Pages

Saturday, August 5, 2017

Hari Ke-14

Secara pribadi, bagi saya, mengajar selalu menarik. Banyak hal yang dapat ditemukan dan dipelajari dari kegiatan mengajar. Hal-hal menarik sekaligus menantang juga ditemukan pada peran sebagai wali kelas. Saya mencoba menjalankan peran ini sebaik yang mampu saya lakukan.

Hari Sabtu ini, tidak ada pelajaran sekolah. SMAN 2 menerapkan program full day school atau sekolah hanya 5 hari. Artinya Sabtu, libur. Anak-anak yang diwalikelasi meminta diadakan kegiatan silaturahmi dengan wali kelas sambil makan siang. Jadilah namanya acarnya “liwet party”. Liwet adalah makanan berat yang terbuat dari beras. Bedanya nasi biasa, nasi liwet dimasak dengan diberi bumbu. Lauknya, biasanya ikan asin, sambal, lalap, tahu, tempe, kalau ada goreng ayam, kerupuk, kalau suka goreng jengkol. Saya mengiyakan ketika siswa meminta liwet party di rumah saya.

Mungkin para siswa ingin mengetahui seperti apa wali kelasnya ketika di rumahnya. Apakah dia seperti yang dipikirkannya? Apakah dia malah di luar yang didugakannya? Mungkin bagi siswa, bagaimana seorang wali kelas yang sekaligus juga gurunya merupakan misteri besar. Saya berpikiran begitu, karena bagi saya, siswa saya yang imut-imut, cantik-cantik, ganteng-ganteng, manis-manis di kelas atau ketika bertemu di sekitar sekolah, saya tidak pernah tahu seperti apa aslinya, tampilan alamiahnya ketika di rumah. Kalau saya mampu, ingin sesekali melihat atau bertemu siswa saya diluar kelas. Saya mungkin menemukan hal baru atau di luar dugaan. Who knows

Saya berpenampilan apa adanya ketika menerima siswa di rumah. Mereka datang satu persatu. Membawa ceritanya masing-masing. Merka membicarakan mimpi tentang kuliahnya. Ada yang mengaku masih tidak tahu harus kuliah kemana karena khawatir terjadi sesuatu di tengah perjalanan kuliahnya. Bagi saya, hal ini menimbulkan keprihatinan. Masa di kelas 12 akan berakhir dalam hitungan bulan, mereka masih belum memiliki pilihan yang jelas hendak kemana mereka melanjutkan kuliah. Bukan salah mereka, bisa saja salah guru, sekolah, kebijakan, atau mungkin pemerintah.

Kesalahan guru diantaranya para guru tidak memiliki dan menyediakan waktu untuk mendengarkan impian-impian mereka. Guru masuk ke kelas dan memberikan pelajaran sesuai yang jadi tanggung jawabnya. Tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendengar bisikan-bisikan impian mereka. Guru pun bisa saja tidak sempat menanyakan apa impian mereka. Waktu untuk mengajar begitu sempit, tidak cukup untuk menampung impian siswa.  Atau bisa saja guru merasa bahwa urusan kemana siswa melanjutkan setelah SMA, telah ditangani oleh guru bimbingan dan konseling. Mereka bertanggung jawab untuk menelusuri minat siswa dan mengarahan siswa berdasarkan bakatnya.  

Sekolah, ikut berkontribusi bagi gelapnya masa depan kuliah harus kemana. Sekolah mencoba menempatkan siswa berdasarkan peminatannya. Setelah dikelompokkan berdasarkan minatnya, terbagi menjadi peminatan bahasa, matematika dan IPA, dan ilmu sosial. Sayangnya, setelah mereka didudukkan di kelas  sesuai minatnya, mereka tidak diberi fasilitas dan sarana yang cukup untuk mengembangkan minatnya. Contoh, siswa yang menyukai ilmu biologi, hanya cukup disuguhi biologi paket, dari buku. Mereka tidak sempat menikmati bagaimana biologi yang sesungguhnya yang membuat mereka melihat bahwa dengan penguasaan ilmu biologi mereka bisa menjadi orang. Seolah pengelompokkan berdasarkan minat, hanya memudahkan mereka untuk dipisahkan menjadi kelas-kelas.

Kebikajan pemerintah membuat siswa SMA buntu. Ketika mereka menerima ijazah SMP dan hendak melanjutkan ke SMA, sesungguhnya mereka tidak tahu apa kelebihan dirinya. Mereka tidak bisa mengukur dirinya apakah cocok masuk ke SMA atau ke sekolah kejuruan. Semua orang melanjutkan berdasarkan maunya kemana, bukan berdasarkan kemampuan apa. Akibatnya tidak sedikit siswa SMA tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi karena secara akademik tidak mencukupi kualifikasi universitas yang akan menampungnya. Atau sebaliknya, lulusan SMK berjuang keras untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, bukannya langsung bekerja.

