Pages

Thursday, September 13, 2018

Mati yang kedua kalinya

Karena tidak tahu dimana Golden Boutique Hotel Melawai Blok M Jakarta, maka dengan sendirinya jempol mengakses hape. Belanja kuota 500 MB seharga 5k untuk 3 hari.

Sambil membeli kuota,  dibuka juga aplikasi lain yaitu WA, dalam benak mengatakan cek WA untuk memastikan bahwa para siswa mengerti tugas. Sebaliknya jika ada pertanyaan, dapat segera diantisipasi.

Tanpa perintah, jempol membuka LINE, seolah dia telah bekerja secara tanpa perlu protokol. Membagi layar menjadi 2 tampilan sekaligus. Otak mengatakan cek pendapat siswa mantan 12 MIPA 6 tentang cover buku Project 365.

Kembali ke mode awal. Saya mengecek apakah pembelian kuota telah sukses. Mungkin daerah tol miskin sinyal. Buktinya setelah masuk kota Jakarta, pemberitahuan muncul bahwa pembelian kuota youtube unlimited berhasil. Entahlah nama paketnya kenapa youtube unlimited.  Padahal kalau dipakai tanpa sela,  sehari saja beryoutube, maka secara sistem layanan internet akan berisik memberi tahu sisa kuota anda tonggal 25MB. Jadi sama sekali tidak ada layanan unlimited. You are limited.

Saya membuka google map, dan mematikan WA, juga LINE. Fokus pada map. Tiba2 klek, drop dead hapenya mati. Waduh, ini kali kedua hapenya mati. Untung sebelum mati saya telah menghafal alamat yang akan dituju. Golden Boutique Hotel Melawai Blok M Jakarta selatan, Jalan Melawai.  Supir travel tidak mengantarkan sampai hotel, hanya tunjuk2 bahwa saya tinggal jalan kaki sekian meter. Cara supir travel ini amat aneh. Pertama dia mengambil.uang 100k tanpa kembalikan,  seharusnya saya bayar 80k. Kedua, dia menurunkan saya dan satu penumpang lainnya di tempat yang sama, padahal tujuannya berbeda,  dan menyuruh kami berdua jalan kaki atau naik grab lagi untuk sampai tujuan. Beda sekali dengan supir yang sebelumnya.  Dia sangat baik. Pada saat ada barang penumpang yang tertinggal, dia putar balik, dan menyerahkannya sebelum di empunya barang ngeuh kalau barangnya ada yang tertinggal di mobil travel. Ini mah lain, penumpang di suruh jalan, ambil bayaran melebihi perjanjian.

Saya berjalan menuju hotel sambil bingung.  Bagaimana nanti saya pulang kalau hapenya mati, saya tidak bisa memesan travel jalur balik. Saya juga tidak bisa meminta bantuan suami untuk dijemput, hapenya mati, saya tidak hafal nomornya. Tidak bisa mengajak pulang bersama anak saya, hapenya mati, saya tidak hafal nomor dia juga.

Rencana menuliskan apa yang dilakukan setiap hari,  batal. Hapenya mati, layanan offline blog juga, mati.
Saya mecoba menghidupkan hape dengan memencet tombol start. Hapenya bergetar, tapi tidak berhasil. Pikiran langsung loncat. Blok M kan tempat orang2 berjualan, termasuk jual hape. Saya beli hape murah saja, itu yang terpikirkan. Tapi beli hape baru, artinya akan mengurangi uang untuk pengobatan mata. Belum lagi, nanti menambah beban untuk beli pulsa. Dua hape? Saya tidak mampu membiayainya.

Bayangan kesulitan yang akan muncul karena hape mati datang silih berganti. Semuanya membuat saya bingung. Keberfungsian hape menjadi keharusan agar hidup saya dimudahkan.

