Pages

Monday, January 23, 2017

Lexical Density in the reading text

Pada sebuah seminar dua orang mahasiswa S2 universitas negeri dari Bandung menyampaikan lexical density pada buku bahasa lnggris SMA.
Mereka memulai sajian dengan mengatakan bahasa 'bahasa digunakan untuk berkomunikasi. Bahasa Inggris berperan sebagai bahasa internasional  diajarkan di sekolah menengah atas'.

Mereka melanjutkan bahwa kehadirannya di seminar untuk menyampaikan hasil kajian lexical density bahasa Inggris yang digunakan pada buku di SMA, peneliti menggunakan 3 buku dari penerbit yang berbeda.

Mereka menemukan bahwa buku yang terpadat  leksikonnya adalah dari Kemendikbud dengan persentasi kepadatan 62,98%, buku dari Erlangga 53,25%, dan dari Yrama Widya 55,9%. Teks Deskriptif dari Kemendikbud kepadatan leksikonnya 76,69%, Biografi dari Erlangga 71,5%, dan Ekspsisi Yrama Widya 71,76%.

Pertanyaan yang muncul: apakah ini implikasinya bagi guru?
#justwondering

Sunday, January 22, 2017

Using Narrative to Harness Visual Literacy



    This video describes how  I used narrative to allow student to visualize what they understood from the text by using picture. This activity caused students to be themselves. They used their social, emotional, and values to represent every sentence they read in the text. 

Saturday, January 21, 2017

Penggunaan Chapter Report

Visual, auditory, read-write, kinestetic adalah jenis2 gaya belajar siswa. Guru secara terencana harus memanfaatkan gaya belajar untuk membantu siswa menjadi warga akademik. Kegiatan yang nyaris tidak membutuhkan dukungan alat yang merepotkan adalah read-wrte. Yakni mengajak siswa membaca, kemudian menuliskan apa yang dibaca.

Chapter report (CR) termasuk kedalam read-write. Kegiatan CR dilakukan  dengan cara meminta siswa membaca satu bab dari satu buku referensi yang ditentukan.  Untuk mengecek pemahaman terhadap isi bab yang dibaca, siswa diminta membuat kesimpulan atau rangkuman dari teks yang dipelajari.
Cara yang digunakan pada saat merangkum misalnya dengan menggunakan dua kolom. Kolom pertama untuk istilah, kolom kedua untuk penjelasan. Maksudnya, jika ada istilah atau definisi ditulis pada kolom kesatu. Dan penjelasannya dibuat pada kolom kedua.

Cara CR ternyata handal untuk membantu siswa memahami teks secara lebih dalam. Hal ini terjadi karena teks diberikan pada beberapa minggu sebelum teks tersebut dijadikan bahan diskusi dan analisis. Jika siswa menemukan kesulitan memahami teks atau membutuhkan penjelasan tambahan agar teks lebih dipahami, maka mereka harus membaca referensi lain yang terkait dengan teks tersebut.

CR membantu siswa belajar mandiri. Melalui mencatat, mencari definisi, menemukan makna istilah, mereka bebas menuliskan temuan pada kolom. Jika ingin paham lebih banyak, mereka dapat membuka lain yang sejenis sehingga pemahaman utuh diperoleh.
Cara ini tentu saja meningkatkan kemampuan membaca.

Namun ada hal yang harus diperhatikan. CR memiliki kelemahan. Yaitu siswa tidak membaca semua teks karena berfokus pada kata kata kunci dan mencari penjelasannya.
Kedua, bagi siswa yang malas membaca, ketika harus melengkapi pemahaman dengan membaca buku dari buku lain yang berhubungan dengan tema, ini  dianggap  memberatkan.
Ketiga, ada kemungkinan siswa menyontek hasil CR temannya karena enggan membaca.
Dan, Kesulitan yang dihadapi pendidik adalah memeriksa keaslian tulisan, dalam arti menentukan mana yang menulis CR asli, mana yang menyontek dari CR temannya.

Terlepas dari kekurangan CR yang ditulis di atas, Cr sangat baik untuk melatih memahami teks.

Penggunaan Film Pendek untuk mengajar menyimak

Mendengar bahasa Inggris dalam percakapan nyata atau otentik, tidak mudah ditemukan dalam konteks kota kecil seperti Cianjur.