Terakhir pemerintah itu sendiri. Pemerintah belum melaksanakan tanggungjawabnya dengan penuh. Pada saat siswa SMA lulus, pemerintah menyediakan ujian masuk perguruan tinggi untuk sebagian siswa. Jika lulus, maka biaya pendidikan menjadi urusan orang tua siswa. Untuk negara sekaya Indonesia, pendidikan setiap anak bangsa seyogyanya dapat dibantu melalui bantuan pendidikan, atau boleh saja dana pinjaman pendidikan. Ketika pemerintah tidak menawarkan bantuan, maka siswa lulusan SMA memilih bekerja. Hal in berlawanan dengan tujuan melanjutkan sekolah di SMA, yaitu untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Mereka memilih bekerja dan merebut lahan lulusan SMK.


Salah seorang siswa saya mengatakan bahwa dia tidak dapat melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi karena tidak ada yang membiayai. Saya merasa sedih mendengar hal ini. Saya hanya mampu mendo’akan semoga dia mendapatkan pekerjaan, dan suatu saat dapat melanjutkan pendidikannya dengan uangnya sendiri.  Di dunia ini, kadang banyak hal yang tidak dapat saya pahami. Ada siswa yang mampu secara akademik untuk melanjutkan kuliah, namun terbatas kemampuan ekonominya. Sebaliknya, ada siswa yang kuat secara ekonomi, namun tidak kuat secara akademik. Hal-hal tersebut menjadi rahasia Pencipta. DIA menciptakan banyak rahasia untuk menjadikan manusia terus belajar. 

Thursday, August 3, 2017

Hari Ke-13

Seharusnya saya bertemu dengan siswa saya pagi ini. Saya telah berniat akan tanpa henti membahas Pembawa Mayat dan membantu memahamkan makna implisit yang disembunyikan penulis. Dengan cara ini diharapkan siswa saya mendapatkan cara pandang baru terhadap bacaan non pelajaran, seperti misalnya cerita pendek. Diharapkan pula mereka nantinya bersedia membaca teks jenis apapun, tanpa memandang teks akademis, non akademis, fiksi, non fiksi. Banyak yang ingin saya bagi kepada siswa saya karena mereka adalah orang yang menggantikan saya nanti di masa datang.
Semua keinginan itu terpaksa saya tunda, saya harus melaksanakan tanggung jawab lain yang juga nantinya secara tidak langsung akan berguna bagi siswa saya. Mendapatkan ilmu cara menulis ilmiah, sangat membantu saya nantinya untuk dapat mencontohkan kepada siswa saya bagaimana cara menulis dan mendapatkan keuntungan finasial dari menulis. Melihat adanya manfaat bagi siswa saya, maka saya bismillah memulai hari ini melaksanakan tanggung jawab di tempat yang jauh dari siswa saya. Saya belajar pada saat siswa saya juga belajar.
Saya belajar melalui pelatihan singkat. Pelatihan bagi guru yang ditujukan untuk memberikan kesempatan kepadanya untuk melakukan pengembangan profesinya tanpa henti atau bahasa kerennya continues professional development. Pelatihan penulisan ilmiah dan karya inovatif membekali para guru untuk dapat berkarya dan bersilaturahmi secara akademik melalui tulisan populer, tulisan ilmiah, tinjauan ilmiah, atau laporan karya inovatif. Tentu istilah-istilah karya tulis ilmiah ini terdengar pelik. Penyaji menyatakan bahwa menulis ilmiah tidaklah pelik. Beliau menjelaskan bahwa semuanya menjadi mudah karena adanya bantuan teknologi.
Penyaji menjelaskan bahwa pada masa ini, karya-karya dapat dengan mudah dibuat. Sebagai sumber inspirasi, beliau mengatakan, saat ini banyak sekali karya-karya orang lain yang dimuat secara online. Baca sebanyak-banyaknya karya orang dan mulailah membuat karya sendiri. Menurut beliau, bagi dosen, hampir setiap bulan mereka dituntut untuk menghasilkan jurnal. Dosen dan guru sama dari unsur profesionalnya sebagai pendidik. Tidak salah jika guru juga dituntut sama seperti para dosen dalam hal menghasilkan karya tulis.
Penjelasan dari penyaji sesungguhnya sangat membantu guru, sebagai peserta pelatihan, untuk mulai mensejajarkan dirinya secara profesional dengan dosen. Pun, mendorong para guru untuk mulai percaya diri berbagi karya tulis. Kenyataannya tidak demikian, sebagian peserta masih merasa canggung untuk berbagi buah pikirnya pada media masa seperti koran. Mereka menyebutkan bahwa menulis pada koran lebih sulit daripada menulis jurnal. Tentu saja pendapat ini tidak dapat dijadikan hukum. Bisa saja yang menyebut sulit karena belum lagi mencoba sudah menyerah dan tidak mengirim tulisannya.

