Pages

Saturday, September 9, 2017

Hari Ke-51 Good Bye Linear

Di luar kelas, kita menggunakan berbagai disiplin ilmu, berbagai cara, berbagai pengalaman untuk dapat terus bertahan dan hidup. Namun, pendidikan mengajarkan kepada peserta didik sistem ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri-sendiri. Setiap disiplin ilmu diberi nama sendiri-sendiri. Untuk sekolah menengah, lahirlah belasan nama mata pelajaran. Para siswa melihat, sekolah adalah mata pelajaran. Guru adalah guru mata pelajaran.

Mata pelajaran sesungguhnya tidak berdiri sendiri-sendiri seperti namanya. Berbeda dengan pabrik. Pabrik ban, hanya memproduksi ban. Pabrik semen, hanya membuat semen. Sekolah bukan pabrik, walaupun terdiri dari bermacam-macam pelajaran di dalamnya. Sekolah tidak memproduksi luaran pendidikan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tunggal. Ketika sekolah dianggap memproduksi siswa seperti pabrikan, atau hanya menguasai pengetahuan saja, maka mereka tidak siap untuk bisa bertahan di luar sekolah.  Sistem pembelajaran ala pabrik mengakibatkan peserta didik tidak mampu bermasyarakat.
Sekolah adalah tempat belajar. Belajar adalah hidup. Dalam hidup, tidak ada yang linier.

Saat ini, kita berada pada masa yang sangat kritis namun sangat menantang sepanjang sejarah. Masa itu disebut Era Informasi. Cepatnya kemajuan teknologi mengakibatkan kehidupan manusia serba mudah. Perubahan ini pun mempengaruhi pendidikan, –Generasi Z- yang hidupnya dibesarkan oleh teknologi layar sentuh. Infomasi bertebaran dimana-mana hanya dengan satu sentuhan dan satu sekaan layar. Siswa masa kini mengetahui lebih banyak hal ketimbang generasi sebelumnya, jadi mereka belajar dengan cara yang sangat berbeda dengan yang kita lakukan dahulu.

Terdapat tiga kunci bagaimana agar guru bisa bertahan pada pendidikan era informasi sehingga mampu memenuhi kebutuhan Generasi Z (Gen Z), bersamaan dengan menyambut akan masuk tengah semester ganjil tahun 2017.

1.     Manfaatkan teknologi dan belajarlah untuk menguasainya.
Lahirnya pembelajaran online (daring) dan jejaring social mengakibatkan para siswa dapat terus menerus terkoneksi, berkomunikasi, dan berkolaborasi dengan gurunya dan teman-temanya sehinnga jangkauan (extend) pembelajaran menembus dinding sekolah, waktu jam belajar sekolah, dan tempat belajar. Waktu dan tempat belajar menjadi variable dalam belajar yang sifatnya konstan.  Penggunaan teknologi mengakibatkan siswa lebih mampu menyesuaiakn belajarnya sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan yang diinginkannya. Dengan cara ini hasilnya akan lebih baik, manfaatkan itu.

2.     Ubah cara penyajian pembelajaran karena kemampuan konsentrasi siswa memendek. Gen Z, berdasarkan penelitian, memiliki banyak pilihan dalam satu waktu yang bersamaan. Misalnya, ketika membuka gawai, dalam lima menit mereka dapat berpindah dari media sosial, ke game, ke situs, ke surat elektronik, atau ke tempat selancar virtual lainnya.  Pun, Gen Z bersentuhan dengan gambar dan pesan digital dalam jumlah ratusan per hari, untuk membuat belajar nyambung dengan mereka, menggabungkan multimedia ke dalam pembelajaran dan memberdayakan siswa untuk mengintegrasikan multimedia untuk menunjukkan hasil belajar. Jika kita mengadopsi penggunaan teknologi ke dalam pembelajaran, maka hasilnya alami bagi Gen Z.

3.     Fokuskan pada keterampilan global melalui materi yang kita ajarkan.
Kabarnya, Gen Z, berganti karir 10-14 kali sebelum sampai ke masa pensiunnya. Jika ini benar, maka akan sulit bagi guru untuk mengajarkan semua hal agar mereka siap mengarungi kehidupan. Kita harus memperhitungkan bagaimana agar siswa menguasai empat keterampilan global, yakni komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan berpikir kritis melalui pelajaran.  Kita pun harus mengitegrasikan teknologi agar siswa kita mampu menyelesaikan masalah local, regional, nasional dan global. Cara ini membantu peserta didik untuk siap bersaing dan berkerja.