Sesampai di hotel,  hal pertama adalah menitip tas dan menuju mall blok M untuk mencari solusi buat hape. Mengarungi belantara blok M tidak mudah untuk non eksplorer. Sambil berjalan saya membuat peta dalam kepala agar tidak tersesat dan kebingungan mencari jalan arah pulang. Saya mendikte diri sendiri, jika berangkat naik lift belok kanan , maka pulangnya turun lift belok kiri. Saya mencoba mengenali tempat untuk penanda.

Hapenya hidup kembali, abort, rencana membeli hape baru dibatalkan. Selain uangnya tak ada, saya tak melihat ada anjungan tunai untuk mengambil uang. Hapenya hidup, sayapun bisa melangsungkan hidup dengan normal.

Tuesday, September 11, 2018

Kontemplasi dan Legasi

Hari ini adalah 1 Muharram 1440 Hijriah, Setiap orang menyambutnya dengan cara yang berbeda. Excel, anakku, menyambutnya dengan ikut serta mengabadikan wajah 13 tahunnya pada kegiatan kelas 8 SMPnya di Kebun Raya Cibodas. Yankie, suamiku, mengisinya dengan menjadi bagian dari pengajian Buya Yahya-pendiri Al Bahjah yang membuka pengajian serta pendidikan pesantren di Cijedil. Miracle, anakku yang pertama, mengisinya dengan menyiapkan presentasi mata kuliahnya.

Aku sendiri. Mengisi ruang rumah 8 x 12 meter persegi dengan jasad yang duduk dihalang dinding tembok pemisah ribuan pusara.

Terpikir betapa telah lama aku tidak mampu membahagiakan diriku sendiri. Impian membahagiakan diri sendiri selalu saja tidak mampu terpenuhi.

Betapa jauhnya merengkuh bahagia.

Mungkin terdengar janggal bagi orang yang melihatku dari luar. Aku terlihat baik-baik saja.

Sesungguhnya aku hanyalah jasad kosong, tanpa mimpi lagi. Pikiranku mulai lebih banyak berpikir tentang kematian. Bahkan blog inipun dianggap sebagai bagian dari persiapan kematian. Blob in diharapkan kelak sebuah legacy yang mengabadikan apa yang kurasakan dan kupikirkan.  Aku tidak memiliki banyak harta jadi inilah harta yang bisa diberikan: tulisan di blog.

Saat ini, terasa pula begitu sulit untuk melakukan yang sangat mudah bagi orang lain. Menangis. Aku harus bisa tidak menangis. Setiap butir air mata adalah perih yang akan memenuhi rongga mata yang sedang dalam kondisi iritasi dan berdarah. Perih yang dirasakan sebagai rejam pada setiap kali mata mengedip.

Jangan memandangku sebagai pribadi yang lemah yang tidak kuat manahan nyeri. Usaha menjadi individu kuat telah dilakukan sejak berpuluh tahun silam, bahkan sampai hari ini. Kini, kemampuan melihatku makin berkurang, Dokter mengatakan satu-satunya mataku yang masih bisa melihat sudah dalam kondisi plus 2. Sangat cepat perubahannya. Dalam waktu kurang dari setahun bertambah dari plus 1,75 menjadi 2. Tentu saja plus ini bukan berarti bagus. Sebaliknya. Penglihatan semakin kabur. Semakin dekat sebuah benda, semakin tidak terlihat. Ujian terberat dari plus ini adalah aku sulit membaca dan menulis. AKu banyak salah tulis dan banyak salah baca karena kabur penglihatan.

Dokter menyarankan pergi ke dokter syarat untuk mengecek nyeri kepalaku. Saran itu belum dilaksanakan, aku belum punya uang yang cukup untuk itu. Sedikit uang yang ada, harus aku simpan untuk membiayai makan dan hidup keluarga. Kesehatanku tidak terlalu penting dibandingkan dengan kenyangnya perut orang-orang seisi rumah.