Penyaji berikutnya menjelaskan mengenai Jurnal dan tata cara penulisan untuk jurnal. Saya seperti dibawa kembali ke masa kuliah. Kembali istilah sitasi, similariti, plagiasi muncul. Kembali pula terbayang susah payahnya menulis jurnal sehingga dapat dimuat pada buku prosiding. Jerih dan payah untuk dapat menulis sebuah karya yang terkait dengan pendidikan terasa sangat berat pada posisi sebagai mahasiswa. Mahasiswa dengan kebanggaan bahwa dirinya memiliki banyak pengetahuan mengenai bidang yang sedang dipelajarinya. Padahal sesungguhnya semakin merasa banyak tahu, sesungguhnya dia tidak tahu banyak.

Kegiatan berakhir, dan penutupan pun tiba. Saya memutuskan untuk pulang malam itu juga. Peserta pelatihan lain memilih pulang pagi hari karena mereka berasal dari luar Jawa. Saya pulang dijemput melewati Puncak. Di luar dugaan, perjalanan Jalarta-Cianjur lebih lama ketimbang ketika saya berangkat. Perjalanan selama 8 jam untuk menempuh jarak 130km. Jalan Puncak dalam perbaikan. Mobil pengguna jalan diberi waktu lewat dengan sistem tutup buka. Perjalanan yang terasa lebih melelahkan dari yang seharusnya.


Subuh pukul 4 saya baru tiba di rumah. Tidak sempat saya meluruskan punggung, subuh sudah dekat. Perjalanan pelatihan yang penuh pelajaran. Semoga saya bisa membuat rencana tindak lanjut yang realistis sehingga pelatihan yang diikuti menjadi ayah-ibu kandung dan berbuah banyak karya.  

Wednesday, August 2, 2017

Hari Ke-12

Cianjur-Jakarta secara jarak tidak terlalu jauh, 130km.  Jarak tersebut seharusnya dapat ditempuh antara 3 sampai 4 jam. Bahkan untuk daerah lain, bisa saja ditempuh antara 2 sampai 3 jam. Namun tidak demikian dengan perjalanan yang harus saya lalui.

Pukul 11 pagi saya telah menerima surat tugas untuk mengikuti kegiatan penulisan ilmiah dan karya inovasi di Jakarta. Karena hari ini tidak ada jadwal mengajar saya dapat meninggalkan sekolah segera setelah surat tugas selesai.

Saya meninggalkan rumah dengan berbekal baju ganti seadanya, kegiatan tidak lama, tidak memerlukan baju ganti yang banyak. Berangkat dari Cianjur pukul 12, perjalanan diatur agar tidak terlalu lama. Perjalanan pertama dari Cianjur menuju Bogor dan kendaraan di simpan di Stasiun Bogor. Dari Stasiun Bogor menuju Jakata, dilanjutkan dengan taksi. Perjalanan hemat waktu tersebut, memakan waktu 4,5 jam.

Saya langsung masuk mengikuti kegiatan. Terlihat semua peserta sangat serius menyimak penjelasan penyaji. Profesor Darwan, beliau menjelaskan etika penulisan ilmiah dan menghindari plagiasi.  Tiba-tiba saya teringat fenomena Afi Nihaya Paradisa, seorang siswa SMA yang mendapatkan penghargaan dari Presiden Indonesia, Jokowi juga viral di Facebook karena tulisannya yang kemudian dicurigai plagiat. Terlanjur terkenal, Afi meminta maaf dengan mengunggah video permintaan maaf bertajuk “This is My Apology” dalam Bahasa Inggris, yang juga ternyata diduga plagiat dari Amanda Tod.

Penjelasan Prof. Darwan yang menyebutkan ‘jujur’ sebagai bagian dari etika penulisan ilmiah dan karya inovasi. Jujur menjadi sangat penting dalam penulisan ilmiah guru. Beberapa waktu lalu, bahkan mungkin sampai hari ini tersiar kabar bahwa guru melakukan hal tidak terpuji untuk kenaikan pangkat dengan cara tidak jujur. Salah satunya adalah plagiasi karya tulis ilmiah.

