Pages

Sunday, July 23, 2017

Tips menulis, menyimpan dan mengedit tanpa pakai laptop

Teknologi memudahkan melakukan banyak hal, salah satunya adalah menyimpan dan mengambil data. Selama ini, saya sangat bergantung kepada laptop untuk menyimpan data dan memanggilnya kembali. Anggapan ini tentu merepotkan dan tidak mengandung nilai kepraktisan. Pada saat akan melanjutkan menulis tesis, atau pekerjaan lainnya yang berbasis laptop, kadang terkendala karena laptop tidak berada dekat dari jangkauan. Hal ini tidak lagi akan terjadi. Google menyediakan tempat untuk menyimpan, mengedit, dan mengunduh semua file yang disimpan di sana. Namanya Google Drive.

Google drive adalah penyimpanan yang sama dengan save pada laptop. Penyimpanan dapat dibuatkan folder baru atau langsung file. Untuk memasuki Google Drive, buka email yang beralamat @gmail.com Klik Google apps, nanti muncul pilihan My account, Search, Maps, YouTube, Calendar, Drive (ada 11 pilihan apps). Klik Drive. Nanti muncul tulisan Google Drive, Search Drive, My Drive, Shared with me, trash dan lain-lain.

Untuk mengunggah file, klik my drive, pilih apakah akan mengunggah folder, file, atau membuat folder baru. Jika hendak mengunggah folder, klik folder tunggu, nanti setelah selesai akan muncul notifikasi folder selesai diunggah. Klik recent, nanti akan muncul folder yang tadi diunggah. Jika akan menguggah file, klik my drive, pilih file. Setelah ada notifikasi selesai diunggah, klik recent. File akan muncul pada recent. Jika file tersebut akan dipindahkan, klik kanan pada nama file, pilih move to. Pindahkan ke folder yang diinginkan. Jika hendak dipindahkan ke folder baru, buat dulu folder baru.
Semua file dan folder yang diunggah pada google drive dapat diakses dimana saja dan tidak harus dari laptop. Misalnya, ketika hendak melanjutkan menulis sebuah artikel, tinggal buka google drive, dan pilih file yang hendak dilanjutkan menulisnya, klik open with, pilih google doc. Setelah diklik google doc, tunggu sebentar, file words (docx) bisa diedit seperti biasa kita menulis pada program microsoft words. Seluruh rangkaian kegiatan tadi dapat dilakukan pada hape android.

Google drive juga menyediakan aplikasi lain yang sama dengan Microsoft. Ada Google sheets untu Excel, ada Google slide untuk Power point.


Google menawarkan kemudahan. Selamat mencoba. 

Menunggu

Hal paling membosankan sedunia dan seCianjur adalah menunggu. Hampir semua orang sepakat dan mengiyakan bahwa menunggu merupakan kegiatan yang membosankan.

Seseorang yang sedang menanti pertemuan dengan orang yang diharapkannya bertemu, sebentar-sebentar melihat jam tangan. Memeriksa waktu, waktu terasa sangat lambat. Lebih lambat dari yang seharusnya. Segera setelah waktu  diketahui, jelas menunjukkan pukul berapa, dia menghela nafas, berat, seolah waktu menghimpit dadanya dan mengakibatkannya susah mengizinkan udara untuk masuk dan keluar saluran pernafasannya.

Urusan menunggu, yang paling kuat, mungkin lbu-lbu.
Ibu-lbu sabar menanti giliran pada saat akan membayar belanjaan di mall.
Ibu-lbu juga tidak mengeluh saat menanti kelahiran anaknya, dia menghitung sejak diketahui dirinya positif hamil.

Bi Janah juga lbu-lbu. Tak heran dia melakukan hal yang sama dengan lbu-lbu lainnya, yakni menunggu.

Sejak selesai menghidangkan makan pagi, Bi Janah meminta izin kepada Pak Guru bahwa dia punya janji bertemu dengan saudaranya yang tinggal di Cipanas dan MENUNGGU di depan kantor pos.

Saya tidak terlalu memperhatikan keberangkatan Bi Janah. Bagi saya, hal biasa seseorang membuat janji bertemu dan menunggu.
Tapi kepulangan Bi Janah jadi menarik perhatian saya, juga seisi rumah.
Bi Janah pulang bersungut-sungut, wajahnya memerah seperti menahan marah yang telah lama menyesakkan dadanya.

Kami khawatir, Bi Janah, bagi kami, dia orang penting. Dia, orang yang kami andalkan dalam urusan menyiapkan makan, merapikan rumah dan mengurusi hal-hal domestik lainnya.
Melihatnya bermuram durja, kami sangat prihatin.

"Kenapa Bi, katanya janjian di depan kantor pos. Kok pulang, mana? Tanya Pak Guru.

Bi Janah berusaha mengeluarkan kata-kata yang terasa mencekat lehernya karena kecewa telah menunggu lama tapi orang yang ditunggu tidak datang.

