Saturday, March 4, 2017
Literasi dalam Pembelajaran (edisi 1)
Friday, March 3, 2017
Literasi berbasis pembiasaan vs berbasis produk
Anak jaman sekarang tumbuh pada lingkungan multi teks. Mereka mendapatkan informasi dari berbagai sumber yang berbeda. Pada saat pra sekolah mengetahui serunya SpongeBob dari televisi. Mereka mendapatkan gambaran terkait pertemanan multi etnis. Pada saat SD mengenal
Fairfield Marriott bagiku
Marriot, nama yang rasanya pernah terdengar. Entah dimana, kapan, dan acara apa. Tapi pikiranku mengarahkan ke bom. Peristiwa pengeboman. Apa iya pernah ada kaitan antara pengeboman dengan Marriott.
Aku kali ini bersentuhan dengan nama Marriott. JW Marriott? Semula, Marriott saja yang menjadi patokan. Oleh karenanya ketika turun pesawat ditawari Blue Bird diantar, aku sebut kata Marriott serta merta oh sekian ribu kata mereka kalau mau diantar ke nama Marriott, hotel.
Perjalanan menuju Marriott dalam pengalaman pertama menginjak Surabaya disuguhi pemandangan jalan macet karena akan menyambut kehadiran Wapres yang akan meresmikan salah satu Universitas berNU. Jalan dibuat "steril", dan jalan orang kebanyakan dibuat sesak. Di sisi kiri kanan jalan dihiasi warung,-warung, kios-kios , dan toko-toko, suasana yang sama ketika masuk ke kota besar untuk pertama kali seperti Medan.
Menelusuri sebuah kota untuk pertama kali, selalu memberikan kesan yang sama yakni tipikal kota sedang berkembang dimana gedung2 baru ramping pencakar langit tumbuh menjamur sedangkan di sekitarnya bangunan tua hampir reyot bertahan untuk berdiri. Kesenjangan yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin nyata terlihat nyata dari komposisi gedung ini.
Sambil menikmati Surabaya dengan bonus udara siangnya yang panas, sopir berbelok ke kiri. Terlihat gerbang nan megah, tertulis JW Marriott. Aku tertegun, untuk pelatihan guru, gerbangnya setinggi ini, gedungnya semegah ini. Ini pasti salah. Dan memang salah. Ketika kulihat di undangan, bukan JW Marriott tapi Fairfield Marriott.
Pelatihan pedagogik profesional guru biasanya pada hotel, namun tidak di hotel seperti JW Marriott. Biasanya di tempat pelatihan2 yang disediakan oleh LPMP, dengan kamar sederhana, makan sederhana, dan bangunan sederhana. Bagi guru, tempat sangat sederhana sekalipun (tidak ada air untuk mandi, tidak ada nasi karena kehabisan) tidak pernah dipermasalahkan. Kemuliaan guru membuatnya menerima tanpa banyak keluhan, dianggap sebagai bagian dari penerapan pendidikan karakter.
Kembali ke Marriott, setelah yakin bahwa itu bukan Marriott yang dicari, supir Blue Bird putar balik stir dan menuju Marriott untuk guru. Marriott yang masih sekitar enam kilo meter lagi jauhnya. Hotel baru dibangun dengan kamar model minimalis, dan makan minimalis (banyak guru tidak kebagian makan karena keburu habis, padahal makannya ala porsi guru yang ingin terlihat langsing dengan mengurangi karbo).
Tiga malam di Fairfield Marriott, memberikan kesan mendalam. Kegiatan guru yang menuntut kinerja overtime (mulai pukul 7.30 selesai pukul 12 malam) memungkinkan untuk berkata "aku tidak ingat bagaimana rasanya tidur di Marriott, tidak pula ingat apakah sempat tidur.
Bagiku sendiri, Marriott mengenalkan pada guru dari wilayah timur Indonesia: Kupang, Bali, Malang. Pertemuan yang mengesankan karena bertemu guru2 pekerja keras yang siap memajukan anak bangsa.