Selanjutnya, Prof. Darwan menjelaskan tentang Jurnal. Bagaimana mengelola jurnal, membuat jurnal yang sehat, menjadi kontributor jurnal, serta hal lainnya yang membantu guru dapat mengabadikan karyanya pada jurnal.  Beliau menyampaikan bahwa pelatihan ini tidak akan mengubah apapun. Ibarat petani, petani hanya dapat menanam. Beliau menegaskan bahwa petani hanya dapat menanam dan   memelihara tanamannya. Semua yang dia tanam  seperti kopi, jagung, pisang, apa saja,  tidak bisa dia paksa agar tanaman tersebut berbuah. Duren berbuah karena dirinya sendiri, jagung berbuah karena dirinya sendiri, semua tanaman berbuah karena dirinya sendiri, BUKAN KARENA DIANCAM.

Lanjut Prof. Darwan, pelatihan hanya memberikan inspirasi. Yang menulis adalah bapak ibu guru sendiri. Bukan salah bunda mengandung, tapi buruk suratan tangan sendiri jika guru tidak naik pangkat akibat tidak mulai menulis karya ilmiah. Kegiatan pelatihan dapat menjadi ayah ibu kandung atau mau jadi anak tiri. Menjadi apapun kegiatan pelatihan yang diikuti oleh para guru, merupakan pilihan. Semuanya ada pada pilihan bapak ibu guru sendiri. Jika sepulang dari kegiatan ini guru segera menulis dan berproduksi, maka kegiatan ini menjadi ayah ibu kandung. Jika ternyata hanya sekedar hadir dan kembali pada kebiasaan semula, kegiatan ini ibaratnya hanya jadi anak tiri.

Penjelasan Prof. Darwan membuat saya teringat siswa-siswa saya. Mereka mengira bahwa mereka bisa berbahasa Inggris karena gurunya dianggap pintar berbahasa Inggris. Saya sering dan berulang-ulang mengatakan bahwa saya, sebagai guru, tidak dapat membuat siswa manapun bisa berbahasa Inggris. Saya hanya bisa menunjukkan caranya. Sama seperti petani, dia hanya bisa menanam, tapi tidak bisa memaksanya berbuah.

Beberapa kali saya mencontohkan bahwa saya sedikit  bisa berbahasa Inggris karena guru saya berbagi rahasia caranya. Dulu, ketika saya SMA, guru Bahasa Inggris saya ‘memaksa’ saya untuk bisa berbahasa Inggris dengan memberi saya buku bahasa Inggris. Ketika SMA saya tidak terlalu menyukai bahasa Inggris, malah saya menyukai Sejarah. Kalau nasib saya buruk, nanti jadi guru, jadi guru sejarah. Idealnya saya ingin jadi ‘penemu’ seperti dalam film-film, menemukan mumi, menemukan kerajaan yang hilang, menggali tulang belulang, menemukan harta karun, atau menemukan The Lost City.

Guru  bahasa Inggris saya memberi buku “The History of the World” Saya membaca buku itu dengan disandingi kamus. Sedikit frustasi, tentu saja, karena tidak memahami seluruh isi buku tersebut. Buku tersebut bahkan ditinggalkan, tidak khatam dibaca. Saya lapor kepada guru bahwa saya tidak paham isi buku yang diberikannya. Beliau menyarankan untuk membaca buku bahasa Inggris untuk SMP kelas 1, yang saya mampu baca tanpa menggunakan kamus. Beliau meminta agar sambil membaca buku yang bisa saya paham, hafalkan juga kalimat-kalimatnya.

Semua yang disampaikan guru saya, saya turuti. Saya pun membaca apa yang saya paham dan tidak membuat frustasi. Jika ada satu atau dua kata yang tidak paham, ketika melihat kamus pun tidak sefrustasi saat pada setiap paragraf harus melihat kamus. Saya menghafal kalimat. Tidak setiap hari saya menghafal kalimat, tapi dalam seminggu, pasti ada yang dihafal. Saya tidak merasa mampu berbahasa Inggris pada saat itu. Saya tidak pernah berbicara dalam bahasa Inggris dengan siapapun, termasuk di kelas pun, hanya sekali dua kali saja. Yang saya lakukan membaca sesuai pesan guru. Kata guru saya, rahasia menguasai bahasa Inggris: baca buku atau teks apa saja yang berahasa Inggris.


Sebagai guru bahasa Inggris, saya tidak bisa membuat siswa saya bisa berbahasa Inggris. Hanya bisa memberitahukan caranya. Cara yang berhasil saya lakukan (sesuai pesan guru saya) adalah dengan membaca buku berbahasa Inggris dan menghafal kalimat-kalimatnya. 

Sunday, July 30, 2017

Hari ke-11

Waktu belum menunjukkan pukul 5 ketika saya bangun pagi ini. Memulai pagi, mengikuti ritual dan jam gelombang hidup saya, pukul 6. Saya siap belajar hari ini. Pukul 6.10 saya sudah berangkat sekolah.