"Ga nyangka ya Pak, saudara sendiri bisa menyakiti Bibi. Janji bertemu di kantor pos, ditunggu. Kaki pegal, leher terasa sakit karena tengok kiri kanan, eh... 4 jam, bayangannya saja tidak kelihatan." Bi Janah menumpahkan kekesalan.

"Janjian nunggunya dimana?" Kata Si Bungsu

"Di kantor pos." Jawab Bi Janah pendek

"Ditelepon ga Bi, sebelah mana kantor posnya?" Tanya Si Sulung.

"Bibi lupa tidak bawa hape."

"Sini Bi, nomornya berapa, aku teleponin ya." Kata Si Bungsu.
Saya tidak ikut menawarkan solusi hanya menyimak bagaimana anak-anakku membantu Bi Janah menyelesaikan masalahnya. Tak lama terdengar suara Si Bungsu bersahutan dengan "saudara" Bi Janah lewat loud speaker hape.

"Ya, Bi Janahnya salah sendiri, tidak datang ke kantor pos, saya menunggu sampai pukul 12." Suara dari seberang menyalahkan.

Si Bungsu sigap menjawab, "  Bi Janah berangkat sejak pagi, nunggu sampai bada dhuhur di kantor pos, sesuai pesanan."

Senyap.
Si Bungsu memecah kesenyapan dengan bertanya, "lbu, menunggunya di kantor pos mana?"

"Di kantor pos CIPANAS, depan mesjid dekat Brimob, kan gampang ketemu di sana mah."

Tiba-tiba Bi Janah berkata, "Bibi nunggu di kantor pos, dekat mesjid, depan Brimob."

"Kantor pos mana Bi?" Tanya kami.

"Kantor pos CIANJUR."

Catatan kaki kiri:.
Jarak Cipanas Cianjur: 25km.

Catatan kaki kanan:
Bi Janah disajikan dalam Bahasa Indonesia untuk kepentingan pembaca. Terasa berbeda, namun mudah-mudahan tokoh Bi Janah bisa go nasional.

Hari Ke-7

Genap sudah, jatuh pada hari ini saya seminggu menjadi wali kelas 12 MIPA 6. Saya dapat mengatakan bahwa niat untuk mengajak peserta didik menjadi orang berbeda (to be different), tersampaikan dan tindakan untuk menjadi orang berbeda sedang dalam proses.
Sesungguhnya hari ini libur secara akademik. Sekolah berakhir pada hari Jumat. Namun sebagai wali kelas, saya tetap melakukan komunikasi dengan siswa bimbingan saya. Nama Ikrar melintas dalam benak. Apakah dia baik-baik saja? Hari Jum’at saya tidak bertemu dengannya. Melalui sms saya berkomunikasi dan kemudian saya merasa lega, dia mengabarkan bahwa dia dalam keadaan segar bugar.

Wadah komunikasi yang disepakati kelas adalah LINE. Bergabung dengan dunia LINE yang didalamnya dihuni orang hebat yang berada di kelas 12 MIPA 6, menarik. Mereka anak-anak yang peduli dan tanggap terhadap kejadian di sekitarnya. Ini pertanda baik. Selama ini ada kekhawatiran yang berlebihan bahwa anak-anak zaman sekarang kurang peduli dengan apa yang terjadi dengan lingkungannya. Hal ini tidak bisa digeneralisir (baca: disamaratakan). Para siswa, pada LINE, mereka sedang membicarakan tentang kebakaran yang asapnya terlihat membumbung tinggi. Salah seorang siswa yang tinggalnya agak jauh dari TKP namun melihat kepulan asapnya melaporkan hal tersebut. Teman-temannya merespon kejadian dengan harapan dan do’a semoga tidak ada korban dan apinya tidak merembet ke gedung lainnya.

Percakapan mereka tentang kebakaran, mengundang perhatian saya. Alex Spiegel (2011) mengatakan bahwa anggapan dan ekspektasi (harapan) guru mempengaruhi bagaimana siswanya bertindak dan bertingkah laku. Saya beranggapan semua siswa saya baik, bertanggung jawab dan peduli.  Kepercayaan itu membuat saya berbicara dan bersikap dengan cara yang berbeda. Efeknya, mereka menunjukkan sikap seperti yang saya asumsikan. Melalui LINE saya mencoba mengenal dan memahami keunikan mereka masing-masing. Saya yakin bahwa mereka bersikap mengikuti bagaimana saya bersikap terhadap mereka.

Saya juga menemukan bahwa siswa saya adalah anak-anak yang antusias untuk mengenal hal baru. Seorang siswa mengunggah tawaran seminar di IPB pada hari Sabtu. Mulanya mereka merasa ragu dan khawatir jika nanti pada saat seminar diberi pertanyaan atau mungkin ada tes. Saya tersenyum ketika membaca kekhawatiran mereka. Jelas terlihat bahwa mereka belum memiliki pengalaman mengikuti kegiatan seminar, lokakarya, simposium atau kegiatan pertemuan yang membahas satu topik yang disajikan oleh dosen (penyaji). Saya membantu menenangkan dengan menuliskan bahwa pada seminar, peserta biasanya datang, duduk, menyimak, dan mendapatkan sertifikat.