Dokter juga menyarankan agar aku segera kembali ke RSCM untuk diperbaiki kelopaknya. Kelopak yang kondisinya tidak normal mengakibatkan bulu matanya masuk ke rongga dan mengakibatkan sakit mencucuk rongga mata, juga menghasilkan iritasi tak berkesudahan. Saran inipun belum dilaksanakan. Aku harus mencari dulu ongkos. Dokter bisa saja mengajukan kegawatan, tapi aku bisa menyodorkan kesulitan keuangan di dalam kehidupanku yang menanggung tiga jiwa lain di tangan lemahku.

Aku benar-benar sendiri menanggung sakit.

Jangan sekali-kali membaca  tulisan ini sebagai keluhan atau gambaran jiwa yang lemah. Jangan berkilah "Jeng, di luar sana, banyak orang yang lebih menderita darimu, stop complaining."

Tulisan ini ungkapan sakit dari orang yang sedang menahan nyeri sendirian. Tidak untuk dihakimi, diadili, atau dinilai. Izinkan, sekali-kali aku bisa berbicara sesuai keinginanku. Aku telah telah terlalu lama berbicara sesuai pesanan, sesuai permintaan, sesuai proposal. Suara diriku sendiri tidak pernah terdengar. Aku hanyalah jasad yang menyuarakan jiwa lain. Jiwaku sendiri diam, tenggelam dalam sendiri.


Monday, September 10, 2018

Menyambut awal Muharram dengan Brifing

Keaiswaan, Rd Rh
1. Pemotreran kartu pelajar dan rapor kelas 10 dilakukan per kelas, di ruang MPK.
2. Guru di foto untuk kepentingan pribadi atau kedinasan mulai istirahat kedua.
3. Wisata kelas 12 bulan oktober tujuan jogja dan merapi mohon guru mempromosikan agar para siswa mulai DP dengan jumlah berapapun kepada lbu St D.
4. Wisata kelas 11 pada semester 2, walas 11 mulai melaunching kepada para siswa. Kepada orang tua sms gateway tidak berfungsi silakan gunakan mode yang lain. Siswa diminta mulai menabung,  tujuan Jogja Merapi, jika siswa siap bisa saja dialihkan ke Bromo.
5. Jumat kegiatan K5 dan senam. Jadwal akan diberikan kepada Walas. Teknis K5 2 kelas per Jumat. Satu program MIPA atau IPS melakukan senam. Guru bisa bergabung.
6. SGC, Sabtu Minggu ini. Berangkat Sabtu pulang Minggu. Tim pendahulu, berangkat Jumat.
7. Ditemukan adanya indikasi penggunaan narkoba di antara siswa. Ada siswa yang berkelahi. Mohon guru mengingatkan dan jeli melihat perubahan siswa. Sewaktu-waktu BNN akan diundang untuk cek urin. Minggu ini akan dicoba lakukan razia tas, minimal dibantu satu siswa dari OSIS. Cek jaket  helm, atau barang lain yang disimpan di belakang. BMC dan Doleng merupakan bendera grup yang direkrut sejak SMP.
8. Penggunaan baju batik untuk siswa dimasukkan.
9. Siswa memblok nomor hape orang tuanya agar tidak bisa dihubungi pihak sekolah. Lebih ekstrimnya mendatangi rumah guru untuk marah2. Jika dalam kondisi normal tentu siswa manapun tidak akan berani melabrak guru.
♣️♣️♣️♣️♣️