Pukul 6.30 saya tiba di sekolah dan menuju kelas 12 MIPA 6. Berniat akan melanjutkan literasi. Namun, niat itu hari ini tidak dapat terlaksana. Guru yang mengajar pada jam pertama telah berada di kelas, dia mendapat amanat untuk mengisi literasi dari Kepala Sekolah. Katanya guru jam pertama bertanggung jawab untuk mendampingi literasi. Saya merasa bahagia dengan kabar ini.  Artinya para siswa akan mendapatkan pengalaman berliterasi dengan langsung pengawasan guru.

Saya sangat berharap para guru jadi contoh hidup individu yang mampu menjadi bagian masyarakat penikmat membaca. Juga, saya berharap para guru-pembaca bersedia berbagi hasil bacaannya dengan siswa. Dengan demikian banyak nilai-nilai yang bisa disampaikan kepada siswa tanpa harus menunggu mengalaminya terlebih dahulu.

Pada saat guru jam pertama bersedia mengisi literasi di kelas 12 MIPA 6, saya sangat bangga karena diam-diam rekan guru yang lain juga memiliki niat mulia untuk membangun kebiasaan membaca pada kalangan siswa SMA. Bagi saya, walaupun saat ini mereka berada di kelas 12, tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik.

Ketika pertama kali bertemu kelas 12 MIPA 6 mereka menjawab dengan senyum waktu ditanya 'buku (non pelajaran) apa yang sedang kamu baca saat ini.'
Senyum itu saya maknai sebagai 'kami tidak sedang membaca buku apapun, maklum kemarin libur dan hari ini baru masuk sekolah.'

Tanpa ragu saya menunjukkan buku Dan Brown 'Angels and Demons' yang sedang saya baca. Saya beri mereka bocoran isi bukunya. Mereka terlihat penasaran. Sebuah reaksi yang sangat menggembirakan. Semoga dengan diberi bocoran isi buku, mereka ingin membacanya sendiri.

Literasi diartikan membaca di lingkungan sekolah tempat saya mengajar. Mungkin ini seperti  pendefinisian yang disederhanakan. Definisi ini bagi saya untuk saat ini, tepat.  Anak-anak SMA tahun lalu mengeluhkan enggan mengikuti ujian lantaran soal diberikan dalam bentuk bacaan. Menurut mereka, soal yang disajikan dalam bacaan, sulit. Matematika, jika soalnya bacaan susah katanya. Jangan tanya teks bahasa Inggris,  teks berbahasa Indonesia saja, katanya capek baca.  Hal ini menyiratkan bahwa mereka tidak biasa membaca.
Mereka yang biasa membaca, tidak akan menemukan kesulitan ketika diberi teks  panjang, karena kecepatan membacanya sudah tinggi.  Tidak pula kesulitan memahami isi bacaan, karena kosa kata mereka juga telah sedemikian kaya. Maka, jadilah literasi adalah membaca.

Hari ini saya tidak punya jadwal mengajar,  niat ke sekolah hanya untuk bersilaturahmi  lewat bacaan dengan siswa. Namun, kelasnya telah diisi guru lain, saya masuk ruang guru dan mulai mengerjakan analisis materi ajar.

Saya mengajar dengan komposisi kelas yang luar biasa menantang. Ada 4  kelas 12 bahasa Inggris wajib, ada 1 kelas 12 peminatan,  1 kelas 11 peminatan,  1 kelas 11 bahasa inggris wajib, dan 2 kelas 10 peminatan. 
Akibat dari jadwal ini, mengajar pun, sama menantangnya.  Senin sebagai contoh, jam 1-2 kelas 12 wajib, jam 3-4-5 kelas 10 peminatan,  jam 7-8 kelas 11 wajib  jam 9-10 kelas 12 wajib.

Pekerjaan belum selesai  ketika telepon berbunyi. Saya angkat dan terdengar suara asing yang mengaku dari Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan meminta saya hadir pada kegiatan Penulisan Ilmiah dan Karya Ilmiah,  di Jakarta hari ini  juga.  Lanjut suara dari seberang menerangkan bahwa kegiatan sudah dimulai sejak Rabu, dan saya bisa ikut  mulai hari Kamis malam, tidak apa-apa.  Saya pikir-pikir. Sekolah baru buka,  sudah harus meninggalkan kelas. Saya merasa tidak tega meninggalkan anak-anakku yang mulai tertarik literasi.

Telepon berdering  lagi, katanya surat undangan,  SPPD, Biodata, sudah dikirim. Ditunggu.  Call ended.

Dengan raaa enggan saya meminta izin kepada Kepala Sekolah untuk mengikuti kegiatan. Beliau mengizinkan, artinya, saya tidak dapat mengajar pada hari Jumat. Izin dari KS menyebabkan saya berkoordinasi dengan rekan sesama pengajar untuk membantu mengawasi kelas saya. Saya sendiri, meninggalkan sekolah pukul 12 siang dan berangkat menuju Jakarta pukul 13.