Dalam hati saya menambahkan, ‘Tentu saja peserta seminar yang baik bukan sekadar datang dan duduk. Dia harus berinteraksi dengan penyaji agar muncul pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan baru yang menawarkan solusi atau alternatif bagi masalah yang sedang dijadikan isu.’ Saya tidak terlalu memikirkan apakah siswa saya paham hal ini atau tidak. Saya tawarkan bahwa jika memerlukan izin dan surat resmi untuk mengikuti seminar, saya bisa membantu. Dengan memberikan surat izin, saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk membuka kesempatan dan peluang baru, menemukan teman baru, dan melihat bagaimana remaja lain seusianya bertindak. Saya berharap dengan mengikuti seminar mereka lebih kaya secara pengalaman, lebih luas secara wawasan, dan lebih terdidik secara intelektual. Sering melihat dunia luar sangat penting untuk anak-anak yang sebentar lagi akan melanjutkan hidup di dunia perkuliahan.

Hal lain yang menyenangkan saya adalah mereka berusaha menggunakan Bahasa Inggris untuk bercakap pada LINE. Fenomena ini saya apresiasi tinggi-tinggi. Saya melihat bahwa mereka berusaha menunjukkan yang terbaik yang mereka mampu. Sebuah usaha yang luar biasa. Saya yakin, jika mereka terus menerus berusaha menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan di LINE, perlahan namun pasti, kemampuan Bahasa Inggris mereka akan meningkat.

Yang membahagiakan adalah mereka satu persatu mulai berbagi link blog. Artinya mereka sudah mulai menulis untuk ‘Seri 365.’ Saya merasa trenyuh ketika ada seorang siswa yang mengaku bahwa dirinya tidak bisa membuat blog, namun dia bekerja keras untuk dapat membuatnya sendiri. Saya sangat terkejut, siswa yang mengaku tidak bisa membuat blog tadi kurang lebih dalam 3 jam telah berbagi link blog. Saya harus mengakui temuan Tom Stafford (2011) pada bukunya Teaching Visual Literacy yang menyebutkan bahwa Generasi Z yang besar pada tahun 2000an mereka adalah warga negara digital (digital native). Mereka memiliki kemampuan sosial, teknologi, dan teknologi yang berbeda dengan saya, yang lahir jauh sebelum jaman milenial.

Satu persatu link blog bermunculan di LINE. Saya menikmati sajian tulisan yang dibuat oleh siswa saya dengan ucap syukur. Mereka benar-benar sedang berada pada alur untuk menjadi orang yang berbeda. Wujud syukur saya, saya komunikasikan kepada siswa saya dengan mengunggah komentar pada setiap tulisan yang mereka unggah.  

Menjadi wali kelas memang anugerah besar yang luar biasa. Saya telah menemukan banyak hal dan pelajaran dari pertemuan selama satu minggu dengan siswa-siswa saya. 

Saturday, July 22, 2017

Hari ke-6

Hari hadir dengan atribut harinya sendiri. Kabupaten Cianjur dengan program pemerintah bertajuk “Gerbang Marhamah” atau gerakan masyarakat berakhlakul karimah ditandai dengan berkumandangnya alunan-alunan ayat-ayat Al-Quran yang dari mesjid-mesjid kecil yang ada di RT-RT. Suaranya saling bersahutan seolah saling menyapa dalam bahasa ilahiyah. Saya mendengar keindahan naik turunnya suara dan bergantinya jenis suara dari setiap mesjid. Gerbang marhamah terasa kental di mesjid-mesjid dengan berlomba-lombanya anggota DKM menyetel rekaman pembacaan ayat-ayat Al-Quran.

Pagi beranjak sesuai fitrahnya. Setiap detik berlalu. Saya segera meninggalkan rumah untuk kembali memulai memenuhi tanggung jawab sebgai seorang guru.  Jalanan pada pukul 6.15 sama sesaknya dengan hari-hari sebelumnya. Sambil menikmati perjalanan, saya bersiap menempatkan diri jadi wali kelas. Menjadi ornag tua kedua, begitu kata orang.

Ketika saya masuk ruang guru, terdengar para guru saling mengingatkan agar para wali kelas memasuki ruang kelas yang diwalikelasinya untuk memberikan pembinaan wali kelas. Mereka saling baku-tanya harus memberikan apa. Saya tidak berkata apa-apa, langsung mengambil absen dan menuju kelas 12 MIPA 6.  Telah jelas apa yang akan saya lakukan hari ini untuk kelas 12 MIPA 6, melanjutkan membaca Pembawa Mayat dan membuat struktur organigram Kelas.

