Saturday, August 5, 2017
Hari Ke-14
Thursday, August 3, 2017
Hari Ke-13
Wednesday, August 2, 2017
Hari Ke-12
Sunday, July 30, 2017
Hari ke-11
Waktu belum menunjukkan pukul 5 ketika saya bangun pagi ini. Memulai pagi, mengikuti ritual dan jam gelombang hidup saya, pukul 6. Saya siap belajar hari ini. Pukul 6.10 saya sudah berangkat sekolah.
Pukul 6.30 saya tiba di sekolah dan menuju kelas 12 MIPA 6. Berniat akan melanjutkan literasi. Namun, niat itu hari ini tidak dapat terlaksana. Guru yang mengajar pada jam pertama telah berada di kelas, dia mendapat amanat untuk mengisi literasi dari Kepala Sekolah. Katanya guru jam pertama bertanggung jawab untuk mendampingi literasi. Saya merasa bahagia dengan kabar ini. Artinya para siswa akan mendapatkan pengalaman berliterasi dengan langsung pengawasan guru.
Saya sangat berharap para guru jadi contoh hidup individu yang mampu menjadi bagian masyarakat penikmat membaca. Juga, saya berharap para guru-pembaca bersedia berbagi hasil bacaannya dengan siswa. Dengan demikian banyak nilai-nilai yang bisa disampaikan kepada siswa tanpa harus menunggu mengalaminya terlebih dahulu.
Pada saat guru jam pertama bersedia mengisi literasi di kelas 12 MIPA 6, saya sangat bangga karena diam-diam rekan guru yang lain juga memiliki niat mulia untuk membangun kebiasaan membaca pada kalangan siswa SMA. Bagi saya, walaupun saat ini mereka berada di kelas 12, tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik.
Ketika pertama kali bertemu kelas 12 MIPA 6 mereka menjawab dengan senyum waktu ditanya 'buku (non pelajaran) apa yang sedang kamu baca saat ini.'
Senyum itu saya maknai sebagai 'kami tidak sedang membaca buku apapun, maklum kemarin libur dan hari ini baru masuk sekolah.'
Tanpa ragu saya menunjukkan buku Dan Brown 'Angels and Demons' yang sedang saya baca. Saya beri mereka bocoran isi bukunya. Mereka terlihat penasaran. Sebuah reaksi yang sangat menggembirakan. Semoga dengan diberi bocoran isi buku, mereka ingin membacanya sendiri.
Literasi diartikan membaca di lingkungan sekolah tempat saya mengajar. Mungkin ini seperti pendefinisian yang disederhanakan. Definisi ini bagi saya untuk saat ini, tepat. Anak-anak SMA tahun lalu mengeluhkan enggan mengikuti ujian lantaran soal diberikan dalam bentuk bacaan. Menurut mereka, soal yang disajikan dalam bacaan, sulit. Matematika, jika soalnya bacaan susah katanya. Jangan tanya teks bahasa Inggris, teks berbahasa Indonesia saja, katanya capek baca. Hal ini menyiratkan bahwa mereka tidak biasa membaca.
Mereka yang biasa membaca, tidak akan menemukan kesulitan ketika diberi teks panjang, karena kecepatan membacanya sudah tinggi. Tidak pula kesulitan memahami isi bacaan, karena kosa kata mereka juga telah sedemikian kaya. Maka, jadilah literasi adalah membaca.
Hari ini saya tidak punya jadwal mengajar, niat ke sekolah hanya untuk bersilaturahmi lewat bacaan dengan siswa. Namun, kelasnya telah diisi guru lain, saya masuk ruang guru dan mulai mengerjakan analisis materi ajar.
Saya mengajar dengan komposisi kelas yang luar biasa menantang. Ada 4 kelas 12 bahasa Inggris wajib, ada 1 kelas 12 peminatan, 1 kelas 11 peminatan, 1 kelas 11 bahasa inggris wajib, dan 2 kelas 10 peminatan.