Marriott menjadi tambahan spot tempat yang pernah aku kunjungi. Seperti halnya tempat lain yang pernah aku kunjungi, Marriott meninggalkan kesan tersendiri.
Friday, February 17, 2017
Menangkal Kesulitan Merencanakan Pembelajaran
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan bagian dari tugas profesional tenaga pendidik. Perencanaan pembelajaran sangat penting dilakukan oleh tenaga pendidik karena pada saat itulah tujuan pembelajaran ditetapkan, langkah-langkah pemberian pengalaman belajar diurutkan, dan pengukuran keberhasilan penguasaan kompetensi peserta didik diatur.
Untuk menghasilkan sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran, para ahli bersepakat bahwa tidak ada format statis yang berlaku disemua tempat dan tidak ada cara yang paling benar untuk membuatnya. Oleh karena tidak adanya kebakuan dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sebagian guru menghadapi kesulitan dalam membuatnya. Kesulitan ini mengakibatkan: proses pemberian pengalaman belajar berjalan tanpa menggunakan acuan RPP; menggunakan buku pelajaran sebagai patokan; atau memperlakukan kegiatan belajar-mengajar sebagai kegiatan rutin yang tidak memerlukan lagi perencanaan.
Di Indonesia, keluh kesah pembuatan RPP dapat diminimalisir karena pemerintah mengeluarkan Permendiknas nomor 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah yang didalamnya memuat penjelasan mengenai rancangan penyusunan rencana pembelajaran. Dengan adanya Permendiknas ini sebagian besar kesulitan guru dalam melakukan perancangan pembelajaran dapat diatasi. Namun, sebelum melakukan proses menulis RPP, sebaiknya para guru melakukan hal-hal berikut.
Pertama, membaca silabus mata pelajaran yang diampu dengan seksama. Dengan membaca silabus akan diketahui kompetensi dasar minimal yang harus dikuasai oleh peserta didik, langkah-langkah pemberian pengalaman belajar, alokasi waktu yang bisa digunakan, jenis penilaian yang ditagihkan dan sumber belajar yang dapat dipakai.
Kedua, melakukan analisis terhadap silabus yang memuat Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar sehingga dapat dipetakan cakupan materi ajar, indikator pencapaian kompetensi yang akan ditetapkan, jumlah alokasi waktu untuk setiap materi ajar, sebaran pemberian materi per semester, penetapan waktu untuk melakukan ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester.
Ketiga, membaca Permendiknas Nomor 103 Tahun 2014. Permendiknas ini memberikan penjelasan yang rinci mengenai batasan dan peristilahan yang berkaitan dengan perancangan pembelajaran. Telaah dan kajian mendalam terhadap setiap pasalnya dapat menjadi memberikan gambaran gamblang mengenai RPP dan aturan lain terkait pembuatan RPP.
Keempat, menelaah lampiran Permendiknas Nomor 103 Tahun 2014. Pada bagian lampiran dijelaskan secara rinci pengertian, konsep, prinsip, lingkup, mekanisme, komponen dan sistematika RPP. Dengan mengacu pada komponen dan sistematika RPP, paling tidak penulisan RPP mendekati setengah selesai.
Kelima, tulislah RPP dengan mengacu kepada komponen dan sistemtika yang ditetapkan. Perhatikan perubahan-perubahan yang membedakannya dengan cara penulisan pada peraturan sebelumnya. Sebagai contoh, tujuan pembelajaran dan metode pembelajaran tidak lagi dicantumkan.
Membuat RPP menjadi keasyikan tersendiri ketika mekanismenya telah diketahui dan sistematikanya telah dikuasai. Diibaratkan ‘pemandu jalan’, RPP membantu tenaga pendidik melaksanakan proses pemberian pengalaman belajar dengan lebih efektif dan efisien. RPP yang telah dibuat dan diaplikasikan untuk memberikan pengalaman belajar merupakan wujud tanggung jawab profesional. Oleh karenanya diperlukan kerangka pikir dan langkah kerja profesional untuk mewujudkannya.