Mata pelajaran yang tersaji di kelas setiap hari diharapkan memberikan bekal yang lengkap dan paripurna untuk siswa bisa menjadi anggota masyarakat internasional yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan melalui berbagai mata pelajaran. Ketiga kunci di atas mengarahkan kepada lahirnya luaran sekolah yang literat, yakni individu yang mampu mencapai tujuannya dengan menggunakan kemammpuan dan potensinya. Hal ini dapat terjadi karena selama pembelajaran mereka dibimbing untuk menguasai kecakapan mengidentifikasi, menghitung, memahami, menginterpretasi, mengkreasi dan mengkomunikasikan. Ketika mereka tidak lagi di bawah bimbingan guru, mereka dapat berbaur, berpartisipasi dengan masyarakat sosial dan berkontribusi sesuai kemampuannya.


Kita berjuang untuk mengejar ketertinggalan karena perubahan yang terjadi di dunia industry di luar kelas, kita harus memperhitungkan pembelajaran irregular dan nonlinier untuk memberdayakan siswa kita.

Friday, September 8, 2017

Hari Ke-50 Dipaksa Tidak Mengajar

Pada saat mengajar kelas yang siswanya seolah enggan belajar, dan tanpa diduga beberapa siswa menghadap meminta sesekali tidak usah  belajar. Katanya Miss jangan terlalu rajin mengajar, jangan full ngajarnya,  kami merasa sangat lelah dengan full day dan tugas-tugas dari guru lain. Mereka menambahkan, katanya Kurikulum 2013 tidak ada pe er, tapi nyatanya banyak tugas, belum lagi ulangan. Miss ngasih tugas saja.

Mendengar hal itu, muncul dua percakapan yang saling bertolak belakang di dalam pikiran saya sebagai guru. Pertama, kalau siswanya sudah tidak mau belajar, tinggalkan saja. Memaksa belajar kepada siswa yang tidak mau belajar, hasilnya sudah bisa ditebak seperti apa. Dan kalau mau melihat ke sekeliling, siswa yang tiap pertemuan dibimbing dan diajari, dengan yang dibimbing sekali-kali, hasilnya sama saja, semuanya harus naik kelas.

Kedua, ketika siswa mengeluh malas dan tidak mau belajar,  inilah  tantangan. Tantangan untuk menunjukan kepada siswa bahwa belajar itu bermanfaat dan rugi kalau tidak belajar. Di dunia ini,  hampir semua orang berhasil, tidak lahir dari siswa yang mengajukan 'tolong hari ini ga usah belajar,  cukup tugas saja.' Tapi dari golongan banyak baca dan belajar dengan keras.  Dengan kata lain saya harus memaksakan pendapat saya bahwa banyak belajar itu baik kepada siswa yang tidak mau belajar. Jelas ini tantangan.

Tantangan menjadi lebih berat ketika mendengar keluhan guru lain yang mengajar kelas tersebut mengatakan hal-hal yang kurang membuat semangat untuk mengajar. Perang batin, masuk kelas atau ngasih tugas? Kalau masuk kelas, akan terbayang beratnya mengikis jejeran anak yang berpandangan 'belajar tidak belajar sama saja lulus.' Kalau memberi tugas, akan terbayang sorak sorai kegirangan seisi kelas karena guru bersedia mengikuti keinginan siswa.

Saya memilih mengajar. Langkah terasa berat, padahal sepatu yang dipakai masih sepatu ternyaman yang saya miliki.
Sambil berjalan menuju kelas, kesulitan telah membayangi. Kelas besar, karena peminatan kelasnya bisa saja di atas 40 orang sampai pernah 52 orang. Kesulitan kedua, tidak ada buku sumber. Mengajar tanpa buku sumber, ibarat mengajarkan naik sepeda tanpa membawa sepedanya. Hanya teori naik sepeda. Teori diberikan dalam 4 jam pelajaran? Dijamin siswanya tidur semua.

Saat tiba di kelas, saya menemukan para siswa terlihat memakai wajah lelah. Wajah yang seolah telah bekerja menguras tenaga tanpa tidur.  Pemandangan menjadi tambah kusut ketika siswa minta izin mencari kursi. Penyempurna bagi guru untuk meninggalkan kelas adalah udara kelas yang panas.

Tantangan setelah kemerdekaan ternyata sama beratnya dengan jaman sebelum kemerdekaan. Jika dulu setiap orang berjuang keras mencari perlindungan, mencari  makan, dan memerdekakan negara dari penjajah. Kini, setiap orang harus berjuang mencari kekuatan dalam bekerja  dan membawa generasi muda ke alam merdeka. Merdeka dalam arti tidak tergantung pada orang lain dan tidak menjadi beban orang  lain.