Para siswa telah menunggu, pada pertemuan ke-2 mereka hadir tepat waktu. Bagi saya, itu suatu perubahan yang drastis. Pada hari ke-1, hampir satu pertiga datang terlambat. Hari ini, mereka berusaha hadir tepat waktu. Bagi saya, seorang wali kelas, kehadiran mereka yang tepat waktu adalah sebuah kebahagiaan besar.

Saya melanjutkan paragraf ke-3 dari cerita pendek  Pembawa Mayat. Pada teksnya disebutkan bahwa si tokoh utama memandang do’a sama gaibnya dengan kematian. Dia memandang bahwa setelah kematian, ada kehidupan yang sama seperti yang sekarang sedang ia jalani. Dia sangat takut, di kehidupan nanti istrinya menikah dengan orang lain, dan barulah dia menangis.

Paragraf ini saya gunakan untuk menyadarkan para siswa terhadap pentingnya do’a. saya mulai dengan membeberkan kenapa do’a sama gaibnya dengan kematian. Do’a dan kematian keduanya tidak pernah dapat dijelaskan, misteri. Kematian, walaupun semua yang hidup mengalaminya namun tidak pernah ada kabar bagaimana mati itu menurut si pelaku.

Do’a, semua orang melakukannya, agama apapun. Namun, sekalipun semua memohonkannya, tidak pernah tahu, kapan do’a itu dikabulkan dan tidak pernah tahu bagaimana do’a itu tiba-tiba saja baru disadari bahwa telah terkabul.

Do’a dan kematian menjadi misteri besar bagi manusia, namun tidak bagi Tuhan. Seorang hamba misalnya berkata do’aku lama tak terkabul. Demikian juga kematian, ada seorang tua dan penyakitan berkata, aku menunggu kematian, lama sekali kutunggu, dia tak kunjung datang. Seorang lainnya berujar, kematian itu datang terlalu cepat, dia masih SMA, anak soleh, pintar, hanya anak satu-satunya, sayang dia meninggal.

Contoh tadi menyiratkan bahwa manusia membuat ukuran. Akibat dari pembuatan ukuran tadi  maka segala sesuatu menjadi berbeda. Padahal bagi Tuhan, tidaklah demikian. Saya uraikan begini. Manusia melihat segala sesuatu menjadi rumit karena ukuran yang dia buat sendiri. mari kita lihat diri kita. Kalau Donal Trump, Agnes Monica, kita, dan siapapun yang ada di muka bumi ini dilepaskan dagingnya. Maka kita akan sadar, bahwa kita sadar bahwa kita sama, hanya tulang belulang putih dan struktur yang sama. Yang membedakan kita kulit. Manusia kemudian membuat ukuran, si ini kulitnya berwarna ini, si itu berwarna itu, si fulan warnanya anu. Lahirlah perlakukan dan stereotip yang berbeda-beda karena ukuran warna kulit. Padahal Tuhan tidak membedakan manusia karena warna kulitnya, semuanya diterima sama, mereka semuanya khalifah di muka bumi.

Bagimana dengan do’a. bagi Tuhan, manusia semuanya sama. Pembedanya hanyalah keimanan. Do’a, saya tegaskan kepada para siswa yang semuanya diam, adalah pengakuan kita atas tidak berdaya tidak berkuasanya, dan bertapa kecilnya kita.  Boleh saja sesekali kamu bisa berkata, ‘Kamu harus tahu, aku ini …’ Tapi sadarkah bahwa ke-aku-an yang sedang kamu katakan adalah perwakilan dari murkamu, egomu, dan sesungguhnya muncul dari ketidakberdayannmu. Marah, merujuk diri sebagai sentral (aku ini …) menunjukkan bahwa kamu bukan siapa-siapa. Kamu melabeli diri kamu dengan ‘aku ini’ artinya kamu ingin diakui sebagai seseorang. Dengan kata lain bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, sehingga orang lain harus diberitahu kamu itu siapa, kamu tidak punya kuasa.

Kelas masih hening, saya lanjutkan. Ketidakberdayaan  menjadi fitrah kita. Membuat kita kuat adalah tugas kita, caranya, berdo’a. Do’a adalah penghambaan kita kepada Tuhan dengan cara yang elegan. Mengakui betapa kita tidak berdaya-upaya, namun memiliki banyak keinginan. Do’a juga merupakan cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Segala kesusahan, keperihan, kekecewaan, atau sebaliknya, segala suka, bahagia semuanya dikabarkan kepada Tuhan.

Para siswa terlihat seperti sedang berusaha mencerna apa yang saya sampaikan. Saya persilakan mereka untuk bertanya, namun tidak ada yang membuka mulut. Waktu 30 menit untuk bersama kelas ini, hampir habis. Saya teringat akan mencontohkan bagaimana menggunakan fasilitas blogger untuk menulis setiap hari agar di akhir tahun menjadi buku.