Setiap hari, penuh  kejutan,  banyak hal di luar rencana.  Semoga apapun yang saya lakukan menjadi kebaikan dan kelak menjadi penukar segala kesulitan.

Hari ke-10

Hari ini saya masih tertahan di Jakarta untuk menyelesaikan pengurusan administrasi anak saya. Saya merasa sangat tidak tenang. Hari ini saya memiliki jadwal mengajar 2 jam di kelas 12 MIPA 6. Jadwal mengajar saya hari ini hanya 2 jam saja.

Ketidakmampuan saya hadir pada 2 tempat sekaligus membuat saya harus belajar menerapkan  pilihan  mana yang harus dilakukan berdasarkan skala prioritas. Sekaligus, memikirkan solusi agar 2 pekerjaan yang terpaut jarak 125Km dapat terlaksana tanpa ada kerugian pada salah satu pihak.

Pilihan jatuh pada saya tidak berada di kelas hari ini. Pertama, secara fisik saya masih berada di Jakarta,  perlu 6 sampai 7 jam untuk tiba di kelas. Sangat rasional untuk saya menyelesaikan segala urusan di Jakarta terlebih dahulu. Kalaupun memaksa pulang, saya tetap tidak akan bisa mengajar.

Kedua, pengurusan administrasi di Kedutaan menyangkut penyerahan tanggung jawab anak saya kepada notaris bukan hal sederhana yang bisa dilakukan pihak Kedutaan saja. Kehadiran notaris yang menjadi pelindung secara hukum untuk penyerahan tanggung jawab ini, menunjukkan keseriusan pemindahan tanggung jawab anak kepada pihak ketiga.

Ketiga, untuk mengajar saya bisa meminta bantuan guru kolega untuk menggantikan kehadiran saya. Kolega saya hari Senin dan Selasa tidak mengajar. Sangat memungkinkan baginya untuk berdiri depan kelas atas nama saya. Saya dan guru kolega telah membangun kerjasama untuk saling membantu ketika kelak salah satu dari kami tidak dapat hadir di kelas. Guru substitusi tidak diakui dalam sistem penyediaan guru di Indonesia namun saya melakukan hal itu demi tersedianya guru yang mendampingi siswa di dalam kelas. Saya mengasumsikan pemerintah tidak mengakui keberadaan guru substitusi terkait pembayaran tambahan untuk guru substitusi  dan anggapan bahwa guru tidak boleh meninggalkan kelas pada saat jam kerja.

Pikiran saya jadi berjalan kemana-mana. Kini pikiran saya masih kembali ke saat malam tadi. Setiap keluarga hadir untuk berselamat jalan kepada anaknya. Haru biru khawatir dan bangga bercampur menjadi butiran do'a. Semua karena karuniaNYA maka anak-anak kami bisa terpilih. Saya hanya mampu berbisik mengajukan permohonan pada illahi, " Tuhan selamatkan mereka dalam berangkat, selama berkegiatan negeri Tirai Besi, negara Beruang Merah, dan mereka kembali ke tanah air."

Saya dan anak saya berkesempatan bertemu di bandara dalam waktu kurang dari 4 jam. Itupun waktunya bukan sepenuhnya milik orang tua. Waktu tersebut diisi brifing, pengecekan paspor, pemasangan tanda pada koper, memastikan barang bawaan tidak lebih dari 20Kg, dan hal-hal lain yang membuat kami, sebagai orang tua yakin bahwa anak-anak kami benar-benar akan terpisah secara waktu dan jarak selama hampir 3 minggu. 

Sebelum anak saya berangkat,  anak-anak dan orang tua berkumpul untuk berdoa bersama. Sebelumya saya bertemu Bapak Vitaly, pemimpin kegiatan yang menanganidan bertanggung jawab atas anak-anak mulai dari pemilihan sampai anak-anak kembali ke tanah air. Saya juga bertemu dengan pembimbing sekaligus pendamping anak saya. Anak-anak dibagi 2 kelompok. Anak saya dibimbing Aloyna, seorang Rusia yang pekrjaan utamanya adalah guru di pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan Rusia di Jakarta. Kelompok lainnya didampingi Rosa.

Waktu menunjukkan pukul 22, anak saya dan rombongan masuk ke bandara untuk pengambilan tiket. Itu artinya saya tidak akan bertemu secara langsung dengan anak saya selama beberpa minggu  ke depan.  

Saya menjalani hari sebaik mungkin semampu yang dapat saya lakukan.  Saya tidak memiliki kemampuan untuk menyenangkan semua orang. Yang dapat saya lakukan adalah melakukan yang terbaik yang terjangkau secara akal, waktu  tenaga dan pikiran saat ini.

