Pages

Sunday, January 29, 2017

Bagaimana Badriah Membuat Blog

Badriah bisa memiliki sebuah blog dengan alamat badriahblog.blogspot.co.id tentu ada sejarahnya.
Berikut disajikan video yang menjelaskan bagaimana sebuah sejarah itu lahir.


In case videonya tidak dapat dibuka, video dapat dibuka dari alamat ini https://youtu.be/X09bR7WbFEs
Blog ini sangat berguna bagi Badriah. Selain membuatnya bisa 'terpaksa' menulis setiap hari, dia juga terpaksa memperlajari cara mengisi blog dengan audio, gambar, serta hal-hal lain yang sebelumbya tidak dia kenal.
Semua ini tidak akant terjadi tanpa bantuan Seamolec.
Terimakasih Seamolec.



Kompleksitas menjadi perempuan cantik

Perempuan dengan segala keindahan dan kecantikannya menawan banyak lawan jenisnya sampai kadang tiba dititik ekstrim seperti melakukan pembunuhan demi pengakuan atas kepemilikan terhadapnya.

Menjadi perempuan cantik secara fisik merupakan impian para perempuan itu sendiri dan menjadi kebanggaan tersendiri untuk para pria jika mampu merebut hatinya kemudian bersanding dengannya.

Demikian pula dengan para perempuan cantik di Indonesia yang pada tahun 1942-1945 berada pada masa cantik-cantiknya, yaitu mereka dengan usia sekitar 13-17 tahun. Mereka menjadi kebanggaan keluarga, idaman para pria, dan harapan ayah bundanya.

Para remaja perempuan  pada masa Perang Dunia ll (1943-1945) tidak jauh berbeda dengan gadis remaja masa kini. Mereka bersekolah, bercita-cita tinggi, ingin membahagiakan keluarga, membela negara, berguna bagi nusa dan bangsa. Apalagi mereka yang berasal dari keluarga ningrat dan pejabat (Pangreh Praja) seperti gunchoo (wedana), sonchoo (camat), kuchoo (kepala desa), dan kumichoo (kepala rukun tetangga), anak gadisnya bersekolah. Mereka ingin menjadi orang terpelajar.

Harapan ini ditangkap Dai Nippon sebagai peluang. Mereka membisikan bahwa para perempuan Indonesia harus disekolahkan ke Jepang dan Singapur untuk kebesaran dan kemenangan Perang Asia Timur Raya. Bisikan ini, tidak viral, tidak menggunakan mass media, cukup dengan lewat berita dari mulut ke mulut. Rupanya Dai Nippon telah paham dari hebatnya dan efektinya teknik propaganda word of mouth.

Para gadis pada saat itu tentu saja sangat antusias mendengar tawaran "disekolahkan" ke Jepang dan Shonanto (Singapur). Apalagi yang menawarkannya adalah orang tuanya sendiri, misalnya. Tak heran, anak-anak gadis banyak yang tertarik untuk mengikuti program ini. Namun, program ini diperuntukkan bagi gadis rupawan saja dan berumur belasan.

Kecantikan gadis usia belasan pada tahun 1943-1945 bagi ratusan (jumlahnya tidak diketahui sampai sekarang) remaja perempuan Indonesia menjadi petaka dengan kengerian yang tak terperikan. Mereka ditipu, dijadikan pemuas nafsu yang dipaksa menyerah kepada murka birahi tanpa kasih. Mereka yang berasal dari keluarga terhormat direbut kehormatannya. Sampai pada akhirnya mereka menganggap dirinyapun tak pantas lagi untuk kembali ke pangkuan keluarga, terlalu malu atas kemalangan tragis atas telah hilangnya harga diri mereka. Mereka yang berniat berbakti kepada negara, kesucian niatnya disalahgunakan oleh kejahatan perang.