Sunday, February 12, 2017
Wabah SKP (#1)
Aku mau memberitahukan sebuah rahasia besar yang sekarang sedang dialami para guru SMA dan SMK. Para guru itu, mereka semua sedang sakit kepala, hilang kesabaran, menyesal ada teknologi, dan satu lagi, sebel karena tidak berdaya pada saat dipindahtangankan ke Provinsi. Aku bilang semua, ya semuanya, termasuk Kepala Sekolah. Kepala sekolah juga guru. Guru yang mendapatkan tugas tambahan jadi menejer sekolah.
Mulai tahun 2017, para guru SMA/SMK katanya berdasarkan peraturan yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan pasti ini didukung Presiden, guru-guru dikelola oleh Provinsi. Akibatnya, segala hal berkaitan dengan guru SMA/SMK harus diurusi dan mengurusi ke Provinsi. Katanya ada UPTD, tapi para guru itu belum pernah bertemu UPTD. Apakah UPTD itu tinggalnya dekat-dekat sekolah atau punya rumah sendiri yang alamatnya bisa di cari pakai Google Map atau Waze. Guru-guru itu juga belum kenal, UPTD bisa memberikan pertolongan apa saja kepada mereka. Jadinya, sekarang guru-guru lebih banyak ngerumpi di kantor ruang guru. Sekedar melepaskan kebingungan berbagi kekhawatiran kepada guru-guru lainnya yang juga sama-sama bingung.
Sekitar tiga minggu lalu, para guru disuguhi briefing. Briefing guru, ya tidak sama dengan briefing-briefing yang kita kenal. Sesuai namanya, kita tahu briefing itu penjelasan singkat yang lebih panjang sedikit dari memo. Nah briefing guru yang ini, lama. Mulai dari jam 8 sampai jam 10 lebib 23 menit. Tapi tidak apa-apa, itu kan briefing guru. Guru itu penentu masa depan bangsa. Sangat dipahami jika briefingnya lama, karena mereka mengurusi masa depan bangsa ini.
Briefing untuk para guru menyoal SKP online. Pasti tidak tahu kan apa SKP. Aku juga belum tahu persis. Hanya saja, katanya SKP itu sangat menentukan hidup matinya dan maju mundurnya karir guru. Kita anggap saja SKP adalah tamu penting yang harus dilayani guru selain dia harus tetap melayani siswanya. Guru itu memang pelayan, yaitu melayani masyarakat dengan keprofesiannya.
Tamu bernama SKP ini tentu saja sebelumnya pernah bertemu para guru. Hanya saja dia memakai wajah yang beda. Kini dia datang berkacamata kekinian, berbasis teknologi, namanya online atau kalau kata menteri pendidikan yang lalu, Anies Baswedan, dalam jaringan, singakatannya daring. Bertemu tamu lawas yang tidak jadi silaturahmi dan melahirkan pertemanan, memang jadi tidak enak. Para guru tidak enak jika didatangi SKP. SKP juga tidak enak jika bertamu kepada guru. Keduanya tidak pernah akur, tapi dipaksa saling kenal dan belajar dari satu sama lain.
Briefing soal tamu bernama SKP membuat guru meninggalkan ruang briefing dengan wajah yang kurang enak. Akibatnya ada sisa waktu buat ngajar sekitar 40 menit, tidak dipakai ngajar, karena pikirannya masih tertambat pada tamu, si SKP itu. Para guru membayangkan hal-hal mengerikan akan terjadi ketika mereka harus ada kontak virtual dengan SKP. Bayangan penderitaan ketika diberi tamu bernama GP masih membekas. Kontak virtual dengan GP memberikan kenangan getir. Sama getirnya dengan kenangan kontak virtual dengan teman sebelumnya yang bernama Dapodik.
Para guru menghela nafas panjang. Pikirannya tertuju pada jaringan internet yang dibutuhkan untuk silaturahmi dengan SKP. Pikiran lainnya, waktu. Terbayang jelas, pastilah lama untuk mengunggah satu data, apalagi jika ada ratusan data yang menunggu diunggah. Servernya berputar-putar dan ujung-ujungnya muncul "html error" atau notifikasi lain yang memberitahukan bahwa silaturahmi tidak lancar.