Penggunaan film pendek sangat membantu siswa yang tidak mudah menemukan suasana otentik berbahasa Inggris yang sedang dipelajari.

Dengan menggunakan film pendek, para siswa berkesempatan untuk melihat sekaligus mendengar teks dalam konteks. Film juga menjadi bagian keseharian siswa masa kini, ketika digunakan untuk belajar, siswa menemukan kedekatan keseharian mereka dalam belajar.

Saat ini film pendek banyak tersedia di internet. Menggunakan film pendek  animasi dengan durasi 3 menit untuk mengenalkan ungkapan, lebih diterima siswa, daripada durasi yang sama tapi pelakunya aktor/aktris (orang).

Berdasarkan wawancara, para siswa  mengakui bahwa mereka menyukai penggunaan film pendek terutama untuk pelajaran menyimak ketimbang hanya menggunakan rekaman suara.

Alternatif prosedur yang dapat dilakukan:
1. Siapkan beberapa pertanyaan yang nantinya membantu memahami isi film pendek.
2. Perkenalkan ungkapan yang akan dipelajari dan nanti muncul pada film.
3. Tonton film pendek.
4. Beri pertanyaan yang terkait dengan isi film
5. Menandai ungkapan yang digunakan pada film dengan cara menceklis pada daftar ungkapan yang disiapkan.
6. Mencoba menggunakan ungkapan
7. Membuat simpulan tentang isi film.

Manfaat dari penggunaan film pendek diantaranya:1) para siswa antusias mempelajari materi ajar dengan cara menonton film, 2) kemampuan menyimak meningkat, 3) sikap selama pembelajaran sangat baik.
(Terinspirasi dari Umi pada Konferensi Bahasa, UNSUR 2017)

Masalahnya: Membaca

Kebiasaan membaca bangsa Indonesia berada posisi ke 96 dari 100 negara (human development index, 2010). Padahal, di Indonesia sekolah dimana -mana, perpustakaan dimana-mana.

Kenapa literasi bangsa Indonesia tertinggal begitu jauh dari negara saudaranya seperti Malaysia, Singapur?

Salah satu faktor penyebabnya adalah budaya "berbicara dan menyimak' mendapat tempat lebih luas dari membaca.
Faktor kedua, diasumsikan manajemen perpustakaan kurang menarik pembaca dan (kurang dukungan finansial)
Ketiga, belum ikhlas menggunakan uang untuk membeli buku (dibandingkan memveli pulsa).
Terakhir, membludaknya hal-hal menggoda dari internet dan media elektronik lainnya.

Literasi
Literasi dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis.
Tak heran di Indonesia, berbondong-bondong orang tua mengirimkan anaknya ke sekolah agar mereka segera literat (bisa baca tulis).
Cara ini pada akhirnya tidak berhasil membuat anak-anak menjadi literat.
Sebagai solusi, pengenalan literasi sebaiknya dimulai dari.rumah.
Bisa dimulai dengan literat bahasa lisan yang sesuai sesuai konteks diajarkan dalam.keluarga.
Kemudian, pengenalan ragam bahasa tulis dengan mengenalkan buku dan membangum.kecintaan pada buku.
Langkah selanjutnya,  izinkan anak-anak 'menyentuh' buku dan isinya diceritakan orang tua.
Cara diatas memberikan manfaat bagi anak-anak dalam bentuk kekayaan kosa kata, struktur kalimat yang berterima, dan pengetahuan tentang naratif.

Tidak ada kata terlambat untuk mulai menjadi literat. Menyediakan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca, menuliskan apa yang dibaca dapat menjadi aksi literasi personal, dan mengimplementasikan hal2 baik dari yang dibaca dapat menjadi literasi secara sikap.

Friday, January 20, 2017

Menanam cabai sendiri, kenapa tidak?

Mahalnya harga cabai menjadi penanda masuk tahun 2017. Masyarakat mengeluhkan melangitnya harga cabai sehingga muncul seloroh 'pedasnya harga cabai'

Masyarakat Indonesia sebagian besar sangat membutuhkan cabai dalam kesehariannya. Cabai menjadi teman tetap pada makan. Tak ada sambal, tidak makan, demikian kata pecinta sambal cabai. Tidak pedas, tidak semangat makan, demikian kata yang lainnya. Hampir setiap jajajan, juga dilengkapi cabai. Tahu goreng, lontong, bakso misalnya terasa lebih nikmat jika dimakan dengan cabai.