Gadis rupawan dengan nasib malang terjadi di negara ini, tidak saja pada masa perang. Pada masa kini, setelah perang berakhir, masih saja berlangsung.
Tersiar kabar bahwa beberapa gadis (lagi-lagi jumlahnya tidak jelas), bagaimana mereka yang dari pedesaan diangkut ke kota untuk dieksploitasi dan diperjualbelikan dengan dalih akan diberi pekerjaan. 

Kejahatan terhadap perempuan sepertinya masih akan terjadi. Setiap masa dengan catatan kelamnya masing-masing. Termasuk didalamnya torehan kisah-kisah gadis cantik yang nasibnya tidak secantik kondisi fisiknya.

Saturday, January 28, 2017

Waspadai Perubahan Sosial-Etis menjadi Ekonomi-Egois

Seorang pria mendekati pekerja sebuah swalayan dan berkata,"Isi pulsa ke nomor ini, 2 kali, 500 ribu ".
Si pegawai segera melaksanakan permintaan pelanggan dengan segera.
Kemudian si pria berkata lagi, " tambah 500 ribu lagi".
Terdengar bunyi di hape si pria mengkonfirmasikan bahwa pulsa telah masuk.

Setelah selesai pengisian pulsa seharga 1 juta, si pelayan menagih uangnya. Pria itu berkata ,"aduh maaf, saya tidak bawa uangnya, nanti saya balik lagi ke sini ya".

Di Indonesia, saling percaya menjadi modal dalam sendi kehidupan sehari-hari. Misalnya, di sebuah rumah makan, pembeli langsung mengambil makanan, dan dibayar kemudian setelah selesai makan. Si penjual percaya bahwa pembeli tidak akan berbohong apalagi tidak mengakui makanan yang telah masuk ke perutnya.
Mengandalkan modal saling percaya, telah terjadi dan menjadikan bangsa ini terkenal memiliki nilai-nilai kepercayaan (trust) yang tinggi antar anggota komunitasnya.

Bergesernya nilai sosial-etis menjadi nilai ekonomi-egois  merugikan banyak pihak.
Tatanan nilai yang telah terbentuk  selain menjadi rusak juga melahirkan tata nilai baru yang sifatnya menanamkan bahwa tidak ada lagi kejujuran dan kebaikan di bumi ini. Efek panjangnya, terjadi pengajaran tidak tertulis bahwa menyelamatkan diri sendiri adalah prioritas karena selain diri sendiri, semuanya penipu.
Jika hal ini terjadi, setiap orang saling curiga dan berburuk sangka. Yang mengerikan, ketika seseorang benar-benar berbuat tulus disangka sebaliknya.

Menjaga keterpercayaan dari orang lain dan dari diri sendiri amatlah penting. Mengkhianatinya adalah meruntuhkan tatanan nilai yang selama ini murni menjadikan setiap individu bisa hidup berdampingan dengan baik.

Friday, January 27, 2017

Full Day School Minggu Ke-3

Sekolah yang baru tahun ini melaksanakan Full Day School (FDS) merasakan dan menemukan banyak hal baru. Hal ini dirasakan oleh warga sekolah dimana saya bekerja.

Bagi siswa FDS artinya uang jajan naik, jam pulang naik, jam disekolah naik, kuantitas pertemuan dengan guru naik, dan hampir semuanya naik. Seperti diuraikan satu persatu di bawah ini.

Uang jajan naik karena masa yang dihabiskan di sekolah seharian penuh artinya mereka perlu isi perut yang cukup.  Untuk anak usia belasan tahun yang on terus, ga ada matinya, non stop bakar kalori,  seolah tidak pernah ada capeknya,   mereka menyeimbangkannya dengan asupan makan minum yang bisa memenuhi semua kebutuhan tersebut.