Saya jelaskan bahwa untuk menulis seri 365, tidak harus pada buku. Namun pada Android dengan menggunakan fasulitas Blogger yang bisa diunduh dari Play Store. Caranya dengan membuat akun beralamat @gmail.com. para siswa berkata bahwa mereka telah memiliki akun. Saya katakan bahwa itu bagus, tinggal lanjutkan situs blogger dengan menggunakan alamat tersebut, agar mudah lakukan di laptop. Jangan lupa gunakan nama asli, hal ini untuk memudahkan saya ketika berkunjung ke lamannya. Setelah membuat blog selesai, silakan unduh blogger di android. Nanti kalau mau menulis, langsung pada blogger android. Bisa dalam keadaan offline, dalam keadaan demikian kita menulis sesuai yang diinginkan. Setelah dirasa cukup, silakan unggah. Kelebihan blogger pada android adalah bisa menulis kapan saja tanpa harus terkoneksi dengan internet.

Saya menawarkan, boleh juga menulis pada Google doc. Setelah selesai menulis, silakan share linknya agar saya bisa membacanya. Para siswa terlihat lebih paham untuk urusan ini. saya berharap mereka mulai menulis, tidak sekadar mengiyakan.

Saya hendak meninggalkan kelas ketika Fauzi melaporkan bahwa struktur kelas belum jadi. Kemarin saya sudah meminta Fauzi untuk merancang struktur kelas dan Gian bisa membantu rancangan jadinya pada Corel draw untuk kemudian dicetak jadi banner. Ternyata struktur belum terwujud. Saya menghentikan niat meninggalkan kelas. Saya meminta Fauzi agar memimpin membuat struktur kelas. Saya melongok ke luar kelas. Terlihat kelas 10  masih rapi berbaris di lapangan menyimak apel bersama satu-satunya DanDim perempuan yang ada di Indonesia (katanya begitu). Saya merasa tenang, artinya pelajaran belum dimulai. Saya lanjautkan menemani Fauzi merancang struktur kelas. Tidak lama, selesai.


Hari ini, saya meninggalkan kelas 12 MIPA 6 dengan doa semoga mereka menghambakan dirinya dengan banyak berkomunikasi kepada Tuhan melalui do’a. 

Thursday, July 20, 2017

Hari Ke-5

Hujan semalam menyejukkan kota kecilku. Pohon-pohon Kupa Landak di sekitar rumah terlihat lebih segar, warna hijaunya memantul ditimpa cahaya mentari pagi. Saya menikmati perjalanan menuju sekolah pada pukul 6.15. Berbagai macam kendaraan seolah berlomba menuju tempat tujuan. Knalpotnya menderu menyapu hening segar pagi mengantarkan mimpi-mimpi yang bertebaran di setiap kepala orang-orang yang sedang diantarkannya.

Saya menikmati pemandangan pagi dengan takjub. Kehidupan begitu cepat dimulai. Pukul 6.15 hiruk pikuk kota kecil telah mulai. Anak-anak berbaju seragam SMA telah berebut memasuki gerbang sekolah dimana saya mengajar.

Pukul 6.40 saya masuk kelas yang saya walikelasi, 12 IPA 6. Dengan membawa teks berjudul ‘Pembawa Mayat’ sebuah karya besar anak bangsa yang menjuarai menulis cerpen yang diadakan oleh Harian Republika. Karya ini dibawa ke kelas karena selain isinya yang bernas, juga pesan moral yang diimplisitkan si penulis sangat halus namun mengena.

Kelas dimulai pukul 6.45 dengan membaca Asmaul Husna bersama. Sebelumnya saya telah membagikan cerpen berjudul Pembawa Mayat yang saya print tadi malam. Siswa terlihat terkejut karena saya datang tepat waktu. Sebelas orang siswa belum hadir. Saya seolah tidak mengindahkan ketidakhadiran siswa yang belum hadir di kelas. Saya memimpin Asmaul Husna dan membaca doa pagi.

Saya lihat ada satu orang siswi yang non muslim. Saya merasa senang sekali. Kelas ini mewakili sedikit kehidupan nyata masyarakat secara sosial, yakni heterogenitas suku dan agama. Saya anjurkan agar dia berdoa sesuai keyakinannya. Sampai hari ini, saya belum tahu siapa namanya.

Satu persatu siswa berdatangan. Terakhir yang datang pada pukul 7.00. Kelas dihadiri 34 siswa. Orang tua Ica (nama samaran) mengabari bahwa putrinya sakit lewat sms.  Satu lagi Ori (nama samaran) juga tidak hadir karena sakit.

Pukul 7, kegiatan literasi dimulai. Setelah yakin semua siswa memegang teks cerita pendek Pembawa Mayat, saya membacakan paragraf pertama dalam bahasa Inggris, sementara para siswa memegang teks dalam Bahasa Indonesia.  Tujuan dari pembacaan dalam bahasa Inggris, agar siswa mendapatkan kosa kata baru Bahasa Inggris secara tidak langsung. Harapan jauhnya, mereka bisa melihat bagaima mereka sebetulnya dapat memahami apa yang saya ucapkan, walaupun dalam bahasa Inggris, karena ada sandingan terjemahnya dalam bahasa Indonesia yang mereka pegang. Berpikir dalam dua bahasa sekaligus, terdengar seperti praktek berpikir kritis. 