I should start.
Materi ajar yang harus diberikan rasanya sulit untuk penyajiannya. Konjungsi. Hanya itu. Konjungsi. Saya pikir para siswa telah sangat hafal dengan konjungsi.  Saya mikir lagi. Bagaimana materi tidak menarik, diberikan kepada siswa kelompok malas belajar. Ilmu pedagogis mana yang harus dipakai?

Saya teringat bahwa siswa yang sedang dihadapi  adalah generasi pengguna hape android. Yang  terpikirkan adalah membuat para siswa sibuk dengan hapenya dan lupa bahwa sedang belajar konjungsi.

Jadilah metode impromptu. Para siswa diminta menulis judul Conjunction Hunting, berburu konjungsi. Saya katakan bahwa berburu konjungsi boleh menggunakan hape atau non hape. Berburu konjungsi dan contoh-contohnya  sebanyak yang mereka dapat temukan dalam waktu 45 menit. Saya sendiri mencontohkan konjungsi 'sebelum,  sesudah, dan ketika. '

Selanjutnya 45 menit berikutnya,  membuat hasil buruan menjadi sesuatu yang bisa dinimkati. Pastikan konjungsi menjadi tokoh utamanya dan ada di dalam produk. Produk yang dapat  dipilih: recount, short story, song, power point, video.

Kisah diri sendiri  dan cerita pendek, keduanya karangan baru yang harua dibuat dulu draftnya, kemudian kumpulkan dalam bentuk mp.3
Song/lagu mengganti lirik  yang sudah ada dengan lirik baru berkonjungsi, kirim hasilnya dalam bentuk mp.3
Power point  bisa berisi cerita, kirim dalam bentuk ppt.
Dan video, berisi cerita fiksi atau non fiksi, rekam, kirim hasilnya dalam bentuk mp.4
Gunakan hape untuk mengerjakannya.

Para siswa terlihat senang karena mendengar kata hape boleh digunakan. Saya anggap itu sebagai awal yang baik. Saya kira waktu 4 jam pelajaran bukan waktu sebentar, cukup untuk menghasilkan produk. Saya katakan kepada siswa agar mengirim google share link untuk hasil kerjanya. Saya mengirimkan alamat link untuk WA. Tujuannya agar tidak tercampur antara WA pribadi dengan tugas dan hapenya tidak penuh dengan mp.4 dan mp.3 yang dikirm  siswa.

Saya ajarkan terlebih dahulu cara mengunggah file mp.3 atau mp.4 ke google drive dan mendapatkan alamat share link-nya. Saya katakan, saya akan menolak dan menghapus tugas yang langsung masuk ke WA link tidak dalam bentuk share link.

Para siswa mulai sibuk hunting konjungsi. Sibuk ngobrol,  sibuk mencari contoh, sibuk pindah-pindah duduk. Saya biarkan, saya anggap mereka sedang belajar. 45 menit  berlalu,  satu dua siswa menunjukkan draft,  tiga empat lainnya masih terlihat bingung dengan langkah selanjutnya mau membuat produk apa.
Seorang siswa minta izin meninggalkan kelas, dengan alasan hendak merekam suaranya untuk menyampaikan kisah singkat hidupnya menggunakan konjungsi. Saya izinkan, dengan  catatan pukul 15.30 telah kembali ke kelas.
Lima orang,  enam orang,  minta izin mau merekam temannya, mau membuat video. Perlahan namun pasti, kelas hanya tinggal dihuni belasan siswa. Saya mengingatkan kepada yang masih berada di dalam kelas bahwa mereka boleh meninggalkan kelas dan pukul 15.30 harus kembali ke kelas.

Tidak semua siswa meninggalkan kelas. Saya tidak mengganggu aktivitas mereka. Saya sibuk menulis jurnal.

Sesuai perjanjian, satu persatu siswa kembali ke kelas, satu persatu link masuk ke grup WA. Haro ini, saya mengajar kelas yang tidak mau belajar.  Dan saya tidak  mengajar, sesuai dengan keinginan mereka. Saya hanya memberikan prosedur yang harus dilakukan. 
Bagi saya, pengalaman mengajar siswa yang tidak mau belajar malah menyenangkan. 

Sunday, September 3, 2017

Hari Ke-19 Bojongherang, fenomena pengajian bernilai ekonomis tinggi

Tidak terasa, saya telah tiba pada hari Kamis di minggu pertama Agustus. Berbicara Kamis, ada hal khas yang hanya di Cianjur.

Kamis menjadi hari istimewa bagi sebagian masyarakat Cianjur.  Pada hari Kamis ada  pengajian,  atau belajar mengkaji Al-Qu'ran. Terdapat satu pengajian yang sangat populer sehingga menghadirkan manfaat ekonomi dari kegiatan tersebut, selain dari manfaat utama yaitu  meningkatnya pengetahuan keagamaan. Pengajian tersebut berada di Bojongherang,  maka terkenal dengan sebutan Pengajian Bojongherang. Pengajian tersebut dipimpin seorang kyai besar dengan penyimak dalam satu kali datang hampir seribu.