Friday, July 28, 2017

Excel, selamat menjadi warga negara internasional

Ketika mendengar kata 'perkemahan remaja' atau 'youth camp' bagi sebagian besar kita acuannya adalah kegiatan berbau kepramukaan. Sebuah kegiatan dimana anak-anak berkemping, berlatih hidup mandiri dan menghabiskan waktu dengan serangkaian kegiatan yang disediakan oleh panitia. Mereka jauh dari rumah, memasak sendiri, menyelesaikan beragam masalah yang dirancang panitia, dan menyesuaikan diri dengan situasi serta kondisi yang sama sekali berbeda dengan rumah.
Pemikiran seperti di atas tidak semuanya salah. Perkemahan remaja yang diselenggarakan di Indonesia,  salah satunya yang telah biasa sebagai penyelenggara adalah sangga kerja pramuka. Dengan sendirinya kegiatannya sesuai dengan tujuan kepramukaan.  Membangun kemandirian, menjadi individu toleran, memlineercayai kemampuan diri sendiri, dan sederetan hal positif lain yang dapat terwujud dari keikutsertaan dalam kepramukaan.
Berbeda dengan kegiatan perkemahan remaja yang disebutkan di atas, International Youth Camp yang diselenggarakan Rosatom School di Vladivostok, Rusia adalah kegiatan yang melibatkan anak-anak dan remaja (usia 10 sampai 17 tahun) untuk meningkatkan pengetahuan dan komunikasi secara profesional. Kegiatan ini dilaksanakan mulai 18 Juli sampai 8 Agustus 2017.
Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapatkan undangan untuk mengirimkan peserta dalam kegiatan berskala internasional ini. Indonesia mengirimkan 15 orang remaja terpilih yang sebelumnya diseleksi oleh Pusat Kebudayaan dan llmu Pengetahuan Rusia di Jakarta.
Salah satu peserta kegiatan ini adalah Excel Nalendra Nugraha, siswa Kelas 7 SMPN 2 Cianjur Jawa Barat.  Keberangkatan Excel untuk ikut serta pada sub kegiatan Camp Anak Internasional Sekolah Rosatom di pusat perkumpulan anak-anak seRusia di tempat bernama "Okean".
Program International  Youth Camp memberikan kesempatan kepada Excel untuk mengikuti berbagai aktivitas menarik sekaligus menantang termasuk kuliah interaktif  misalnya Rahasia Diplomat Muda, Seni Berbicara, Pendidikan Budaya Asia, Protokol,  dan Etika Diplomatik.
Kegiatan lainnya yang memberikan kesempatan untuk merasakan bangganya sebagai bangsa Indonesia adalah "lbu Pertiwiku Sayang". Program yang memberikan kesempatan untuk anak dari seluruh dunia berbagi dan menjadi warga negara internasional diantaranya debat "Model PBB Okean, Pendidikan Ekspresi Budaya, dan Sesi Permainan."
Kegiatan ini mempertemukan Excel juga  seluruh peserta dari seluruh dunia dengan tantangan dan permainan edukatif sehingga tidak lagi perbedaan suku, agama, asal negara,  dan warna kulit menjadi penghalang. Mereka bersama-sama membangun nilai-nilai persahabatan,  sikap inklusif  (tidak bersikap pilih-pilih), tanggung jawab dan kooperatif.

Membangun persahabatan antar bangsa yang dimulai sejak kanak-kanak memungkinkan mereka memeroleh cara pandang baru mengenai pertemanan dan bagiamana caranya berteman yang sehat.  Selama berada di camp, mereka berkesempatan pula untuk dapat mempraktikan nilai-nilai dan budaya positif dimana dia dibesarkan, namun mereka belajar pula bagaimana berdampingan dengan kultur dan nilai-nilai yang dibawa anak-anak lain juga adat istiadat yang berlaku setempat.

Keikutsertaan seorang anak dari kota kecil yang dilahirkan dan dibesarkan dengan budaya lokal Cianjur dalam kegiatan berskala internasional menginspirasi kita bahwa setiap anak  dari manapun dia berasal berkesempatan yang sama untuk menjadi warga negara internasional, mendunia, dan memliki wawasan global. Semoga partisipasi Excel pada kegiatan International Youth Camp, Vladivostok, bersama Rosatom School menginspirasi anak-anak lain di Cianjur khususnya, dan anak-anak lain di manapun dia berada untuk terus melakukan yang terbaik dan tidak pernah berhenti bermimpi.

Thursday, July 27, 2017

Hari ke-9

Hari Senin ini akan dihabiskan di lbukota Indonesia,  Jakarta. Kehadiran saya di Jakarta, tidak mengubah wajah Jakarta,  atau membuat Cianjur berkurang satu penduduknya. Semuanya terdengar dan terlihat biasa. Namun jika ditelusuri,  sama sekali, tidak biasa.