Kepala Sekolah, Bpk Ag S
1. Beberapa rekan sakit sehingga tidam dapat hadir dalam brifing.
2. Telah berpulang putranya Bapak Toto Suharya, usia 12 tahun, meningitis
3. Guru PNS dan non PNS terkait pembayaran oleh provinsi terhambat karena ada masalah teknis di Provinsi. Keterlambatan ini meresahkan sampai ada yang mau demo. Bagi KS, tidak usah demo, tapi mengundurkan diri saja atau KS mengeluarkan surat ucapan terimakasih karena telah mengabdi di sekolah ini.
4. Koperasi dipotong Provinsi per bulan 100k agar dilaksanakan dengan besar hati.
5. Kompetensi sosial.
Kaitan komunikasi dengan warga sekolah, diantaranya komunikasi siswa-guru. Ada siswa dan orang tua yang mengkritik ada guru yang tidak saling tegur sapa, guru nongkrong depan kantin, guru membuat kelompok/gang/membuat batas sendiri.
6. Berpikir bijak jika ada masalah hadapi bersama. Saling mengingatkan, jangan spai di mata siswa, guru terlihat tidak profesional. Tidak ada guru senior, junior.
7. KBM banyak terganggu karena aktivitas dari Provinsi, KCD, sekolah yang melibatkan KS, Guru, Siswa. Anggaran sudah turun dan harus dilaksanakan, sehingga banyak pihak yang harus meninggalkan sekolah.
8. Bintek oleh guru dan KS termasuk kegiatan SMA rujukan. Mohon tagihan untuk diselesaikan.
9. Tiga rekan guru purnabakti: Pa Ags  Bu A H, Pa Dn, mudah2an pengabdian di sekolah mendapat ganjaran dari Allah.
10. Pengganti untuk yang pensiun diselesaikan oleh Kurikulum.
11. Kegiatan apapun yang dilakukan jangan bertabrakan dengan kegiatan lain dan garus mengacu pada kalender sekolah.
12.  KBM muncul permasalahan, salah satunya adalah anak berkebutuhan khusus. Konsekwensinya adalah kita harus bertanggung jawab dalam pelaksanaannya.
Mrmbimbing siswa berkebutuhan khusus perlu ekstra. Jika pindah,  siswanya pindah kemana. Jika tidak dinaikkan, siswa akan tetap bertahan di sekolah ini.
13. Ruslah tanah sekolah dalam proses dan segera beres.
14. Program Realistik, perlu perhatian bersama, walas dan guru harus turut mendukung. Kebersihan lingkungan, bunga, dan tanaman, penataan diperbaiki. Musim hujan sudah mulai. Siswa yang belajar di selasar, 2 kelas, pasti tertanggu karena hujan.
15. Kegiatan wisata ke Bromo, Malang, Jatim. Anggarannya lumayan. Siapkan KTP untuk kereta api. Jumat pagi sudah di tujuan.
16. Pulang haji: Pa Dd, Bu Bnga, Pak Al, Pa Wwn, Pak Shlan

♣️♣️♣️♣️♣️
Tanya jawab
Bu Nn: anak berkebutuhan khusus tidak menganggu guru, tapi membahayakan temannya. Saat bagun tidur langsung mau memukul, membalikkan meja, mau menonjok, dia membawa botol minum.mau dilemparkan. Kemarin ngamuk, mau melempar in fokus.
Bu Bd: tindak lanjur SPME dan SPMl.
Bu Hj E E K: sms gateway mohon dihidupkan kembali.
Finger print dibutuhkan untuk pencairan sertifikasi guru agama. Yang dibutuhkan di print.
Bu Ml: kebutuhan khusus. Mengatur sendiri sekolah mengeluarkan peraturan khusus dari sekolah.

Sunday, September 2, 2018

Guru menghadapi gurunya

Sabtu ini menghadirkan kegalauan. Saya sudah kontrak kerja dengan sekolah dimana saya dulu berSMA. Di sana saya bertanggungjawab untuk berbagi cara membuat soal yang menuntut penalaran. Bukan soal yang sukar, tapi soal yang meminta si peserta ujian mampu mentransfer satu konsep ke konsep lain, memproses informasi yang tersaji dalam bentuk stimulus soal, dan menggunakan informasi tersebut untuk menjawab kasus atau soal yang diberikan.