Akibat dari jadwal ini, mengajar pun, sama menantangnya. Senin sebagai contoh, jam 1-2 kelas 12 wajib, jam 3-4-5 kelas 10 peminatan, jam 7-8 kelas 11 wajib jam 9-10 kelas 12 wajib.
Pekerjaan belum selesai ketika telepon berbunyi. Saya angkat dan terdengar suara asing yang mengaku dari Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan meminta saya hadir pada kegiatan Penulisan Ilmiah dan Karya Ilmiah, di Jakarta hari ini juga. Lanjut suara dari seberang menerangkan bahwa kegiatan sudah dimulai sejak Rabu, dan saya bisa ikut mulai hari Kamis malam, tidak apa-apa. Saya pikir-pikir. Sekolah baru buka, sudah harus meninggalkan kelas. Saya merasa tidak tega meninggalkan anak-anakku yang mulai tertarik literasi.
Telepon berdering lagi, katanya surat undangan, SPPD, Biodata, sudah dikirim. Ditunggu. Call ended.
Dengan raaa enggan saya meminta izin kepada Kepala Sekolah untuk mengikuti kegiatan. Beliau mengizinkan, artinya, saya tidak dapat mengajar pada hari Jumat. Izin dari KS menyebabkan saya berkoordinasi dengan rekan sesama pengajar untuk membantu mengawasi kelas saya. Saya sendiri, meninggalkan sekolah pukul 12 siang dan berangkat menuju Jakarta pukul 13.
Setiap hari, penuh kejutan, banyak hal di luar rencana. Semoga apapun yang saya lakukan menjadi kebaikan dan kelak menjadi penukar segala kesulitan.
Hari ke-10
Hari ini saya masih tertahan di Jakarta untuk menyelesaikan pengurusan administrasi anak saya. Saya merasa sangat tidak tenang. Hari ini saya memiliki jadwal mengajar 2 jam di kelas 12 MIPA 6. Jadwal mengajar saya hari ini hanya 2 jam saja.
Ketidakmampuan saya hadir pada 2 tempat sekaligus membuat saya harus belajar menerapkan pilihan mana yang harus dilakukan berdasarkan skala prioritas. Sekaligus, memikirkan solusi agar 2 pekerjaan yang terpaut jarak 125Km dapat terlaksana tanpa ada kerugian pada salah satu pihak.
Pilihan jatuh pada saya tidak berada di kelas hari ini. Pertama, secara fisik saya masih berada di Jakarta, perlu 6 sampai 7 jam untuk tiba di kelas. Sangat rasional untuk saya menyelesaikan segala urusan di Jakarta terlebih dahulu. Kalaupun memaksa pulang, saya tetap tidak akan bisa mengajar.
Kedua, pengurusan administrasi di Kedutaan menyangkut penyerahan tanggung jawab anak saya kepada notaris bukan hal sederhana yang bisa dilakukan pihak Kedutaan saja. Kehadiran notaris yang menjadi pelindung secara hukum untuk penyerahan tanggung jawab ini, menunjukkan keseriusan pemindahan tanggung jawab anak kepada pihak ketiga.
Ketiga, untuk mengajar saya bisa meminta bantuan guru kolega untuk menggantikan kehadiran saya. Kolega saya hari Senin dan Selasa tidak mengajar. Sangat memungkinkan baginya untuk berdiri depan kelas atas nama saya. Saya dan guru kolega telah membangun kerjasama untuk saling membantu ketika kelak salah satu dari kami tidak dapat hadir di kelas. Guru substitusi tidak diakui dalam sistem penyediaan guru di Indonesia namun saya melakukan hal itu demi tersedianya guru yang mendampingi siswa di dalam kelas. Saya mengasumsikan pemerintah tidak mengakui keberadaan guru substitusi terkait pembayaran tambahan untuk guru substitusi dan anggapan bahwa guru tidak boleh meninggalkan kelas pada saat jam kerja.