Mungkin, sebagian besar, untuk mengejar masuk pukul 6.30, tidak sempat makan, karena berangkat dari rumah pukul 6.15. Dan, hanya sedikit siswa yang bersedia membawa bekal dari rumah. Akibatnya, urusan energi, urusan kantin, dan jajan di kantin adalah solusi.
Jajan 3 kali dalam sehari, membutuhkan  jumlah uang yang berbeda dengan yang jajan hanya 2 atau 1 kali saja.
Dengan pulang pukul 4 sore, dan ditambah eskul berakhir pukul 5.30, perlu uang jajan yang kuantitasnya naik dibanding sebelumnya.
Apakah siswa bahagia dengan kondisi ini? Dari obrolan dengan siswa, pulang sore tidak apa-apa selama perut penuh. Yang apa-apa jika ada tugas dari guru secara penuh.

Efek kedua dari FDS adalah pulang lebih sore. Dengan jumlah tatap muka 10 Jam perhari, paling cepat pulang pukul 4 sore. Pukul 4 sore itu belnya. Ditambah siap-siap, ditambah ngerumpi dulu, jadi pulangnya pukul 4.30an dari sekolah. Tambah nunggu angkot, tambah di dalam perjalanan, macet-macet sedikit, pukul 5 atau 6 sore baru sampai di rumah. Namun bagi siswa yang rumahnya lebih dari 25 km dari sekolah, akan sampai rumah menjelang malam.
Bagi siswa yang ikut Bimbel, urusan pulang, beda lagi ceritanya.

Hal ketiga, kuantitas pertemuan dengan guru menjadi lebih intens. Dengan adanya hari sekolah hanya 5 hari, maka papasan dengan guru jadi lebih sering. Sering papasan dengan guru tidak bermakna jadi kenal dengan guru. Hal biasa, tidak negur guru yang tidak ngajar di kelasnya, mungkin karena dianggap tidak ada kebutuhan untuk itu.
Kemudian, karena hari belajar hanya 5 hari, maka sehari jam pelajaran ada 10. Artinya dalam sehari bertemu paling tidak dengan 5 guru yang berbeda. Pertemuan yang banyak, sejatinya membuat siswa lebih cepat dewasa secara akademik, namun tidak sesederhana itu.

Terakhir, bukan tak penting karena disimpan di akhir, adalah naiknya kebutuhan guru akan suplai makanan.
Terdengar sedikit mengada-ada. Tapi itulah adanya.
Dengan istirahat 2 kali, pada pukul 10, guru mencari sekedar ganjal perut sebelum makan siang.
Istirahat pukul 12, makan siang di sekolah. Makan siang sesungguhnya biasa saja. Namun agak sedikit tidak biasa karena mulai pukul 8 guru-guru sudah sibuk pesan makanan via WA. Sehingga nanti pukul 12, makanan terhidang di meja guru. Fungsi meja kerja menjadi meja makan untuk sesaat, demi tersedianya energi sampai pukul 4 sore nanti.

FDS menjadi akun baru bagi sekolah dimana saya bekerja. Semoga upaya pemerintah untuk menyediakan week end untuk keluarga benar-benar terwujud. Tidak menjadi sebaliknya, hari Sabtu pun siswa seharian nongkrong di sekolah, karena menghindari menghabiskan waktu 2 hari setiap week end dengan orangtua. Yang berarti kelamaan.

Thursday, January 26, 2017

Biography of Famous People (Anne Frank)

Pelajaran kita hari ini adalah Biografi orang terkenal, yaitu Anne Frank.
Secara singkat, inilah penjelasan mengenai Anne Frank.
Anne Frank

Annelies Marie Frank (12 June 1929 – February or March 1945) was a German-born diarist and writer. One of the most discussed Jewish victims of  the Holocaust, she gained fame posthumously following the publication of her diary, The Diary of a Young Girl (originally Het Achterhuis; English: The Secret Annex), which documents her life in hiding from 1942 to 1944, during the German occupation of the Netherlands in World War II. It is one of the world's most widely known books and has been the basis for several plays and films.

Sebelum mengenal lebih jauh Anne Frank, coba simak kisah hidup Anne Frank.
Klik audio di bawah ini untuk menyimak.