Fenomena pengajian yang mendatangkan keuntungan secara ekonomi menjadi keunikan tersendiri untuk kota Cianjur. Banyaknya pengunjung ke pengajian, mengundang hadirnya pedagang tidak tetap, atau pedagang dadakan. Mereka berjualan berjubel memenuhi jalan raya Bojongherang. Kegiatan pengajian dimulai pada pukul 7, diawali dengan hadiah. Acara selanjutnya nadoman dan membahas kajian tentang isi Al-Qu'ran. Acara berakhir sekitar pukul 11 siang.

Acara pengajian yang dimulai pukul 7 dengan hadiah. Hadiah ditujukan kepada yang telah meninggal baik dari kaum cendekia alim ulama ataupun dari jamaah pengajian yang telah berpulang. Pada pengajian ini, para jamaah memiliki kartu anggota. Andai suatu saat ada jamaah meninggal, dia dihadiahi doa pada awal kegiatan pengajian. Biasanya jamaah membawa air pada botol. Mereka menyimpan botol dekat podium tempat pimpinan pembawa doa berharap mendapatkan berkah dari do'a yang dipanjatkan ribuan jamaah.
Selesai hadiah, acara dilanjutkan dengan nadoman. Nadoman adalah membacakan kisah Nabi yang dilantunkan dalam nada naik turun seolah bernyanyi. Nadoman disampaikan dalam bahasa Arab yang mungkin artinya telah dikuasai oleh para jamaah. Namun bagi mereka yang belum tahu tentang isi nadoman, barangkali dia hanya mendengar nyanyian saja.

Acara pokok adalah mempelajari isi Al-Qu'ran yabg dipimpin Kyai sepuh. Semua jamaah menyimak, ada yang duduk di dalam ruangan mesjid, bagi yang tidak mendapatkan tempat duduk diatas tikar atau koran di luar mesjid sampai ke jalan-jalan.

Pengajian Bojongherang dapat menjadi wisata unik bernuansa agamis. Secara wisata, disepanjang jalan raya yang mendadak menjadi pasar, dijual segala hal yang mungkin tidak dapat ditemukan di tempat lain. Makanan tradisional dari luar kota seperti Sukabumi dan Tasik, bisa ditemukan di pasar dadakan ini. Menurut seorang penyuka Opak ketan,  dia menyebutkan bahwa Opak ketan Sukabumi kualitasnya di bawah Opak Ketan Tasik. Opakketan dari Tasik terasa lebih berisi, dia menggunakan kata 'hampos' untuk menggambarkan opak ketan yang kurang berisi.

Seusai pengajian, pengunjung dapat menikmati jajanan tradisional yang mungkin sudah tidak mudah ditemukan.  Bermacam makanan tradisional yang dapat kembali dinikmati diantaranya: leupeut kacang,  kupat, rangginang, dodongkal, talem, apem, mentok, putri noong, urab jagong, kulit, noga, geco, maranggi. Bagi mereka yang membutuhkan peralatan rumah tangga mulai dari cocolek  (sodet) sampai coét (ulekan) semua ada. Atau, yang menyukai fashion,  berjejer baju-baju muslimah dilapak-lapak yang ditutup terpal plastik yang didirikan pada badan jalan.


Kekhasan pengajian Kamis Bojongherang Cianjur memberikannya priviledge pada setiap hari Kamis jalan menuju tempat pengajian ditutup dan berubah jadi pasar.  Fenomena ini hanya milik pengajian Bojongherang saja.
Magnit kesohoran pengajian  Bojongherang mendatangkan banyak keuntungan bagi berbagai kalangan.  Untuk pecinta belajar agama, mereka akan menemukan praktik belajar agama dengan metode ceramah. Bagi mereka yang menyukai kuliner,  dapat menemukan makanan-makanan unik. Bagi kaum opportunis mereka datang, dan menjadi copet. Merekalah yang mengotori kesakralan pengajian karena nafsu ingin kerja enteng tapi hasilnya banyak. 

Pengajian Bojongherang perlu dilestarikan untuk mengenalkan sistem pengajian jenis 'bandung kuping' atau menyimak. 