Ketika harga cabai meroket, maka tak heran kondisi ini menimbulkan guncangan. Namun, seolah tidak ada yang dapat dilakukan agar bisa selamat dari kelangkaan cabai. Saran termudah yang ditawarkan sambil guyon adalah tanam saja cabai sendiri.

Sebetulnya saran tersebut mengarahkan kepada kondisi pengelolaan menamam cabai sebagai bisnis. Bukan sekedar menanam cabai, kemudian biarkan tumbuh, terus petik dan jadikan bahan sambal.

Selama ini, cabai ditanam dengan cara tradisional. Dalam arti, beli bibit, tanam bibit, biarkan tumbuh, semprot jika ada hama, dan panen. Cara ini tentu saja tidak akan pernah membuat penanam cabai makmur dan tidak akan pernah pula memenuhi kebutuhan konsumrn akan cabai.

Petani cabai harus berpikir sebagai agropreneur. Dia harus berperan sebagai Pebisnis cabai yang menerapkan tata tanam dan tata kelola hasil cabai berdasarkan penelitian.
Saat ini, menanam cabai tanpa pernah dipelajari pada suhu berapa tanaman cabai bisa sangat produktif. Jika diketahui suhunya, petani cabai harus mengupayakan suhu yang sesuai dengan kebutuhan cabai tumbuh dan berbuah optimal.

Pada saat panen. Petani tidak pernah memikirkan bagaimana penyimpanan hasil panenan dalam waktu lama. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia dapat mengkonsumsi apel New Zealand yang entah berapa lama apel itu berpindah dari petani sampai ke tangan konsumen Indonesia.
Kenapa cara ini tidak diimitasi untuk cabai?

Menanam cabai sendiri bisa jadi alternatif jawaban bagi kebutuhan cabai. Pengelolaan dengan intervensi hasil penelitian bisa membantu hasil cabai tanaman sendiri ini bernilai bisnis.

Wednesday, January 18, 2017

Ada apa dengan mereka?

Dengan menggunakan lagu The Show Must Go On dari Queen sebagai pemicu ide. Para siswa diminta untuk membuat Tips bagaimana menjadi orang baik.
The show must go on berisi untaian lirik kengerian dan kepedihan menjalani kefanaan. Lagu ini menggambarkan bahwa seseorang dapat melalukan kekejian , kejahatan, bahkan mengambil nyawa orang lain untuk memenuhi tujuannya.
Sangat gamblang lagu ini mendeskripsikan figur mindless crime (orang jahat).
Pada saat makna lirik disampaikan, para siswa terlihat sangat antusias.  Mereka tak henti berkomentar, dan mengiyakan sisi buruk manusia ketika ada maunya. Bahkan ada yang mengakui bahwa pernah mengalami posisi jadi pihak yang dirugikan.
Pemerolehan pemahaman tentang makna lagu menjadi semakin lengkap ketika lagunya diperdengarkan dan para siswa menghubungkan antara lirik, musik, dan makna lagu yang diusung. 
Namun kemudian, ketika hal di atas selesai dan mereka diminta memikirkan "tips jadi orang baik" (dalam arti tidak melakukan hal-hal negatif seperti yang diuraikan pada lirik lagu) sebagian besar peserta didik mendadak menjadi sepi ide.  Mereka rerata menuliskan bahwa menjadi orang baik adalah dengan "jangan berbohong, rajin sekolah, jangan galak, hormat pada orang tua". Mereka seolah miskin nilai (value) tentang kebaikan dan kebajikan sehingga tidak dapat menuliskan bagaimana kiat menjadi orang baik.
Sangat menakutkan jika generasi muda tidak mampu menyebutkan indikator-indikator orang baik. Jangan-jangan mereka salah tangkap dan salah tafsir nilai, misalnya bagaimana menjadi seseorang, tanpa mempedulikan bagaimana caranya (gaya hidup menghalalkan segala cara).
Para siswa mengatakan bahwa lebih mudah menyebutkan bagaimana menjadi orang jahat. Temuan ini memicu pertanyaan seperti apakah orang-orang yang ada di sekeliling siswa dan seperti apa orang-orang yang mengisi kehidupan mereka.
Semoga ketidakmampuan menyebutkan bagaimana kiat menjadi orang baik disebabkan oleh miskin kosa kata, bukan karena miskin teladan