Subuh buta saya dan anak saya telah membelah jalan raya menuju Bogor. Kabut dan temaram jalan yang sebagian tanpa penerangan membuat kami selalu waspada. Banyak tersiar kabar banyak kejahatan di jalan raya demi untuk mendapatkan kendaraannya, harta yang dibawanya, dan nyawa tidak dimasukkan sebagai sesuatu yang berharga. Perjalanan sunyi,  sesekali pecah ketika anak saya yang sulung mengajak berbicara. Mungkin sekedar menghilangkan kantuk, karena dia menyetir.

Hampir pukul 5 pagi kami tiba di stasiun Bogor. Kendaraan disimpan diparkiran yang disediakan pihak stasiun keret api.
Kami naik kareta api menuju Jakarta. Mulanya, kami duduk, dan bisa membayar kantuk dengan tidur tanpa mimpi.
Saya terbangun ketika insting mengatakan kereta penuh sesak. Benar, ketika membuka mata, tak ada daerah kosong, lorong penuh orang. Mungkin semua orang ini bekerja di Jakarta, pikirku.
Saya lihat ada 2 orang lbu-lbu hamil. Saya persilakan dia duduk. Anak saya melakukan hal yang sama. Kami berdua berdiri menahan diri agar bisa berdiri di belantara kaki dan tubuh yang mendorong dan menghimpit kami dari berbagai arah.

Menurut perhitungan saya, gerbong kereta telah melebihi kapasitas yang mampu ditampungnya. Sayangnya, masih saja ada orang yang memaksa masuk. Maka, makin sesaklah lorong tempat dimana saya dan anak saya berdiri. Saya koreksi, bukan berdiri. Berdiri ditandai dengan kaki tegak lurus 90°. Saya menopang badan dengan kaki miring 45° karena terdorong dari belakang.

Seorang gadis di belakang saya terlihat meringis karena badannya yang kecil terjepit dari semua arah. Tangannya menggapai-gapai mencari pegagan. Seorang lbu mengeluh, dan meminta gadis di samping saya untuk membuka jendela. Sepertinya dia merasa tidak lagi bisa bernafas karena sesak. Jendela dibuka, wush...angin polusi masuk. Kami menghirup udara kotor dengan ikhlas. Tidak ada pilihan. Kaki sakit menahan beban badan sendiri dan tubuh orang lain. Setiap kali kereta api berhenti, bertambah pula orang yang naik. Memaksa naik.

Terdengar suara pengumuman di dalam kereta api, ' Untuk keselamatan,  penumpang yang tidak dapat naik jangan memaksakan diri.'
Saya seperti sedang mengalami apa yang disebut Richard K Coleman sebagai 'paradoks tragis.'
Pengumuman bergema didalam kereta api. Penumpang yang tidak dapat naik, berada di luar kereta. Teriak-teriak himbauan untuk keselamatan tidak terdengar oleh yang seharusnya mendengarnya. Persis seperti guru yang memarahi siswa yang sering bolos kepada siswa yang hadir, sementara siswa yang bolosnya tidak mendengar luapan marah sang guru. Paradoks tragis.

Perjalanan dengan kereta api sejatinya sangat nyaman, paradoks tragisnya, perjalanan jauh dari nyaman. Lebih dekat kepada pengalaman traumatik.
Badan terjepit, kaki hampir mati rasa karena terlalu lama menahan tubuh, udara yang terasa tipis, dan tulang rusuk terasa akan patah terdorong ransel mungkin berisi setrikaan.

Untunglah setiap perjalanan memiliki akhir. Saya bernafas lega pada saat kereta mengumumkan kereta api telah tiba di akhir perjalanan. Saya meninggalkan gerbong yang menyodorkan pengalaman tragis.

Syukurlah segala haru biru gerbong kereta api, sirna ketika bertemu anak saya. Saya mencoba memahami makna gerbong dan penumpangnya yang tidak berdaya didera desakan kelebihan penumpang. Saya ibaratkan gerbong itu kelas, di dalamnya berdesak-desakan mimpi-mimpi siswa, juga mimpi gurunya. Setiap pemimpi terombang-ambing, terseok-seok, menahan beban dorongan dari mimpi orang-orang di sebelahnya. Semuanya harus sabar, harus bekerjasama sampai ujung perjalanan yang telah di tetapkan.
Tidak bisa siswa atau saya menyerah dan meminta mundur di tengah perjalanan karena merasa terlalu kesempitan dan terdesak mimpi-mimpi orang lain. Semua harus ikut aturannya, ikut takdirnya. Nanti, ada masanya semuanya berakhir dan bertemu dengan mimpinya.