Saya mulai menggali makna paragraf ke-1. Bagaimana kematian bisa ditolak seorang suami ketika istrinya meninggal sejak dua hari lalu. Bagaimana seorang suami tidak menerima istrinya dikuburkan, karena kematian bukanlah hal istimewa baginya.

Para siswa seperti sedikit tersihir bahwa ada hubungan yang amat dekat antara cinta dan kematian. Cinta tidak terhalangi kematian. Cinta tetap hidup walaupun raganya tidak lagi ber-ruh. Bagi lelaki, tokoh pada cerita pendek ini, kematian tidak memerlukan doa. Menurutnya, doa tidak mengubah apapun.

Cara pikir seperti ini perlu dijelaskan kepada siswa. Mereka harus melek (literat) bahwa kematian tidak bisa dipandang sebagai hal biasa. Saya katakan, segala sesuatu yang hanya terjadi satu kali dalam kehidupan manusia, seharusnya istimewa. Contoh, kelahiran, hanya terjadi satu kali. Maka setiap kelahiran disambut dengan gembira karena telah hadir insan baru yang akan menyemarakan kehidupan sebuah keluarga. Kematian, juga istimewa, karena hanya terjadi satu kali. Tidak bisa seseorang sangat posesif dan egois menolak kematian dan menerimanya sebagai hal biasa. Bagimana si penulis berpikir berlawanan arah dan menitipkannya pada tokoh utama pada cerita, sangat luar biasa.

Hanya dua paragraf yang bisa digali makna tersiratnya, waktu menunjukkan pukul 7.15. Masa literasi, habis. Para siswa seolah masih betah dengan membedah cerita. Saya katakan bahwa besok hari, bisa dilanjutkan lagi.


Saya mengajak para siswa untuk mulai menuliskan pengalaman mereka selama di kelas 12 IPA 6. Saya anjurkan untuk menuliskannya di blog. Sebagian besar siswa terlihat berbinar ketika saya menantang torehkan namamu pada karyamu. Buku Seri 365 (bersama Ms. B) akan menjadi karya pertamamu yang membedakanmu dari siswa-siswa lainnya di sekolah ini, juga di sekolah lainnya. 

Hari ke-4

Kamis, 20.07.2017 (lagi-lagi angka yang bagus).  
Saya dapat menemui kelas 12 IPA 6. Mereka berada di kelas bangunan atas, paling ujung kiri jika saya menghadap ke arah Timur. Pada saat menuju kelas, saya berpapasan dengan siswa yang tahun sebelumnya saya ajar di kelas 11, saya ditanyai apakah benar saya mewalikelasi 12 IPA 6. Pertanyaan ini mendatangkan rasa bangga bagi saya sebagai seorang guru. Saya memaknainya mereka ingin diwalikelasi saya. Terbukti dengan pertanyaan yang diajukannya , ‘bolehkah saya meminta bertukar wali kelas dan meminta Ms jadi wali kelas saya?’ Saya menjawab dengan senyum, saya jelaskan meminta itu hak, namun persoalan dikabulkannya tidak berada pada tangan saya. Kekecewaan nyata terlihat dari wajahnya. Semoga siswa ini mendapatkan wali kelas sesuai harapannya, walaupun bukan saya.
Kelas 12 IPA 6 rupanya telah menunggu kehadiran saya. Mereka diam ketika saya masuk kelas. Sunyi.
Kesunyian kelas yang dihuni 30an siswa bisa saja terasa menakutkan bagi setiap guru, termasuk saya. Bisakah kesunyian ini akibat dari ketidaksiapan mereka bertemu wali kelas? Mungkinkah mereka merasa takut ketika menyadari bahwa wali kelasnya bukan guru yang diharapkannya?
Pertanyaan itu tidak lama bertahta di pikiran saya. Saya segera mengucapkan salam segera setelah menyimpan tas. Saya mengambil gawai yang didalamnya sudah saya tulis plan (rencana) untuk kelas 12 IPA 6. Pada 5 menit pertama, warga 12 IPA 6 masih terlihat canggung. Saya mencoba mengubah suasana dengan menyampaikan misi saya untuk mengajak mereka menjadi orang berbeda (to be different).
Saya jelaskan bahwa di dunia ini agar kehadiran kita diakui orang lain dapat dilakukan dengan 3 cara. Pertama menjadi orang nomor satu, namun itu tidak mudah diraih karena harus menyingkirkan banyak orang. Kedua, menjadi orang terhebat, namun ini pun tidak sederhana mencapainya karena banyak orang yang lebih hebat dari kita. Terakhir, ketiga, menjadi orang berbeda. Untuk menjadi orang berbeda dapat diraih siapapun.
Sebagai contoh, untuk menjadi orang berbeda, mudah sekali. Dia tidak membuang sampah sembarangan. Sampah sendiri diurus sendiri. saya tunjukkan bagaimana mengurusi sampah sendiri dengan menggunakan kantong yang dibawa dari rumah, dilipat sedemikian rupa dan kemudian setelah penuh dibuang ke tempatnya. Saya mengajak siswa 12 IPA 6 menjadi orang berbeda dengan membawa kantong sampah sendiri dan berhenti membuang sampah sembarangan. Mereka terlihat siap menjadi orang berbeda.