Helaan nafas itu semakin panjang ketika dari briefing itu disebutkan bahwa SKP harus selesai sebelum tanggal 15 dan SKP harus dijiarahi setiap bulan!!!
Saturday, February 11, 2017
(Menuju) Cina (23January 2017)
Kami, tidak punya akses untuk menyentuh kebijakan. Tidak ada power untuk membuat kondisi pemberian apresiasi ini menjadi ideal. Kami posisinya penerima keputusan.
Semoga saja yang diamanati tanggung jawab untuk memberikan apresiasi untuk beberapa orang guru terpilih tidak melihatnya sebagai sebuah kesia-siaan dan merasa tidak perlu ada apresiasi, cukuplah guru mah diberi piala, lha wong dia pahlawan tanpa tanda jasa.
Friday, February 10, 2017
(Menuju) Cina (22 January 2017'
Weekend, maka adminpun weekend. Dia berpesan," Selamat pagi. Surat pemanggilan belum bisa diberi nomor dan ditandatangani oleh Pak Direktur sebelum beliau berkonsultasi dengan Bapak Dirjen. Insya Allah hari Senin, jika Pak Dirjen ada waktu... kami menghadap beliau dengan membawa TOR yang sudah jadi. Jadi mohon doa restunya ya, Bapak/Ibu! Semoga lancar jaya... Maaf kalau weekend saya ga buka HP ini. Jadi nanti saya aktif lagi hari Senin. Terima kasih dan selamat berakhir pekan."
Pemberitahuan di atas sangat bagus, artinya pada weekend gawai dimatikan dan menghabiskan semua waktu untuk keluarga.
Aku baru bisa menghubungkan, inilah maksud dari full day school. Weekend, hanya untuk keluarga.
Pada saat weekend, lbu-lbu kantoran memulai harinya dengan pergi ke pasar. Beli bahan- bahan makanan sehat untuk keluarga, kemudian memasak makanan favorite keluarga. Kemudian makan bersama. Surga kecil.
Aku mungkin memiliki weekend akibat pelaksanaan kebijakan. Namun aku sendiri, belum mampu weekend. Berperan sebagai kepala keluarga yang menghidupi tiga orang, weekend untuk sementara ditunda dulu.
Aku harus bekerja keras, melebihi kekuatanku jika mungkin. Misalnya, sesekali aku bekerja diluar tugas utama untuk menggenapi kebutuhan. Bekerja dari pagi (pukul 8), istirahat duhur dan magrib, bekerja lagi sampai pukul 10 malam, plus mengerjakan yang tidak selesai. Jadilah tidur pukul 12. Bangun pukul 4, bekerja sampai jam 6.
24 jam bekerja sepertu itu dihargai 150 ribu. Weekend menjadi terhapus dalam kamusku, karena kerja luar dengan dedikasi sehari 14 jam pun tidak mampu mencukupinya.
Perolehan kerja keras mampu menjaga keluargaku dari lapar. Dalam arti tidak kelaparan.
Sesekali anakku hanya bisa melihat orang lain sekeluarga makan di DeBaksoku, dan itu jadi sudah biasa. Setiap upah kerjaku, benar-benar hanya bisa menghidupi keluargaku.
Dengan sedikit bonus, tahun ini si sulung bisa terbayar kuliahnya. Bonus tambahan, minggu imo si ade bisa beli sepatu di toko Bata seharga 199.900. Si ade walaupun anak SD, sangat hati-hati jika meminta sesuatu; dia lebih dulu berkata bahwa ingin punya sepatu yang kuat (tahun lalu beli sepatu diskonan hanya bertahan 6 bulan, kalah sama hujan, sisanya tiap pulang sekolah kedinginan karena sepatunya patah bagian bawahnya dan air masuk kedalamnya).
Tentu aku akan tidak dipercaya jika tidak dapat menikmati weekend dengan gelar dan prestasi kerjaku. Apalagi aku bisa berblog dan menulis menuju Cina. Dagelan apa yang aku mainkan?