Saturday, September 2, 2017

Hari Ke-41 Citumang

Kunjungan ke Pangandaran bagi saya merupakan pemberian  kesempatan kepada tubuh untuk kembali bermain di sungai sebagaimana dialami pada masa kanak-kanak (catatan: kanak-kanak bagi mereka yang lahir tahun 60-70an). Sungai  Citumang  menjadi salah satu sungai yang mengajak kita kembali ke masa kecil dimana kita bisa bermain air sepuasnya,  saling percaya dengan teman,  dan sekaligus mendapatkan petualangan.
Citumang adalah salah satu objek wisata yang ada di Kabupaten Pangandaran. Dari pusat kota Pangandaran memerlukan sekitar setengah jam. Perjalanan dapat menggunakan mobil sewaan dengan harga yang bisa negosiasi. Tempat kembali mengenang masa kanak-kanak berupa aliran sungai yang masih alami, dengan sedikit polesan untuk kepentingan kenyamanan.
Meninggalkan kota Pangandaran pada pukul 6.30, kita akan dibawa ke jalan kecil melewati pesawahan dan pemandangan kehidupan penduduk lokal. Sepanjang perjalananBagi  tidak banyak berpapasan dengan mobil lainnya kecuali yang bertujuan sama. Sesekali layang-layang terlihat terbang di atas pesawahan yang baru selesai dipanen.
Kita akan tiba di kamp tempat bertemunya calon peserta body rafting dengan para pemandu. Pemandu menjelaskan hal-hal dasar terkait pengamanan, misalnya cincin atau perhiasan sebaiknya dilepas untuk menghindari hilang, sendal dan segala macam alas kaki dibuka, dan segala barang termasuk hape sebaiknya tidak dibawa. 
Setelah mengenakan pelampung,  semua peserta body rafting berjalan sekitar 10 menit menuju ke badan sungai. Sepanjang jalan menuju sungai, mata kita akan disuguhi bentangan dinding batu cadas, akar-akar pohon, dan tanaman khas dataran  rendah dengan humiditas tinggi. Mendekati pinggir sungai, kita akan diajak berhenti untuk menikmati jamuan istimewa  yang dilakukan ikan. Bingung?
Terdapat tiga kolam buatan yang diisi ikan Nilem. Pada saat kaki kita dimasukkan ke dalam kolam, ikan-ikan kecil segera merubung kaki dan mereka memakan kotoran yang menempel di kaki misalnya kulit yang akan berganti. Jangan kaget, pada saat pertama ikan merubung kaki dan seolah melakukan peeling atau pembersihan,  rasanya agak sakit dan geli. Namun, jika dicoba dinikmati dan mencoba berdamai dengan ikan,  sensasi peeling oleh ikan menawarkan bagaimana manusia dan hewan saling ambil manfaat tanpa saling melukai.
Setelah sekitar lima menit menikmati dilayani ikan, kita diajak ke pingggir sungai. Dan bersiaplah untuk banyak mengandalkan rasa percaya diri. Bagi mereka yang tidak dapat berenang,  tidak jadi masalah karena tertolong oleh pelampung dan sepertinya tidak harus berenang karena body rafting (basa Sunda: papalidan) membiarkan tubuh kita terbawa air tanpa harus melawan arus sungai.
Spot pertama,  segera setelah tubuh masuk ke dalam aliran sungai, pemandu mengajak menguji nyali dengan loncat dari ketinggian 7 meter ke kedalaman 9 meter air sungai.  Untuk loncat bebas, kita harus naik akar-akaran dan setelah tiba di atas, barulah loncat. Loncat disarankan dengan berdiri tegak, kaki diusahakan  yang pertama jatuh agar tidak sakit. 
Setelah menikmati loncat dan adrenalin kembali  kumpul, kita diajak untuk masuk ke dalam gua yang  panjangnya sekitar 45 meter. Bagi yang tidak bisa berenang cara berenang melawan arus ialah dengan tidur telentang, saling pegang dan satu orang di depan menariknya. Air di dalam gua terasa lebih dingin. Pada bagian atas gua tidak terdapat stalaknit ataupun bekas-bekas cucuran air  yang berumur ratusan tahun. Hanya ada bagian kosong berongga dan buntu. Kemudian kita kembali melanjutkan petualangan melewati spot loncat, dan caranya, papalidan, atau biarkan tubuh kita terbawa arus. Jangan berusaha berdiri karena ada bagian sungai yang dalamnya sampai 12 meter.
Sekitar 10 meter dari spot loncat, kita akan diminta loncat lagi, tapi ketinggiannya hanya sekitar 2 meter.  Dari situ, kita papalidan lagi dan nanti akan diajak bergelantungan pada tali. Mirip Tarsan, bergelantungan pada tali dan menjatuhkan diri  ke sungai. Pada saat bergelantungan pada tali sebaiknya melalukan peregangan pada pergelangan tangan. Beban badan semuanya akan bertumpu pada tangan, jika ototnya kaget, bisa terkilir.
Segera setelah badan jatuh ke sungai, kita kembali menikmati jamahan air sungai yang dingin. Batu-batu yang licin sangat menantang untuk dilewati. Ujung-ujung batu  yang tajam memaksa konsentrasi tak putus  agar tidak terpeleset dan akhirnya terluka.
Batu-batu licin telah terlewati, kinj perjalanan sungai menuju titik akhir dan nanti naik ke darat. Setiap orang diminta mengikhlaskan dirinya mengapung di atas air, singkirkan rasa takut. Rasa takut mengakibatkan detak jantung tidak stabil dan badan tidak mengambang sempurna. Saya mencoba menyerahkan badan pada air. Sambil telentang menantang langit, dedaunan dan batang-batang kayu yang seolah sayap melebar ke atas sungai menjadi pemandangan yang mungkin hanya bisa dinikmati peserta body rafting yang membiarkan dirinya hanyut terbawa air. Telinga dicoba mendengar suara alam, pelan namun jelas terdengar ada suara burung, suara desir angin melewati daun, dan suara air. Kombinasi alam nan indah.
Saya membiarkan badan terbawa arus agak lama, kemudian mencoba menikmati badan yang seolah  tanpa bobot dengan berdiri dalam air. Saya bisa melihat hijaunya pemandangan  di sisi kiri kanan sungai. Saya berdoa semoga pemandangan ini tetap seperti ini sampai 100, 200 tahun yang akan datang. Saya berdoa agar tidak terpikir oleh siapapun untuk membeli tanah di sepanjang sungai dan dijadikan tempat tinggal atau tempat wisata yang sudah pasti akan mengubah wajah sungai. Jika jadi tempat tinggal,  paling tidak sungai akan tercemar air cuci sabun, dan ikan Nilem mengalami kiamat. Jika jadi tempat wisata, bukan tidak  mungkin dibuat tanggul, belokan buatan, atau danau buatan yang dicanangkan untuk perahu kecil bersolar. Jika yang kedua terjadi, bukan hanya ikan Nilem yang kiamat dan mati, tapi burung,  daun, air, bahkan orang-orang akan berubah.
Sekitar empat jam sejak mulai turun sampai kembali naik ke darat,  pikiran terasa dibarukan. Pikiran dipenuhi rasa bahagia karena sesaat telah lepas dari  segala urusan profesi dan tanggung jawab. Menyerahkan diri pada alam, berbaur  dengan irama, kekuatan,  dan keindahannya diperlukan tubuh. Oleh karenanya, izinkan tubuh kita kembali ke kegiatan masa kanak-kanak. Kegiatan yang tidak ada persaingan, tidak ada strata sosial, tidak ada asal usul, hanya bermain.