Sambil menyimak lengkapi teks rumpang yang disediakan pada file pdf di bawah ini. 



Perhatikan power point di bawah ini.
Gunakan penjelasan dari Power Point untuk membuat Time Line of Anne Frank.

Pendekatan pengajaran kodrati

Hampir setiap hari kita disuguhi informasi kurang menyenangkan tentang pendidikan di negeri ini. TV memberitakan tawuran antar pelajar yang secara brutal saling bertukar lempar batu. Siswa SD membunuh temannya karena hal kecil yang sama sekali tak masuk akal untuk jadi alasan merenggut nyawa seseorang. Baru-baru ini diberitakan seorang lbu kehilangan anaknya untuk selamanya karena nyawanya dengan tanpa manusiawi disingkirkan temannya sendiri pada saat kegiatan kampus yang dikelola kakak tingkat.

Kengerian, kekejaman, dan tindakan biadab merusak sakralnya pendidikan. Pendidikan yang masih menjadi tumpuan perubahan hidup, berubah menjadi tempat yang menghancurkan hidup.

Anak seorang petani disekolahkan dengan hampir menjual sawah yang menjadi satu-satunya sumber biaya pendidikannya. Anak pedagang, disekolahkan dengan menghabiskan hampir sampai ke modal pokoknya.
Pendidikan tidak melahirkan anak petani, anak pedagang yang terdidik. Tamat sekolah, anak petani, malu jadi anak petani dan tidak mau bertani. Demikian pula dengan anak pedagang.
Pendidikan seolah membuat kepribadian baru yang tidak sesuai harapan, biaya, dan waktu yang telah dikorbankannya.
Pendidikan menaikkan gengsi dalam meningkatkan rasa malu untuk menjadi warga negara pekerja keras seperti yang dilakukan orang tua dan pendahulunya.

Kembali ke kodrat
Diasumsikan terjadinya produk pendidikan yang tidak sesuai harapan karena kurikulum. Namun asumsi ini ditolak. Kurikulum telah direncanakan dan dibuat sedemikian rupa sehingga menyentuh sisi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara seimbang.

Dugaan lain muncul, guru kurang mumpuni untuk menghasilkan warga negara yang santun namun terdidik. Dugaan ini dimentahkan dengan fakta guru di Indonesia telah tersertifikasi dan paling tidak lulusan S1.

Hasil penelitian mengatakan bahwa proses pendidikan harus dilakukan secara otentik sehingga melahirkan pengalaman belajar otentik.
Saat ini ditenggarai, pendidikan mencoba melakukan penilaian secara otentik namun tidak dibarengi dengan pemberian pengalaman belajar yang otentik.

Belajar seolah sebuah pekerjaan yang ditandai dengan adanya hasil, yaitu nilai. Pemikiran ini terlalu menyederhanakan belajar. Akibat dari cara pandang ini, maka proses belajar tidak mengikuti alamiahnya manusia belajar. Sebagai contoh, dalam belajar bahasa.

Manusia bisa menguasai bahasa dengan mendengar, meniru, mencoba mengucapkan berulang-ulang, ketika salah orang tua/siapapun yang ada pada saat mendampingi membetulkannnya, mencoba membuat kombinasi kalimat dengan menggabungkan kosa kata, barulah bisa berbicara.

Hal ini tidak terjadi di dalam kelas sebagai komunitas baru tempat diperolehnya bahasa asing misalnya. Tidak sedikit pelajaran berbahasa untuk membuat siswa mampu berkomunikasi dalam bahasa tersebut, berubah menjadi pelajaran tentang bahasa. Akibatnya para siswa menghafal rumus kalimat.
Cara ini, tidak otentik. Hasilnya, tidak otentik. Sejatinya mampu berkomunikasi dalam bahasa asing, menjadi menguasai tata bahasa asing.