Peran saya sebagai penyaji di SMA dimana saya dulu berSMA menimbulkan sedikit kengerian. Kengerian yang pertama adalah karena guru-guru saya masih ada di sana. Saya sulit sekali memajangkan postur gambar diri saya berdiri di depan orang yang mengantarkan saya bisa berdiri di mana sekarang. Kekhawatiran terbesar adalah bisikan yang muncul dari dalam kepala saya sendiri, "Kamu berperan sebagai guru bagi gurumu sendiri. Kamu akan beradu tatap dengan mata gurumu sendiri. Kamu akan menemukan lidahmu kelu karena tergagap melihat gurumu yang duduk di jajaran bangku peserta."

Kengerian kedua terkait dengan produk. Kegiatan yang dishare menuntut ada hasil, produk secara paperless yang dibuat secara individu. Bukan produknya yang menjadi masalah. Proses pembimbingan untuk menghasilkan produk itulah yang menjadi masalah. Pembimbingan secara langsung artinya saya melakukan kontak langsung. Dalam pikiran saya, mereka masih guru-guru saya, bahkan masih terbayang bagaimana mereka membimbing saya di kelas dulu. Membalikkan posisi dari terbimbing jadi pembimbing, ngeri bagi saya.

Ada pepatah mengatakan, "Dengarkanlah apa yang diajarkannya, jangan melihat siapa yang mengajarkannya. Jika ilmu itu benar, sekalipun datangnya dari sumber yang tidak diharapkan, harus diterima jika mengandung kebenaran di dalamnya."
Saya berpegang teguh bahwa yang saya  sampaikan adalah kebenaran. Dengan berpegang pada itu, saya menguatkan diri untuk mampu berdiri di depan guru-guru saya.

Guru-guru saya memang sosok yang luar biasa. Selama waktu berbagi bahkan sampai selesaipun, saya dibantunya dengan memberikan saya keleluasaan untuk menyampaikan pesan sesuai amanat yang saya terima. Keterbukaan mereka dalam menerima saya, muridnya, mengajarkan hal baru bagi saya. Guru itu tidak pernah berhenti belajar, sekalipun gurunya adalah muridnya sendiri. 

Thursday, August 30, 2018

Tanggal berapa hari ini

Terburu-buru saya berangkat sekolah.  Dalam benak hari ini harus mendampingi siswa literasi.  Saya berencana akan membacakan karya Pramoedya Ananta Toer: Arok Dedes. Ada hal menarik yang bisa dikaji bersama siswa. Bagaimana kisah Ken Arok dan Ken Dedes serta keris Mpu Gandring disajikan jauh berbeda dari sejarah yang selama ini kita kenal. Pada bagian akhir misalnya, bagaimana Dedes merasa sedih ketika nasibnya menentukan harus bersanding dengan Arok setelah lepas dari pelukan pria durjana yang menculiknya dan merendahkannya sebagai seorang turunan brahma.

Setiba di sekolah, pikiran saya masih tertinggal di jalan. Saya lihat di jalan-jalan masih terlihat sisa basah karena hujan. Saya telah lama menunggu hujan. Tanam-tanaman di seputar rumah yang ditanam pada pot sudah satu persatu mati. Kematiannya bukan tanpa sebab. Penyebab utamanya adalah ketidaktahuan.

Tanaman disiram dengan air dari selokan. Saya anggap, air selokan adalah air. Ternyata bukan. Yang saya sebut air selokan, bukan air, tapi limbah rumah tangga dalam bentuk cair. Ketika saya gunakan untuk menyiram tanaman, daun-daunnya mengering, rontok dan mati. Untungkah beberapa tanaman masih bertahan.

Pohon jeruk Nipis masih termasuk salah satu yang bertahan hidup. Saya mengucap sukur karena jeruk nipis telah banyak berjasa. Kini jeruk nipisnya dalam kondisi sakir. Seluruh bunganya gugur, daunnya kering. Saya mendoakan agar tidak mati. Sebagai upaya minta maaf, saya menyiramnya dengan air dari kran.

