentik namun tidak dibarengi dengan pemberian pengalaman belajar yang otentik.
Belajar seolah sebuah pekerjaan yang ditandai dengan adanya hasil, yaitu nilai. Pemikiran ini terlalu menyederhanakan belajar. Akibat dari cara pandang ini, maka proses belajar tidak mengikuti alamiahnya manusia belajar. Sebagai contoh, dalam belajar bahasa.
Manusia bisa menguasai bahasa dengan mendengar, meniru, mencoba mengucapkan berulang-ulang, ketika salah orang tua/siapapun yang ada pada saat mendampingi membetulkannnya, mencoba membuat kombinasi kalimat dengan menggabungkan kosa kata, barulah bisa berbicara.
Hal ini tidak terjadi di dalam kelas sebagai komunitas baru tempat diperolehnya bahasa asing misalnya. Tidak sedikit pelajaran berbahasa untuk membuat siswa mampu berkomunikasi dalam bahasa tersebut, berubah menjadi pelajaran tentang bahasa. Akibatnya para siswa menghafal rumus kalimat.
Cara ini, tidak otentik. Hasilnya, tidak otentik. Sejatinya mampu berkomunikasi dalam bahasa asing, menjadi menguasai tata bahasa asing.
Belajar apapun sebaiknya mengikuti fitrahnya dan kodratnya. Jika pendidikan berharap lulusannya menjadi warga negara yang baik, misalnya bertutur sopan. Mulailah dengan menjadikan lingkungan sekolah sebagai miniatur tempat orang-orang bertutur baik. Siswa dengan mudah membandingkan berbahasa dirinya dengan orang lain. Dengan kesadaran sendiri dia memperbaiki kesalahan berbahasanya.
Ketika pendidikan berharap lulusannya mampu menulis. Tunjukkan bagaimana proses menulis, bukan teori cara menulis.
Mengikuti kodrat bagaimana belajar dalam kehidupan yang sesungguhnya, dan ketika cara ini diterapkan pada proses pemerolehan pengalaman belajar akan membantu siswa benar-benar belajar.
Secara kodrati dalam belajar mengalami kesulitan dan beberapa hambatan. Hal ini harus tetap jadi bagian dari proses belajar. Salah benar jika belajar dianggap selesai dengan diperolehnya angka nilai.
Fakta
Tidak sedikit para orangtua (notabene orang Cianjur) yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama dan bahasa lbu. Alasan yang mendasarinya karena mereka tidak menguasai undak usuk (aturan penggunaan bahasa berdasarkan level, tenor), bahasa Sunda sulit, khawatir tidak memahami bahasa Indonesia ketika masuk sekolah formal, dan bergengsi jika anaknya bisa berbahasa Indonesia.
Posisi bahasa Sunda di Cianjur, sebagai bahasa daerah, bahasa lbu untuk penduduk asli Cianjur, kini tergeser oleh bahasa persatuan dan bahasa pergaulan internasional.
Padahal contoh membuktikan bahwa penggunaan bahasa daerah tidak mbuat sebuah daerah menjadi berskala lokal. Sebagai contoh nyata adalah Jepang.
Jepang menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa lbu, bahasa di rumah, di pergaulan, dan di sekolah. Namun tidak demikian dengan kasus Cianjur. Sebagian keluarga masih menggunakan bahasa Sunda di rumah, menggunakan bahasa Indonesia di pergaulan dan sekolah, beranjak ke bahasa Inggris dan asing lainnya untuk komunikasi global.
Solusi
Bahasa Sunda dapat berjaya seperti halnya bahasa Jepang. Mewujudkan kejayaan bahasa Sunda perlu upaya dan dukungan.
Pertama, jadikan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar di sekolah. Cara ini menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar ilmu pengetahuan. Dan menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa yang digunakan untuk mencatat dan mengkomunikasikan pengetahuan. Sampai SD kelas 6, gunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar pendidikan.
Pemerintah harus mengawal keterlaksanaan hal ini dengan menggunakan otonomi daerahnya.
Kedua, gunakan bahasa Sunda dalam bahasa pergaulan dan pertemuan formal yang dilakukan oleh para pejabat. Bupati dan Gubernur yang menggunakan bahasa Sunda menjadi model pengguna bahasa Sunda. Bupati pidato dalam bahasa Sunda, Gubernur pidato dalam bahasa Sunda. Bukan untuk mengundang decak kekaguman, namun untuk menjadi role model yang harus ditiru seluruh warga.
Ketiga, buka kursus dan pelatihan bahasa Sunda. Ajarkan kembali dan contohkan lentong, rengkuh, pasemon. Lentong adalah intonasi yang khas dalam bahasa Sunda. Misalnya untuk greeting dengan rumus tidak lebih dari 3 kata, misalnya Bade angkat kamana? Lentong jatuh pada suku kata ke-2 dari akhir dengan cara dipanjangkan. Rengkuh adalah posisi tubuh pada saat berbicara dan pasemon ada mimik atau wajah pada waktu berkomunikasi.
Bahasa Sunda harus menjadi bahasa penghela ilmu pengetahuan, pergaulan, dan kegiatan formal sehingga nilai kebahasaanya naik. Agar hal ini terwujud perlu dukungan pemerintah daerah.
|
Questions
|
Yes
|
No
|
|
Is there a caption title?
|
|
|
|
Does the caption use complete sentence?
|
|
|
|
Does the caption answer the 5WH-questions?
|
|
|
|
Does the caption have more than 2 sentences?
|
|
|
|
Is the caption written in the present tense?
|
|
|
|
Is the photo credit included in the caption?
|
|
|
![]() |
| Time Line Siswa Halaman 1 |
![]() |
| Time Line Halaman 2 |
![]() |
| Surat untuk Tuhan #1 |
![]() |
| Surat untuk Tuhan #2 |
![]() |
| Surat untuk Tuhan # 3 |
Pada sebuah seminar dua orang mahasiswa S2 universitas negeri dari Bandung menyampaikan lexical density pada buku bahasa lnggris SMA.
Mereka memulai sajian dengan mengatakan bahasa 'bahasa digunakan untuk berkomunikasi. Bahasa Inggris berperan sebagai bahasa internasional diajarkan di sekolah menengah atas'.
Mereka melanjutkan bahwa kehadirannya di seminar untuk menyampaikan hasil kajian lexical density bahasa Inggris yang digunakan pada buku di SMA, peneliti menggunakan 3 buku dari penerbit yang berbeda.
Mereka menemukan bahwa buku yang terpadat leksikonnya adalah dari Kemendikbud dengan persentasi kepadatan 62,98%, buku dari Erlangga 53,25%, dan dari Yrama Widya 55,9%. Teks Deskriptif dari Kemendikbud kepadatan leksikonnya 76,69%, Biografi dari Erlangga 71,5%, dan Ekspsisi Yrama Widya 71,76%.
Pertanyaan yang muncul: apakah ini implikasinya bagi guru?
#justwondering