Saya lanjutkan, untuk menjadi orang berbeda, tidak berat.  Dia mengisi waktu luangnya dengan membaca. Saya iming-imingi bahwa dengan membaca seseorang akan menjadi orang berbeda. Saya contohkan bahwa saya sedang membaca buku Angels and Demons karya Dan Brown. Saya uraikan secara singkat bagaimana teori logika melawan teori Tuhan. Bagaimana sains menciptakan sesuatu dari sesuatu, dan bagaimna Tuhan menciptakan sesuatu dari tidak ada. Mereka terlihat tertarik. Sayangnya ketika mereka ditanya mereka sedang membaca buku apa sekarang. Jawabannya adalah senyum. Senyum orang Indonesia bisa bermakna banyak. Senyum yang saya lihat bisa saja bermakna mereka tidak sedang membaca buku apapun.

Senyum ini memprihatinkan saya. Di belahan dunia sana, saya baca di Flibroard, anak-anak SMA selama libur musim panas mereka diwajibkan membaca sederetan buku yang ditetapkan sekolah. Di Indonesia, termasuk 12 IPA 6, mereka berlibur dan benar-benar libur. Tidak ada kegiatan apapun yang berbau mendapatkan pelajaran, termasuk membaca.

Saya ingin mereka berkata bahwa mereka sedang membaca buku A, atau buku B ketika ditanya. Saya putuskan untuk membuat perpustakaan kelas. Caranya dengan meminta setiap siswa meminjamkan buku-buku non pelajaran yang mereka miliki di rumah. Kelas menyediakan lemari atau rak untuk menampung buku-buku tersebut. Termasuk saya akan meminjamkan buku-buku saya untuk mereka nikmati kehebatan isinya.
Sambil berkelakar saya katakan bahwa orang gila bisa menulis buku, dia benar-benar gila. Mereka tertawa. Saya jelaskan bahwa ada orang gila menulis buku berjudul ‘Tenggelam dalam lautan jiwa.’ Tulisannya berisi penjelasan bagaiamana dirinya sebagai orang gila memandang sekelilingnya. Dia menuliskan tahun berlompat ke tahun lampau seperti tahun 1200an, bertemu Raja dan berbincang dengannya. Dia juga mengatakan bahwa dirinya tahu dan sadar ketika disebut orang gila.
Ajakan ini mendapat sambutan baik. Siswa 12 IPA 6 sepertinya bersedia menyisihkan waktunya untuk membaca. Gejala positif ini tentu menggembirakan saya.

Saya merasa yakin bahwa orang yang banyak membaca memiliki cakrawala dan pengetahuan yang lebih luas. Saya berharap dengan disediakan buku di dalam kelas, siswa kelas 12 IPA 6, mereka perlahan-lahan mulai menerima bahwa membaca tidak sulit. Buku mudah dijangkau. Untuk memastikan mereka membaca, saya katakan bahwa saya akan hadir ke kelas setiap hari mulai pukul 6.45 sampai 7.15. Mereka agak terkejut. Saya pun terkejut.  

Menghindari terlalu lama terkejut, saya melanjutkan percakapan dengan mengajak mereka untuk mulai memikirkan pembuatan struktur kelas, melengkapi peralatan kebersihan kelas, jadwal piket kelas, dan rencana membawa bekal. Tidak dipungkiri menghabiskan waktu dari pukul 6.45 sampai pukul 16.00 di sekolah memerlukan persediaan makan yang cukup. Jajan saja, tidak memenuhi kebutuhan asupan makanan anak-anak yang aktivitasnya begitu tinggi.

Salah seorang siswa mengatakan bahwa dia diberi uang jajan perhari Rp. 10.000. dia menyisihkan Rp. 5.000 untuk membeli bensin. Sisanya untuk jajan, kebutuhan makan dia penuhi dengan membawa bekal. Dia calon orang hebat. Pertama, dia memakan makanan yang sehat dari rumah. kedua, dia pandai mengatur keuangan. Terinspirasi dari calon orang hebat ini, saya ajukan agar siswa lain membawa bekal dari rumah.