Friday, September 1, 2017

Hari Ke-44 Lebaran ldul Qurban

Sejak subuh takbir mereda. Panas badan suami dan anakku pun perlahan mereda. Menemani orang sakit dan melayaninya adalah bentuk lain dari Qurban. Bagi mereka yang menganggap bahwa qurban sebatas menyembelih hewan mengikuti contoh pengorbanan Nabi Ibrahim, tidak salah. Qurban dalam arti bahasa adalah mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara memberikan yang terbaik. Ismail adalah putra terbaik, dan Nabi Ibrahim menujukkan keikhlasan berkorban dan ketaatan pada Tuhan dengan bersedia menyembelih anaknya yang sangat dicintainya.

Pada masa kini, tentu untuk berqurban tidak seperti Nabi Ibrahim. Kita diminta berqurban hewan  kalau mampu. Ketika memaksakan diri berqurban dengan uang pinjaman, sebagian  mengatakan hal ini  tidak sah.

Qurban pada masa kini maknanya sama, namun caranya bisa berbeda. Keikhlasan adalah makna yang dekat dengan Qurban.
Pada Alquran ada perintah salat, akimus salat,  puasa, qutiba alaikummus siam, zakat, atuz zakat, tetapi ketika mmerintahkan haji,  walilahi alan nassi hijjul baiti lillah. Lillah, karena Allah atau ikhlas  hanya kepada  Allah. Korban atau menyembelih, sesungguhnya tidak sampai kepada  Allah dalam bentuk darah mengalir dari hewan yang disembelih.  Namun, yang sampai adalah apa yang ada dalam dada, dada orang yang berkorban, atau keikhlasannya memberikan yang dicintainya sehingga bisa berkorban. Misalnya uang, sesuatu yang dicintainya,  dibelikan hewan kurban, dan itulah  korban yang tulus.

Tulus dalam berkorban bermula dari nabi Ibrahim. Mula pertama pada zaman Nabi Adam ketika ada dua putra  Adam yang memberikan persembahan kepada Allah. Yang tulus diterima Allah. Pada Nabi Ibrahim pengorbanan yang diuji ketulusannya.