Belajar apapun sebaiknya mengikuti fitrahnya dan kodratnya. Jika pendidikan berharap lulusannya menjadi warga negara yang baik, misalnya bertutur sopan. Mulailah dengan menjadikan lingkungan sekolah sebagai miniatur tempat orang-orang bertutur baik. Siswa dengan mudah membandingkan berbahasa dirinya dengan orang lain. Dengan kesadaran sendiri dia memperbaiki kesalahan berbahasanya.

Ketika pendidikan berharap lulusannya mampu menulis. Tunjukkan bagaimana proses menulis, bukan teori cara menulis.

Mengikuti kodrat bagaimana belajar dalam kehidupan yang sesungguhnya, dan ketika cara ini diterapkan pada proses pemerolehan pengalaman belajar akan membantu siswa benar-benar belajar.

Secara kodrati dalam belajar mengalami kesulitan dan beberapa hambatan. Hal ini harus tetap jadi bagian dari proses belajar. Salah benar jika belajar dianggap selesai dengan diperolehnya angka nilai.

Wednesday, January 25, 2017

Menaikkan gengsi Bahasa Sunda

Fakta
Tidak sedikit para orangtua (notabene orang Cianjur) yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama dan bahasa lbu. Alasan yang mendasarinya karena mereka tidak menguasai undak usuk (aturan penggunaan bahasa berdasarkan level, tenor), bahasa Sunda sulit, khawatir tidak memahami bahasa Indonesia ketika masuk sekolah formal, dan bergengsi jika anaknya bisa berbahasa Indonesia.

Posisi bahasa Sunda di Cianjur, sebagai bahasa daerah, bahasa lbu untuk penduduk asli Cianjur, kini tergeser oleh bahasa persatuan dan bahasa pergaulan internasional.
Padahal contoh membuktikan bahwa penggunaan bahasa daerah tidak mbuat sebuah daerah menjadi berskala lokal. Sebagai contoh nyata adalah Jepang.

Jepang menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa lbu, bahasa di rumah, di pergaulan, dan di sekolah. Namun tidak demikian dengan kasus Cianjur. Sebagian keluarga masih menggunakan bahasa Sunda di rumah, menggunakan bahasa Indonesia di pergaulan dan sekolah, beranjak ke bahasa Inggris dan asing lainnya untuk komunikasi global.

Solusi
Bahasa Sunda dapat berjaya seperti halnya bahasa Jepang. Mewujudkan kejayaan bahasa Sunda perlu upaya dan dukungan.
Pertama, jadikan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar di sekolah. Cara ini menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar ilmu pengetahuan. Dan menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa yang digunakan untuk mencatat dan mengkomunikasikan pengetahuan. Sampai SD kelas 6, gunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar pendidikan.
Pemerintah harus mengawal keterlaksanaan hal ini dengan menggunakan otonomi daerahnya.

Kedua, gunakan bahasa Sunda dalam bahasa pergaulan dan pertemuan formal yang dilakukan oleh para pejabat. Bupati dan Gubernur yang menggunakan bahasa Sunda menjadi model pengguna bahasa Sunda. Bupati pidato dalam bahasa Sunda, Gubernur pidato dalam bahasa Sunda. Bukan untuk mengundang decak kekaguman, namun untuk menjadi role model yang harus ditiru seluruh warga.

Ketiga, buka kursus dan pelatihan bahasa Sunda. Ajarkan kembali dan contohkan lentong, rengkuh, pasemon. Lentong adalah intonasi yang khas dalam bahasa Sunda. Misalnya untuk greeting dengan rumus tidak lebih dari 3 kata, misalnya Bade angkat kamana? Lentong jatuh pada suku kata ke-2 dari akhir dengan cara dipanjangkan. Rengkuh adalah posisi tubuh pada saat berbicara dan pasemon ada mimik atau wajah pada waktu berkomunikasi.

Bahasa Sunda harus menjadi bahasa penghela ilmu pengetahuan, pergaulan, dan kegiatan formal sehingga nilai kebahasaanya naik. Agar hal ini terwujud perlu dukungan pemerintah daerah.