Hujan dinanti. Air hujan semoga mengobati salah siram terdahulu. Saya membayangkan sesaknya setiap urat dan akar menghisap air limbah.

Saya menuju meja kerja di ruang guru. Saya sedikit tertegun,  ternyata saya tidak mengajar pada jam pertama,  tapi mulai jam ke-3. Hari ini, Kamis? Tanggal? 29 Agustus? Bukan, 30 Agustus!
Artinya sebentar lagi tanggal 1 September. Saya diam sejenak, kalau Agustus 30 hari atau 31 hari? Benar-benar membingungkan.

Dulu, ketika SD, untuk menghitung hari, diajarkan dengan cara menggunakan tulang pada jari tangan yang sedang dikepalkan. Pertanyaanya: Januari jatuh pada bagian mana dari jari tangan? Satu-satunya jalan, lihat hape dan lihat hari ini hari apa, tanggal berapa.

Sambil membuka hapé, saya bergumam  pada diri sendiri, "Hari ini hari apa? Kamis? Oh... Kamis. So? Tidak ada literasi di kelas,  saya berliterasi sendiri. Saya duduk sambil bingung. Harus mengubah rencana. Saya memiliki 2 jam pertama yang jadi kosong karena saya memang tidak memiliki jadwal ngajar pada jam-jam itu.

Saya membaca Arok Dedes untuk mengisi literasi. Dilanjutkan mengecek jadwal dan RPP. Hari ini jam ke 3-4 mengajar kelas 12 Peminatan: Finite dan Non Finite Clause.
Pada RPP KD 3.3 dan 4.3 telah disiapkan materi pada lampiran, saya hanya tinggal melaksanakannya.

Sesorang bisa lupa hari. Kata orang, seseorang yang alpa pada waktu karena sangat betah menikmati hidup. Pertanyaanya: apakah saya sedang menikmati hidup hingga lupa pada tanggalan? Belum bisa saya sodorkan jawaban yang pasti untuk itu.

Wednesday, August 29, 2018

Dari Kajian USBN menuju Penulisan Soal HOTS

Menulis soal HOTS menjadi tantangan tersendiri bagi para guru, termasuk guru SMAN 2 Cianjur. Ada beberapa masalah yang membuat hal itu terjadi.  Permasalahan pokok adalah sulitnya menentukan kata kerja operasional yang mewakili kompetensi yang akan diuji. Sebagai contoh apakah kata kerja operasional "menentukan" sudah termasuk HOTS, sudah termasuk menguji penalaran atau jangan-jangan malah menguji tingkat kemampuan aplikasi (C3).

Permasalahan lainnya adalah pembuatan kisi-kisi soal yang dipandang sulit sehingga dihindari. Alasan penghindarannya diantaranya bahwa tanpa membuat kisi-kisipun soal bisa dibuat. Atau lebih ekstrim lagi, soal dibuat tanpa mengacu pada kisi-kisi.

Mengantisipasi hal di atas, SMAN 2 Cianjur mengadakan latihan penulisan soal HOTS. Pada kegiatan ini para guru diberikan praktik mengenal lingkup materi, materi dan kekhasan level kognitif yang disediakan pada blue print USBN.

Pada praktik ini para guru mampu melihat linieritas secara horizontal dan vertikal bahwa materi ajar dalam tiga tahun tidak serumit yang sudah tersaji pada buku siswa. Sedangkan pada level kognitif, guru dapat menarik kesimpulan bahwa telah disediakan kata kerja yang bisa membantu guru pada saat pembuatan indikator soal. Kelebihannya,  bisa dicek apakah kompetensi yang diuji, secara kata kerjanya  diuji dengan kata kerja yang sesuai atau tidak.  Sebagai contoh peserta didik mampu mengidentifikasi X, tidak bisa diuji dengan peserta didik mampu membuat kesimpulan.