Pikiran saya jadi berjalan kemana-mana. Kini pikiran saya masih kembali ke saat malam tadi. Setiap keluarga hadir untuk berselamat jalan kepada anaknya. Haru biru khawatir dan bangga bercampur menjadi butiran do'a. Semua karena karuniaNYA maka anak-anak kami bisa terpilih. Saya hanya mampu berbisik mengajukan permohonan pada illahi, " Tuhan selamatkan mereka dalam berangkat, selama berkegiatan negeri Tirai Besi, negara Beruang Merah, dan mereka kembali ke tanah air."
Saya dan anak saya berkesempatan bertemu di bandara dalam waktu kurang dari 4 jam. Itupun waktunya bukan sepenuhnya milik orang tua. Waktu tersebut diisi brifing, pengecekan paspor, pemasangan tanda pada koper, memastikan barang bawaan tidak lebih dari 20Kg, dan hal-hal lain yang membuat kami, sebagai orang tua yakin bahwa anak-anak kami benar-benar akan terpisah secara waktu dan jarak selama hampir 3 minggu.
Sebelum anak saya berangkat, anak-anak dan orang tua berkumpul untuk berdoa bersama. Sebelumya saya bertemu Bapak Vitaly, pemimpin kegiatan yang menanganidan bertanggung jawab atas anak-anak mulai dari pemilihan sampai anak-anak kembali ke tanah air. Saya juga bertemu dengan pembimbing sekaligus pendamping anak saya. Anak-anak dibagi 2 kelompok. Anak saya dibimbing Aloyna, seorang Rusia yang pekrjaan utamanya adalah guru di pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan Rusia di Jakarta. Kelompok lainnya didampingi Rosa.
Waktu menunjukkan pukul 22, anak saya dan rombongan masuk ke bandara untuk pengambilan tiket. Itu artinya saya tidak akan bertemu secara langsung dengan anak saya selama beberpa minggu ke depan.
Saya menjalani hari sebaik mungkin semampu yang dapat saya lakukan. Saya tidak memiliki kemampuan untuk menyenangkan semua orang. Yang dapat saya lakukan adalah melakukan yang terbaik yang terjangkau secara akal, waktu tenaga dan pikiran saat ini.
Friday, July 28, 2017
Excel, selamat menjadi warga negara internasional
Program International Youth Camp memberikan kesempatan kepada Excel untuk mengikuti berbagai aktivitas menarik sekaligus menantang termasuk kuliah interaktif misalnya Rahasia Diplomat Muda, Seni Berbicara, Pendidikan Budaya Asia, Protokol, dan Etika Diplomatik.
Keikutsertaan seorang anak dari kota kecil yang dilahirkan dan dibesarkan dengan budaya lokal Cianjur dalam kegiatan berskala internasional menginspirasi kita bahwa setiap anak dari manapun dia berasal berkesempatan yang sama untuk menjadi warga negara internasional, mendunia, dan memliki wawasan global. Semoga partisipasi Excel pada kegiatan International Youth Camp, Vladivostok, bersama Rosatom School menginspirasi anak-anak lain di Cianjur khususnya, dan anak-anak lain di manapun dia berada untuk terus melakukan yang terbaik dan tidak pernah berhenti bermimpi.
Thursday, July 27, 2017
Hari ke-9
Hari Senin ini akan dihabiskan di lbukota Indonesia, Jakarta. Kehadiran saya di Jakarta, tidak mengubah wajah Jakarta, atau membuat Cianjur berkurang satu penduduknya. Semuanya terdengar dan terlihat biasa. Namun jika ditelusuri, sama sekali, tidak biasa.
Subuh buta saya dan anak saya telah membelah jalan raya menuju Bogor. Kabut dan temaram jalan yang sebagian tanpa penerangan membuat kami selalu waspada. Banyak tersiar kabar banyak kejahatan di jalan raya demi untuk mendapatkan kendaraannya, harta yang dibawanya, dan nyawa tidak dimasukkan sebagai sesuatu yang berharga. Perjalanan sunyi, sesekali pecah ketika anak saya yang sulung mengajak berbicara. Mungkin sekedar menghilangkan kantuk, karena dia menyetir.