Apakah kita perlu berkorban? Perlu. Sembelih sikap-sikap buruk kita. Sikap hewan kita hsrus dibuang. Sebagai makhluk sosial,  kita harus berkorban agar kehidupan berjalan lancar. Pengorbanan itulah yang melahirkan ahlaq  makin tinggi pengorbanan makin tinggi ahlaqnya.

Manusia jangan mengorbankan manusia. Pada saat Nabi Ibrahim memutuskan siap menyembelih Ismail, Allah tukar dengan domba. Itu menandakan Allah mencintai manusia, jangan sampai ada manusia menyembelih  manusia.

Hidup harus ada pengorbanan.  Pengorbanan yang sempurna, kecuali kalau kita mati.


Thursday, August 31, 2017

Hari ke-44 Jangan-jangan

Hari ini dimulai dengan meminta izin kepada siswa 12 MIPA 6 bahwa saya tidak dapat menemani literasi. Semalaman suami dan anak saya demam hebat. Saya sendiri muntah-muntah pada pukul 20, namun bisa tidur sampai akhirnya terbangun karena suami dan anak badannya meriang dan tidak tidur sampai pagi hari. 

Segera setelah pukul 6 tiba, saya bawa suami dan anak ke rumah sakit Hermina. Dengan harapan ditangani dengan segera. Entah karena besok hari Lebaran Haji,  suami dan anak saya disuruh pulang. Dengan alasan bahwa lebih baik dirawat di rumah agar tidak terkena virus rumah sakit dan menambah parah penyakit dan lagi demamnya baru satu hari. Pulang lebih baik. Saya tidak punya daya untuk menolak,  maka kami pulang. 

Di rumah,  suami demamnya  berlanjut. Malah bertambah keluhannya dengan badan pegal, kaki serasa diikat, dan nyeri dada.

Magrib tiba, semua mesjid seolah berlomba-lomba menyuarakan takbir. Ada suara kanak-kanak, ada suara remaja, suara orang dewasa, semua berbaur, memenuhi udara malam. Saya hanya bisa menemani dua orang sakit sambil berharap saya sendiri tidak jatuh sakit.
Takbir mengingatkanku pada delapan tahun silam. Dengan lantunan kalimat takbir yang sama, saya duduk disamping ibuku yang sakit parah di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung. Berbulan-bulan lbu dirawat akibat gangguan penyakit lambung yang akut.

Tanpa sanak tanpa saudara ketika menemani lbu di rumah sakit, dunia terasa kecil dan sempit. Saya tidak berdaya menyembuhkan sakit lbu. Hanya mohon izin Tuhan dan bantuan dokter. Ketika takbir berkumandang ibuku terbangun. Seolah baru bangun dari tidur yang panjang. Ibuku bertanya, ' kenapa ada takbir, apa besok lebaran?' Saya tidak mampu menjawab, suara lbu yang menghubungkan takbir dengan lebaran menandakan beliau sudah sadar penuh.

Saya hanya bisa bersyukur lbu bisa mendengar suara takbir, lbu sadar. Saya merasakan keagungan suara takbir dan merasakan kekuasaan Tuhan bekerja dengan caraNYA. Takbir lebaran haji yang tidak akan terlupakan. Hanya dua kali takbir yang bisa lbu dan saya jalani bersama setelah lbu sadar.
Takbir itu kini berkumandang lagi. Saya duduk di samping dua orang yang sama dekatnya dengan lbu. Setelah lbu tiada, saya menghabiskan kumandang takbir lebaran hanya dengan anak dan suami. Ketika kumandang takbir bergema dan saya mengulang kejadian menemani orang sakit, saya jadi berpikir. Berapa kali lagi saya bisa berkesempatan mendengar takbir?

Takbir bisa jadi pengingat untuk sadar. Bangun dari kecintaan pada hidup. Dan beritikaf, berapa kali lagi takbir itu  bisa didengar dengan sadar. 

Semoga takdir memberikan kesempatan saya juga siapapun untuk selalu sadar pada hidup. Hidup yang dihiasi sakit dan ditunggu kematian sehingga dalam hidup selalu berbuat baik. Selalu mengagungkan kebesaran Tuhan, karena kasihNYAlah kita diberi kesempatan mendengar takbir.

Hari Ke-43 Miskin Motivasi?

Bel berbunyi.  Saatnya literasi. Semua siswa dan guru memegang buku. Sebagian membaca, sebagian mencoba membaca, sebagian memaksa membaca,  sebagian berusaha berdamai dengan membaca. Polah tingkah yang muncul saat literasi (apapun itu) menggembirakan bagi saya yang berharap semua warga sekolah menjadi orang yang berwawasan luas dan kaya informasi sehingga tidak terbawa arus hingar bingar saracen. 