Selanjutnya,  dipraktikan cara membust indikator soal yang bisa dibuatkan soalnya. Sebagai jembatan, latihan ini membuat para guru melihat bagaimana satu materi dapat diuji dalam tiga level kognitif yang berbeda.

Setelah memahami bagaimana menguji keterampilan dengan kata kerja yang benar-benar mengujinya, para guru diarahkan untuk bisa menguji KD.

Teknis yang digunakan adalah dengan mengasosiasikan kompetensi yang diuji diganti dengan kompetensi dasar. Setelah itu mencari kata kerja operasional yang menguji KD secara penalaran sehingga menjadi soal HOTS.

Pada praktik ini para guru menemukan sedikit kemudahan.  Dengan mengenal kata kerja penguji  kelompok penalaran, secara tidak langsung terarahkan untuk membuat soal HOTS.

Praktik pembuatan soal HOTS menjadi tantangan yang dapat dilalui. Dengan teknik asosiasi dari membuat soal USBN, para guru membuat kisi-kisi dan soal dengan relatif lebih mudah. 

Terselip diantara para budayawan

Bergabung satu mobil dengan budayawan yang dibicarakan, ya pasti budaya. Mulai dari adat istiadat  norma, ritus,  sampai pengetahuan tradisional. Semua hal tersebut  dibahas diantara kantuk akibat malam sebelumnya belum mendapatkan tidur yang cukup.

Sebagai "orang biasa" atau mungkin lebih tepatnya "orang" tanpa embel-embel biasa. Ketika berada dalam satu waktu dan tempat yang sama dengan budayawan,  maka saya  menjadi pendengar murni. Pengetahuan tentang kebudayaan tidak saya miliki. Namun itulah hebatnya budayawan, mereka memandang orang lain dengan kacamata budayawan.  Setiap orang dipandang sebagai sebuah seni yang hidup.

Obrolan berbelok pada pertanyaan kenapa budayawan Sunda tidak pernah bisa jadi pemimpin. Dengan seloroh dikelakarkan bahwa kemungkinannya karena budayawan memakai ikat kepala. Saya mencoba tersenyum disela upaya menahan nguap.

"Coba saja perhatikan,"  kami semua yang ada di dalam mobil diajak menganalisis.
"Siapapun yang berikat kepala sebagai penanda bahwa dirinya budayawan, tidak terpilih sebagai pejabat publik," kata salah satu Bapak yang duduk di samping saya.
"Ikat kepala bisa saja bermakna negatif," lanjutnya, "Bisa diasosiasikan dengan dukun, tukang ramal, atau lebih buruk lagi sebagai gambaran orang malas kerja karena pekerjaanya, ya, ngurus iket kepala."
Kami semua tertawa.

"Mungkin bukan karena ikat kepala," Bapak yang lainnya menyanggah.
"Budaya mendahulukan orang lain, menempatkan orang lain terlebih dahulu ketimbang diri sendiri yang dipakai orang Sunda, itulah penyebab kenapa budayawan tidak memiliki peluang memegang jabatan penting."
Dengan tenang beliau melanjutkan dengan memberikan contoh. Menurut hematnya orang Sunda, jika bersama dengan orang lain. Dia akan mempersilakan orang lain duluan. Misalnya di tempat ibadah, jika tahu yang datang belakangan secara sosial derajatnya lebih tinggi, dengan senang hati memberikan tempatnya pada orang tersebut.
Makanya, pada saat pemilihan kepala daerah misalnya, orang Sunda akan kalah terus karena mempersilakan orang lain mengambil posisi itu.
Perkataan , "mangga tipayun," atau silakan duluan secara harfiah membpersilakan orang lain duluan.
Penjelasan ini pun kembali disambut gelak tawa seisi mobil.

Ikat kepala yang biasa menjadi pemanda suku bangsa, dalam obrolan budayawan terdengar berbeda karena dihubungkan dengan jabatan publik.