Hampir pukul 5 pagi kami tiba di stasiun Bogor. Kendaraan disimpan diparkiran yang disediakan pihak stasiun keret api.
Kami naik kareta api menuju Jakarta. Mulanya, kami duduk, dan bisa membayar kantuk dengan tidur tanpa mimpi.
Saya terbangun ketika insting mengatakan kereta penuh sesak. Benar, ketika membuka mata, tak ada daerah kosong, lorong penuh orang. Mungkin semua orang ini bekerja di Jakarta, pikirku.
Saya lihat ada 2 orang lbu-lbu hamil. Saya persilakan dia duduk. Anak saya melakukan hal yang sama. Kami berdua berdiri menahan diri agar bisa berdiri di belantara kaki dan tubuh yang mendorong dan menghimpit kami dari berbagai arah.
Menurut perhitungan saya, gerbong kereta telah melebihi kapasitas yang mampu ditampungnya. Sayangnya, masih saja ada orang yang memaksa masuk. Maka, makin sesaklah lorong tempat dimana saya dan anak saya berdiri. Saya koreksi, bukan berdiri. Berdiri ditandai dengan kaki tegak lurus 90°. Saya menopang badan dengan kaki miring 45° karena terdorong dari belakang.
Seorang gadis di belakang saya terlihat meringis karena badannya yang kecil terjepit dari semua arah. Tangannya menggapai-gapai mencari pegagan. Seorang lbu mengeluh, dan meminta gadis di samping saya untuk membuka jendela. Sepertinya dia merasa tidak lagi bisa bernafas karena sesak. Jendela dibuka, wush...angin polusi masuk. Kami menghirup udara kotor dengan ikhlas. Tidak ada pilihan. Kaki sakit menahan beban badan sendiri dan tubuh orang lain. Setiap kali kereta api berhenti, bertambah pula orang yang naik. Memaksa naik.
Terdengar suara pengumuman di dalam kereta api, ' Untuk keselamatan, penumpang yang tidak dapat naik jangan memaksakan diri.'
Saya seperti sedang mengalami apa yang disebut Richard K Coleman sebagai 'paradoks tragis.'
Pengumuman bergema didalam kereta api. Penumpang yang tidak dapat naik, berada di luar kereta. Teriak-teriak himbauan untuk keselamatan tidak terdengar oleh yang seharusnya mendengarnya. Persis seperti guru yang memarahi siswa yang sering bolos kepada siswa yang hadir, sementara siswa yang bolosnya tidak mendengar luapan marah sang guru. Paradoks tragis.
Perjalanan dengan kereta api sejatinya sangat nyaman, paradoks tragisnya, perjalanan jauh dari nyaman. Lebih dekat kepada pengalaman traumatik.
Badan terjepit, kaki hampir mati rasa karena terlalu lama menahan tubuh, udara yang terasa tipis, dan tulang rusuk terasa akan patah terdorong ransel mungkin berisi setrikaan.
Untunglah setiap perjalanan memiliki akhir. Saya bernafas lega pada saat kereta mengumumkan kereta api telah tiba di akhir perjalanan. Saya meninggalkan gerbong yang menyodorkan pengalaman tragis.
Syukurlah segala haru biru gerbong kereta api, sirna ketika bertemu anak saya. Saya mencoba memahami makna gerbong dan penumpangnya yang tidak berdaya didera desakan kelebihan penumpang. Saya ibaratkan gerbong itu kelas, di dalamnya berdesak-desakan mimpi-mimpi siswa, juga mimpi gurunya. Setiap pemimpi terombang-ambing, terseok-seok, menahan beban dorongan dari mimpi orang-orang di sebelahnya. Semuanya harus sabar, harus bekerjasama sampai ujung perjalanan yang telah di tetapkan.
Tidak bisa siswa atau saya menyerah dan meminta mundur di tengah perjalanan karena merasa terlalu kesempitan dan terdesak mimpi-mimpi orang lain. Semua harus ikut aturannya, ikut takdirnya. Nanti, ada masanya semuanya berakhir dan bertemu dengan mimpinya.