Waktu literasi terasa berlalu lebih cepat dari yang seharusnya. Senyap khas literasi dipenggal bel masuk jam pertama.

Saya meninggalkan kelas 12 MIPA 6 dan masuk ke kelas yang tertera pada jadwal. Jam ke-1 dan ke-2, saya membayangkan semangat siswa pada jam awal melahap pelajaran dengan semangat.
Seusai membagikan lembaran kerja yang telah dinilai, kelas dimulai dengan memasangkan in focus. LCD diharapkan membantu banyak kepada siswa dan guru dari aspek kepraktisan. Misalnya pada saat menayangkan gambar, para siswa dapat melihatnya dengan jelas. Sayang, cahaya dari luar tanpa terhalang selembar benangpun mengakibatkan pantulan cahaya LCD hanya terlihat seperti bayangan di kaca yang 5 tahun belum di bersihkan. Pembelajaran yang direncanakan menarik, berubah membingungkan karena apapun yang ditayangkan tidak terlihat. Para siswa menanggapi kondisi ini dengan berbicara dengan teman sebangkunya. Entah membicarakan pantulan LCD, entah bicara yang lain. 

Situasi tidak nyaman ini segera diputus dengan menyetel rekaman berita sesuai materi yang harus dikuasai siswa. Lembaran pertanyaan diberikan dengan tujuan agar siswa mendapatkan arahan, bagian mana yang harus diperhatikan sehingga nanti berita tersebut  tertangkap informasi utamanya.  Setiap pertanyaan dibahas apa maksud dan tujuannya. Para siswa terlihat datar. Kelas sepi. Saya merasa sendirian di kelas. Siswa tidak bertanya, tidak menyahut, hanya memegang kertas.
Setelah siswa dianggap paham apa yang harus dilakukan selama menyimak rekaman berita,  rekaman disuarakan. Bahasa lnggris yang diucapkan berlogat Inggris British. Tanpa diduga  para siswa berbunyi. Mereka tertawa, saling tatap dengan temannya dan kemudian tertawa lagi. Adakah yang salah dengan rekaman ini?

Terdengar pembaca berita  mengucapkan 'submarine', seorang siswa berujar keras ' sugan maling' diikuti gelak tawa temannya. Selanjutnya mereka menertawakan pembaca berita yang mungkin tidak dapat mereka pahami sedang mengatakan apa. Ajakan agar mencoba konsentrasi pada apa yang diucapkan dengan menyandingkan teks berita yang dipegang dengan bunyi dari rekaman, kurang berhasil. Para siswa terkekeh-kekeh dan sibuk sendiri dengan dunia dan pikirannya.
Mengantisipasi kekacauan, teks saya bacakan dengan perlahan sambil dijelaskan apa maksudnya. Cara ini tentu saja membodohkan siswa. Alasan pertama,  para siswa tidak berkesempatan mendengar variasi  logat bahasa Inggris yang nyata, misalnya bagaimana bahasa Inggris diucapkan orang India, Singapur, Amerika, atau Cina seperti yang disediakan pada rekaman. Kedua, menerjemahkan setiap kata memperlambat kemampuan siswa untuk berpikir kritis dengan cara menebak makna kalimat berdasarkan kosa kata yang telah dimilikinya. Saya sesungguhnya merasa bersalah kepada siswa, namun jika pilihan ini tidak diambil, para siswa membuat kesibukan sendiri,  no engagement at all.
Upaya ini berhasil, sesaat. Para siswa terlihat enggan menemukan informasi dari teks dengan membacanya berulang-ulang didampingi guru agar paham. Wajah mereka menunjukkan  penolakan, dibuktikan dengan mengobrol.  Melihat hal ini bukan berarti  kesabaran guru diuji,  namun harus ditemukan kenapa siswa seolah enggan belajar. Mereka asik ketika mengobrol dengan temannya  (bahkan pada saat pelajaran berlangsung).

Permasalahan ini dikonfirmasikan kepada guru lain. Saya tidak sendiri, guru lainpun mengiyakan bahwa banyak siswa yang seolah hadir ke sekolah agar tidak dimarahi orang tuanya karena tidak berangkat ke sekolah.  Di sekolah,  siswa secara fisik duduk di bangkunya dan menjawab 'hadir' ketika namanya dipanggil.  Setelah itu, urusan selesai, belajar tidak jadi tujuan. Tujuan utama: meninggalkan rumah,  menjawab hadir ketika di absen.

Tulisan di atas hanya ungkapan kekhawatiran guru kepada siswanya yang menyia-nyiakan waktu belajar. Guru yang bersedia menemani belajar diabaikan karena alasan pelajarannya sulit, tidak bakalan bisa, susah, dan alasan klise lainnya.