Hal lain yang saya anjurkan kepada siswa adalah untuk memiliki buku yang khusus mencatat kegiatannya selama kelas 12 bersama saya. Saya ajak agar mereka menghasilkan satu buku pada saat lulus nanti. Berkaitan dengan itu, saya menawarkan agar membuat nama kelas yang menunjukkan cita-cita, ide, dan harapan kelas. Jika perlu membuat logo. Mereka antusias menyambut tawaran tadi. Mereka menunjuk bahwa ada siswa yang menguasai Corel Draw yang memungkinkan struktur kelas dan logo kelas dibuat dengan artistik.

Anjuran lainnya adalah membuat grup kelas. Mereka memilih LINE (walaupun ada yang meminta WA) karena sebagian besar menggunakannya. Saya di-invite dan join sekitar pukul 15.00. Ajeng  bersedia menjadi admin LINE untuk kelancaran komunikasi kelas.

Hampir 1 jam saya berada di kelas 12 IPA 6. Pertemuan ditutup dengan meminta siswa untuk mendonasikan sebagian uang jajannya (Rp. 2.000) untuk melengkapi peralatan kelas yang masih kurang.  

Saya merasa bahagia karena dapat mulai mengajak menjadi orang berbeda kepada 36 orang remaja. Mereka akan menjadi orang-orang hebat karena sejak SMA mereka telah jadi orang berbeda. Perbedaan mereka telah dimulai. Pada LINE mereka membicarakan bagaimana bentuk rak untuk menyimpan buku perpustakaan kelas. Bagi saya, itu permulaan yang baik.


Besok, saya akan hadir pada pukul 6.45. Akan saya lihat berapa orang dari mereka yang tepat waktu. Saya telah menyiapkan bacaan ‘Pembawa Mayat’ untuk dibedah dan menjadi kajian bersama. 

Hari Ke-3

Kesakralan dan keistimewaan angka 17.7.17 mulai terasa. Pada hari ke-3 tahun ajaran ini saya mendapatkan surat keputsan (SK) dari Kepala Sekolah sebagai Wali Kelas. Bagi saya tentu saja menjadi wali kelas merupakan sesuatu yang istimewa karena tidak setiap tahun saya berkesempatan menerima tanggung jawab ini. Barangkali, bagi mereka yang telah lama dan terbiasa menjadi wali kelas, ketika namanya tertera pada SK bisa saja mengeluarkan keluhan. Keluhan atas ketidaksenangan menerima kelas yang dalam tanda petik perlu perhatian khusus, atau telah merasa terlalu bosan menjadi wali kelas.

Selama ini, hampir tidak ada guru yang ketika menerima SK sebagai wali kelas menyambutnya dengan sukacita karena kelak dia memiliki kesempatan untuk berbagi ide, berbagi harapan, dan berbagi nilai-nilai kehidupan. Bagi yang telah terbiasa menjadi menjadi wali kelas, peran ini seolah rutinitas yang menjadi bagian dari statusnya sebagai guru.

Selama ini, tidak juga pernah terdengar ada wali kelas yang dengan bangga mengatakan bahwa dirinya menerima anugerah besar, yakni menjadi wali kelas. Kemudian pengalamannya menjadi wali kelas dijadikan bahan tulisan untuk kemudian disebarkan kepada dunia luar dalam bentuk buku. Buku yang nantinya dapat menjadi catatan otentik bagi para orang tua yang anaknya diwalikelasi. Mereka dapat mengetahui apa saja yang dilakukan ‘orang tua kedua di sekolah’ kepada anak-anak mereka. Buku tulisan wali kelas menjadi media yang menjelaskan bagaimana kontribusi orang tua kedua ini bagi kesuksesan anak-anaknya.

Saya mendapatkan tugas sebagai wali kelas 12 IPA 6. Saya merasakan adanya tantangan, selama ini saya tidak pernah bertemu dengan siswa kelas 11 IPA 6. Seperti apa mereka? Apakah mereka juga berpikiran yang sama, ‘seperti apa wali kelasku?’ Ketikdak-kenalan antara saya dengan 12 IPA 6 menarik untuk ditelusuri. Saya yakin, banyak yang dapat dipelajari dari setiap individu anggota kelas 12 IPA 6. Namun pertanyaan selanjutnya, ‘apakah mereka akan mendapatkan banyak pelajaran dari saya?’

Saya ingin mengetahui kehadiran saya bermanfaat ataukah mudharat pada diri mereka secara perorangan. Terbersit niat. Saya akan mengajak mereka untuk menuliskan apa perasaan, pandangan, pikiran, dan hal-hal lainnya selama mereka diwalikelasi saya.  Buku ini menggambarkan dari sisi guru, dan buku mereka menggambarkan dari sisi mereka sebagai siswa. Saya membayangkan akhir tahun, saya dan siswa-siswa saya bertukar buku dengan nama kami masing-masing di sampulnya.
Saya tidak sabar menunggu esok, ingin bertemu siswa 12 IPA 6 yang akan menjadi guru kehidupan yang akan mendewasakan ke-guru-an saya.